My Girl
Pairing : SasuSaku
Genre : Romance, Fantasy, Friendship
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Ooc, jelek, abal,alur berantakan, hancur, dll.
Hy..
Minna-san..
Hehe.. aku telat lagi yah? Sorry..sorryy..gomen sebanyak-banyaknya…!
Aku kehabisan ide, jadi maaf kalo chapter ini lebih ancur lagi, gomen.
Ya udah deh, langsung ke fic aja!
Okey?
Don't like, don't read, no flame!
Chapter 8 :
"20 %?" pekik kelima remaja tersebut.
"Ya … aku yakin Sakura pasti sangat shock mengetahui kemungkinan berhasilnya operasi hanya 20 %," ucap ibu Sakura dengan raut wajah sedih.
Kelima remaja tersebut hanya diam. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka katakan di saat seperti ini. Mungkin sekitar sepuluh menit mereka berdiam diri. Sibuk oleh pikiran mereka masing-masing, sampai Tenten berkata,
"Baa-san … kami pamit pulang, sudah jam tiga, nanti orang tua kami khawatir."
"Ah! Ya, terimakasih sudah mau menjenguk Sakura," ujar ibu Sakura tersenyum lemah.
"Sama-sama Baa-san," ucap mereka kompak dan keluar dari ruangan rumah sakit tempat Sakura dirawat.
~~~000~~~
.
.
"Sabar ya, Sakura," ucap Tenten saat mereka telah keluar dari rumah sakit.
"Pasti operasinya berhasil! Dan kau dapat kembali ke wujud asalmu!" Naruto juga ikut menghibur Sakura yang sedari tadi diam.
"Ja- jangan dipikirkan Sakura-chan.." ucap Hinata.
"Terimakasih. Jangan khawatir! Aku tak akan terlarut dalam kesedihan hanya karena mendengar ini," kata Sakura berusaha ceria. Perkataan Sakura sukses membuat mereka tersenyum.
"Baiklah, Sakura-chan, aku pulang ya!" pamit Naruto seraya menaiki motornya.
"Iya,"
1 detik..
2 detik..
3 detik..
5 menit…
"Hey Naruto! Katanya mau pulang! Kenapa dari tadi Cuma diam!" bentak Tenten pada Naruto.
"Hinata-chan yang tidak naik, Hinata-chan … tunggu apalagi? Ayo naik!" perintah Naruto pada Hinata yang sedari tadi hanya diam.
"Tidak! Hinata pulang bersamaku," kata Neji memberi deathglare-nya pada Naruto.
"Ayolah Neji! Masa aku tidak boleh pulang dengan pacarku?" rayu Naruto.
"Sekali tidak ya tidak! Ayo Hinata!" Neji menarik tangan Hinata untuk pergi dari situ.
"Huuuu.. pelit!" kata Naruto memonyongkan mulutnya, tapi beberapa detik kemudian, seringai licik terukir di wajah tampannya.
"Ayo Tenten! Kau pulang bersamaku! Lagipula tak ada yang mengantarmu 'kan? Neji akan pulang bersama Hinata-chan, bagaimana kalau kau pulang bersamaku?" ucap Naruto dengan nada yang sengaja dikeraskan agar Neji mendengarnya. Sukses! Neji mendengarnya dan membalikkan badannya.
"Tidak! Tenten, kau pulang bersamaku," ajak Neji sembari mendekati Tenten.
"Hey, hey! Kau 'kan bawa motor, memangnya muat?" Seringai Naruto semakin lebar.
"Cih! kau licik," cibir Neji pada Naruto. Naruto hanya menjulurkan lidahnya pada Neji.
Sakura yang tadi diam akhirnya bertanya.
"Memangnya, Tenten dan Neji pacaran?" pertanyaan Sakura sukses membuat Neji dan Tenten blushing.
"Tentu saja, kau tidak lihat tingkah mereka?" jawab Sasuke.
"Err.. aku pamit yah!" ucap Tenten dan menarik tangan Neji untuk meninggalkan mereka.
"Cih! mereka kabur!" ujar Naruto.
"Nah, Hinata-chan! Ayo naik!" perintah Naruto dan disambut anggukan oleh Hinata.
"Aku pulang teme, Sakura-chan!" dan motor Naruto pun berlalu meninggalkan mereka berdua.
.
.
.
"Hey," panggil Sasuke pada Sakura yang sedari tadi diam saja sejak mereka menginjakkan kaki mereka di kediaman Uchiha.
"Ya?" jawab Sakura dan menatap Sasuke.
"Kau sedari tadi diam saja, ada masalah?" Sakura hanya menggelengkan kepalanya ketika mendengar pertanyaan Sasuke.
"Benarkah?" tanya Sasuke curiga. Lagi-lagi Sakura menggelengkan kepalanya. Sasuke menatap Sakura iba, memang, Sakura pernah mendengar bahwa kemungkinan berhasilnya operasi hanya 20%, tapi pasti tetap saja Sakura shock. Mendengar fakta itu dua kali, siapapun pasti kaget dan langsung putus asa. Bukannya keberhasilannya meningkat, malah menetap. Tapi untunglah tidak menurun, karena Sakura mungkin akan lebih sedih lagi.
"Baiklah … aku mandi dulu."
Tetapi langkah Sasuke tercegah karena tangannya ditahan oleh tangan kecil milik Sakura.
"Aku takut.." gumam Sakura masih dengan posisi yang sama.
"Aku takut Sasuke-kun…" Sasuke melepas genggaman Sakura dengan pelan dan duduk di samping Sakura.
"Apa yang membuatmu takut?" tanya Sasuke lembut.
"Mati.. aku takut mati, aku tidak mau!" air mata mulai turun membasahi pipi ranum Sakura.
Sasuke hanya diam, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan, yang ia lakukan hanya memeluk Sakura, berharap bahwa pelukannya dapat menenangkan gadis itu. Sakura menangis dalam diam dan akhirnya tertidur dipelukan Sasuke. Sasuke yang menyadari Sakura tertidur segera membaringkannya di tempat tidur miliknya. Ia hanya menatap Sakura miris. Kasihan gadisnya itu, tapi apa yang bisa dilakukannya? Tidak ada. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, kalaupun bisa, ia ingin Sakura terlepas dari segala penderitaannya. Biarlah dia yang menggantikan Sakura. Semua penderitaan gadis itu… biarlah dia yang menanggungnya, asalkan Sakura bahagia, terlepas dari penderitaan. Mungkin sedikit egois, tapi Sasuke sangat mengharapkan, bahwa ia dan Sakura bisa hidup bahagia.
~~~000~~~
.
.
.
"Sasuke!" panggil seorang wanita saat Sakura dan Sasuke berada di koridor Konoha High School.
"Ino?" Sasuke menatap wanita itu. Ino hanya tersenyum manis pada Sasuke.
"Ada apa?" tanya Sasuke. Sakura menatap tidak suka pada wanita itu, Sakura menggelayut tangan Sasuke seolah mengatakan pada wanita itu bahwa Sasuke adalah miliknya, tapi tak ada gunanya, toh wanita pirang itu tak bisa melihatnya.
Wanita itu berambut pirang pucat dengan mata aquamarine, wanita itu sangat manis. Dan terlihat baik, tapi Sakura tidak suka melihat wanita itu, wanita itu seperti sok akrab dengan Sasuke.
"Ini." Ino menyodorkan sebuah undangan pada Sasuke.
"Apa ini?"
"Undangan ulang tahunku. Aku harap kau datang," ucap Ino masih dengan seyum yang sama.
"Hn." Ino pun berlalu setelah mendengar perkataan Sasuke. Tapi Sakura masih menatap wanita itu dengan pandangan yang sama.
"Siapa dia?" tanya Sakura ketus.
"Ino," jawab Sasuke enteng dan tidak menyadari hawa kecemburuan yang menguar di sekeliling Sakura.
"Hey! Kenapa tiba-tiba merangkul tanganku?"
"Dia … mantanmu?" Sakura menyipitkan matanya. Sasuke baru menyadari bahwa Sakura cemburu.
"Bukan, memangnya kenapa? Cemburu?" goda Sasuke seraya menunjukkan seringai tipisnya.
"Tidak! Mana mungkin!" sangkal Sakura.
"Hn, tenang saja. Dia pacar temanku, Sai. Kau belum mengenal Sai?"
"Tentu saja, kau 'kan tak pernah mengenalkannya padaku!"
"Sai itu siswa yang sangat pintar melukis, ia sedang pergi ke Amerika saat ini. Untuk pameran lukisan yang diselenggarakan ayahnya. Para seniman yang karyanya dipamerkan harus datang, termasuk Sai, yang karyanya dipamerkan," jelas Sasuke, sedangkan Sakura hanya diam sambil mendengar penjelasan Sasuke.
"Jadi … temanmu itu adalah pelukis yang handal, yah? Aku ingin bertemu dengannya," kata Sakura ceria sambil tersenyum pada Sasuke.
Sasuke sedikit merasa cemburu mendengar perkataan Sakura, tapi ia juga merasa senang melihat senyuman Sakura yang ceria, tanpa sadar, Sasuke juga ikut menyunggingkan senyumnya.
"Sakura!"
Sasuke dan Sakura menoleh ke asal suara, Gaara.
'Mau apa lagi dia,' batin Sasuke kesal.
"Ah! Gaara!" Sakura menghampiri Gaara dan meninggalkan Sasuke yang menatapnya malas.
Mereka tampak bercakap-cakap. Sasuke menatap mereka dari jauh dengan tampang kusut. Sakura sepertinya tidak mengingatnya. Merasa diacuhkan, Sasuke berdehem keras.
"Ehem!"
Sakura menoleh pada Sasuke dan memandang wajah kusut pemuda itu. Sakura tampak terkikik geli dan pamit pada Gaara.
"Gaara, aku pergi dulu yah, mungkin kita akan bercakap-cakap lagi di lain waktu!" Sakura tersenyum amat manis pada Gaara.
Deg!
Disenyumi seperti itu, Gaara merasa jantungnya berdebar kencang. Amat kencang! Sedikit menyulitkan pernapasannya. Perutnya serasa dikocok. Tapi ia merasa hatinya tentram dan damai, juga merasa hangat. Perasaan apa ini? batin Gaara. Tanpa disadari, wajah Gaara sedikit memerah.
"Gaara?"
"Ah, ya … i-iya," jawab Gaara gugup.
"Kau kenapa?" tanya Sakura.
Gaara tak menjawabnya, malah dia melihat Sasuke, Sakura juga menoleh pada Sasuke yang bertampang kusut seolah-oleh berkata ' ayo-ce-pat-lah-Sa-ku-ra-!'
"Jangan membuatnya menunggu, pergilah." Gaara berkata kepada Sakura.
"Baiklah. Dah Gaara!" pamit Sakura tersenyum. Melihat senyumnya, Gaara merasakan perasaan aneh itu lagi.
'Lagi … sebenarnya perasaan apa ini?' batin Gaara meremas sedikit kemeja sekolah di bagian dadanya. Ini pertama kalinya Gaara merasakan perasaan seperti ini. Sekian lama berpikir, ia pun menyimpulkan bahwa ia telah jatuh cinta pada Sakura.
.
.
.
"Kau kenapa sih, Sasuke-kun? aku 'kan masih ingin mengobrol dengan Gaara…," gerutu Sakura saat dia dan Sasuke meninggalkan pemuda berambut merah menyala tersebut.
"Hn." Kata-kata Sasuke membuat Sakura mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Kau cemburu yah?" tanya Sakura dengan nada sedikit menggoda.
"Hn," kata Sasuke lagi. Yang membuat Sakura menghilangkan senyum menggoda di wajahnya.
"Cih! Kau menyebalkan!" ucap Sakura dan berjalan cepat di depan Sasuke.
Sasuke hanya menatap punggung kecil Sakura dengan tatapan datar. Ia dapat mendengar gerutuan 'kekasihnya' itu.
"Cih! Dasar pantat ayam! Tukang cemburu! Aku 'kan ingin berbincang dengan Gaara!"
"…"
"Cih! Dasar! Dia pikir aku tak cemburu melihatnya bercakap-cakap akrab dengan wanita pirang itu? Siluman ayam!"
"…"
"Seharusnya aku memilih lelaki yang bukan tipe pecemburu, mungkin … seperti Gaara? Atau kak Sasori?"
Telinga Sasuke terasa panas mendengar kalimat Sakura. Sakura membalikkan kepalanya, ingin melihat ekspresi Sasuke yang MUNGKIN saat ini sedang kesal mendengar perkataannya. Ia sengaja memperbesar nada suaranya itu. Agar Sasuke dapat mendengarnya. Melihat Sasuke yang bertampang kesal, Sakura tersenyum kecil, dan melanjutkan ucapannya,
"Haaahh … ia juga yah? Kak Sasori kan tipeku, sayang sekali .. dia itu saudara tiriku. Tapi … bukankah aku bisa menjalin hubungan dengannya? Dia 'kan tidak sedarah denganku," Sakura mengoceh pada dirinya sendiri. Dengan suara yang cukup keras, sehingga membuat Sasuke juga mendengarnya. Sakura masih tersenyum kecil.
"Dan Gaara, siapapun pasti akan menyesal jika menolaknya, dia 'kan penyabar, baik, tampan, dan … tidak pecemburu, seperti siluman ayam yang di belakangku ini…" Cukup. Sasuke sudah tidak tahan lagi, ia berjalan cepat menyusul Sakura dan meraih tangan mungil wanita itu, mencengkramnya.
"Apa maumu?" tanya Sasuke tajam. Emerald Sakura ikut menatap tajam Sasuke.
"Apa maksudmu?" Sakura balas bertanya. Pura-pura tak mengerti ucapan Sasuke.
"Sakura … jangan pura-pura tak mengerti," kata Sasuke, kali ini merendahkan nada bicaranya.
"Aku 'kan hanya bilang bahwa Gaara dan Kak Sasori itu-" perkataan Sakura terhenti saat Sasuke tiba-tiba menciumnya. Mambuatnya tak bisa bicara. Sakura kaget dengan tindakan Sasuke, tapi tak lama, ia juga membalas ciuman pemuda itu. Setelah beberapa lama, mereka pun melepas ciuman mereka.
"Kalau kau bicara lagi, akan kucium lagi," ancam Sasuke. Sakura hanya menatap pemuda itu dengan kesal, tapi tak dapat menyembunyikan rona merah di wajah gadis itu.
"Kau curang," ujar Sakura. Sasuke hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Kau curang. Digoda sedikit saja, kau sudah berhasil balas menggodaku, dasar curang." Penjelasan Sakura yang membuat Sasuke tertawa kecil.
"Dasar bodoh." Sasuke melangkah meninggalkan Sakura yang cemberut.
"Hey! Tunggu aku!"
~~~000~~~
.
.
.
"Temeeee!" Naruto melambaikan tangannya pada Sasuke yang tengah memasuki area kantin Konoha High School, Naruto tak sendirian, ia ditemani dengan pacarnya yang sangat setia dengan segala kebodohan yang ia buat, Hinata. Sasuke menghampiri Naruto. Sakura ikut di belakang Sasuke, seperti seorang anak ayam yang tak ingin lepas dari induknya. Sasuke mengambil tempat duduk di samping Naruto, sedangkan Sakura mengambil tempat duduk di sebelah Hinata. Jadi posisi mereka saat ini adalah masing-masing duduk menghadap pacar mereka masing-masing.
"Kau mau pesan apa? Aku yang traktir!" ucap Naruto dengan bangga seraya menepuk pelan dadanya.
"Tumben," ujar Sasuke.
"Ayolah Teme.. aku 'kan tidak selamanya krisis, ada saatnya di mana aku ini menjadi orang yang kaya!" Hinata hanya tersenyum kecil mendengar perkataan kekasihnya itu.
"Hn."
"Baiklah, kau mau pesan apa Teme?" tanya Naruto mengulang pertanyaannnya.
"Jus tomat, dan Sandwich yang hanya berisi tomat," ucap Sasuke. Naruto hanya menatap heran sahabatnya itu.
"Sandwich yang hanya berisi tomat? Kau gila? Rasanya pasti aneh!" kata Naruto yang menatap Sasuke dengan tatapan kau-pasti-sudah-gila-sekarang-Teme.
"Hn," ucap Sasuke cuek. Naruto masih menatapnya heran, tapi sadar bahwa ia tidak akan diberi tanggapan oleh sahabatnya itu, ia pun beralih ke Sakura.
"Kalau kau, Sakura-chan?" tanya Naruto sambil tersenyum lima jari(?).
"Aku jus strawberry dan sandwich," kata Sakura balas tersenyum. Naruto hanya menatap Sakura, Sakura sadar akan hal itu dan tersenyum lebih lebar.
"Tenang saja! Aku tak seaneh Sasuke-kun kok! Aku tidak akan meminta tomat saja di dalam sandwichku!" perkataan Sakura membuat Naruto merasa lega dan beralih pada Hinata.
"Kalau kau, Hinata-chan?"
"A-aku … ramen miso saja…" kata Hinata dengan rona di wajahnya karena Naruto mencondongkan sedikit badannya agar lebih dekat dengan Hinata.
"Wah! Kita sehati Hinata-chaaannn! Aku juga ingin memesan ramen miso!" ucap Naruto sambil menyegir kuda.
Hinata hanya merona dan tersenyum. Naruto bergegas pergi untuk memsan makanan. Beberapa saat kemudian, Naruto muncul dengan membawa nampan besar berisi dua mangkuk ramen miso dan dua gelas lemon tea.
"Lho? Pesanan kami mana, Naruto?" tanya Sakura heran.
"Ada di meja pesanan! Kalian ambil saja! Aku sudah membayarnya kok!" ucap Naruto.
"Cih! kenapa tidak sekalian kau ambilkan?" tanya Sasuke sewot.
"Hehehe…" Naruto hanya cengengesan, Sasuke beranjak mengambil nampan, tapi rupanya Sakura juga melakukan hal yang sama.
"Biar aku saja," kata Sakura.
"Tidak, seisi kantin akan lari ketakutan melihat nampan melayang," ujar Sasuke yang membuat wajah Sakura memerah.
"M-maaf, aku lupa…" Sasuke beranjak mengambil nampan dan segera kembali ke tempatnya semula.
"Itadakimasu!" ucap Naruto girang dan segera melahap ramennya.
"Ehm.. khita jadhi..slruup.. hehi ke humah hahi?" kata Naruto tidak jelas.
"Setidaknya makan dulu makananmu," kata Sasuke. Setelah semua ramen tadi sudah ditelan, Naruto pun mengulangi pertanyaannya,
"Kita jadi pergi ke rumah sakit?" tanya Naruto pada Sasuke, Sakura ikut menatap Sasuke dengan heran.
"Ke rumah sakit? Untuk apa?" tanya Sakura heran.
"Untuk meminta keterangan terkait operasimu," jawab Sasuke,"kami ingin pergi menyemangatimu untuk operasi besok."
"Tidak usah," tolak Sakura. Sasuke hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Aku bisa sendirian, kalian tak perlu menyemangatiku."
"Tidak, kita ikut," ujar Sasuke. Sasuke menatap Sakura dengan tajam seolah ia berkata pada Sakura aku-ingin-ikut.
"Hhh.. baiklah." Sakura akhirnya menyerah, membuat Sasuke tersenyum penuh kemenangan.
"Oke, kita akan ke rumah sakit nanti siang! Sepulang sekolah!" ucap Naruto dengan nada girang.
~~~0~~~
.
.
.
"Operasi akan di mulai besok, hari rabu pukul sepuluh pagi."
Dokter yang diketahui bernama Tsunade mengambil map berwarna merah dari laci meja kerjanya. Di sampul map itu, terdapat tulisan yang cukup besar yang bertuliskan 'Haruno Sakura'.
"Apakah.. hasil keberhasilan operasi Sakura mengalami peningkatan dokter?" Ibu Sakura bertanya pada sang dokter dengan tampang khawatir dan cemas. Seketika tubuh wanita berwajah ke-ibu-an itu menjadi lemas saat dilihatnya dokter Tsunade menggeleng pelan.
"Tubuh Haruno Sakura tidak mengalami peningkatan. Entahlah.. hidup atau tidaknya dia, tergantung dari diri Sakura sendiri. Jika keinginan Sakura untuk selamat dari maut tinggi, maka, tinggi pula hasil keberhasilan operasi." Tsunade menghela nafas,"..tapi, sampai saat ini, Sakura tidak menunjukkan tanda-tanda apapun, sekarang, Sakura terlihat seperti benda mati. Tubuhnya seperti terpisah dari rohnya." Sasuke, Naruto, Hinata, Sakura, Neji, dan Tenten hanya menatap sang dokter dengan tatapan 'Itu benar'.
"Tapi dokter, aku sangat yakin bahwa Sakura sangat ingin kembali ke tu-.. eh.. maksudku.. dia pasti ingin hidup." Tenten menyela.
"Tidak mungkin Nak," kata Tsunade menggelengkan kepalanya. "Kalau memang Sakura mempunyai keinginan untuk hidup, pasti sekarang, keadaannya jauh lebih baik dari sekarang. Tubuhnya pasti akan mengalami reaksi positif, bukan seperti ini." Tsunade menghela nafas, lalu melanjutkan,"Yah, aku rasa Sakura tidak ingin hidup kembali."
BRAAK!
Semua yang ada di ruangan itu terkejut saat dilihatnya Sasuke menggebrak meja kerja Tsunade.
"Kau..-" tunjuk Sasuke pada Tsunade.
"Bagaimana kau tahu Sakura tak ingin hidup, hah? Memangnya kau mengerti perasaannya? Semua manusia pasti ingin hidup, Sakura juga! Dan kau tidak tahu itu!" amarah Sasuke meledak. Tsunade menatap pemuda Uchiha itu dengan kaget, kemudian menghela nafas lagi.
"Bagaimana aku tahu? Aku sudah berpengalaman dalam kasus seperti ini,Tuan Uchiha!" kata Tsunade menantang.
"Kau tidak tahu seberapa sakit yang diderita Nona Sakura, bertahun-tahun di rumah sakit, berkali-kali dioperasi, beberapa kali menantang maut, mempunyai penyakit yang dapat mematikannya di waktu kapan saja, dan berbagai penderitaan lainnya, kau tak tahu itu! Semua yang ada di posisi Sakura saat ini pasti lebih memilih mati daripada hidup namun tersiksa!" kata Tsunade dengan nada yang ditinggikan. Sasuke terdiam mendengar kata-kata Tsunade. Ibu Sakura hanya menangis dalam diam. Sedangkan Sakura sendiri hanya mematung.
"Sudahlah Sasuke." Neji menepuk bahu Sasuke pelan. Dan tatapannya beralih ke dokter Tsunade."Jadi, maksud dokter, Sakura tak ingin hidup lagi, begitu?" tanyanya.
Tsunade hanya menggauk dan menggumamkan kata 'Ya'.
Dengan serempak, kelima remaja tersebut menatap tajam ke arah Sakura seakan meminta penjelasan, sedangkan Sakura, hanya diam dengan wajah yang pucat pasi.
.
.
.
To be Continued
Hehe.. ancur yah? Pendek yah?
Sori deh! Kalo ada yang nggak ngerti, silahkan PM aku, tanya di Fb, taupun di kotak review, oke?
Nah, saatnya membalas review !(sekarang baik login maupun unlogin yahh!)
-Akasuna no ei-chan :
Salam kenal! Alurnya terlalu singkat yah? Maaf.. habis idenya cumin gitu doanggg.. sekali lagi maafff.. review lagi yah!
-Chibi si saku :
Seru? Kyyaa! Makasihh.. *peluk-peluk.. review lagi yah ;)
-sukoshi yuki :
Gak apa kok Yuki-chan, ^^ iya, Hany salah kasih tanda di kalimat Itachi itu! Seharusnya tanda seru, bukan tanda tanya.. sekali lagi gomen, awalnya sih, hany pengen bikin Sasuke itu sakit parah abis kecelakaan*ditabok Sasuke fc.
Tapi, kalau Sasuke parah, ceritanya makin panjang deh.. jadi reader semakin lama nunggunya, hehehe… review lagi! :*
-Haniamandarizu :
Makasih for review and bilang cerita ini menarikkk.. sori yah, banyak miss typo.. hehe.. review lagi!
-Obsinyx Virderald :
Feelnya kurang yah? Sorry.. hany emang gak tau banget bikin cerita yang feelnya kerasa.. .. tapi tahnks dah review yah! Review lagii! :)
Asakura Rei :
Salam kenal juga! Thanks udah bilang cerita ini menarikk! Keep review!
-Sindy 'kucing pink :
Heloo Sayoongg! Thanks dah review! Review lagi dooonggg..!
-Chinen Yuri :
Gak apa kok, Yuri-chan.. hehe.. yang jelas, Yuri-chan udah bersedia baca ficku, okeoke, review lagi!
-Yukko Orizawa :
Thanks dah review! Soal happy ending atau tidak, baca ajah chapter terakhir nanti ^^ jangan lupa review!
Okok, kayaknya udah semua, maaf kalo ada yang namanya salah ketik, gomen segomen-gomennya..
Oke! Sampai jumpa di chapter terakhir!
Byee!
Review pleaseee~~~~
Hany-chan DHA E3
