My Girl

Pairing : SasuSaku

Rated : T

Genre : Romance, Fantasy, Friendship

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Ooc, jelek, abal,alur berantakan, hancur, dll.

Yo minna!

Gomen, lagi-lagi telat, gomen banget yahhhh….!

Jujur aja, aku bingung nentuin ending fic ini.. Jadi maaf(lagi) kalau chapter inilah yang paling ancur nantinya..

Mungkin, chapter ini lumayan panjang, habis, chapter ini puncaknya, hohohohohohohoho..*devil laugh # ditimpuk satu kampung

Oke, kalo gitu langsung baca aja yahhhh!

1..

2..

3..

ACTION!

Chapter 9 : The Last Chapter

.

.

.

"Apa maksud perkataan Tsunade-oba-san tadi, Sakura?"

Lima pasang tatapan tajam menghujam Sakura saat ini. Sakura hanya menunduk diam tak berkata apapun. Setelah keluar dari ruangan Tsunade tadi, Sakura memang tak berbicara apa-apa. Saat ini, mereka tengah berada di tempat parkir rumah sakit. Tenten dan Naruto memang tak melihat Sakura, tapi ia tahu keberadaan gadis itu sehingga ikut menatap tajam gadis bersurai pink tersebut.

Selama beberapa menit, Sakura tetap terdiam, tak menjawab pertanyaan Tenten, ataupun mendongakkan kepalanya. Ia tetap tertunduk menatap rumput liar yang tumbuh di sekitar area parkir yang berada di bawah kakinya. Perilaku Sakura yang tetap terdiam membuat kelima remaja tersebut menghela nafas.

"Baiklah kalau kau tak mau menjelasakan, tapi kami harap, keinginanmu itu tidak mengacaukan operasi besok." Selesai berkata, Tenten membalikkan badannya untuk pulang, diikuti dengan Naruto, Neji, dan Hinata yang sedari tadi diam. Sakura masih tertunduk, Sasuke yang sedari tadi juga diam hanya menarik tangan Sakura menuju mobilnya. Sakura hanya menurut tapi tidak menatap Sasuke. Merekapun masuk ke mobil dan mobil sedan berwarna biru dongker yang baru dibeli Sasuke semenjak kecelakaannya itupun melaju dengan kencang.

~~~0~~~

.

.

.

Kedua remaja terlihat memasuki kediaman Uchiha, Sasuke langsung menuju kamarnya diikuti Sakura yang terdiam di belakangnya. Sasuke tak mempedulikan Mikoto yang menyambutnya pulang ataupun Itachi yang mengajaknya bermain game. Ia tetap melanjutkan langkahnya. Memasuki kamarnya dan berbaring di tempat tidurnya tanpa berkata apapun. Perilaku Sasuke saat ini membuat Sakura risih. Ini memang salahnya, kesalahan yang membuat teman-temannya dan Sasuke marah padanya. Andai saja ia dapat menjelasakannya lebih awal, mungkin teman-temannya akan mengerti. Tapi sudah terlambat, Sakura tidak menyalahkan siapapun, ia hanya menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu bodoh.

"Sampai kapan kau mau terus mendiamiku, Sasuke-kun?" Akhirnya Sakura memberanikan dirinya untuk berbicara pada Sasuke, meskipun mata Sasuke tertutup, tapi ia tahu Sasuke tidak tidur.

Sasuke membuka matanya, memperlihatkan mata onyx-nya yang tajam dan menatap Sakura. Ia tetap terdiam. Hanya memandang Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. Sampai kemudian lelaki itu menghela nafas dan kembali menutup matanya.

"Sampai kau mau menjelaskan semuanya padaku," kata Sasuke singkat.

"Menjelaskan apa?"

"Aku tahu kau tidak bodoh Sakura." Sakura kembali menundukkan kepalanya.

"Aku … aku belum siap menjelaskannya Sasuke-kun," katanya lirih. Sasuke bangun dan terduduk ditepi ranjang. Ia meraih dan menggenggam tangan Sakura.

"Jelaskanlah, aku tak akan marah," ucapnya lembut.

"M-maaf.. tapi sungguh, aku belum siap…," kata Sakura. Sasuke hanya menuntun Sakura untuk duduk di sampingnya.

"Kau tahu? Memang sulit menjelaskan kesalahan kita pada orang lain, aku akan menunggu sampai kau siap menjelaskannya, tapi aku harap, kau benar-benar berusaha dalam operasi besok." Sakura hanya mengangguk mendengar perkataan Sasuke.

"Sasu-chaaannn~!" teriakan yang berasal dari ibu Sasuke merusak suasana romantis (menurut Sasuke) rusak. Sasuke hanya berdecak kesal, Sakura yang melihatnya terkikik geli.

"Sasu-chaaannn…! Ayo makan! Kau belum makan 'kan?"

"Nanti saja ibu, aku lelah."

Sakura menepuk pundak kekasihnya itu. Sasuke menatap Sakura dengan pandangan 'apa'.

"Pergilah makan! Kau mau kepalamu pening dan kecelakaan lagi? Lihat, di kepalamu masih ada bekas benturan..," kata Sakura seraya menunjuk luka Sasuke yang berada di kening pemuda itu. Sasuke hanya mengangguk kemudian menyeringai tipis.

"Kalau kau telah menjadi istriku, kau pasti akan menjagaku dengan baik." Perkataan Sasuke pun sukses membuat wajah Sakura memerah.

"Dasar.."

~~~0~~~

"Sasu-chan? Tumben kau berubah pikiran," ucap Mikoto girang ketika melihat anaknya turun kebawah dan duduk di meja makan yang telah tersedia berbagai macam makanan. Sasuke hanya mengangguk dan mengambil makanan yang tersedia.

"Hn. Itu pasti karena Sakura," kata Itachi yang bermain plays station di ruang keluarga yang terhubung dengan dapur. Mikoto sontak menolehkan kepalanya pada Itachi.

"Sakura? Siapa itu?"

Itachi menoleh ke arah Mikoto, berniat untuk menjelaskan, tapi niatnya luntur seketika ketika mata onyx-nya menangkap Sasuke yang tengah menatapnya dengan tajam seolah berkata jangan-beritahu-ibu-soal-Sakura.

"Ng.. t-tidak.. dia bukan siapa-siapa."

"Jangan mengatakan hal yang terlanjur mencurigakan, Itachi." Mikoto menatap Itachi tajam, ingin mengetahui siapa sebenarnya 'Sakura' itu.

"Hn. Dia itu teman sekolahku, dia selalu menasihatiku tentang pentingnya makanan itu," jelas Sasuke singkat sambil memakan makanannya. Itachi hanya menghela nafas lega. Sakura yang berada di samping Sasuke hanya terkikik geli.

"Ohh.. tapi ibu harus berterima kasih pada orang yang bernama Sakura itu, dia telah menyadarkan Sasuke, aku akan pergi ke sekolah kalian besok untuk berterima kasih..,"

"E-ehh.. jangan ibuuu!" Sontak kedua pemuda Uchiha itu berteriak, membuat Mikoto terlonjak kaget.

"Ng? Memangnya kenapa?" tanya Mikoto heran melihat tingkah kedua anaknya.

"Sakura sekarang berada di luar negeri, dia tidak ada di Jepang sekarang," jelas Sasuke lagi. Mikoto mengangguk mengerti. Beberapa saat kemudian, Sasuke berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya seraya berkata 'Aku sudah selesai'.

.

.

~~~0~~~

.

.

Tokk..tokk..

"Hn. Masuk."

Itachi memasuki kamar adiknya dan melihat adiknya itu sedang menonton tv dengan kekasihnya sambil berbaring di ranjang. Itachi langsung mengambil tempat duduk di tepi ranjang adiknya.

"Ada yang ingin kubicara-"

"Katakan saja." Itachi hanya tersenyum melihat kelakuan adiknya dan melanjutkan bicaranya.

"Kenapa kau tak mau ibu tahu soal Sakura?"

"Hn. Aku hanya tak mau ibu tahu bahwa selama ini ternyata ada seorang gadis yang tinggal di rumah ini." Sasuke masih memfokuskan matanya pada televisi tanpa memandang lawan bicaranya sekalipun.

"Hanya itu alasanmu?"

"Hn."

"Alasan yang cukup logis. Baiklah, aku mau pergi ke rumah temanku dulu, Akatsuki sedang ada acara," kata Itachi seraya melangkahkan kakinya menuju pintu.

"Hey," panggil Sasuke, Itachi membalikkan badannya dan menatap adiknya dengan alis terangkat sebelah.

"Besok hari operasi Sakura. Aku mau kau juga datang."

"Pasti aku datang. Itu 'kan hari operasi adik sahabatku." Itachi tersenyum pada Sasuke sebelum dirinya benar-benar menghilang di mata Sasuke.

"Tidak apa kalau aku memanggilnya besok 'kan, Saku-" perkataan Sasuke terputus melihat Sakura tertidur. Sasuke hanya tersenyum tipis, ia menggerakkan tubuhnya untuk mengecup pelan dahi lebar Sakura.

"Oyasumi, Sakura.."

~~~0~~~

.

.

.

Sasuke dan Sakura kini memasuki area Konoha High School disambut dengan teriakan histeris gadis-gadis fans Sasuke. Sasuke mengacuhkan teriakan itu dan memasuki kelasnya, disambut dengan Naruto dan Hinata.

"Hey Sasuke, hai Sakuraaa!" Sakura tersenyum senang mendengar sapaan Naruto, itu menunjukkan bahwa temannya yang satu ini tidak marah lagi padanya.

"Ohayou Sasuke-kun, Ohayou Sakura-chan..," ucap Hinata tersenyum manis pada Sasuke dan Sakura.

"Naruto, Hinata-chan.. kalian tak marah lagi padaku 'kan?" tanya Sakura pelan, Naruto menggelengkan kepalanya.

"Kami tak pernah marah padamu, Sakura-chan. Maaf kemarin kami mendiamimu, kami hanya shock kemarin, kau pasti punya alasan untuk itu." Naruto berkata dengan cengirannya. Hinata mengangguk kemudian tersenyum.

"A-arigatou..," ujar Sakura.

"Doitte~, oh ya, bagaimana rencana bolos kita hari ini?" tanya Naruto bersemangat, disambut dengan tatapan heran Sakura.

"Bolos?"

"Ka-kami ingin menememanimu saat opersai nanti, Sa-Sakura-chan.." jelas Hinata.

"Tidak perlu.. aku bisa sendiri, kalian sudah banyak membantuku," kata Sakura yang disambut gelengan keras dari Naruto.

"Tidak! Kami akan menemanimu Sakura-chan, Neji dan Tenten juga akan bolos!"

"Ta-tapi.."

"Sudahlah Sakura, hargailah kebaikan mereka." Sasuke memotong perkataan Sakura.

"Mmm.. ba-baiklah.. maaf, aku selalu merepotkan kalian," kata Sakura lirih dengan air mata yang hampir membasahi pipi ranumnya.

"Tidak apa Sakura-chan.. itulah gunanya seorang teman..!"

~~~0~~~

.

.

.

Ting.. Ting…

Bel tanda istirahat menggema di setiap ruangan kelas. Para siswa berhamburan keluar kelas mereka masing-masing. Kantin yang tadinya sepi langsung menjadi ramai bak pasar. Sasuke juga melangkah keluar kelas diikuti Sakura saat ini. Tapi langkah mereka terhenti mendengar seseorang memanggil Sakura.

"Gaara?" rupanya Gaara yang memanggilnya, Sakura terlihat meminta izin pada Sasuke, Sasuke mengangguk, tampaknya dia sudah mengurangi rasa cemburunya pada Gaara.

"Ada apa?" kata Sakura menghampiri Gaara dengan raut wajah senang.

"Kau terlihat senang, ada apa?" tanya Gaara sambil tersenyum. Perasaan itu muncul kembali saat ia melihat Sakura tersenyum senang.

"Tidak kok, aku hanya senang bertemu denganmu, sudah lama kita tak bertemu," kata Sakura masih dengan senyum yang sama.

"Kita kan baru bertemu kemarin, Sakura," ujar Gaara sambil tertawa renyah.

" Memang kita baru bertemu kemarin, tapi-"

"Sakura,"

"Ya?"

Sakura melihat Gaara dengan wajah bertanya, namun ia lebih heran lagi melihat wajah Gaara semakin serius.

"Aku.. aku menyu-ah tidak, aku mencintaimu, Sakura."

Sakura membatu. Ia tak percaya hal ini, Gaara menyukainya? Sejak kapan? Sakura menatap Gaara dengan pandangan kaget. Bukannya senang, Sakura malah merasa bersalah pada Gaara, Gaara sangat baik padanya, tapi.. tapi ia mencintai Sasuke dan sampai kapanpun akan tetap mencintainya! Melihat ekspresi Sakura, membuat Gaara tersenyum lembut.

"Tidak usah dijawab, aku sudah tahu jawabannya."

"Eh?" Lagi-lagi Sakura dikagetkan oleh Gaara. Mata emeraldnya terus menerus memandang Gaara.

"Aku tahu hubunganmu dengan Sasuke, aku tidaklah bodoh. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku, aku tak meminta jawaban, karena jawaban darimu pasti akan membuatku sakit hati. Lebih baik kau tak usah menjawab ataupun memikirkannya, dan sekarang, aku akan berusaha untuk melupakan cintaku padamu dan menganggapmu sebagai sahabat," kata Gaara dengan suara pelan.

"Ga-Gaara.. gomen..gomenasai...," rasa bersalah Sakura membuat air matanya jatuh. Gaara yang melihat itu kaget dan refleks memeluk Sakura.

"Sakura.. kau jangan menangis, aku tidak apa-apa."

"A-aku.. sangat minta maaf Gaara," kata Sakura lirih dan membalas pelukan berpelukan erat dengan jangka waktu yang cukup lama, Gaara yang tahu diri segera melepas pelukan Sakura.

"Sukses untuk operasimu nanti, Sakura," kata Gaara dan disambut anggukan Sakura.

"Sekarang, aku pergi dulu, ada sesuatu yang harus kuurus," pamit Gaara dan sekali lagi hanya disambut anggukan.

"Dan… saat aku melihatmu lagi, kau harus sudah menjadi manusia,"

"Y-ya..,"

"Oke, jaa ne~, Sakura.."

"Jaa.."

.

.

.

"Bisakah kau berbicara pada panda itu tanpa berpelukan?" Sebuah suara baritone sukses membuat Sakura terlonjak kaget.

"Sasuke-kun!"

"Hn."

"Gaara memang pemuda yang baik…"

"Hn? Jadi? Aku tidak baik di matamu?"

"Bu-bukan begitu Sasuke-kun, hanya.. Gaara lebih penyabar daripadamu!" kata Sakura sambil menjulurkan lidahnya pada Sasuke.

"Hn. Pujilah panda merah itu terus," kata Sasuke sambil membalikkan badannya, Sakura yang melihat itu langsung menahan lengan Sasuke.

"H-hey! Aku hanya bercanda! Kau ini pemarah sekali!" kata Sakura dengan raut wajah marah.

"Kenapa sekarang kau yang marah?"

"Karena kau ini pemarah!"

"Memangnya siapa yang marah?"

"Aku kesal punya pacar pemarah!"

"Aku ini hanya menyatakan cinta padamu, aku tak pernah sekalipun memintamu menjadi pacarku 'kan?"

"Sasuke-kuuunnn!"

Seorang pemuda berambut merah menyala melihat kedua orang yang tengah berdebat itu dengan senyum yang sulit diartikan.

"Aku yakin, Sasuke itu pemuda yang baik untukmu Sakura," gumam pemuda itu. "Aku tahu harusnya aku tak mengatakannya tadi…,"

Bruuukkk!"

"A-aduhh.." Sebuah dentuman keras dibelakangnya membuat Gaara terkejut, namun ia lebih terkejut melihat seorang gadis manis berambut cokelat pucat jatuh dihadapannya, meskipun sedikit, Gaara melihat segitiga pengaman gadis itu. Wajah Gaara memerah melihatnya, gadis itu segera bangkit dan langsung berojigi didepan Gaara.

"M-maaf.. maafkan aku,"

"Tidak apa."

"Sungguh, aku minta maaf.." gadis itu masih terus menunduk di depan Gaara. Ketika gadis itu menatap Gaara, kesan yang ditangkap Gaara ialah wanita itu seorang gadis yang manis, bukan, sangat manis!

"Tidak apa," kata Gaara lagi. Gadis itu membalikkan badannya hendak pergi, namun suara Gaara menghentikan langkahnya.

"Siapa namamu? Dan kelas berapa?"

"E-eh.. Namaku Matsuuri.. ke-kelas X IPA, Gaara-senpai..,"

"Matsuuri kelas sepuluh, adik kelas yah, hey, tunggu, kenapa kau bisa tahu namaku?"

"E-eh.." Wajah gadis itu memerah bak kepiting rebus. Gaara hanya memandangnya heran.

"Ma-maaf Gaara-senpai, aku harus pergi." Matsuuri membalikkan badannya dan langsung meninggalkan tempat itu.

"Dia kabur, tapi.. manis juga dia.." gumam Gaara, dan tanpa sadar, ia menyunggingkan senyumnya. Sudah lupa Sakura, heh, Sabaku?

~~~0~~~

.

.

.

"HEYY! KEMBALI KALIANNN!"

Bruuuummmm…

Terlihat penjaga sekolah Konoha High School mengejar sebuah mobil berwarna biru dongker, didalamnya ada enam remaja yang berhimpit-himpitan. Sasuke yang mengemudikan mobil menyeringai tipis melihat satpam sekolahnya berlari mengejar mereka, namun apa daya, kecepatan lari sang satpam pasti kalah dengan kecepatan mobil Sasuke, apalagi Sasuke sekarang mengemudikan mobil itu dengan sangat kencang. Naruto dan Tenten yang duduk di belakang bersama Hinata dan Neji berteriak histeris. Sakura juga berteriak, namun tidak sekeras Naruto dan Tenten. Sasuke dan Neji terlihat tenang-tenang saja sedangkan Hinata menampakkan wajah pucat.

Sang satpam sudah tak terlihat lagi, membuat seringai Sasuke semakin lebar, namun ia tak mengurangi kecepatan mobilnya, malah menambahnya, sepertinya ia senang melihat teman-teman serta kekasihnya berteriak histeris karena ketakutan. Ia melihat jam tangannya, sudah jam 10.00 pagi, ia berdecak kesal. Mereka terlambat. Pasti sekarang tubuh Sakura sudah berada di ruang operasi. Pemuda raven itu menambah kecepatan mobil, dan segera membanting stirnya untuk memarkirkan mobilnya dan mengerem mendadak.

"Sudah sampai," katanya ringan. Tenten mengatur nafasnya, sedangkan Naruto sudah mengeluarkan busa dari mulutnya. Sakura sudah kehilangan separuh nyawanya. Hinata terlihat shock, dan Neji terlihat tenang-tenang saja. Sasuke keluar dari mobilnya, disusul Hinata dan Neji. Naruto, Tenten, dan Sakura keluar mobil setelah nyawa mereka telah kembali(?).

"Ayo teman-teman, sudah jam sepuluh." Perkataan Sasuke membuat mereka tersadar. Mereka segera berlari memasuki rumah sakit, menanyakan kepada perwat di ruangan mana Sakura dioperasi, dan segera ke ruangan tersebut.

Mereka tiba di ruang operasi, di sana sudah ada Itachi, Sasori, dan ibu Sakura yang menunggu di kursi tunggu dekat ruangan operasi. Ibu Sakura terus berdoa demi keselamatan anaknya. Itachi nampak mengotak-atik hapenya, sedangkan Sasori diam sambil membaca buku. Mereka bertiga menoleh begitu melihat kelima remaja tersebut bonus Sakura(tapi hanya Itachi dan Sasori yang melihatnya).

"Operasinya sudah lama dimulai?" tanya Tenten.

"Tidak, baru lima belas menit yang lalu," jawab Sasori.

Ibu Sakura hanya terdiam dengan muka cemas dan khawatir.

"T-tenang Tante.. Sa-Sakura-chan pasti selamat," ujar Hinata menghibur ibu Sakura.

"A-aku takut sekali.. bagaimana kalau Sakura mati ditengah-tengah operasi? Bagaimana kalau… ada kesalahan nantinya? Kalau operasi ini gagal? Bagaimana kalau.."

Bukk..

Sasori menutup bukunya dengan keras sehingga menimbulkan suara yang membuat mereka yang berada di sana menoleh ke arahnya.

"Ibu jangan berkata begitu. Percayalah pada Sakura!" katanya.

"Ibu tahu! Ibu percaya! Tapi.. tapi kalau mengingat ini adalah hari terakhir aku bisa melihat Sakura, aku.. aku tidak sanggup! Membayangkannya membuatku sedih Sasori.." Ibu Sakura mengeluarkan air matanya. Ia menangis terisak. Membuat orang-orang yang ada disitu memandangnya dengan tatapan iba.

"Dia.. dia hartaku, saat aku belum menikah dengan ayahmu, dia yang menemani hari-hariku, memberiku semangat untuk hidup lagi setelah terpuruk dalam kesedihan ketika ayah Sakura meninggal, dia peninggalan suami pertamaku satu-satunya, dia.. putri kecilku yang malang.. setelah mengetahui penyakitnya, Sakura selalu tersenyum sendu, aku yakin dia pasti sedih dengan penyakit yang dideritanya…" Tenten dan Hinata sedikit menitikkan air matanya, Ibu Sakura terus menangis. Sakura hanya terdiam. Sasuke yang tidak sanggup melihat pemandangan itu membalikkan badannya dan menjauh dari tempat itu. Sakura yang melihat Sasuke menyusulnya. Meninggalkan teman-temannya dan ibunya serta Itachi dan Sasori.

"Eh? Teme dan Sakura-chan kemana?" bisik Naruto pada Neji.

"Entahlah." Neji hanya menjawabnya dengan singkat, sedangkan Naruto celingak-celinguk mencari mereka.

.

.

.

Atap.

Disitulah Sasuke dan Sakura saat ini. Sasuke terus diam membuat Sakura sekali lagi risih dengan tingkah Sasuke yang seperti ini.

"Sasuke-kun?" panggilnya.

Sasuke membalikkan badannya tiba-tiba. Ia melangkah menuju Sakura sambil menatap Sakura tajam. Sakura yang ditatap seperti itu memundurkan langkahnya. Ia terus mundur seiring dengan bertambahnya langkah Sasuke. Sakura terus mundur sampai bertabrakan dengan dinding tembok yang memisahkan lantai atas rumah sakit dengan atap rumah sakit. Sasuke terus maju. Ia segera mencengkram lengan mungil Sakura dan menatap wanita itu dengan tajam.

"Kembali ke tubuhmu!" katanya setengah berteriak.

"A-apa maksud-"

"Kau tidak lihat ibumu menangis? Menangisi dirimu yang tidak ingin hidup?!"

"A-aku punya alasan untuk it-"

"Apa alasanmu?"

"S-Sasuke-kun.."

"Katakan alasanmu!" bentaknya tepat di depan Sakura. Membuat nyali Sakura ciut dan menangis. Sasuke yang melihat Sakura menangis segera tersadar. Ia mulai melemahkan cengkramannya pada Sakura dan melepaskannya, kemudian membalikkan badannya.

"Maaf," katanya singkat dan kemudian melangkah menjauh.

"Aku takut bodoh!" teriak Sakura tiba-tiba, membuat Sasuke menghentikan langkahnya.

"Aku takut mati! Aku ingin hidup! Tapi…"

"…."

"Tapi… aku tidak mau berpisah dengan kalian semua!" Sakura menangis kencang. "Ini pertama kalinya aku punya teman! Teman yang setia! Tak seperti teman rumah sakit yang hanya menemaniku sesaat, kemudian melupakanku setelah keluar, tapi kalian.. kalian berbeda.."

"…"

"Saat pertama kali bertemu denganmu, aku memang ingin kembali ke tubuhku, tapi saat melihat Neji, Naruto, Tenten, dan Hinata, aku mulai berpikir, buat apa aku kembali ke tubuhku yang berpenyakitan? Kenapa aku harus kembali ke tubuhku dan hidup sengsara lagi? Aku lebih memilih keadaan yang sekarang, mempunyai teman, bahkan kekasih yang setia walaupun tanpa tubuhku. Aku rela semua orang tak melihatku, asalkan kau dan teman-teman selalu ada menemaniku!"

"Saat ke rumah sakit waktu pertama kali dengan kalian, aku sengaja tak melakukan apa-apa, aku tidak ingin kembali! Aku ingin bersama kalian, merasakan indahnya persahabatan! Kau tak akan mengerti penderitaanku, Sasukeee!"

"Aku tahu aku salah! Caraku salah! Tapi… aku hanya ingin bersamamu dan teman-teman, apa aku salah?"

"Ya, kau salah." Tangis Sakura berhenti ketika mendengar perkataan Sasuke. Sasuke membalikkan badannya dan melangkah menuju Sakura. Sakura hanya mematung, tak mundur seperti tadi. Sasuke menepuk pundak Sakura dengan kedua tangannya.

"Kau salah. Kau harus yakin pada dirimu sendiri, bahwa kau pasti bisa berhasil mengatasi penyakit ini. Hari ini adalah hari penentuan mati atau tidaknya dirimu, tapi kau harus percaya, kau akan kembali dengan selamat," kata Sasuke seraya tersenyum pada Sakura.

"Sasuke-kun…," gumam Sakura dengan mata berair.

"Tapi… kenapa kau bisa begitu yakin?" tanya Sakura dengan suara lirih, suaranya masih serak akbiat menangis. Sasuke tersenyum lembut dan berkata.

"Karena kau gadisku, aku yakin, aku tak akan salah memilih."

Air mata Sakura kembali turun begitu mendengar perkataan Sasuke. Tubuh Sakura perlahan menghilang mulai dari bawah, seperti debu yang tertiup angin. Ketika tubuhnya sudah menghilang sampai pinggangnya, ia segera merapatkan dirinya pada Sasuke dan mencium pemuda itu. Sasuke membalas ciuman Sakura dan menutup matanya. Setelah beberapa saat, Sasuke tak merasakan apa-apa lagi , ia membuka matanya. Kosong. Ia sendirian di atap. Tak ada Sakura. Sakura telah menghilang. Hilang dari pandangannya. Sesaat sebelum Sakura menghilang, Sasuke dapat mendengar kalimat terakhir Sakura, kalimat yang tidak akan dilupakan Sasuke.

'Arigatou, Sasuke-kun…'

.

.

~~~0~~~

Sudah beberapa jam Sakura dioperasi. Dan sudah beberapa jam pula Sasuke berada di atas atap. Tak ada tanda-tanda orang akan memanggilnya, itu berarti, operasi Sakura belum selesai. Ia menghela nafas, seandainya itu memang kali terakhir ia melihat Sakura, ia hanya pasrah akan keadaan. Sakura benar, ia memang tak bisa apa-apa. Ia tak bisa melawan takdir.

'Sasuke-kun…'

Mata Sasuke yang tadi tertutup sontak terbuka mendengar suara familiar ditelinganya. Sasuke mencari asal suara tersebut, tapi tak ada seorangpun disana.

'Sasuke-kun, kau mendengarku?'

"Sakura? Ada di mana kau sekarang?!"

'Aku tak bisa mendengarmu, tapi aku yakin, kau pasti mendengarku 'kan?'

"Sakura!"

'Aku berbicara denganmu melalui telepati, aku.. aku merasa hangat Sasuke-kun, aku.. mungkin, aku masih hidup.'

"…"

'Segera keruang operasi, aku.. akan menunggumu di sana,'

"Sakura?"

Hening. Tanpa aba-aba, Sasuke segera berlari ke ruang operasi, di sana, sudah terlihat teman-temannya yang menuggu Sakura.

"Teme! Kau dari mana saja?" tanya Naruto ketika melihat sosok sahabatnya.

"Sakura!"

"Tenang Sasuke, ada apa dengan Sakura?" tanya Itachi, semua yang ada disitu sontak menoleh ke arah Sasuke.

"Sakura berhasil menjalani operasi!" ucap Sasuke. Semuanya kaget. Tenten ingin bertanya pada Sasuke, tapi ruang pintu operasi terbuka. Tsunade keluar dari ruang operasi dan tersenyum melihat kedelapan orang itu.

"Sakura berhasil menjalani operasi, selamat! Ia terbebas dari penyakitnya," ucapnya. Tenten, Hinata, dan Ibu Sakura menangis terharu. Sasori, Neji, dan Itachi tersenyum.

"Entah karena apa, jantungnya langsung berdetak normal. Ia akan bangun beberapa jam lagi," kata Tsunade, kemudian ia menoleh ke arah Sasuke.

"Ditengah operasi, Sakura mengigau, entah kenapa ia bisa mengigau, tapi ia memanggil namamu, anak muda," ujarnya menepuk pundak Sasuke. Keenam remaja yang ada di ruang tunggu tersebut tersenyum. Sedangkan ibu Sakura menatap mereka heran.

~~0~~

"Nghh~"

"Sudah sadar?"

Sakura membuka matanya, memperlihatkan mata emeraldnya yang indah, Sakura menatap Sasuke.

"Sa-Sasuke-kun…"

"Hn."

Refleks Sakura memeluk Sasuke. Sasuke balas memeluknya.

"A-aku hidup, aku hidup Sasuke-kun!" pekiknya girang. Sasuke hanya tersenyum tipis melihatnya.

"Konbawa~~"

Neji, Tenten, Naruto, Hinata, Sasori, Itachi, dan ibu Sakura memasuki ruangan dan melihat Sasuke dan Sakura berpelukan. Sakura segera melepas pelukannya dengan wajah memerah.

"Upss.. sepertinya kita mengganggu,"

"Baka otoutoku sudah besar rupanya,"

"Jangan sentuh adikku, bodoh!"

"Temeee! Sakura-chaaann! Kalian bermesraan di rumah sakit!"

"Sa-Sakura-chan, sudah sa..sadar?"

"Apa sebenarnya hubungan mereka?"

"…."

"Diam kalian!" bentak Sasuke dengan wajah memerah. Mereka semakin menggoda Sasuke dan Sakura. Sakura tersenyum senang namun juga malu. Ia senang, akhirnya, dia sehat kembali, mempunyai teman, dan orang yang menyayanginya, ya.. ia senang seperti ini..

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun Sasuke dan Sakura masih terjaga. Teman-teman mereka memutuskan untuk menginap di rumah sakit, mereka sudah tidur di lantai, ibu Sakura juga sudah tidur, Sasori pulang dengan Itachi. Sasuke melangkah menuju Sakura.

"Belum tidur?"

"Ya,"

Sasuke duduk di kursi yang berada di dekat ranjang rumah sakit yang Sakura tempati, meski sudah sehat, tapi Sakura diharuskan bermalam di rumah sakit untuk dirawat.

"Oh ya, setelah keluar dari rumah sakit, kau sekolah di sekolahku,"

"Eh? Ta-tapi.. aku bukan lulusan SMP, aku.. aku hanya bersekolah di sekolah khusus untuk anak-anak yang punya penyakit dan harus tinggal di rumah sakit selama beberapa tahun di rumah sakit ini,"

"Tidak masalah, itu bisa kuatasi." Sakura lupa bahwa Sasuke punya pengaruh besar terhadap sekolah. Pasti permintaan dari Uchiha bungsu itu dikabulkan oleh pihak sekolah.

"Arigatou Sasuke-kun, kau sudah sangat benyak membantuku.."

"Tidak masalah," kata Sasuke enteng. Hening melanda mereka.

"Mmm.. Sa-Sasuke-kun.."

"Hn?"

"Kau.. mendengar suaraku waktu itu?" Meskipun Sakura tak menjelaskan suara apa, Sasuke langsung mengerti, pasti tentang telepati itu.

"Ya, aku mendengarnya." Hening kembali melanda mereka berdua.

"Sasuke-kun.."

"Hn? Apa lagi?"

Cup

Saakura mengecup Sasuke singkat. Membuat Sasuke kaget. Tapi kemudian, pemuda itu tersenyum menyeringai.

"Kenapa tiba-tiba?"

"Tidak, aku mau saja," kata Sakura malu-malu. Sasuke memajukan wajahnya dan kembali mencium Sakura. Sakura membalasnya. Mereka berciuman cukup lama.

"Sasuke-kun…"

"Hn?"

"Apakah… apakah kau masih akan setia padaku?" tanya Sakura dengan raut wajah memerah.

"Maksudmu?" tanya Sasuke heran.

"Maksudku.. aku sekarang bukanlah Sakura yang berepenyakitan lagi, apakah kalian akan masih setia menjadi temanku, meskipun aku sudah sehat?"

"Jadi.. kau menganggap kami semua berteman denganmu hanya karena mengasihanimu?" tanya Sasuke dengan nada tersinggung.

"Bu-bukan itu maksudku, Sasuke-kun.." kata Sakura dengan nada panik.

"Singkirkan pikiran bodoh itu Sakura, kami akan selalu mendampingimu, membimbingmu," kata Sasuke lembut.

"Kau juga, masih akan tetap mencintaiku 'kan?" Sakura bertanya dengan malu-malu. Sasuke meraih tangan Sakura dan mencium punggung tangan Sakura.

"Of course, My Girl…."

.

.

The End

Dan fic ini tamat dengan gajenya, #kabur sebelum dihajar para readers

Oke, oke, aku tahu.. endingnya jelek kannn?! Ancur 'kan!

Hiks, ternya nentuin ending multichap itu susah bangeeettt! Membuat aku frustasi..

Thanks to seseorang yang telah menghiburku… arigatou.. Hakuya Cherry UchihaBlossom*gomen kalo aku salah tulis penname#plaakk..

Aku akan membalas review yang unlogin di chapter 8 :

-Uchiha Reya : Thanks for review Reya-saaannn~! Review lagi chap ini yaaahhh!

-Sslove : Haaaiii.. salam kenaaall.. thanks for review yaahh.. naruto belum bisa lihat.. :') Cuma bisa merasakan keberadaannya dan mendengar suara Sakura.. review lagi yaahh..! thanks juga semangatnya ;)

Oh ya readers, karena ini chapter terakhir, jadi no silent reader yaa..!

Thanks juga buat orang-orang yang udah setia nungguin fic ini mulai dari chapter satu.. aku gak bisa nyebutin namanya satu-satu, gomen :')

Oke dehhh! Buat kamu yang baca fic ini, revieeeewwwwwww yaaaaaaa!

Arigatou,

Hany-chan DHA E3