Let's Get Married, Sensei!
UPDATE! CHAPTER 2 UPDATE! *teriak dari atas Mount Everest pake toa*
Yosh, Shana balik lagi dengan membawakan chapter 2 dari fic Let's Get Married, Sensei! Semoga fic ini dapat menambah akhlak dan amal perbuatan baik bagi semua yang membacanya(?). Baydewey, Shana ga nyangka kalau bakalan ada yang review lho, maklum author newbie. Makasih ya... Dan isi review-nya pun sangat bagus, bisa membuat Shana yang males ini semakin memperbaiki fic-nya(ciah, bahasanya...). Oh ya, dan maaf banget kalau update-nya lelet, soalnya Shana juga lagi bikin fic multichap lain, jadi gantian ama fic ini *curcol mode : on*. Ya udah, Shana mau nutup author note yang panjang dan ga jelas ini, dengan mengucapkan basmalah(?) dan Happy Reading!
Summary : "Hinata-chan, bantuin aku dong. Kerjain tugasnya bareng aku, ya, please~"/"Iya, iya, Naruto-kun..."/ Sepertinya Naruto memulai taktik pendekatannya dengan Hinata. Tetapi kedekatannya dengan Hinata membuat Sasuke kesal. Apa yang terjadi?
Rating : T
Pairing : NaruHina
Genre : Romance
Warning : OOC, typo, abal, gaje, update lelet, salah kata, dll...
Disclaimer : NARUTO pasti akan akan jadi PUNYA saya, walau saya harus merebutnya dari MASASHI KISHIMOTO!
.
(/^_~)/ Let's Get Married, Sensei! \(~_^\)
.
"Tadaima," suara Naruto menggema di rumahnya saat dia membuka pintu. Hinata terus mengekor di belakangnya, wajahnya tampak merona merah karena memasuki rumah seseorang yang belum terlalu dikenalnya. Apalagi, Naruto adalah laki-laki. Selama ini, Hinata tidak pernah memasuki rumah orang yang tidak dikenalnya sendirian. Bahkan ke rumah teman perempuannya saja jarang sekali. Tapi sekarang, dia masuk berdua dengan Naruto, muridnya yang tidak terlalu dikenal Hinata.
Tetapi walaupun sedang malu dan panik, Hinata masih sempat mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Rumah itu dinilainya minimalis. Rumahnya sangat besar, juga rapi dan barang-barangnya ditata sehingga terlihat manis, kelihatan seperti rumah yang ideal. Hinata berdecak kagum memandanginya. "Rumahku bagus, ya?" tanya Naruto sambil berbisik, tepat di hadapan wajah Hinata. Gadis itu tersentak, dan rona merah merambati pipinya lagi. "I-iya," jawab Hinata lirih sambil mengalihkan pandangan. Memandang Naruto hanya akan membuatnya makin malu, begitulah pikirnya.
"Okaeri, Naru-chan," sahut suara seorang wanita yang keluar dari dalam rumah. Wanita itu cantik. Tubuhnya tinggi semampai, dengan rambut merah menyala yang sangat panjang. Senyumnya sangat lembut, membuat Hinata merasa lebih tenang. 'Ini pasti ibunya Naruto-kun. Cantik sekali, pasti dia juga baik,' batin Hinata. Sedangkan wanita itu sedikit terkejut melihat Hinata yang ada di sampin Naruto, membalas tersenyum kepadanya.
"Naru-chan, siapa gadis cantik di sampingmu? Kaa-san belum pernah melihatnya, pacarmu ya?" tanya wanita itu sambil tersenyum jahil untuk menggoda Naruto. Sedangkan Naruto dan Hinata hanya dapat blushing. "K-kaa-san..." sahut Naruto malu. Wanita itu hanya tertawa kecil melihat Naruto dan Hinata. "Watashi wa Kushina Uzumaki desu, yoroshiku ne. Aku ibunya Naruto, panggil saja aku Kushina," tambah Kushina yang masih tertawa.
"W-watashi wa... Hinata Hyuuga desu, y-yoroshiku," kata Hinata sambil memainkan jari jemari lentiknya, kebiasaannya saat sedang malu.
"Ayo masuk, Hinata-chan," Naruto menyahut dengan cepat, takut ibunya menggoda mereka lagi.
Hinata hanya mengangguk dan bergumam, "Sumimasen," lalu melepas sepatunya dan memasuki ruang tamu. Saat Naruto akan mengikuti Hinata, tangannya ditahan oleh Kushina.
"Jarang-jarang seorang gadis datang karena kau ajak, Naru-chan. Apalagi Hinata-chan cantik sekali, kamu suka padanya ya?" tanya Kushina sambil tersenyum jahil, memperhatikan Hinata yang melangkah anggun melewati lorong rumah Naruto yang besar. Maklumlah, Namikaze Ltd., perusahaan milik ayah Naruto, memang sebuah perusahaan yang sangat besar dan maju. Tak heran keluarga Naruto punya rumah yang sangat mewah, secara mereka kan kaya raya.
"Ah, kaa-san. Jangan menggodaku terus, aku bukan pacarnya Hinata-chan. Lagipula, Hinata-chan itu dosenku, pengganti Tsunade-sensei, mana mungkin kami pacaran," elak Naruto.
"Hinata-chan itu dosenmu? Tapi dia terlihat seumuran," kata Kuzhina yang cukup kaget juga mendengar Hinata, yang dinilainya masih sangat muda, sudah menjadi dosen di universitas ternama seperti Konoha University.
"Iya, Hinata-chan memang pintar, makanya jadi dosen di umur semuda itu. Sudah ya, aku mau belajar. Katanya Hinata-chan akan membantuku mengerjakan tugas Kakashi-sensei, hukuman di kelas-ups!" kata Naruto sambil menekap mulutnya, keceplosan mengatakan bahwa dia dihukum Kakashi-sensei karena melamun.
"Hah? Apa katamu, Naruto? Dihukum Kakashi-sensei, lagi?" tanya Kushina dengan nada menyeramkan yang membuat Naruto langsung ciut. Aura dark Kushina mulai keluar, membuat ibunya yang cantik dan baik itu terlihat seperti iblis.
"E-eh, bukan, itu..." perkataan Naruto terpotong oleh jitakan keras ibunya, dan membuat benjolan besar sebesar telur muncul di kepalanya.
"DASAR ANAK NAKAL!" teriak Kushina yang membuat rumah bergetar, yang membuat Hinata menoleh kaget dan bergumam, "Apa ada gempa?". Naruto langsung kabur melihat ibunya yang terlihat akan meledak jika melihat Naruto lebih lama lagi. Naruto muncul di hadapan Hinata dengan nafas ngos-ngosan dan muka ketakutan, membuat Hinata mengerutkan keningnya heran.
"Ada apa, Naruto-kun? Kau terlihat seperti dikejar hantu," tanya Hinata sambil memperhatikan wajah Naruto.
Naruto mencoba mengatur nafasnya sebelum akhirnya menjawab dengan terbata-bata. "Ada iblis... Monster... Kaa-san..." katanya sambil mengelap keringat yang mengalir di pelipisnya.
"Sudahlah, Naruto-kun, tenanglah. Daripada itu, lebih baik kita mulai belajar. Jangan bilang kau lupa tujuan utamaku datang ke sini," kata Hinata sambil mengeluarkan kertas soal hukuman milik Naruto.
"Baiklah. Ayo, kita ke kamarku," kata Naruto sambil menarik tangan Hinata. Sedangkan Hinata langsung blushing saat mendengar kata 'kamarku'. 'Apa itu berarti, aku akan berduaan dengan Naruto-kun... Di kamarnya?' batin Hinata panik.
"Hm? Ada apa, Hinata-chan?" tanya Naruto yang heran melihat Hinata yang memerah. "Kau sakit? Wajahmu merah sekali," kata Naruto lagi sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata, memperhatikan setiap kecantikan yang memancar dari wajah gadis Hyuuga itu. Sedangkan wajah Hinata semakin memerah karena didekati Naruto, malah sudah semerah kepiting rebus.
"N-Naruto-kun, terlalu dekat..." lirih Hinata sambil memainkan jarinya dengan cepat. Dia memundurkan diri selangkah untuk menjauh dari Naruto. 'Perasaan apa yang kerasakan ini? Aku tidak mengerti,' batin Hinata. Dia sebenarnya merasa aneh jika berada dekat Naruto. Jantungnya selalu berdegup kencang, dan wajahnya menjadi merah dan panas. Hinata tidak mengerti, apa yang terjadi padanya?
"E-eh, gomen, Hinata-chan. Sudahlah, ayo masuk," ajak Naruto sambil menarik tangan Hinata. Cengiran masih menghiasi wajahnya.
"Ehm... Sumimasen," gumam Hinata sambil mengedarkan pandangan. Sekali lagi, Hinata dibuat terkagum-kagum oleh kemewahan dan kemegahan kamar Naruto. Kamarnya sangat besar dengan tempat tidur ukuran king size mendominasi pemandangan. Meja belajar besar ada di pojok, dengan tumpukan buku pelajaran yang terlihat seperti-hampir-tidak pernah dibuka. Interior ruangan itu pun bagus, terlihat modern tapi simpel, cocok dengan pribadi Naruto.
Tapi yang membuat Hinata sweatdrop melihat kamar Naruto adalah buku-buku komiknya yang bertebaran di lantai, di meja, di kasur, pokoknya di mana saja. Seprai kasurnya pun berantakan, bantal dan gulingnya tergeletak tak beraturan di lantai. "Naruto-kun, kamarmu... Sesuai sekali dengan kepribadianmu, ya," kata Hinata sambil sedikit menggaruk lehernya, salah tingkah.
Naruto jadi malu sendiri menyadarinya, dan dia langsung beralasan untuk menutupinya. "E-eh, umm... Aku tadi bangun kesiangan, jadi... Yah, kau tahu, kau benar. Aku akan membereskannya," kata Naruto sambil mulai membereskan buku-bukunya. Hinata tertawa geli melihat Naruto yang kelabakan merapikan kamarnya yang seperti kapal pecah. Hinata akhirnya meletakkan tasnya di kasur Naruto dan turun tangan membantu Naruto membereskan kamarnya.
"Naruto-kun, biar kubantu," tawar Hinata sambil duduk di samping Naruto dan ikut memunguti buku-bukunya. Naruto menoleh tak percaya ke arah Hinata dan menatapnya seperti Hinata adalah malaikat.
"B-benarkah? Arigatou, Hinata-chan~" kata Naruto sambil memegang tangan Hinata, dan sukses membuat wajah Hinata memerah lagi.
"N-Naruto-kun, lebih baik kita bereskan secepatnya dan segera belajar," kata Hinata sambil memalingkan wajahnya. Dia memejamkan mata malu, dan menurunkan tangannya. Ditatapnya Naruto dengan tatapan "Ayo kerja!"
Setelah semuanya rapi dan kamar Naruto bisa disebut layak untuk digunakan sebagai tempat belajar. Naruto mengambil meja lipat yang cukup besar dari lemarinya dan meletakkannya di antara dirinya dan Hinata. Hinata duduk dengan manis dan meletakkan kertas soal milik Naruto. Tanpa perintah lagi, Naruto langsung duduk dan menyiapkan peralatan untuk mengerjakan tugas hukuman Kakashi-sensei yang menyebalkan.
"Baiklah, konsolidasi usaha... Ini cukup mudah, kebetulan aku juga sudah membuat makalah tentang ini. Jadi, konsolidasi usaha itu..." Hinata menjelaskan panjang lebar tentang soal konsolidasi usaha itu. Naruto langsung mencatat dengan cepat, mendengarkan setiap kata yang dilontarkan Hinata. Jujur saja, Naruto tidak pernah belajar seserius ini sebelumnya. Hinata tampaknya mengubah Naruto sedikit demi sedikit.
"Salah, Naruto-kun. Harusnya begini..." kata Hinata sambil membetulkan tulisan Naruto. Naruto langsung menghapusnya dan menulis kata yang benar. Hinata tersenyum manis dan melanjutkan penjelasannya. Naruto juga melanjutkan mendengarkan dan mencatat perkataan Hinata. Sesekali, Hinata menguji Naruto dengan beberapa pertanyaan, dan jika Naruto menjawab dengan benar, Hinata akan tersenyum dan memuji Naruto.
'Sepertinya Naruto mulai rajin belajar. Hinata benar-benar telah mengubah anak itu, ya,' batin Kushina yang ternyata sejak tadi memperhatikan mereka. Dibukanya pintu kamar Naruto dan menghentikan pekerjaan Naruto dan Hinata.
"Kaa-san, ada apa?" tanya Naruto yang heran melihat ibunya sudah berpakaian rapi, seperti akan pergi ke luar rumah.
"Kaa-san ada acara arisan dengan Mikoto dan yang lain. Kalian berdua jaga rumah, ya," kata Kushina. Mikoto yang dimaksud adalah Mikoto Uchiha, ibunya Sasuke. Ibu Naruto memang bersahabat dengan ibu teman-teman Naruto, dan mereka rutin mengadakan arisan setiap sebulan sekali.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama, ya," balas Naruto sambil bangkit dan mengantar ibunya sampai pintu. Hinata mengikutinya di belakang.
"Iya, tenang saja. Kaa-san pergi dulu ya, kalian berdua jangan melakukan yang aneh-aneh ya," goda Kushina yang langsung masuk mobil dan menyalakannya, membiarkan wajah Naruto dan Hinata memerah, lagi.
"K-kaa-san, apa maksudnya tadi?" seru Naruto pada mobil ibunya yang perlahan menjauh. Ibunya memang sangat suka menggodanya, apalagi jika dia bersama teman perempuannya. Hinata juga merona, seperti biasa. Tapi apa maksud godaan ibu Naruto tadi? Dia kan tidak ada hubungan apa-apa dengan Naruto.
"Baiklah, Hinata-chan, kita masuk lagi. Tugasnya belum selesai," kata Naruto sambil menawarkan tangannya pada Hinata. Hinata menyambutnya dengan senyuman manisnya yang meluluhkan hati. Lalu mereka berdua menuju kamar Naruto lagi untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertinggal.
"Jadi, itu kesimpulannya. Sudah selesai, kan?" tanya Hinata sambil meluruskan tubuhnya yang pegal setelah duduk diam cukup lama. Naruto juga ikut meluruskan tubuh sambil melempar diri ke kasur. Cengiran menghiasi wajahnya. "Yatta! Akhirnya selesai juga!" serunya. Hinata hanya tersenyum kecil melihat tingkah Naruto yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Ah, benar juga!" kata Hinata sambil menepuk tangannya. Sepertinya dia teringat tentang sesuatu yang penting.
"Ada apa, Hinata-chan?" tanya Naruto sambil duduk di kasur, memperhatikan Hinata dengan kening berkerut heran.
"Naruto-kun, kau sudah mengerjakan tugasku belum?" tanya Hinata sambil menatap Naruto. Dan seperti yang sudah diduganya, Naruto menepuk dahinya sambil berkata, "Ya ampun, aku lupa! Bantu aku lagi, dong, Hinata-chan~" pinta Naruto dengan memasang puppy eyes terbaiknya.
"Dasar, makanya rajin belajar! Lagipula tugasnya tidak terlalu sulit, tapi ya sudahlah, sini aku bantu," kata Hinata sambil menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Naruto. Sekarang, Naruto tersenyum lebar bagaikan anak kecil yang baru diberi permen oleh orang tuanya. Walaupun begitu, Hinata sangat menyukai senyuman Naruto yang menurutnya menyenangkan itu.
"Naruto-kun lucu, ya. Belajar jadi menyenangkan kalau bersama Naruto-kun," kata Hinata sambil tersenyum. Naruto yang mendengarnya hanya blushing. Hinata jadi mengerti perasaan Kushina yang sangat ingin menggoda Naruto saat wajahnya merona. Sifat jahil Hinata muncul.
"Kenapa Naruto-kun malu-malu? Jadi, menyenangkan tidak belajar bersamaku?" goda Hinata sambil tersenyum dan tertawa geli melihat Naruto yang makin blushing.
"Iya, memang menyenangkan," lirih Naruto sambil menatap lantai. Wajahnya terlalu merah untuk dihadapkan dengan wajah cantik Hinata. Saat mereka sedang asyik bercanda, tiba-tiba...
PRUUT~ Suara itu terdengar, dan membuat Hinata tertawa geli lagi, dan Naruto merona merah. "Jadi Naruto-kun lapar?" tanya Hinata.
"Iya. Tunggu ya, aku akan buat ramen saja," kata Naruto sambil berjalan menuju dapurnya. Naruto tidak bisa memasak, dan selama ini yang masak hanya Kushina. Jadi, Naruto hanya makan ramen instan. Tapi parahnya, saat dia mengecek persediaan ramen instan, ternyata itu sudah habis. Naruto yang tidak mengerti, hanya mencoba memasak sebisanya. Tapi saat akan akan mengambil panci, panci itu jatuh dengan bunyi berkelontangan.
PRANG! Suara panci yang jatuh langsung mengagetkan Hinata dan membuatnya berlari cepat menuju dapur. Di sana dilihatnya Naruto sedang terduduk dengan panci di sebelahnya. "Naruto-kun, tidak apa-apa?" tanya Hinata khawatir. Jelas saja, kalau tuan rumahnya kenapa-napa, Hinata pasti ikutan panik, kan?
"Ah, maaf, tadinya mau buat ramen, tapi ramen instannya habis. Jadi aku mau masak sesuatu, tapi saat aku mau mengambil panci, pancinya jatuh," jelas Naruto sambil berusaha bangun lagi dan membersihkan sedikit debu dari bajunya.
Hinata terdiam sejenak melihatnya, kemudian tersenyum. Dia mengikat rambutnya menjadi ponytail dengan kunciran yang dibawanya, dan berkata sambil mengambil peralatan masak di dapur itu, "Biar kubantu, ya."
Naruto kaget melihat Hinata yang mengambil alih masakannya. Ternyata, selain Hinata baik, cantik, manis dan pintar, dia juga pintar memasak. Itu terbukti dari kelihaiannya memotong-motong sayuran dengan cepat, tanpa terluka sedikit pun. Senyum yang menghiasi wajah Hinata saat memasak pun menjadi daya tarik tersendiri bagi Naruto.
"Hinata-chan pintar masak, ya," komentar Naruto melihat Hinata yang begitu cekatan mengupas dan memotong sayuran, mencucinya lalu mengumpulkannya dalam satu wadah. Hinata hanya tersenyum mendengarnya.
"Keluargaku mengaggapku sebagai ibu, karena kaa-san sudah tiada. Jadi tentu saja aku harus pintar memasak," jawab Hinata sambil terus melanjutkan pekerjaannya. Naruto tertegun mendengar perkataan Hinata. Gadis manis di hadapannya ini sungguh tegar, walaupun dia bergetar saat membicarakan ibunya yang telah meninggal, Hinata tidak menangis.
"Mau buat ramen, kan? Apa ini juga dimasukkan?" tanya Naruto untuk megalihkan perhatian dari suasana suram yang tiba-tiba menyelimuti mereka. Ditunjuknya bahan-bahan aneh yang mencurigakan bagi Hinata. Naruto mengangkat sesuatu yang seperti kubis yang direbus terlalu lama itu, dan hendak dimasukannya ke dalam campuran sayuran hasil potongan Hinata. Hinata yang kaget langsung menghindar.
"Ja... Jangan. Aduh, Naruto-kun tunggu di sana saja, deh," kata Hinata sambil mendorong Naruto pelan menuju ruang makan.
"Eeh? Tapi aku mau membantu," tolak Naruto sambil menoleh ke arah Hinata.
"Tenang saja, akan kubuatkan ramen enak untuk Naruto-kun. Serahkan saja padaku!" kata Hinata sambil tersenyum dan berlari pelan lagi menuju dapur untuk melanjutkan memasak ramennya. Dengan cekatan, Hinata mengambil mie ramen dan direbusnya bersama sayurannya. Bumbu-bumbu juga ditambahkan untuk menambah kelezatan ramen spesialnya. Setelah cukup lama, Hinata mengangkat ramennya dan mengecek apakah sudah matang. Dia tersenyum puas dan mulai menatanya dalam panci besar.
Naruto yang sedang menanti dengan sabar di ruang makan, tiba-tiba mencium wangi masakan ramen Hinata yang membuat air liurnya menetes. Kelihatannya Naruto sudah tidak sabar lagi untuk memakan ramen buatan Hinata, yang pastinya akan jauh lebih enak dari ramen buatannya. Matanya melebar senang melihat Hinata muncul membawa sepanci penuh ramen lezat, dan meletakkannya di meja makan. Saat Naruto akan menyentuhnya, Hinata menepuk lembut tangan Naruto, dan memperingatinya.
"Ayo, bantu aku dulu, baru makan," kata Hinata sambil berjalan menuju dapur lagi untuk mengambil piring dan alat makan lain, lalu menatanya sedemikian rupa dengan dibantu Naruto. "Jangan lupa cuci tangan," kata Hinata sambil menarik Naruto menuju wastafel dekat kamar mandi dan mulai mencuci tangan dengan bersih dan teliti.
Setelah dikiranya cukup, mereka kembali ke meja makan. Asap mengepul dari atas ramen yang masih panas itu. Keharumannya nyaris membuat air liur Naruto menetes. Mereka berdua duduk berseberangan, dan Hinata mengambilkan Naruto seporsi ramen spesialnya. Hinata juga mengambil seporsi, dan mereka berkata, "Itadakimasu!"
Naruto menyuap ramennya dan matanya langsung berbinar. Diambilnya lagi dengan cepat, seperti dia sudah tidak makan berhari-hari. Berbeda dengan Hinata yang makan dengan pelan-pelan, anggun, walaupun dia tertawa kecil melihat Naruto makan. "Whoa, kau pintar memasak, ya, Hinata-chan. Ramen buatanmu enak sekali," komentar Naruto.
Hinata tersenyum manis mendengar pujian Naruto. "Terima kasih, ini memang resep ramen spesialku. Aku yang membuatnya, dan sepertinya Naruto-kun sangat menikmatinya," balas Hinata. Melihat cengiran Naruto yang seakan mengisyaratkan, "Aku mau lagi," dan Hinata mengambilkan seporsi ramen lagi. Mata Naruto kian berbinar malihatnya.
"Apa ini cukup?" tanya Hinata sambil menunjukkan seporsi ramen yang berkilau di mangkok.
"Hai, arigatou, Hinata-chan," jawab Naruto sambil menyumpit ramennya dan memakannya dengan lahap. Hinata yang sudah selesai makan, menangkupkan kedua tangannya dan membiarkan dagunya bersandar di atas tangannya, lalu memperhatikan Naruto. Hinata sepertinya baru pertama kali ini melihat laki-laki yang seperti Naruto. Selama ini, laki-laki yang ada di sekelilingnya sangat kaku dan formal.
"Gochisou samadeshita," kata Naruto sambil meletakkan sumpitnya dan mengelus perutnya yang sudah kenyang.
"Baiklah, sudah kenyang? Aku beres-beres dulu ya," kata Hinata sambil mengambil mangkok-mangkok kotor beserta pancinya ke dapur. Naruto mengikutinya dan terhera-heran melihat Hinata menuju rak cucian dan mulai mencuci mangkok.
"Apa yang kau lakukan, Hinata-chan? Letakkan saja mangkoknya, nanti kaa-san akan membersihkannya," kata Naruto sambil terus memperhatikan Hinata.
Hinata menghela nafas sejenak mendengar perkataan Naruto. "Naruto-kun, kalau kita bisa lakukan sekarang, kenapa harus nanti, betul kan? Karena ada waktu luang, lebih baik dibersihkan sekarang. Lagipula, Kushina-san pasti capek setelah pulang. Aku... Tidak mau ini terjadi seperti kaa-san," jelas Hinata, mendadak menjadi muram mengingat ibunya.
Naruto merasa bersalah karena menyinggung masalah pribadi Hinata. Walaupun begitu, tampaknya Naruto penasaran apa yang terjadi dengan ibu Hinata. "G-gomen, Hinata-chan. Aku tidak bermaksud..." perkataan Naruto terpotong oleh sentuhan jari telunjuk Hinata di bibir Naruto.
"Ssttt... Ini bukan salahmu, Naruto-kun. Ini semua, karena aku... Ini dimulai 4 tahun lalu..." lirih Hinata dengan mata sendu.
-FLASHBACK-
"Hoahm... Ohayou!" seru Hinata yang baru bangun tidur, dan senyum mengembang di wajah cantiknya. Dengan segera, Hinata mandi an berganti baju. Ini masih pagi, dan seperti biasa, dia langsung memasak sarapan untuk keluaarganya.
"Yosh, sudah jadi," gumam Hinata sambil tersenyum, menata masakannya di piring. Saat itu, matanya menangkap gerakan dari kamar orang tuanya. Ternyata ibunya juga sudah bangun, dan dia tersenyum pada Hinata. Hinata balas tersenyum dengan manisnya.
"Kaa-san sudah bangun? Ayo makan dulu," ajak Hinata sambil membimbing ibunya ke ruang makan. Maklumlah, ibunya Hinata memang sakit-sakitan. Ibunya menurut saja, karena dia sebenarnya merasa bersalah, telah merepotkan keluarganya. Terutama gadis manis di hadapannya, putri sulungnya itu. Dia memang mewariskan kecantikan dan kebaikan hatinya pada Hinata, mereka mirip sekali.
"Uhuk..." batuknya. Hinata khawatir melihat kondisi ibunya yang terlihat kian memburuk setiap harinya.
"Kaa-san, minum dulu," tawar Hinata. Dia menyodorkan segelas air putih ke ibunya yang sudah duduk di meja makan, masih terbatuk-batuk. Ibunya menerima gelas itu dan meminumnya sedikit. Hinata terus memperhatikan ibunya sambil menghela nafas lega. Hinata memang sangat perhatian pada ibunya, sejak ibunya sakit kanker paru-paru.
"Wah, kalian bangun pagi sekali. Hinata-chan pasti sudah masak, ya," suara seorang pria yang terdengar berwibawa, menarik perhatian Hinata dan ibunya. Ternyata itu adalah ayah Hinata, Hiashi Hyuuga. Dengan mengenakan kimono coklatnya yang senada dengan rambut panjangnya, dia tersenyum pada kedua wanita cantik di hadapannya. Mereka pun balas tersenyum padanya.
"Ohayou, tou-san," sambut Hinata dengan senyum manisnya. Hiashi sangat bahagia melihat senyum putrinya itu. Putri yang dilahirkan istrinya 18 tahun lalu, kini menjadi gadis manis yang dewasa dan mandiri. Dia ikut duduk di meja makan bersama istri dan anaknya. Hinata dengan segera menyiapkan sarapan untuk ayahnya.
"Ini sarapannya. Makan yang banyak, ya, tou-san. Nanti tou-san pulang malam, kan?" tanya Hinata sambil memperhatikan ayahnya yang menyuap sarapannya sesendok demi sesendok.
"Enak sekali, seperti biasa. Hinata-chan memang pintar masak," komentar Hiashi, yang makan sarapannya dengan lahap.
"Untuk kaa-san mana, Hinata-chan?" tanya ibunya lembut. Hinata tersadar dan meyiapkan untuk ibunya juga. Saat itu, dua orang turun dari tangga. Satunya adalah seorang laki-laki seumuran Hinata berambut coklat panjang seperti Hiashi, dan seorang gadis kecil yang juga berambut coklat. Keduanya langsung duduk di meja makan.
Laki-laki berambut panjang itu adalah Neji Hyuuga, sepupu Hinata. Keluarganya sudah tidak ada, jadi dia diasuh oleh keluarga Hinata. Ayah dari Neji adalah kakaknya Hiashi, ayah Hinata. Sedangkan gadis kecil itu adalah adik kandung Hinata, namanya Hanabi Hyuuga. Dia berumur 12 tahun, dan baru SD kelas 6 di Konoha Gakuen. Sedangkan Hinata dan Neji, 18 tahun, adalah murid kelas 12 SMA di Konoha Senior High School.
"Neji-nii, Hanabi-chan, ini sarapannya. Dihabiskan ya," kata Hinata sembari meletakkan piring di hadapan keduanya. Neji dan Hanabi langsung menyantap sarapan mereka. Kelezatan masakan Hinata memang tak tertandingi, seluruh keluarga Hyuuga mengakuinya. Hinata juga duduk dan menikmati sarapannya.
"Kaa-san, hari ini ada check-up lagi, kan?" tanya Hinata. Ibunya mengangguk dan menatap Hiashi, suaminya yang sangat disayanginya. Hiashi menanggapi tatapan istrinya dan berkata, "Iya, biar nanti tou-san saja yang mengantarnya."
"Sebenarnya sih, Hinata tidak sekolah hari ini. Guru-guru ada rapat, jadi sekolah diliburkan. Iya, kan, Neji-nii? Mungkin Hinata bisa mengantar kaa-san," jelas Hinata. Neji yang mendengar pertanyaan Hinata hanya mengangguk pelan.
"Tapi aku ada kegiatan ekskul, jadi sepertinya tidak bisa ikut mengantar. Maaf ya, paman, bibi," jelas Neji sambil mengingat jadwalnya hari ini.
"Tidak apa-apa, kok. Tapi, apa Hinata-chan yakin?" tanya Hiashi lagi sambil menatap Hinata. Hinata mengangguk dan tersenyum. "Iya, tidak apa-apa. Tou-san kerja saja," kata Hinata, mencoba meyakinkan ayahnya. "Baiklah kalau Hinata-chan tidak keberatan," balas ayahnya dan meminum tehnya.
-SKIP TIME-
"Dah tou-san, Neji-nii, Hanabi-chan," seru Hinata sambil tersenyum dan melambai pada mobil ayahnya yang menjauh, membawa penumpangnya ke tujuannya masing-masing. Hinata langsung menutup pintu luar dan masuk ke kamarnya. Kamarnya sangat indah, luas tapi sederhana dengan aroma lavender memenuhi ruangan. Hinata berganti baju dengan cepat dan menuju ruang keluarga dimana ibunya sudah menunggu.
"Maaf lama menunggu, kaa-san. Ayo!" ajak Hinata sambil membantu ibunya berdiri. Mereka pergi dengan mobil, karena Hinata sudah mendapat izin untuk mengemudi. Walaupun ini baru awal-awal Hinata mengemudi, jadi dia agak gugup. Ibunya duduk di sampingnya untuk menenangkannya. Dan tiba-tiba saja, hujan turun. Hinata makin gugup dan khawatir.
"Hati-hati ya, Hinata-chan. Jalanannya licin," ibunya memperingatkan Hinata. Hinata hanya mengangguk, berusaha menenangkan diri. Dikendarainya mobil itu dengan perlahan, takut jika akan mengenai sesuatu. Tangannya masih sedikit gemetar dalam memegang setir, tetapi tubuhnya mulai rileks.
"Hinata, kau baik-baik saja, kan? Jangan khawatir, kau mengemudi dengan baik," perkataan ibunya menenangkan Hinata. Tetapi, saat Hinata mulai menguasai kendaraannya, dari arah depan muncul sebuah truk. Jalannya ugal-ugalan, sepertinya pengemudinya mabuk. Hinata yang panik, langsung banting setir, dan...
BRAK! Mobil yang dikendarai Hinata dan ibunya terpeleset jalanan yang licin lalu menabrak pembatas jalan dan terpelanting, terbalik beberapa kali, sebelum akhirnya berhenti. Kondisinya sungguh sangat mengerikan. Mobil itu hancur, kacanya pecah dan tersebar di mana-mana. Tapi yang paling mengerikan adalah darahnya. Darah mengalir di jalan yang basah oleh air hujan. Darah itu menyebar cepat di aspal, mengalir terbawa air.
Orang-orang mulai berkerumun. Jeritan terdengar di udara, meramaikan pagi yang damai. Pagi ini mengubah keluarga Hyuuga menjadi penuh tragedi. "Panggil ambulans!" teriak salah seorang di antara mereka. Yang lainnya langsung tergesa-gesa menelepon rumah sakit. Ada juga yang menolong mengeluarkan orang dari dalam mobil.
Dalam 5 menit, ambulans datang. "Minggir, ambulans datang!" perintah salah satu petugas kesehatan yang datang dari ambulans. Hinata dan ibunya yang berhasil dikeluarkan dari dalam mobil, langsung dibawa masuk ambulans. Tampaknya keduanya tak sadarkan diri. Hinata tampak berdarah-darah, kepalanya terus mengucurkan darah segar. Kondisi ibunya pun tampak sama buruknya dengan kondisi Hinata.
Sedangkan di tempat lain, Hiashi merasakan firasat buruk. 'Perasaanku sangat tidak enak, apa terjadi sesuatu pada Hinata?' batinnya khawatir. Lalu, handphone-nya berdering. Diangkatnya dengan tangan yang bergetar. Rasanya perasaannya sedang suram.
"Halo, siapa ini?" tanya Hiashi. "Apakah ini tuan Hiashi Hyuuga?" tanya suara di seberang yang tidak dikenal Hiashi. "Ya, benar. Ada apa, ya?" tanya Hiashi lagi, perasaannya makin tidak enak. "Ini dari kepolisian. Pihak rumah sakit Konoha Hospital melaporkan bahwa..." polisi itu menggantungkan perkataannya, membuat Hiashi panik.
Polisi itu menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya. "... Istri dan putri anda mengalami kecelakaan. Sekarang mereka dirawat di Konoha Hospital," jelasnya. Hiashi nyaris menjatuhkan handphone miliknya, shock dan tidak percaya mendengarnya.
"D-dimana mereka dirawat?" tanya Hiashi dengan suara bergetar. Keringat mengalir dari pelipisnya, menandakan bahwa kepala keluarga Hyuuga yang tegas dan kuat itu dilanda ketakutan.
"Di Konoha Hospital, ruangan khusus Dangerous Accident-101. Selamat siang, maaf telah mengganggu," jelas polisi itu sambil menutup saluran teleponnya. Menyisakan hanya kepedihan di hati Hiashi. Dengan tergesa-gesa, diambilnya kunci mobil dan langsung berlari menuju mobilnya. Orang-orang yang melihatnya hanya saling pandang heran.
"Hinata!" suara Hiashi menggema di ruangan yang sepi itu. Beberapa pasang mata langsung menoleh melihatnya. Neji dan Hanabi sudah ada di sana. Air mata masih mengaliri wajah Hanabi. Di sampingnya, terdapat sosok wanita terbalut kain putih. Mata lavender Hiashi melebar melihat wanita itu. Istrinya, yang sangat dicintainya, kini terbaring tak bergerak dengan mata tertutup di tempat tidur. Bekas darah masih terlihat di bibirnya yang membiru.
Hiashi mendekati tubuh istrinya yang sudah tak bernyawa itu. Ditatapnya wajah-wajah sendu di sekelilingnya. Dokter dan perawat yang ada di sana menunduk dalam, menunjukkan kesedihannya. Neji memasang ekspresi yang sulit dijelaskan, seperti menahan tangis. Hanabi, putri bungsunya yang biasanya tegar, kini menangis kencang. Dipeluknya Neji sebagai penenang.
Hiashi memalingkan wajahnya, tidak kuat memandang keluarganya terlarut dalam kesedihan ini. "Hinata? Mana Hinata? Aku mau bertemu dengannya!" pinta Hiashi dengan suara serak. Diam-diam, air matanya jatuh, mengalir pelan tetapi langsung dihapusnya. Dia harus tegar. Tidak mudah menangis adalah ajaran Hyuuga.
"H-Hinata-chan... Di ruang sebelah..." jawab Neji dengan suara yang tak kalah serak dengan Hiashi. Kedua tangannya dikepalkan erat-erat. Wajahnya tampak seperti menyembunyikan sesuatu yang menyakitkan. Hanabi juga terisak makin keras setelah mendengar nama kakaknya disebut.
Hiashi langsung bergegas melangkah menuju ruangan sebelah. Dia menyalahkan dirinya, kenapa ini harus terjadi? Kalau saja Hinata tidak pergi, kalau saja dia yang mengantar istrinya, semua ini takkan terjadi. Pikiran-pikiran itu berkecamuk dalam hati Hiashi. Kenapa di saat keluarganya sedang dalam puncak kebahagiaan, Kami-sama memutuskan untuk menurunkan ujian? Kenapa harus istrinya dan Hinata yang menanggungnya?
"Hinata!" seru Hiashi sambil mendobrak keras pintu ruangan tempat Hinata dirawat. Disaksikannya, putrinya yang cantik dan manis itu terbaring diam dengan berbagai jenis selang dihubungkan ke tubuh mungilnya. Sebuah elektrokardiograf kecil ditaruh di meja di samping kasur Hinata, mengukur detak jantung sang putri yang tampak bagai tertidur.
"Maaf, putri anda... Mengalami koma," kata dokternya memberitahu Hiashi dengan wajah sangat menyesal. Neji dan Hanabi mengikuti Hiashi. Hanabi sudah tidak tahan lagi. "Nee-chan! Bangun, Hinata nee-chan!" serunya keras sambil terisak. Gadis kecil itu berlari menuju tempat tidur tempat kakaknya yang kini terbaring. Disentuhnya tangan dingin kakaknya dengan lembut. Hanabi tampak belum mau menghentikan tangisannya.
"Hanabi-chan, biarkan Hinata-chan beristirahat dulu, ya," kata Neji menenangkan Hanabi, walaupun akhirnya dia juga meneteskan air mata. Hanabi memeluknya, mencoba melepaskan kesedihannya, dan Neji balas memeluknya. Hiashi menatap sendu Hinata, dielusnya pipi Hinata dengan lembut. Tangannya menggenggam tangan mungil Hinata den berkata, "Bangunlah, Hinata-chan. Tou-san membutuhkanmu, semuanya membutuhkanmu. Jangan menyerah untuk hidup, Hinata-chan," pinta Hiashi dengan nada memohon yang mengiris hati. Air mata masih setia menghiasi wajahnya.
Tes... Air mata mengalir di pipi halus Hinata. Tampaknya perkataan Hiashi berhasil membuat Hinata meneteskan air matanya. Walaupun gadis itu tidak sadar, tetapi tampaknya dia menyadari kesedihan keluarganya. Hiashi seakan mengerti maksud tangisan Hinata, dan berbisik pelan di telinga gadis itu. "Jangan menangis ya, Hinata-chan. Ini bukan salah Hinata-chan," bisiknya, lalu dia mengecup kening Hinata dan membiarkannya beristirahat sejenak.
-FLASHBACK END-
"Aku sadar sebulan kemudian. Lukaku cukup parah dan aku harus dirawat selama 3 bulan. Untungnya, aku sembuh dengan sempurna hingga sekarang," Hinata mengakhiri ceritanya dengan lirih. Mata lavendernya menatap mata shappire Naruto dengan sendu. Tanpa sadar, air mata mengaliri pipinya. Hinata menutupi wajahnya dengan tangannya, terisak pelan.
Naruto sangat tersentuh mendengar kisah Hinata. Melihat Hinata menangis, membuat hatinya terasa perih. Hinata terlihat sangat rapuh baginya saat ini. Dia menyentuh tangan Hinata pelan dan menggenggamnya erat. Hinata membuka matanya dan menatap Naruto. Naruto tersenyum lembut pada Hinata, menenangkannya. Dan yang selanjutnya terjadi, sungguh tidak pernah disangka-sangka oleh Naruto.
Hinata memeluk Naruto dengan lembut. Tangan mungilnya menggenggam erat kaus yang dipakai Naruto. Naruto tidak tahu harus bagaimana, tetapi akhirnya dia membalas pelukan Hinata. Naruto mengelus pelan rambut indigo Hinata yang sehalus sutra. Keduanya terdiam sesaat, dan saat keduanya berpandangan, shappire bertemu indigo, hati mereka luluh. Naruto menghapus air mata Hinata dan tersenyum lebar.
"Jangan menangis, Hinata-chan. Semua itu bukan salahmu. Tenanglah. Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu menangis," kata Naruto, yang membuat Hinata tertegun sejenak. Hinata tidak pernah menyangka, seseorang yang tidak dikenalnya dengan baik, mampu mengatakan hal sedalam itu. Hinata tersenyum dan berbisik di telinga Naruto, "Arigatou, Naruto-kun."
"Ah, kita harus mengerjakan tugas! Ayo kembali lagi ke kamar," kata Hinata sambil menepuk tangannya. Naruto juga baru teringat akan hal itu, dan mengikuti Hinata yang sudah terlebih dahulu berjalan cepat menuju kamar Naruto.
"Chotto matte, Hinata-chan," Naruto menarik tangan Hinata untuk menghentikan gadis itu. Hinata menoleh dan menatapnya dengan tatapan "Ayo belajar, jangan main saja!" yang membuat Naruto langsung menurutinya. "Aku tahu aku harus mengerjakan tugas, tapi jangan jalan terlalu cepat," keluh Naruto sambil duduk di kasurnya sejenak. Hinata hanya tersenyum mendengarnya, dan melanjutkan membuka-buka buku untuk mencari materi bahan tugasnya.
"Ayo, cepat kerjakan tugasnya, kita tidak punya waktu selamanya," kata Hinata, menatap Naruto lembut tetapi cukup untuk membuatnya turun dan mulai mengerjakan tugasnya.
"Baiklah, ini untuk nomer 2, dan yang nomer 3 sudah kujelaskan tadi pagi. Jadi tidak ada alasan tidak bisa atau tidak mengerti, ya," jelas Hinata dengan nada menceramahi Naruto. Naruto hanya mengangguk dan menulis jawaban-jawaban soalnya. Hebatnya, Naruto tampak cukup lancar mengerjakannya, padahal biasanya dia selalu pusing tujuh keliling mengerjakan tugas.
"Yatta! Akhirnya selesai juga! Bagaimana, Hinata-chan?" tanya Naruto sambil menyerahkan hasil pekerjaannya untuk dinilai Hinata. Hinata mengambil buku tulis Naruto dan membacanya cepat. Senyum terkembang di wajah Hinata saat dia membaca satu demi satu jawaban Naruto. Saat mencapai nomer 10, nomer terakhir, Hinata menurunkan buku Naruto dan tersenyum manis.
"Ya, betul semua! Selamat ya, Naruto-kun pintar deh," puji Hinata yang membuat wajah Naruto merona malu, tapi senang. Naruto mengusap hidungnya bangga dan cengiran lebar menghiasi wajah cerianya lagi. "He~ Arigatou, Hinata-chan, ini karena kau membantuku," kata Naruto.
Hinata tersenyum manis lagi, dan membereskan buku-bukunya. Naruto memperhatikan keanggunan Hinata dalam membereskan buku. Jari jemarinya yang lentik sangat menyita perhatian Naruto. Sungguh, Hinata adalah tipikal gadis yang akan disukai para laki-laki. Sepertinya, tanpa Naruto sadari pun, dia juga telah jatuh cinta pada dosennya itu.
"Tadaima!" seru Kushina yang sudah pulang dari acara arisannya. Kemudian terdengar suara lain yang tidak dikenal Hinata. "Tadaima," suara laki-laki itu terdengar lembut tapi tegas, mirip dengan suara Naruto. Naruto langsung bangkit dan berjalan ke ruang depan, menyambut orang tuanya. Hinata hanya mengikuti di belakangnya.
"Okaeri, kaa-san, tou-san," jawab Naruto. Hinata yang ada di belakang Naruto, tanpa sadar menggenggam lengan Naruto dengan erat. Sedangkan laki-laki yang ada di hadapannya terlihat cukup terkejut melihatnya. Laki-laki itu tampak seumuran dengan Kushina, dengan rambut kuning seperti Naruto, dan wajah yang sangat mirip Naruto. Hinata dapat menyimpulkan bahwa dia adalah ayah Naruto.
"Naruto, siapa gadis manis di belakangmu?" tanyanya, tersenyum ke arah Hinata. Bahkan senyumnya pun mirip Naruto. Hinata balas tersenyum.
"Ah, iya, aku lupa menceritakannya padamu. Naru-chan membawa gadis ini untuk belajar. Walaupun seumuran, dia dosennya Naru-chan," jelas Kushina.
"Oh, begitu. Ah, watashi wa Minato Namikaze desu. Douzo yoroshiku. Dan kau pasti sudah menebak, aku adalah ayahnya Naruto, " kata Minato memperkenalkan diri dengan membungkuk sopan.
"Hai', watashi wa Hinata Hyuuga desu. Douzo yoroshiku," balas Hinata dengan membungkuk juga.
"Hmm... Kau muda sekali, tapi sudah menjadi dosen. Pasti Hinata-chan pintar sekali, ya," komentar Minato, yang disambut jitakan keras Kushina.
"Baka! Jangan sembarangan mengomentari orang!" seru Kushina, dan Minato hanya mengaduh sambil mengelus-elus kepalanya yang sakit habis dijitak Kushina. Istrinya itu memang seperti iblis, entah bagaimana dia bisa menikah dengan wanita seperti itu.
"Gomen, Hinata-chan, suamiku yang bodoh ini memang kadang seperti Naruto, jangan dipedulikan ya," kata Kushina sambil tersenyum dan menundukkan kepala Minato. Naruto dan Hinata yang melihatnya langsung sweatdrop.
"Ahaha, Kushina-san, tidak apa-apa kok. Lagipula sepertinya aku merepotkan sekali ya, lebih baik aku pulang. Hari sudah sore," jelas Hinata sambil mengecek jam tangannya.
"Secepat ini? Oh, baiklah, tapi apa perlu diantar?" tanya Kushina yang terlihat kecewa Hinata akan pulang.
"Iya, nanti tou-san akan khawatir. Tapi tidak usah, aku bisa pulang sendiri," jawab Hinata.
"Baiklah, tapi biar Naruto mengantarmu. Jangan menolak!" pinta Kushina yang menurut Hinata lebih seperti perintah. Hinata menimbang-nimbang, dan akhirnya mengangguk dan berkata pelan, "Arigatou."
"Baiklah, kami pergi dulu ya, kaa-san, tou-san. Dah..." seru Naruto sambil melambai, saat mobil Ferrari yang dikendarainya berjalan menjauh dari rumah megahnya. Hinata juga melambai dan tersenyum pada Kushina dan Minato. Kushina dan Minato juga balas melambai, senyum menghiasi wajah mereka.
"Mereka cocok sekali, ya. Seperti kita saat muda dulu," komentar Minato sambil memeluk Kushina dari belakang. Kushina tersenyum mendengarnya.
"Iya, tapi dulu kau takut mendekatiku, jadi lama-lama aku tidak sabar dan aku duluan yang menyatakan cinta, ingat?" tanya Kushina menyindir Minato. Minato langsung bersemu merah dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"S-sudahlah. Akhirnya aku berani juga kan? Kalau tidak, aku mungkin bukan suamimu," kata Minato.
"Dasar, bisa saja alasannya," balas Kushina sambil menutup pintu, dan mereka berdua masuk ke dalam rumah.
"Naruto-kun, kumohon jangan cerita pada siapapun tentang diriku, ya. Orang tuamu mungkin boleh, tetapi Kushina-san dan Minato-san bisa menjaga rahasia, kan? Aku selalu merasa tidak nyaman jika ada orang yang membicarakanku atau mengasihaniku, aku tidak suka!" pinta Hinata sambil menunduk. Nada memohonnya tentu membuat Naruto tak bisa melawan. Gadis di sampingnya ini memang sangat rapuh.
"Tentu saja. Aku berjanji padamu, Hinata-chan," sahut Naruto dengan cengiran khasnya, tetapi Hinata yakin dia mengatakan yang sejujurnya. Hinata hanya dapat mengangguk dan bergumam lirih, "Arigatou."
"Ah, sudah sampai. Ini rumahku," kata Hinata yang membuat Naruto menghentikan laju mobilnya dan turun dari mobil dengan cepat. Saat Hinata akan meraih pintu mobil, Naruto telah membukakannya untuknya. Tangan Naruto terulur, menawarkan bantuan bagi Hinata untuk berdiri. Seperti gentleman sejati. Hinata tersenyum manis dan menyambut uluran tangan Naruto. Hinata sangat menyukai sikap Naruto yang baik padanya.
"Tadaima!" seru Hinata sambil memasuki rumahnya. Kini giliran Naruto yang terkagum-kagum melihat rumah Hinata yang sangat luas dan klasik. Interiornya menyerupai rumah tradisional Jepang. Memang, keluarga Hyuuga merupakan keluarga yang sudah ada sejak lama, dan keluarga Hyuuga sangat menjunjung tinggi tradisi, jadi semuanya masih serba kuno.
Baru memasuki halamannya, unsur-unsur kemewahan kuno seperti istana Kokyo, istana tempat kaisar Jepang tinggal, sudah terasa. Pintunya pun masih berupa pintu geser bermotif tradisional, walaupun sangat besar. Lantainya masih dilapisi tatami, dan Naruto dapat menebak bahwa mejanya pun meja kayu besar dengan bantal sebagai dudukannya. Walaupun begitu, aura kemewahan tetap terpancar dari rumah Hyuuga itu.
"Okaeri," sambut sebuah suara berat dan berwibawa seorang pria dari dalam rumah. Pria itu adalah Hiashi. Rambut coklat panjangnya dibiarkan tak terikat, dan dia mengenakan kimono kebesaran seorang bangsawan berwarna hijau army. Tatapan matanya menajam saat dia melihat Hinata pulang dengan seorang laki-laki yang tidak dikenalnya. Hinata yang menyadari tatapan ayahnya, langsung berusaha mencairkan suasana.
"T... Tou-san, ini Naruto-kun, muridku di universitas. Aku baru dari rumahnya untuk belajar-yah, lebih tepatnya mengajarinya," jelas Hinata sambil tersenyum semanis mungkin, mencoba membujuk ayahnya yang terkenal sangat keras itu. Ayahnya tampak sedikit terbujuk, dan menatap Naruto lagi. Naruto yang menyadarinya, langsung memperkenalkan diri.
"Ehm... Hajimemashite, Hiashi-sama. Watashi wa Naruto Namikaze desu. Douzo yoroshiku," ujar Naruto sambil membungkukkan badan hormat. Sepertinya Hiashi mulai menganggap Naruto cukup sopan untuk ukuran 'anak mahasiswa zaman sekarang'.
"Hn. Kau sudah tahu namaku, sepertinya karena Hinata memberitahumu, jadi sepertinya tidak perlu memperkenalkan diri lagi," jawab Hiashi tajam untuk menguji Naruto. Biasanya laki-laki yang berusaha mendekati Hinata akan mundur begitu bertemu Hiashi.
"Hai', Hinata-chan memang begitu. Putri anda memang sangat cantik, manis, baik dan pintar, saya menyukai tipikal gadis seperti itu," jelas Naruto dengan senyuman.
'Hinata-chan? Hinata mengizinkannya memanggilnya dengan –chan? Sebenarnya seberapa dekat mereka?' batin Hiashi sambil mengerutkan keningnya heran. Selama ini, yang memanggil Hinata dengan –chan hanya dirinya sendiri, Neji, Hanabi, serta 'dia'. Bahkan 'dia' berhasil memanggil Hinata dengan –chan setelah berkenalan selama 1 bulan. Sedangkan Naruto baru mengenal Hinata tadi pagi!
"Ah, sudah sore, Naruto-kun tidak pulang? Nanti Kushina-san marah, aku tidak mau Naruto-kun dimarahi," kata Hinata khawatir setelah mengecek jam tangannya. Naruto tampaknya tidak sadar bahwa matahari mulai bergeser ke arah barat.
"Ah, benar juga. Aku pulang dulu ya, Hinata-chan. Saya mohon diri, Hiashi-sama," kata Naruto sambil membungkuk pada Hiashi lagi, dan mengambil kunci mobilnya. Dibukanya pintu mobil dan melambai sebentar dengan cengirannya, lalu melajukan mobil Ferrari itu ke rumahnya lagi. Hinata tersenyum manis dan balas melambai, lalu masuk lagi ke dalam rumah.
"Hinata, anak tadi, apa hubungannya denganmu?" tanya Hiashi. Nadanya terdengar tidak suka, karena harusnya Hinata bersama 'dia'. Hinata juga menyadari nada bicara ayahnya itu. Dia menundukkan kepala di hadapan ayahnya, mencoba tidak melawan. Tapi mendengar ayahnya bicara seakan merendahkan Naruto dibanding 'dia', membuat Hinata jengah.
"Tou-san, 'anak tadi' punya nama. Namanya Naruto! Dan Naruto-kun berbeda dari 'dia', aku menyukai laki-laki sepertinya. Jangan merendahkan Naruto-kun!" seru Hinata sambil berlari ke kamarnya. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya mulai berjatuhan satu demi satu, tapi Hinata berusaha mati-matian menghentikannya. Hinata tidak ingin dianggap sebagai gadis lemah yang hanya bisa menangis.
Sedangkan Naruto, dia sedang berhenti di pinggir jalan karena tadi bannya kempes. Untunglah Naruto cukup mengerti soal mengganti ban Ferrari. "Fuh, ban yang merepotkan. Untung aku bisa menggantinya," gumam Naruto sambil mengelap keringat di dahinya. Saat itu, seseorang menepuknya dari belakang.
"Siapa itu?" tanya Naruto, refleks langsung berbalik cepat. Saat dia akan meyerang, ternyata itu hanya sahabatnya, Sasuke. "Teme? Sedang apa kau di sini?" tanya Naruto heran, apalagi ekspresi Sasuke terlihat tidak bersahabat. Naruto makin heran saat Sasuke berjalan makin dekat, hingga Naruto hampir berhimpitan dengan mobilnya. Jarak mereka hanya sekitar 30 cm, dan ini membuat Naruto tidak nyaman.
"Oi, Teme, apa yang kaun lakukan? Jangan dekat-dekat!" seru Naruto yang mulai kesal dengan sikap aneh Sasuke, apalagi Sasuke hanya diam saja. Sasuke lalu berjalan menaiki motor Harley Davidson-nya dan memasang helmnya, dan berseru sebelum pergi, yang membuat Naruto heran dan gelisah tak tenang.
"Naruto, jangan dekat-dekat Hinata lagi!"
.
|TSUZUKU|TO BE CONTINUED|BERSAMBUNG|
.
Hai minna... Shana datang lagi, membawa keadilan #plaak...
Abaikan saja yang tadi. Nah, akhirnya chapter 2 ini selesai, yey! Shana akhirnya bisa nyelesain fic ini dengan cepet (menurut Shana). Tapi, gomen nasai kalau update-nya lelet banget, habis seperti yang disebut di author note di atas, Shana lagi bikin fic lain, jadi ya lama...
Oke dech, buat yang nunggu balesan review, ini dia...
- Yamanaka Chika : Arigatou, Chika-chan, udah nge-review fic Shana ini. Iya, maaf ya soal typo-nya. Nanti akan Shana perbaiki untuk chapter ini. Ya, do'ain aja biar bisa update flash.
- Fariz-San : Arigatou atas pujiannya ya, Shana seneng banget. Iya, Shana emang sengaja langsung saling suka biar ceritanya ga berbelit-belit. Oke, ini udah update...
- L-The-Mysterious : Makasih ya atas pujiannya, tapi bukan pengalaman pribadi kok, hanya sekadar ide lewat. Iya, nanti Shana lebih hati-hati memindai typo-nya. Oke, nih update, ya...
- Megu-Megu-Chan : Yup, emang kayaknya berani juga, ya~ Shana cuma sekadar ngembangin cerita, tapi ga nyangka dikira gini ya. Oke, nih update untuk Megu-Chan...
- pik : Iya, makasih atas pujiannya. Shana bikin NaruHina langsung saling suka biar ceritanya ga berbelit-belit sih. Okeh, akan saya lanjutkan dengan sebaik-baiknya.
- Me : Iya ya, emang Shana bikin yang mungkin cukup jarang. Iya emang kuliah, maksud Shana dosen, tapi kayaknya lagi ga konsen jadi ditulisnya guru, gomen... Dan Hina tau Naru karena udah dikasih data muridnya sebelum masuk kelas, jadi udah tau muka-mukanya. Ya, Shana bikin cepet biar ceritanya ga berbelit-belit. Yup, update!
- Nata : NaruHina emang sangat cyute, Shana juga suka banget! Okeh, akan Shana lanjutkan dengan lebih baik, semoga semuanya suka. Makasih ya atas pujiannya...
Nah, balesan review udah, jadi sekarang Shana mau ngadain kuis. Ga ada hadiahnya, cuman seru-seruan aja. Jadi ini pertanyaannya: Apa yang dimaksud Sasuke dengan Naruto tidak boleh mendekati Hinata? Jawabannya akan ada di chapter 4 (mungkin), jadi ada waktu, kan? Shana tunggu jawabannya lewat PM ya, jangan review, ntar ketauan... Dan terakhir :
REVIEW! REVIEW! REVIEW!
