Let's Get Married, Sensei!

AYO DIOBRAL(?)! CHAPTER 3 UPDATE!

Moshi-moshi, minna...

Shana kembali dengan fic Shana yang nista(?) ini. Huwaa, gomen kalau update-nya leleeetttttttt~~~ banget, abis Shana capek dan bete banget sih. Apalagi soulmate Shana, Yamanaka Chika alias Chika-chan ga masuk gara-gara sakit. Shana mau curhat sama siapa? Yah udah deh, daripada nanti Shana makin ga jelas bacotnya, baca aja deh!

Summary : Naruto terus memikirkan peringatan Sasuke. Tapi wajah Hinata yang selalu membayanginya, membuatnya melanggar sahabatnya itu. Dan akhirnya, Naruto melakukan 'itu'. Bagaimana kisahnya?

Rating : T

Pairing : NaruHina

Genre : Romance

Warning : OOC, typo, abal, gaje, update lelet, salah kata, slight MinaKushi dan SasuHina, dll...

Disclaimer : Mungkin jika aku menikahi Masashi Kishimoto, aku bisa mempunyai Naruto!

.

(~ =o= )~ Let's Get Married, Sensei! ~( =o= ~)

.

"Apa maksud Sasuke tadi? Kenapa aku tidak boleh dekat-dekat dengan Hinata-chan? Apa ada sesuatu di antara mereka?" gumam Naruto sambil berbaring di kasur king size-nya. Sejak tadi, Naruto terus bergerak kesana kemari di atas kasurnya, terlihat sekali sedang tidak nyaman. Pikirannya sedang melayang ke tempat lain.

Sejak pulang dari kediaman Hyuuga, laki-laki berambut pirang itu terus merasa gelisah. Lebih tepatnya sejak bertemu sahabatnya, Sasuke. Sasuke tampak dingin terhadap Naruto, padahal itu belum pernah terjadi sebelumnya. Yah, mungkin mereka memang bertengkar, tapi Sasuke tidak pernah terlihat sekesal itu dengan Naruto. Naruto jadi frustasi hanya dengan memikirkannya.

'Sasuke... Apa hubunganmu dengan Hinata? Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku?' batin Naruto. Sejak tadi dia berusaha memejamkan kedua mata shappire-nya, mencoba melupakan masalah yang terjadi hari ini, tapi tetap tak bisa. Rasa gelisah itu telah bersarang di hati Naruto.

Saat Naruto tengah termenung sendirian, lamunannya terbuyarkan oleh ketukan di pintu kamarnya. "Naru-chan, makan malam sudah siap?" suara ibunya, Kushina, sudah memanggilnya. Naruto tidak mau cari masalah dengan ibunya yang kalau marah bisa terlihat seperti iblis itu, jadi dia langsung bangkit dari kasurnya.

"Ya, kaa-san," sahut Naruto sambil membuka pintu kamarnya. Di situ, ibunya sudah menunggu. Senyum Kushina yang sedang merekah saat ini, membuat Naruto menjadi lebih tenang.

"Ayo, tou-sanmu sudah menunggu," kata Kushina sambil berjalan menuju meja makan. Suami tercintanya, Minato, tengah menanti sambil meminum kopinya. Minato menurunkan cangkirnya begitu melihat siapa yang datang.

"Akhirnya kau keluar, Naruto. Aku sudah lelah menunggu," kata Minato sambil bersandar pada punggung kursinya. Tampaknya kelelahan masih tergurat setelah bekerja seharian.

"Gomen, Naruto sedang... Banyak pikiran," jawab Naruto dengan menggumam. Minato heran melihat putra tunggalnya itu kelihatan diam dan gelisah, karena kata 'diam' tidak ada dalam kamus sehari-hari seorang Naruto Namikaze.

"Pikiran apa? Pasti tentang perempuan, ya? Yang namanya Hinata itu?" tebak Minato, yang sukses membuat Naruto menghela nafas. Minato jadi prihatin melihat kondisinya. Rasanya jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah, Minato melihat Naruto seperti ini.

"Ceritakan saja pada tou-san. Mungkin tou-san bisa membantu," tawar Minato sambil memandang Naruto. Naruto menghela nafas lagi. Memang benar sih, mungkin Minato bisa membantu. Tapi Naruto seakan tidak yakin menceritakan masalah ini pada siapapun. Naruto mengalami perang batin. Akhirnya Naruto menyerah pada sisi 'sangat butuh pertolongan'nya.

"Tou-san benar. Aku... Punya masalah dengan... Hinata dan Sasuke," jawab Naruto dengan tidak bersemangat. Tangannya mengaduk-aduk teh di hadapannya, tetapi tatapan matanya kosong. Pikirannya sedang menjelajah lagi ke suatu tempat.

"Ada apa? Jangan disimpan sendiri, Naruto. Tou-san di sini untuk mendengarkan masalahmu," kata Minato. Minato merasa simpati pada anaknya itu, karena Minato juga pernah merasakan yang sama. Perasaan gelisah karena rasa suka saat masih muda.

"Masalahnya, aku... Menyukai Hinata. Tapi sepertinya... Sasuke tidak suka jika aku dekat-dekat Hinata-chan," keluh Naruto. Minato mengerutkan keningnya tanda heran.

"Dari mana kau tahu kalau Sasuke tidak suka kau dekat-dekat Hinata?" tanyanya. Semua ini terasa membingungkan bagi pemilik sekaligus CEO Namikaze Ltd. itu.

"Sasuke bilang padaku. Dia bilang... 'Naruto, jangan dekat-dekat Hinata lagi!', begitu katanya," jelas Naruto. Akhirnya dia mengangkat wajahnya dan memandang Minato, lurus menatap mata ayahnya itu.

"Hmm... Masalahmu sulit sekali, ya, Naruto. Tapi menurut tou-san sih, percaya saja apa kata hatimu. Kalau kau mencintai Hinata –ingat, mencintai, bukan hanya menyukai, perjuangkan dia! Jangan pedulikan apa kata orang, asal yang kau lakukan itu benar, pasti hasilnya juga akan seperti yang kau inginkan," nasihat Minato. Kata-kata bijak itu keluar dari mulutnya, karena rasa sayangnya sebagai seorang ayah muncul.

Sedangkan Naruto hanya bisa tertegun mendengarnya. Dia bodoh, tak bisa menyadari jawaban yang sangat sederhana, sangat mudah dari kegelisahannya. Ya, jangan pedulikan kata orang. Naruto memang mencintai Hinata, Naruto sadar itu. Selama Sasuke belum memiliki hubungan apa-apa dengan Hinata, Naruto tidak akan menyerah.

"Arigatou, tou-san. Sekarang Naruto tahu apa yang harus dilakukan," kata Naruto sambil tersenyum pada Minato. Minato juga balas tersenyum, senang karena anaknya itu telah kembali menjadi Naruto yang biasanya.

"Douita. Nah, sekarang sudah bukan 'remaja galau' lagi kan?" tanya Minato sambil menggoda Naruto. Naruto blushing saat tahu dia dianggap 'remaja galau' oleh ayahnya. Kasihan Naruto, punya orang tua yang sangat suka menggodanya.

Sementara itu, Kushina terus memperhatikan mereka berdua sejak tadi. Wanita berambut merah itu senang, karena Naruto dan Minato dapat meluangkan waktu membicarakan 'boys problem' berdua. Maklumlah, Minato kan sibuk dengan urusan pekerjaan, dan Naruto sekarang sedang mencapai masa aktif dalam kuliahnya, jadi mereka jarang mendapat kesempatan bicara berdua.

"Ayo, makan malam siap. Jangan lupa cuci tangan, ya," kata Kushina yang tiba-tiba keluar dari dapur, mengagetkan kedua laki-laki itu.

"Kaa-san, jangan bikin aku kaget dong," keluh Naruto sambil mengelus dadanya. Jantungnya seakan melonjak dari tempatnya karena kaget.

"Sudahlah, cepat cuci tangan. Kalau tidak, kalian tidak boleh makan malam," kata Kushina menakutkan. Dengan ancaman dan aura dark-nya, Naruto dan Minato hanya menuruti kemauan wanita iblis itu, daripada harus ada masalah. Tidak, terima kasih.

"Naruto, nanti kau undang Hinata-chan lagi, ya. Mungkin kita bisa makan siang bersama," tawar Kushina sambil tersenyum saat makan malam. Naruto yang sedang makan dengan lahapnya, langsung tersedak. Minato yang duduk di sebelahnya, langsung menepuk-nepuk punggung Naruto. Kushina segera menyodorkan segelas air putih.

"Minum dulu," kata Kushina sambil memperhatikan wajah Naruto yang menjadi biru. Kushina dan Minato jadi inigin tertawa melihatnya.

"Uhuk... Hah... Hah... Kaa-san, jangan bikin aku kaget dong. Jadinya kan aku tersedak begini," keluh Naruto dengan nada sewotnya.

"G-gomen... Kaa-san Cuma, hmph..." kata Kushina sambil menahan tawa. Naruto jadi makin kesal melihat orang tuanya malah tertawa.

"Kok ketawa sih? Sakit tahu, sesak!" kata Naruto, mukanya dibuat cemberut. Tapi Minato dan Kushina malah tertawa semakin keras. Mereka memegangi perut seperti kesakitan karena kebanyakan tertawa, tapi di wajah mereka masih tersisa tawa.

"Aduh, perutku sakit. Sudahlah, Naruto, begitu saja marah. Tapi Kushina benar, ajak Hinata lagi ke sini. Kau kan suka padanya, dekati dia dong," kata Minato sambil menggoda Naruto. Naruto jadi blushing mendengarnya. Kedua orang tuanya memang sadis, melihat wajah Naruto yang sudah merona semerah kepiting rebus, mereka menjadi semakin gencar menggodanya.

"K... Kaa-san, tou-san. Jangan menggodaku terus!" kata Naruto terbata-bata, masih blushing berat. Akhirnya Kushina dan Minato berhenti, sepertinya karena lelah tertawa dan perut mereka juga sakit. Kushina berdiri dan mulai membereskan piring-piring kotor bekas makan malam. Minato dan Naruto ikut bangkit. Herannya, sekarang Naruto ikut membantu Kushina.

"Naruto, tumben membantu kaa-san?" tanya Kushina sambil mengerutkan keningnya heran. Minato juga tak kalah heran dengan istrinya.

"Hinata-chan bilang, kita harus membantu ibu. Jadi, mulai sekarang Naruto mau membantu kaa-san," jawab Naruto sambil membawa setumpuk piring-piring kotor ke tempat cuci piring. Kushina dan Minato berpandangan dan saling tersenyum. Hinata benar-benar telah mengubah Naruto.

"Taruh saja di bak cucian, Naruto. Nanti kaa-san akan mencucinya," kata Kushina sambil ikut membawa piring-piring kotor. Minato memang seperti biasa, mengikuti Kushina. Biasanya mereka berdua akan, ehm... Bermesraan saat Kushina melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci piring.

"Tidak, kaa-san. Aku sudah bilang, akan membantu kaa-san. Kalau kaa-san repot dan capek, lalu sakit, nanti siapa yang akan merawatku dan tou-san?" jawab Naruto dengan cerdiknya. Kushina dan Minato terkaget-kaget mendengar jawaban pintar Naruto. Mereka tidak terpikirkan alasan lain untuk berduaan.

"Yah, baiklah. Tapi Naru-chan tahu soal mencuci piring?" tanya Kushina sambil memakai sarung tangannya dan mengambil spons yang telah diberi sabun. Diambilnya piring kotor dan dibasahinya denganair dari keran, lalu mengusapnya dengan spons. Naruto memperhatikan, lalu mencoba menirunya.

"Emm, seperti ini?" tanya Naruto tak yakin, memperlihatkan cara mencuci piringnya yang berantakan. Minato yang dari tadi memperhatikan, tak tahan melihat istri dan anaknya yang berduaan. Dia berjalan mendekat dan membantu Naruto.

"Begini, Naruto. Kamu ini, mau membantu tapi tidak bisa. Contoh tou-sanmu ini dong," kata Minato sambil membanggakan diri. Tapi memang benar, caranya mencuci piring sama seperti Kushina, sehingga piringnya menjadi berkilau. Naruto tampak kagum, sedangkan Kushina tersenyum melihatnya.

"Iya, iya. Seperti ini?" tanya Naruto lagi. Kali ini, Kushina dan Minato berpandangan lagi dengan tersenyum dan mengangguk senang. Perkembangan Naruto cepat juga. Jadi tidak terasa, kini pewaris Namikaze Ltd. itu sudah ada di tengah keluarga Namikaze selama 22 tahun. Suka duka yang dilalui kini tak terasa sudah tak terhitung banyaknya. Dan sekarang, Naruto telah mengalami proses kedewasaan : menyukai seseorang.

"Naruto, kamu makin dewasa saja, ya," kata Kushina sambil mengacak-acak rambut pirang Naruto. Tentunya dengan tangan yang bersih. Naruto mengaduh pelan, sedangkan Minato tertawa. Sungguh keluarga yang bahagia, lengkap dan sempurna. Walaupun hidup hanya bertiga, hidup mereka selalu dipenuhi tawa, dan berbagai rasa lainnya. Ikatan di antara mereka begitu kuat.

"Naruto, sudah jam delapan. Kamu tidak tidur?" tanya Minato sambil melirik jam. Mungkin kalian heran dengan maksud pertanyaan Minato. Tapi, biasanya Naruto memang tidur jam delapan malam. Habisnya dia tidak suka belajar sih, dan Kushina juga sudah capek berteriak padanya. Biarlah Naruto sendiri yang menyadarinya nanti.

"Belum, tou-san. Naruto mau belajar dulu," jawab Naruto dari dalam kamarnya. Sekali lagi, Minato dibuat mengerutkan kening heran. Naruto belajar? Ini adalah peristiwa yang patut dimasukkan dalam The Guinness Book of Record. Tapi Minato menyadari, pasti Hinata yang mengubah Naruto. Minato tersenyum dan kembali melanjutkan menonton televisi. 'Kau memilih perempuan yang tepat, Naruto,' batin Minato.

Di kamarnya, Naruto sedang duduk di depan meja belajarnya. Dia sedang membuka-buka buku pelajaran dengan wajah serius. Pelajaran pertama adalah pelajaran Asuma-sensei, dan biasanya Asuma suka memberikan pertanyaan mendadak soal materinya pada murid-murid, makanya Naruto menghapalkan materinya. Apalagi, Naruto seakan menjadi sasaran pertanyaan Asuma-sensei sehari-hari.

"Jawabannya pasti... A! Benar tidak?" gumam Naruto. Dia sedang mengerjakan soal dari buku paketnya, dan berhubung ada kunci jawabannya, Naruto selalu mengecek jawabannya tiap satu nomer. Kadang, jika ada soal sulit, Naruto mengetuk-ngetukkan pensilnya dan memejamkan mata erat-erat, mengingat materi yang baru dipelajarinya. Kalau jawabannya sudah ketemu dan benar, biasanya Naruto akan bersorak kegirangan.

"Yes, betul dua puluh tujuh dari tiga puluh soal. Good job, Naruto!" gumam Naruto pada dirinya sendiri. Setelah menghitung nilainya, dan rupanya Naruto mendapat nilai sembilan dengan jujur usaha sendiri, Naruto merasa amat senang dan puas. 'Memang lebih asyik mendapat hasil bagus dari pekerjaan sendiri daripada mencontek,' batin Naruto senang. Cengirannya yang khas terpampang di wajahnya.

Tak terasa, sudah sekitar satu setengah jam Naruto belajar. Waktu terasa cepat berlalu bagi Naruto saat dia serius. Dorongan Hinata untuk selalu rajin belajar, membuatnya terus membaca materi dan menghafalkannya berulang-ulang. Sepertinya Naruto mulai berpikir kalau belajar itu asyik.

Saat sedang asyik menghitung nilai Pajak Penghasilan dan yang lain, suara ketukan di pintu kamarnya menyadarkan Naruto. Kushina muncul dari pintu dengan membawa senampan teh. Senyum manisnya ia lepaskan untuk Naruto. Naruto balas tersenyum pada ibunya yang cantik itu, Dia bangkit dan meregangkan tubuhnya yang kaku setelah duduk lama.

"Naru-chan, sudah malam. Ayo tidur, nanti besok terlambat. Tapi, mau teh dulu?" tawar Kushina sambil menyerahkan secangkir teh hangat pada Naruto. Naruto menerimanya dan langsung menyeruput teh manis buatan ibunya itu. Rasanya sungguh nikmat setelah lama diam dan berpikir.

"Enak seperti biasa, kaa-san. Arigatou," kata Naruto sambil tersenyum, terus menyeruput tehnya sampai habis. Kushina tersenyum geli melihat tingkah putra tunggalnya itu. Senyum mengembang di wajah manisnya saat mendengar pujian Naruto.

"Hmm, tentu saja, itu kan teh spesial kaa-san. Sudah, cepat tidur. Jangan lupa sikat gigi dulu," kata Kushina memperingatkan Naruto lembut, dan berjalan keluar membawa nampan teh itu lagi. Naruto mengangguk dan mengikuti ibunya menuju kamar mandi. Setelah melakukan 'ritual sebelum tidur'nya, Naruto melemparkan diri ke tempat tidur. Kantuk sedah menguasainya, dan setelah mendapat posisi nyaman, pemuda itu segera terlelap.

Di luar, Kushina ikut duduk di samping Minato yang masih menonton televisi. Mata Minato teralihkan saat istrinya itu mulai memeluk lengannya hangat. Minato tersenyum dan mengelus rambut merah Kushina dengan penuh kasih sayang. Tangannya yang lain menyentuh pipi Kushina dan mengelusnya.

"Kau tahu, Minato? Sepertinya, anak kita sudah dewasa, ya," kata Kushina membuka pembicaraan. Mereka masih bertahan dalam posisi seperti itu. Minato tersenyum dan menerawang mendengar pernyataan Kushina tadi.

"Ya, kau benar. Ini karena Hinata, kan? Pasti Naruto sangat menyukainya," kata Minato. Kushina bergelayut manja di lengan kekar Minato. Senyum menghiasi wajah cantiknya.

"Salah, Minato-kun. Naruto tidak menyukai Hinata, tapi dia mencintainya," sahut Kushina. Minato jadi ikut tersenyum mendengarnya. Memang, menurut dirinya pribadi, perubahan sikap Naruto yang drastis karena Hinata menandakan bahwa Naruto tidak hanya menyukai gadis manis itu, tapi juga mencintainya. Hinata adalah cinta pertama Naruto.

"Ya, kau benar. Um, bagaimana kalau kita serahkan masalahnya pada Naruto sendiri? Biar kita melakukan yang biasa, hime-chan," kata Minato sambil menggoda Kushina. Rambut merah istrinya itu dimainkan dengan tangannya. Kushina merona merah karena perlakuan romantis suaminya. Dan malam berakhir dengan kedua pasangan itu 'mempererat hubungan' mereka.


Pagi menjelang di kediaman Namikaze. Burung-burung berkicau lembut, dan angin bersemilir memasuki jendela yang terbuka. Kushina tengah menata piring-piring berisi sarapan, dan tiba-tiba teringat dengan Naruto. Dengan langkah bergegas, wanita itu menggedor pintu kamar Naruto.

"Naruto! Bangun, sudah siang!" seru Kushina keras sambil tetap menggedor pintu. Karena tak ada jawaban, Kushina segera memasuki kamar besar putranya itu. Tapi Kushina sekali lagi terkejut oleh Naruto. Dilihatnya Naruto sudah berpakaian lengkap, dan menengok ke arah ibunya.

"Ah, kaa-san. Ada apa?" tanya Naruto sambil memasangkan dasi seragamnya. Di Konoha University, walaupun sudah universitas tetapi muridnya tetap memakai seragam.

"Naru-chan sudah bangun, tumben," komentar Kushina sambil tertawa kecil. Naruto sudah banyak berubah karena Hinata, dan Kushina serta Minato menyukai hal itu. 'Minato benar, kau memilih perempuan yang tepat, Naruto,' batin Kushina.

"Kaa-san mengejekku, ya? Aku bisa kok, bangun pagi," kata Naruto merajuk.

"Tidak, hanya saja kaa-san kaget, Naru-chan sudah bangun. Lagipula... Dasinya belum rapi," kata Kushina sambil merapikan dasi Naruto. Naruto menurut saja, dan memperhatikan ibunya.

"Ayo, kita sarapan. Kaa-san sudah masak yang spesial, untuk Naru-chan," kata Kushina sambil berjalan keluar. Naruto mengangguk dan mengikuti langkah ibunya. Dan seperti biasa, dilihatnya Minato sedang asyik membaca koran sambil meminum teh. Minato yang melihat kedatangan Kushina, langsung melipat korannya dan menyambutnya. Tapi, seperti Kushina, Minato juga terkejut melihat Naruto yang sudah berpakaian lengkap.

Naruto langsung duduk di samping ayahnya, sementara Kushina menyiapkan sarapan. "Naruto, bangunnya pagi sekali. Tumben," komentar Minato, hampir sama seperti Kushina. Naruto menjawab lagi, "Yah, tidak apa-apa kan. Naruto cuma mau bangun lebih pagi."

"Sarapan siap! Jangan lupa cuci tangan sebelum makan, ya," kata Kushina yang disambut anggukan Minato dan Naruto.

"Sarapan kaa-san enak, seperti masakan Hinata-chan," komentar Naruto sambil memakan ramen buatan Kushina. Naruto masih ingat tentang ramen Hinata yang sangat enak, membuatnya melayang.

"Kau benar-benar menyukainya, ya? Sepertinya apapun mengingatkanmu pada Hinata-chan?" tanya Kushina sambil tersenyum. Naruto langsung blushing mendengar pertanyaan Kushina. Untuk mengalihkan perhatian, Naruto langsung bangkit dan memalingkan wajahnya malu. Kushina dan Minato berpandangan dan tersenyum geli.

"S-sudahlah, Naruto berangkat dulu ya. Ittekimasu!" kata Naruto sambil menyambar tasnya, memakai sepatu, dan memacu motornya.

"Itterashai!" sahut Kushina dan Minato yang melepas kepergian putra mereka di pintu. Minato berangkat agak siang, jadi mereka bisa berduaan dulu di rumah. Dan tampaknya, mereka sudah tidak sabar lagi. Minato menutup pintu, dan langsung menarik Kushina ke pelukannya.


"Oi, Shikamaru, lihat si Teme tidak?" tanya Naruto setelah memarkirkan motornya, dan menyapa Shikamaru yang sedang berjalan di halaman sekolah. Shikamaru menoleh ke arah pemanggilnya. Ternyata si Naruto. Shikamaru mengangkat tangannya, membalas sapaan Naruto.

"Yo, Naruto. Um, tidak, memangnya kenapa?" tanya Shikamaru. Naruto menghela nafas, membuat Shikamaru heran. Biasanya setiap pagi wajah Naruto dihiasi cengiran jika sedang senang, atau ditekuk kusut jika sedang kesal. Jarang melihat Naruto tampak gelisah dan frustasi.

"Kenapa? Belum mengerjakan PR?" tebak Shikamaru, yang langsung membuatnya dihadiahi jitakan oleh Naruto.

"Baka, kau kira aku semalas itu? Tentu aku sudaah mengerjakan PR," kata Naruto sambil berjalan ke kelasnya. Shikamaru yang dari tadi mengikuti, mengaduh pelan.

"Hey, pagi-pagi sudah main jitak! Sakit tahu!" keluh Shikamaru sambil mengelus kepalanya yang terasa sakit.

"Yah, itu sih deritamu. Hehe..." kata Naruto sambil berlari, takut nanti Shikamaru mengejar dan membalasnya.

Karena asyik berlari sambil tertawa-tawa dan melihat ke belakang, Naruto tidak sengaja menbrak seseorang. Keduanya jatuh cukup keras ke lantai. Naruto segera bangkit dan membersihkan seragamnya. Dia mengulurkan tangan dan meminta maaf pada orang yang ditabraknya.

"Aduh, gomen. Aku tidak sengaja," kata Naruto. Betapa terkejutnya saat dia menyadari siapa yang ditabraknya : gadis berambut indigo dan bermata lavender yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikiran Naruto. Ya, Naruto menabrak Hinata sampai jatuh. Kertas-kertas yang dibawa gadis itu berantakan di lantai.

"Hinata-chan! Gomen, biar kubantu," kata Naruto terkejut sambil memunguti kertas-kertas Hinata. Hinata juga sama terkejutnya saat melihat orang yang menabraknya, ternyata itu Naruto! Hinata baru menyadarinya dari suara itu. Dia tidak mungkin salah mengenali suara Naruto.

"Naruto-kun! Ah, tidak usah repot-repot, ini salahku juga, kok," kata Hinata sambil mengambil kertas dokumennya yang berceceran di lantai. Surai indingonya menutupi wajah manisnya, saat gadis itu menatap wajah Naruto. Naruto tersenyum padanya, membuat Hinata jadi blushing,

"Hinata-chan, sudah jelas aku yang salah. Lagipula Hinata-chan kelihatan repot sekali, biar kubantu. Jangan menolak!" pinta Naruto yang lebih seperti perintah. Benar-benar mirip dengan Kushina. Hinata jadi tersenyum geli melihatnya, dan mengangguk mengiyakan saja. Saat mereka tengah membereskan dokumen itu, tanpa sengaja tangan keduanya bersentuhan. Naruto dan Hinata saling bertatapan, dan langsung memalingkan wajah karena rona merah sudah merambati pipi mereka.

"A-ano, Naruto-kun... Dokumennya bagaimana?" tanya Hinata dengan terbata-bata, kebiasaannya jika sedang malu atau gugup. Naruto seakan tersadar, dan melanjutkan membereskan dokumen Hinata.

"Ah, iya. Sini, bair kubantu. Ini mau dibawa ke mana?" tanya Naruto, mengambil setumpuk dokumen dari pelukan Hinata dan membawanya. Hinata tadinya ingin menolak halus, tetapi gadis itu yakin Naruto pasti akan memaksa membantunya, jadi Hinata menunjukkan jalan menuju mejanya.

"Hinata-chan, nanti ada pelajaran Hinata-chan, kan?" tanya Naruto sambil meletakkan setumpuk dokumen itu di meja Hinata.

"Iya, pelajaran terakhir. Dan, Naruto-kun, sekarang kan jam sekolah, jadi tolong panggilnya Hinata-sensei, ya," jawab Hinata.

Naruto menepuk dahinya pertanda lupa dan memasang cengiran khas-nya. "Hai'. Gomen, aku lupa Hinata-ch... Ups, maksudku Hinata-sensei. Baiklah, aku pergi dulu ya," sahut Naruto sambil berlari menuju kelasnya. Hinata hanya melambai sambil tersenyum geli melihat tingkah murid kesayangannya itu. 'Tunggu, murid... Kesayangan? Apa ini berarti, aku... Menyukai Naruto-kun?' batin Hinata panik.

Pikirannya jadi gelisah memikirkan hatinya yang seakan terbagi. 'Tapi aku tidak boleh menyukai Naruto-kun. Aku sudah punya 'dia'. Aku tidak boleh berkhianat. Tapi, perasaan aneh apa ini?', batin Hinata cemas. Disentuhnya dadanya, kebiasaannya kalau sedang khawatir.

"Hinata, masih di sini? Murid-murid menunggumu, lho," kata dosen lain yang merupakan senior Hinata, Kurenai-sensei.

"Ah, Kurenai-san. Ya ampun, kau benar. Aku harus pergi dulu, bye..." kata Hinata sambil bergegas mengambil tasnya dan berlari pelan ke arah kelasnya, melambai ke arah Kurenai. Kurenai tersenyum dan balas melambai. 'Gadis yang manis. Tidak heran dia banyak disukai,' batin Kurenai menilai Hinata.

"Apa yang dilakukan istriku di sini?" tanya seorang laki-laki sambil memeluk Kurenai dari belakang. Asuma yang memeluk Kurenai, yang langsung ditepis lembut oleh Kurenai.

"Ayo, profesional! Cepat pergi ke kelasmu!" perintah Kurenai yang disambut anggukan dan senyuman suami tercintanya. Saat Asuma berjalan pergi, Kurenai tersenyum geli. Dosen di sini memang berbeda.

"Selamat pagi, semuanya. Apa kabar kalian hari ini?" tanya Asuma begitu memasuki kelas. Hari ini jadwalnya mengajar di kelas Naruto.

"Baik, sensei," jawab para murid serempak. Mereka terlihat masih semangat karena ini masih pagi, lagipula Asuma-sensei tidak terkenal 'killer', yang tidak disukai mungkin karena dia suka menanyakan materi tiba-tiba. Murid-murid kadang suka kelabakan menjawabnya, apalagi Naruto. Tapi kelihatannya Naruto tenang-tenang saja sekarang, tentu karana dia sudah belajar.

"Nah, materi hari ini masih sama dengan materi kemarin. Dan hari ini, saya akan mengadakan ulangan mendadak," pernyataan dari Asume-sensei tadi membuat semua murid mengeluh keras. Ulangan Asuma-sensei biasanya cukup sulit, dan soalnya juga banyak, apalagi kali ini adalah ulangan mendadak. Tetapi ada satu murid yang tidak terlalu cemas, yaitu Naruto.

"Oi, Naruto! Nanti aku lihat jawabanmu ya," bisik Kiba yang duduk di samping Naruto. Memang Naruto terkenal bodoh dan malas, tapi kalau soal ulangan, pasti murid sekelas akan melakukan 'contek massal'.

"Enak saja! Memangnya kau tidak belajar?" balas Naruto yang membuat Kiba kaget. Biasanya Naruto akan membalas ajakannya dengan semangat '45. Tapi sekarang Naruto malah menolaknya dengan jelas. 'Aneh sekali, apa dia sakit atau kerasukan?' batin Kiba.

"Memangnya kau sudah belajar?" tanya Kiba menyangsikan Naruto. Naruto memang aneh sejak kemarin, tapi kalau Naruto belajar dengan sungguh-sungguh, itu tidak pernah terjadi!

"Kau meremehkanku? Tentu saja! Kita lihat nanti," jawab Naruto sambil membusungkan dada.

"Naruto, Kiba, jangan mengobrol terus! Kertas ulangannya sudah sampai di kalian, cepat oper!" perintah Asuma yang menyadarkan dua laki-laki itu.

"Hai', sensei," jawab Naruto dan Kiba bersamaan, dan langsung mengoper kertas ulangan itu.

"Baiklah, sekarang saya akan menjelaskan peraturan ulangannya. Soalnya ada 15, 10 pilihan ganda dan 5 essay, dan kalian harus mengerjakannya dengan lengkap sesuai perintahnya. Waktunya 2 jam, dan 1 jam sisanya akan kita gunakan untuk memeriksa jawaban pilihan ganda. Dilarang mencontek! Baiklah, ulangan dimulai... Sekarang!" jelas Asuma panjang lebar, dan murid-murid langsung mengerjakan soalnya.

"Umm, soal pertama... Ah, ini sudah kupelajari tadi malam. Aku tahu jawabannya!" gumam Naruto sangat pelan, tapi wajahnya terlihat sangat senang. Dengan semangat disilangnya pilihan jawaban yang menurutnya benar. 'Yes, pilihan gandanya cukup gampang. Tinggal essay,' batin Naruto senang, karena soal-soal pilihan gandanya telah ia selesaikan tanpa halangan berarti.

Diliriknya teman-temannya yang tampaknya sedang kesusahan mengerjakan soal. Bahkan si Teme, yang baru disadari Naruto ternyata duduk di belakangnya, sedang menggaruk kepalanya pusing. Naruto mekin percaya diri dan melanjutkan membaca soalnya.

'Soal pertama... Jelaskan mengapa pendapatan seseorang harus dikenai Pajak Penghasilan? Minimal 50 kata! Ini mudah, aku sudah membacanya kemarin,' batin Naruto. Ditulisnya jawaban soal itu dengan cepat, sehingga tanpa sadar sudah melebihi 50 kata seperti perintahnya.

Saat Naruto tengah mengerjakan soal essay nomer tiga, suara keras Asuma terdengar di penjuru kelas yang hening. "30 menit lagi, jangan terburu-buru!" serunya. Keluhan meluncur dari mulut mrid-muridnya, kecuali Naruto. Tampaknya dia terlalu sibuk menulis sehingga tidak punya waktu mengeluh. Asuma mengerutkan keningnya, heran melihat perubahan Naruto yang sangat drastis itu.

'Naruto kelihatannya santai mengerjakan ulangannya. Syukurlah, akhirnya dia belajar,' batin Asuma sambil tersenyum kecil. Asuma entah kenapa yakin, Naruto tidak mencontek dan berusaha mengerjakan sendiri. Asuma senang, akhirnya murid termalasnya itu belajar, menurut firasatnya. Mungkin ini yang disebut 'insting seorang guru'.

'Yes, soal terakhir. Tapi ini susah juga, ya. Apa keuntungan pemerintah dengan mengadakan sistem pajak dan ke mana hasil pajak itu dialokasikan? Minimal 150 kata! Rasanya aku sudah pernah membacanya...' batin Naruto sambil mengetuk-ngetukkan pulpennya. Dia menghela nafas, berusaha mengingat petunjuknya.

Tiba-tiba teringat olehnya, Hinata menjelaskan tentang itu kemarin. Kebetulan Naruto sedang membaca masalah pajak dan tidak mengerti, lalu Hinata menjelaskannya panjang lebar. Naruto memperhatikan dengan serius penjelasan panjang Hinata. Naruto tersenyum lebar dan melanjutkan menjawab soal.

"5 menit lagi, ayo cepat. Jangan lupa memeriksa ulang jawaban kalian!" seru Asuma yang disambut lonjakan kaget dan keluhan murid-muridnya. Keringat mengalir di pelipis Naruto mendengar perkataan Asuma. Dia mempercepat tangannya dalam menulis jawaban.

"Fyuh, akhirnya selesai juga. Tinggal kucek jawabannya," gumam Naruto sambil mengusap peluhnya.

"Ya, waktu habis! Kumpulkan kertas kalian di depan!" perintah Asuma. Murid-murid berjalan gontai ke depan kelas. Soal yang menurut mereka sangat sulit itu telah membuat otak mereka over capacity. Bahkan Sasuke dan Shikamaru yang terkenal jenius pun terlihat tidak terlalu yakin dengan jawaban mereka. Kelihatannya hanya Naruto yang tampak percaya diri.

"Baiklah, Shino, ayo bagikan kertas ulangannya. Jangan diberikan ke orangnya," perintah Asuma lagi. Shino yang memang duduk paling depan, langsung membagikan kertasnya tanpa banyak bicara. Seperti biasa, sang Aburame memang sangat pendiam. Bahkan mungkin dia hanya bicara satu kali dalam sehari, atau bicara hanya saat diperlukan.

"Oi, Naruto, kau periksa punya siapa?" bisik Kiba. Naruto sebenarnya agak kesal juga karena dari tadi Kiba mengganggunya terus, tapi mereka kan sahabat, jadi Naruto harus membiasakan diri dengannya.

"Umm, punya... Si Teme!" balas Naruto, sama pelannya dengan Kiba. Naruto melirik ke belakangnya, tempat Sasuke duduk tak acuh sambil memperhatikan kertas ulangan yang dipegangnya.

"Huwaa, aku yakin setidaknya dia mendapat sembilan puluh. Untuk standarnya, bahkan soal yang sangat sulit pun bisa menghasilkan nilai minimal delapan puluh. Aku mulai gugup sekarang," komentar Kiba. Keluhan meluncur dari mulutnya karena merasa terintimidasi oleh Sasuke, si jenius Uchiha. Naruto terdiam mendengarnya. Pembicaraan mengenai Sasuke membuatnya teringat kejadian kemarin.

"Baiklah, kita mulai mengoreksi. Soal nomer satu, jawabannya..." seru Asuma dengan menggantungkan ucapannya ke seluruh penjuru kelas. Jantung para murid telah berdegup melebihi batas normal sekarang. Keringat mengalir di pelipis mereka, menandakan bahwa mereka sedang tegang.

"... A!" lanjut Asuma, yang disambut muridnya dengan meriah. Ada yang berteriak kegirangan, memukul udara, ber-high five, melempar buku, tersenyum 'bling-bling', menunduk kecewa, mengeluh keras-keras, dan ada juga yang diam daja. Asuma hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku murid-muridnya itu.

"Sudah, jangan ribut! Kita lanjutkan ke nomer berikutnya..." kata Asuma. Dan setelah jawaban sepuluh soal itu terungkap, reaksi mereka juga tak jauh berbeda dengan yang di atas. Hanya saja, sekarang lebih banyak yang mengeluh keras-keras.

"Baiklah, saya akan memasukkan nilai kalian. Jika saya sebutkan namanya, kalian bilang berapa soal yang benar. Aburame, Shino?" tanya Asuma.

Lee yang memeriksa ulangan Shino, langsung menyahut dengan semangat yang berapi-api. "Tujuh, sensei!" serunya–sangat–lantang, membuat semua yang ada di sana menutup telinga mereka.

"B-baiklah, terima kasih, Lee. Selanjutnya... Akimichi, Chouji?" lanjut Asuma sambil melihat ke murid-muridnya.

Tenten mengangkat tangannya. "Lima, sensei!" serunya jelas. Asuma segera mencatatnya di buku nilainya.

Asuma mengangguk pelan, dan melanjutkan. "Siapa yang memeriksa Haruno, Sakura?" tanya Asuma lagi. Dilihatnya Ino mengangkat tangan.

"Hai', saya, sensei. Nilainya... Delapan, sensei!" seru Ino sambil memperhatikan kertas ulangan Sakura, memastikan dia tidak salah menilai.

"Baiklah, Ino. Sekarang, kita lihat... Inuzuka, Kiba? Mana yang memeriksa Kiba?" tanya Asuma, lagi-lagi mengedarkan pandangan ke sekeliling kelasnya.

"Empat, sensei," jawab Shino pelan, bahkan sangat pelan tetapi Asuma bisa mendengarnya. Sedangkan Kiba langsung ambruk di mejanya dan bergumam, "Kaa-san akan membunuhku."

Asuma menelusuri buku nilainya. "Lee, Rock? Berapa nilainya?" tanya Asuma lagi.

"Empat, sensei!" jawab Chouji dengan agak tidak jelas, karena mulutnya penuh oleh keripik kentang. Asuma menghela nafas melihatnya. "Chouji, jangan makan di kelas!" tegurnya. Chouji langsung mengangguk dan meletakkan bungkus keripiknya.

"Baiklah, kejutan hari ini... Namikaze, Naruto?" lanjut Asuma, yang sukses membuat para murid menoleh mencari penilai si baka ini. Biasanya Naruto akan mendapat nilai dua atau tiga, paling bagus lima.

"Hn. Sepuluh, sensei," kata Sasuke cuek. Tiba-tiba kelas menjadi hening mendengar pernyataan Sasuke. Bahkan Naruto sendiri membeku tidak percaya.

"Naruto, hebat! Kau tidak mencontek, kan?" puji Asuma sambil menatap Naruto lekat-lekat. Jelas sekali Naruto berubah, menjadi lebih baik tentunya. Kelas langsung dipenuhi sorakan meriah dari teman-teman Naruto. Tidak ada yang menyangka, nilai Naruto tiba-tiba menjadi sebagus ini. Tapi mereka tahu, Naruto tidak mencontek. Walaupun dulu mereka yakin kalau Naruto belajar artinya hujan angin akan mendera, tapi akhirnya mereka percaya juga.

"Sudah, semuanya, tolong jangan berisik. Dan, kerja bagus, Naruto. Kau banyak berubah, tetap pertahankan ya," kata Asuma sambil tersenyum pada Naruto. Sedangkan Naruto mengangguk senang dan berkata, "Hai', sensei!"

"Selanjutnya, Nara, Shikamaru?" lanjut Asuma. Shikamaru hanya menguap lebar, seakan tidak peduli dengan nilainya. Dia memang sangat pemalas.

"Sembilan, sensei!" seru Sakura sambil mengangkat tangan. Tepuk tangan menyambut nilai Shikamaru yang, seperti biasa, bagus dan gemilang.

"Bagus, Shikamaru, nyaris sempurna. Baiklah, sekarang Tenten?" kata Asuma, dan Shikamaru mengangkat tangan, dengan malas tentunya.

"Tujuh, sensei," katanya sambil menguap, yang sukses membuat semua orang yang melihatnya, termasuk Asuma, sweatdrop.

"Shikamaru, jangan sampai tidur. Baiklah, Uchiha, Sasuke?" tanya Asuma. Naruto mengangkat tangannya dengan bersemangat, karena nilainya.

"Sembilan, sensei!" serunya lantang sehingga lebih tepat disebut teriakan. Asuma dan yang lainnya memaklumi karena mereka tahu, pasti Naruto senang karena akhirnya mendapat nilai bagus. Nilai sempurna, lagi!

"Oke, bagus, Sasuke. Sekarang absen terakhir... Yamanaka, Ino?" lanjut Asuma sambil bersiap mencatat nilai terakhir. Memang, di kelas ini muridnya sedikit, hanya sepuluh orang. Inilah keistimewaan Konoha University, muridnya sedikit di tiap kelasnya.

"Tujuh, sensei!" seru Kiba. Ino menghela nafas lega mendengar nilainya yang menurutnya cukup bagus. Asuma mencatat dengan cepat, dan meletakkan kembali buku nilainya di mejanya. Dia menatap wajah murid-muridnya dengan cukup senang. Nilai mereka cukup bagus untuk ulangan mendadak, walaupun ada juga yang di-remedial.

"Baiklah, minna, nilai kalian cukup bagus. Walaupun ada yang nilainya hrus di-remedial, secara keseluruhan saya bangga dengan kelas ini. Terutama Naruto, selamat ya," kata Asuma sambil tersenyum ke arah Naruto. Naruto mengagguk senang, balas tersenyum pada Asuma.


KRING! Bel istirahat berbunyi. Setelah ini akan ada pelajarannya Kurenai, istri Asuma yang juga mengajar di kelas Naruto, dan mereka harus bersiap menghabiskan 2 jam dengan penjelasan panjang dari wanita itu. Makanya, saat istirahat adalah saat paling menyenangkan bagi murid. Dan seperti biasa, Naruto berjalan menuju atap. Tapi tidak dengan kotak bento-nya, karena ini belum waktu makan siang.

Baru selangkah keluar dari kelas, Naruto sudah diserbu oleh teman-temannya. Naruto kaget saat semuanya berseru heboh dan menyalaminya. "Wah, Naruto, kau hebat! Aku tidak percaya nilaimu mengalahkan si jenius Shikamaru dan Sasuke!" seru Lee sambil merangkul Naruto. "Oi, Naruto, kau tidak bagi-bagi jawaban denganku tadi. Dasar!" kata Kiba sambil menepuk-nepuk bahu Naruto.

Naruto tersenyum dan tertawa mendengar pujian teman-temannya. "Ah, itu bukan apa-apa, kok," sahut Naruto. Saat mereka sedang ramai 'merayakan' nilai Naruto, seorang gadis lewat dan menyapa merekaa.

"Ohayou, minna. Wah, sepertinya kalian sedang senang ya. Ada apa?" tanya gadis itu. Semuanya menoleh, dan Naruto tampak terkejut. Dia langsung menyeruak dari kerumunan dan menghampiri gadis itu.

"Hinata-sensei!" seru Naruto dengan mata bersinar melihat Hairess Hyuuga itu. Hinata balas tersenyum padanya.

"Naruto-kun kelihatannya sedang senang? Ada apa?" tanya Hinata lagi. Naruto langsung menampakkan cengiran khasnya, yang menghangatkan hati Hinata. Naruto tiba-tiba menarik tangan Hinata, yang langsung membuat pipi Hinata merona merah. Naruto langsung membawanya cepat, sebelum teman-temannya menyoraki mereka.

"Na-Naruto-kun..." gumam Hinata, merasa sangat malu. Pipinya yang merona semerah kepiting rebus itu terasa panas sekarang. Naruto yang kebetulan menoleh ke arah gadis indigo itu, panik melihat wajah Hinata.

"Hinata-ch, ups, Hinata-sensei kenapa? Wajah sensei merah sekali, sakit ya?" tanya Naruto panik. Tangannya tanpa sadar menggenggam tangan Hinata dengan lebih erat. Hinata makin blushing, tapi dia berusaha menenangkan diri.

"T-tidak, aku tidak apa-apa, Naruto-kun," jawab Hinata lirih. Dia memalingkan pandangannya dari Naruto, manunduk.

"Oh, baiklah, kukira sensei sakit. Aku khawatir, lho," kata Naruto sambil mengelus pipi Hinata dan menempelkan tangannya di dahi gadis itu. Tidak panas. Naruto menghela nafas lega. Sedangkan Hinata, blushing karena pipi halusnya dielus oleh Naruto. Jantungnya berdegup kencang, seperti biasa saat bertemu Naruto. Hinata tidak mengerti, perasaan apa ini?

"J-jadi, Naruto-kun mau apa membawaku ke sini?" tanya Hinata lembut. Naruto seakan teringat dengan rencananya.

"Iya, aku ingin sensei mengajariku lagi. Besok ada PR lagi, dan aku kesulitan mengerjakannya. Bantu aku lagi, ya~" pinta Naruto dengan puppy eyes-nya. Sebenarnya, Naruto tidak perlu puppy eyes, karena Hinata pasti selalu mau mengajari Naruto.

"Baiklah, sekarang di mana?" tanya Hinata. Naruto tersenyum lebar mendengarnya. Sebenarnya, Naruto bukan hanya ingin mengerjakan PR, tapi juga ingin bersama dengan Hinata.

"Yes, arigatou, Hinata-chan~ Bagaimana kalau pulang sekolah, di atap?" tawar Naruto. Hinata menimbang-nimbang sejenak, dan akhirnya mengangguk menyetujui. Senyum manisnya terkembang di wajahnya. Akhirnya keduanya berjalan lagi menuju kelas, dan tanpa sadar, dengan bergandengan tangan. Tentu saja ini disambut oleh suitan dan sorakan teman-teman Naruto. Tapi, Sasuke kelihatan makin tidak suka dan menjauhi Naruto.


Kejadian seperti ini berlangsung selama seminggu. Dan hubungan Naruto dengan Hinata pun makin dekat. Kini Naruto biasa mengantar Hinata pulang, atau mereka belajar bersama di atap sepulang sekolah. Naruto dan Hinata memang sangat serasi, kalau sedang berjalan-jalan berdua, mereka sering dikira sepasang kekasih. Kalau sudah begitu, pasti mereka hanya blushing dan mengelak.

Dan ini terjadi lagi hari ini. Ujian akhir makin dekat, dan semua dosen memberikan tugas lebih banyak dari biasanya. Dengan tingkat kesulitan yang tentunya meningkat, semua murid merasakan imbasnya. Naruto juga sama, makanya akhir-akhir ini Naruto sering pulang terlambat karena belajar bersama Hinata. Untunglah, karena nilainya semakin membaik, tak jarang dia mendapat sembilan puluh atau seratus.

Istirahat siang itu, Naruto tidak langsung pergi ke atap. Dia mencari Hinata dulu, untuk memintanya mengajarinya lagi. Mereka memang melakukannya secara rutin, seakan sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. Ditemukannya Hinata di halaman belakang kampus. Saat Naruto akan menyapanya, tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki yang sangat dikenal Naruto. Naruto langsung bersembunyi dan mengintip.

"...Hinata, untuk apa kau pergi dengannya?" tanya laki-laki berambut raven itu. Naruto tahu itu siapa. Itu sahabatnya, Sasuke! 'Untuk apa si Teme bersama Hinata? Dan sejak kapan si Teme memanggil Hinata seperti itu?' batin Naruto penasaran.

Hinata menunduk saat Sasuke mendesaknya ke pohon. Kentara sekali dia tidak nyaman. "Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Naruto-kun. Percayalah, Sasuke-kun," jawab Hinata pelan. Naruto makin heran, kenapa namanya disebut-sebut?

"Hinata, kau tahu kan, kalau kita..." perkataan Sasuke terpotong oleh Hinata. Gadis itu menyentuh dada sang Uchiha dengan lembut.

"Cukup, Sasuke-kun. Jangan sebut itu di sini, kumohon," pinta Hinata sambil menatap Sasuke dengan mata berkaca-kaca. Sasuke sepertinya luluh melihat Hinata yang hampir menangis, dan dia berhenti.

"Gomen, Hinata. Aku tidak bermaksud membuatmu menangis," bisik Sasuke. Hinata mengangguk pelan, menghapus air mata yang telah menetes dari mata lavendernya. Sasuke memeluk pelan Hinata, dan berjalan pergi. Hinata membiarkannya pergi, tidak menyadari bahwa Naruto sejak tadi memperhatikan mereka dengan sakit.

Naruto mencoba menyingkirkan perasaan buruknya, lagipula dia tidak punya hubungan apapun dengan Hinata. Dia tak berhak cemburu. 'Tunggu, apa aku cemburu? Aku tidak punya hubungan apapun dengan Hinata-chan, tapi kenapa aku cemburu?' batin Naruto. Laki-laki itu sungguh tidak mengerti dengan perasaannya saat ini.

"N-Naruto-kun? Sedang apa di sini?" tanya Hinata kaget saat dia melihat Naruto. Hinata takut kalau Naruto mendengar semua percakapannya dengan Sasuke.

Naruto memutuskan untuk berpura-pura tidak melihat Hinata bersama Sasuke tadi. "Umm... Aku ingin mengajakmu belajar bersama lagi pulang sekolah. Mau, kan?" tanya Naruto sambil memasang senyum palsu.

Hinata masih khawatir, dan mencoba memastikan bahwa dugaan terburuknya tidak benar. "Sudah lama menunggu?" tanyanya cemas.

Naruto menggeleng. "Tidak, aku baru saja datang. Jadi, bisa kan pulang sekolah di atap, seperti biasa?" tanya Naruto lagi.

Hinata menghela nafas lega mendengar jawaban Naruto. Gadis itu tidak ingin Naruto mengetahui rahasianya. "Oh, baiklah. Kita bertemu di atap, ya," jawab Hinata sambil tersenyum manis. Naruto membalas tersenyum padanya, dan berjalan pergi dengan lambaian. Hinata balas melambai, walaupun gadis itu merasa ada yang aneh.

'Sudahlah, Hinata, itu hanya perasaanmu saja,' batin Hinata, dan dia juga melangkah pergi.


-SKIP TIME-

Hinata berlari menuju atap kampus dengan terburu-buru. Dia terlambat menemui Naruto karena ada dokumen yang harus diurusnya. Sesekali diliriknya jam tangan yang terus berdetik tanpa henti. Terkadang waktu memang kejam. Waktu tak pernah peduli pada pernderitaan orang-orang. Waktu takkan berhenti walaupun manusia mengharapkannya. Waktu takkan dipercepat waupun manusia menginginkannya.

Dan ketidakadilan waktulah yang membuat Hinata mempercepat langkahnya. Sang Hairess Hyuuga itu telah terlambat tiga puluh menit. 'Kuharap Naruto-kun masih di sana,' batin Hinata. Dan sepertinya Kami-sama mendengar doanya. Naruto masih menunggu di sana, sedang membuka-buka buku pelajarannya. Matanya terangkat dari buku tebal itu.

"Hai, Hinata-chan. Aku sudah menuggumu," sambut Naruto sambil tersenyum dan melambai. Hinata balas tersenyum, dan menghampiri Naruto. Gadis itu duduk di sampingnya, bersandar ke tembok.

"Gomen, aku ada urusan mendadak, jadi terlambat. Maaf sekali ya, Naruto-kun," kata Hinata sambil mendongak, menatap wajah Naruto. Naruto tersenyum kecil dan mengusap lembut rambut indigo itu. Hinata memejamkan kedua matanya, merasakan sentuhan tangan Naruto di rambutnya.

"Tidak apa-apa, Hinata-chan," balas Naruto. Dia meletakkan tangannya dan menyandarkan kepalanya di atas kepala Hinata. Hinata menyentuh pelan dada bidang Naruto, mencengkeram erat seragam Naruto. Mereka berpelukan dalam waktu yang cukup lama.

'Untukmu, aku akan menunggu walaupun harus selamanya, Hinata,' batin Naruto. Dihirupnya aroma surai indigo Hinata, meyakinkan hatinya akan perasaan dalam hatinya.

Naruto dan Hinata berpandangan, cahaya dari shappire dan lavender itu berhadapan. Bersama menjadi suatu kesatuan. Naruto menyentuh dagu Hinata perlahan, dan mendekatkan wajah gadis cantik itu ke wajahnya. Hinata awalnya terkejut mengetahui maksud Naruto, tapi gadis itu perlahan memejamkan matanya. Naruto yang telah 'diizinkan' Hinata, kangsung melanjutkan.

Wajah mereka makin dekat, 5 cm... 3 cm... 1 cm... Dan akhirnya bibir keduanya bertautan. Keduanya tampak menikmati setiap detik, membagi kehangatan bibir mereka berdua. 'Manis dan basah... Jadi ini rasanya bibir Hinata,' batin Naruto. Tangannya mulai bermain, mengelus pelan wajah Hinata. Hinata menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Naruto, mencengkeram baju seragam laki-laki di hadapannya.

Naruto mengelus pipi Hinata, dan menyampirkan rambut indigo Hinata. Kedua tangannya memainkan surai indigo itu, menghirup aroma shampo lavendernya dalam-dalam. Hinata juga memindahkan tangannya, perlahan merambat ke punggung Naruto. Dipeluknya Naruto dengan penuh kasih.

Mereka bertahan dalam posisi seperti itu dalam waktu yang cukup lama. Akhirnya Naruto dan Hinata melepas ciuman mereka. Itu bukan ciuman nafsu, bukan juga ciuman sekadar lewat yang tak bermakna. Itu hanyalah ciuman yang tak meminta lebih, selain menyalurkan perasaan masing-masing. Tanpa kata-kata, tanpa pandangan mata, tanpa segala hal tidak penting. Perasaan mereka masing-masing telah tersampaikan.

Naruto tersadar. Getaran perasaan yang selama ini terpendam di dadanya, kini membuncah. Perasaannya pada Hinata yang tak pernah dapat dijelaskan, perlahan mulai jelas. Naruto mulai menyadari, perasaan yang selalu dirasakannya saat bersama Hinata. Ya, Naruto memang mencintai Hinata.

Dan hal yang sama terjadi pada Hinata. Gadis itu sekarang tak bisa mengelak lagi dari perasaannya. Walaupun Hinata tahu, perasaannya tidak akan bisa diterima, tapi perasaan Hinata pada Naruto tetap sama. Gadis Hyuuga itu akhirnya menyadari, getaran yang selama ini selalu dirasakannya. Hinata harus mengakuinya, kalau ia mencintai Naruto.

'Tapi aku tidak boleh mencintaimu, Naruto-kun. Ini... Cinta terlarang...' batin Hinata sendu. Perjanjian itu yang membuatnya tak bisa memiliki laki-laki berambut pirang di hadapannya. Perjanjian yang mengikat kebebasan Hinata.

Naruto telah menetapkan tekadnya. Kali ini, dia tidak boleh menunda-nunda lagi. Perasaannya tidak akan ia pendam selamanya. Gadis cantik di hadapannya telah menanti. Hinata adalah cinta pertama, terakhir dan sejati Naruto. Naruto akan menyatakannya sekarang. Ya, Naruto akan mengatakan itu sekarang.

"Hinata-chan!" seru Naruto sambil menggenggam tangan Hinata erat. Hinata menatapnya dengan ekspresi yang tak dapat dijelaskan. Naruto mengeratkan genggamannya pada kedua tangan mungil Hinata.

"Hinata, a-aku... Aishiteru! Aku cinta padamu, Hinata-chan! Maukah kau menjadi pacarku?" kata Naruto keras. Hinata sangat terkejut mendengar pernyataan cinta Naruto. Tapi gadis itu tidak merasa sangat bahagia, sedangkan kesedihan mendominasi. Dia menunduk menatap lantai. Air mata sudah mendesak ingin keluar dari mata lavendernya.

Hinata menepis genggaman tangan Naruto. Naruto kaget dan heran dengan sikap Hinata. Apalagi Hinata terus menunduk, seakan tidak mau menatap Naruto. Gadis itu bangkit, dan diikuti oleh Naruto. Jari mereka yang masih bertautan, sudah hampir terlepas. Hinata lalu mengangkat wajahnya, kristal bening telah menetes dari mata lavendernya. Naruto sangat tidak menduga ini. Air hujan pun menetes perlahan dari langit, menyambut titik air mata sang putri.

"Gomen, Naruto-kun... Aku tidak bisa, gomen..." lirih Hinata sambil melepaskan jari-jemari lentiknya dari tautan Naruto. Gadis itu segera berlari, meninggalkan Naruto sendiri. Hinata terus berlari, tanpa memedulikan ke mana kakinya melangkah. Hujan makin deras membasahi bumi, dan juga membasahi tubuh sang Hairess Hyuuga. Air mata yang mengalir di wajahnya tersamar dengan air hujan.

Di tengah deru air hujan yang membuat semua orang bergegas pulang, gadis indigo itu justru berhenti di tengah hujan. Tatapan matanya kosong, memandang ke langit kelabu yaang terus meneteskan air. Tubuhnya sudah menggigil kedinginan, tapi Hinata tidak peduli. Rasa sakitnya telah membutakan semua syaraf dalam dirinya. Hinata mengalunkan suara lirihnya, tak terdengar.

"Gomen, Naruto-kun. Aishiteru yo..."

.

~TSUZUKU~TO BE CONTINUED~BERSAMBUNG~

.

Huwaa, panjang banget, males juga ngetiknya!

Minna, Shana di sini untuk menyampaikan beberapa patah kata untuk readers sekalian. Selamat menikmati...

Sasuke : (tiba-tiba muncul) Woy, author, apaan tuh? Masa gue dapet perannya dikit amat? Romance gue sama Hinata mana?

Shana : Lah, Sasuke muncul. Yee, ini kan tuntutan script. Mending elo gue kasih peran, tadinya sih gue ga mau ngasih lo peran. Secara, gue NaruHina Lover sejati, jadi gue ga rela elo sama Hinata!

Naruto : (tiba-tiba muncul juga) Shana-chan, makasih ya~ *mata bling-bling*

Shana : Eh, Naruto. Apaan Nar, kok tiba-tiba bilang makasih?

Naruto : Makasih karena elo udah bikin adegan kiss gue ama Hinata

Shana : Tenang, gue kan NHL... *busungin dada*

Hinata : (dateng sambil malu-malu) A-ano, minna...

Shana : Kyaa, Hinata-chan... Ada apa? *muka seneng, secara Hinata kan chara perempuan fav Shana*

Hinata, Naruto, Sasuke : Sekarang bagian bales review, kan? Buruan!

Shana : Okeh, ini dia...

- Natsu D. Luffy : Hai, Natsu-san. Hehe, Sasuke sama Hinata itu... Baca aja lagi ya. Makasih atas pujiannya, Shana tersanjung. Umm, saya ga bisa update secepet Natsu-san, tapi akan Shana usahakan, oke?

- Nata : Wah, makasih udah menyukai fic ini. Tenang, Sasuke ga mungkin bisa memecahkan NaruHina, Shana ga akan ngebiarin! #plak... Oke, ini dia chappy-nyaaa...

- pik : Makasih, Shana emang lagi mood yang sedih gitu. Heheh, jawabannya hampir benar, kok. Oh iya, Shana juga ga tau chapter 4 atau bukan, mungkin lebih, biar penasaran. Gomen lama menunggu ya...

- Fariz-san : Yup, seperti tebakan Fariz-san. Okey, nih update untuk Fariz-san!

- Lavender-vs-Sakura : Akan Shana pertimbangkan. Makasih udah suka chapter 2, semoga yang chapter 3 juga ya...

- Yamanaka Chika : Hai Chika-chan, telat review yah? Ga papa kok, tenang aja. Makasih atas pujiannya, Shana seneng banget! Oke, update~

- YamanakaemO : Yup, NaruHina emang perfect! Ya, Sasuke emang ga suka, coba tebak kenapa? Oke, see you now! (bahasa inggris apaan tuh?)

- Megu-Megu-Chan : Ga papa kok, yang penting baca. Ya, konflik dimulai. Baca aja biar tau, hehehe... #plaak... Oke, ini update ya. Ganbarimasu!

- L-The-Mysterious : Makasih ya, pujiannya. Gomen soal typo-nya ya. Oh, awalnya kecepetan? Yah, Shana sih bakal bikin konfliknya lebih seru, makanya Shana bikin awalnya lebih cepet biar nanti ga kebanyakan chapter. Oke, ini udah update...

Shana : Huwa, banyak juga review-nyaa! Makasih ya...

Sasuke : Apaan nih? Masa gue mau dibales? Apa salah gu-hmmph *dibekep Shana*

NaruHina : *Mesra-mesraan di pojok*

Shana : Diem ga lu, Sas! Dan oy, NaruHina, jangan mesra-mesraan mulu. Nikah aja belom... Ah sudahlah, daripada author note ini makin kacau, lebih baik...

All : REVIEW PLEASE!