Let's Get Married, Sensei!
CHAPTER 4 IS ON AIR! UPDATED, GUYS! READ IT! *dihajar warga sekampung karena berisik*
Yo, kita ketemu lagi, minna... *peyuk-peyuk readers* *digampar massa*
Waduh, gomen nasai, minna. Shana lama banget update karena biasalah, wabah males menyerang pas liburan. Apalagi Shana nilainya bagus, jadi liburannya nikmat banget. *readers : banyak bacot lu, mulai aja fic-nye!* Iye, iye, sabar dong. Nah, tanpa banyak bacot lagi, seperti permintaan readers, Happy Reading!
Summary : "Naruto, kau lemas sekali hari ini. Kenapa?"/"Naruto, aku ingin bicara denganmu."/"Ayo kita jalan-jalan, berdua!"/ Hinata merasa bersalah karena menolak Naruto. Tapi rahasianya mulai terbongkar. Dan akhir yang mengejutkan?
Rating : T
Pairing : NaruHina
Genre : Romance
Warning : OOC, typo, abal, gaje, update lelet, salah kata, dan lain-lain...
Disclaimer : Masashi Kishimoto sayang, boleh gak aku minta Naruto? *digeplak om Masashi* Dasar pelit, week...
.
( + . + )a Let's Get Married, Sensei! ( + . + )a
.
"Hiks... Gomen, Naruto-kun, hiks..." lirih Hinata di tengah hujan. Tubuhnya sudah basah kuyup dan gemetar kedinginan. Mata lavendernya terus mengalirkan air mata, walaupun tersamarkan oleh tetes air hujan yang turun dengan derasnya dari langit kelabu. Sesekali diselingi oleh kilat dan petir yang seakan siap menyambar siapapun yang menghalanginya.
Gadis Hyuuga itu menepi ke pinggir, membiarkan kendaraan melaju dengan terburu-buru, berusaha menghindari ribuan titik air hujan. Langit benar-benar gelap dan udara sangat dingin, bagaikan matahari tak berkenan lagi untuk menghangatkan atau sekadar menyinari bumi. Tampaknya langit ikut menangis, mengiringi kesedihan hati Hinata.
Cukup, sudah cukup semua penderitaan yang diterima Hinata. Sudahi semua beban yang ditanggung Hinata. Gadis cantik itu sudah tidak sanggup menerima segala cobaan ini. "Kumohon, Kami-sama, aku sudah lelah. Aku sudah lelah dengan semua ini. Jangan berikan aku lebih banyak derita," lirih Hinata. Suaranya sungguh sangat menyayat hati.
Tubuh Hinata sudah sangat menggigil sekarang. Wajahnya memucat dan bibirnya membiru. Tapi gadis itu masih enggan untuk menjauhi sang hujan. Menurutnya, hujan adalah berkah dari Kami-sama yang harus disyukuri, bukan dijauhi. Sayangnya, jika kini Hinata tidak segera menjauh dari hujan, keyakinannya itu hanya kenangan.
Hinata masih terisak, tangannya memeluk tubuhnya, mencoba memberikan sedikit kehangatan. Dia terus menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan kesedihan dan kedinginannya. "Naruto-kun, maafkan aku..." lirihnya lagi.
"Sebelum kau meminta maaf padaku, lebih baik pikirkan dirimu sendiri dulu, Hinata," bisik seorang laki-laki di telinga Hinata. Hinata tersentak mendengar suara lembut itu. Dan seketika, Hinata merasa hujan bagaikan telah berhenti.
Hinata membalikkan tubuhnya dengan cepat. "Na... Naruto-kun!" serunya kaget. Naruto memayungi Hinata dengan jas seragamnya, melindungi Hinata dari derasnya hujan. Laki-laki pirang itu tersenyum lembut padanya. Entah kenapa, hati Hinata terasa sangat hangat dan damai saat melihat senyuman Naruto yang menurutnya menyerupai matahari.
"Hinata-chan, jangan hujan-hujanan. Nanti Hinata-chan sakit," peringat Naruto, tersenyum lagi. Hinata tersadar dari lamunannya, dan menunduk. Hatinya sakit hanya dengan mendengar suara Naruto saja. Apalagi dia tahu, kalau senyum Naruto itu dipaksakan. Rasa bersalah mulai mendera hatinya.
"Ya ampun, Hinata-chan, badanmu dingin sekali! Ayo, kuantar kau pulang," kata Naruto sambil menarik tangan Hinata pelan. Hinata hanya dapat mengikuti, pasrah saja. Hatinya sedang terombang-ambing oleh kegelisahan dan rasa bersalah, sehingga dunia tidak dipedulikannya.
"Hinata-chan, ayo naik," ajak Naruto sambil menunjuk motor Ducati miliknya. Hinata mengangguk lemah, rasanya tenaganya sudah tak bersisa lagi. Naruto seakan tahu, dan menawarkan uluran tangannya untuk membantu Hinata naik. Hinata tertegun sejenak, kemudian tersenyum lembut dan menerimanya. Setelah Hinata naik, Naruto segera memacu motornya.
"Gomen, Hinata-chan, kau masih kehujanan begini. Harusnya aku bawa mobil tadi," sesal Naruto. Hinata benar-benar dibuat terkejut oleh Naruto. Bahkan setelah Hinata menolaknya dan meninggalkannya, Naruto masih dapat membantunya dan tersenyum padanya. Dada Hinata sungguh sesak karena penyesalan sekarang.
"Tidak, tidak apa-apa, Naruto-kun. Justru akulah yang harusnya meminta maaf karena ketidaksopananku tadi siang..." lirih Hinata. Ingatannya tentang kejadian tadi siang sungguh membuatnya ingin menangis lagi.
"Tidak. Aku tahu pasti ada alasan di balik penolakan Hinata-chan, justru aku yang lancang menembakmu. Gomen," balas Naruto. Keduanya terdiam, hingga akhirnya laju motor Naruto melambat dan berhenti di depan kediaman Hyuuga.
"Hinata-chan, kuantar ya?" tawar Naruto. Sekali lagi, diulurkannya tangannya untuk membantu Hinata turun.
"Ah, tidak usah, Naruto-kun. Aku sudah terlalu merepotkan Naruto-kun," tolak Hinata halus. Sebenarnya alasannya adalah Hinata tidak ingin berada dekat Naruto. Tapi Hinata tahu kalau dia mengatakannya, maka Naruto akan lebih tersakiti.
"Oh, baiklah. Hati-hati ya, ja ne," kata Naruto sambil memakai helm-nya lagi. Hinata mengangguk dan melambai, sampai akhirnya Naruto benar-benar menghilang dari pandangannya.
Hinata lalu berbalik memasuki rumahnya. Gadis itu sangat khawatir akan dimarahi ayahnya, Hiashi. Dan dugaannya benar. Hiashi sudah menantinya di depan pintu. Kepala keluarga Hyuuga itu langsung bertanya tajam padanya.
"Hinata, dari mana saja kau? Basah kuyup pula. Dan kenapa anak itu yang mengantarmu?"
"Tou-san, ini bukan yang tou-san pikirkan. Aku..."
"Jawab pertanyaan tou-san, Hinata!"
"Aku... Aku... Tidak melakukan apa-apa dengan Naruto-kun."
"Jangan bohong, Hinata. Tou-san tahu bagaimana kamu berbohong, jangan kira tou-san dapat ditipu."
Dan pernyataan ayahnya tadi sungguh membuat Hinata gelisah. Berkata jujur atau berbohong, rasanya akhirnya sama saja. Pepatahnya, bagaikan makan buah simalakama. Hinata menarik nafas, memutuskan untuk sekali ini saja, dia harus berbohong.
"Tadi Hinata habis belajar bersama dengan Naruto-kun. Tapi tiba-tiba hujan, dan kami basah karena naik motor," jelas Hinata. Hiashi mengernyitkan keningnya, tidak suka mendengar kata 'belajar bersama'.
"Hinata, kau tahu kan, kalau kau dan 'dia' sudah ada hubungan? Kita harus membalas budi baik keluarga'nya'. Jangan dekat-dekat dengan si... Siapa namanya? Naruto, ya... Jangan dekat-dekat dengan si Naruto itu!"
"Tapi, tou-san..."
"Tidak ada tapi-tapian! Sudah, sekarang kau ganti baju dan mandi, jangan sampai masuk angin karena hujan-hujanan."
"Baik, tou-san."
Dan setelah berdebat dengan ayahnya, Hinata memilih mematuhinya. Lagipula ayahnya ada benarnya juga. Jangan sampai dia masuk angin karena baju basah, apalagi besok jadwalnya sibuk sekali di kampus. Hinata meletakkan tasnya di atas meja kerjanya dan berjalan pelan menuju lemari.
"Baju ini bagus, rasanya sudah lama aku tidak memakainya. Aku ingin memakainya," gumam Hinata dengan sebuah dress berwarna oranye cerah. Terdapat gambar matahari di tengahnya, dan pita biru di bagian pinggang. Lengannya pendek, dan di sisinya dibordir warna putih. Sungguh cantik untuk sebuah dress rumah.
Setelah menyiapkan baju dan pakaian dalamnya, Hinata segera menanggalkan pakaiannya yang basah. Setelah di tubuhnya tak terdapat sehelai pun benang, gadis Hyuuga itu segera memasuki bath tub-nya yang telah berisi air hangat.
"Ah, hangatnya. Aku suka berendam, apalagi hari ini sabunnya aroma lavender," gumam Hinata sambil berendam. Kepalanya bersender ke senderan kepala di ujung bath tub, dan ujung kakinya terekspos di ujung lainnya. Setelah dirasanya cukup, Hinata bangkit dan mandi. Shampo dan sabunnya telah tersedia, aroma lavender kesukaannya.
Brush! Air shower tumpah ke tubuhnya bagaikan hujan. Hinata segera membasahi rambut indigonya yang panjang itu. Jika diukur, rambutnya bisa sampai sepinggang. Hinata segera memakai shampo dan sabun, tidak ingin memboroskan air.
Hinata membilas tubuh dengan air lagi, sehingga tidak ada setitik pun busa shampo atau sabun yang tersisa. Tapi Hinata masih betah tinggal di sana, membiarkan tubuhnya dan luka hatinya terhapus oleh air.
"Naruto-kun..." lirihnya. Lagi-lagi air mata harus mengaliri wajah cantiknya. Hatinya terasa sangat perih oleh rasa penyesalan. Mengapa dia harus menolak Naruto? Mengapa takdir Kami-sama begitu kejam padanya? Mengapa hidupnya selalu terkekang? Dan mengapa... 'Dia' harus muncul dalam hidupnya?
Hinata hanya bisa bertanya itu. Tetapi, tak peduli apakah Hinata bertanya dalam diam ataupun menjerit, semuanya diam membisu. Tak ada yang menjawab, entah tak mau atau tak mampu. Bahkan rumput yang bergoyang pun tak mampu menjawabnya.
Hinata mengepalkan tangannya erat di dinding. Air shower masih membasahi wajahnya, menyamarkan kristal bening yang masih setia keluar dari mata lavender Hinata yang indah. Menyembunyikan kilauannya dalam suatu sorot kesedihan.
"Kami-sama, kumohon... Kumohon hentikan semua ini..."
"Kami-sama, apa kau tidak mendengar permohonanku? Jawablah aku!"
"Kami-sama, aku ingin bebas. Aku ingin hidup tanpa ada yang mengekangnya. Apa itu berlebihan?"
"Kami-sama, berapa banyak doa yang harus kupanjatkan agar kau mengabulkan permohonanku? Kumohon, aku hanya... Ingin bersamanya. Bersama Naruto-kun..."
Rasanya mulut Hinata tak henti-hentinya memanjatkan doa pada Kami-sama. Memohon agar permintaannya dikabulkan. Tidak peduli walaupun bibirnya akan terluka, membiru, Hinata tidak peduli. Dia hanya ingin Kami-sama mendengar doanya, apa itu terlalu banyak? Sepertinya tidak.
"Ah, sudahlah. Lebih baik aku berendam saja untuk menenangkan diri," gumam Hinata pada dirinya sendiri. Masih dengan tubuh yang terbuka, Hinata masuk lagi ke bath tub-nya. Air meluap keluar saat tubuh langsing Hinata masuk ke dalam. Hinata bersender lagi.
"Ah, apa yang sedang dilakukan Naruto-kun, ya?" gumam Hinata. Matanya memandang langit-langit kamar mandinya yang yang indah dan cerah karena lampu yang cantik dan elegan. Tiba-tiba Hinata tersentak dan menepuk kepalanya.
"Ah, apa yang kupikirkan? Aku tidak boleh memikirkan Naruto-kun. Jika aku tidak segera melupakannya, maka... 'Dia' akan tahu," lirih Hinata. Tanpa sadar, setetes kristal bening menetes dari sang lavender, mengalir di sepanjang pipi Hinata, dan akhirnya terjatuh menjadi pusaran air di bath tub.
Hinata menangis lagi. Gadis itu merasa sangat sakit, tapi yang dapat dilakukannya hanyalah duduk memeluk lututnya. Hinata merasa sangat lemah, yang dapat dilakukannya hanyalah menangis dan menangis. Hinata tidak mau menjadi perempuan yang manja dan cengeng, tapi apa daya, Hinata tidak dapat menahan gejolak rasa di hatinya.
"Aku tidak boleh lemah. Seorang Hyuuga tidak boleh lemah. Sadarlah, Hinata, jangan cengeng! Aku harus kuat, dan menjalani hidupku sesuai suratan takdir," kata Hinata pada dirinya sendiri.
Hinata bangkit sambil menyeka air matanya. Menghapus tanda kesedihan hatinya yang tak terbendung. Sungguh, siapa yang menyangka, di balik kelemahlembutan dan kemanisan seorang Hinata Hyuuga, tersembunyi sebuah tekad dan kesabaran yang takkan tertandingi oleh siapa pun. Hinata sangat lihai dalam memakai topeng untuk menyembunyikan perasaannya. Hinata tidak mau menyusahkan orang lain karenanya. Sungguh baik gadis ini.
"Hinata-nee, sebentar lagi makan malam. Ayo turun," panggil Hanabi dari lantai bawah. Hinata tersadar dan menoleh ke arah jam dinding di kamarnya. Memang sudah hampir waktu makan malam.
"Ya, Hanabi-chan. Nee-chan pakai baju dulu," sahut Hinata sambil segera memakai dress yang dipilihnya tadi, dan berdandan sedikit. Hasilnya, Hinata sudah cantik bagaikan seorang bidadari, walaupun tanpa make-up berlebihan.
Begitu Hinata membuka pintu kamarnya, Hanabi sudah ada di sana. "Akhirnya Hinata-nee keluar. Ayo, tou-san dan Neji-nii sudah menunggu," ajak Hanabi yang langsung menarik Hinata.
"A-ah, chotto matte, Hanabi-chan," kata Hinata sambil mengikuti lari Hanabi. Rambut indigonya berkibar karena angin meniupnya, menyebarkan aroma lavender dari helaiannya.
Akhirnya mereka sampai di ruang makan. Neji sedang meminum tehnya perlahan. Hiashi sedang membaca koran, kemudian menurunkan dan meletakkannya setelah melihat kedua putrinya telah bergabung dengan mereka. Hanabi mengambil tempat duduk di dekat kakaknya, sedangkan Hinata duduk manis di dekat Neji.
Setelah semuanya duduk, para koki yang memasak makan malam segera keluar dengan membawa sajian terbaiknya. Sebenarnya yang biasa memasak adalah Hinata, tapi sejak dia menjadi dosen, Hinata sangat sibuk dan tak sempat memasak lagi.
"Huwaa, sugoi desu~ Makanannya kelihatan enak sekali," kata Hanabi dengan mata berbinar. Teriyaki, sukiyaki, ebi katsu, ebi furai, chicken katsu, onigiri, sushi dan sashimi disajikan. Lalu ada juga makanan internasional seperti spagetthi, steak, salad, dan lain-lain juga ada. Keluarga Hyuuga memang sungguh keluarga yang kaya.
"Ah, oishi!" seru Hanabi sambil tersenyum. Hinata tersenyum melihatnya. Adik kecilnya ini memang gadis yang sangat manis seperti waktu masih kecil, hingga tanpa terasa kini dia sudah menjadi remaja berumur 16 tahun.
"Hanabi, jangan bicara sambil makan," peringat Hiashi. Hanabi menoleh ke ayahnya dan mengangguk patuh, dan makan malam berlangsung tenang. Keluarga Hyuuga memang sangat mematuhi manners, makanya Hinata dan Hanabi menjadi gadis yang manis dan anggun.
"Gochisou samadeshita. Hinata ke kamar dulu ya, tou-san," kata Hinata setelah meletakkan sumpitnya dan mengelap mulutnya. Hiashi menagngguk dan melanjutkan membaca korannya yang tertunda. Neji dan Hanabi juga bangkit dan menuju kamar masing-masing.
Bruk! Hinata merebahkan tubuhnya di atas kasur queen size miliknya. Rambutnya terurai lembut di atas kasur yang berlatarkan seprai berwarna soft purple lavender. Rasanya segala yang berhubungan dengan Hinata adalah lavender, karena Hinata memang sangat menyukai bunga lavender.
"Ah, aku lelah sekali. Dan besok adalah hari yang sangat sibuk untukku. Rasanya aku ingin libur sekali saja," gumam Hinata sambil menerawang. Cahaya lampu kandelar di langit-langit kamarnya terasa sangat terang, hingga Hinata harus menutup mata. Kamarnya memang mewah dan bergaya modern, berbeda dengan kamar ayahnya yang bergaya klasik Jepang.
"Aku tidak boleh bermalas-malasan. Aku harus menyiapkan materi untuk besok," kata Hinata lagi, dan dia segera bengkit menuju meja kerjanya. Setumpuk berkas dan beberapa map tertata rapi di sana. Buku-buku, makalah, dan lembaran-lembaran kertas juga telah ditaruh sesuai kegunaannya. Jadwal mengajar Hinata juga ditempel di sana untuk mengingatkannya.
"Besok aku mengajar... Di kelasnya Naruto-kun. Aku harus meminta maaf padanya tentang kejadian tadi siang," lirih Hinata. Pikirannya masih tidak tenang, padahal dia sudah meminta maaf.
Hinata memandangi sebuah kotak merah yang ada di atas meja belajarnya. Hinata segera mengalihkan pandangan, matanya terasa panas lagi. Isi kotak itu tak pernah diinginkannya, dan Hinata tidak pernah mengenakannya. Karenanyalah, Hinata harus menghadapi segala penderitaan ini.
"Sudahlah. Lebih baik aku segera menyiapkan bahan-bahan untuk besok dan tidur," gumam Hinata. Tangannya bekerja cepat membereskan segala hal yang dibutuhkannya, dan gadis Hyuuga itu segera berjalan ke tempat tidur. Sorot matanya mengatakan kalau Hinata sangat merindukan belaian angin yang bersemilir, mengantarkannya ke alam mimpi.
Sementara itu, di kediaman Namikaze. Putra tunggal Namikaze, yaitu Naruto sedang menghadapi dilema. Laki-laki berambut pirang itu sedang berada di kamar mandi, dengan air shower membasahi tubuhnya. Membiarkan segala kesedihannya mengalir bersama air. Mata shappire-nya terpejam, merasakan sentuhan dingin udara.
Naruto tak mau berlama-lama di kamar mandi pribadinya itu. Segera dia mengambil handuk dan mengeringkan seluruh tubuhnya yang basah. Air masih menetes dari rambutnya. Setelah memakai bajunya yang biasa, yaitu kaos berwarna oranye berstrip biru, dan celana biru selutut. Naruto melempar handuknya sembarangan, dan membanting diri di atas tempat tidur king size-nya.
"Hinata-chan sedang apa, ya?" gumam Naruto sambil berguling ke arah yang berlawanan. Kini matanya memandang langit luar yang masih mendung. Titik air tampaknya masih enggan untuk berhenti menetes membasahi bumi. Suasana yang suram tidak dapat menghentikan awan kelabu yang berarak dalam hati Naruto.
"Apa hubungan Hinata dengan Sasuke? Apa mereka... Menyembunyikan sesuatu dariku? Apa Hinata menolakku karena alasan itu?" gumam Naruto lagi. Ribuan pertanyaan berpusar dalam benaknya, tapi tak satupun dapat terjawab.
"Naru-chan, ayo makan malam!" panggil Kushina dari lantai bawah. Naruto segera bangkit, walaupun dia sebenarnya sedang malas.
"Ya, kaa-san," jawab Naruto malas. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah. Kushina menyadarinya, apalagi Naruto adalah anak tunggalnya. Tentu saja insting keibuannya kuat.
"Naruto, kaa-san masuk, ya," kata Kushina setelah mengetuk pintu. Wanita itu tidak memanggil Naruto "Naru-chan" lagi, menandakan kalau ini pembicaraan serius.
"Nani, kaa-san? Daijoubu ka?" tanya Naruto. Tidak biasanya ibunya itu memanggilnya Naruto, dan Naruto tahu pasti sebabnya.
"Iie, daijoubu. Naruto, ada apa?" tanya Kushina, langsung to the point. Naruto mengerutkan keningnya, heran dengan pertanyaan Kushina. Kushina menghela nafas dan memulai pembicaraan.
"Apa maksud kaa-san? Aku baik-baik saja, kok."
"Jangan bohong, Naruto. Kaa-san tahu kamu sedang ada masalah."
"..."
"Jawab kaa-san, Naruto."
"..."
"Naruto, kaa-san hanya ingin membantu. Jangan ragu untuk meminta bantuan kaa-san."
Naruto bimbang. Apakah dia harus memendam masalahnya sendiri, atau memberitahu ibunya. Kushina terus menunggu dengan sabar. Akhirnya Naruto memutuskan untuk meminta nasehat dari wanita bijak di hadapannya.
"Haah. Sebenarnya... Naruto sedang bingung, kaa-san," jawab Naruto sambil menghela nafas. Kushina mengerutkan keningnya.
"Bingung apa? Ceritakan saja, mungkin kaa-san bisa membantu," kata Kushina, ekspresinya melembut. Beban seorang anak adalah beban seorang ibu juga, jadi jika Naruto sedang frustasi dan sedih, maka Kushina juga merasakan yang sama.
Naruto menghela nafas lagi. "Ini tentang... Aku dan Hinata," jawab Naruto. Kushina tetap diam tanpa berkomentar apa-apa, mendengarkan dengan serius.
Naruto akhirnya memutuskan untuk mencurahkan segala keluh kesahnya pada Kushina. "Sebenarnya, aku mengikuti saran tou-san untuk... Menembak Hinata-chan. Dan saat aku bilang aishiteru, Hinata-chan... Dia menciumku. Kukira dia menerimaku, tapi... Hinata-chan tiba-tiba menangis, lalu dia bilang kalau dia tidak bisa menerimaku, dan dia langsung berlari meninggalkanku.
Lalu aku menemukannya sedang hujan-hujanan di jalan. Langsung kutawarkan untuk menumpang motorku. Awalnya dia menolak, yang membuatku sakit entah kenapa. Tapi karena kupaksa, akhirnya dia setuju. Tapi saat perjalanan kami diam saja, keadaannya canggung sekali. Aku tidak suka itu. Apa yang kulakukan salah?" jelas Naruto panjang lebar. Nadanya makin lama makin lirih dan sedih.
Kushina sampai tidak bisa berkata-kata mendengar kisah Naruto. Rasanya masalah yang dialami putra kesayangannya itu sangat pelik, bahkan Kushina saja tidak pernah menghadapi masalah sesulit ini. Tapi dicobanya untuk bijak dan memberi Naruto nasehat.
"Naruto, kaa-san tidak pernah mengalami masalah sesulit ini, kau harus tahu. Dan kaa-san juga tidak tahu, apakah saran ini akan membantu atau tidak. Tapi yang kaa-san ingin bilang adalah, selama Hinata belum ada yang memiliki, kejar saja dia. Tou-sanmu juga tidak menyerah untuk mendapat kaa-san. Jangan berputus asa," kata Kushina untuk menyemangati Naruto.
"Tapi itu masalahnya, kaa-san. Aku curiga, kalau... Hinata-chan punya hubungan dengan Sasuke," jawab Naruto.
Kushina mengerutkan keningnya lagi. "Kau tahu dari mana? Naruto, kau yakin tentang itu? Mungkin itu hanya perasaanmu saja."
"Tidak, kaa-san. Aku melihatnya. Aku melihat Sasuke dan Hinata berpelukan. Yah, sebenarnya Sasuke yang memeluk Hinata. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."
"Apa maksudmu dengan Sasuke memeluk Hinata? Apa mereka berpelukan di depan umum?"
"Ya tidaklah, kaa-san. Waktu itu aku ingin menemui Hinata-chan untuk memintanya mengajariku. Tapi saat aku mencarinya ke belakang kampus, kulihat Hinata dan Sasuke berduaan. Mereka membicarakan sesuatu soal 'hubungan kita', lalu Hinata menangis dan Sasuke memeluknya. Aku tidak tahu, aoa yang mereka sembunyikan."
"... Yah, kaa-san tidak tahu harus bilang apa."
"..."
Keheningan menyelimuti keduanya. Tiba-tiba suasana suram itu dipecahkan oleh ketukan di pintu. Naruto dan Kushina segera menoleh, membawa arah pandangan mereka untuk melihat siapakah yang bergabung dengan mereka. Ternyata itu Minato.
"Kushi-chan, Naruto, ayo kita makan... Lho, ada apa ini? Kenapa kalian suram begitu?" tanya Minato. Kepala keluarga Namikaze ini langsung mengambil temoat di samping istrinya.
"Ini, Naruto ada masalah di kampusnya. Dan aku tidak tahu harus bilang apa," keluh Kushina dengan pelan pada Minato.
Meinato mengerutkan keningnya. "Hah? Memangnya masalah apa?" tanya Minato lagi. Kushina mengedikkan bahu dan menatap Naruto, menyuruh Minato menanyakan sendiri pada Naruto. Minato mengangguk, dan Kushina meninggalkan mereka berdua.
"Naruto, ada apa lagi? Ini bukan seperti dirimu saja. Ceritakan pada tou-san," tanya Minato, berusaha untuk menenangkan Naruto.
Naruto memandang Minato dengan serius. Matanya menyorotkan kesedihan dan kegelisahan yang tak biasanya ditampakkan wajah tampannya. Rasanya sangat menyakitkan bagi Minato sebagai ayah untuk melihat anaknya mengalami penderitaan batun yang begitu menyesakkan diri.
"Aku... Punya masalah dengan Hinata-chan, lagi..." jawab Naruto pelan.
"Masalah apa lagi? Kemarin kan tou-san sudah memberimu nasehat."
"Yah, itulah masalahnya. Aku sudah mengikuti saran tou-san untuk berjuang, dan akhirnya... Aku menembaknya."
"Lalu ada masalah apa? Menurut tou-san, Hinata juga menyukaimu, jadi dia pasti menerimamu. Kenapa?"
"Hinata menolakku..." lirih Naruto sedih.
"..."
Minato tak dapat berkata apapun. Rasanya Naruto hanya menyatakan dua kata kebenaran, tapi itu sangat sulit dimengerti. Minato akhirnya diam seribu bahasa, membiarkan keheningan yang mendominasi suasana dapat menjawab segala kebingungan yang terjadi.
"... Apa maksudmu dengan menolakmu? Tou-san sangat yakin kau bisa mendapatkannya," sahut Minato, yang dibalas oleh gelengan dari Naruto.
"Hinata meminta maaf dan bilang kalau dia tidak bisa menerimaku. Lalu dia menangis dan berlari meninggalkanku. Aku berusaha mengejarnya, dan melihat Hinata sedang hujan-hujanan. Kutawari Hinata untuk mengantarnya pulang, tapi awalnya dia bilang tidak. Aku sebenarnya kecewa saat dia menolak tawaranku, tapi karena kupaksa, akhirnya dia mau.
Tapi saat perjalanan, kami diam saja. Keadaannya sangat canggung. Aku takut, tou-san. Aku takut kalau Hinata membenciku. Setelah kejadian penolakan itu, kami tidak bicara bebas. Dan sepertinya... Aku tidak akan bisa mendapatkannya," jelas Naruto panjang lebar, dan mengakhirinya dengan lirihan sedih.
"Apa maksudmu? Tentu saja kau bisa, kan tou-san sudah bilang kalau kau jangan menyerah untuk mendapatkannya!" seru Minato bersemangat untuk menyemangati Naruto yang sedang down.
"Tou-san tidak tahu!" bentak Naruto tiba-tiba. Minato tersentak karenanya. Selama ini, walaupun Naruto terkesan seperti bad boys, tapi dia tidak pernah membentak siapapun.
"A-ah, gomen, tou-san. Naruto hanya..." Naruto menutupi wajahnya dengan tangannya, frustasi. Ia menjambak rambut pirangnya, menariknya kuat sehingga beberapa helainya terlepas. Matanya sudah panas menahan tangis yang memaksa keluar dari kedua mata shappire-nya.
"Tidak apa-apa, Naruto. Tou-san tahu, kau sedang bingung memikirkan masalahmu. Tapi, jangan terlalu diambil hati, nanti kau juga yang menerima akibatnya," kata Minato sambil tersenyum lembut, menenangkan.
"Tapi, tou-san... Masalahnya tidak hanya itu. Kupikir... HInata benar-benar memiliki hubungan dengan Sasuke, dan itu serius. Sikap mereka jadi aneh, terutama Sasuke!" seru Naruto. Frustasi, kesal, kecewa dan bingung bercampur dan membuat suasana hatinya memburuk.
"..."
"..."
"Kushi-chan –ah, maksudku ibumu benar, aku tidak bisa berkata apa-apa. Uhm... Kalau begitu, lebih baik kau maju perlahan. Jangan terlalu menampakkan kedekatan yang menonjol, biasa saja. Ingat kata-kata tou-san ya. apapun atau siapapun yang menghalangi cinta sejati di antara dua orang yang saling mencintai, mereka tidak akan bisa memisahkannya!" nasehat Minato. Naruto hanya dapat diam, terpesona memandang ayahnya.
"Yosh, yang tadi sih tou-san tidak tahu kebenarannya, ya, jadi tou-san tidak yakin apa itu benar atau tidak! Hehe..." kata Minato sambil menepuk kepala Naruto dan tertawa lepas.
"Ah, tou-san!" seru Naruto kesal. Ayahnya ini memang sangat pintar dalam menjahili orang. Dia langsung membalas dengan memukul bahu Minato, walaupun tidak terlalu keras.
"Ah, Naruto, sakit tahu! Nah, kau sudah tidak kesal lagi, kan?" tanya Minato sambil tetap tertawa. Naruto tertegun sebentar, dan tersenyum mendengar perkataan Minato. Kedua laki-laki pirang itu tertawa.
"Ya, tou-san benar..."
Minato dan Naruto berjalan berdampingan menuju ruang makan. Kushina sudah menanti mereka dengan harap-harap cemas. Tapi wanita cantik itu langsung menghela nafas lega begitu melihat kedua lelaki yang dicintainya keluar dengan senyum mengembang.
"Naru-chan, bagaimana? Sudah lebih baik?" tanya Kushina lembut. Naruto mengangguk bersemangat, kilauan shappire di kedua bola matanya telah kembali.
"Iya, tou-san sudah memberi solusi untuk masalahku!" seru Naruto senang. Kushina dan Minato saling lirik, bahagia.
"Yokatta! Lalu, sekarang keputusan Naruto bagaimana?" tanya Kushina lagi, tampak cukup antusias.
Naruto menampakkan cengiran khasnya yang hangat. "Naruto memutuskan... Aku tidak akan pernah menyerah!" seru Naruto lagi, yang disambut senyum lembut dari kedua orang tuanya.
"Baiklah, kalau Naruto memutuskan begitu, kaa-san dan tou-san hanya bisa mendukungmu. Kejar dia, ya!" kata Minato sambil mengacak rambut Naruto pelan. Naruto mengaduh, membuat Kushina dan Minato tertawa.
"Ayo, kita makan malam!" kata Kushina sambil tersenyum. Dengan segera, tangan halusnya menarik pelan tangan Minato dan Naruto ke meja makan. Dengan berbagai hidangan menggugah selera yang tentunya membuat air liur menetes, hasil karya dari Kushina, Naruto segera melupakan masalahnya dan bersemangat lagi.
"Gochisou samadeshita! Kaa-san, tou-san, aku duluan, ya!" kata Naruto setelah piringnya bersih berkilat. Sumpitnya segera ia letakkan, dan diambilnya piring bekas makannya. Kushina dan Minato mengangguk, lalu melanjutkan makan mereka.
"Kalau Hinata-chan tahu aku mengikuti sarannya, dia akan bagaimana ya?" gumam Naruto sambil tersenyum. Tangannya bekerja cepat mencuci piring. Membayangkan Hinata selalu berhasil membuatnya bersemangat.
"Naru-chan, sudah selesai mencucinya? Ayo belajar, lalu tidur," perintah Kushina lembut. Naruto mengangguk dan segera berjalan ke kamarnya.
"Apa yang harus kupelajari, ya? Oh, iya, ada makalah yang harus kuselesaikan. Untung tinggal sedikit lagi," kata Naruto sambil mengambil laptopnya. Dibukanya sebuah file yang berisi makalah, tugas dari dosennya. Sebentar lagi Naruto, dan seluruh mahasiswa Konoha University, akan menghadapi ujian, jadi banyak juga tugasnya.
"Aah, rasanya bosan hanya seperti ini. Bagaimana kalau aku mendengarkan lagu, ya?" gumam Naruto. Diambilnya headset dan memasangkannya ke telinga. Kabelnya ditancapkan ke laptopnya, tentu saja. Disetelnya salah satu lagu, tanpa memperhatikan judulnya. Nada indah dan lembut yang menenangkan hati mulai mengalun, memenuhi benak Naruto.
"Aisaretai demo aisou to shinai
Sono kurikaeshi no naka wo samayotte
Boku ga mitsuketa kotae wa hitotsu kowakutatte kizutsuitatte
Suki na hito ni wa suki tte tsutaerunda...
I want to be loved, but you don't seem to love me
I wander within that repetition
I found one answer; that even if I'm scared, even if I'm hurt
I can say "I love you" to the person who I love
Hanya dengan mendengar lirik pertamanya saja, Naruto sudah merasa sakit. Rasanya lagu ini benar-benar mencerminkan keadaan hatinya. Tapi ini membuat Naruto menjadi semakin ingin mendalami lagu itu lebih jauh. Mata shappire-nya terpejam, merasakan setiap getaran dalam hatinya. Naruto melanjutkan mendengar alunan lagunya.
Anata ga boku wo aishiteru ka aishitenai ka
Nante koto wa mou docchi demo ii n da
Donna ni negai nozomou ga
Kono sekai ni wa kaerareru mono ga takusan aru darou
Sou soshite boku ga anata wo aishiteru to iu jijitsu dake wa
Dare ni mo kaerareru shinjitsu dakara...
Do you love me? Or not love me?
As for things like that, it's already fine either way
No matter how I wish
There are many unchangeable things in this world, right?
That's right, and because only the fact of my loving you
Is the truth unchangeable by anyone
Lanjutan liriknya sungguh sesuai dengan keadaan Naruto. Seakan penyanyinya sengaja membuat lagu ini untuk Naruto, atau terinspirasi oleh Naruto. Tanpa sadar, Naruto ikut melantunkan kata-kata indah yang tersusun dalam lagunya. Matanya masih terpejam, wajahnya terlihat sangat damai.
Sen no yoru wo koete anata ni tsutaetai
Tsutaenaka naranai koto ga aru
Aisaretai demo aisou to shinai
Sono kurikaeshi no naka wo samayotte
Boku ga mitsuketa kotae wa hitotsu kowakutatte kizutsuitatte
Suki na hito ni wa suki tte tsutaeru n da
Kimochi wo kotoba ni suru no wa kowai yo demo
Suki na hito ni wa suki tte tsutaeru n da,
I want to overcome the thousands of nights and tell it to you
There's something that I must tell you
I want to be loved, but you don't seem to love me
I wander within that repetition
I found one answer; that even if I'm scared
Even if I'm hurt, I can say "I love you" to the person who I love
It's scary to turn my feelings into words
But I can say "I love you" to the person who I love
Naruto memang ingin mengatakannya, sekali lagi. Walaupun Hinata menolaknya berulang kali, Naruto tidak akan menyerah. Walaupun Hinata tidak mencintainya, tapi Naruto tidak akan menyerah. Perasaannya pada Hinata tetap sama, takkan pernah berubah sampai akhir masa. Walaupun seribu malam telah berlalu...
Kono hiroi sekai de meguri au yorokobi wo kotoba jya ii arawasenai ne
Dakara bokutachi wa hohoemi
Iro azayaka ni sugiru aki wo doremi de utatte
Fuyu wo se ni haru no komorebi wo machi
Atarashiku umare kawaru dareka wo mamoreru youni to,
In this broad world, I can't express the joy of encountering you with words
So we smile, sing about the vividly passing autumn in do-re-mi
Turn our backs on winter, wait for the sunlight streaming through trees in spring
And become reborn anew, so that we can protect someone
'Haha...' Naruto tertawa dalam hati. Rasanya bagian ini berbeda. Naruto tidak pendai menyanyi, menurutnya. Tapi kalau Hinata memintanya, Naruto akan melakukannya. 'Apapun akan kulakukan untuk mendapatkan cintamu, Hinata,' batin Naruto. Ingin rasanya dia menyanyi seperti ini, bersama Hinata.
Kita michi to yukisaki furikaereba itsudemo okubyou
na me wo shite ita boku
Mukiaitai demo sunao ni narenai
Massugu ni aite wo aisenai hibi wo
Kurikaeshite wa hitori bocchi wo iyagatte
Ano hi no boku wa mukizu no mama de hito wo aisou to shite ita,
On the path we came from and our destination, when we looked back, I'd always have timid eyes
I want to face you, but I can't be honest
I, who repeated days of not being able to straightforwardly love my partner
And hated being alone on that day
Seemed to love people while unwounded
Naruto benci sendirian. Naruto benci kesepian. Naruto benci tersakiti. Naruto ingin merasakan cinta. Naruto ingin mencintai dan dicintai. Naruto mengakui semua itu. Dulu, Naruto tidak dapat menghadapi cinta. Dia selalu sendirian, tanpa belaian seorang kekasih. Tapi hari-hari kesendiriannya telah berlalu, sejak pertemuannya dengan Hinata. Tangan takdir memang tak dapat ditebak. Hinata telah mengubah Naruto, menjadi lebih baik.
Sen no yoru wo koete ima anata ni ai ni yukou
Tsutaenaka naranai koto ga aru
Aisaretai demo aisou to shinai
Sono kurikaeshi no naka wo samayotte
Boku ga mitsuketa kotae wa hitotsu kowakutatte kizutsuitatte
Suki na hito ni wa suki tte tsutaeru n da
Sono omoi ga kanawanakutatte suki na hito ni suki tte tsutaeru
Sore wa kono sekai de ichiban suteki na koto sa..."
I'll overcome the thousands of nights and go meet you now
There is something that I must tell you
I want to be loved, but you don't seem to love me
I wander within that repetition
I found one answer; that even if I'm scared
Even if I'm hurt, I can say "I love you" to the person who I love
Even if those thoughts aren't fulfilled, I can say "I love you" to the person who I love
Naruto akhirnya menemukan jawaban dalam lagu itu. Ya, benar. Dalam lagu yang berjudul Sen No Yoru Wo Koete itu, jawaban terselubungnya telah ditemukan oleh Naruto. Walaupun seribu malam berlalu, Naruto tetap akan menemui Hinata. Naruto benar-benar harus memberitahu Hinata. Walaupun Hinata tidak mencintai Naruto seperti Naruto mencintai Hinata, Naruto akan terus mencari. Dan akhirnya, Naruto menemukan jawabannya. Biarpun harus terluka atau merasa sakit, Naruto akan tetap mengatakannya. Naruto akan tetap mengatakan "aku cinta padamu" pada Hinata. Walaupun itu takkan terbalaskan, Naruto tetap akan mengatakan "aku cinta padamu" pada gadis yang dicintainya. Mengatakan "aku cinta padamu" pada Hinata...
"Walaupun aku tak bisa melihatmu, tak bisa mendengarmu, atau tak bisa menyentuhmu, tapi aku ingin kau tahu. Apapun yang terjadi, walaupun seribu malam berlalu, walaupun kau tak menerimaku, tapi aku akan tetap mengatakannya padamu. Aishiteru, Hinata..."
Matahari tampak muncul malu-malu dari peraduannya. Sedang bersiap untuk menyinari dan menghangatkan para penduduk bumi dan planet lainnya. Kami-sama memang adil, matahari diciptakan untuk berbagi bersama. Matahari mencontohkan pada kita, kalau kita harus menolong sesama dengan adil dan tanpa pamrih. Pagi juga telah menjelang di kota Konoha. Walaupun begitu, waktu dari jam besar milik keluarga Hyuuga yang tengah berdentang keras masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Banyak orang yang masih malas keluar dari perlindungan selimut tebal dan menantang udara dingin. Bahkan di jalanan, kabut masih membayang.
Tapi seorang gadis sudah bangun pagi dengan rajinnya. Rambut indigonya terurai lembut di punggungnya. Mata lavendernya tampak segar walaupun bekas kesenduan terpancar dari sana. Tangannya bekerja cepat memasak sarapan untuk keluarganya. Senandung terucap lirih dari bibir mungilnya. Nada-nada sedih dan keputusasaan.
Ya, Hinata sedang bersedih hati. Matanya sangat ingin bermandikan air mata, melepaskan segala kesedihannya dalam bentuk titik kristal bening yang berjatuhan dari kedua mata indahnya. Bagaikan kaca yang melapisi sesuatu yang indah dan berharga. Walaupun perih di hati, tapi Hinata berusaha tetap tegar dan menjalani hidupnya.
"Hinata, kau sudah bangun, ya?" tanya suara sebuah laki-laki di belakang Hinata. Hinata sangat kenal suara itu. Suaranya tidak seperti Hiashi yang berat dan tegas, tapi suara itu terdengar cukup ringan dan terdengar seperti remaja baru dewasa tapi berwibawa. Hinata menoleh dan tersenyum kepada pemanggilnya.
"Iya, aku sedang masak. Oh, ohayou, Neji-nii," jawab Hinata, tak lupa dengan salam selamat paginya. Neji membalas senyum manis Hinata.
"Ohayou. Masak sarapan, ya? Menunya apa?" tanya Neji basa-basi. Pembicaraan dengan sepupunya ini bisa mudah bisa sulit. Dan berhubung Neji tahu keadaan Hinata akhir-akhir ini, yaitu sedang gelisah dan frustasi, jadi cukup sulit juga untuk berbicara seperti biasa dengan gadis ini.
"Eh, apa kata Neji-nii? Sarapan, menunya? Oh, ah..." seperti dugaan Neji, Hinata tidak fokus, lagi, saat berbicara dengannya. Matanya sering tampak kosong, membuat Neji khawatir gadis yang sudah dianggapnya adik ini kenapa-napa.
"Baiklah, aku pergi dulu, ya," kata Neji sambil berlalu. Tapi Hinata segera mencegahnya. Tangan mungilnya menahan tangan besar Neji.
"Neji-nii mau ke mana?" tanya Hinata. Ekspresinya terlihat sangat cemas dan takut. Neji sangat bingung dan penasaran dibuatnya.
"Aku mau mandi. Hinata-chan kenapa? Apa perlu kutemani dulu?" tanya Neji. Hinata menatapnya dengan sangat... Ah, Neji tak dapat menjelaskan maksud ekspresi Hinata. Tapi Hinata langsung melepaskan genggaman tangannya pada tangan Neji dan menunduk.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Gomen, Neji-nii. Silakan pakai kamar mandinya," jawab Hinata, masih tetap menunduk. Neji masih penasaran, tapi kemudian meninggalkan Hinata berperang dengan batinnya sendiri. Rambut indigonya terjatuh menutupi wajahnya yang tertunduk, menyembunyikan kecantikannya dari pandangan dunia. Dan menyembunyikan kedua bola mata lavender yang kini berkaca-kaca.
"Ah..." Hinata mengerang pelan, berusaha menghapus air matanya yang telah mengalir, walaupun tidak sederas kemarin sore. Rasanya kini sang Hairess Hyuuga itu telah berhasil lebih mengontrol perasaannya. Hinata memang sudah terbiasa mengekang rasa sedihnya. Hinata sudah terbiasa untuk mengisolasi hatinya dari kekejaman dunia yang akan memperburuk.
"Hinata-nee! Hinata-nee sudah bangun?" tanya Hanabi yang tiba-tiba datang, menyentakkan Hinata yang sedang asyik menyelami pikirannya sendiri.
"Ah, Hanabi-chan! Umh, iya, nee-chan sedang masak sarapan. Tunggu sebentar, ya. Hanabi-chan sudah mandi belum?" jawab Hinata. Bekas air mata di pipinya sudah mengering, dan Hinata hanya berharap Hanabi tidak menyadari kalau kakaknya habis menangis.
"Ah, belum. Hanabi mandi dulu, ya, nanti Hanabi makan sarapan buatan Hinata-nee yang enak, ya?" kata Hanabi riang. Hinata tersenyum lembut melihat tingkah adiknya, dan dia mendudukkan tubuhnya agar sejajar dengan Hanabi.
"Hanabi-chan anak baik, ya. Sekarang, ayo cepat mandi, atau Hanabi-chan tidak bisa sarapan. Oke?" kata Hinata lembut sambil mengelus kepala Hanabi. Hanabi mengangguk senang, dan berlalu dari fokus mata Hinata.
Hinata jadi mengingat semua kenangan yang telah dialaminya. Sejak saat Hinata menjadi bagian dari keluarga besar Hyuuga, banyak hal terjadi padanya. Hinata memang tidak dapat mengingat dengan jelas saat dia dilahirkan, lagipula tidak ada yang ingat, tapi sejak Hinata memiliki kenangan, samar-samar itu mulai terlihat.
Kenangan indahnya saat dia memiliki adik, yaitu Hanabi. Dan saat Neji bergabung dan tinggal bersama keluarganya. Lalu berbagai kenangan berharga lainnya, yang ingin Hinata lindungi dan Hinata ingat selamanya. Walaupun begitu, setiap kehidupan yang kita jalani, setiap tarikan nafas yang kita lakukan, dan setiap kenangan yang terlintas dalam benak kita, pasti ada halangan dan cobaan yang terjadi, kan?
Hinata memang hanya gadis biasa. Kehidupannya yang sedang berada di puncak kebahagiaannya, kini harus terenggut dengan sangat ironisnya. Semua dimulai saat ibunya, Hikaru Hyuuga, divonis menderita kanker paru-paru stadium IV oleh dokter. Setelah berobat pun, penyakit itu tak kunjung sembuh. Tapi akhirnya, Kami-sama memberikan jalan. Penyakit Hikaru dapat tersembuhkan oleh sebuah pengobatan. Seluruh keluarga Hyuuga sangat bersyukur karenanya, begitu juga Hinata.
Tapi, saat harapan itu muncul, Kami-sama menjatuhkan cobaan yang lebih berat. Rasanya dunia Hinata runtuh seketika. Saat hanya dengan beberapa langkah lagi ibunya bisa sembuh dari penyakitnya, tragedi itu terjadi. Hinata dan Hikaru mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarai Hinata sedang berjalan normal, saat sebuah truk datang dengan ugal-ugalan dari arah berlawanan. Hinata refleks banting setir, dan mobilnya terpeleset di jalanan yang basah karena hujan. Kecelakaan itu berakhir tragis dengan kematian Hikaru yang mengenaskan.
Dan setelah itu, cobaan lain datang. Hyuuga Corp., perusahaan milik keluarga Hyuuga, mendekati kebangkrutan. Banyak pegawai yang memilih mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain. Hiashi sudah sangat frustasi karenanya, apalagi Hinata masih dirawat di Konoha International Hospital karena kecelakaan itu, dan biayanya tidak sedikit.
Tapi saat itu, Hyuuga Corp. terselamatkan. Berkat sebuah uluran tangan dari seseorang. Sayangnya, pertolongan itu tidaklah murah. Sebuah perjanjian dibuat untuk menebusnya. Ikatan yang dipaksakan di antara keluarga itu telah mengorbankan Hinata. Ribuan tetes air mata yang berjatuhan dari mata lavenderny tak pernah dianggap oleh yang lain. Tanpa tanda, Hinata tersakiti. Tanpa suara, Hinata menangis. Sang malaikat suci menangis karena lagu cintanya terkotori oleh belenggu perjanjian kosong.
"Tapi kini, sang malaikat lebih tersakiti dari sebelumnya. Saat lagu cintanya terhalangi oleh perjanjian sang iblis, yang tertawa di atas penderitaan sang makhluk suci. Sayap putih bersihnya telah jatuh, kristal air mata terus tertumpah, menjadi pelindung sang malaikat dari kejamnya dunia yang memuakkan. Jika ini terus berlanjut, bahkan sang malaikat mampu menyerah..." lirih Hinata sedih. Tangannya menggenggam erat ujung dress selututnya, bergetar. Memberikan ketenangan, walaupun caranya berbeda.
"Konnichiwa, minna! Apakah tugas yang kemarin sudah dikerjakan?" tanya Hinata sambil memasuki kelas. Semuanya mengangguk mengiyakan. Semuanya kecuali satu. Naruto. Hinata menatapnya dengan sendu, penuh rasa bersalah. Penyesalan yang mendekati tak perlu, sebenarnya. Naruto memang sudah bertekad tak akan menyerah, tapi ingatan akan lagu Sen No Yoru Wo Koete tadi malam masih mendominasi pikiran dan hatinya.
"Hei, Naruto, kau lemas sekali hari ini. Kenapa?" tanya Kiba. Memang sejak tadi pagi, Naruto diam saja. Naruto tersentak, dan menggeleng pelan. Naruto melanjutkan lamunannya, tidak terlalu meperhatikan yang lain.
"Hah, dasar anak aneh..." gumam Kiba, dan dia langsung menghadap ke depan lagi, memperhatikan Hinata dengan serius.
'Naruto-kun, gomen ne...' batin Hinata sedih. Tapi Hinata dituntut untuk dapat profesional, jadi Hinata berusaha mengedepankan urusan mengajarnya.
-SKIP TIME-
Teng! Teng! Teng!
Bel di Konoha University telah berbunyi. Para mahasiswa yang memang sudah jenuh dengan mata kuliahnya yang sangat sulit dan menyebalkan. Wajah-wajah suntuk mereka telah berganti dengan wajah bahagia bagaikan terbebas dari penderitaan. Dalam salah satu kelas, Naruto sedang membereskan tasnya, saat laki-laki itu tersadar. Dirinya hanya berdua dengan Hinata di kelas!
"Hinata-sensei, kenapa belum pulang?" tanya Naruto sambil menyandangkan tasnya. Gerakannya terhenti, memperhatikan Hinata dengan alis bertaut.
"..."
"..."
"... Naruto-kun, sensei mau bicara denganmu," jawab Hinata, setelah diam cukup lama. Naruto kembali menautkan kedua alisnya, heran.
"Bicara, denganku?" tanya Naruto, mengulangi perkataan Hinata. Hinata mengangguk pelan. Naruto segera berjalan mendekati Hinata, melupakan segalanya hanya dalam satu pandangan mata.
"Ya. Dan... Kau boleh memanggilku Hinata-chan, sekarang sudah bukan jam kuliah," jawab Hinata lagi. Naruto terdiam, mengerti. Kini dia sudah berada dekat dengan Hinata, mungkin hanya berjarak beberapa puluh sentimeter saja.
Keheningan tercipta sementara. Keduanya seakan masih ingin diam, mendengarkan suara alam yang mengalun merdu. Akhirnya, mungkin karena tidak tahan akan kebisuan yang menyesakkan ini, Hinata angkat bicara.
"Uhm, Naruto-kun, aku... Aku ingin bilang, kalau..." Hinata terus terbata-bata sejak tadi. Rasanya dia merasa sangat gundah dan gelisah, sungguh menyesakkan. Dadanya terus bergemuruh oleh detak jantungnya yang terus berpacu cepat, bagaikan menguji adrenalinnya. Tangannya terus menggenggam erat ujung roknya yang pendek. Mata lavendernya terpejam, mencari ketenangan.
Naruto berjalan mendekati Hinata. Rasanya ingin dia mengelus kepala gadis itu lagi, menghirup aroma lavender yang menguar dari helaian rambut indigonya. Ingin memeluk tubuhnya, merasakan kehalusan kulit putihnya. Dan menciumnya, merasakan manisnya bibir ranum itu sekali lagi.
"... Gomen! Boku wa... Ah, hiks... Aishiteru yo!" jerit Hinata tertahan. Isakan kecilnya telah tertumpah menjadi tangisan. Air mata mengaliri pipinya, dan menetes ke lantai dingin tempat gadis itu berpijak. Naruto tersentak, benar-benar terkejut. Ternyata selama ini, cintanya memang terbalaskan.
Naruto tersenyum lembut mendengarnya. Laki-laki pirang itu meletakkan tangannya di bahu Hinata dan menenangkannya. "Tenanglah, Hinata-chan. Aku tidak marah padamu. Pendirianku takkan berubah. Aku akan selalu mencintaimu," kata Naruto. Hinata tertegun, menatap langsung menuju kedalaman mata shappire lawan bicaranya, Naruto. Rasanya bahagia sekaligus menyakitkan mendengarnya, karena keputusannya pun takkan, atau lebih tepatnya tak bisa berubah.
"Arigatou, Naruto-kun... Tapi, gomen, keputusanku pun takkan berubah. Aku tidak bisa menerimamu di hidupku, tidak boleh..." lirih Hinata sedih. Air matanya masih setia berjatuhan dari kedua bola matanya yang bening bagai kaca, menyembunyikan cahaya sang lavender dalam hujan.
Sebenarnya Naruto masih merasa agak sakit mendengar penolakan cintanya sekali lagi. Tapi hatinya juga merasa lega karena tahu, ternyata Hinata membalas perasaannya yang sama. Dicobanya untuk tersenyum tulus, dan sesungguhnya, itu tidak terlalu sulit.
"Tenang saja, sudah kubilang, aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu, Hinata!" kata Naruto, dan dia memeluk Hinata lembut. Hinata menangis dalam dekapan hangat Naruto, berusaha mengeluarkan seluruh kesedihannya. Naruto hanya dapat mengelus Hinata lembut, mencoba memberitahu gadis di hadapannya kalau dia mencintainya lebih dari apapun.
Hinata makin mengeratkan pelukannya pada tubuh tegap Naruto, entah mengapa Hinata merasa nyaman. Pelukan Naruto terasa sangat berbeda dengan pelukan'nya'. Pelukan'nya' terasa dingin, kaku, membuat Hinata hanya ingin merasakannya sekilas. Seberapa besar pun 'dia' mencintai Hinata, gadis itu tidak dapat membalas perasaan yang sama.
"Jangan menangis, ya, Hinata-chan..." kata Naruto pelan setelah mereka berhenti berpelukan. Tangan besarnya bergerak, mengusap pelan air mata yang menggenang di wajah cantik Hinata.
"Ah, aku tahu! Aku akan membuatmu tersenyum lagi!" seru Naruto senang. Hinata hanya dapat memiringkan kepalanya, bingung. Hinata menjadi amat sangat imut jika melakukan itu.
"Ayo kita jalan-jalan, berdua!" kata Naruto bersemangat. Tanpa menunggu jawaban atau sekedar anggukan dari Hinata, laki-laki pirang itu segera menggenggam tangan mungil Hinata dan menariknya pelan, seiring langkahnya. Hinata hanya dapat pasrah mengikuti tanpa protes. Malah sebenarnya, Hinata cukup senang bisa berdua dengan Naruto.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Naruto berhenti. Hinata juga berhenti, menatap pemandangan di sekelilingnya. Dan seketika, matanya melebar dan berbinar, senyum kembali merekah di wajah manisnya.
"Aaah... Sugoi! Pemandangannya indah sekali!" kata Hinata senang. Kini mereka tengah berdiri berdampingan di atas bukit yang menghadap ke sebuah danau. Danau itu besar, dan airnya sangat bening. Beberapa angsa terlihat seperti sedang bermain dengan riang. Ikan-ikan melintas dengan anggun di permukaan air. Ditambah dengan udara sejuk yang bersemilir, itu merupakan anugerah dari Kami-sama yang sangat menakjubkan.
"Aku tahu kau akan menyukainya, Hinata-chan!" kata Naruto senang. Hinata menatapnya dan mengangguk senang. Dia segera merentangkan tangannya lebar-lebar, merasakan angin membelai tubuhnya dengan lembut. Rambut indigonya yang terurai itu beterbangan, tertiup angin. Harum lavendernya menyerbak ke udara.
"Ayo, kita duduk. Kita nikmati saja saat-saat ini, karena momen ini tidak akan bertahan selamanya," kata Naruto, dan dia segera duduk di tanah berumput yang basah karena hujan.
"Ya..." sahut Hinata pelan, pandangannya masih teredar pada keindahan alam di hadapannya. Akhirnya dia mengikuti Naruto dan ikut duduk. Naruto terus memperhatikan Hinata. Rasanya ada yang perlu ditanyakan pada gadis itu.
"Ne, Hinata-chan..."
"Nani?"
"..."
"..."
"... Bolehkah aku tahu... Apa hubunganmu dengan Sasuke?"
Deg! Pertanyaan yang tak terduga itu telah sukses menusuk jantung Hinata. Rasanya degupnya kini bertambah, dan bulir keringat mengalir di pelipisnya. Ditatapnya wajah tampan Naruto, yang sedang menatapnya dengan serius. Hinata bimbang, akankan dia memberitahu Naruto atau menyimpan rahasia itu selamanya?
"Aku..."
"..."
"Aku..."
"... Ya?"
"Aku... Akan memberitahumu, nanti. Setelah kita... Nikmati saat-saat ini, karena mungkin ini tidak bisa terjadi lagi," lirih Hinata. Misterius, itulah yang Naruto pikirkan. Tapi tak ada gunanya memaksa, lagipula ini adalah masalah Hinata yang mungkin bersifat pribadi. Naruto tak ingin memaksanya.
"Gomen, tapi... Kumohon, sebenarnya aku sedang tak ingin membicarakannya. Mungkin... Setelah pulang nanti..." lirih Hinata lagi. Naruto merasa bersalah telah membuat Hinata sedih lagi. Tangannya menyentuh tangan Hinata yang sedang diam di atas tanah. Digenggamnya erat, mencoba menyalurkan kembali kegembiraan dan semangat pada gadis itu.
"Iie, daijoubu. Harusnya aku yang minta maaf, karena sudah mengganggumu dengan pertanyaanku. Gomen," bisik Naruto. Mata shappire-nya menatap mata lavender Hinata. Keduanya mendekat, mengurangi celah yang membatasi mereka. Menghapus ketidaksamaan dalam diri mereka. Tapi saat bibir keduanya akan bertaut lagi, tiba-tiba...
BUAGH!
.
~{TSUZUKU}-(TO BE CONTINUED)-[BERSAMBUNG]~
.
Shana : Finally! Update juga!
Naruto : Yah, gue udah lama ga muncul, nih...
Shana : Sabar, Nar, gue capek juga kali, banyak tugas.
Hinata : (muncul dengan malu-malu seperti pagar ayu) *lebay* A-ano, ohayou, minna...
Shana : Ah, ohayou, Hinata-chan...
Sasuke : (muncul bagaikan buto ijo) *digampar Sasu FC* Eh, author!
Shana : Oh, Sasuke si pantat ayam. *digampat Sasu FC lagi* Apaan, Sas?
Sasuke : Masa gue ga muncul sih?
Shana : Yaelah, lo ga nyadar, ya?
Sasuke : Maksud lo?
Shana : Kan lo ada di kelas pas kuliah, cuman gue ga ngasih deskripsi ajah, trus...
Naruto : Eh, author! Kok ada suara buagh! gitu sih?
Hinata : Apa ada yang sakit? Kedengerannya keras banget. Apa itu suara...
Shana : *keringet dingin, takut rahasia kebongkar* Ya?
Hinata : ... Michael Jackson mati ketabrak sepeda roda tiga?
All minus Hinata : *sweatdrop*
Shana : Emm, maybe? Ah, sudahlah, kelamaan banget, sih. Cepetan balesan review-nya, nyook...
- Natsu D. Luffy : Hai, Natsu-san~ Arigatou atas reviewnya... Makasih atas pujiannya, ya. Eh, pake huruf gede? Shana ga tau tuh. Gomen udah update lama. Yup, will do...
- Ilham S'EyeShield AKATSUKI : Makasih atas pujiannya ya... Ah, gomen, adegan SasuHina itu tuntutan script, tapi akan Shana coba kurangi yah. Oke, semoga yang ini keren!
- Haru glori : Yup, memang NaruHina itu 4ever! Ah, ga usah panggil senpai, Shana jadi malu, tapi makasih ya.
- Reynard : Makasih atas pujiannya ya. Ah, gomen, Shana lagi sibuk banget, jadi ga bisa update cepet, gomen~~~
- Blingser : Hehe, NaruHina emang klop! Iya, Sasuke emang ga terlalu cocok ma Hina-hime, tapi di fic Shana, mereka... Hehe, nanti baca lagi ya, biar tahu ada apa antara SasuHina!
- Hugo : Just a yes for you *readers : ceilah, so inggris...*
- Megu-Megu-Chan : Hai, Megu-chan... Wuih, menurut Shana, chapter depan ada ya. Oke, ini dilanjut nih.
- Yamanaka Chika : Yup, update nih. Oh, itu tsuzuku, gomen ada typo... Oke, ganbarimasu!
- YamanakaemO : Hehe... Sasu sama Hina itu -piip- Baca lagi ya, nanti Shana buka rahasianya. Oke, ini udah lanjut, wa'alaikumsalam...
- De-chan : Hello juga *lambai-lambai* Makasih atas pujiannya, ya. NARUHINA 4EVER! Oke, tapi sekarang awal konflik jadi ga banyak romance, gomen. Baca lagi, ya, Shana tunggu!
- sherry-chan akitagawa : Telat? Ga papa, asal review. Hehe, Naru kan anak tunggal. Yak, Naruto ga akan nyerah, ya kan Nar? Oke, ini chapter 4 update!
- Fariz-san : Iya, harus meningkat dong. Wah, SasuHina itu... Something! #brak! *digeplak Fariz-san* Oke, ini udah update, ya. Ganbarimasu!
- pik : Hehe, makasih atas pujiannya. Owh, makasih atas pemberitahuannya. Gomen, Shana emang belum kuliah, tapi maksain bikin kehidupan kuliah, jadinya gini deh *digebukin readers* Oke, ini update~
- Aria : Oh, oke deh. Makasih atas sarannya.
- Lavender-vs-Sakura : Makasih atas pujiannya. Oke, ini lanjut. Wah, sesama NHL, tos! *digampar karena SKSD*
- Lavender NaruHina : Makasih atas pujiannya. Oke, update. Gomen kalau ga kilat ya~
- L-The-Mysterious : Whoa, sangat ilmiah. Shana jadi tersepona (bukan terpesona lagi) ngebacanya. Duh, Shana ga janji masalah typo, abis typo tuh susah dihindari... Yup, makasih atas review-nya!
Shana : Yey, makin banyak yang update *nari pake pom-pom*
All minus Shana : ...
Shana : Koq diem?
All minus Shana : Emang mau ngomong apa? Buruan deh, diudahin!
Shana : *mengkeret* H-Ha'i. Yosh, minna...
All : REVIEW PLEASE!
