Let's Get Married, Sensei!
CHAPTER 5, UPDATE! CHAPTER 5, UPDATE! CHAPTER 5, CHAPTER 5... CHAPTER 5 UPDATE! *nada lagu Happy Birthday*
Yoy, minna! Shana di sini untuk bawa happy! *digebukin karena lama update*
Whoa, bagi yang belum tahu, Shana habis semi-hiatus sementara, dikarenakan banyaknya tugas sekolah yang menyebalkan! *digebukin guru* Aduh, ampun bu, saya cuma bercanda! Waduh, daripada Shana digebukin terus, Shana langsung bilang Happy Reading aja deh. Whuaa!*ngacir*
Summary : "Biar kuberitahu, rahasia antara aku dan Hinata!"/"Itu tidak mungkin!"/"Gomenne, aku selalu menyembunyikannya..."/"Jangan dekati Hinata lagi!"/Kebenaran yang terungkap, ternyata lebih menyakitkan dari kebohongan...
Rating : T
Pairing : NaruHina
Genre : Romance/Drama
Warning : OOC, typo, abal, gaje, update lelet, salah kata, dan lain-lain. Oh ya, dan a bit bashing-chara (maybe?), so... Don't Like Don't Read!
Disclaimer : Saya capek ngerayu om Masashi, ya udahlah saya relain Naruto buat om ajah... *digeplak karena ngaku-ngaku*
.
/( –3– )\ Let's Get Married, Sensei! /( –3– )\
.
BUAGH!
"Naruto-kun!" jeritan Hinata mewarnai kedamaian sore di tepi danau Konoha. Di sampingnya, Naruto tergeletak sambil memegangi pipinya yang merah, terhantam oleh seseorang. Darah menetes pelan dari mulutnya, tapi Naruto segera menyekanya.
"Teme!" geram Naruto marah, melihat siapa yang telah memukulnya. Sahabatnya sendiri, Sasuke, tengah berdiri dengan tatapan yang dingin memandangnya. Sudah jelas siapa yang telah memukul Naruto. Kini, kedua sahabat itu tampak marah satu sama lain. Bagaikan singa jantan yang memperebutkan sang betina, yaitu Hinata.
"Apa yang kau lakukan?" seru Naruto sambil berdiri. Dalam sekejap, tubuh tegapnya telah menyamai tinggi Sasuke. Naruto mencengkeram kerah baju Sasuke dengan geram, sangat marah dengan sikap sahabatnya yang benar-benar sudah keterlaluan.
Sasuke terdiam. Mata onyx-nya masih menatap dingin ke arah mata sapphire Naruto. Keduanya saling beradu pandang tajam, seakan berniat membakar mata lawannya.
"Sebelum kau tanya aku, lebih baik kau tanya dirimu sendiri," jawab Sasuke, akhirnya. Naruto heran, dan marah. Dia mengeratkan cengkeramannya pada kerah Sasuke.
"Apa yang kau maksud?"
"Baka. Kau tetap saja bodoh, Dobe!"
"Teme!"
Ejekan Sasuke tadi makin membakar amarah Naruto. Ingin sekali ia layangkan kepalan tangannya ke wajah Sasuke, membiarkan pemuda di hadapannya ini merasakan rasa sakit yang sama yang diterimanya.
"Kau tanya pada Hinata, apa hubungan Hinata denganku, kan? Nah, sebenarnya..."
"Sasuke-kun!"
Jeritan Hinata memecahkan serunya perseteruan di antara Naruto dan Sasuke. Kedua lelaki tampan itu menoleh, menatap sang gadis cantik yang sedari tadi terus memperhatikan mereka. Air mata menitik perlahan dari kedua mata lavendernya, yang kini terpejam. Hinata menangkupkan tangannya di dada, seakan memohon agar Naruto dan Sasuke berhenti bertengkar.
"Hinata-chan!" seru Naruto dan Sasuke bersamaan. Mereka sungguh tidak tahan melihat tangisan Hinata.
"Teme! Kau brengsek! Kau... Kau membuat Hinata menangis!" seru Naruto marah. Tanpa basa-basi lagi, pukulan Naruto melayang dan mendarat di pipi Sasuke. Laki-laki Uchiha itu mundur beberapa langkah sambil memegangi mulutnya yang meneteskan darah.
Buagh!
Sasuke meninju Naruto, sekali lagi, dan membuat laki-laki Namikaze itu tersungkur. Naruto menatap Sasuke dengan mata menyala, dendam pada sahabat yang sekarang menjadi musuhnya itu.
"Naruto-kun!" seru Hinata panik. Gadis cantik itu segera duduk di samping Naruto, membantu menyeka lukanya. Jari-jemari lentiknya menyusuri wajah halus Naruto, menghapus jejak darah di bibirnya. Sasuke benar-benar marah sekarang. Api cemburu telah membakar hatinya. Tangannya yang terkepal itu gemetar karena marah.
"Dobe! Justru kau yang brengsek! Beraninya kau merebut perempuan orang!" balas Sasuke, tak kalah serunya. Tampaknya amarahnya juga tersulut karena pukulan Naruto tersebut.
"Perempuan orang? Apa yang kau bicarakan?" tanya Naruto dengan keras. Naruto heran, dan mulai curiga, kalau ada rahasia di antara Sasuke dan Hinata.
"Heh, jadi kau mendekati Hinata tanpa tahu apa-apa?" seru Sasuke. Mata onyx-nya menyipit, bibirnya membentuk senyum meremehkan.
"Ergh... Sasuke!" teriak Naruto. Kali ini, Sasuke benar-benar sudah membangkitkan sisi lain dalam dirinya. Tubuhnya gemetar karena marah, Sasuke benar-benar sudah keterlaluan.
"Biar kuberitahu, rahasia antara aku dan Hinata!" kata Sasuke, lebih pelan, namun dengan nada yang mematikan.
"Sasuke-kun!" jerit Hinata, lagi. Air matanya terus menetes, mengalir deras di pipinya, dan terjatuh ke tanah tempatnya berpijak. Tangannya gemetar, tatapan matanya seakan memohon pada Sasuke untuk berhenti bicara. Tapi sayangnya, tekad Sasuke sudah bulat. Dia akan mengakhiri permainan ini.
"Naruto! Sebenarnya, aku dan Hinata... Sudah... Bertunangan!" seru Sasuke.
Sejenak, hanya hembusan angin yang terdengar di antara ketiganya. Sasuke terdiam, menatap dua orang di hadapannya dengan dingin. Naruto terdiam, tak percaya. Hinata menangis, pertahanan terakhirnya runtuh sudah. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas, kakinya sudah tak kuat menopang berat tubuhnya. Akhirnya sang Hairess Hyuuga itu terduduk di tanah. Mata lavendernya basah dan bening, bagai terlapisi kaca yang sebenarnya air mata.
"Tu... Nangan?" lirih Naruto pelan. Rasanya perkataan Sasuke itu butuh waktu lama untuk dapat diterima oleh otaknya. Padahal hanya sebuah kata, yang harusnya membawa kebahagiaan. Tapi, kini rasanya dunia Naruto hancur. Cinta yang telah dibangun di hatinya kini telah hancur berkeping-keping.
"I... Ini bercanda kan, Hinata-chan? Kalian tidak tunangan, kan? Hei, Teme, kalau ini lelucon, ini tidak lucu!" seru Naruto, linglung. Pikirannya masih kalut, di telinganya terus terngiang-ngiang kata 'tunangan' itu.
"..."
"..."
Diamnya Hinata dan Sasuke sudah mampu menjawab pertanyaan Naruto. Hinata masih terdiam, berdiri sambil memegangi tubuhnya. Kepalanya terus tertunduk, matanya menatap sendu ke arah rerumputan. Rasanya, gadis cantik itu tak mampu menatap langsung ke dalam kekagetan dan kesedihan Naruto, lelaki yang dicintainya itu.
Sedangkan Sasuke, dia terdiam dengan posisi yang tidak berubah. Sedari tadi, dia menatap Naruto tajam, memperlihatkan keseriusannya. Walaupun begitu, gurat-gurat kemarahan di wajahnya mulai berkurang, digantikan oleh perasaan dingin yang biasa menjadi auranya. Makin lama, pemuda Uchiha itu merasakan emosi persahabatannya muncul kembali.
"Teme? Jawab aku! Hinata! Ini semua lelucon, kan? Aku tidak percaya! Ini semua bohong! Itu tidak mungkin!" seru Naruto keras.
"Ukh, hiks... Hiks..." Hinata mulai menangis lagi. Isakan kecilnya berhasil menarik perhatian Naruto dan Sasuke. Hinata hanya dapat memeluk diri dengan kedua tangannya.
"Hinata..."
"Tidak, Sasuke-kun!" Hinata menepis tangan Sasuke yang hendak menyentuhnya. Batinnya terlalu rapuh untuk ditambahi sebuah sentuhan. Bahkan sentuhan selembut apapun dapat menghancurkan pertahanannya, pecah berkeping-keping.
"Hiks... Gomen ne, aku selalu menyembunyikannya... Aku hanya, hiks..." Hinata bicara terbata-bata. Jawaban yang keluar dari bibir mungilnya itu diselingi dengan isakan yang masih enggan berhenti dari gadis Hyuuga itu.
"Aku... Sebenarnya... Ingin bersama Naruto-kun... Dan Sasuke-kun... Aku tidak mau menyakiti kalian. Aku... Aku lelah!" jerit Hinata. Penderitaan dan kesedihan yang selama ini selalu dipendamnya, meledak keluar.
"Hinata..."
"Hinata-chan..."
"Gomen! Aku... Tidak bisa bersama kalian berdua! Aku tidak bisa, dan tidak mau memilih!" lanjut Hinata lagi. Air matanya benar-benar mengalir dengan deras. Pelupuk matanya sudah sangat basah oleh air mata, dan kedua mata lavendernya sendiri telah memerah. Tubuhnya gemetar hebat, karena kesedihan yang tiada tara. Sang Hairess Hyuuga tampak sangat berantakan.
"Hinata-chan, jangan menangis..." lirih Naruto. Tangannya terulur, berusaha mendekati dan menggapai Hinata. Sasuke awalnya berjengit, tapi akhirnya membiarkan Naruto mendekati tunangan tercintanya, Hinata.
"Gomen, aku... Aku tidak bisa!" jerit Hinata, tubuhnya mungilnya berayun meninggalkan Naruto dan Sasuke yang masih diam, terkejut oleh kepergian Hinata yang tiba-tiba.
"Hinata!"
"Hinata-chan!"
Panggilan keras–yang lebih tepat disebut teriakan dari Sasuke dan Naruto itu tidak berhasil membawa Hinata kembali. Dia terus berlari, tanpa menoleh ke belakang, tanpa memikirkan perasaan Naruto dan Sasuke, tanpa memedulikan sekitarnya, tanpa... Berpikir. Dia hanya ingin angin yang mengelusnya lembut itu membawa pergi segala kesedihannya. Membiarkan air matanya yang menitik itu mengering di pipinya.
Zraash...
Lagi-lagi hujan turun dengan deras secara tiba-tiba. Rasanya musim hujan memutuskan untuk menghampiri Konoha lebih cepat. Hinata hanya ingin berlari dari kepedihan yang selalu menghantuinya. Hinata ingin sendiri, jauh dari bayang-bayang kedua lelaki yang sangat mencintainya itu. Tapi Hinata tak bisa, dan tak mau memilih di antara keduanya. Karena... Keduanya sangat berarti bagi Hinata.
"Jadi... Itu benar? Kau memang... Bertunangan dengan Hinata?" tanya Naruto sendu. Matanya menatap Sasuke dengan penuh kesungguhan, meminta kepastian.
"... Ya, itu benar. Dan, kumohon padamu, Naruto... Jangan dekati Hinata lagi!" jawab Sasuke, pelan tapi tegas.
"Ugh..."
Naruto tak tahu harus berkata apa. Semuanya berlalu melewati otaknya terlalu cepat. Naruto memang tidak bodoh–setidaknya sekarang, tapi informasi yang diterimanya sangatlah berat. Tenggorokannya terasa kering, dan mulutnya terkunci rapat. Permohonan Sasuke tadi... Sangat tak mungkin untuk dilaksanakan pemuda pirang itu.
"Huh!" dan bersama dengan itu, Sasuke berbalik cepat, meninggalkan Naruto sendirian. Pikirannya juga masih kalut, karena Sasuke tahu, kalau Hinata sebenarnya mencintai Naruto. Tapi, Sasuke juga mencintai Hinata. Dia tidak akan membiarkan Hinata pergi dari genggamannya. Tanpa sadar, ada seorang gadis yang memperhatikan mereka sejak tadi.
"Sasuke-kun!" terdengar suara seorang gadis memanggil Sasuke. Suaranya berbeda dengan Hinata, yang ini lebih nyaring, seperti kebanyakan perempuan–atau fangirls-nya.
Sasuke berbalik, melihat siapa yang memanggilnya saat dia suasana hatinya sedang buruk. Tapi pemuda Uchiha itu sangat terkejut melihat gadis di hadapannya. Gadis berambut pink dan bermata emerald yang tengah menatapnya tajam : Sakura Haruno. Ekspresinya sangat... Tidak bisa dijelaskan. Sasuke merasa tidak enak melihatnya. Seakan Sakura siap menerkamnya.
"Sakura? Ada apa?" tanya Sasuke pelan. Sakura masih terdiam, dan suasana hening menyapu keduanya. Makin lama, Sasuke makin tidak tahan menatap ketajaman dan kedalaman kedua emerald yang sejak tadi memperhatikannya.
"Sasuke-kun... Jadi, sebenarnya... Kau sudah... Bertunangan dengan Hinata-sensei?" tanya Sakura, sangat pelan, dan terbata-bata. Sasuke sangat terkejut mendengarnya. Tidak ada yang tahu ini selain dia, Hinata, keluarga Uchiha, keluarga Hyuuga, dan Naruto. Karena bisa gawat kalau ada yang tahu selain ini.
"Ka-kau tahu dari mana, Sakura?" tanya Sasuke panik. Tak pernah Sasuke sepanik ini. Sakura pun makin yakin kalau semua yang didengarnya itu benar. Tubuhnya gemetar memikirkan kebenarannya. Jadi, selama ini... Cintanya tak terbalaskan.
"Tentu saja aku tahu. Kau kira... Aku tak mendengar semuanya?"
-FLASHBACK-
-SAKURA'S POV-
Hari ini sangat melelahkan. Setelah capek-capek datang ke rumah Ino, ternyata di sana ada pacarnya. Yah, maklumlah, Ino kan baru seminggu pacaran dengan Sai. Pantas saja mereka sedang mesra-mesranya. Dan daripada aku menganggu, lebih baik aku pulang saja. Padahal sudah membawa kamera (yang kata Ino) untuk memotret kami.
"Gomen ne, tidak kukira Sai-kun akan datang. Acaranya kita tunda dulu ya. Onegai~" Ino memohon dengan sangat, membuatku jadi tak tega. Tapi, jujur saja, kemesraan Ino dan Sai membuatku iri. Andai aku punya keberanian untuk menembak Sasuke-kun. Yah, walaupun kupikir bodoh jika Ino menembak Sai, tapi jika kulihat Sai menerima dan kini mereka berpacaran... Rasanya aku harus mengubah pikiranku.
"Aah~ Sasuke-kun~ Aku memang tak bisa berhenti memikirkanmu!" jeritku. Tapi aku segera menyesali itu, karena sekarang orang-orang menatapku aneh. Ah, tapi biarlah, karena... Bayangan Sasuke-kun datang lagi. Sasuke-kun memang tidak mau lepas dari pikiranku. Kyaa, Sasuke-kun~ Saat aku sedang asyik-asyiknya membayangkan wajah Sasuke-kun, tiba-tiba...
"... Kau yang brengsek!" sayup-sayup kudengar suara laki-laki yaang kukenal. Tentu saja, suara yang agak berat dan tegas itu hanya milik satu orang... Sasuke-kun! Apa sebaiknya kudekati saja? Ya sudahlah, lebih baik aku mendekatinya. Sekalian menyapanya.
"... Apa yang kau bicarakan?" setelah kudekati asal suara Sasuke-kun, terdengar suara lain—laki-laki, yang kukenal. Itu Naruto. Penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, aku urungkan niatku untuk menyapa Sasuke-kun, dan memilih untuk mendengarkan—atau lebih tepatnya menguping—pembicaraan kedua sahabat itu. Kuputuskan untuk bersembunyi saja di balik pohon. Apalagi setelah melihat seorang gadis berambut indigo di hadapan mereka.
... Eh? Indigo? Tunggu, tunggu sebentar. Gadis muda berambut indigo panjang seperti itu, dengan postur seperti itu, yang pasti hanya... Hinata-sensei! Tapi, Hinata-sensei? Sedang apa dia di dekat Naruto-baka dan Sasuke-kun? Apalagi... Kelihatannya Naruto-baka itu sedang bertengkar dengan Sasuke-kun. Ini langka sekali! Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
"Biar kuberitahu, rahasia antara aku dan Hinata!" suara Sasuke-kun mendominasi pendengaranku. Nadanya tidak seperti biasanya. Ini terdengar lebih... Serius, berat dan dingin. Pasti ada masalah di antara mereka bertiga. Tapi, ada apa? Rahasia apa yang ada di antara Sasuke-kun dan Hinata-sensei? Aku benar-benar bingung sekarang.
"Sasuke-kun!" kali ini, jeritan Hinata-sensei sampai di telingaku. Jeritan yang menyedihkan, memelas penuh permohonan. Tapi, bukan hanya itu yang menarik perhatianku untuk mendengarkan lebih jauh. Tapi, jeritan Hinata-sensei yang memanggil Sasuke-kun. Dia tidak pernah berkata 'Sasuke-kun' sebelumnya, biasanya dia memanggil Sasuke-kun dengan 'Uchiha-san'. Seperti kebanyakan murid, biasanya dipanggil dengan nama marganya, lalu ditambah -san.
Kudengarkan mereka lebih tajam, dengan rasa curiga dan penasaran yang makin besar. Kami-sama, kumohon, jangan sampai kalau... "Naruto! Sebenarnya, aku dan Hinata... Sudah... Bertunangan!" dan seiring dengan perkataan Sasuke-kun itu, aku pun membelalakkan mata. Tidak, ini tidak mungkin.
Aku merosot pelan ke tanah. Kakiku gemetar, terlalu lemas untuk berdiri. Sejenak, inderaku mati. Air mata hampir menetes dari mataku. Tapi kuputuskan untuk tegar dan melanjutkan mendengar. "I... Ini bercanda kan, Hinata-chan? Kalian tidak tunangan, kan? Hei, Teme, kalau ini lelucon, ini tidak lucu!" sepertinya Naruto sama tidak percayanya sepertiku. Sepertiku, masih ada harapan dalam suaranya yang berharap kalau kata-kata Sasuke-kun tadi bohong. Kuharap juga begitu. Aku pun sabar menanti jawaban yang seakan takkan muncul.
"..."
"..."
Tak ada jawaban. Jadi, itu benar. Tak mungkin Sasuke-kun bercanda seperti ini. Suaranya berbeda. Bahkan orang bodoh seperti Naruto pun tahu kalau Sasuke-kun sedang tidak bercanda saat ini. Dan, aku pun menyerah. Air mata yang kutahan pun akhirnya mengalir dari mataku. Ini tidak mungkin! Ukh...
Lanjutan pembicaraan mereka hanya kudengar samar-samar. Aku tak peduli lagi dengan apa yang mereka bicarakan. Aku berdiri, diam. Kedua mataku—yang tak lagi mengalirkan air mata—hanya dapat menatap lurus ke depanku, kosong. Kosong tanpa ada kehidupan. Kosong, bagaikan cahaya emerald yang dulu mendiami kedua mata ini sudah menghilang. Dan tidak akan pernah kembali.
Kucoba berpikir jernih lagi, tapi tak bisa. Aku hanya dapat menggigit bibir bawahku, menahan tangisku lagi. Mengerjapkan kedua mataku, mencoba menghalau tetes air bening yang menyebalkan itu agar tak berjatuhan ke pipiku. Mencoba memendam perasaan sakit ini, yang makin lama makin tak bisa dilupakan. Sakit, dadaku sangat sakit. Segala beban patah hati yang kualami ini tak bisa keluar. Hanya kupendam sendiri. Mungkin, dengan tangis aku akan merasa lebih lega. Tapi, aku tak bisa. Aku tak boleh menangis. Aku, Sakura Haruno, harus kuat. Menangis tak boleh ada dalam kamusku!
Aku masih terdiam. Tak bergerak, sama sekali. Hanya merasakan hembusan angin lembut yang menerpa wajahku. Walaupun begitu, angin yang nyaman itu terasa menyakitkan bagiku. Seakan aku diejek dan dihina olehnya. Yang membuatku menjadi makin sakit hati. Mungkin, ini kali pertama aku sakit hati. Tak pernah kurasakan seperti ini. Dan benar kata orang, rasanya sungguh menyakitkan.
"... Ya, itu benar. Dan, kumohon padamu, Naruto... Jangan dekati Hinata lagi!" kudengar beberapa kalimat terakhir Sasuke-kun, yang makin memperparah luka hatiku. Tanpa aba-aba, api kemarahanku bergelora. Aku tak tahu kenapa, tapi rasanya kebencianku berkembang. Ya, dialah penyebab rasa sakit hati ini. Ya... Hinata Hyuuga...
-FLASHBACK END-
-NORMAL POV-
"Jadi, itu semua benar? Kau bertunangan dengan Hinata-sensei... Semua itu benar?" tanya Sakura pelan. Walaupun hatinya sudah siap menerima jawaban pasti itu dari Sasuke, tapi tetap saja. Sakit hatinya takkan terobati.
Sasuke tak tahu harus menjawab apa. Lidahnya kelu. Pikirannya bercampur aduk. Dia ingin berbohong, bahwa yang didengar Sakura itu salah. Atau, itu hanya candaan. Tapi, dia juga tidak sampai hati untuk tidak mengakui Hinata sebagai tunangannya. Lagipula, Sasuke yang meminta untuk bertunangan dengan Hinata. Dia harus selalu mengakui sang Hime sebagai tunangannya tercinta.
Sasuke memejamkan mata sejenak, dan menarik nafas panjang. Menenangkan dirinya. 'Tidak akan terjadi apa-apa, tenang, Sasuke,' begitulah pikirnya. Lebih tepatnya, Sasuke berusaha meyakinkan dirinya bahwa rahasianya akan aman dalam diri seorang Sakura Haruno di hadapannya. Sayang sekali, karena lelaki Uchiha yang tampan itu akan segera menyesali keputusannya.
"... Ya, itu benar... Aku memang bertunangan dengan Hinata..." jawab Sasuke pelan. Kedua mata onyx miliknya itu berkilat, saling beradu pandang dengan emerald di hadapannya. Ekspresinya tetap datar walaupun gadis di hadapannya menampakkan ekspresi terkejut—dan kesakitan—yang sangat menusuk.
Sakura menundukkan kepalanya, hingga yang dapat dilihat Sasuke adalah lebatnya rambut pink yang melapisi kepala gadis di hadapannya. Entah Sasuke sadar atau tidak, tangan Sakura bergetar hebat hanya karena perkataannya. Gadis itu merasa amat sangat sakit hati, bagaikan ditusuk pedang berkarat. Ingin rasanya dia menjerit sekeras-kerasnya, namun apa dayanya? Itu tidak mungkin, apalagi di depan pangerannya, Sasuke.
Sakura mengeratkan kepalan tangannya. Saatnya pembalasan. Dia tidak akan diam saja dan melihat Sasuke menjadi milik Hinata. Sakura bukan tipe perempuan putus asa yang hanya bisa menangis. Dia sudah bertekad. Dia akan menghalangi hubungan Sasuke dan Hinata, apapun caranya. Ya, apapun caranya...
"Sakura? Kau tak apa?" tanya Sasuke. Dia terlihat khawatir karena Sakura terdiam lama—yah, sangat lama kalau boleh dibilang. Apalagi tatapan Sakura yang seakan memperlihatkan... Kilat kemarahan. Mata emerald itu tampak tak cantik lagi karenanya. Bagai mata iblis yang siap memangsa.
Sakura mengangkat wajahnya. Seulas seringai menghiasi bibirnya. Memberikan sensasi tidak menyenangkan secara tiba-tiba bagi Sasuke. Sasuke tak menyangka, salah satu fangirl fanatiknya ini dapat menakutinya seperti itu. Angin yang meniup rambut keduanya dengan agak kencang pun tak dipedulikannya. Kini mereka hanya saling bertatapan, membiarkan keheningan menyelimuti udara.
"Sasuke-kun..."
Bisikan Sakura tadi sungguh menakuti Sasuke. Mungkin tidak berlebihan jika Sasuke menganggap gadis di hadapannya ini Dark Sakura.
"Sasuke-kun tidak tahu... Selama ini aku sangat menyukai Sasuke-kun... Memang awalnya hanya sebatas fans, tapi kemudian berkembang... Semakin aku memperhatikan Sasuke-kun, semakin aku merasakan itu. Merasakan... Bahwa aku mencintai Sasuke-kun. Tapi, apa... Apa Sasuke-kun tak tahu itu? Apa Sasuke-kun tak tahu kalau aku mencintai Sasuke-kun lebih dari siapapun? Aku, yang tidak pernah menyerah tentang Sasuke-kun? Tapi, Sasuke-kun malah memilih perempuan lain! Perempuan lain yang mungkin tidak mencintai Sasuke-kun sebesar cintaku pada Sasuke-kun! Apa Sasuke-kun tak tahu sakitnya?" jerit Sakura. Bertubi-tubi, dia serang Sasuke hanya dengan perkataannya. Hingga lelaki Uchiha itu mundur beberapa langkah menghindari Sakura. Khawatir ketakutannya terwujud.
"Lihat saja, Sasuke-kun. Aku tidak akan pernah menyerah! Aku tidak akan membiarkan Sasuke-kun bersama wanita lain! Aku pasti akan membuat hidup Sasuke-kun... Dan Hinata Hyuuga juga... Membuat hidup kalian berdua tidak tenang sebelum kalian berpisah! Lihat saja..." Sakura berbisik horor di akhir kalimatnya, dan seiring dengan seringai jahat di bibirnya, dia berbalik meninggalkan Sasuke—yang masih terdiam, kemungkinan karena shock.
"Akh... Apa yang kulakukan? KUSSOOO!" Sasuke menjerit frustasi. Teriakannya itu menghapus keheningan yang mengisi senja itu. Langit pun perlahan mengubah warnanya, menjadi merah darah indah, yang lebih sering diesbut scarlet. Dan warna indah itu pun menjadi latar, dari tragedi di antara keempat orang yang termabuk cinta itu. Biarlah warna scarlet ini menjadi saksi bisu yang akan menceritakan kisah penuh drama ini ke generasi setelahnya.
"Tadaima..." kata Naruto pelan, setelah menutup pintu rumahnya yang besar itu. Tanpa memedulikan ucapan 'okaeri' dari Kushina, dia melempar tasnya ke sembarang tempat di kamarnya, dan segera membanting diri di atas kasurnya. Memejamkan mata, berusaha untuk menghilangkan sakit hatinya. Naruto mengangkat tangan kanannya, yang baru beberapa saat lalu bersenang-senang karena telah menyentuh kelembutan tangan mungil seorang Hinata Hyuuga.
'Aku dan Hinata... Sudah... Bertunangan!'
Ukh! Naruto menjatuhkan tangannya tadi ke atas mata kanannya. Mencoba menghilangkan bayangan Sasuke dari benaknya. Perkataannya tadi masih terngiang-ngiang dengan jelas. Naruto tidak tahan. Dadanya terasa sakit sekali. Tapi tentu saja bukan karena penyakit atau apa. Itu pasti mengerikan. Tapi ini lebih menyakitkan. Naruto berguling ke samping. Mengepalkan erat tangannya sampai buku-buku jarinya terasa sakit dan memutih, menahan sakit yang membuatnya ingin menangis. Kini ia memang terdengar seperti perempuan, tapi bagi yang belum tahu rasanya sakit hati, itu sangat sangat—sakit. Tak ada kata yang tepat untuk menjelaskannya. Rasanya sakit sekali, sehingga rasanya ingin mati. Hingga bisa membuat orang merasa ingin kehilangan perasaan saja, agar tak merasakan yang namanya 'cinta' lagi.
Tok! Tok!
"Naruto, kau di dalam? Ayo, kaa-san sudah memanggil untuk makan malam. Naruto!" panggil Minato. Setelah mengetuk lagi dan tak ada jawaban, ditambah dengan cerita Kushina, Minato yakin kalau ada apa-apa dengan anak semata wayangnya ini. Setelah meminta izin, dia mencoba membuka pintu kamar Naruto. Dan dengan mudah, dia berhasil.
'Tidak dikunci...' batinnya. Setelah menutupnya kembali, ia menghampiri Naruto yang sekarang terduduk di atas kasurnya. Hanya dengan melihat tangan Naruto yang terlihat mengucek matanya yang sendu, Minato pun yakin bahwa ia sebagai seorang ayah harus turun tangan. Tentu saja, Minato hanya dapat berpikir, sudah berapa lama sejak dia melihat Naruto menangis? Seingatnya itu sudah sejak lebih dari sepuluh tahun lalu.
"Naruto, ada apa?" tanya dengan nada lembut. Mendekati anak kesayangannya ini. Mencoba menghiburnya, atau setidaknya mencari tahu masalahnya.
Naruto hanya mengerling pelan. Menatap mata ayahnya sejenak, lalu mengalihkannya lagi. Tak tertarik membuka pembicaraan, rupanya. Tapi hanya dengan satu tatapan itu, Minato sudah tahu apa yang terjadi. Pasti masalah cinta lagi. Naruto memang mudah ditebak. Rasanya, akhir-akhir ini, Naruto jadi sering terserang virus 'galau'. Dasar anak muda...
"Kau tahu, Naruto? Rasanya sudah lama tou-san tidak melihatmu menangis. Ada apa?" tanyanya lagi. Kali ini, dengan sedikit menggoda Naruto. Mengetahui tabiat Naruto, anak itu pasti akan menjawab dengan nada tinggi. Dan yang pertama dikatakannya pasti...
"Aku tidak menangis!" penyangkalan. Tepat sekali! Minato tersenyum puas karena tebakannya benar. Tapi dia segera memasang wajah serius ketika melihat Naruto menatapnya marah, mengira Minato tersenyum mengejeknya.
"Sudahlah, Naruto. Menangis karena cinta itu tidak apa-apa. Jangan ditahan. Menangislah selagi kau bisa," nasihat Minato bijak. Mengelus kepala Naruto pelan, mengacak-acak rambut pirangnya yang sama sepertinya.
"..."
"..."
Keheningan yang menyesakkan itu dipecahkan dengan kedatangan Kushina. Awalnya wanita itu datang untuk memarahi keduanya yang terlalu lama datang. Tapi melihat suasananya, dia mengubah niatnya dan ikut duduk di samping Naruto. Karena Minato sudah duduk di sebelah kanan Naruto, dia memilih duduk di sebelah kiri.
"Jadi, ada yang mau menjelaskan kenapa kalian diam saja di sini dan membiarkan makan malamnya menjadi dingin?" tanya Kushina. Matanya melirik suaminya tercinta, Minato, meminta jawaban. Minato yang menyadari arti tatapan Kushina itu mengedikkan kepalanya ke arah Naruto—yang sedang melamun menatap lantai—mengisyaratkan 'tanya saja padanya'.
"Naruto... Ada apa lagi? Masalah Hinata... Ya?" tanya Kushina lembut. Di saat-saat seperti ini, sisi keibuannya memang suka muncul. Dan untung saja, karena sepertinya Naruto sedang membutuhkannya sekarang. Dan Kushina mengerti, bahwa sikap diam Naruto berarti dia tidak mau membicarakannya.
"Cerita saja, sayang. Kaa-san dan tou-san akan mendengarkan, kok. Mungkin kami bisa membantu..." tawar Kushina. Sambil membujuk, wanita cantik berambut merah mengelus pelan punggung Naruto. Sama seperti ketika Naruto kecil menangis karena jatuh atau berantem. Pasti bocah lucu itu akan berlari sambil menangis dan memeluk Kushina. Lalu dia akan menenangkannya dengan cara mengelusnya pelan. Ah, sungguh nostalgia yang indah.
"Maaf, kaa-san, tou-san... Naruto tidak bisa cerita sekarang. Mungkin... Kalau Naruto sudah siap..." lirih Naruto. Nada suaranya sarat akan kesedihan dan kepiluan yang sangat menusuk, menyakitkan. Bahkan Kushina dan Minato terkejut dibuatnya. Naruto, yang biasanya adalah remaja ceria dan hiperaktif, yang tak mengenal kata 'sedih', kini hampir menangis di hadapan mereka. Hati orangtua mana yang tidak sakit melihat anaknya seperti ini?
"... Baiklah... Tou-san mengerti. Tou-san dan kaa-san akan keluar. Jika kau butuh kami, kami ada di kamar," kata Minato. Dia mengerling pada Kushina, mengisyaratkan bahwa mereka harus keluar. Kushina bangkit dari duduknya, dan setelah menatap Naruto cepat, dia berbalik dan menutup pintu kamar. Meninggalkan Naruto untuk bergelut dengan pikirannya. Membiarkannya larut dalam kesedihan tiada tara. Namun inilah proses pendewasaan. Rasa sakit adalah cara mencapai taraf dewasa dalam kehidupan. Dan Naruto harus berhasil melaluinya agar bisa dicap 'dewasa'.
"Minato... Aku... Khawatir dengan Naruto... Apa dia bisa melewati masalahnya? Tampaknya dia sangat depresi," lirih Kushina. Tangannya bergetar, dan wajahnya terus tertunduk. Tampaknya dia pun jadi ingin menangis melihat Naruto ingin menangis.
"Sshhh... Apa yang kau bicarakan, Kushina? Naruto itu anak kita! Kita besarkan sejak kecil. Kita ajarkan agar menjadi kuat. Dia pasti bisa melaluinya. Percayalah padanya," kata Minato. Digenggamnya tangan Kushina, mencoba menghentikan getaran kesedihan yang dialami wanita cantik berstatus istrinya ini. Mendekapnya lembut, membiarkannya menumpahkan kegelisahannya di dada bidangnya. Walau bagaimanapun, Minato sudah berjanji, akan selalu melindungi Kushina.
'Berjuanglah, Naruto. Tou-san percaya padamu. Ganbatte!' batin Minato. Mereka berdua kini memilih untuk menghabiskan makan malam yang sudah dingin itu berdua, dan menjalani sisa malam dengan tidur tenang di kamar. Tanpa pembicaraan atau kegiatan berarti, hanya tidur untuk menghilangkan kegelisahan mereka.
"Hinata..." walaupun jam belum menunjukkan waktu yang larut, tapi Naruto memutuskan untuk merebahkan diri di kasur king size-nya. Ia berusaha memejamkan kedua bola sapphire miliknya. Mencoba melenyapkan bayangan gadis berambut indigo yang tersenyum manis padanya itu. Membayangkan bahwa gadis itu akan berbalik meninggalkannya, sungguh sakit... Sakit...
"Hiks... Sakit..." isakan kecil seorang gadis terdengar di salah satu kamar kediaman Hyuuga yang besar itu. Ya, yang menangis itu adalah putri tertua dari ketua keluarga Hyuuga, Hinata Hyuuga. Hinata terus menerus menangis sejak pulang ke rumahnya. Insiden di danau itu—yang ternyata cukup dekat dengan rumahnya—membuatnya sangat trauma. Yah, sebenarnya bukan trauma juga, tapi kata yang cukup menjelaskannya adalah itu. Trauma.
Sejak tadi tak ada yang berani mengganggu Hinata, semuanya sudah menyerah. Bahkan gedoran keras dari Hiashi beberapa jam lalu tak mampu menggoyahkan Hinata untuk membuka pintu. Kunci kamarnya itu kini tergeletak manis di meja belajarnya, yang ada tepat di samping tempat tidur queen size-nya. Tapi Hinata tak peduli, gadis cantik itu lebih memilih untuk duduk dan memeluk lututnya sendiri, terisak menangisi luka hatinya yang tak kunjung sembuh.
Hinata masih terisak, sudah berjam-jam lamanya. Kali ini, dia sudah tak tahan. Semua tangis yang selama ini dipendamnya pun keluar, tanpa ia cegah. Lagipula, Hinata pernah mendengar dari ibunya saat ia masih kecil.
'Hinata, kau tahu kenapa mengapa Kami-sama memberi perempuan air mata? Karena perempuan adalah makhluk yang kuat. Mereka terus bangun walau disakiti, mereka juga punya kekuatan untuk berusaha saat orang lain menyerah. Tapi, kadang perempuan juga bisa tersakiti. Dan karena itu, Kami-sama memberikan air mata. Air mata adalah air suci, yang membantu perempuan untuk menghapus luka hati mereka. Jadi, jika kau mengalami beban yang amat berat, jangan takut untuk menangis. Karena menangis bukanlah tanda kelemahan, tapi berarti adalah cara untuk menyembuhkan hati yang terluka. Menangislah jika kau ingin menangis. Karena, perempuan yang tidak takut menangis, adalah perempuan yang kuat...'
"Hiks, kaa-san... Apakah aku kuat? Apakah lukaku akan terhapus dengan menangis? Tapi... rasanya masih sakit. Sakit sekali... Aku tidak kuat. Tolong aku... Kaa-san..." lirih Hinata. Dia mengangkat kepalanya yang tertunduk, menyebabkan surai halus indigonya yang sejak tadi menutupi wajahnya itu kini menyampir, membingkai indah wajah cantiknya. Matanya manatap sendu ke depan, kehilangan cahaya indah yang biasa menghiasi kelereng lavender itu.
"Kaa-san... Hiks... Apa yang harus kulakukan?" bisik Hinata. Dia masih merasa sangat sedih. Dia ingin merasakan dekapan lembut dan sentuhan kasih sayang dari ibunya. Tapi, bagaimana caranya? Ibunya kini sudah berbahagia di alam sana. Hinata perlahan turun dari kasurnya, dan menjejakkan kedua kaki mungilnya di lantai kamarnya yang terlapisi karpet beludru indah yang disulam khusus oleh penjahit keluarga Hyuuga.
Langkah dari kaki jenjangnya membawa Hinata ke suatu tempat istimewa, balkon kamarnya. Setelah menyibakkan tirai dan membuka pintu kaca itu, Hinata meangkah maju. Dan angin malam yang sejuk menyambutnya, menerpa wajah cantiknya yang basah. Seakan angin itu berusaha menghapus air mata yang masih tersisa di pipi Hinata. Hinata pun terus melangkah maju, tak peduli walaupun tubuhnya mulai menggigil karena dingin. Apalagi kini dia hanya memakai gaun tidur yang cukup terbuka. Hanya gau tidur simpel berwarna soft purple lavender yang berlengan tali tipis, dan pendeknya sekitar setengah paha Hinata.
Hinata memejamkan mata. Merasakan angin itu membelainya lembut. Mirip dengan kelembutan sentuhan ibunya. Kondisi anginnya tak stabil. Kadang anginnya cukup kencang dan membuat rambut indigo Hinata berkibar, membuat gadis manis itu harus memeganginya agar tak jadi makin berantakan. Saat angin mulai kembali tenang, dia membuka matanya. Melihat bulan yang indah menggantung di langit yang gelap. Cahaya peraknya menyihir Hinata untuk terus memandanginya.
"Kawaii ne..." lirih Hinata. Akhirnya Hinata dapat tersenyum. Rasanya sudah bertahun-tahun Hinata tidak tersenyum. Padahal tadi sore adalah saat-saat indah bersama Naruto. Tapi kini kebahagiannya terenggut dengan sadisnya. Sakit... Sungguh sakit...
"Hinata..." suara lirih, samar namun familiar tertangkap dalam indera pendengaran Hinata. Sudah bertahun-tahun Hinata tidak mendengar suara lembut ini. Ini... Tidak mungkin!
"Kaa-san..."
Mata Hinata terbuka lebar melihat orang—atau apapun itu—yang hadir di hadapan Hinata. Wajah cantiknya yang bercahaya, senyumnya yang hangat, rambut indigonya yang berkibar serupa dengan Hinata, membuat Hinata kembali merasakan nostalgia itu. Kini ibunya telah datang menemui Hinata!
"Hinata... Tadaima..." kata wanita itu—yang bernama Hikari Hyuuga—pelan, namun dengan senyumnya seperti biasa, yang manis.
"Kaa-san... Okaeri... KAA-SAN!" Hinata menghambur memeluk wanita di hadapannya itu. Ibunya menyambutnya dengan senyum lebar. Hinata pun merasuk dalam dekapan hangat ibunya, menangis bahagia. Walaupun mata lavendernya meneteskan air mata, tapi bibirnya terus melengkungkan senyum indah, melambangkan besarnya kebahagiaan Hinata saat ini.
"Hinata... Hinata-chan no egao ga suki... Hontou..."
"Aitai... Kaa-san... Aitakatta!"
"Hinata... Kaa-san sangat merindukanmu. Terutama senyummu yang indah. Kaa-san sangat suka... Akhirnya kaa-san bisa melihatnya lagi."
"Kaa-san... Hinata rindu kaa-san..."
Reuni anak dan ibu itu berlangsung sangat mengharukan. Mereka saling berpelukan dengan erat. Hinata tak mampu membendung air matanya lagi. Semuanya ia tumpahkan di pelukan ibunya tercinta. Keduanya saling berbagi kehangatan. Rasanya sakit hati Hinata terlupakan sejenak karena kedatangan ibunya. Walaupun Hinata tahu, itu tidak mungkin. Tapi ia tidak peduli, kini ibunya bersamanya!
"Hinata... Kaa-san tahu kau ada masalah. Ada apa?" Hikari bertanya lembut setelah Hinata mengangkat wajahnya dari dekapannya.
"Jangan dulu, kaa-san! Kita bicara di kasur saja," usul Hinata, disambut senyum keduanya. Tampaknya Hinata sudah melupakan masalahnya—atau sedang. Yang jelas, kedatangan ibunya merupakan obat hati yang sangat manjur untuk Hinata. Hinata menarik tangan Hikari pelan dan membawanya ke kasurnya yang berlapiskan warna lavender.
"Kaa-san... Hinata mau cerita, boleh kan?" tanya Hinata pelan pada Hikari. Namun tak dapat dipungkiri, dalam kalimatnya, terdapat nada manja yang selama ini selalu dipendam Hinata. Sosok gadis dewasa ini pun bisa berubah 180 derajat menjadi seperti gadis kecil.
"Ya, ada apa, sayang?" jawab Hikari sambil mengelus rambut indigo panjang Hinata, yang posisinya sedang bersandar padanya. Dia tersenyum kecil, ternyata putri kecilnya yang berambut pendek dan selalu berusaha belajar ini, bisa tumbuh menjadi gadis cantik yang dewasa. Apalagi dia mewarisi rambut indigo miliknya, yang selalu disanjung setiap orang.
"Hinata punya masalah... Dengan kehidupan, uhm... Kehidupan cinta Hinata..." ucap Hinata malu-malu. Menyebut-nyebut kehidupan pribadinya, seperti cinta membuatnya merona malu. Hikari hanya tertawa kecil, anggun. Menenangkan Hinata, memberitahunya agar tak perlu malu menceritakannya padanya.
"... Begini... Hinata... Hinata sudah ditunangkan oleh otou-san, dengan seorang laki-laki... Namanya Sasuke Uchiha..." mulai Hinata. Dia menceritakan dengan pelan, nampaknya beban masalahnya mulai muncul lagi begitu dia mulai memikirkannya. Tetapi melihat Hikari yang tetap diam, mendengarkan, Hinata melanjutkan.
"... Dia mahasiswa di Konoha University, dan aku dosen pengganti di kelasnya. Aku sudah tahu itu, karena aku sudah diberitahu oleh keluarganya, keluarga Uchiha. Sebenarnya... Pertunangan itu sudah direncanakan. Itu sebagai balas budi—"
"Tunggu, Hinata. Balas budi? Balas budi apa?"
"Sejak 2 tahun lalu, perusahaan tou-san mulai menurun. Banyak PHK, lalu klien mulai mengundurkan tawaran. Keuangan sangat parah saat itu. DI saat krisis, direktur Uchiha Corp., Fugaku Uchiha, menolong Hyuuga Corp. dan membuat perjanjian kerja sama. Tapi, semua itu ada harganya..."
Hinata menunduk sedih. Surai indigonya yang merangkum wajah cantiknya kini terjatuh menutupi wajah cantiknya. Helaian-helaian selembut sutra itu Hikari sampirkan ke telinga Hinata, dan akhirnya wanita itu mengelusnya pelan, lagi. Rasanya dia sudah mengerti, tapi tetap diam dan membiarkan Hinata menjelaskan segalanya.
"... Pertunangan harus dilaksanakan di antara kedua pewaris Hyuuga dan Uchiha. Hinata ditunangkan dengan Sasuke-kun. Sasuke-kun bilang dia mencintai Hinata. Hinata juga sudah mencoba untuk mencintai Sasuke-kun. Semuanya baik-baik saja, sampai... Hinata menjadi dosen pengganti..."
"..."
"... Hinata jatuh cinta. Hinata jatuh cinta pada seorang mahasiswa bernama Naruto. Naruto Namikaze. Hinata merasakan perasaan yang berbeda bersama Naruto-kun. Kelihatannya Naruto-kun juga. Tapi, Hinata berbohong. Dan akhirnya, semuanya terungkap. Hari ini, Sasuke-kun memberitahu Naruto-kun tentang pertunangan kami..."
"... Hinata takut, kaa-san... Takut Naruto-kun dan Sasuke-kun akan membenci keduanya. Hinata sayang keduanya. Hinata harus bagaimana, kaa-san?"
Setelah Hinata menyelesaikan ceritanya, gadis manis itu pun kembali meneteskan air mata. Dua bola lavender miliknya kini berkilau tertimpa cahaya bulan, lapisan air mata yang melapisi schlera matanya memantulkan cahaya itu. Terlihat sangat indah. Hinata berusaha menghapusnya dan mengucek kedua matanya. Tetapi Hikari mencegahnya. Wanita cantik itu menahan tangan Hinata lembut, membuat Hinata memandangnya penuh tanya.
"Perempuan yang tidak takut menangis, adalah perempuan yang kuat. Benar kan, Hinata-chan?" Hikari berkata sambil tersenyum. Hinata, yang sudah berhenti menangis, kini terhenyak. Bagaimana mungkin ia melupakannya secepat ini?
"K-kaa-san! Huaa..." Hinata meledakkan tangisnya dalam dekapan hangat dada sang ibu. Hikari membalasnya dan mengelus punggung Hinata.
"Hinata, jujurlah pada perasaanmu. Jangan takut melangkah maju. Masa depan memang misterius dan menakutkan, tapi kau yang menentukannya sendiri. Percayalah pada hatimu! Kaa-san akan selalu menemanimu..." kata Hikari, mengelus pipi Hinata dan tersenyum manis.
"Kaa-san..." Hinata kembali memeluk Hikari erat. Hangat, hanya itu yang dirasakan Hinata. Kehangatan seorang ibu.
"Kaa-san!"
Hinata terbangun dari mimipinya yang indah. Ya, mimpinya bertemu ibunya. Konyol jika Hinata berpikir Hikari benar-benar datang. Itu tidak mungkin, karena ibunya sudah meninggal 4 tahun lalu. Masih kaget, Hinata bangkit terduduk dan memandang berkeliling sejenak dengan cepat, mengakibatkan rambutnya terlempar ke kanan dan kiri mengikuti geraknya. Dia menghela nafas. Gadis itu pun mengangkat tangannya, memandanginya. Membiarkan kedua tangan mungil itu menenggelamkan wajahnya. Melirih kecil, hampir tak terdengar.
"Arigatou... Kaa-san..."
.
...Tsuzuku...To Be Continued...Bersambung...
.
Yosh, minna! Welcome ke area bacot author yang pastinya gila dan sesat(?) ini! Sebelumnya, siapkan mental anda kuat-kuat agar tidak mengalami gejala kerabiesan(?) yang disebabkan author nista ini. Efek samping tidak ditanggung author, lho... *kayak iklan obat -_-'*
By the way anyway busway... Gomenasai karena update super lama ini! *bungkuk-bungkuk* *ditendang readers*
Hiks, karena Shana sibuk setengah mati setengah idup setengah mateng(?), fic-fic Shana malah jadi terbengkalai. Apalagi virus malesus ngetikulosis(?) alias males ngetik dan krisis ide melanda! Haah...
Untungnya, Shana dapet pencerahan *ceilah, bahasanya* karena pergi ke... (jerengjengjeng) *suara terompet n drum* #apa sih? ... Singapura! Yey, bener banget. Di negara patung Merlion ini, otak Shana yang udah butek ini balik lagi. Yeay! *autis mode : on*
Oh ya, di fic tadi, ada beberapa kalimat Jepang. Nah, ini glossariumnya :
Tadaima : Aku pulang.
Okaeri : Selamat datang.
Kawaii ne : Cantiknya.
Hinata... Hinata-chan no egao ga suki... Hontou... : Hinata... Aku (Kaa-san) suka senyum Hinata-chan... Sungguh...
Aitai... Kaa-san... Aitakatta! : Aku ingin bertemu... Kaa-san... Aku merindukanmu!
Tapi Shana ga janji kalau fic ini bakal bagus atau bebas typo atau apa. Shana juga manusia yang banyak salah kan...
Naruto : Banyak curcol lu! Buruan bales review, terus tutup!
Shana : *gak denger* Dan yang paling asyik itu ke Universal Studio Singapore! Apalagi wahana TRANSFORMERS The Ride Ultimate 3D Battle! Keren banget! Shana yang awalnya gak suka Transformers, langsung jatuh cinta! Terutama, cinta sama suaranya Optimus Prime~
Sasuke : Kok lama amat sih, Nar?
Naruto : Tau nih author gaje, kerjaannya curcol mulu. Padahal gak ada yang dengerin.
Shana : *masih asyik curcol ke... Nobody?* Bukannya sombong lho, minna, tapi ke Singapura itu pengalaman terbaik! Nyeselnya sih ga ke Sentosa Island, trus ke Universal Studio-nya terlalu bentar. Masih banyak wahana yang belum Shana naikin...
Hinata : Ano... Naruto-kun, Sasuke-kun... Kok kita belum selesai-selesai ya?
Naruto : Tau, tanya ke author itu aja! *nunjuk-nunjuk Shana*
Shana : *ini anak budeg ya? Masih ga kedengeran juga?* Trus Shana juga dapet banyak temen baru. Tapi ada yang serem juga sih. Bolak-balik Singapura-Jakarta, penerbangannya cuaca buruk terus. Serem~
Naruto : Gimana nih? Kita gak kelar-kelar. Udah gaji kecil, BBM mau naik lagi... *ngeluh ceritanya*
Sasuke : Ah, gue tau! Satu-satunya kelemahan Shana! *ngacir*
Hinata : Ah, Sasuke-kun mau ke mana?
Naruto : Jangan dicegah, Hinata-chan~ Kita kan... *meluk Hinata dari belakang dengan eksotis* ... Bisa berduaan~
Hinata : ... Ah, Naruto-kun...
Sasuke : Gue balik! Naruto, jangan macem-macem sama tunangan gue! *deathglare* Anyway, gue udah bawa solusinya!
Naruto : Umm... Itu kan... Itachi-nii?
Itachi : Apa sih, baka ototou? Main tarik aja... Suka sama aku? Kangen? Bilang aja...
Sasuke : Urusai! *blush* Anyway, tuh, urusin si author! Buruan! *dorong Itachi*
Itachi : *liat Shana yang masih ngoceh gak jelas* Gimana? Kayaknya gak bakalan digubris.
Sasuke : Pake jurus apa kek, nii-san kan jago. Ayo, buruan!
Itachi : Haah... Terpaksa pake cara itu...
Shana : Terus Shana patah hati karena seorang cowok asli yang tiga dimensi! GALAU berat ni—Eh?
Itachi : *meluk Shana dari belakang dan berbisik di telinga Shana* Shana-chan~ *mendesah* Aitai...
Shana : *blush n mendesah* Ahh... Ita-kun... Shana...
Itachi : Ssttt... Jangan bilang apapun lagi! Nikmati saja tubuhku... *nempelin telunjuknya di bibir Shana*
Shana : Ahh... *mejemin mata*
Itachi : *mejemin mata juga, wajahnya perlahan maju*
Shana : *ikut majuin wajah*
Naruto + Sasuke : Woyy, STOP! Ini bukan adegan yang cocok untuk author note, apalagi ini mulai adegan rate M! Lagian, Shana masih di bawah umur!
Itachi : Ah, iya, gomen. Shana-chan, gimana kalau sekarang balesan review? *mengecup pipi Shana lembut*
Shana : *blush* Ah, Ita-kun...
- Yamanaka Chika : Yah, i know... Pasti enak banget yah nikmatin ceritanya tanpa tau perjuangan Shana *digaplok Chika* Hehe, kidding~ Nih update, walau gak flash. Maklum, cewek galau... *pundung* #apa sih?
- Tantand : Makasih atas pujiannya~ Oke, ini update, walau ga asap...
- Haru glory : Yup, NaruHina emang klop! Eeh, ya bukan Naru kentut laah... Ada jawabannya di sini! Ups, gomen ne, Shana ga bisa update kilat, sibuk banget sih. Gomenasai! *bungkuk-bungkuk*
- Megu-Megu-Chan : Yup, lagu itu emang enak. Kebetulan Shana suka lagunya, jadi dimasukin aja! Pas ya? Yokatta~ Ya, akhir nanggung biar penasaran dong. Oke, ini lanjut!
- NaruHinaLovers : Ikut! *tonjok Sasuke* Hehe... Ok, ini update, maaf kalau ga cepet.
- Brian123 : Wah, makasih udah nge-like! *berasa di fb* Ok, ini update, walau gomen ga cepet.
- L-The-Mysterious : Yap, sakit sih, tapi sakit hatinya lebih. Jleb! gitu... Eh, kepanjangan? Hontou? Umm, iya juga sih. Oke ini dipendekin, tapi ga 3K+ juga, nanti kependekan, readers ga puas dong... Eh, indigo? Indigo itu warna nila. Kayak warna blue dye gitu. Di spektrum elektromagnetik, frekuensi gelombangnya ditempatkan di kepanjangan 420-450 nm, di antara biru dan violet. Ada yang bilang juga itu sekitar 446-464 nm. Dari wikipedia, sih...
- Uzumaki Hyuuga Zetsu Namikaze : Yap, emang Sasuke-teme itu! *dibantai Sasu n Sasu FC* Oke, ini lanjut! Gomen kalau ga cepet update-nya.
- kakashi ya'zid : Okeee, ini udah updateee! Thanks udah suka!
- Kalongersss : Huooo, makasih uda muji dan bilang sukaaa! *lebay* Ok, ini update~
Shana : Yup, semuanya udah. Lebih dikit sih dari chap kemaren, tapi mungkin karena sibuk banyak ujian. Terserahlah, yang penting berarti karya Shana masih ada yang suka dan menghargai!
Naruto : Iya iya, buruan tutup aja deh!
Shana : Sabar dikit nape, Dobe!
Sasuke + Naruto : Heyy!
Itachi : Jadi, Shana-chan? Shall we? *berlutut ala ksatria dan mencium tangan Shana lembut*
Shana : *blush* Wakarimashita, Ita-kun...
All : REVIEW PLEASE!
