Let's Get Married, Sensei!
CHAPTER 6 UPDATE!
Yeay, halo lagi, minna~
Shana kembali lagi dan ingin mengucapkan selamat liburan! Semoga semuanya naik kelas, ya. Dan bagi yang habis UN, semoga semuanya lulus dan diterima di sekolah atau universitas impiannya, ya! Amin.
Yossha, Shana gak mau banyak bacot, karena sebenarnya... Shana nulis ini sebelum liburan -_-' Yah, pokoknya sih itu gak penting yaaa... *alesan-alesan-alesan*
Yaa, yang penting bukan itu, kaaan? *digebukin* Aakh, udahlah! Yang penting ceritanya, kan? Langsung aja ya, minna, Happy Reading!
Summary : "Aku tidak bisa lagi menjalani semua ini..."/"Karenamu, semuanya hancur! Hidupku hancur!"/"Apa persahabatan kita hanya sebuah kebohongan?"/"Kaulah yang merebutnya dariku!"/"Kenapa semuanya jadi seperti ini?"/Semuanya pun menjadi semakin rumit...
Rating : T
Pairing : NaruHina
Genre : Romance/Drama
Warning : OOC, typo, abal, gaje, update lelet, salah kata, dan lain-lain. Contain Sakura-bashing, so... Don't Like Don't Read!
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
.
^.^b Let's Get Married, Sensei! d^.^
.
"Arigatou... Kaa-san..."
Hinata menyeka air matanya. Ia mengangkat wajah manisnya dari dekapan kedua tangannya. Membiarkan wajah manis itu bersinar. Ya, bersinar bahagia. Walaupun Hinata menangis, tapi ia tersenyum. Air mata yang menetes dari kedua mata lavender cantiknya adalah air mata kebahagiaan. Bahagia karena mendapat kesempatan untuk bertemu dan berbincang dengan ibunya lagi, walau hanya dalam mimpi.
Hinata sudah puas menangis. Setelah dihapusnya tetes terakhir air mata yang menggenang di pelupuk matanya, ia terdiam. Berpikir tentang hubungannya dengan Naruto dan Sasuke. Ibunya benar, masa depan memang misterius dan menakutkan. Dan Hinata juga tahu benar, bahwa hubungannya dengan mereka tidak akan sama seperti dulu lagi. Karena, apapun keputusan Hinata, pasti ada pihak yang tersakiti.
"Kejam... Dunia memang tidak adil... Tapi aku harus memilih. Tapi, memilih siapa?" lirih Hinata frustasi. Ia masih tidak bisa membaca hatinya sendiri. Gadis itu masih terjebak di antara dua pilihan. Dan Hinata tak bisa menemukan jawabannya. Atau mungkin... Hinata takut menemukan jawabannya, dan menutup hatinya sendiri.
"Aku butuh jawaban... Tapi aku tidak bisa menjawabnya. Aku harus bagaimana?" lirih Hinata lagi. Dipandanginya jendela balkonnya yang masih menampakkan sisa-sisa malam dengan cahaya bulan samar menggantung di langit. Hinata pun melirik jam di samping tempat tidurnya, yang menunjukkan pukul lima pagi.
Tak mau membuang waktu, Hinata bangun dan meregangkan tubuh langsingnya yang terasa kaku setelah tidur berjam-jam lamanya. Tapi saat ia akan memasuki kamar mandi, tiba-tiba sebuah getaran aneh menuntunnya ke arah balkon. Hinata menimang-nimang, apakah ia akan ke balkon, atau langsung mandi? 'Yah, tidak ada salahnya refreshing sebentar di balkon,' pikirnya. Dan Hinata berjalan pelan menuju balkon.
Setelah pintu kaca itu dibuka, angin fajar yang sejuk menerpa wajahnya. Ia menutup matanya, merasakan belaian lembut itu di kulit putihnya. Hinata tersenyum sambil tertawa kecil. 'Rasanya seperti deja vu,' batinnya.
Hinata membuka mata. Langkah kaki-kaki mungilnya membawanya ke tepi balkon. Tangannya menyentuh pinggiran balkon yang terbuat dari marmer itu.
"*Ne, sekai... Moshi anata wa atashi dattara... Nani wo shitte imasu ka?" lirih Hinata.
"*Watashi wa Naruto-kun ga daisuki dattara... Shikashi... Sasuke-kun wa watashi ga daisuki dattara... Dakara... Watashi wa dou shimashou ka?" lanjut Hinata. Hatinya terombang-ambing oleh kegelisahan yang tak menentu. Hatinya terbagi antara cinta dan balas budi. Semuanya sungguh membingungkan.
"Aku tidak bisa lagi menjalani semua ini. Semuanya terlalu membingungkan dan menyakitkan."
"Nee-chan, cepat mandi! Tou-san bilang kita harus berangkat lebih pagi hari ini!" seru Hanabi di depan kamar Hinata.
Hinata tersadar dari lamunan panjangnya dan bergegas menuju kamar mandi. "Y-ya, tunggu sebentar, Hanabi-chan!" balas Hinata.
Setelah lima belas menit penuh keburu-buruan, Hinata berlari pelan menuju ruang makan. Di sana, Hiashi sudah menunggu sambil membaca koran dan menyeruput green tea kesukaannya, seperti biasa. Neji sedang menghabiskan sarapannya. Sedangkan Hanabi tampak sedikit terkantuk-kantuk karena tidur nyenyaknya sedikit terganggu.
"Ayo, Hinata! Tou-san ada rapat pagi. Habiskan saja sarapanmu di mobil," perintah Hiashi. Pemimpin keluarga Hyuuga itu segera mengambil kunci mobil di atas meja dan bergegas menuju mobil, dengan diikuti Hinata, Neji dan Hanabi.
Hiashi berkendara agak lebih cepat dari biasanya. Untunglah jalanan masih sedikit sepi, sehingga tidak terlalu berbahaya. Setelah mengantar Hanabi ke Konoha Senior High School, sekolah Hanabi dimana dia menjadi murid kelas 1-1, Hiashi mengantarkan Hinata dan Neji ke Konoha University.
"Tou-san, ittekimasu!"
"Hiashi-sama, ittekimasu!"
Setelah memberi salam, Hinata dan Neji berjalan memasuki kampus elit di hadapan mereka. Neji memasuki gedung di sebelah kiri, untuk fakultas Kedokteran tempatnya belajar, sedangkan Hinata ke fakultas Bisnis tempatnya menjadi dosen.
"Jadi, Hinata, kau mau kujemput atau tidak setelah selesai?" tanya Neji.
"Ku-kurasa tidak, Neji-nii. Aku ada rapat dengan dosen lain sampai sore. Aku tidak mau merepotkan Neji-nii," jawab Hinata.
"Sou ka... Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Ja!" kata Neji lagi.
"Ja!" balas Hinata sambil melambai.
Saat Hinata akan masuk, dilihatnya salah seorang mahasiswinya yang berambut pink, Sakura Haruno. Disapanya dengan senyum ramah. "Ohayou, Sakura-san!"
"..."
Bukannya balasan hangat dengan senyum manis seperti biasa yang didapat Hinata, tetapi lirikan sinis dari Sakura. Gadis bermata emerald itu hanya melenggang dan berjalan tanpa mempedulikan ketidaksopanannya pada Hinata yang merupakan dosennya.
'Ada apa dengan Sakura? Aneh sekali dia pagi ini,' pikir Hinata. Tapi dia tidak terlalu mempedulikannya, karena dipikirnya Sakura sedang bad mood hari ini. Tapi, yang Hinata tidak tahu, Sakura bad mood karena dirinya.
Sesampainya di ruangan para dosen, Hinata meletakkan tasnya dan duduk sejenak. Kuliahnya baru akan dimulai setengah jam lagi, dan Hinata masih sedikit lelah dan mengantuk. Saat ia akan memejamkan mata dan beristirahat, seseorang mengajaknya bicara.
"Ohayou, Hinata! Bagaimana kabarnya? Baik?" sapa Kurenai, salah satu dosen Konoha University. Hinata batal istirahat, dan menjawab sapaan Kurenai diiringi sebuah senyuman hangat.
"Iya, baik, Kurenai-san. Kurenai-san sendiri?"
"Yah, cukup. Tapi ada berita baik yang membuatku sangat bersemangat akhir-akhir ini!"
"Oh ya? Berita baik apa?"
"Sebenarnya, aku... Sudah hamil dua bulan!"
"Benarkah? Selamat, ya, Kurenai-san!"
"Iya, terima kasih banyak, Hinata! Ups, sudah waktunya kuliah. Aku pergi dulu, ya, Hinata."
"Ya, Kurenai-san. Nanti kita bicara lagi, ya!"
"Pasti. Bye!"
"Bye!"
Hinata tersenyum menatap kepergian Kurenai. Ia turut bahagia dan bersemangat atas berita kehamilan Kurenai. Hinata tiba-tiba menyadari kalau sebenarnya dia adalah dosen termuda di sini. Karenanya, kadang pembicaraan Hinata dan dosen-dosen lainnya sedikit berbeda. Walaupun begitu, Hinata tetap menyukai atmosfer kehangatan dan kekeluargaan di situ.
Setelah akhirnya dapat beristirahat dengan santai selama beberapa menit, Hinata terbangun tiba-tiba. Dengan sedikit gelagapan, dilihatnya jam tangan yang terpasang manis di pergelangan tangan kirinya. Hinata bangkit dengan penuh kekejutan melihat waktu menunjukkan pukul setengah delapan pagi; waktu kuliahnya dimulai.
"Aah, baka! Bagaimana mungkin aku ketiduran?" gumam Hinata. Dengan setengah berlari, Hinata menyusuri koridor universitas terbaik se-Konoha itu. Tiba-tiba...
Byur!
"Kyaaa!"
Tanpa ada peringatan, seember air membanjur tubuhnya dari atas. Untunglah map yang berisi bahan yang akan diberikan hari ini tidak ikut basah. Hinata jatuh terduduk begitu heels sepatunya yang cukup tinggi itu terpeleset oleh ceceran air di lantai. Untunglah ada beberapa orang mahasiswanya yang kebetulan lewat. Dua orang yang selalu dipikirkannya akhir-akhir ini.
"Hi... Hinata-sensei!" seru Naruto dan Sasuke bersamaan. Mereka pun segera membantu dosen mereka—atau mungkin lebih tepat disebut pujaan hati mereka—untuk berdiri.
"Da-daijoubu. Aku baik-baik saja," ujar Hinata setelah melihat wajah khawatir Naruto dan Sasuke.
"Tapi, sensei..."
"Tidak apa-apa, sungguh!"
"Baju sensei basah. Ayo ganti baju, sepertinya beberapa anak perempuan membawa baju ganti."
Sementara Hinata, Naruto dan Sasuke berjalan meninggalkan koridor tadi, sepasang mata emerald mengamati mereka dengan penuh kebencian. Sorot mata itu sungguh menusuk. Dilemparnya ember yang tadi digunakan untuk membanjur Hinata.
"Lihat saja, Hinata. Kau akan dapat balasannya..." bisik gadis berambut pink itu. Sambil melempar rambut sebahunya ke belangkang, gadis itu melenggang sambil menampakkan senyum jahat yang sangat mengerikan.
"Balasan dari Sakura Haruno..."
"Ya ampun, sensei, kok bisa basah kuyup begitu?" para mahasiwa dan mahasiswi di kelas Hinata panik melihatnya datang dengan diselimuti handuk, dan pakaian basah beserta air menetes dari ujungnya.
"Err... Sensei sedang melihat-lihat kolam renang belakang, tapi tiba-tiba terpeleset lalu jatuh ke kolam," Hinata berbohong karena tidak ingin terdengar menuduh atau mencari perhatian atau apa.
"Dan... Bolehkah sensei meminta pakaian ganti dari mahasiswi? Tolong, ya," lanjut Hinata, tidak ingin memperpanjang masalah.
"Aku bawa, sensei. Tapi di loker," jawab seorang mahasiswi berambut pink dan bermata emerald—Sakura Haruno.
"Benarkah, Sakura-san? Arigatou gozaimasu, hontou ni arigatou gozaimasu!" ucap Hinata penuh terima kasih sambil membungkuk.
"Baiklah. Ayo kuantarkan, sensei!" seru Sakura riang.
Saat telah menggandeng tangan Hinata dan berlari meninggalkan kelasnya, sebuah senyum jahat terpatri di bibirnya.
'Kena kau, Hinata Hyuuga!'
"Tunggu, Sakura!"
Sebuah seruan dingin yang tidak terduga keluar dari mulut Sasuke. Semua orang di ruangan terkejut mendengarnya. Tidak biasanya Sasuke bicara, apalagi pada perempuan. Biasanya Sasuke bicara hanya pada Naruto, itu pun hanya untuk menanggapi dengan "Hn" atau "Ya" atau kata-kata pendek lainnya.
"Ya, ada apa, Sasuke-kun~?" balas Sakura sambil memanis-maniskan nada bicaranya. Senyum sinis terlengkung di bibirnya.
"Aku..." perkataan Sasuke terpotong. Dia sadar akan kehadiran orang-orang lainnya di sana. Padahal tadi ia akan menghentikan Hinata untuk mengikuti Sakura, karena Sasuke yakin ada niat buruk di balik pertolongan Sakura.
Sakura tersenyum penuh kemenangan. Ia yakin Sasuke tidak akan membongkar rahasianya yang berkata akan terus mengganggu Hinata sampai Sasuke memutuskan pertunangannya dengan Hinata. Karena Sakura tahu benar hukum di sini, bahwa sebenarnya dosen dan mahasiswanya tidak boleh memiliki hubungan spesial, apalagi bertunangan. Karenanya juga ada beberapa dosen yang merasa keberatan dan memilih kampus lain daripada Konoha University. Dan Sakura juga tahu, Sasuke tidak akan mengambil resiko hubungan pertunangannya ketahuan.
"Hmm~? Kenapa, Sasuke-kun~?" tanya Sakura lagi, makin menatap tajam Sasuke.
"..."
"Ikut aku!" setelah diam beberapa saat, Sasuke memilih untuk menjauhkan Sakura dari Hinata. Sakura hanya tersenyum licik dan mengikuti Sasuke, tak jauh dari kelasnya.
"Apa yang kau mau, Sakura? Rencana busuk apa yang kau punya?" tanya Sasuke marah. Sakura memasang wajah bingung.
"Rencana? Rencana apa?" tanyanya, berpura-pura tidak tahu.
"Jangan berpura-pura, Sakura! Aku tahu kau punya niatan buruk pada Hinata! Katakan saja!" Sasuke nyaris berteriak karena kesal. Tapi ia tidak ingin rahasia pertunangannya terbongkar, sehingga dia berusaha tetap tenang di hadapan sang gadis Haruno.
"Oh? Niatan buruk? Seperti... Menyiramnya dengan air, begitu?" tanya Sakura. Kini ia mengganti tampang bingungnya dengan senyum jahat yang lebar.
"Kau... Bagaimana kau tahu? Ah! Jangan-jangan..."
"Tuan Sasuke Uchiha, putra dari Fugaku Uchiha yang merupakan direktur Uchiha Corp., yang disebut-sebut jenius Uchiha, tidak bisa mengetahui niatku dari awal? Sungguh menyedihkan! Tentu saja aku yang menyiram Hinata dengan air! Dan kau tidak juga menyadarinya? Aku mulai meragukan titelmu sebagai Uchiha!" ejek Sakura yang membuat darah Sasuke mendidih.
"Pikiranku salah tentangmu, Sakura! Kukira kau adalah gadis baik-baik, tapi ternyata kau busuk! Kau lebih rendah dari itu! Kau pelacur!"
PLAK!
"Jaga mulutmu, Sasuke! Kau tidak ingin rahasiamu terbongkar, bukan?" seru Sakura marah.
"Kau! Benar-benar..."
"Ada apa ini?" perkataan Sasuke terpotong oleh suara Hinata. Sasuke dan Sakura menoleh ke arah suara.
"Tidak ada apa-apa, sensei~ Ayo, kita ke loker!" balas Sakura sambil tersenyum. Saat akan lewat, Sakura melihat Sasuke akan menghentikannya. Akhirnya dia berjinjit dan membisiki telinga Sasuke.
"Tenang saja, aku tidak akan membuka rahasiamu dulu. Permainan takkan asyik kalau aku menang begitu saja. Berusahalah mengalahkanku, Sasuke Uchiha!" ujar Sakura sambil melenggang pergi, meninggalkan Sasuke dengan mata terbelalak terkejut.
"Jadi, sensei, bagaimana sensei bisa basah kuyup begitu?" tanya Sakura saat mereka sudah berdua di loker yang berada di kamar mandi perempuan yang sangat mewah, tempat mereka biasanya mandi dan lain-lain. Di Konoha University memang lain, biasanya ada acara tanam seribu pohon tiap sebulan sekali di jalan-jalan kota untuk mendukung gerakan Go Green, lalu acara olahraga atau lain-lain yang diadakan rutin, sehingga mereka membutuhkan kamar mandi.
"Bu-bukankah sensei sudah bilang, kalau sensei jatuh ke kolam?" jawab Hinata.
"Hinata-sensei, sensei mungkin bisa membohongi semua orang, tapi aku tidak. Aku tahu sebabnya sensei basah seperti ini. Aku tahu semua tentang sensei. Bahkan aku tahu soal rahasiamu yang paling rahasia," kata Sakura, pelan namun tajam.
"Ra-rahasia a-apa?" Hinata mulai gugup. Ia tidak mau dirinya dan Sasuke terkena masalah karena Sakura membeberkan masalah pertunangan yang mengikat mereka.
"Oh, please, Hinata. Jangan berpura-pura tidak tahu!" ujar Sakura. Ia mulai maju mendekati Hinata dengan tatapan yang tajam menusuk. Hinata yang mulai takut dengan Sakura, akhirnya mundur perlahan. Ia bahkan hampir tidak berani menegur Sakura yang memanggilnya tanpa suffix 'sensei' seperti biasanya.
"Jangan pernah berbohong pada Sakura Haruno! Karena aku tahu rahasiamu. Rahasia... Pertunanganmu!" lanjut Sakura penuh ancaman. Membuat Hinata benar-benar ingin menangis sekarang. Menangis, karena takut akan Sakura dan takut rahasia pertunangan itu akan menyebar dan menyulitkan Sasuke dan dirinya.
"Kau tahu, Hinata? Kau tahu konsekuensi tindakanmu ini? Hubungan antara mahasiswa dilarang dengan dosennya di kampus ini. Tapi, kau... Malah membuat perjanjian pertunangan seenaknya. Kau pasti tahu benar, kan, kalau aku melaporkan tindakanmu ini, kau akan terkena masalah besar? Bukan hanya kau, mungkin malah Sasuke! Kau tahu itu? KAU TAHU?" serang Sakura bertubi-tubi. Tampaknya gadis Haruno itu sudah benar-benar marah—tidak, bukan marah. Tapi benci, sangat benci pada Hinata.
"A-aku mohon jangan, Sa-Sakura! Kumohon! Aku minta maaf, sungguh!" ujar Hinata dengan penuh kesungguhan. Setitik air mata menetes setelah menggantung cukup lama di ujung pelupuk matanya. Walaupun begitu, itu masih belum cukup untuk memuaskan atau bahkan menggerakkan hati dingin Sakura.
"Oh, kau kira semudah itu mendapatkan maafku? Kau kira semuanya terselesaikan hanya dengan kata maaf? Karenamu, semuanya hancur! Hidupku hancur! Dan kau kira aku akan melepaskanmu begitu saja? TIDAK, HINATA!" seru Sakura keras dengan wajah kemerahan, marah.
"Ma-maafkan aku, Sakura. Sungguh, aku tidak tahu telah menyakitimu," lirih Hinata lagi, dengan air mata yang terus menetes walau coba Hinata tahan.
"Kalau kau mau aku memaafkanmu... Minta maaf sambil bersujudlah padaku!" perintah Sakira sambil tertawa puas. Sedangkan Hinata sedang diam terpaku, kaget.
"Ber-bersujud?" tanya Hinata.
"Iya, kau tuli? Aku bilang dengan sangat jelas! Sekarang, bersujudlah padaku!" perintah Sakura sekali lagi.
Perlahan, Hinata menjatuhkan diri ke lantai marmer yang terasa dingin itu. Walaupun berat hati, Hinata akhirnya duduk dan bersujud pada Sakura sambil meminta maaf. Air matanya menetes setitik demi setitik ke lantai. "Maaf, Sakura, aku minta maaf," ujar sang Heiress Hyuuga berulang-ulang, hingga akhirnya Sakura puas.
"Yah, perempuan murahan sepertimu memang pantas ada di lantai seperti itu. Hahaha..." seru Sakura dengan tawa jahatnya.
"Baiklah, bangun! Jangan sampai ada yang melihat! Dan ini, baju yang kau mau!" seru Sakura seraya melemparkan sebuah pakaian dan bawahan pasangannya. Hinata segera bangkit dan menerimanya sambil berusaha menghapus air matanya.
"Ta-tapi ini..." seru Hinata kaget melihat pakaian yang diberikan Sakura. Tentu saja, karena itu adalah pakaian minim berupa kaos ketat lengan pendek yang cukup terbuka di bagian dada, dan pasangannya adalah rok mini yang sangat pendek, bahkan di kurang dari setengah pahanya.
"Apa? Mau protes? Lebih baik kau pakai saja, itupun aku masih beruntung memberimu pakaian ganti. Padahal lebih asyik melihatmu berbasah-basah setelah disiram seperti itu!" seru Sakura ketus.
"Ja-jadi kau yang me-menyiramku?" tanya Hinata kaget.
"Apa kau dan Sasuke sama bodohnya? Tentu saja aku! Apa kapasitas otakmu begitu kecil?" ejek Sakura.
Hinata tidak dapat berkata-kata. Ia tidak menyangka, gadis manis seperti Sakura mampu menjadi sejahat dan setega ini. Dengan menahan tangis, ia mengenakan pakaian yang menurutnya tidak layak pakai itu. Setelah beberapa menit berganti, Hinata keluar.
"Hm... Tak kusangka akan secocok ini. Mungkin harusnya kuberikan saja yang lebih terbuka, ya, Hinata? Mungkin laki-laki akan mendatangimu dan bahkan menjadikanmu tunangan," kata Sakura sinis.
"Ukh..."
Tiba-tiba Sakura mendekat dan mendorong Hinata ke tembok dengan cukup keras. Hinata mengaduh pelan sementara wajah Sakura sangat dekat dengan wajahnya. Tangan sang gadis pink mulai merambah ke kerah baju Hinata.
"Hei, gadis Hyuuga... Lebih baik kau tidak memberitahu siapapun tentang ini, atau mungkin..." Sakura mencengkeram kerah Hinata erat, "... Semuanya akan berakhir berantakan!"
"Baiklah, cepat jalan! Kau tak mau pelajaranmu ketinggalan, bukan?" paksa Sakura setelah melepaskan Hinata.
"I-iya," jawab Hinata pasrah. Segala kekuasaannya tidak berpengaruh pada gadis di hadapannya ini. Ia hanya bisa berharap reaksi semuanya tidak seperti yang ada di bayangannya.
"Se-sensei..."
Semua di ruangan terkejut dengan pakaian yang kini dikenakan Hinata. Sakura berpura-pura khawatir sementara dalam hatinya ia sangat puas telah menyiksa Hinata.
"Gomenasai, sensei. Aku lupa tidak membawa baju lain. Sebenarnya itu baju kakak sepupuku," ujar Sakura sambil berpura-pura terlihat sangat cemas. Kebohongannya sangat meyakinkan, sehingga tidak ada yang curiga. Tentunya, kecuali Sasuke. Dalam kepalanya, hanya ada satu pikiran : menginterogasi Sakura!
Kring! Kring! Kring!
Bel pulang berbunyi. Semua mahasiswa-mahasiswi berhamburan setelah seharian menerima materi yang banyak dari para dosen. Sasuke, tidak biasanya, keluar dengan tergesa-gesa. Dilihatnya seorang gadis yang sejak tadi menjadi perhatiannya. Sayangnya, bukan perhatian dalam sisi positif.
"Sa—"
Saat baru saja akan memanggil nama sang gadis, Sakura, sebuah tangan menariknya pergi. Sasuke sudah merutuk kesal ketika kehilangan kesempatan bicara dengan Sakura, dan bertambah kesal melihat siapa yang menghilangkan kesempatan itu. Sahabatnya—yang sekarang sedang menjadi rival-nya—yaitu, Naruto.
"Sasuke, aku perlu bicara denganmu. Ini penting," ujar Naruto sambil menariknya, tanpa memberi kesempatan pada Sasuke untuk mengutarakan kekesalannya pada dirinya.
Saat akhirnya dilepaskan, di halaman belakang kampus lebih tepatnya, Sasuke tanpa membuang waktunya menanyai Naruto alasannya menyeretnya ke sini, dengan ketus tentunya.
"Baka Dobe, apa yang kau pikirkan? Jangan main tarik saja! Kau tidak tahu aku tadi sedang sibuk? Kau tidak tahu aku ingin bicara dengan S—dengan seseorang? Kau mengganggu saja! Sekarang dia sudah pergi!" kata Sasuke tanpa berhenti, tanpa menarik nafas.
"Ini penting, Sasuke. Aku harus membicarakan ini denganmu!" balas Naruto. Dia terlihat sangat serius.
"... Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Sasuke, kembali ke sikap stoic-nya.
"Soal... Pertunanganmu..." lirih Naruto.
Sasuke sudah menduga soal ini. Hal ini yang akhir-akhir ini menyelimuti pikirannya, selain pikiran tentang ancaman Sakura. Dan ia yakin, hal ini pula yang terus memenuhi pikiran Naruto.
"Kenapa dengan pertunanganku?"
"A-aku... Kuminta kau... Kuminta kau membatalkannya!"
"APA? Membatalkan? Kau bilang membatalkan? Kau sudah gila, Naruto?"
"Apa gunanya bertunangan saat itu hanya untuk balas budi!"
"Da-dari mana kau tahu?"
"Tentu saja aku tahu! Kau kira selama ini aku diam saja menyaksikanmu dan Hinata? Tidak, Sasuke! Selama ini aku mencari informasi pertunanganmu, bahkan dari orang dalam!"
"Huh... Kuakui kau cukup baik mencari informasi. Tapi, maaf, sepertinya kau salah!"
"Salah? Apa salahku?"
"Aku memang bertunangan dengannya karena masalah balas budi. Tapi, yang kau tidak ketahui adalah... Akulah yang meminta pada ayahku untuk mengatur pertunanganku dengan Hinata!"
"A-apa?"
"Ya, itu benar! Dan aku tidak akan menyerah setelah segala susah payahku mendapatkan persetujuan ayahku! Bahkan jika itu berarti untuk melawanmu dan menjatuhkanmu... Aku rela."
Naruto benar-benar terkejut dengan pernyataan Sasuke. Perkataan dingin itu seakan bukan keluar dari bibir sahabatnya itu. Kemana perginya sahabatnya yang sangat akrab dan dekat dengannya itu? Naruto hampir tidak percaya orang di hadapannya ini Sasuke. Atau setidaknya, Sasuke yang dulu dikenalnya.
"Jadi, begitu? Apa semuanya akan berakhir di sini? Apa mulai sekarang kita akan bersilangan jalan? Hah, Sasuke?"
"..."
"Apa persahabatan kita hanya sebuah kebohongan?" akhirnya Naruto berteriak frustasi melihat Sasuke yang tidak kunjung menjawab.
"Kaulah yang merebutnya dariku! Dan kau pikir persahabatan kita hanya kebohongan? Kau pikir ini semua salahku? Sadarlah dari kemunafikanmu, Naruto!" balas Sasuke sama kerasnya.
Keduanya terdiam cukup lama. Keheningan hanya dipecah oleh suara hembusan angin yang meniup rambut mereka pelan.
"Baiklah kalau begitu. Mulai sekarang... Kita rival..." kata Naruto pelan, namun dapat didengar Sasuke.
"Baiklah. Takkan ada lagi percakapan akrab. Yang ada hanya... Persaingan..." balas Sasuke.
"Persaingan mendapatkan Hinata!" ucap keduanya keras, bagai berikrar.
Beberapa saat setelah Naruto dan Sasuke meninggalkan halaman belakang sekolah, terdengar isak tangis seorang gadis dari balik pohon. Angin meniup rambut indigonya hingga beterbangan, dilatari pemandangan daun-daun berwarna kecokelatan yang berguguran. Mata lavendernya terpejam, sementara air mata mengalir dengan deras hingga menganak di pipi chubby-nya, entah untuk keberapa kalinya hari ini.
Itu Hinata. Dengan sesenggukan, ia menyesali keberadaannya yang telah menyulut api dalam hubungan persahabatan Naruto dan Sasuke. Selama ini, tanpa disadari Naruto ataupun Sasuke, Hinata bersembunyi di balik pohon, mendengarkan semua percakapan mereka. Dan kini, dalam hatinya hanya tersisa penyesalan. Penyesalan yang cukup besar hingga mampu membuatnya kembali menangis.
Jari jemari lentiknya berusaha menghapus kristal bening itu. Namun, tampaknya matanya masih belum mau berhenti mengalirkan kesedihan berbentuk cairan itu. Hingga kini, yang dapat dilakukan Hinata hanya satu. Ya, Hinata hanya dapat melirihkan satu kalimat yang sedang berputar di benaknya dengan sangat menyakitkan.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini?"
***#TSUZUKU#**#TO BE CONTINUED#**#BERSAMBUNG#***
Glossarium :
*Ne, sekai... Moshi anata wa atashi dattara... Nani wo shitte imasu ka? : Hai, dunia... Kalau kau adalah aku... Apa yang akan kau lakukan?
*Watashi wa Naruto-kun ga daisuki dattara... Shikashi... Sasuke-kun wa watashi ga daisuki dattara... Dakara... Watashi wa dou shimashou ka? : Aku mencintai Naruto-kun... Tapi... Sasuke-kun mencintaiku... Oleh karena itu... Apa yang harus kulakukan?
Yossha, minna!
Akhirnya Shana bisa update setelah lama terkena virus WB! Yupz, Writers Block! Apalagi udah sibuk, blahblahblah. Nyebelin banget, tau, gak? *readers : gak!*
Dan, mengikuti temen Shana, Shana update karena ada dorongan semangat! Dari mana? Dari ranking. Yeay, Shana dapet ranking 1 di kelas! Woohoooooooo! Rasanya tuh seneng~~~ Bangetz! Apalagi Shana bakalan liburan ke Trans Studio trus Safari Night! Kayaknya bakal banyak ide numpuk di pikiran, hehe... :D
Naruto : Cu-curang, liburan gak ngajak-ngajak!
Shana : Yee,itu sih DL! Lagian gimana caranya lo mau ke Bandung? Ngesot?
Naruto : Naik Sukhoi(?) dong!
Shana : Ada juga mati lo!
Illumi : Imotou, pulang yuk!
Shana : ANIKI! SALAH FANDOM!
Illumi : Ini buat gantiin Itachi-mu yang gak bisa dateng.
Shana : Hah? *cengo* Oh, yeah. Terserahlah!
Naruto : Tunggu! Ini siapa, Shan?
Shana (?) : Ini aniki aku~ Namanya Illumi Zoldyck~
Naruto : Seinget gue nama lo Shana Nakazawa, deh. Trus kenapa suara lo jadi manja-manjaan geto?
Shana (Nalluki) : Bukan, Naru-nii~ Aku sekarang jadi Nalluki Zoldyck, adik keduanya Illumi-nii-chan~ Iya, kan, nii-chan~?
Illumi : Ya. *stoic*
Naruto : Gue baru nyadar kalo author gila ini cuma suka sama cowok dengan muka rata...
Shana (?) : Muka datar, bodol!
Naruto : Lha, balik lagi jadi Shana?
Shana (Killuna) : Kagak! Gue kepribadian lainnya, kepribadian psychopath, Killuna Zoldyck!
Naruto : Owh... *sweatdrop* Oya, yang lain kemana?
Shana : Nah, gue balik lagi jadi Shana! Oya, yang lain... Katanya mau ke Universal Studio tuh... EH UNIV STUDIO? IKUT!
Naruto : HAH? UNIVERSAL STUDIO? Kok gue gak diajak? *mewek*
Shana : Eng... Seingetku mereka bilang lo ketiduran jadi gak diajak... Hah? Pfft! Sukurin deh, lo!
Naruto : *nangis gugulingan di lantai*
Illumi : Imotou, balas review-nya dan cepat pulang.
Shana (Nalluki) : Iya, nii-chan~
- mongkichii : Ok, ini update-nya!
- Emmadehazel : Makasih banget, Emma-san, atas pujiannya! Shana seneng buangetz! *nyembur* Oh, iya, makasih atas sarannya. Semoga nanti bisa memperbaiki cara penulisan Shana. Trus... Eh, Sasu-nya disukai? Yokatte ne~ Kukira nanti pada sebel sama Sasu. Iya makasih ya, dukung aja supaya fic ini selesai! Review yang banyak, ya! *ngarep*
- chibi beary : Yeah, nanti ada beberapa SasuHina, kok! NaruHina juga pasti, dong! Ok, ini update!
- Tantand : Yokatta! Ok, ini lanjutan dan update-nya, selamat menikmati! *kok kayak makanan?*
- Hyuna toki : Makasih udah bilang keren!
- Hyuna toki : Hehe, iya dong! Kalo Sasu gak gitu nanti gak seru!
- Hyuna toki : Makasih lagi nih udah muji! Iya, ini update-nya, gomen kalo gak kilat!
- Yamanaka Chika males login : Tuh kan, gak login lagi. Chika nyebelin! -3- Eh, aniki-ku dibawa-bawa! Jujur, ya, Chik, awalnya aku kesel dibilang peluk-peluk Illumi! Tapi akhirnya, jadi seneng juga. Eh, ati-ati loh, ada aniki di sini! Enn... Jangan bilang-bilang soal diskusi dong! Awas kalo bocor trus jadi trending topic dunia! *Chika : gak mungkin!* Yupz, thanks atas pujiannya, dan... HARUS LOGIN KALO REVIEW LAGI! *maksa banget, nih!*
- amexki chan : Owh, benarkah? Dirindukan? YEAH, MAKASIH BANYAK! *teriak dari pohon toge(?)* Iya, hiks... Tragis banget... *mewek* Okeh, ini update!
- Final Fairy Crystallis Tail : Kenapa, nih? Ngiri ya aku mesra sama Ita-kun? *FC and FT : kagak!* Iya, kalo nge-review aku gak usah pake bahasa inggris, pasti ribet adanya! Okey, makasih atas pujiannya, pasti bakal ku-review fic-mu, ini update-nya. Review lagi, yok!
- L-The-Mysterious : Halo juga! Iya, gak papa telat, yang penting review. Oh, souka? Gomen ne, typo emang susah dihindari. Maafin aja yah. *maumu!* Soal cerita, itu sih L-kun aja yang kepinteran nebaknya! *alesan* Ok, ini update!
- Ya'zid : Wowh, segitunya kah? Hehe, tapi jangan galau-galau amat, ya, biar masih bisa review chap ini. *gak nyambung* Ok, ini update!
Shana : Nii-chan, udah nih! Pulang yuk!
Illumi : *smile* Ok. *Illumi FC nosebleed*
Naruto : Tunggu... Kok gue ditinggal... Hiks, EMAAAK!
REVIEW PLEASE!
