Let's Get Married, Sensei!
CHAPTER 7 UPDATE!
Okay, gomen banget buat para readers yang udah nungguin update-an fic ini yang lemot banget! *kayak ada yang nungguin* Yah, namanya juga sibuk. Apalagi pas puasa, ngapain aja males banget! Oke deh, gak usah ba-bi-bu lagi, langsung aja... HAPPY READING!
Summary : "Kita bisa bertarung dengan adil untuk Hinata!"/"Maukah kau kencan denganku, Hinata-chan?"/"Legenda mengatakan, kalau sepasang kekasih berciuman di bianglala ini tepat di tempat tertinggi pada saat matahari terbenam dan lampunya menyala diiringi kembang api, mereka akan bersama selamanya."/"Aku sangat bersenang-senang hari ini, arigatou."/Will their fate be sealed with a kiss?
Rating : T
Pairing : NaruHina
Genre : Romance/Drama
Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, update lelet, salah kata, dan lain-lain. Contain Sakura-bashing, so... Don't Like Don't Read!
Disclaimer : 1) Naruto and all of it's properties are trademarks of Masashi Kishimoto and Author receives no royalty in using it. Masashi Kishimoto. All Right Reserved. 2) TRANSFORMERS and all of it's properties are trademarks of Hasbro and Author receives no royalty in using it. 2012 Hasbro. All Right Reserved. © 2012 DreamWorks L.L.C. and Paramount Pictures Corporation. All Right Reserved. 3) TRANSFORMERS THE RIDE: The Ultimate 3D Battle Universal Studio Singapore®. All Right Reserved.
.
-w- Let's Get Married, Sensei! -w-
.
"Ada apa sih dengan Naruto dan Sasuke?"
Sebenarnya pertanyaan Kiba tadi sangat tepat diajukan. Semua orang pasti bingung jika melihat Naruto dan Sasuke sekarang. Mereka yang biasanya sudah saling menyapa saat pagi—lebih tepatnya Naruto yang menyapa, Sasuke hanya meng-"hn"-kan saja. Tapi hari ini mereka hanya diam, saling menganggap lawan mereka tidak ada.
"Oke, ini aneh. Akan kutanya langsung pada Sasuke," kata Lee. Ia satu-satunya yang berani—atau sebenarnya tidak peka—berbicara dengan Sasuke yang sedang bad mood selain Naruto.
"Sasu—"
"Hn?"
Lee segera mundur melihat tatapan dingin Sasuke. Bahkan Lee yang tak gentar melihat setiap deathglare Sasuke kini langsung ambil langkah seribu. Karena deathglare Sasuke kali ini 'spesial' sekali. Aura dan tatapan penuh nafsu membunuh itu sangat mirip dengan salah satu tokoh anime kesukaan Lee yang sangat ingin membunuh kakaknya, yang anehnya wajahnya sangat mirip dengan Sasuke.
"Bagaimana ini, Shikamaru? Sasuke mengalahkan semangat Lee!" ujar Chouji yang—tidak seperti biasanya—tidak makan keripik. Ia menatap Lee yang sedang duduk di pojokaan sambil ketakutan bagaikan tak ada hari esok.
"Mendokusai. Untuk apa aku mengurusinya? Tanya saja Kiba!" sahut Shikamaru sambil menguap.
"Hei, Naruto, kau kenapa? Tumben tidak bicara dengan Sasuke!" kata Kiba.
"Heh? Apa itu masalah untukmu, Kiba?" balas Naruto dengan setiap penekanan di setiap kata-katanya. Kalau ini anime, bisa dilihat aura membunuh berwarna keunguan sedang mengamuk di sekeliling tubuh Naruto. Tapi sayang sekali, ini adalah dunia nyata, sehingga aura itu tidak dapat dilihat. Tapi tetap Kiba ikut merinding merasakannya dan langsung kabur dari sisi Naruto.
"Wah, wah, ternyata Kiba pun kalah oleh aura membunuh Naruto," kata Sai dengan senyum palsunya. Yang lain hanya sweatdrop melihat Kiba bergabung di pojokan dengan Lee dan pundung bersama.
"Baiklah, minna! Tidak ada gunanya mengobrol karena materi akan dimulai. Harap kalian duduk ke tempat, atau lebih baik kalian tidak usah ikut mata kuliah saya!" sahut Kurenai. Semua mahasiswa dan mahasiswi segera menuju ke kursi mereka.
Kurenai sudah memulai membicarakan materi mata kuliahnya saat itu, tapi Naruto dan Sasuke tidak memperhatikan. Diam-diam, Naruto melirik Sasuke yang juga sedang meliriknya. Keduanya saling membuang muka. Sudah jelas aura persaingan di antara mereka menjadi semakin intens. Sejak kejadian minggu lalu, mereka tidak mau lagi saling bicara atau sekadar menyapa. Yang ada hanya persaingan, persaingan dan persaingan.
Saatnya istirahat makan siang. Naruto yang sudah keluar duluan sedang bersadar di tembok dekat pintu kelasnya. Ia tampak sedang menunggu seseorang. Tanpa disadari Guy tadi, tadi Naruto mengirim sms untuk Sasuke, memintanya menemuinya saat istirahat. Balasan Sasuke cukup memuaskan Naruto karena ia setuju untuk bertemu.
"Jadi?" Tiba-tiba suara Sasuke memasuki indera pendengaran Naruto. Naruto menoleh cepat, memandang wajah dingin—mantan—sahabatnya.
"Ikut aku," jawab Naruto singkat.
Kedua laki-laki tampan itu berjalan beriringan. Mereka tampak tak peduli satu sama lain. Hingga akhirnya Naruto berhenti di halaman belakang kampus. Sasuke ikut berhenti. Kini mereka saling berhadapan. Tampaknya keduanya saling tidak ingin membuka pembicaraan.
"Jadi?" tanya Sasuke pada akhirnya.
"Aku ingin mengajukan permintaan. Lebih baik kita bersaing memperebutkan Hinata secara adil... dan nyata," sahut Naruto to-the-point.
"Nyata?" tanya Sasuke lagi, sesingkat biasanya.
"Ya. Kita harus membuat langkah aktif untuk bersaing mendapatkan Hinata," jawab Naruto lagi.
"Dan caranya adalah...?"
"Kencan."
"Kencan?"
"Ya, kencan. Kita akan bergiliran berkencan dengan Hinata, dan nanti Hinata yang menentukan siapakah yang ia cintai."
"Hn, boleh juga."
Sasuke dan Naruto tidak asal menyetujui perjanjian ini. Mereka memang masih belum mendapat titik terang dari Hinata soal laki-laki yang dia pilih. Jadi jalan terakhir sepertinya memang hanya ini. Lagipula, sebenarnya itu ide yang bagus. Akhirnya diputuskan—tanpa ada banyak perdebatan—bahwa, sebagai pencetus ide, Naruto-lah yang berhak mendapat giliran kencan pertama.
Dan itulah yang menjadi alasan kejadian saat ini.
"Jadi, apa yang mau kau katakan, Naruto-kun?" tanya Hinata setelah mereka hanya berdua di halaman belakang kampus, tempat rahasia favorit para mahasiswa. Mereka berduaan di sana karena Naruto sudah meminta Hinata datang di sini setelah jam kuliah siangnya berakhir.
"Aku mau kita... kencan!" kata Naruto riang sambil menunjukkan cengiran khas-nya.
"Eh? Ken... kencan?" tanya Hinata kaget. Pipinya sudah menjadi merah muda karena blushing.
"Ya! Ini, di Konoha Studio. Aku sudah membeli dua tiket VIP khusus untuk kita. Jadi, bagaimana?" sahut Naruto.
"E-eh, eto... Itu, uhm... Baiklah..." jawab Hinata. Wajahnya memerah sehingga menyerupai warna strawberry yang sangat manis, semanis Hinata.
"Yeah! Kutunggu hari Sabtu nanti, ya! Bye, Hinata-chan!" kata Naruto. Entah dirasuki setan apa, tiba-tiba ia mendekat dan mencium pipi Hinata singkat, lalu berlari sambil melambai ke arah Hinata, masih memasang wajah sangat bahagianya.
"Na... Naruto-kun..." lirih Hinata sambil memegangi pipinya. Wajahnya menjadi semakin merah. Ia menunduk sejenak, menenangkan diri. Tanpa sang Heiress sadari, ia menampakkan seulas senyum kecil manis. Sepertinya ia senang sekali.
"Hinata-nee, lagi apa, sih? Sepertinya sibuk sekali," komentar Hanabi yang melihat Hinata kelabakan membuka-buka lemari dengan terburu-buru.
"Nee-chan sedang mencari pakaian yang cocok untuk pergi ke Konoha Studio. Kalau bisa yang simpel, tapi apa, ya?" kata Hinata, masih tetap membuka-buka lemari.
"Oh, ya? Pasti... kencan, ya!" tebak Hanabi sambil tersenyum jahil.
"Ke-kencan? Ti-tidak, bukan kok!" jawab Hinata sambil blushing. Tentu saja itu meyakinkan Hanabi kalau kakaknya itu akan berkencan—untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
"Pasti kencan! Beruntung Tou-san sedang ke Suna karena ada acara bisnis. Kalau iya, pacar Hinata-nee pasti akan dihajar!" komentar Hanabi sambil tertawa-tawa.
"Sudah kubilang itu bukan kencan! Dan Naruto-kun juga bukan pacarku—ups!" seru Hinata.
"Aha! Jadi pacarnya Hinata-nee itu namanya Naruto? Ciee..." goda Hanabi lagi.
"Bu-bukan! Naruto-kun bukan pacarku!" bantah Hinata.
"Oh, ya? Hihi..." Hanabi terkikik geli melihat tingkah kakaknya. Kakinya yang ada di atas lantai—ia sedang duduk di kasur—terayun-ayun mengikuti gerak tubuhnya.
"Bukan, Hanabi-chan! Lagipula," Hinata mencubit pipi adiknya pelan, "Lebih baik kau membantuku mencari baju yang cocok!"
"Aaw! Sakit, Hinata-nee! Baiklah, baiklah, aku bantu!" kata Hanabi. Ia turun dari kasur dan menuju lemari, membantu kakak perempuannya berganti baju.
Setelah cukup lama mencari-cari, Hanabi menunjukkan sebuah pakaian yang cocok untuk Hinata. Sebuah dress berwarna soft pink tanpa lengan sepanjang setengah paha Hinata dengan rompi vest warna putih berlengan pendek. Hinata memasangkannya dengan aksesoris jepit kelinci yang menjepit poninya ke samping dan kalung emas yang berbandul hati dari emas putih—asli, hadiah ulang tahunnya tahun lalu dari ayahnya. Lalu Hinata memutuskan mengambil tas selempang berwarna pink bermotif sakura.
"Waah, Hinata-nee cantik!" komentar Hanabi. Wajah Hinata merona dipuji seperti itu. Ia mematut diri di depan cermin, berputar sejenak. Memang manis, pikirnya.
"Ayo, Hinata-nee! Sepertinya Naru-nii sudah datang!" kata Hanabi sambil menarik Hinata.
"Naru-nii? Memang kau boleh memanggilnya begitu?" tanya Hinata sambil tertawa kecil, bingung dan geli.
"Yah, aku kan harus menghormati pacar Hinata-nee," jawab Hanabi.
"Hanabi-chan! Kan sudah kubilang, Naruto-kun bukan pacarku. Dasar!" kata Hinata lagi. Ia mencubiti pipi Hanabi gemas. Melihat wajah cemberut Hanabi yang sedang dicubiti berhasil membuat Hinata tertawa.
Tok! Tok!
"Ah, itu pasti Naruto-kun!" seru Hinata sambil setengah berlari menuju pintu. Hanabi mengikuti di belakangnya.
Hinata membuka pintu rumahnya. Hal pertama yang dilihatnya adalah warna pirang. Warna rambut Naruto. Dan setelah sedetik, Hinata sadar kalau itu Naruto yang sedang menunduk hormat. Sepertinya ia tidak sadar di hadapannya itu adalah Hinata.
"Ohayou gozaimasu! Hyuuga-san, saya datang untuk mengajak putri anda, Hinata Hyuuga, pergi," kata Naruto. Hinata dan Hanabi bertatapan dan tertawa geli.
"Tenang saja, Naruto-kun. Tou-san tidak ada hari ini. Tidak usah formal begitu," kata Hinata begitu ia membuka pintu. Tawa kecilnya yang manis masih tersisa di wajahnya.
"Eh? Hinata-chan?" balas Naruto sambil tersenyum malu. Hinata balas tersenyum. Mereka bertatapan sambil tersipu. Sepertinya mereka tidak sadar sedang diperhatikan Hanabi.
"Nee-chan, inikah Naru-nii? Tampan juga. Selera Hinata-nee hebat, ya!" komentar Hanabi sambil memegangi tangan Hinata. Naruto menatapnya dengan pandangan antara bingung, geli dan tersanjung.
"Hanabi-chan! Gomen, Naruto-kun, ini adikku, Hanabi Hyuuga. Dia memang usil," jelas Hinata sambil tersenyum minta maaf.
"Oh, tidak masalah. Jadi, kita jadi kencan?" tanya Naruto. Hinata panik mendengar perkataan Naruto tadi yang seperti menyulut api. Mata Hanabi melebar dengan penuh kekagetan dan kesenangan. Tapi ia diam saja sambil tersenyum-senyum. Ia ingin menggoda kakaknya saat sudah pulang saja. Hanabi langsung lari ke atas. Hinata punya kecurigaan bahwa Hanabi akan menceritakan semuanya kepada teman-temannya. Tapi sekarang ia tidak begitu ambil peduli.
"Oh, uhm... Iya. Sekarang?" tanya Hinata gugup.
"Tentu saja sekarang, Hime! Ayo! Ah, aku hampir lupa! Ini..." Naruto mengulurkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya yang selalu tersembunyi kini ia tampakkan. Dan ternyata...
"Bunga!" seru Hinata terkejut.
Sebuah buket bunga berisi dua puluh empat lili putih cantik, dan di tengahnya adalah sebuah bunga lavender yang cantik. Bunga lavender yang selalu mengingatkan Naruto akan mata Hinata yang indah, seperti bunga lavender.
"Dua puluh empat bunga lili artinya bahwa aku selalu memikirkanmu, dua puluh empat jam sehari. Dan setangkai lavender di tengah... artinya, Hinata-chan, hanya kaulah yang ada di hatiku, yang kucintai dengan sepenuh hatiku," jelas Naruto sambil tersenyum, yang berhasil membuat wajah Hinata merona.
Hinata menerima buket itu dengan perasaan bercampur aduk. Kaget, tidak percaya, malu dan senang bercampur dengan indahnya. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Hei, bukan salah Hinata jika hemoglobin mengalir kencang menuju wajahnya! Salah Naruto yang terlalu romantis sehingga ukiran warna merah muda tipis itu berpendar cantik di pipinya! Diterimanya buket cantik itu dengan malu-malu. Hinata mencium aroma harum bunga itu di udara. Manis. Seperti dirinya. Ia tenggelamkan hidungnya dalam keharuman itu. Tanpa sadar, wajahnya sendiri sudah sangat dekat—seperti ingin mencium langsung—dengan buket bunga itu. Sangat manis. Tak ada yang bisa menandingi kecantikan sang Heiress Hyuuga saat ini.
Hinata menyambut uluran tangan Naruto dengan senang hati. Buket bunganya ia genggam di tangan kiri. Kehangatan tangan Naruto mengaliri tangan Hinata. Jari-jemari lentik sang gadis kini saling bertautan dengan jemari kuat sang pemuda dalam satu jalinan solid. Jarak di antara keduanya mulai mendekat, baik secara harafiah maupun kiasan. Baik jarak tubuh maupun jarak hati. Menyatu dalam sebuah hubungan indah yang terjalin dalam untaian cinta yang bersinar dan berpendar, seperti matahari. Seperti mereka berdua. Hinata, artinya cahaya matahari. Dan Naruto, seperti penjelmaan matahari sendiri. Matahari dan cahaya itu saling melengkapi, seperti Naruto dan Hinata. Tapi, tidak seperti matahari yang cahayanya akan padam dalam waktu tertentu, yaitu lima milyar tahun, cahaya cinta Naruto dan Hinata akan selalu bersinar selamanya.
"Irasshaimase, Goshujin-sama, Ojou-sama—nyan! Boleh saya minta tiketnya? Arigatou—nyan!" Seorang maid berpakaian kucing menyambut Naruto dan Hinata di pintu masuk. Gadis manis itu menerima tiketnya dan memberikan sebuah kartu untuk transaksi di dalam theme park. Ia mengarahkan Naruto dan Hinata ke pintu kedua.
"Irasshaimase, Goshujin-sama, Ojou-sama. Maaf, Ojou-sama, tapi boleh saya sentuh tangan halus Ojou-sama?" tanya seorang butler. Hinata mengulurkan tangannya, yang akhirnya dicium lembut oleh butler itu, membuat wajah Hinata memerah. Naruto agak kesal sebenarnya, tapi ini salah satu pelayanan di sini. Butler itu mengambil stempel transparan dan menempelkannya di tangan Naruto dan Hinata juga di kartu mereka. Gunanya agar saat mereka keluar, jika tangan dan kartu mereka di-scan, mereka terdaftar dan bisa masuk lagi. "Semoga anda menikmati kunjungan anda di Konoha Studio, Goshujin-sama, Ojou-sama," katanya.
"Pelayanan di sini bagus sekali. Butler itu sopan sekali, seperti butler asli," komentar Hinata sambil tersenyum pada Naruto.
"Aku tahu. Tapi beraninya dia mencium tanganmu seenaknya!" sahut Naruto kesal.
Hinata tertawa kecil melihat sikap kekanak-kanakan pasangan kencannya ini. "Naruto-kun keberatan? Kalau begitu, kuberikan tanganku untuk kau cium juga, Naruto-kun," kata Hinata.
"Benarkah? Hanya tangan saja?" tanya Naruto dengan nada merajuk.
"Naruto-kun nakal!" Hinata tertawa kecil, "Tapi, kalau Naruto-kun yang meminta, seluruh tubuh dan jiwaku pun akan kuberikan," lanjut Hinata dalam sebuah lirihan.
"Eh? Apa yang kau katakan, Hinata-chan?" tanya Naruto.
Hinata menggeleng dengan senyuman yang tak kunjung luntur dari wajahnya. "Iie, nan demo nai!" katanya.
"Oh, baiklah. Hei, Hinata-chan, kau mau ke mana apa dulu?" tanya Naruto. Ia memperhatikan brosur bergambar peta di tangannya.
"Coba kulihat dulu," Hinata memperhatikan peta itu. Ada sepuluh section di Konoha Studio yang masing-masing berisi tiga wahana, dengan total tiga puluh wahana.
Ada Dreamland, Sky and Sea, Dark Mystery, Sci-fi Future, Historical Memories, Hollywood, Classic Japan, Mini Akihabara, World Festival dan Romance and Love. Dreamland berisi wahana fantasi anak-anak, seperti Doll Castle—kastil boneka dengan koleksi terlengkap sedunia, Princess and Prince 4D—bioskop empat dimensi untuk berbagai cerita putri, dan Fairy Dust—wahana kereta melayang di atas rel di atas tanah dengan hiasan peri. Sky and Sea berisi wahana yang berhubungan dengan penerbangan dan penyelaman, seperti Fly Far Away—wahana pesawat mini yang benar-benar terbang, Dive Down—wahana menyelam di kolam mini dengan ikan-ikan dan pemandangan bawah laut asli, dan Go Go Scream!—wahana berupa satu set kursi yang bergerak naik turun dengan kecepatan luar biasa dan tiba-tiba. Dark Mystery berisi wahana gelap dan mistik, seperti Second Sherlock—wahana memecahkan kejadian pembunuhan rumit seperti detektif terkenal Sherlock Holmes, The Killer—bioskop dengan film-film pembunuhan terkenal yang legendaris, termasuk anime juga, dan terakhir tentu saja Haunted House—rumah hantu berisi koleksi lengkap youkai, yuurei, maupun hantu-hantu luar negeri lain.
Ada juga Sci-fi Future, yang berisi wahana berbau futuristik, seperti Death Coaster—roller coaster terbaru yang memiliki dua lintasan dengan kecepatan tinggi dan berbagai rintangan di relnya dan disebut-sebut sebagai coaster paling seru abad ini, Swing Machine—wahana seperti ayunan raksasa yang berayun sampai mencapai sudut seratus delapan puluh derajat alias garis lurus dan yang paling terkenal adalah TRANSFORMERS™ THE RIDE: The Ultimate 3D Battle—wahana roller coaster dengan pemandangan tiga dimensi tentang perang antara robot-robot Autobot dan Decepticon dari film Transformers™. Historical Memories berisi wahana bersejarah, seperti Royale Palace—miniatur dari banyak istana-istana terkenal dari Eropa, Finding Treasure—wahana menaiki kereta sambil menyusuri reruntuhan piramid Mesir untuk mencari harta karun, dan Lady Royale—permainan cosplay dengan pakaian bangsawan zaman dulu dari seluruh dunia. Hollywood berisi wahana bertemakan kemewahan Hollywood, seperti Super Star—wahana yang mempertunjukkan bagaimana efek-efek dari film Hollywood terjadi, Hall of Fame—pameran berbagai artis Hollywood sejak abad dua puluh dan Hollywood's Walk—miniatur jalan Hollywood yang bertuliskan tanda tangan atau cap artis Hollywood.
Selanjutnya Classic Japan, berisi wahana bernuansa Jepang klasik pada zaman dulu. Ada Samurai no Ichinichi—bioskop dengan film dekomunter kehidupan samurai pada masa kejayaannya, From Taisho to Edo—pameran tentang kehidupan sejak zaman Taisho hingga Edo dan Katana Monogatari—pameran pedang katana, perkembangannya sejak dulu hingga sekarang. Mini Akihabara diambil dari nama jalan Akihabara yang terkenal, berisi wahana MangAnime Lovers—pertunjukan pembuatan manga dan anime, Let's Cosplay!—tempat penjualan merchandise cosplay dan tempat diadakan event-event cosplay, dan yang paling terkenal Konoha no Hanabi—pertunjukan kembang api terbesar, termegah dan terindah di seluruh dunia. World Festival, seperti namanya, bertema festival di seluruh dunia. Setiap hari, ada tiga festival dunia yang ditampilkan bergiliran. Tapi jika hari itu adalah hari festival Jepang, maka hanya festival itu yang dirayakan besar-besaran.
Terakhir, dan paling dicari di antara semua section, adalah Romance and Love. Section ini selalu penuh dengan pasangan. Untunglah hari ini tidak. Wahana di sini adalah Love Canoe—perjalanan menggunakan kano di sungai buatan untuk pasangan seperti di kota Venice di Italia, Heart's Labyrinth—wahana perjalanan labirin dengan banyak hal romantis, seperti melihat bulan bersama, menaiki miniatur menara Eiffel, ada juga kafe khusus pasangan, menjadikan wahana ini merupakan wahana terluas di seluruh theme park. Terakhir, dan paling populer, adalah Koi Monogatari. Itu adalah nama bianglala terbesar dan tertinggi di dunia. Setiap malam, lampu akan menyala di setiap tiang-tiang penyangganya dan terkadang diiringi kembang api. Ada legenda, jika sepasang kekasih berciuman dengan penuh cinta sejati di sisi tertinggi di bianglala tepat setelah matahari terbenam, tepat saat lampu menyala dan diiringi kembang api, maka pasangan itu akan bersatu selamanya.
"Bagaimana kalau kita ke Sci-fi Future dulu? Banyak yang bilang TRANSFORMERS™ THE RIDE: The Ultimate 3D Battle itu keren sekali!" usul Naruto bersemangat. Hinata hanya tersenyum dan mengangguk menyetujui.
"Baiklah kalau begitu. Ayo!" seru Naruto sambil menggandeng, atau mungkin lebih tepatnya menarik tangan Hinata.
"Wah, interior dan desainnya bagus sekali," komentar Hinata kagum. Desainnya memang indah, penuh dengan hal-hal berbau futuristik. Parade lampu neon menghiasi satu sisi, dan parade robot dan berbagai mesin futuristik dipajang di dinding yang bagaikan markas rahasia masa depan.
"Untunglah sekarang bukan hari libur. Antriannya cukup pendek," kata Naruto. Lagipula ia sudah memesan tiket VIP hingga mereka tidak perlu mengantri. Hinata mengangguk menyetujui.
"Irasshaimase, Goshujin-sama, Ojou-sama. Maaf, boleh saya lihat tiketnya?" seorang penerima tiket di depan pintu dengan memakai pakaian besi futuristik berdiri dan menyodorkan tangannya. Naruto menunjukkan dua tiket. Penjaga itu mengangguk. "Lewat sini, Goshujin-sama, Ojou-sama," katanya setelah membuka jalan VIP.
Interior dalamnya pun menakjubkan. Semuanya terkesan seperti markas Autobot. Dindingnya terbuat dari besi bertuliskan NEST dan lambang Autobot. Pagar pembatas tempat pengunjung mengantri terbentang sangat panjang dan berbelit-belit. Di ujung, ada tangga yang membawa masuk lebih dalam ke 'markas' itu. Di dalam, yang menyambut adalah sebuah ruangan lingkaran kecil. Di tengahnya terdapat tabung kaca berisi alat All Spark. Masuk lagi, benar-benar seperti markas. LCD terpasang di sisi dinding besi yang memiliki pipa-pipa dan tombol-tombol. Terdapat beberapa tulisan peringatan tentang keselamatan dalam menaiki wahana. Lebih jauh, ada senjata yang disimpan dalam peti kaca, di atas tiga monitor yang menampilkan keadaan bumi juga GPS dan laporan dari base, dengan sang pemimpin Autobot sendiri, Optimus Prime yang berbicara.
"Wow, ini bagus sekali!" seru Naruto bersemangat. Ia terlihat sangat menyukai—ralat, mencintai wahana ini. Padahal ini baru wahana pertama. Matanya terpaku pada monitor LCD yang menampilkan komandan NEST yang sedang menyampaikan laporan keadaan terbaru. Mereka melangkah lagi. Di daerah Level 1, terdapat LCD tergantung di langit-langit. Kali ini, ada jurnalis yang melaporkan keadaan penyerangan oleh Decepticon. Ada juga suara Megatron yang mengirim pesan ancaman. Di Level 2, terdapat Optimus Prime sedang menyampaikan pesan-pesannya. Lalu ada juga EVAC, robot yang akan membawa pengunjung dalam pertarungan menyelamatkan All Spark. Suara sirine tanda bahaya terdengar sangat keras. Mendekati wahana, ada komputer palsu menampilkan gambar dan data Bumblebee. Jalan lagi, ada kotak tempat pengambilan kacamata tiga dimensi.
"Irasshaimase, Goshujin-sama, Ojou-sama. Silakan naik. Bagi pemegang tiket VIP, anda dapat duduk di barisan depan berdua. Harap perhatikan peringatan keselamatan dan jangan pernah keluarkan anggota tubuh dari kendaraan selama wahana berlangsung. Kelalaian dan melanggar dapat menyebabkan luka serius. Mohon perhatikan keselamatan anda dan selamat menikmati," kata penjaga wahana. Ia mempersilakan Naruto dan Hinata masuk.
"Wah, jantungku berdetak sangat kencang. Ini sangat menegangkan!" komentar Hinata sambil tersenyum bersemangat.
"Iya. Aku tahu dari internet, katanya di wahana ini kita dianggap sebagai Recruit, seperti sukarelawan untuk membantu EVAC, robot baru di Autobot," jelas Naruto.
"Souka... Ah, sudah mulai!"
"Aduh, aku lelah berteriak," kata Hinata setelah keluar. Senyum lebar terkembang di wajahnya. Terlihat jelas ia sangat menikmati wahana tadi.
"Ya. Aku tidak yakin aku pernah merasakan wahana yang lebih hebat dari wahana ini," sahut Naruto.
"Ya. Aku sangat menyukai bagian kita terjatuh dan ditangkap Bumblebee. Oh, dan saat Optimus berbicara pada kita, aku sangat suka! Suara Optimus sangat dewasa, kurasa aku mulai jatuh cinta pada Optimus," ujar Hinata. Wajahnya merona bahagia. Naruto yang melihatnya cemberut lagi. Ia tidak suka Hinata mengatakan ia menyukai orang lain, walaupun itu hanya tokoh fiksi dan robot.
"Ne, Hinata-chan..." bisik Naruto pelan dalam nada aneh. Seperti... ingin menggoda. Ia meremas tangan Hinata dengan tangannya. Naruto mendekatkan bibirnya dengan telinga Hinata, dan berbisik tepat di sana.
"Na... Naruto-kun! A-apa yang kau lakukan?" tanya Hinata. Wajahnya memerah dengan kecepatan menakjubkan.
"Jangan sebutkan laki-laki lain jika kau sedang bersamaku, ya?" bisik Naruto lagi. Wajah Hinata perlahan kembali putih. Kekagetannya berubah. Kini senyum lembut tampak di wajah manisnya. Ia memejamkan mata dan mengangguk. Tidak salah Hinata mencintai Naruto. Dalam berbagai arti, Hinata menyukai Naruto yang posesif. Artinya Naruto sangat mencintai Hinata dan ingin melindunginya. Hinata tidak keberatan. Hinata adalah milik Naruto saat ini. Dan Hinata harap, untuk selamanya juga.
Hinata tersenyum dan mengangguk. Naruto terlihat cukup puas dengan jawaban gadisnya itu. Walaupun setelah dipikirkan lagi, aneh juga Naruto cemburu pada robot. Lagipula, Hinata hanya suka suaranya saja. Sedangkan pada Naruto, Hinata suka semuanya.
"Baiklah, kita ke mana lagi, Hinata-chan?" tanya Naruto. Ia memandang peta lagi. Di pikirannya, gadis manis seperti Hinata pasti ingin ke Dreamland. Tapi, perkiraannya meleset sangat jauh dari kenyataan. Karena...
"Aku ingin naik Death Coaster!"
Glek!
Naruto paling benci roller coaster. Karena ia punya kenangan buruk tentang roller coaster. Dulu, saat Naruto masih SD, ia pernah ditantang oleh teman-temannya untuk menaiki roller coaster. Padahal guru mereka sudah melarang. Tapi karena teman-temannya terus menggodanya, akhirnya Naruto memberanikan diri dan menaikinya. Tapi, tubuhnya yang saat itu masih mungil dan imut tidak kuat menahan tekanan. Akhirnya Naruto langsung ambruk dengan tidak elitnya setelah selesai. Sejak saat itu, Naruto selalu mengindari roller coaster sebisa mungkin.
"Naruto-kun?" tanya Hinata sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Naruto. Naruto tergagap kaget karena lamunannya buyar.
"E-eh? Apa kau mau sekali, Hinata-chan?" tanya Naruto. Hinata mengangguk dengan bersemangat. "Uuuh... Baiklah..."
Awalnya Naruto sudah bersemangat melihat antrian yang cukup panjang. Ia sudah mengatakan pada Hinata bahwa itu penuh. Tapi tepat saat mereka akan pergi, seorang penjaga memanggil mereka dan mengatakan kalau mereka memiliki tiket VIP hingga tidak perlu mengantri. Naruto hanya tertawa gugup, padahal inner-nya sudah menangis menjerit-jerit. Tapi demi Hinata, Naruto rela menghadapi roller coaster ini.
"Baiklah, Goshujin-sama, Ojou-sama, pastikan sabuk pengaman anda sudah terpasang kencang. Harap perhatikan peraturan untuk keselamatan, dan selamat menikmati," kata seorang penjaga wahana. Hinata menatap sabuknya dan pengaman tambahan sambil tersenyum. Ia sangat bersemangat. Tapi, karena saking bersemangatnya, Hinata tidak sadar di sampingnya Naruto sudah berkomat-kamit dengan keringat yang mengalir sederas sungai Amazon.
Perlahan, Death Coaster mulai berjalan. Jantung Hinata mulai berdegup kencang bersemangat. Ia sudah menyiapkan diri untuk berteriak sekencang mungkin. Sedangkan Naruto sudah tepar seakan di hadapannya adalah jalan kematian. Death Coaster naik dengan perlahan. Terus, makin tinggi, hingga berhenti di sisi tertinggi sejenak. Dan dalam sepersekian detik, coaster melaju dengan kecepatan tiga ratus kilometer per jam, seperti kecepatan kereta.
"KYAAA!" Hinata menjerit senang. Di sela-sela jeritannya terselip tawa. Sedangkan Naruto...
"HUAAA! KAA-SAN!" Berteriak ketakutan. Dan di sela-sela teriakannya, terselip tangisan meminta ibunya menolongnya. Sungguh menyedihkan dan memalukan.
Death Coaster, seperti namanya, membawa penumpang dalam fantasi perjalanan berliku-liku seperti kematian. Dan bagi salah seorang penumpang, yaitu Naruto, rasanya ia benar-benar sudah mati. Di depan wahana Death Coaster, di bangku taman, Naruto sudah tepar dengan tragis. Jika ini anime, pasti tubuhnya sudah berwarna putih.
"Naruto-kun, daijoubu ka?" tanya Hinata khawatir.
"Da-daijoubu. Ja-jangan khawatir. Ugh..." Naruto menjawab dengan terbata-bata. Perutnya masih mual. Tapi memalukan jika ia muntah dan pingsan di depan Hinata.
"Naruto-kun, kalau kau sakit, bilang saja padaku. Aku tidak akan memaksamu. Ya?" tanya Hinata dengan senyum di akhir perkataannya.
"Hinata-chan..." Naruto sudah terbang mendengar perkataan halus Hinata. Tapi, tiba-tiba ia mendengar seorang anak kecil membicarakannya.
"Kaa-san, orang itu sakit hanya karena naik Death Coaster. Lemah."
"Suzuki! Jangan membicarakan orang sembarangan. Walaupun dia lemah, tapi jangan sampai kedengaran!"
Brugh!
Inner Naruto sudah jatuh tertimpa beban seribu ton. Bahkan seorang anak kecil mengejeknya seperti itu. Rasanya memalukan. Dan menyebalkan. Kencan macam apa ini? Kenapa Hinata harus melihat semua hal-hal memalukan tentangnya?
Tapi Hinata tidak peduli. Ia mengambil tempat di samping Naruto. Ia memajukan punggungnya sedikit, sambil menatap wajah Naruto yang sedikit menunduk. Ia menggeser pelan tangannya mendekati tangan Naruto. Wajahnya memerah pelan. Dan setelah menyentuhkan tangan mungilnya ke tangan Naruto, Hinata menggenggamnya lembut. Hangat. "Jangan malu atau sedih, Naruto-kun. Justru, karena aku mengetahui rahasia dan ketidaksukaan Naruto-kun, aku bisa tahu Naruto-kun lebih jauh. Aku bisa lebih dekat dari Naruto-kun," kata Hinata.
Naruto bangkit dari lamunannya dan menatap Hinata. Mata gadis itu tidak berbohong. Naruto tersenyum hangat. Ia senang menghabiskan hari ini dengan Hinata. Ia tidak bohong. Tangannya balas menggenggam tangan Hinata. Seharusnya ia tidak meragukan Hinata. Hinata yang mencintai Naruto apa adanya.
"Terima kasih, ya, Hinata."
"Silakan antrian selanjutnya. Irasshaimase, Goshujin-sama, Ojou-sama," kata dua orang penjaga wahana. Seorangnya laki-laki berpakaian butler, dan yang lainnya gadis berpakaian maid. Keduanya bergandengan tangan, terlihat sangat romantis. Itu tidak aneh, karena saat ini Naruto dan Hinata tengah berdiri di depan wahana paling terkenal di Konoha Studio, sang bianglala cinta raksasa, Koi Monogatari.
"Silakan masuk, Goshujin-sama, Ojou-sama. Selamat menikmati!" seru keduanya. Hinata dan Naruto masuk ke dalam kompartemen tiga puluh tujuh. Sama seperti tanggal ulang tahun Naruto dan Hinata dijumlahkan.
"Wah, waktunya tepat, ya. Sekarang sudah senja," kata Hinata setelah duduk dengan nyaman.
"Apa maksudmu, Hinata-chan?" tanya Naruto dengan alis bertaut.
Hinata tersenyum manis. Dipejamkannya matanya. Ia selalu suka menceritakan kisah romantis. Terlebih dengan orang yang disukainya. "Ada legenda di bianglala ini, katanya jika ada sepasang kekasih berciuman di sisi tertinggi di bianglala tepat setelah matahari terbenam, tepat saat lampu menyala dan diiringi kembang api, maka pasangan itu akan bersatu selamanya. Walaupun aku tak tahu itu benar atau tidak," jelas Hinata.
"Ciuman?" gumam Naruto. Tentu saja ini kesempatannya. Ditatapnya Hinata lekat-lekat. Sedangkan Hinata sedang menatap ke luar jendela kompartemen yang tepat berhadapan dengan laut. Laut yang biasanya biru itu kini sedikit kemerahan terpengaruh cahaya merah matahari senja.
"Kirei..." gumam Hinata. Rona merah menghiasi pipinya. Tanpa sadar, senyum terlukis di wajahnya. Senyum yang sangat manis. Senyum yang selalu menyenangkan hati orang yang melihatnya.
Dan Naruto juga. Ia terpesona melihat Hinata yang duduk di hadapannya. Senyumnyalah yang membuat Naruto tergila-gila pada Hinata. Naruto mencintai Hinata. Ia tidak ingin kehilangan senyum Hinata. Dan sekarang mereka sedang berjalan pelan menuju sisi tertinggi. Mungkin legenda itu benar, pikir Naruto. Dan melihat senyum itu, Naruto makin tergoda.
"Ne, Hinata-chan..." panggil Naruto pelan. Tapi tetap terdengar oleh Hinata. Hinata menoleh. Dan yang ada di hadapannya adalah Naruto yang berlutut di hadapannya.
"Naruto-kun! Apa yang—"
"Mungkin legenda itu benar, kan?"
Hinata terdiam. Ia menatap Naruto. Ini bukan first kiss-nya, tentu saja. Tapi tetap saja. Hinata tidak terlalu berpengalaman dalam berciuman. Ia tidak tahu harus bagaimana. Panik? Tentu saja.
"Ta-tapi, aku harus bagaimana?" tanya Hinata.
"Terserah padamu," jawab Naruto lembut.
"Apa aku harus memejamkan mata?"
"Jika itu maumu."
"Apa yang harus kupikirkan?"
"Kau tidak usah berpikir apa-apa. Pikirkan saja aku..."
"Engh..."
Hinata memejamkan mata. Ia memajukan wajahnya. Dalam pikirannya hanya ada Naruto dan ciuman itu. Ia mengepalkan tangannya erat. Wajahnya tertunduk agar bibirnya ada tepat di bibir Naruto. Helai per helai rambutnya mulai berjatuhan menutupi wajahnya. Dalam hati ia menghitung detik-detik menuju ciuman itu. Sedikit lagi, dan...
Duar!
Kembang api bersahutan di langit yang kini gelap. Bianglala berhenti, dengan kompartemen tiga puluh tujuh tepat di tengah, tidak bergerak selama beberapa detik. Dan tepat saat bianglala berhenti, bibir Naruto dan Hinata bertemu. Mereka berciuman. Sesuai yang dikatakan legenda. Dan mereka melakukannya. Dengan cinta dan kasih sayang yang selama ini mereka bagi. Dengan saling bergenggaman tangan. Hangat dan indah.
Saat bianglala kembali berjalan, Naruto dan Hinata menghentikan ciuman mereka. Nafasnya agak sedikit terengah-engah. Wajah Hinata memerah. Rasanya sangat... menyenangkan. Ia menyentuh bibirnya, merasakan sedikit sensasi basah yang masih tertinggal.
"Manis," goda Naruto pelan. Wajah Hinata makin memerah. Ia memukul lengan Naruto pelan.
"Apa, sih, Naruto-kun!" katanya malu.
"Ehehe! Wajahmu, senyummu, dan bibirmu sama manisnya, Hinata-chan!" goda Naruto lagi dengan cengirannya.
Hinata tersenyum. Ia tidak ragu. Naruto memang pilihannya. Dan ia tidak salah memilih. Semua tentang Naruto selalu berhasil membuat Hinata tersenyum. Cinta memang manis. Hinata menatap ke langit yang masih bertabur kembang api. Ini adalah salah satu hari terbaiknya. Dan sekarang, yang ada di dalam pikirannya hanya satu.
Apakah takdir ini bisa disegel dengan sebuah ciuman?
.
=w= Tsuzuku =w=
.
Naruto : Wah, setelah beberapa chapter, akhirnya ada adegan kisu juga, ya.
Shana : Ya, iyalah. Abis lagi ngebet aja gitu.
Naruto : Gitu, ya... Eh, udah mulai A/N-nya?
Shana : Eh, udah? Ya udah. Selamat datang di AAA! A/N Alay Author! Dengan bintang tamu kali ini, dari fandom Baka to Tesuto: Shoukanjuu, inilah dia... Hideyoshi Kinoshita!
Hideyoshi : Yoroshiku! *smile*
All : BRUUSH! *suara mimisan*
Shana : Eto, Hideyoshi-kun... Selamat datang di AAA. Apa pendapat Hideyoshi-kun tentang fic ini?
Hideyoshi : Yah, lumayan, sih. Mungkin aku bisa memerankannya di klub teater.
Shana : Yup! Aku juga udah bikin karakter yang cocok buat Hideyoshi-kun!
Hideyoshi : Oya? Siapa?
Shana : Tentu aja... HINATA!
All minus Hideyoshi : YEAH!
Hideyoshi : Eeeh? Kok gitu? Yah, sebenernya gak apa-apa sih. Tapi kenapa gak cowok aja?
Shana : Abis kamu imut-imut banget, sih, Hideyoshi-kun~~~
Hideyoshi : *blush* Su-sudahlah. Baca review aja deh...
Shana : Oke, my kawaii koibito!
- Syeren : Shana setuju dengan semua pendapat Syeren-san, hehe... Iya, makasih. Ini update, ya!
- NaciTa LavenderShappire : Makasih banyak atas dukungannya! (dan kata Naruto makasih atas dukungannya) Oke, ini chappy 7!
- Natsu D. Luffy : Uwah! Makasih banyak atas segala pujian dan sarannya, ya. Shana seneng banget dapet review dari Natsu-san. Shana harap chapter sekarang lebih memuaskan. Arigatou!
- Yamanaka Chika : Oke, Chika sayang, thanks. Iya deh, aku terima saranmu, kuharap chapter sekarang udah lebih muasin, ya. Yup, kita kan sehati! *tos* Oke, ini update, gomen gak flash. Enjoy~
- Lucky-Human : Makasih atas pujiannya. Aduh, nge-fly dibilang senpai! Oke, lanjut dong! Ini update, gomen gak kilat.
- Uchiha Annisuke : Salam kenal juga, Anni-san. Iya, ini kan tuntutan script. Gomen, sekali lagi, Sakura jadi antagonis karena tuntutan script. Tunggu aja, ya. Stay tune. Wah, makasih udah fave! Enjoy this chapter, ya!
- Killer : Just stay tune and you'll find out the end. (And don't kill me, please!)
- L-The-Masterious : Irrashaimase! Thanks udah bilang suka. Iya, yang itu tuh maksud Shana Hinata mau bilang "Daijoubu. Jangan khawatir," cuma keketiknya itu. Gomen ne! Makasih juga atas sarannya. Domo arigatou!
- Guest : Yaaa?
- naqyu-qyu-qyu : Oke, ini lanjutannya. Stay tune, ya!
- Hyuna toki : Oke, ini update. Semoga tetep keren, ya.
- Final Fairy Crystallis Tail : Yo! The longest review of the year(?)! Makasih atas segala pendapatnya, ya. Dan makasih juga atas balesan review-nya. Maaf, belum sempet review, lagi sayang pulsa (krisis-pulsa). Nanti ku-review kok, tenang aja. Anyway, aku juga kayaknya berhenti LIA, ya. Yaah... *ikut pundung* Tapi bener kok, masih bisa saling berkomunikasi, ya! Oke, review lagi, ya!
- Final Fairy Crystallis Tail : Heee? Masih ada sambungannya? Bener-bener the longest review of the year! Hehehe... Iya, bahasa indonesia aja. Biar sama-sama gak ruwet. Oke, kupegang janjinya, ya! Enjoy!
- Guest : Ini dia chapter tujuhnya! Enjoy and review, ya~~~
Shana : I guess... Udah selesai, kan? Nah, ayo kita lanjut ke acara selanjutnya!
Hideyoshi : Acara apa?
Shana : Acara... *masukin Hideyoshi ke ruang X* MAKE HIDEYOSHI CUTER!
Hideyoshi : *keluar dengan yukata mini* Acara apa tuh?
All boys : BRUSHHH! *mimisan*
Shana : KYAAA! Hideyoshi-kun imut banget~~~
Naruto : Dan sementara mereka ribut, sadarkah kalian kalau gue dikacangin terus dari tadi?
Shana : Nah, saatnya penutupan. Jadi...
Naruto : Tuh, kan, dikacangin lagi. Hiks... Yah, sudahlah...
REVIEW PLEASE!
