Sonic The Hedgehog belongs to SEGA. Michi cuman punya story ini.
Keesokan harinya waktu pulang, Sonic menepati janjinya yang pergi ke kafe bareng Amy. Dia udah pake baju yang simple aja, celana jeans, sama kaos. Amy seneng banget kelihatannya, jalan-jalan sama Sonic, udah lama banget dia pengen moment kayak gini sama Sonic. Ya akhirnya terwujud deh!
"Sonic, ayo yuk. Nanti keburu sore,"
"ooh oke, Amy. Kita mau kemana, nih?"
"ke kafe, kan? Nyantai aja!"
"..yaudah deh."
Mereka berdua begitu sampai ke kafe yang dituju langsung mesen tempat, untung enggak rame disana. Sonic rada kagok, soalnya ini pertama kalinya duduk dikafe bareng Amy. Karena suasana sempet krik sebentar, Amy memulai pembicaraan.
"Sonic.."
"a-apa, Amy?" saking gugupnya sampe terbata-bata.
"..menurutmu..aku ini terlalu over-reacting ya?"
"eh? Kata siapa? Masa' sih? Kalau kata orang begitu jangan dimasukin ke hati, lah.."
"ya gitu deh..malah pernah aku pengen pindah sekolah!"
"OH YA? Sama dong. Aku juga mau pindah."
"lho..kenapa? bukannya Sonic suka sekolah ini? Kan kamu udah punya segalanya disini, temen-temen yang asik, para fangirls yang ngejar kamu kemana-mana.."
"stop stop. Gamau ngomongin fangirls. Jutru itu aku makin enggak nahan disini, dikira enggak capek apa dikejar mulu..nyampe gerbang sekolah.."
Kemudian Amy tertawa.
"tapi Sonic..aku kan juga ngejar-ngejar kamu!"
"..eh, kalo satu doang enggak apa-apa deh.."
Sonic malah merasa berdosa kemaren, udah bilang ke temennya kalo dia punya fangirl, satu, yang pengen-dikasih-ke-orang.
"makasih, Sonic! Kukira kamu bakal jijik gitu sama aku,"
"yah...eng...main jujur-jujuran yok?"
"eh-"
"jujur nih, dulu aku sempet annoyed sama Amy karena saking lebaynya ngejar-ngejar aku kemana-mana. Awalnya sih sempet malu ya, cuman..." Sonic berhenti sebentar.
"..t-terus..?" Amy sempet enggak percaya kalo Sonic kayak begitu dulu sama dia.
"..terus, sekarang gua- eh salah, aku sadar kalo ternyata sekarang..kita sama-sama berubah, ya? Ngerasa gitu enggak?"
"..Sonic kan tetep baik. Aku..makin..alay begini."
"ENGGAK! Kata siapa alay?"
"Sonic..eng...abaikan dulu deh, kamu lanjut aja dulu,"
"Oh ya, tadi aku sampe mana...nah, kita kan sekarang perasaan sama-sama berubah. Aku makin deket sama kamu, dan kamu..karena kamu baik banget gitu, jadi ya aku..pengen deket aja."
Pipi Amy jadi merah, "..m-masa' sih? Tapi enggak pernah kelihatan.."
"i-itu..soalnya..karena dikawasan temen-temen aja begitu. Kan malesnya tau-tau di-ciye-in aja..ugh.."
Seketika hening lagi. Langsung pada mikir mau ngomong apa di moment yang enggak bakal di-ciye-in ini. Giliran Sonic yang memulai pembicaraan lagi.
"nah sekarang Amy. Kan kita lagi main jujur-jujuran!"
"sekarang aku maksud Sonic apa-"
"ya, sekarang gilirannya Amy curahin apa yang didalem pikiran Amy...sejak dulu."
"..kepo banget, sih?" Amy kehabisan kata.
"kepo apanya? Kan gantian. Tadi kan gua- tuhkan salah ngomong..tadi kan aku udah ngasih tau kejujuran."
Amy menghela napas, "y-yakin nih mau tau?"
Ini bikin Sonic makin penasaran. Wah, kepo juga akhirnya dia. "iya iya, mau tau, mau tauuuu..!"
"eng..j-jadi rahasianya itu.."
Sonic ngeliatin dengan tatapan penuh penasaran, "..ya?"
Amy menelan ludah, "rahasianya itu..sejak dulu..aku..suka sama kamu-"
"YA IYALAH JELAS, Amy...kan kamu ngefans gitu sama aku kan?"
"b-bukan gitu! Dengerin dulu dong makanya!"
"hayah..iye-iye lanjut dah.."
Amy enggak tau mau bilang sejujurnya atau enggak. Dia takut kalau Sonic enggak punya perasaan lebih yang sama dengannya. Sekarang atau tidak pernah lagi, pikirnya. "Sonic, aku suka sama kamu. Um..l-lebih dari yang kamu bayangin!" Amy mempercepat perkataannya.
Sonic, sekarang terdiam. Dia baru aja denger apa yang dikatakan Amy. "lebih dari yang kamu bayangin!" terus-terusan menggema di kepalanya. Benarkah itu tadi Amy? Makin lama dipikirin makin nge-blush sendiri.
"e-eh! S-Sonic? Sonic kenapa..?" Amy khawatir kalo Sonic tiba-tiba aja langsung jantungan.
Sonic memberikan senyuman.
"enggak kenapa-kenapa, kok. Seneng aja,"
"seneng kenapa? Labil bener deh, tadi kepo, sekarang malah seneng. Nanti apa lagi.."
"enggak labil, kalee.. Aku juga gitu kok ke kamu, Ames. Hehe.."
"maksud?" Amy jadi enggak yakin. Benarkah kalau Sonic suka sama dia balik?
"ah udah deh enggak usah pura-pura begitu."
"serius nih maksud Sonic apa?"
Yang ditanyain malah menyeringai.
"aku. Suka. Sama. Kamu. Jugaaaaaa.."
Amy langsung shock . Denger apa yang barusan diucapkan Sonic. Kali ini giliran Amy yang kaget. Ternyata, setelah semua ini Sonic diem-diem suka sama Amy juga semenjak mereka saling berubah menurut Sonic. Mereka berdua mengalihkan pandangan, saling nge-blush.
Tiba-tiba, disaat-saat begini malah ada yang SMS..
"hoi, Sonic. Dimane luh? Pulang gih, keburu sore." Ternyata dari Shadow.
"ganggu aja lu, Shad. Bentar 'napa.." balas Sonic lewat SMS, yang beneran merasa terganggu sama temennya yang satu ini.
Karena enggak mau percakapan antar mereka berdua di kafe berhenti, Sonic membuka mulut, "Amy..a-aku..udah disuruh pulang, nih. Erm..besok ketemu lagi yah, disekoah. Maap banget..sebenernya masih pengen lebih lama lagi sih. Tapi-"
"tapi kan kita aja belom pesan minuman.." Amy mengalihkan.
"oh iyaya..tapi Amy, besok kita masih bisa ketemu kok! Apa bisa kalo kita besok jalan-jalan lagi?" Sonic, mencoba menghibur Amy yang raut mukanya udah kecewa.
"besok? Besok aku kurang tau bisa atau enggak.."
Sebelum Amy berdiri dari kursi, tangannya digenggam. "Amy jangan kecewa, dong.."
Amy, tersenyum sedikit. Ya yang penting hari ini hatinya udah aman. Sonic bakal punya dia, gak ada yang bisa nge-steal dia lagi, seperti Sally. "..makasih Sonic. kamu..baik banget."
...
...
...
Pintu rumah Sonic dibukakan sama Knuckles, yang kemudian melanjutkan aktivitasnya lagi. Sonic enggak ngapa-ngapain dulu dibawah, langsung naik keatas. Enggak menyapa yang lainnya diruang makan. (Sepertinya udah beli kompor baru..) Begitu sampai dikamarnya, Sonic langsung mikirin apa yang bakal bikin Amy senang besok disekolah besok. Apa itu sebuah mawar yang merah merona? Apa perlu dia mainkan gitarnya biar Amy senang? Memberikan ciuman di pipi? Atau membawanya keliling dunia, mengunjungi berbagai tempat yang sudah pernah mereka lalui bersama?
Kali ini Sonic bingung dibuatnya sendiri.
Tau-tau Silver, yang sengaja ngelewatin kamar Sonic yang pintunya terbuka itu mengusulkan, "Sonic, itu sih nanti aja. Yang penting elu harus mau nganggep Amy sebagai pacar lo dulu!"
"Lho kok tau sih apa yang gua pikirin?!" bales Sonic dari kamarnya. Enggak nyangka Silver malah tau.
Enggak dijawab. Si naive itu udah lewat.
"..oh iya. Silver, Psychic, Telekinesis, ..Telepathy.." kata Sonic sambil mengingat-ingat. Kalau menurutnya Silver sehebat itu, yang punya banyak kelebihan, kenapa dia enggak nembak cewek aja?
Setelah dipikir-pikir, usul Silver bener juga.
Yap. Chapter yang berisi Sonic sama Amy. Akhirnya mereka jadian juga ya..mwahahaha. yah kalau gaje, atau apalah dicerita ini..maaf deh ya. Ehehe. No flames.
Review?
