TITLE : The Dawn Of Spring ( Fajar Musim Semi)
By : CosmoUskhaJewel
Disclaimer : They are all not mine,they belong to their own. But this story is mine.
Main Cast : Lee Hyukjae/ Lee Eunhyuk , Cho Kyuhyun,Tan Hankyung as Lee Hankyung and many more
Pair : KyuHyuk (main), slight MinHyuk (Friendship), WonHyuk, HaeHyuk
Warning : Typo, Misstypo, Plot like Snail, Yaoi, EYD tidak baku, waktu dan tempat yang tidak jelas.
.
.
Chapter 4 ( chapter ini masih lanjutan flashback dari chapter 3)
[ Eunhyuk POV]
.
.
Aku sampai di Mokpo dirumah Ajjumma. Kami disambut duo sepupuku Donghwa dan Donghae, mereka sangat gembira mengetahui aku akan tinggal bersama mereka mulai sekarang. Ajjumma melempar tatapan─jangan memberitahu mereka jika tak ingin mendapat hadiah─tajam saat Donghae mengajakku ke kamar yang akan ditempatiku.
"Hyukkie, kau akan sekolah disini kan?" Tanya Hae padaku saat aku mulai memindahkan pakaian dari tas ke lemari yang ada di sudut kamar ini.
"i-iya Hyung, aku akan sekolah disini"aku memanggilnya Hyung karena dia lebih tua 3 tahun dariku.
"aishh, jangan memanggilku Hyung, hanya Donghwa Hyung yang boleh kau panggil Hyung, aku kan masih muda jadi panggil aku Hae saja"ucapnya narsis, memang dia terlihat seperti seumuranku mungkin karena wajahnya yang childish dia terlihat lebih muda.
"baik Hyu-Hae"ucapku gelagapan dia mengerti dan mendekatiku lalu mengelus puncak kepalaku.
"oh ya, nanti sore aku sudah harus kembali ke chungnam, jadi nanti malam kau akan sendirian. Padahal aku ingin lebih dekat denganmu Hyukkie, waktu aku dirumah mu kan aku juga harus cepat-cepat kembali"sesalnya, aku hanya tersenyum ternyata dia sangat baik begitu juga dengan Donghwa Hyung.
"tapi kita masih bisa bertemu tiap akhir minggu, karena aku pulang setiap weekend, Arraseo?"sambungnya
"Ne, Arraseo" Hae kembali ke kamarnya karena harus bersiap-siap nanti sore akan kembali ke chungnam.
Sampai hampir sore aku hanya mengurung diri dikamar, Ajjumma sama sekali tidak memanggilku atau menyuruhku untuk turun dan sepertinya rumah sangat sepi. Setelah yakin rumah benar-benar sepi aku turun ke lantai bawah menuju dapur, perutku sangat lapar sejak tadi malam aku belum makan karena sudah tak ada sisa makanan malam itu. Beruntungnya aku menemukan roti tawar di kulkas segera saja aku ambil satu, tapi saat potongan roti itu akan masuk ke dalam mulutku pintu rumah terbuka dan Ajjumma sudah ada dihadapanku dengan tatapan kejamnya.
"sedang apa kau disini?"aku gelagapan, satu potong roti yang ada ditanganku tak bisa aku sembunyikan karena Ajjumma sudah terlanjur melihatnya.
"kau ingin makan, eoh?" aku mengangguk dia mendekatiku dan mengambil roti itu dari tanganku dengan mudahnya
"apa kau sudah mengerjakan pekerjaan yang biasa kau kerjakan?"tanyanya sarkatis, aku hanya bisa menunduk.
"jangan berani makan sebelum aku bilang bersih, ARRASEO ?"bentaknya, aku mengangguk cepat dan langsung melesat ke kamar mandi disitu sudah ada tumpukan baju dan beberapa selimut tebal yang harus aku cuci.
'aku harus mengerjakannya dengan cepat kalau aku ingin makan!'aku menyemangati diriku sendiri, walau badanku kecil aku harus kuat dengan pekerjaan seperti ini,. Setelah berkutat dengan cucian dan menjemur nya di tengah terik matahari musim panas, aku harus mengepel lantai, membersihkan rumah dan mencabuti rumput di halaman belakang yang sudah sangat mengganggu pemandangan.
"cepat masak! sudah waktunya makan malam!"Ajjumma menyuruhku saat aku sudah selesai mencabuti rumput, saat itu sudah hampir malam dan perutku sudah sangat lapar, aku mengangguk mengerti dan segera menyiapkan makan malam, untung Eomma selalu mengajariku memasak kalau tidak entah jadi apa aku setelah ini.
"makan malam sudah siap 'jumma!" aku hanya bisa menelan ludah saat melihat makanan yang tersaji di meja makan, Ajjumma dan Ajjushi sedang makan dan Ajjumma belum memberiku jatah makan hari ini. Jadi aku hanya bisa berdiri menunduk di belakang meja dapur.
"aku sudah selesai! Itu adalah jatah makanmu! Cepat makan, aku tidak mau kau sakit, pasti merepotkan!"Ajjumma melenggang masuk dengan Ajjushi setelah selesai makan, aku langsung menuju meja makan dan syukurlah masih ada beberapa potong kimchi dan satu piring penuh nasi, walau hanya dengan kimchi dan lebih banyak nasi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali. Mungkin Ajjumma sedang berbaik hati.
Saat ini aku sudah masuk Senior High School Chungnam, ya kami pindah dari Mokpo karena Ajjumma ingin selalu ada di dekat dengan dua anaknya, tapi saat kami pindah Donghwa dan Donghae malah jarang disini, Donghwa Hyung yang sudah sibuk dengan kehidupan Universitas, sehingga dia lebih memilih kost di area Kampusnya sedangkan Donghae sedang sibuk mempersiapkan Ujian Masuk Universitas, jadi hanya ada aku, Ajjumma dan Ajjushi di rumah.
Kehidupanku dirumah sekarang sudah seperti neraka, selain mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa, sekarang Ajjumma sering memberiku 'hadiah' tanpa sebab, alhasil setiap malam aku harus menggigil kesakitan karena lukanya yang membiru, dan kadang Ajjushi juga ikut 'memberikan'. Walau siksaan yang kuhadapi semakin sakit, aku bisa menyempatkan belajar, aku tidak mau terus menerus seperti ini, aku harus bisa keluar dari kungkungan mereka.
'Hyukkie kau harus pintar, karena hanya orang pintar yang bisa berdiri di puncak kesuksesan. Maka dari itu kau harus rajin belajar biar bisa menjadi seperti Appa, Arraseo?' kenangan saat Appa menasehatiku saat aku malas belajar mengingatkanku padanya.
"Appa, Eomma apakah aku sanggup menjalani hidup ini tanpa kalian? Hyukkie capek, bolehkah aku menyusul kalian"keluhku, akhirnya aku menangis padahal sudah sering aku menangis setiap malam, tapi entah kenapa aku sudah merasa tidak kuat lagi.
'Hyukkie, Namja itu tidak boleh menangis. Kau harus kuat, nanti kalau Eomma dan Appa sudah tak ada siapa yang akan menghapus air matamu, sekarang Eomma bisa menghapus air matamu, tapi nanti?' kini bayangan Eomma saat menghapus airmataku saat aku terjatuh dari sepeda terlintas didepan mata, aku mengusap air mata yang mengalir di kedua pipiku.
"Hyukkie! Kau harus kuat, kau itu Namja! Namja tidak boleh menangis!"semangat ku pada diri sendiri setelah itu aku melanjutkan belajarku hingga larut malam.
Aku dapat beasiswa di sekolah ku yang sekarang, alasannya? Tentu saja aku ingin tentu saja aku ingin terus sekolah itu janjiku pada Appa, kalau mengandalkan Ajjumma aku tidak akan dapat sekolah karena Ajjumma tidak memberikan uang untukku sekolah. Beruntung Ajjumma mengijinkanku untuk sekolah dan karena kebutuhanku juga yang tidak mungkin aku meminta pada Ajjumma aku kerja paruh waktu di kios sayuran milik Ajjumma Leeteuk, dia sangat baik. Saat aku kebingungan mencari kerja dia menawarkanku untuk menjadi pegawainya.
"kau sudah selesai memindahkan kentang-kentang itu, Hyukkie?"Tanya Ajjumma Leeteuk saat aku sedang mengistirahatkan diri, meluruskan kedua kakiku.
"ya 'jumma, ijinkan aku istirahat sebentar"dia mengangguk, kalau bisa aku ingin dia yang menjadi Ajjumma ku, dia sangat baik, penyayang dan menganggapku seperti anaknya. Kehidupanku yang sekarang bisa dibilang membaik tapi tidak dengan Ajjumma dan Ajjushi mereka semakin brutal kadang kalau bisnis mereka sedang turun mereka melampiaskannya padaku, entah mencambuk atau memukul kadang aku dikurung dalam kamar mandi dan baru keluar saat pagi datang itu pun kalau mereka ingat, pernah aku sampai tidak masuk sekolah karena demam.
"kau tahu, karena aku menampungmu, semua kolega bisnis ku tak mau bekerja sama dengan perusahaanku, itu karena Harabeoji mu yang jahat itu, dan kau itu aib keluarga ini. Lihat Eomma mu, dia menikah dengan Appa mu karena kasihan, kau tahu! Hanya kasihan, dan kau anak belas kasihan itu! Eomma mu itu menderita hidup dengan Appa mu, dia setiap hari harus mendengar cemoohan orang tentang Harabeoji mu dan hidup dalam kemiskinan"
"tidak! Itu tidak benar, Eomma tidak menderita, dia sangat mencintai Appa dan juga aku, dan mereka tidak miskin, Appa kerja di perusahaan internasional dan Eomma selalu menerima Appa apa adanya, Ajjumma bohong! Semua itu tidak benar!" baru kali ini aku berteriak didepan Ajjumma, dengan nafas tersengal dan air mata yang sudah menganak sungai aku tak terima mereka menghina Appa dan Eomma, mereka boleh menghina ku tapi jangan Orang tua ku.
"kau sudah berani melawan, eoh! Kita lihat apa kau bisa bertahan !"cemooh Ajjumma yang lalu masuk kamar, dia melempar tatapan sinis aku tahu tatapan itu dan benar saja dia kembali lagi ke hadapanku yang sedang berlutut dengan membawa cambukan.
"kau tahu! Anak sepertimu pantas mendapat ini!"
CTARRRR~
"Arghhhhh!" Ajjumma mencambuk ku dengan sangat keras, aku hanya bisa berteriak sakit percuma tak akan ada yang mendengar teriakanku, rumah ini mempunyai peredam suara sehingga saat mereka menyiksaku tetangga tak akan ada yang mendengarnya.
CTARRR~
CTARRR~
Berkali-kali dia mencambukku, saat sudah melihat hasil 'karya'nya yang sudah membekas sampai membuat bajuku sobek, aku hanya bisa menggigit bibir bawahku sampai berdarah untuk menahan sakit, kadang aku berteriak meminta tolong tapi percuma tak akan ada yang mendengar.
"maafkan aku Ajjumma, tolong jangan hina mereka lagi. Ajjumma boleh menghinaku tapi jangan orang tua ku, mereka tidak bersalah"mohon ku padanya, aku hanya bisa meringkuk di lantai dengan luka cambukkan yang masih terasa panas di kulitku.
"lihat saja apa yang nanti kau dapakan setelah ini!"dia melengos lalu masuk kamar membiarkanku meringkuk di lantai yang dingin, segera aku bawa tubuh penuh luka ini ke kamarku, dengan langkah tertatih dan menahan sakit di punggungku akhirnya aku dapat mencapai kamar dan langsung merebahkan tubuhku yang penuh luka. Sesekali air mata ku keluar saat air hangat menyentuh tubuhku, aku harus membersihkannya kalau tidak mau infeksi, pasti akan sangat merepotkan untukku. Dan aku melalui malam itu dengan menggigil kedinginan karena luka cambukan itu.
Perlakuan Ajjumma sudah membuatku tersiksa, belum lagi orang-orang disekitar rumah Ajjumma mulai memandangku sinis, rupanya mereka sudah di hasut oleh Ajjumma tentang keluargaku, kadang aku mendapat makian dan tak jarang mereka melempariku dengan tomat busuk atau telur busuk, dan tak membiarkan putri mereka mendekatiku. Tapi saat disekolah banyak Yeoja yang mendekatiku karena melihat kepribadianku, mereka tidak mempercayai perkataan orang tua mereka, tapi mereka mendekatiku untuk menjadikanku Namjachingu mereka, aku tidak bisa.
"Oppa~ kau mau kan jadi Namjachingu ku?" rayu Yeoja rambut pirang sambil tangannya menarik-narik ujung seragamku
"jadi Namjachingu ku saja Oppa" rayu Yeoja rambut coklat
"Anni, Oppa Hyukkie sama aku saja" kini Yeoja yang mempunyai rambut hitam sebahu menarikku ke pelukannya, aku kaget mendapat perlakuan seperti itu. Aku memang belum pernah pacaran apalagi pelukan, tapi kalau disuruh untuk berpacaran dengan Yeoja entah kenapa aku tidak berminat, apa aku ada masalah dengan orientasi seksualku? Mungkin ya, karena aku tidak bereaksi apa-apa ketika ada salah satu Yeoja yang tiba-tiba mencium pipiku.
Aku tidak pernah merasakan jantungku berdebar-debar lagi sejak aku pindah dan tidak bertemu Kyu, biasanya saat kami pulang bersama aku merasa jantungku akan meloncat keluar ketika dia tiba-tiba memelukku. Tapi tidak! Dia pasti bukan gay sepertiku, ya aku menyadari orientasi seksual ku berbeda dengan Namja seumuranku ketika pertama kali aku wet dream yang aku mimpikan adalah Kyu, teman kecilku yang berjanji akan selalu menjagaku.
Perlahan Yeoja- yeoja itu mulai menjauhiku, mereka tak pernah lagi bergelayut manja di pundakku saat aku sedang membaca buku di taman belakang sekolah. Ternyata ada isu yang mengatakan kalau aku adalah gay, pantas saja banyak tatapan jijik yang aku dapatkan saat aku berjalan di koridor sekolah dan juga banyak tatapan lapar para Namja mesum saat aku sedang olahraga.
Kabar itu sampai pada telinga Ajjumma, dia semakin ingin memukuliku saat aku pulang setelah bekerja di kios Ajjumma Leeteuk dia menghadangku di depan pintu rumah.
"kau ingin aku melakukan apa, eoh! Kau itu memang benar-benar aib, dan ternyata sekarang kau adalah homo! Mau taruh dimana muka ku ini, kalau aku menampung Namja Homo dirumahku yang indah ini bisa kena sial rumahku." Aku hanya bisa diam, air mataku lagi-lagi keluar.
"kau menangis? Kau memang seperti Yeoja, kenapa Eomma mu tidak melahirkanmu sebagai Yeoja saja, biar kau tidak menjadi Homo. "
"Pergi kau dari sini! Aku tidak sudi menampung Namja menjijikan sepertimu!"Ajjumma mengusirku setelah memukuliku, aku sudah sangat hancur sekarang ditengah malam pertama musim dingin ini aku harus mencari tempat berteduh untuk berlindung dari dinginnya malam musim dingin, belum lagi rasa sakit ditubuhku yang masih baru. Ditengah perjalanan aku melihat ada dua Namja berjalan dengan sempoyongan sepertinya mereka mabuk, aku pura-pura saja tak melihat mereka tapi mereka ternyata menghalangi jalanku.
"mau kemana manis, ?"tanya Namja berbadan gempal, bau alcohol langsung tercium saat dia menggangguku, aku langsung menghindar tapi Namja satunya yang agak tinggi dariku ternyata sudah ada dibelakangku menahanku untuk lari.
"pergi! Jangan ganggu aku!"teriakku, berharap ada orang lewat yang akan menolongku, tapi ini sudah hampir tengah malam dan ini malam pertama musim dingin mustahil ada orang yang masih berkeliaran, mereka pasti memilih menghangatkan diri didalam rumah dengan pemanas dan tidur dengan selimut yang hangat.
"oh, ternyata kau namja. Pantas dadamu rata" Namja agak tinggi itu memicingkan mata melihat tubuhku.
"pergi! Bukankah kalian tidak menyukai namja, kalian bukan gay kan?" berharap mereka jijik dan melepaskanku.
"tapi kalau Namja nya semanis dan secantik ini, aku juga bersedia menjadi gay"Namja berbadan gempal itu langsung memegangiku tak ketinggalan temannya yang ada dibelakangku membuatku tak bisa bergerak.
"diam! Atau belati ini akan melukai kulit putihmu"bisiknya membuatku semakin bergidik ngeri saat dinginnya permukaan belati menempel pada tanganku yang telanjang.
"TOLONGG!"teriakku entah pada siapa, menyadari aku yang berteriak dan sepertinya ada orang yang menuju tempatku dia langsung menusukku dengan belati itu tepat di perutku.
"Argghh!"
Namja gempal yang menusukku sadar dengan apa yang dia lakukan lalu langsung lari dengan temannya itu, meninggalkanku yang terbaring di aspal jalanan di tengah-tengah dinginnya musim dingin, perlahan darah mulai merembes keluar membasahi bajuku, mataku semakin berat dan tubuhku juga. Ditengah-tengah kesadaranku yang semakin menipis terlintas di mataku bayangan Appa dan Eomma yang tersenyum.
Apa mereka menjemputku?
Apa akhirnya penderitaan ini akan berakhir?
Dan kegelapan menelanku dalam dunianya.
TBC
A/N
aku tahu ini pendek dan kalian pasti bosan dengan cerita ini.
terimakasih yang sudah review cerita ini dari awal aku sangat berterimakasih, juga untuk kritikan dan sarannya.
mind to review?
