TITLE : The Dawn Of Spring ( Fajar Musim Semi)
By : CosmoUskhaJewel
Disclaimer : They areall not mine,theybelong totheir own. But this storyis mine.
Main Cast : Lee Hyukjae/ Lee Eunhyuk , Cho Kyuhyun,Tan Hankyung as Lee Hankyung and etc.
Pair : KyuHyuk (main), slight MinHyuk (Friendship), WonHyuk, HaeHyuk
Warning : Typo, Misstypo, Plot like Snail, Yaoi, EYD tidak baku, waktu dan tempat yang tidak jelas.
.
.
Chapter 5
[ Eunhyuk POV]
.
.
.
"Eunggh"aku mengerjapkan kedua mataku membiasakan dengan cahaya yang ada diruangan ini, atapnya bukan atap kamarku dan semuanya bernuansa putih, apa aku sudah meninggal dan ini disurga? Tapi mana Eomma dan Appa.
"Kau sudah sadar?" Namja dengan jas putih masuk melalui pintu ruangan ini, dia memeriksa denyut nadi dan melihat mataku dengan senter kecilnya.
"Apa ini disurga, apa kau malaikat?" Dia tersenyum mendengar pertanyaanku menampilkan lesung pipit yang ada di kedua pipinya.
"Kau ingin segera mati? Sayangnya kau masih hidup" jawabnya dengan santai dan jangan lupakan lesung pipit yang selalu menghiasi senyumnya. Aku memperhatikannya sekali lagi ternyata dia dokter, terlihat dari jas yang ia pakai, tapi ini bukan rumah sakit lalu ada dimana aku sebenarnya.
Menyadari wajahku yang kebingungan dia mendekatiku." Kau ada di klinik ku, tadi malam aku menemukanmu tergeletak hampir mati kehabisan darah. Untung klinik ku tidak jauh dari tempat aku menemukanmu, apa ada keluarga yang bisa ku hubungi? Kau sudah seharian disini, aku takut mereka mencarimu"
"Tidak akan ada yang mencariku, Aku sebatang kara. Dan sebelum kau tahu dari orang-orang sini, Aku adalah gay, Kau tahu kan gay ?" Aku langsung berterus terang karena jika akan diusir aku sudah akan siap-siap pergi.
"Hei hei hei, jangan marah-marah dulu luka mu masih belum kering. Aku tidak akan mengusir atau menghina mu, Karena─"dia mendekat dan membisik "Aku juga sama sepertimu" Aku cengo mendengarnya, jadi ada orang sepertiku.
"Jadi siapa namamu?" Tanyanya setelah berbisik seperti tadi.
"Eunhyuk, tapi kebanyakan orang memanggilku Hyukjae "
"Oke Hyukkie, aku akan memanggilmu Hyukkie, gwencahana ?" Aku mengangguk.
"Bisa kau ceritakan darimana kau dapat luka tusuk itu?" Tanyanya menunjuk perutku, aku pun menceritakan kronologi kejadiannya.
"Kau pasti punya rumah kan Hyukkie?" Aku mengangguk kembali dan entah kenapa aku menceritakan semua yang aku alami dari dulu hingga sekarang, aku merasa tenang menatap matanya.
"Jadi luka-luka yang ada ditubuhmu itu karena mereka?"
"Ne, itu karena aku tidak mengerjakan pekerjaan dengan benar dan itu berulang-ulang"
"Lalu kenapa dua sepupumu itu tidak mengetahui perlakuan orang tuanya padamu?"
"Itu karena mereka memang tidak tahu, mereka pulang hanya satu minggu sekali, bahkan 1 bulan sekali, kalau mereka akan pulang sebisa mungkin mereka tidak membuat 'karya' mereka ditubuhku karena takut anak-anaknya curiga."
"Jadi sebenarnya mereka itu baik?" Tanya dia bingung
"Ne, kecuali Orang tua mereka"jawabku tegas. Dia mengangguk mengerti, saat suasana hening suara ringtone panggilan masuk terdengar pemiliknya, tentu dokter yang menolongku. Dia menerima telepon, mukanya sangat serius saat berbicara di telepon mungkin ada masalah.
"Er. . Hyukkie, aku tinggal sebentar Ne? Ada pasien gawat di rumah sakit"katanya buru-buru
"Tunggu!" Panggilku, dia mengentikan langkahnya saat akan memutar kenop pintu.
"Siapa namamu? Kau belum memberi tahu" Tanyaku malu-malu, aku menundukan kepala tak berani melihat matanya.
"Choi Siwon, panggil saja Siwon" Jawabnya, aku memberanikan diri mendongakan kepala.
BLUSHH~
Dia tersenyum ke arahku, dan tak lupa lesung pipit yang selalu menghiasi senyumnya.
"Ne, Siwon Hyung" Dia tersenyum lagi, tapi setelah itu dia hilang di balik pintu yang dibukanya.
.
.
.
Seharian itu aku hanya bisa berbaring, perutku masih sakit untuk bisa diajak aktivitas. Dan kulihat luka tusukannya lumayan dalam dan sudah seharian aku disini. Aigoo! Bagaimana aku bisa lupa, hari ini kan weekend, donghae pasti pulang, kalau dia tahu aku tak ada dirumah lalu mencariku, dan aku harus terkurung disana lagi.
Tak terasa hari sudah sore Siwon Hyung belum juga pulang, mungkin dia sangat sibuk. Aku melihat perban yang melingkari perutku. Darah! Ada darah yang merembes keluar. Apa aku terlalu banyak bergerak, hingga lukanya mengeluarkan darah? Pertanyaan itu terngiang-ngiang di kepalaku sampai ada yang membuka pintu kamar.
"Hyukkie! Mianhe aku lupa memberimu obat! Coba kulihat lukamu" Siwon Hyung datang dengan tergopoh-gopoh dia sangat berantakan tapi masih bisa fokus pada lukaku.
"Apa sakit Hyukkie?" Tanya Siwon Hyung saat dia mengganti perbanku setelah itu dia menyodorkan beberapa butir obat, aku menggeleng. Obat itu sangat pahit dan aku tak bisa minum obat.
"Waeyo ?"
"Aku gak mau minum obat Hyung, rasanya sangat pahit"
"Kalau gak minum obat, kau mau luka mu itu mengeluarkan darah terus? Kau mau mati karena pendarahan?" Dia mengancam, mukanya sangat serius. Apa wajah ini juga yang dia tunjukan pada pasiennya di rumah sakit jika ada yang tidak mau minum obat.
"Tapi sediakan air yang banyak Hyung, "Kataku akhirnya menyetujui. Dia lalu menyodorkan gelas besar dengan air yang terisi hanya setengah, aku mengernyit heran mengetahui keanehan wajahku dia tersenyum lagi.
"Kau harus bisa minum obat, tentunya dengan air yang sewajarnya." Jawabnya, tahu apa yang aku pertanyakan.
"Tapi,"
"Basahi tenggorokanmu dulu agar obat bisa masuk, lalu letakkan obat pada pangkal lidahmu dan jangan bernafas saat kau mendorongnya dengan air yang kau minum. Ayo coba!" Katanya menginstruksikan, aku pun mengambil satu butir dan menahan nafas saat mendorongnya dengan air. Aku menghela nafas, dan benar saja obat itu masuk dan aku tidak merasakan pahit.
"Tidak pahit kan?"Tanya Siwon Hyung , aku hanya bisa mengangguk lalu melanjutkan meminum obat yang tersisa.
"Mianhae Hyukkie, tadi pagi aku lupa memberimu obat. "
"Ne, Hyung. Gwenchana, aku biasa kok merasakan sakit ini, aku pernah merasakan yang lebih sakit dari ini jadi Hyung jangan merasa bersalah." Dia tersenyum lagi, apa memang dia selalu tersenyum pada semua orang.
"Oh ya Hyukkie, tadi ada orang yang mencarimu"
"Si-si-siapa?"tanyaku mendadak gagap.
"Namanya aku tidak tahu, tapi dia membawa fotomu. Jadi aku kira dia adalah salah satu sepupumu. Tidak mungkin kan orang tua mereka yang mencarimu" aku mengangguk, itu adalah Hae, dia pasti sedang mencariku karena dia tak pernah lepas dariku saat dia pulang ke rumah.
"Itu Donghae, Hyung. Dia yang selama ini dekat denganku dirumah, Donghwa Hyung juga sama, tapi karena dia jarang pulang aku lebih dekat dengan Hae,"
"Jadi?"
"Jadi apa Hyung?"tanyaku bingung
"Kau akan kembali kesana?"
"Aku harus menghadapi mereka, aku harus kuat"seperti janjiku pada Kyu, lanjutku dalam hati.
"Aku bisa membantumu untuk memasukkan mereka ke penjara"
"Anni Hyung, jangan. Hanya mereka yang aku miliki, walaupun begitu mereka tetap keluargaku"Siwon Hyung menghela nafas tak habis pikir dengan yang aku katakan.
"Tapi mereka sudah kelewat batas, itu sudah masuk tindak kejahatan. Perbuatan tidak menyenangkan, penganiayaan, dan penipuan" Aku tak mengerti dengan yang terakhir, penipuan? Penipuan apa yang Ajjushi dan Ajjumma lakukan padaku.
"Maksud Hyung tentang penipuan?"
"Aku curiga, surat wasiat yang diberikan Ajjumma padamu, aku yakin orang tuamu sangat sayang padamu dan pasti tahu yang terbaik untuk anaknya yaitu dengan memilih jalannya sendiri dan kurasa ada pengacara keluarga yang bisa meluruskan jika kau melenceng dari jalan. Apa kau tak pernah bertemu dengan pengacara keluargamu?" Setahuku, Appa hanya menyewa jasa firma hukum yang ada disekitar seoul dan juga hanya bertugas untuk mengurus harta kekayaan Appa, tidak mengurusi hidup anaknya.
"Sayangnya tidak, kabar terakhir yang kudengar dia sudah pindah dengan keluarganya ke luar negri. Waeyo?"
"Mungkin dengan menemuinya, kita bisa tahu surat wasiat yang dibaca olehmu itu asli atau palsu"
"Sudahlah Hyung, aku tak mau menambah panjang masalah, bisa lepas dari Ajjumma sehari saja aku sudah sangat bersyukur"
Akhirnya Siwon Hyung menyerah dengan keputusanku. Malam itu aku tidur dengan hati yang tenang, tapi jauh dalam hatiku ada sedikit ketakutan akan hari esok, entahlah apa itu. Untuk sekarang aku hanya ingin tidur nyenyak.
.
.
.
Paginya, aku sudah bisa turun dari ranjang. Aku sudah bisa makan sendiri tanpa harus diambilkan Siwon Hyung. Siwon Hyung sendiri sudah pergi ke rumah sakit, ada pasien gawat lagi katanya. Karena sudah merasa baikan aku berani keluar klinik, lingkungan disini orangnya sangat ramah, baru keluar dari pintu klinik sudah Ajjumma yang menyapaku, tapi sepertinya aku kenal dengan tempat ini.
"Hyukkkie!" Ada yang memanggilku, aku menoleh untuk melihat siapa yang mengenalku di daerah ini.
"Teukie Ajjumma! Kenapa bisa ada disini?"Tanyaku sambil duduk di depan klinik, juga mengajak Teukie Ajjumma.
"Sudah 2 hari ini kau tidak masuk kerja, aku sangat cemas." Tentu saja cemas, Ajjumma juga salah satu orang yang tahu perlakuan Ajjumma dan Ajjushi padaku.
"Mianhamnida Ajjumma, ada sesuatu yang membuatku tak bisa datang."Aku meminta maaf karena aku tidak masuk kerja, dia jadi kerja sendirian melayani pembeli di kios sayurannya.
"Ne, Gwenchana Hyukkie aku paham. Lalu kenapa kau bisa keluar dari klinik ini? Apa kau sakit?" Aku tak mungkin memberitahu yang sebenarnya sudah cukup aku berterus terang padanya, aku tak ingin membuatnya semakin mengkhawatirkanku.
"Anni Ajjumma, aku hanya sedikit flu" Aku berbohong, Mian Teukie Ajjumma, aku tak mungkin membiarkanmu semakin masuk dalam masalahku lagi, sudah cukup aku saja yang menderita. Kami lalu bercerita panjang lebar, ternyata Donghae mencariku sampai ke kios Ajjumma entah dia tahu darimana dan juga yang mengejutkan, Donghae mencariku dengan orangtuanya.
"Ne Hyukkie, aku juga sempat tidak percaya dengan yang ku lihat tapi memang itu kenyataannya." Teukie Ajjumma meyakinkanku, tapi yang lebih mencengangkan lagi adalah Ajjumma dan Ajjushi mencariku dengan muka yang sangat sedih, kontan saja Teukie Ajjumma tak percaya, setahu dia Ajjumma ku itu sangat licik dan jahat. Tapi itu tak ada dalam kamusku, mungkin Ajjumma sekarang sudah tidak dendam lagi padaku dan dia menyesal lalu memintaku kembali, pikirku.
Karena hari sudah siang, Teukie Ajjumma berpamitan karena harus membuka kiosnya. Dia memberiku ijin untuk tidak masuk, dia sangat pengertian. Aku bisa kapan saja masuk kerja. Setelah itu aku melihatnya menghilang dibalik tikungan jalan, aku berdiri dengan perlahan karena lukaku masih sakit, saat akan melangkah menjauhi klinik aku melihat pemandangan yang ingin kulihat sekaligus tidak. Donghae dan Orangtuanya sedang berjalan ke arahku, dengan senyuman bahagia di wajah Hae.
.
.
.
"Hyukkie! Kau kemana saja? Kata Eomma kau mungkin tersesat, kau kan jarang keluar rumah" Donghae memelukku dengan sangat erat, aku melihat seringai diwajah Ajjumma dan Ajjushi, apa yang sebenarnya mereka katakan pada Hae. Kenapa mengatakan kalau aku tersesat, tapi segera kutepis semua pikiran burukku karena sedetik kemudian Ajjumma juga memelukku rasanya sangat, aneh.
"Aku tidak mau penjelasanmu, sekarang kita harus pulang. Aku sudah menghabiskan waktu liburku selama 3 hari yang berharga. Tadinya aku ingin bersenang-senang denganmu, tapi kau malah menghilang dan terpaksa aku harus mengorbankan waktu liburku dan sekarang tersisa satu hari, aku ingin kita bersenang-senang!"katanya seraya menarikku dalam rangkulannya, aku menoleh ke klinik aku belum mengucapkan terimakasih ataupun selamat tinggal pada Siwon Hyung, tapi aku janji akan kembali untuk mengucapkan itu.
.
.
.
Hari itu aku dan Hae bersenang-senang di taman bermain. Karena lukaku yang masih baru, aku tidak leluasa mengikuti semua permainan yang ingin dimainkan Hae, tapi aku tak ingin dia tahu yang sebenarnya. Jadi terpaksa aku mengikuti semua yang diinginkannya, alhasil sekarang aku sedang dikamar mandi untuk mengganti perban yang sudah kotor karena darah yang merembes, untung persediaan P3K ku lengkap, hanya saja tak ada obat yang biasa diberikan Siwon Hyung untuk luka ku.
"Hyukkie! Kau dimana?" Hae sepertinya ada dikamarku, aku langsung memasukkan kembali semuanya ke dalam kotak P3K dan aku simpan di lemari yang ada diatas wastafel.
"Ternyata kau disini! Aku menemukanmu" Hae sudah membuka pintu, untung aku cepat menyembunyikannya. Dia lalu menarikku keluar kamar, kulihat dia sudah rapih apakah dia akan pergi lagi. Tentu saja, waktu liburannya yang selama 3 hari itu sudah habis dan besok dia harus sudah ada di kampus. Aku lupa memberitahu, sekarang aku sudah lulus dari Chungnam High School, tapi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi sepertinya sangat sulit untuk keadaanku sekarang.
"Aku harus pergi, aku menyayangimu" Aku tercengang dengan yang Hae katakan. Menyayangiku? Hae tak mungkin sama denganku kan.
"Tentunya sebagai sepupu" Tambahnya, aku menghela nafas lega. Kukira dia sama sepertiku, kalau iya aku tak bisa membayangkan bagaimana marahnya Ajjumma pada Hae.
"Kau harus baik-baik disini Hyukkie, aku gak mau saat aku liburan kau tidak ada dan aku harus mencarimu sampai masa liburanku habis" Aku mengangguk, dia mengelus pelan kepalaku, aku melirik Ajjumma yang ada disampingku, dia tak lagi menyunggingkan senyum sinis.
"Ayo Hae, kau sudah terlambat." Ajjumma mengingatkan Hae karena mobil sudah siap, dia akan di antar oleh Ajjushi. Setelah melihat Hae sudah pergi aku pun masuk rumah.
"Hei anak tak tahu malu! Kenapa kau masih disini? Cepat kerjakan pekerjaanmu yang kau tinggal selama beberapa hari itu, aku capek! Dan ingat jangan berhenti sampai kubilang bersih!" Titahnya saat aku sudah berada dikamar, aku pun langsung mengerjakannya, sepertinya Ajjumma tidak mempermasalahkan masalah tempo hari. Setelah semuanya selesai bertepatan dengan Ajjushi pulang aku kembali kekamar tapi ternyata aku salah dengan Ajjumma yang melupakan masalah tempo hari, sekarang dia sudah ada dikamarku dengan cambukkannya. Tanpa persiapan aku langsung tersungkur dilantai karena cambukan Ajjumma.
"Mianhe Ajjumma, aku mohon maafkan aku."kata itu yang terus dirapalkan olehku saat cambukannya tambah keras, dan luka diperutku juga sepertinya mengeluarkan darah lagi. Tak hanya sampai disitu Ajjushi juga ikut menyiksaku, dan malam itu aku berakhir dikamar mandi menahan sakit mengobati luka-luka ku, jika aku tidak ingin lukanya menjadi infeksi
.
.
.
Pagi harinya, aku disuruh membeli bahan kebutuhan karena persediaan dikulkas sudah hampir habis. Ajjumma dan Ajjushi sudah pergi ke tempat kerja. Aku kepasar dengan diiringi hinaan dan makian dari orang-orang di sepanjang jalan, mereka seperti melihatku sebagai orang yang mempunyai dosa yang tidak bisa diampuni.
"Mau apa dia kesini? Bukankah tempatnya itu di club homo nya" Terdengar bisikan ibu-ibu yang selesai berbelanja dipasar, dia berdua dengan temannya, ibu-ibu juga.
"Dia kan yang suka sesama jenis itu, kau tidak boleh mendekatinya putriku"
"Lihat! Itu kan gay yang tinggal bersama Young Rae"
"Ne, dia itu kan Namja yang Gay itu"
Bisikan bahkan makian itu terus terdengar sampai aku keluar pasar, banyak yang melempar tatapan jijik padaku, apa yang aku lakukan sampai mereka memperlakukanku seperti pembunuh yang telah banyak membunuh orang. Apa salahku? Aku hanya tidak menyukai Yeoja, karena harus berat ku akui kalau aku suka Namja. Aku tidak melakukan hal-hal yang seperti mereka katakan, aku juga tak pernah melukai perasaan anak mereka yang Yeoja. Lalu dimana letak kesalahanku? Bukankah cinta itu buta, tak mengenal usia, status bahkan gender.
Ditengah pikiranku tentang orientasi seksualku, hinaan orang-orang dan dinginnya musim dingin. Aku terus berjalan menjauhi pasar. Perutku sakit, karena luka tusukan itu dan aku belum makan dari kemarin, Ajjumma tidak mengijinkanku makan. Ditengah perjalanan, kepalaku yang sudah sakit kini bertambah sakit, tubuhku juga, aku semakin merasakan tubuhku tak kuat dia ajak berjalan, aku berhenti berpegangan pada tembok samping jalan, dan tubuhku makin merosot kebawah, jalanan sepi tak akan ada yang menolongku. Mungkin sebentar lagi aku akan mati, sendirian.
.
.
.
Lagi-lagi putih yang kulihat, apa aku benar sudah meninggal. Aku mengerjapkan mataku membiasakan dengan cahaya yang ada. Saat aku akan bangun, mendadak kepalaku seperti di hantam dengan palu besar.
"Argghh"rintihku
"Kau sudah sadar Hyukkie?" Suaranya sangat familiar, aku membuka mataku dan melihat lesung pipit itu lagi.
"Siwon Hyung?"tanyaku, dia mengangguk. Dia menceritakan kalau aku ditemukannya─lagi─saat dia baru pulang dari rumah sakit, luka di perutku tambah parah, dia juga mengobati luka yang lain.
"Aku pingsan berapa lama Hyung?"
"Sekitar 2 jam" Oh tidak. Aku akan dipanggang setelah ini, aku langsung beranjak dari ranjang, kepalaku memang sakit tapi ini bisa kutahan.
"Hei, kau mau kemana Hyukkie? Luka mu masih belum kering" Dia mencoba mencegahku.
"Anni Hyung, aku tidak mau mereka marah lagi. Dan sebentar lagi mereka akan pulang, kalau aku tidak sampai disana dalam 1 jam aku akan disiksa lagi" Dia kemudian mengerti lalu memapahku sampai depan tak lupa dengan belanjaan ditanganku.
"Tunggu disini, aku akan mengantarkanmu"
"Tapi, hyung. ." Dia sudah mengeluarkan mobilnya dari garasi, aku lalu diantarnya sampai depan gang, aku takut Ajjumma melihat.
"Kau harus datang 5 hari lagi kau harus datang ke klinik, aku akan melepas jahitannya" Pesannya saat aku turun, setelah melihat mobilnya pergi aku langsung berjalan dan masuk rumah, beruntung Ajjumma dan Ajjushi belum datang, segera aku kerjakan semuanya dan saat mereka pulang, tak ada siksaan malam itu.
.
.
.
Esoknya, merupakan hari keberuntunganku. Tanpa disangka, Hae dan Donghwa Hyung datang bersamaan, Hae libur lagi karena ada pertemuan antar rektor se-korea di kampusnya begitupun dengan Donghwa Hyung, walaupun dia ada di tahun terakhir. Kami seperti sedang mengadakan reuni, aku menyembunyikan semua tentunya, aku tak ingin mereka melihat luka-lukaku beruntung saat itu musim dingin jadi aku terus memakai pakaian dengan lengan panjang. Semuanya berjalan seperti air yang mengalir, tapi entah kenapa aku merasa Hae dan Donghwa Hyung sudah tahu masalah─Harabeoji ku─apa yang kini kuhadapi dan mereka masih tidak tahu dengan luka-lukaku.
Hingga akhirnya Hae kini membenciku sama seperti tetangga rumah Ajjumma, mungkin karena dia lama disini dia sering mendengar berita tentangku. Sampai akhirnya malam itu aku tak tahan lagi dengan sikapnya.
.
.
.
"Kenapa Hae, kenapa kau ikut mereka ? Apa kau tak percaya padaku ? Apa berteman memerlukan status?" Aku kini menangis dihadapannya, dia membenciku karena kabar tentang Harabeoji ku.
"Aku melihatnya sendiri dengan kelakuanmu, kau mendekati banyak gadis tapi setelah itu kau buang mereka. Apa itu tidak mencerminkan sifat kakekmu?" Aku terkejut dengan pernyataannya, jadi dia selama ini memperhatikanku. Untuk apa?
"Aku sendiri tidak tahu bagaimana rupa Harabeoji ku, kenapa kalian bisa tahu semua. . hiks. . aku tidak mendekati mereka. Mereka yang mendekatiku. .hiks. . karena aku gak suka mereka, makanya mereka pergi. .hiks. . tapi aku gak pernah buang mereka" Aku menjelaskan dengan air mata yang tak bisa kutahan, semuanya tumpah dihadapannya.
"Lalu kalau kau tidak suka mereka, kau suka sama Namja ? Hah!" Hae membentakku. Sakit, rasanya sakit, Orang yang selama ini ku anggap sebagai pelipur lara dikala aku sedang kesakitan kini malah balik menyakitiku, aku bertahan disini, kembali lagi kerumah ini karena aku masih sayang sama dia, dan masih ada yang sayang sama aku tapi kalau sekarang orang itu sudah balik menyakitiku, apa harus aku bertahan dirumah ini.
"Ne! "Aku menjawab, setengah bereteriak "Aku memang suka Namja, puas!" Lanjutku, aku langsung berbalik dan keluar dari kamarnya, aku tak mau melihat wajahnya lagi. Aku masuk kamar terduduk di tepi tempat tidur, memikirkan semua yang terjadi. Aku sudah tidak kuat lagi, aku harus lari, untuk apa aku bertahan jika orang yang menyayangiku kini malah berbalik menyakitiku. Sebelum pergi, setidaknya aku harus mengucapkan terima kasih, dengan selembar kertas yang dirobek paksa dan pulpen yang entah aku dapatkan darimana aku menuliskan surat untuk mereka.
Aku tak tahu harus berkata apa, setidaknya terimakasih karena sudah menjadi sepupuku, sudah mau menyayangiku selayaknya kakak. Aku tak menyangka akan seperti ini, aku sudah tidak kuat Hae, kau dan Donghwa Hyung satu-satunya orang yang membuatku bertahan dalam siksaan ini, setidaknya maish ada yang tersenyum padaku. Tapi. .
Selamat tinggal, semoga kalian bahagia.
LHJ
Aku meninggalkan surat itu begitu saja, kini sudah bulat keputusanku untuk lari. Tak ada yang menghalangiku lagi, tak ada yang menyayangiku. Kyu ada dimana kau sekarang? Aku menyerah Kyu, tolong aku Tuhan, pertemukan aku dengannya. Aku sudah berjalan cukup jauh dari rumah Ajjumma, aku tak tahu harus kemana aku hanya menuruti kakiku berjalan tanpa arah.
JDERRR~
Bagus, langit memang sehati denganku, tahu dengan yang kualami lalu ikut berduka dengan menurunkan hujan. Aku lalu berlari menghindari suara petir yang terdengar seperti makian mereka.
"Kau tahu, karena aku menampungmu, semua kolega bisnis ku tak mau bekerja sama dengan perusahaanku, itu karena Harabeoji mu yang jahat itu, dan kau itu aib keluarga ini. Lihat Eomma mu, dia menikah dengan Appa mu karena kasihan, kau tahu! Hanya kasihan, dan kau anak belas kasihan itu! Eomma mu itu menderita hidup dengan Appa mu, dia setiap hari harus mendengar cemoohan orang tentang Harabeoji mu dan hidup dalam kemiskinan"
"Kau tahu! Anak sepertimu pantas mendapat ini!"
"Maafkan aku Ajjumma, tolong jangan hina mereka lagi. Ajjumma boleh menghinaku tapi jangan orang tua ku, mereka tidak bersalah"
"Kau ingin aku melakukan apa, eoh! Kau itu memang benar-benar aib, dan ternyata sekarang kau adalah homo! Mau taruh dimana muka ku ini, kalau aku menampung Namja Homo dirumahku yang indah ini bisa kena sial rumahku."
"kau menangis? Kau memang seperti Yeoja, kenapa Eomma mu tidak melahirkanmu sebagai Yeoja saja, biar kau tidak menjadi Homo. "
"Pergi kau dari sini! Aku tidak sudi menampung Namja menjijikan sepertimu!"
"Mau apa dia kesini? Bukankah tempatnya itu di club homo nya"
"Dia kan yang suka sesama jenis itu, kau tidak boleh mendekatinya putriku"
"Lihat! Itu kan gay yang tinggal bersama Young Rae"
"Ne, dia itu kan Namja yang Gay itu"
Semua kilasan peristiwa dihidupku berkelebat masuk, air mataku sudah mengalir bersama dengan air hujan yang membasahi tubuhku. Aku sungguh tidak kuat lagi, kenapa mereka menyiksaku sampai seperti ini. Kenapa orangtuaku meninggalkan ku disini, sendirian menghadapi mereka.
"Hyukkie!" Seseorang memanggilku, ternyata Donghwa Hyung. Dia mengejarku, aku tak mau kembali lagi, aku langsung lari sekuat yang aku bisa. Aku berhenti setelah melihat tak ada jejak dari Donghwa Hyung. Aku bersembunyi dibalik semak-semak, ada Donghwa Hyung dia memutar-mutar mencoba mencariku.
"Hyukkie, mereka semua minta maaf padamu. Aku juga sempat terpengaruh mereka, tapi saat aku cari berita yang sebenarnya, itu adalah hoax, itu omong kosong. Gossip itu sudah lama terjadi dan juga sudah bersih sudah lama juga. Aku tidak tahu siapa yang menyebarkannya lagi, tapi mereka merasa bersalah Hyukkie, mereka menyesal. Hyukkie aku mohon, kembalilah" Donghwa Hyung menceritakan semuanya, tanpa tahu aku ada dibelakangnya, bersembunyi.
Jadi semuanya hoax?
Terlambat, aku sudah terlanjur hancur karena mereka. Aku sudah hancur menjadi kepingan, mereka sekarang minta maaf padaku, lalu jika kabar itu terdengar lagi mereka menghancurkanku lagi. Aku tak sanggup seperti itu, sudah cukup aku bertahan.
"Hyukkie!" terdengar lagi panggilan dari arah lain, sepertinya suara Hae. Aku terus lari, lari sejauh mungkin sampai tak terdegar suara mereka. Kaki ku sudah tak kuat untuk berjalan apalagi berlari, aku belokkan langkahku ke halte yang ada dipinggir jalan. Dingin. Aku hanya bisa menekuk lututku sampai dada lalu menggelungkan tubuhku sampai aku merasa hangat, tapi itu mustahil, bajuku basah dan juga hujan masih terus turun.
"Kenapa ? Kenapa baru sekarang mereka mengetahui yang sebenarnya, setelah aku menderita seperti ini tak taukah kalau aku sudah berada di titik akhir" Aku menangis dalam hati. Dan aku hanya menangis sampai ada menghampiriku.
"Tuan . ." Panggil seseorang, aku tak bisa melihatnya. Pandanganku terhalang air mata. Aku mengusap air mata yang menghalangi pandanganku. Terlihat 3 namja dengan setelan jas hitam yang sama sekali tak kukenal
"Ka-Kalian sia-pa?" Tanyaku dengan suara bergetar menahan tangis sekaligus dingin. Aku dapat melihat wajahnya, mirip seseorang tapi siapa? Perlahan pandanganku memburam, kepalaku sangat sakit, dan jangan lupakan luka yang ada disekujur tubuhku. Apa setelah ini aku akan mati, Eomma, Appa, aku mohon ijinkan aku ikut bersama kalian, pintaku. Lalu setelah itu aku kembali jatuh dalam kegelapan, terakhir yang kurasakan seseorang merengkuhku, rasanya sangat nyaman lalu aku tak merasakan apa-apa.
FLASHBACK END
TBC
A/N
Akhirnya flashback eunhyuk selesai.
Maaf jika membosankan.
Sampai bertemu kembali.
