Lima jam sebelum penyerangan Kota Jian Ye
Xiahou Dun turun dari kudanya, menatap kota yang sepi itu. Ribuan prajurit terbaik yang dimiliki oleh kerajaan Wei dalam kondisi siap siaga, menanti tanda dari pemimpin mereka untuk menyerang.
"Cao Cao, apa kau yakin kalau bocah itu akan melaksanakan rencana kita?"
"Apa kau meragukan keputusanku?" Tanya Cao Cao yang tetap duduk di atas kuda kesayangannya. "Aku yakin dengan keputusanku, dan seharusnya kau juga begitu. Bagaimana pun juga, dia adalah seorang Cao. Merupakan hal alami bila ia mencari sesama Cao, bukan?"
Belum sempat Xiahou Dun menjawab, Xiahou Yuan berkata. "Sepupu, baru kali ini kau mempertanyakan keputusan Cao Cao. Ada apa?"
"Entah. Aku merasa aneh. Seseorang yang tumbuh besar di lingkungan keluarga Sun, tidak mungkin menusuk mereka dari belakang. Ya, dia memang pernah mengabdi kepada Shu selama tiga tahun..."
Cao Cao tertawa. "Apa kau lupa? Dia mengabdi kepada Shu hanya karena Sun Shang Xiang kabur dengan Liu Bei ke Shu. Loyalitasnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."
Xiahou Dun kurang puas dengan jawaban Cao Cao, tetapi ia tidak melanjutkan percakapan itu sebab nampaknya pendirian lawan bicaranya tidak bisa digoyahkan.
Panah berapi dalam jumlah banyak melayang ke udara, menghiasi langit malam yang sangat kelam. Cao Cao mengangguk.
"Itu tanda untuk kita. Sekarang waktunya kita membalaskan dendam atas kekalahan yang kita alami di Chi Bi! Biarkan mereka merasakan kekuatan Wei yang sesungguhnya!"
Teriakan para prajurit menggema di tengah hutan yang hanya berjarak tiga kilo meter dari pintu gerbang Kota Jian Ye.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Lonceng tanda bahaya berdentang tiga kali, pertanda ada penyusup yang berhasil masuk ke dalam kota. Tidak lama setelah terdengar bunyi lonceng, suara teriakan dan besi saling beradu langsung menggema.
Sun Shang Xiang yang mudah terjaga langsung terbangun pada dentang lonceng pertama. Hal yang pertama kali ia lakukan adalah melihat ke luar jendelanya untuk mengetahui sudah sampai mana serangan musuh.
Letak kamar Shang Xiang bisa dikatakan kurang aman, karena menghadap ke jalan utama kota Jian Ye. Mungkin ketika memutuskan kamar untuk adiknya, Sun Quan tidak mau melihat adegan kabur ditengah malam lagi seperti yang waktu itu pernah dilakukan oleh Shang Xiang dengan Cao Zong sebelum kastil Jian Ye direnovasi. Tentu saja pada awalnya Sun Shang Xiang menolaknya, bahkan berkali-kali meminta untuk pindah kamar, namun setelah Sun Quan memerintahkan Cao Zong untuk tinggal di dalam kastil dan kamarnya berada di seberang kamar Shang Xiang, tuntutan itu tidak pernah terdengar lagi.
"Serangannya sudah sampai di depan kastil!" Ucap Shang Xiang setengah terkejut. Selama ini belum pernah ada yang berhasil menerobos pertahanan kota Jian Ye di malam hari. Jadi siapa pun yang memimpin serangan kali ini, dia adalah seorang jenderal yang kuat, atau pintar, atau dia orang yang beruntung. Bisa juga orang itu adalah gabungan dari ketiganya.
Dengan cepat ia mengganti pakaian tidurnya ke pakaian perang, lalu disambarnya chakram yang menjadi senjatanya.
"Zong!" Teriak Shang Xiang ketika membuka pintu kamar yang terletak di dekat tangga itu. Memang tidak sopan, tetapi ini keadaan darurat. Rasanya Cao Zong bisa memakluminya.
Namun kamar tersebut kosong. Kemana penghuninya? Shang Xiang melihat tempat tidurnya masih rapih. Mungkin Cao Zong tidak tidur, dia sering begitu. Zong lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan ikut berjaga di malam hari, atau mengobrol dengan beberapa prajurit yang sedang jaga malam. Karena orang yang dicari tidak ada, Shang Xiang pun pergi.
"PutriShang Xiang!" Teriak Lu Xun yang muncul dari arah timur begitu Sun Shang Xiang keluar dari kastil. "Anda baik-baik saja?"
"Lu Xun! Oh, sungguh melegakan bila melihat wajahmu!" Shang Xiang mengelus dadanya. "Ya, aku baik-baik saja. Tapi aku tidak menemukan siapa-siapa di dalam kastil. Bagaimana dengan kakakku? Dia baik-baik saja kan?"
"Yang Mulia sudah dalam perjalanan menuju Wu," jelas Lu Xun. "Sekarang giliran anda untuk dievakuasi, Tuan Putri."
Shang Xiang menggeleng. "Tidak! Aku harus menemukan Cao Zong terlebih dahulu!"
"Tidak perlu, Tuan Putri!" Lu Xun menghentikan Shang Xiang
"Kenapa tidak perlu? Apa kamu menyuruhnya untuk menahan musuh hingga semua orang berhasil keluar dari kota? Atau..."
"Dia yang menyerang kita, Tuan Putri!" Lu Xun memotong kalimat Shang Xiang. "Dia bekerja sama dengan Cao Cao, selain itu ia juga berhasil mengajak beberapa prajurit terbaik Wu untuk bergabung dengannya."
"Tidak, tidak mungkin!" T!eriak Shang Xiang. "Cao Zong tidak akan pernah mengkhianati Wu! Aku akan mencarinya!" Shang Xiang berlari ke arah bagian belakang kastil.
Banyak prajurit yang gugur, ada juga yang hanya luka-luka. Kobaran api semakin membesar, hanya dibutuhkan beberapa menit lagi hingga kastil habis dilalap oleh api. Sambil berlari Shang Xiang meneriakkan nama Cao Zong, berharap dia akan menemukan pria itu. Hingga ia melihat sosok Ling Tong terbaring di tanah.
"Ling Tong!" Shang Xiang berlari, namun ia langsung berhenti begitu melihat siapa yang telah membuat Ling Tong tidak sadarkan diri.
"Zong..."
Cao Zong hanya menatap Sun Shang Xiang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Kenapa daritadi kau diam saja? Apa kau menyesali keputusanmu meninggalkan Wu dan bergabung dengan kami?" Suara dingin Cao Pi membuat Cao Zong tersadar.
"Tidak, maafkan saya milord. Saya, hanya sedang mengagumi keindahan kota Shou Chun." Jawab Cao Zong sambil tersenyum.
"Bukannya waktu itu kau pernah ke sini?" Dengan bertolak pinggang, Cao Pi berjalan mendekati Cao Zong. "Wu pernah berhasil mengambil kota ini beberapa waktu yang lalu, namun kami mengambilnya kembali."
Cao Zong tertawa. "Ada perbedaan, Yang Mulia, ketika anda memasuki kota dengan tujuan berperang atau hanya sekedar jalan-jalan. Bila anda memasuki sebuah kota untuk berperang, yang anda lihat hanyalah sebuah kota kosong tanpa penghuninya dan kita tidak bisa melihat kegiatan mereka sehari-hari. Namun bila tujuan anda untuk jalan-jalan, maka anda bisa melihatnya," ia mengalihkan pandangannya ke keramaian kota. "Seperti sekarang."
"Namun bila kau melakukan penyerangan tiba-tiba, kau tetap bisa melihat kegiatan mereka."
"Ya, dan lalu akan terhenti karena para penduduk berlarian ke sana kemari untuk menyelamatkan nyawa mereka. Dan sekali lagi, yang anda lihat hanya sebuah kota kosong."
"Permisi, Lord Cao Pi dan Lord Cao Zong." Zhang Liao berdiri di belakang mereka sambil memberi hormat. "Perdana Menteri Cao meminta kehadiran anda berdua untuk sarapan."
"Baik, terima kasih." Jawab Cao Pi.
Setelah Zhang Liao pergi, Cao Pi menatap Cao Zong yang berdiri membelakanginya. "Nah, saudaraku, bagaimana kalau kita pergi ke bawah sekarang dan sarapan bersama ayah?"
Cao Zong langsung membungkuk. "Dengan senang hati, Lord..."
"Hentikan." Cao Pi memotong kalimat saudara angkatnya itu. "Kita sekarang bersaudara. Tidak dibenarkan bila kau memanggilku seperti itu, Zong."
"Baiklah kalau begitu, Pi. Ayo kita turun sekarang, atau ayah akan marah."
"Heh, tidak aku sangka setelah pulang dari medan pertempuran aku malah mendapatkan seorang saudara laki-laki yang baru." Cao Pi berjalan terlebih dahulu.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Semua perwira Wei yang ikut menyerang kota Jian Ye sudah lengkap sekarang. Cao Pi duduk di sebelah kiri istrinya, Zhen Ji. Cao Cao duduk di antara Xu Zhu dan Xiahou Dun. Xiahou Yuan duduk di samping kiri Dun, sementara di sebelah kanannya ada Xu Huang. Sementara Cao Zong di antara Zhen Ji dan Zhang Liao. Beberapa perwira lainnya berada di meja bundar yang satunya lagi, sebab tidak mungkin semua perwira bisa makan bersama dengan meja bundar yang berukuran sedang ini.
Obrolan pagi ini bermacam-macam. Ada yang membahas kemenangan mereka tiga hari yang lalu, ada yang membicarakan bandit yang belakangan mulai membuat resah penduduk Shou Chun hingga membicarakan kampung halaman masing-masing.
Ditengah kebisingan itu, terdengar suara tegas Cao Cao. "Zong, aku berharap kalau kau mau ikut denganku ke Xu Chang."
Cao Zong berhenti mengunyah makanannya, lalu meletakkan mangkok beserta sumpitnya. "Sebetulnya, ayah, aku berharap kalau aku tetap tinggal di sini."
"Dan apa alasanmu tinggal di sini?" Cao Cao menopang dagunya menggunakan punggung tangan kanannya.
"Shou Chun kekurangan orang. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Master Zhang Liao, dia memang prajurit yang kuat, namun tidak ada salahnya bukan bila ia mendapatkan bantuan? Kekuatan satu prajurit bisa mengubah jalannya sebuah pertempuran."
"Yah, terlebih lagi bila prajuritnya adalah kau, Cao Zong!" Xiahou Yuan mengangkat gelasnya, "untuk Cao Zong," lalu meminumnya.
"Hmmm," Cao Cao mengatupkan kedua tangannya. "Alasanmu tadi ada benarnya juga. Baiklah, kau boleh tinggal di sini dan membantu Zhang Liao."
"Terima kasih, ayah."
Selama percakapan berlangsung, Cao Pi tidak melepaskan pandangannya dari Cao Zong.
"Kita akan pergi ketika matahari sudah tinggi," ujar Cao Cao usai sarapan.
"Baik, Yang Mulia!"
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Lord Cao Zong, bolehkah saya menanyakan sesuatu?" Zhang Liao berdiri di samping Cao Zong. Mereka baru saja melepas kepergian Cao Cao berserta rombongannya. Kastil Shou Chun menjadi lengang sekarang.
Cao Zong masih tetap menatap lurus ke depan, ke arah pintu gerbang. Kedua tangannya ia lipat ke belakang. "Tentu saja. Apa pertanyaannya, Master Zhang Liao?"
"Mengapa anda tidak ikut ke Xu Chang? Bukannya saya tidak berterima kasih atau menghargai keputusan anda, tetapi, bukankah keputusan anda ini membahayakan posisi anda? Bagaimana bila ada perwira Wei yang mengira kalau anda masih ingin berhubungan dengan Kerajaan Wu? Maksud saya..."
Cao Zong tertawa, rambut hitamnya bergerak karena tertiup angin. "Aku mengerti maksud anda, Master Zhang Liao. Justru karena itulah aku memilih untuk berada di sini, untuk membuktikan kalau sekarang hidup dan matiku hanya untuk Wei. Aku siap melawan siapa saja, bahkan Wu sekali pun."
"Jadi begitu," Zhang Liao tersenyum lega. "Saya merasa terhormat dan beruntung karena anda mau membantu saya." Zhang Liao memberikan hormat.
"Ada satu hal yang membuatku khawatir," Cao Zong merangkul Zhang Liao, keduanya berjalan ke arah kastil. "Bila aku perhatikan, jumlah prajurit di Shou Chun sangat sedikit. Berapa jumlah tepatnya?"
"Dengan tambahan prajurit yang anda bawa dari Wu, jumlah prajurit kita sekarang hanya ada lima ribu orang. Saya juga sangat mengkhawatirkannya, namun memang belum banyak penduduk yang memenuhi kriteria untuk menjadi prajurit. Bagian pengrekruitan juga mengeluh karena sedikitnya pria yang mendaftar untuk menjadi prajurit."
"Kita hanya punya lima ribu prajurit, sementara Wu memiliki lebih dari tiga puluh ribu prajurit. Jumlahnya sangat tidak sebanding." Cao Zong mengambil sebuah dompet yang terjatuh, lalu mengembalikannya kepada seorang gadis kecil yang tersenyum kepadanya sebelum ia berlari meninggalkan Cao Zong dan Zhang Liao. "Apa anda pernah meminta tambahan prajurit dari kota lain?"
"Keadaan kita masih sulit semenjak kalah di Chi Bi. Semua kota juga sedang kekurangan prajurit." Zhang Liao menghela nafas. "Banyak penduduk Shou Chun yang pindah ke Jian Ye, lalu mengabdi kepada Wu."
"Bagaimana dengan pertahanan di He Fei?" Untuk mengambil Shou Chun, Wu terlebih dahulu harus mengambil He Fei. Dulu, ketika He Fei masih berupa tanah kosong, Cao Zong pernah memberi saran untuk membangun sebuah maze di He Fei, namun Sun Quan tidak menggubrisnya, hingga akhirnya Wei membangun sebuah kastil di sana.
"Tidak terlalu baik, tapi juga tidak terlalu buruk. Kita akan membutuhkan bantuan dari kota lain bila ingin mempertahankan He Fei."
"Tidak, tidak perlu," Cao Zong tersenyum. "Wu dan Shu sudah pernah menunjukkan sihir mereka, sekarang giliran kita."
Zhang Liao hanya bisa mengangkat alisnya karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Cao Zong. Sementara pria yang berdiri di sampingnya tersenyum penuh misteri.
