Argh, saia mengacaukan timelineny T^T...owh well,berarti ini jadi AT aja kali yah...?hum...
read and review please :)
karakter original Dynasty Warrior adalah milik KOEI sepenuhny...
Dua bulan setelah penyerangan Kota Jian Ye
"Tidak, hentikan Shang Xiang!" Cao Zong berusaha menahan Shang Xiang keluar dari tenda.
"Lepaskan aku, Zong! Aku harus menghentikan Liu Bei! Dia pasti mau mendengarku!" Jerit Shang Xiang sambil terus meronta-ronta.
"Liu Bei bahkan tidak mau mendengar Zhuge Liang sekali pun! Orang yang selama ini ia percayai. Bagaimana anda mengharapkan Liu Bei akan mendengarkan anda?"
Sun Shang Xiang terhenyak mendengar kalimat barusan, tiba-tiba ia kehilangan kekuatan untuk melawan. Cao Zong merenggangkan pelukannya dari belakang Shang Xiang setelah wanita itu tidak melawan lagi. "Pria yang berdiri di luar sana, yang sedang pemimpin pasukan Shu, dia bukanlah Liu Bei yang anda cintai. Dia sudah berubah, Yang Mulia."
"Bukankah itu wajar...? Dia kehilangan Master Guan Yu, juga Master Zhang Fei, ditambah dengan Guan Ping. Dia kehilangan banyak keluarga... Tidak salah kan, kalau dia ingin menuntut balas... Bukannya dulu kita pernah berada dalam situasi yang serupa? Ketika ayah tewas karena Liu Biao, Kakak Ce menuntut balas..." Suara Shang Xiang sangat kecil, bahkan nyaris tidak terdengar di tengah hiruk pikuk pertempuran yang sedang berlangsung di luar sana.
"Ya, balas dendam itu memang wajar. Tapi Liu Bei melupakan tujuannya, dia bukan lagi Liu Bei yang kita kenal, dan kamu cintai..." Cao Zong melepaskan pelukannya.
"Jika seseorang membunuh Fan, apa reaksimu, Zong?" Teriak Shang Xiang.
Cao Zong terdiam, dibenaknya langsung melintas sosok seorang wanita dengan rambut warna cokelat, mata hitamnya yang tegas namun lembut, bibirnya yang tipis serta hidung mancungnya yang sangat mirip dengan hidung Cao Zong. "Jika seseorang membunuh adikku, aku...akan menuntut balas..." Jawabnya lirih.
Cao Fan adalah adik perempuan Cao Zong, hanya dia satu-satunya keluarga yang dimiliki Zong sebelum keluarga Sun menemukan mereka. Ketika berusia lima belas tahun, Cao Fan memutuskan untuk pergi dan mengabdi kepada Shu. Zong tidak sanggup menghentikannya tekad bulat adiknya. Dan itulah terakhir kali mereka bertatap muka. Setelah itu mereka hanya berhubungan melalui surat, hingga pada akhirnya Sun Shang Xiang menikah dengan Liu Bei, kemudian lari ke Shu, kakak beradik ini baru bisa berjumpa lagi. Mungkin sekarang dia ada di luar sana, bertarung demi melindungi tuannya.
"Padahal aku sudah memohon kepadamu, Zong, untuk menolong Master Guan Yu. Tapi kenapa..." Shang Xiang terjatuh ke tanah di atas kedua lulutnya.
"Jika aku melakukan hal itu, artinya aku mengkhianati Wu. Dan juga keluarga Sun. Anda pasti mengerti, Tuan Putri, dalam perang, hal semacam ini tidak terelakan. Dan sebagai anak dari Sun Jian, seharusnya anda bisa memahaminya."
Ketika Cao Zong lengah, Shang Xiang langsung berlari keluar secepat mungkin. Sementara Cao Zong yang sedang lengah tidak berhasil menangkapnya. Pada akhirnya Cao Zong dipaksa untuk ikut bertarung melawan Shu di Yi Ling.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Mundur! Lindungi Lord Liu Bei dari para prajurit Wu!"
Para prajurit Shu langsung kocar kacir ketika serangan api Lu Xun berhasil. Nampaknya Zhuge Liang tidak ada di pertempuran kali ini, seandainya ada, pasti serangan ini tidak akan berhasil. Sementara para Jendralnya masih terus bertarung.
"Lady Shang Xiang, berhenti!" Teriak Cao Zong yang berlari menerobos baris pertahan Shu yang sudah kacau balau.
Ia terhenti ketika melihat seorang wanita berjalan dari sisi barat, rapier yang dilapisi emas itu terlihat sangat indah dan mengkilap karena terkena cahaya dari api yang membakar gudang persediaan makanan pasukan Shu. Baju warna hijau dengan hiasan naga di pundak kirinya itu dipenuhi bercak darah. Wanita itu tersenyum lembut.
"Halo, kakak. Aku tidak menyangka kalau kita akan berjumpa di medan pertempuran, dalam kondisi seperti sekarang. Menjadi musuh," Cao Fan masih tersenyum.
Cao Zong menggeleng. "Bukankah sudah pernah aku katakan, adik? Kalau suatu hari nanti, kita pasti akan bertemu sebagai musuh di medan pertempuran."
"Aku tahu itu, hanya saja... Aku belum siap."
"Cao Fan!" Suara Zhao Yun terdengar. Jendral yang berasal dari Chang San itu datang bersama kuda putihnya. "Cepat kau lindungi Lord Liu Bei! Biar aku..."
"Tidak," Cao Fan menggeleng. "Aku punya urusan dengan dia. Master Zhao Yun, tolong gantikan tempatku terlebih dahulu, lindungi Lord Liu Bei!"
Zhao Yun awalnya ragu, tapi pada akhirnya dia pergi meninggalkan kedua Cao itu.
"Apa kau siap melawan kakakmu lagi, Fan?" Cao Zong tersenyum senang.
"Tentu saja. Bersiaplah untuk kalah, kakakku tercinta!"
Keduanya berlari bersamaan. Cao Zong mengayunkan giant sword miliknya ke samping, Cao Fan dengan cepat menunduk, lalu menusukkan rapier-nya, namun sang kakak berhasil mengelak. Zong kembali mengayunkan giant sword-nya dari arah atas ke bawah, serangan itu ditangkis smenggunakan tameng berukuran kecil dikenakan Fan di pergelangan tangan kirinya.
Cao Zong tertawa senang. "Kau sudah mengalami kemajuan, adikku."
"Kau juga," Cao Fan tersenyum. "Tapi maaf, aku harus menang!" Ia menyelengkat kaki Zong hingga pria itu terjatuh, ditendangnya giant sword milik Zong, kemudian ia berdiri di atas tubuh Cao Zong, sambil mengarahkan rapier miliknya ke leher kakaknya.
"Menyerahlah, Cao Zong. Aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh Master Liu Bei."
"Kau terlalu meremehkanku!" Cao Zong menendang perut Cao Fan hingga ia terpental, kemudian pengawal pribadi Shang Xiang itu langsung merangkak untuk mengambil senjatanya. Setelah mendapatkannya, ia berguling ke samping sebelum akhirnya ia berlutut sambil memegang giant sword-nya dengan kedua tangannya.
"Pertarungan kita belum selesai! Dan akan aku pastikan, pertarungan ini akan selesai dengan diriku yang menang."
Cao Fan memegangi perutnya. "Tidak bisakah kau mengalah kepada adik perempuanmu yang cantik ini?" Ia bertanya dengan wajah sedikit kesakitan.
"Maaf, tetapi kali ini, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu."
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Liu Bei, tunggu!" Shang Xiang masih terus berlari mengejar Liu Bei hingga masuk ke markas utama musuh.
Liu Bei berhenti berlari, ia memutar tubuhnya ke belakang. Menatap wanita yang pernah menjadi istrinya. "Shang Xiang..."
"Aku mohon, hentikan semua ini... Ini..."
"Maafkan aku, Shang Xiang. Namun aku harus membalaskan dendam Guan Yu dan Zhang Fei. Keluarga Sun, harus membayarnya..."
"Liu Bei.." Sun Shang Xiang berjalan mundur disaat Liu Bei mendekatinya.
"Tuan Putri!" Sebuah anak panah melesat dari belakang Shang Xiang, mengenai pundak kanan Liu Bei.
"Tidak, Liu Bei!" Refleks, Sun Shang Xiang berlari menuju Liu Bei.
"Berhenti, aku tidak akan membiarkanmu mendekati Lord Liu Bei," Xing Cai berdiri di antara mereka berdua.
"Putri Shang Xiang, mundur, aku akan...argh..." Kalimat Lu Xun terhenti, lalu digantikan dengan erangan.
Ketika Shang Xiang memutar tubuhnya ke belakang, ia melihat sosok Lu Xun tumbang dengan sebuah panah menancap di perutnya. "Lu Xun!" Ia pun berlari untuk menolongnya.
"Xing Cai, ayo cepat!" Teriak Zhao Yun yang sedang memapah tubuh Liu Bei. "Bunyikan tanda untuk mundur..."
Xing Cai melakukan perintah Zhao Yun dengan perasaan sedih.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Nafas keduanya sama-sama ternengah-engah, kobaran api makin membesar dikarenakan tiupan angin malam. Bukan hanya keringat yang menetes dari wajah mereka, namun juga darah.
"Menyerahlah kak, aku tidak mau melukaimu lebih dari yang sudah aku lakukan sekarang," ujar Cao Fan dengan suara selembut sutera.
"Ya, aku akan menyerah, bila aku sudah mati!" Balas Cao Zong sambil menyeka darah dari dagunya.
Dan lalu suara itu terdengar, tanda untuk mundur. Cao Fan terhenyak. "Lord Liu Bei..." Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Cao Fan meninggalkan kakaknya sendirian.
"Apa ini artinya, Wu menang? Apa Liu Bei tewas? Atau dia selamat?" Cao Zong menatap punggung Fan yang semakin tidak terlihat lagi. Sama seperti dulu, ketika adik perempuannya memutuskan untuk pergi mengabdi kepada Shu, Cao Zong tidak berlari mengejarnya, dia hanya terdiam menatap kepergian adiknya.
"Paling tidak, dia bahagia di Shu," gumam Cao Zong lirih.
"Zooong!" Teriakan Gan Ning menggema.
Yang dipanggil langsung menatap sumber suara. Dengan wajah sumringah Cao Zong mengangkat kedua tangannya ke udara. "Kita sudah menang!"
"Aku tahu, tapi ada yang lebih penting!" Lonceng yang berada di pinggang Gan Ning langsung berbunyi seirama dengan ritme kaki Gan Ning ketika pria itu berlari.
"Hei, hei, ada apa?" Tanya Cao Zong yang berjalan dengan cepat untuk menyusul Gan Ning.
"Lady Shang Xiang dan Lu Xun tidak ada di markas!"
"Shang Xiang, tadi dia memang pergi ke markas Shu, aku mencoba menghentikannya-"
"Lady Shang Xiang! Lu Xun!" Teriakan Gan Ning menghentikan kalimat Zong.
Cao Zong mengalihkan pandangannya ke arah yang dilihat Gan Ning. Matanya langsung tertuju kepada pria yang merupakan strategeist pengganti Lu Meng. "Lu Xun!"
Kedua pria itu langsung berlari. Shang Xiang berjalan tertatih sambil memapah tubuh Lu Xun, sementara pria itu terus menekan perut sebelah kirinya yang tadi terkena anak panah.
"Tolong kau urus Lu Xun, Gan Ning, aku...," bisik Shang Xiang pelan, kemudian melepaskan rangkulan Lu Xun dari lehernya.
"Tenang saja Tuan Putri, aku akan mengurusnya!" Gan Ning dengan cepat memapah tubuh Lu Xun, meninggalkan Shang Xiang berdua dengan Cao Zong.
"Tuan Putri, anda..."
Shang Xiang langsung menghempaskan tubuhnya ke dalam pelukan Cao Zong. "Dia tidak mau mendengarkanku, Zong, dia..." Ucapnya disela isak tangisnya.
"Sudah aku katakan kepadamu, Shang Xiang..." Cao Zong balas memeluk wanita itu dengan erat. "Sudah aku katakan..."
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Lord Cao Zong, ada apa?" Suara seorang pria menyadarkan Cao Zong dari lamunannya.
"Ah, Master Man Chong. Tidak, tidak apa-apa," Cao Zong tersenyum kemudian menepuk pundak pria yang barusan menegurnya. "Bagaimana dengan persiapan pasukan kita?"
Master Man Chong menghela nafas. "Seperti yang anda ketahui, jumlah pasukan kita kalah telak."
"Delapan ratus orang melawan sepuluh ribu... Menyenangkan bukan?" Cao Zong tertawa terbahak-bahak, sementara lawan bicaranya melihat Cao Zong dengan heran. "Pasti reaksi Lord Lu Bu seperti itu, sebab itu artinya orang yang bisa dia bunuh lebih banyak."
Man Chong semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini. Kenapa Cao Zong tiba-tiba membicarakan Lu Bu? Ksatria yang paling ditakuti sepanjang sejarah, tapi nyatanya, dia tetap kalah oleh Cao Cao dan Liu Bei.
"Lord Cao Zong. Saya sungguh tidak mengerti apa yang ingin anda sampaikan."
Belum sempat Cao Zong menjawab, seorang prajurit dengan pangkat sersan mengatakan kalau keduanya dipanggil oleh Zhang Liao ke markas.
"Lord Cao Zong, saya menagih janji anda untuk menunjukkan sihir yang waktu itu anda maksud," Zhang Liao menegur Cao Zong yang baru masuk ke dalam tenda bersama dengan Man Chong.
"Ah ya, tentu saja," Cao Zong berjalan mendekati meja yang berada di tengah. Lalu ia memindahkan miniatur pasukan berkuda dari atas peta ke dalam sebuah gelas kosong. "Sesungguhnya ini sihir yang sangat mudah. Yaitu, menyebar kepanikan kepada prajurit Wu."
"Dan bagaimana cara kita melakukannya?"
Cao Zong menunjuk sebuah garis di peta yang menghubungkan dua daratan yang dipisahkan oleh sungai. "Kita rubuhkan jembatan ini, dan serang langsung Sun Quan."
"Rencana anda sangat bagus Lord Cao Zong," Man Chong mengembalikan miniatur pasukan berkuda ke tempat semula. "Hanya saja, itu artinya kita harus membentuk sebuah tim untuk merubuhkan jembatan. Dan apa anda pikir kalau Wu akan membiarkan sekelompok prajurit musuh berkeliaran di dekat jembatan?"
"Saya senang anda menanyakan hal itu, Master Man Chong," Cao Zong tersenyum. "Di sinilah peran saya."
"Maksud anda?" Zhang Liao dan Man Chong bertanya dalam waktu yang bersamaan.
"Saya akan menjadi umpan untuk mengalihkan perhatian para prajurit Wu. Selama mereka sibuk mengurus saya, tim yang bertugas untuk menghancurkan jembatan bisa bekerja dengan tenang." Cao Zong mengalihkan pandangannya ke Zhang Liao. "Dan saya ingin anda untuk menyergap Sun Quan dari belakang. Saya yakin anda bisa melewati hutan agar tidak ketahuan oleh prajurit Wu."
"Tunggu, apakah mereka tidak akan curiga bila Lord Zhang Liao tidak memimpin pasukan kita?" Tanya seorang perwira Wei.
Cao Zong mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya, "Ya, benar juga. Jadi..."
"Kita bisa menyebarkan kabar palsu mengenai absennya Master Zhang Liao," Man Chong bersuara. "Master Zhang Liao sedang pergi ke kota lain untuk meminta bantuan, dan selama dia belum tiba-"
"Lord Cao Zong yang akan memimpin pasukan," Zhang Liao menyelesaikan kalimat Man Chong. "Bagaimana menurut anda?"
"An, anda yakin...?" Terlihat sebuah keraguan di wajah Cao Zong.
"Tentu saja!" Zhang Liao menepuk pundak Cao Zong. "Siapa lagi yang pantas untuk memimpin pasukan ini selain anda?"
Cao Zong tersenyum. "Baiklah!" Diambilnya sebuah pedang yang tergeletak di atas meja. "Ayo! Waktunya kita mempermalukan Wu!"
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Hooo, jadi komandan Wei kali ini adalah Cao Zong," Sun Quan mengelus-elus dagunya. "Menarik. Pertempuran kali ini akan menjadi menarik. Dari dulu aku ingin melawan Zong."
"Kedengarannya menarik. Aku akan ikut bertarung," Shang Xiang keluar dari dalam tenda.
"Adikku, aku rasa hal itu..."
Sun Shang Xiang berjalan melewati Sun Quan tanpa menatapnya. "Aku tidak meminta izinmu atau apa pun. Aku memberi tahu," ujarnya dingin.
"Shang Xiang," Sun Quan terdengar kesal.
"Aku punya urusan yang belum selesai dengan pria itu. Dan sekarang waktu yang tepat untuk menyelesaikannya."
"Shang Xiang tunggu!" Sun Quan berusaha menghentikan adiknya, namun terlambat.
"Milord, apa perintah anda?" Tanya Huang Gai.
"Tolong anda jaga Shang Xiang, Master Huang Gai. Sementara untuk yang lainnya, rebut kastil dari tangan Wei. Dan sebisa mungkin jangan bunuh Cao Zong," Sun Quan mengambil pedangnya, pedang turun menurun dari ayahnya. "Biar aku yang melakukannya..."
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Tercium bau bubuk mesiu, disusul erangan seorang pria berusia lanjut, lalu suara tameng rusak, dan suara tawa seorang pria yang lebih muda.
"Anda memang hebat, Master Huang Gai. Tidak heran bila Lord Sun Jian selalu memuji kehebatan anda."
"Hah, dasar bocah ingusan. Bagaimana rasanya? Mengetahuinya secara langsung?"
Cao Zong tertawa keras sambil terus mengayunkan senjatanya. "Menyenangkan!"
Huang Gai mulai kesusahan menyeimbangi Cao Zong setelah tamengnya hancur. Walau dia adalah prajurit terkuat Wu, namun umur tidak bisa berbohong. Huang Gai tidak selincah ketika ia bertarung bersama dengan Sun Jian, dia sudah tua sekarang. Untuk menghindari serangan Cao Zong yang lebih mudah darinya membutuhkan tenaga ekstra.
"Sudah cukup, Master Huang Gai." Suara selembut sutera menghentikan pertarungan mereka. Mata Cao Zong membesar, sampai kapan pun, dia tahu siapa pemilik suara ini.
"Bagaimana kalau sekarang anda membantu yang lainnya dan merebut kastil He Fei?" Langkah kaki terdengar mendekati kedua pria tersebut. "Biar aku yang mengurus pria ini."
"Saya mengerti, Lady Shang Xiang," Huang Gai membungkuk sebelum meninggalkan mereka berdua.
Tanpa basa-basi Shang Xiang langsung menyerang Cao Zong. Reaksi pria itu terlalu tajam untuk bisa diserang tiba-tiba sayangnya, semua serangan Shang Xiang meleset. Selain karena refleks Cao Zong yang bagus, Shang Xiang menyerang dalam keadaan emosi, membuat semua serangan membabi buta itu sia-sia, dia hanya menguras tenaganya saja.
"Hentikan, Shang Xiang!" Cao Zong berhasil mencengkram pergelangan tangan wanita itu. "Kalau kau menyerang seperti ini, kau hanya akan membahayakan dirimu saja."
"Kenapa...kenapa...jawab aku, Cao Zong!" Shang Xiang menampar Cao Zong menggunakan tangan yang satunya lagi. Menampar ternyata belum cukup untuknya, akhirnya Shang Xiang meninju hidung Cao Zong hingga berdarah. Namun pria itu tetap tidak bergeming, dan tidak membalas.
"Padahal kau bisa mengelak pukulanku tadi, lalu mengapa?" Teriak Shang Xiang diiringi isak tangis. "Kenapa, kenapa..."
Cao Zong tetap tidak bergeming ketika Shang Xiang memukul-mukul dada bidangnya, hingga akhirnya Shang Xiang mendekatkan wajahnya, lalu mengecup bibir Cao Zong dengan lembut. Jantung pria itu seperti mau berhenti, darahnya langsung mengalir dengan deras.
Dia ingat rasa ini, bibir yang sama, kecupannya masih seperti dulu, selembut sutera. Dua kali, bibir mereka bertemu. Perlahan, Cao Zong membalas kecupan Shang Xiang. Hingga terdengar bunyi terompet tanda untuk mundur dari pihak Wu menggema mereka baru melepaskan ciuman tersebut.
Cao Zong tidak mengatakan apa-apa, tidak mengejar Shang Xiang saat dia pergi. Cao Zong hanya menatap punggung wanita itu semakin menjauh dari dirinya.
