Original Chara milik KOEI sepenuhny
"Sebuah kerhormatan bisa bertemu dengan anda, Lord Liu Bei!" Cao Zong memberi hormat.
"Begitu juga dengan saya, Master Cao Zong. Adik anda sering bercerita mengenai anda," Liu Bei balas memberi hormat kepada Cao Zong.
"Kakak!"
Liu Bei tersenyum ketika mendengar suara tersebut. "Ah, itu dia!"
Dengan satu loncatan Cao Fan mendarat dipelukan Cao Zong. Pipi pria itu memerah dan ia mulai panik. "Hei-hei, yang benar saja, kita berada di tempat umum sekarang."
"Tidak apa-apa kan? Toh dia adikmu. Kau masih belum berubah, Fan," seorang wanita muncul dari balik Cao Zong.
"Shang Xiang!" Cao Fan tambah bersemangat. Sekarang ia sudah memeluk adik dari Sun Quan tersebut.
"Ah, anda pasti Putri Sun Shang Xiang. Suatu kerhormatan bisa bertemu dengan anda," Liu Bei memberi hormat.
"Tidak perlu terlalu formal dengan saya, Lord Liu Bei."
"Hei sebentar," Cao Fan melepaskan pelukannya. "Bagaimana kau bisa ada di sini? Apa kau kabur lagi dari istana? Apa yang akan terjadi nanti kalau Quan tahu..."
Shang Xiang tertawa. "Tenang. Dia tidak akan marah, dan kalau pun iya, ketiga pria ini akan melindungiku! Sebab aku berhasil mengalahkan mereka," diliriknya pria yang dimaksud. Yaitu Zhuge Liang, Zhou Yu, dan tentu saja Cao Zong. Wajah ketiganya memerah.
"Waow, kau berhasil mengalahkan tiga jenderal sekaligus! Dan bahkan kau tidak terluka..."
"Ah-ah," Shang Xiang mengibaskan tangannya memberi tanda bahwa ada yang salah dari ucapan Cao Fan. "Aku tidak bertarung melawan mereka. Tapi kami mengadakan lomba balap kura-kura."
"Ku, kura-kura...?" Cao Fan memiringkan kepalanya.
"Ya, dan kura-kura milikku yang menang!"
"Padahal aku sudah mengatakan kepada Shang Xiang, kalau perlombaan balap kura-kura itu aneh," celetuk Cao Zong.
"Kalau aku menantang kalian balap kuda, sudah jelas aku yang menang!" Shang Xiang mengangguk-angguk. "Aku hanya ingin memberi kesempatan kalian untuk menang."
Zhou Yu tertawa pelan sementara Zhuge Liang tidak memberikan reaksi apa pun dan sibuk menggerakan kipasnya ke arah yang tidak menentu.
"Nah, nah, saya yakin anda semua lelah setelah perjalanan panjang. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam dan beristirahat?" Liu Bei mempersilahkan tamu-tamunya untuk masuk.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Selama makan malam Cao Fan sibuk memperkenalkan Shang Xiang dan kakaknya kepada perwira Shu. Mulai dari Guan Yu, Zhang Fei, Zhao Yun, hingga ke Zhou Cang. Shang Xiang awalnya kikuk, namun begitu melihat Xing Cai dan ditemani oleh Cao Fan, dengan mudah ia langsung membaur dengan perwira lainnya.
Dan pada saat itu juga, Liu Bei tidak pernah melepaskan pandangannya dari Sun Shang Xiang. Zhou Yu tidak berkata apa-apa, begitu juga dengan Zhuge Liang yang entah sejak kapan mulai terlibat dalam percakapan yang dimulai oleh Zhang Fei. Namun ada satu pria yang terus mengawasi Liu Bei. Pengawal pribadi Shang Xiang sekaligus kakak dari Cao Fan, Cao Zong sendiri.
"Terima kasih untuk acara makan malamnya Lord Liu Bei. Anda seharusnya tidak perlu melakukan hal ini," Zhou Yu berterima kasih kepada Liu Bei setelah malam semakin gelap dan para perwira sudah banyak yang undur diri untuk pergi tidur.
"Paling tidak, ini yang bisa saya berikan sebagai rasa terima kasih kepada anda, Jenderal Zhou Yu," Liu Bei mengangkat cawan araknya. "Semoga dewi kemenangan akan tersenyum kepada pasukan kita besok, dan kita bisa menang melawan Cao Cao."
"Yang Mulia, kami minta maaf, namun kami ingin undur diri." Suara Cao Fan tiba-tiba terdengar. "Hari sudah semakin malam, dan tidak baik bila kami para wanita terjaga hingga selarut ini."
Liu Bei mengangguk. "Baiklah. Terima kasih untuk hari ini, Fan. Dan ah, apakah kau sudah menunjukkan kamar untuk Tuan Putri Sun Shang Xiang?"
"My Lord, bukankah saya sudah mengatakannya, tidak perlu formal dengan saya," Shang Xiang menjawab. "Fan sudah menunjukkan kamar untuk saya, dan perlu saya katakan bahwa kamar itu sangat indah. Namun malam ini, saya akan tidur di kamar Cao Fan."
"Eh?"
Sun Shang Xiang tersenyum sambil merangkul Cao Fan. "Bisa dibilang, kami ingin melanjutkan obrolan kami. Masih banyak hal yang ingin kami ceritakan satu sama lain. Oh, dan Xing Cai juga akan bergabung dengan kami."
"Ah, ya, baiklah kalau begitu. Selamat malam untuk kalian semua."
Ketiga wanita itu membungkuk, lalu undur diri.
"Zong, jangan coba-coba untuk merayu Shang Xiang untuk kabur nanti malam yah!" Cao Fan menyentil kening kakaknya.
"Hei, tidak sopan!" Cao Zong menekan keningnya untuk menghilangkan rasa sakit. "Siapa yang mau melakukannya?"
"Dan hal itu juga berlaku untukmu, Guan Ping," Cao Fan mengedipkan matanya penuh arti ke arah Guan Ping.
Wajah pria itu memerah, kemudian menjawab dengan kalimat yang sama persis seperti Cao Zong. Sekarang kedua pria itu saling tatap satu sama lain, sementara para wanita keluar sambil tertawa senang.
Setibanya di kamar Cao Fan, Shang Xiang tertawa geli. "Sekarang aku mengerti kenapa kau mengatakan hal itu kepada Zong barusan."
Cao Fan melemparkan pandangannya ke jendela kamarnya yang berbatasan dengan halaman belakang, dan langsung menuju ke sungai. "Kamar dekat dengan halaman belakang, tempat yang cocok untuk menikmati sinar rembulan dan tidak ada penjaganya."
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Hari sudah semakin gelap, hanya cahaya rembulan yang menjadi penerang di halaman belakang istana. Cao Zong duduk termenung di hamparan rumput hijau yang terkena siraman sinar rembulan.
"Bila anda duduk di sini terlalu lama, anda bisa sakit, Master Cao Zong."
"Ah, Lord Liu Bei!" Cao Zong dengan tergesa-gesa langsung berdiri dan memberi hormat kepada Liu Bei.
Liu Bei memberi tanda agar Cao Zong mengangkat kepalanya. "Bulan malam ini, sangat indah."
"Ya, sangat," Cao Zong mengikuti arah mata Liu Bei yang sedang menatap bulan punama.
"Apa yang anda lakukan di sini? Apa anda tidak bisa tidur?"
Cao Zong beralih menatap Liu Bei. "Ya. Saya, saya memikirkan hari esok."
"Hari esok, tidak perlu dipikirkan, Master Cao Zong. Dia juga tidak perlu ditunggu, sebab dia akan datang juga. Yang perlu anda lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menyambutnya."
"Ya, anda benar, Lord Liu Bei."
Suasana tiba-tiba menjadi sepi hingga Liu Bei bertanya. "Bolehkah saya mengetahui perasaan anda, Master Cao Zong?"
"Perasaan saya? Terhadap apa?"
"Sebagai orang yang menyandang nama Cao, anda pasti memiliki perasaan tersendiri mengenai pertempuran ini, bukan? Bagaimana pun juga..."
"Saya memang seorang Cao, mungkin dalam tubuh saya mengalir darah yang sama seperti yang mengalir dalam tubuh Cao Cao. Tapi," Cao Zong menyipiitkan matanya. "Jiwa dan raga ini sudah menjadi milik Wu. Saya siap bahkan bila harus melawan seluruh orang bernama Cao, bila mereka berusaha menghalangi atau menghancurkan Wu."
Liu Bei tersenyum bahagia. "Anda benar-benar seperti apa yang sering adik anda ceritakan dan banggakan." Ia lalu memberi hormat kepada Cao Zong. "Saya sangat senang bisa bertemu anda."
"Ah, anda terlalu berlebihan Lord Liu Bei. Dan juga, saya sangat berterima kasih karena anda sudah mau menerima adik saya, dan menjaganya. Bahkan anda mengizinkan dia untuk pergi ke Wu ketika pemakaman Sun Ce."
"Dia boleh mengabdi kepada saya, namun keluarganya adalah Wu. Dan saya tidak mungkin tega melihat seseorang bersedih atas kematian anggota keluarganya dan tidak mengizinkan dia untuk pergi ke pemakamannya."
"Sekarang saya mengerti kenapa Fan ingin mengabdi kepada anda," ia tersenyum lebar.
Tanpa disadari oleh kedua pria itu, seseorang tengah mengawasi mereka dari kejauhan. Dari balik jendela kamar yang menghadap langsung ke halaman belakang. Setelah puas mengamati kedua pria itu, wanita yang mengenakan gaun berwarna merah itu kembali tidur.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Sinar matahari pagi menembus kisi-kisi jendela, dengan berat pria berambut hitam itu membuka matanya. Pundaknya tiba-tiba sakit ketika ia mencoba untuk bangun dari tidurnya.
"Jangan bergerak dulu, Zong. Kata dokter kau belum sembuh betul," suara tinggi berat dan berwibawa itu menggema di telinga Cao Zong.
Suara ini, aku kenal.. Batin Cao Zong. Kemudian ia membuka mulutnya, berusaha memanggil nama orang yang baru saja berbicara kepadanya. "A...ayah..." Cao Zong menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit. Bukan namanya yang keluar, melainkan sebutan baru untuk orang itu.
"Racun tersebut sungguh mematikan, anda beruntung racunnya belum sempat menyebar ke seluruh tubuh anda." Seorang pria tua dengan pakaian warna putih berdiri di belakang Cao Cao yang duduk. "Namun saya menyarankan agar beristirahat lebih lama lagi. Satu atau dua minggu lagi."
"Aku, berapa lam aku tidak sadarkan diri?"
"Sudah dua minggu. Kami kira kau tidak akan berhasil selamat," Cao Cao berdiri. "Kita sudah kehilangan Han Zong juga Xiahou Yuan. Jadi lebih baik sekarang kau fokus untuk menyembuhkan lukamu."
Setelah Cao Cao pergi, Cao Zong menekan pundak kirinya yang dibalut dengan perban. "Jadi kita kehilangan Han Zong sebanyak dua kali. Menyedihkan."
"Jika saya jadi anda, saya tidak akan menekan pundak anda seperti barusan," Hua Tao memperbaiki perban yang membalut pundak Cao Zong.
"Dokter, paling tidak, saya boleh jalan-jalan keluar kan? Badan ini seperti mati rasa, lagi pula aku butuh udara segar."
"Jika ada yang menemani anda, saya akan memberi izin." Jawab Hua Tao tegas.
"Kalau begitu, bagaimana bila anda yang menemani saya? Atau anda memiliki kepentingan lain?"
Hua Tao berpikir sejenak. "Baiklah, saya akan menemani anda, Master Cao Zong. Kondisi anda belum sembuh betul, dan saya yakin, walau pun saya melarang anda untuk keluar, pasti anda akan pergi juga. Lebih baik saya yang menemani anda langsung daripada anda celaka nantinya."
Cao Zong tersenyum bahagia. "Terima kasih, dokter."
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Xu Chang, ibukota kerajaan Wei. Bisa dibilang kota ini cukup maju untuk wilayah Central Plains. Meski pun Wei baru saja kalah dari Shu dan kehilangan Han Zong, nampaknya hal itu tidak begitu berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat di kota ini.
"Master Cao Zong, apa anda sudah dengar?" Hua Tao membuka percakapan.
"Hum, mendengar apa, dokter?" Cao Zong menatap pria tua yang berjalan di sampingnya.
"Master Huang Zong meninggal tidak lama setelah pertempuran di Han Zong. Maka dari itu, bisa anda pikirkan bagaimana paniknya saya ketika mengetahui kalau dalam tubuh anda juga terdapat racun yang sama dengan yang berhasil membunuh Huang Zong?".
Cao Zong tertawa pelan. Tapi aku yakin kalau aku akan baik-baik saja, sebab anda yang merawat saya, dokter Hua Tao." Cao Zong membungkuk. "Saya berhutang nyawa kepada anda."
"Anda berhutang nyawa kepada adik anda, bukan kepada saya."
"Fan?" Cao Zong menatap Hua Tao bingung. "Maksud anda?"
"Ketika pertempuran di Han Zong, saya berada di pihak Shu sebagai dokter pribadi adik anda. Lalu kemudian dia kembali ke markas bersama Huang Zong yang terluka. Ketika saya ingin mengobatinya, adik anda mengatakan kalau Huang Zong akan diurus langsung oleh Zhuge Liang, dan memohon agar saya pergi menolong anda."
Cao Zong tersenyum kecut. "Jadi aku berhutang nyawa kepadanya." Zong kemudian mengarahkan pandangannya ke sebuah restoran, perutnya tiba-tiba berbunyi. "Bagaimana kalau kita melanjutkan percakapan ini sambil makan siang, dokter?"
"Baiklah, mungkin lebih baik bila saya ikut. Jadi anda tidak akan makan sesuatu yang seharusnya tidak boleh anda makan."
"Hei, aku juga punya pantangan makanan?" Cao Zong menepuk keningnya. "Kenapa tiba-tiba..."
"Racun dalam tubuh anda belum sepenuhnya keluar. Jika anda memakan makanan yang salah, bisa jadi racun itu akan bereaksi."
"Hah, menyebalkan. Ya sudah lah kalau begitu." Cao Zong berjalan dengan lesu menuju ke restoran.
Restoran cukup ramai siang ini, nampaknya restoran ini merupakan salah satu restoran yang cukup terkenal di Xu Chang, bahkan mungkin di seluruh Central Plains. Sambil menunggu pesanan mereka, Cao Zong dan Hua Tao kembali berbincang.
"Nah, apa anda bisa menceritakan apa saja yang terjadi selama saya tidak sadarkan diri?"
Hua Tao meletakkan cawannya. "Tadi sudah saya katakan bahwa Master Huang Zong telah meninggal. Five Tiger Generals kekurangan orang, dan untuk itu, adik anda menggantikan posisi beliau."
"Hah?" Cao Zong menatap Hua Tao dengan serius. "Apa itu Five Tiger Generals? Dan kenapa Fan?"
"Five Tiger Generals adalah lima jendral yang berkontribusi begitu banyak untuk Shu, para prajurit yang benar-benar kuat namun juga memiliki kecerdasan dan sikap seorang pemimpin dan layak menjadi panutan bagi para perwira lainnya. Mereka yang menjadi Five Tiger Generals adalah mereka yang terpilih. Apa anda sudah lupa? Ketika Liu Bei berhasil merebut Han Zong pertama kali dari Wei dan mengangkat dirinya menjadi raja Han Zong, beliau mengangkat lima jendral bukan?"
Cao Zong memijit-mijit keningnya. "Ah ya, aku ingat. Anggotanya Guan Yu, Zhang Fei, Zhao Yun, Ma Chao dan Huang Zong."
Hua Tao mengangguk. "Posisi Guan Yu dan Zhang Fei digantikan oleh anaknya, Guan Shao dan Zhang Bao."
"Kenapa bukan Xing Cai yang menggantikan ayahnya?"
"Menurut kabar, Lady Xing Cai menjadi pengawal pribadi Lord Liu Chan. Oleh sebab itu, Master Zhuge Liang tidak memilih Xing Cai untuk menggantikan ayahnya. Sebab, Five General Tiger selalu pergi ke medan perang."
"Dan jika Xing Cai pergi, tidak akan ada yang melindungi Liu Chan."
Hua Tao mengangguk. Percakapan terhenti ketika pesanan mereka tiba.
Ketika sedang menikmati hidangan lezat itu, seseorang membuat masalah di dalam restoran dengan menuduh pelayan restoran menyajikan makanan basi kepadanya. Cao Zong awalnya tidak bergeming karena dia benar-benar lapar, dan hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Namun semua berubah ketika pria itu mulai mengganggu pengunjung lain, hingga menggebrak meja Cao Zong.
"Hei kau! Bagaimana mungkin kau mau memakan makanan basi itu? Seharusnya kau menuntut pihak restoran karena memberikanmu hidangan basi!" Tanya pria pengacau yang tertubuh besar.
Cao Zong menelan makanannya seolah makanan itu tidak apa-apa. Dan yah, memang makanan itu masih layak makan. Itu hanya akal-akalan pria bertubuh besar itu saja. "Jangan ganggu aku selagi aku makan," Cao Zong melirik pria itu dengan tajam.
"Hah, apa katamu? Padahal aku sedang berusaha untuk menolongmu agar kau tidak keracunan makanan! Tapi itu jawabanmu!" Pria itu langsung mengacak-acak makanan yang ada di atas meja Cao Zong.
Cao Zong mematahkan sumpit yang ia pegang. "Kau, apa ibumu tidak pernah mengajari untuk tidak membuang-buang makanan seperti itu?" Suaranya terdengar marah.
"Heh, bocah kecil sepertimu memangnya bisa apa? Kau pikir kau bisa menang melawanku?"
"Master Cao Zong, anda belum sembuh. Jangan cari masalah dulu." Hua Tao memperingatkan Cao Zong.
"Tenang, Hua Tao. Mahluk macam ini bukan masalah untukku," Cao Zong berdiri kemudian menyentuh pundak pria itu. "Kita selesaikan masalah ini di luar, aku tidak mau menganggu pengunjung yang lainnya."
Seketika itu kerumunan langsung berpindah ke luar restoran. Hua Tao meminta maaf kepada pemilik restoran karena Cao Zong sudah membuat masalah. Namun si pemilik restoran malah balik berterima kasih dan meminta maaf karena telah membuat Cao Zong masuk ke dalam masalah seperti ini.
"Hei bocah, kalau kau mau berlutut kepadaku, mungkin aku akan mengampunimu." Pria besar itu tertawa sambil memaikan sebuah tombak.
Cao Zong mengendus geli. "Jangan banyak omong! Cepat serang aku. Atau aku yang akan menyerangmu terlebih dahulu!"
"Dasar bocah sombong!" Lawan Cao Zong langsung menyerang dengan mengayunkan tombaknya. Tapi nampaknya dia tidak pernah menggunakan tombak, sehingga serangannya tidak bergitu berarti. Hanya kuat saja.
"Hah, apa hanya segitu kemampuanmu?" Cibir Cao Zong setelah berhasil menghindar. "Zhen bahkan bisa melakukannya lebih baik daripada kau!"
Dengan sigap Cao Zong berlari, lalu melakukan jump kick tepat ke wajah lawannya hingga terjatuh ke tanah.
"Payah. Hanya besar mulut saja." Cao Zong membersihkan debu dari bajunya.
Sementara itu para penonton sedang saling berbisik. "Zhen...apa yang dia maksud adalah Cao Zhen? Anaknya Lord Cao Cao?"
"Hah, siapa?"
"Cao Zhen. Adik laki-laki Lord Cao Pi. Dia sangat suka dengan puisi, bahkan sering memenangkan beberapa perlombaan puisi."
"Kalau pria itu memanggil Lord Cao Zhen dengan nama pemberiannya, apa itu artinya..."
"Dia Lord Cao Zong! Anak angkat Lord Cao Cao!"
Desas desus di kerumunan semakin mereka sadar siapa pria yang sedang berdiri di hadapan mereka.
"Lord Cao Zong! Kemana saja anda? Lord Cao Cao mencari anda daritadi!" Suara Zhang Liao terdengar diantara suara kerumunan.
"Ah, Master Zhang Liao. Tepat waktu." Cao Zong terlihat senang. "Tolong urus pria ini, dan bawa dokter Hua Tao ke istana. Aku masih punya urusan." Selesai mengatakan hal itu, Cao Zong langsung berlari ke arah kerumunan, nampaknya dia mengejar seseorang.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Keluar! Aku tahu kalau kau bersembunyi di sini!" Perintah Cao Zong setelah berhasil mengejar seseorang sampai ke tepi danau.
Seseorang dengan pakaian prajurit kelas rendah keluar dari balik pohon. "Hah, kau lumayan juga. Nampaknya kau masih sehebat dulu."
"Kau juga, Sun Shang Xiang. Seandainya kau tidak bersuara di kerumunan barusan, mungkin aku tidak akan mengenalimu." Cao Zong mendekati sosok itu, lalu membuka helm yang ia kenakan hingga rambut panjangnya terlihat. "Rambutmu sudah panjang lagi. Aku kira kau tidak suka dengan rambut panjang karena membuatmu susah bergerak."
"Oh, jadi kau masih ingat dengan ucapanku waktu itu?" Shang Xiang mengibaskan rambut panjangnya.
"Sekarang katakan Shang Xiang, kenapa kau memanggil namaku barusan? Padahal bisa saja kau membunuhku dari jarak yang cukup dekat tadi. Aku yakin kau membawa panah kan?"
Shang Xiang tersenyum. "Aku memang ingin membunuhmu, namun tidak dengan cara licik dan kotor seperti itu. Aku ingin melakukannya secara terang-terangan. Sama sepertimu, yang mengkhianati Wu didepan mataku!"
Disaat Sun Shang Xiang ingin mengambil sebilah pisau, Cao Zong memeluknya lalu tangannya menghentikan gerakan tangan Shang Xiang yang ingin mencabut pisau dari belakang. "Jangan. Kalau kau melakukannya sekarang, para penjaga akan menangkapmu."
Cao Zong menunjuk ke arah mereka datang barusan dengan dagunya. Terlihat beberapa penjaga sedang hilir mudik.
"Padahal aku ke sini untuk membunuhmu, kenapa kau malah menolongku?" Bisik Shang Xiang.
"Tidak. Aku yakin bukan itu alasanmu yang sesungguhnya ke sini. Katakan apa alasanmu yang sesungguhnya, Shang Xiang."
Shang Xiang merapatkan tubuhnya. "Apa kau sudah lupa dengan janjimu kepadaku dulu?"
"Janji? Janji yang mana?"
"Ah ya, bodohnya aku," Shang Xiang berkata lirih. "Kau sudah membuat terlalu banyak janji kepadaku. Tentu saja kau lupa janji yang mana yang aku maksud."
"Lord Cao Zong! Anda dimana?" Suara Hua Tao menggema.
"Lepaskan aku, Zong." Pinta Shang Xiang.
Sebelum Shang Xiang pergi, ia sempat melirik ke belakang. "Apa kau benar-benar sudah lupa dengan janjimu, Zong?"
Shang Xiang kembali mengenakan atribut penyamarannya kemudian pergi meninggalkan Cao Zong.
"Aku..." Cao Zong menunduk.
"Ada apa, Lord Cao Zong?" Tanya Hua Tao yang sudah berdiri di sebelah Cao Zong.
"Tidak apa-apa. Ayo kita pergi, dokter." Cao Zong menepuk punggung Hua Tao. "Hei, aku masih lapar. Bagaimana kalau kita makan lagi?"
Aku tidak mungkin melupakan janjiku, Shang Xiang...
ide buat bikin lomba kura-kura itu diambil dari film red cliff...entah kenapa kayany lucu juga kalau mereka lomba balap kura-kura,wkwkwk XD...mohon reviewny :)
