Hari sudah semakin malam, namun Cao Fan belum keluar dari kamar Shang Xiang. Sun Quan nampak sedikit gelisah, sementara Zhuge Liang tidak kehilangan ketenangannya dan menikmati makan malam. Disampingnya Cao Zong tidak menunjukkan emosi atau gerakan berarti dan ikut menyantap ikan yang ia tangkap tadi sore dan diolah menjadi ikan bakar kesukaannya.

"Maaf, kami terlambat." Terdengar suara dua perempuan bersamaan. Raut wajah Sun Quan langsung berubah ketika mendengarnya.

Semua mata para perwira Wu tertuju kepada sumber suara, tidak ketinggalan Zhuge Liang dan Cao Zong. Dan mereka mendapatkan sosok Cao Fan berdiri bersama dengan Sun Shang Xiang yang malam ini mengenakan pakaian berwarna merah. Suasana ruang makan langsung berubah, para perwira bahagia melihat Sun Shang Xiang sudah bisa keluar dari kesedihannya.

Shang Xiang memberi hormat sesaat kepada para perwira Wu, dan menatap Cao Zong. "Zong, bisakah aku bicara denganmu sebentar?"

Cao Zong melirik ke arah Sun Quan, satu anggukan diberikan sebagai jawaban. "Ya, tentu saja bisa, Shang Xiang."

Shang Xiang berkata kalau dia tidak ikut makan malam bersama kali ini, karena sudah kenyang memakan masakan Cao Fan yang ia berikan tadi siang dan keluar dari ruang makan terlebih dahulu. "Aku tunggu di halaman belakang, Zong."

Ketika Cao Zong dan adiknya berpapasan, ia menarik lengannya. "Apa yang kau lakukan hingga dia mau keluar dari kamarnya?"

Cao Fan tersenyum. "Aku tidak melakukan apa-apa. Surat dari Lord Liu Bei yang melakukannya."

"Aku jadi penasaran dengan isi surat itu."

"Nanti kau juga tahu," Cao Fan tersenyum sambil melepaskan tangan kakaknya. "Lebih baik cepat kau temui Shang Xiang, jangan biarkan dia menunggu lebih lama lagi."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Shang Xiang berdiri di bawah pohon besar, malam ini bulan tidak bersinar begitu terang karena tertutup awan.

"Ada apa, Shang Xiang?" Tanya Cao Zong begitu ia sampai di dekat Shang Xiang.

Tanpa berkata apa-apa ia memberikan sebuah surat, yang langsung dikenali oleh Cao Zong sebagai surat dari Liu Bei. Dengan bingung dan penerangan ala kadarnya Cao Zong membaca surat tersebut.

Shang Xiang,

Jika kau membaca surat ini, itu artinya kita sudah tidak bersama lagi. Aku harap, penyebab kita berpisah adalah karena kau telah menemukan seseorang yang lebih baik dari diriku.

Sebetulnya aku tahu, bahwa kau tidak menyukai perjodohan semacam ini, terlebih lagi yang memiliki unsur politik. Nampaknya aku berhutang budi kepada Cao Fan, sebab dia yang membujukmu untuk menerima rencana kakakmu. Aku, sungguh sangat berhutang budi kepadanya.

Aku berpikir kalau kau tidak akan pernah bisa menerimaku, dan akan meanggap hubungan kita tidak lebih dari suami-istri yang terikat oleh politik, bukan karena perasaan. Namun dihari itu, ketika kau mengatakan bahwa kau sangat bahagia bersamaku, dan memutuskan untuk ikut ke Shu bersamaku, aku sadar, bahwa kau mencintaiku dengan sepenuh hati. Sama seperti diriku yang mencintaimu dengan segenap jiwa.

Apa pun yang terjadi kepadaku, aku harap kau bisa memahaminya, dan walau pun kita sudah tidak bersama lagi, aku ingin kau tetap bahagia, dan melanjutkan hidupmu, serta membantu kakakmu. Sebab aku tidak bisa membayangkan seorang Shang Xiang menghabiskan waktunya dengan bersedih.

Aku, aku tidak begitu pandai membuat surat. Seharusnya aku meminta bantuan Zhuge Liang, namun aku ingin kalau surat ini, sungguh-sungguh mewakili perasaanku untukmu. Oleh sebab itu, aku tidak ingin orang lain yang membuat surat ini.

Aku mencintaimu, Shang Xiang.

Liu Bei

Cao Zong menelan ludah setelah membaca surat tersebut, belum sempat ia memberikan komentar, Shang Xiang sudah bicara. "Apa menurutmu, itu hal yang tepat...?"

"Apa maksudmu, Shang Xiang?"

"Aku, melanjutkan hidupku. Sementara Liu Bei..."

"Kau harus melanjutkan hidupmu, Shang Xiang. Dengan begitu, Liu Bei juga akan tetap hidup. Di hatimu, dalam idealismenya, dan impiannya yang masih membara." Cao Zong tersenyum sambil mengembalikan surat tersebut. "Jangan menyerah, Shang Xiang."

"Maukah kau menolongku? Menemaniku?"

"Tidak perlu kau tanya, tentu saja aku mau."

Sun Shang Xiang tersenyum, senyum yang biasa ia tunjukkan. Senyum yang hampir menghilang dan tidak pernah Cao Zong lihat lagi. "Terima kasih, Cao Zong."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Aku baru tahu kalau ada perwira Wei yang suka melamun," suara seorang wanita membuyarkan lamunan Cao Zong.

"Ah," Cao Zong terhenyak, kemudian melihat pemilik suara tersebut. Seorang wanita menggunakan gaun berwarna biru dengan motif bunga dan pusaran air, rambutnya seperti biasa, diikat ke belakang. Wajah putihnya terlihat sedikit kelelahan pagi ini. "Lady Zhen,"

Istri dari Cao Pi itu tersenyum, "Syukurlah, akhirnya kau menyadari keberadaanku."

"Maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk tidak sopan dengan..." Cao Zong menunduk.

"Tidak apa-apa, aku bisa memakluminya," Zhen Ji memotong permintaan maaf Cao Zong. "Ayahmu sedang sakit sekarang, jelas saja kalau kau gelisah."

Cao Zong menunduk sedih. Walaupun baru dua tahun dia menjadi anak angkat Cao Cao, namun hubungan keduanya bisa dikatakan cukup dekat. Cao Zong seperti gabungan dari Cao Chong yang berhati lembut dan suka menolong orang kecil yang tidak bersalah, ia memiliki kecerdasan dan ketegasan ayahnya, bahkan ia seorang prajurit yang kuat. Mungkin karena itu muncul desas-desus bahwa ia akan dipilih menjadi penerus Cao Cao, bukan Cao Pi.

"Ayo turun ke bawah, sebentar lagi makan malam akan dihidangkan," Lady Zhen berkata pelan.

Cao Zong mengangguk kemudian mempersilahkan Zhen Ji untuk turun terlebih dahulu.

"Ah, rupanya anda di sini, Lord Cao Zong!" Sosok Man Chong menghalangi Zhen Ji dan Cao Zong. "Anda dipanggil untuk segera menemui Lord Cao Cao di kamarnya."

Cao Zong menatap ke arah Zhen Ji, seolah berkata agar lebih baik dia pergi ke ruang makan terlebih dahulu. "Baiklah, aku ke sana sekarang."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Kamar Cao Cao dijaga dengan ketat, beberapa prajurit terlihat menjaga di sekitar kamarnya. Ketika akan masuk, Cao Zong diperiksa, dan ia harus menyerahkan senjatanya ke penjaga yang ada. Bukan hanya dia saja, tapi semua perwira mendapatkan perlakuan yang sama.

Saat pintu terbuka, terlihat sosok Cao Pi duduk di sebelah tempat tidur Cao Cao yang ditutup dengan kelambu. Seorang pria sedang bercakap-cakap dengan ayah mereka, nampaknya pria itu Hua Tao.

"Bagaimana keadaan ayah, Pi?" Cao Zong membuka percakapan.

Cao Pi menghela nafas. "Dia belum begitu membaik. Dokter Hua Tao telah menyarankan ayah untuk beristirahat total."

"Ah, rupanya anda sudah tiba, Lord Cao Zong!" Hua Tao tersenyum setelah selesai memeriksa Cao Cao dan merapihkan barang-barangnya. "Lord Cao Pi, ada sesuatu yang ingin saya bahas dengan anda. Bisakah kita keluar sejenak?"

"Ya, tentu saja dokter," Cao Pi menemani Dokter Hua Tao keluar.

"Zong..." Suara lemah Cao Cao memanggil Cao Zong. Meskipun lemah, tapi dalam suara itu masih ada wibawa seorang pemimpin.

Cao Zong duduk di tempat Cao Pi duduk tadi. "Ya, apa ada yang bisa aku bantu, ayah?"

"Nampaknya waktukku di sini, sudah hampir habis..."

"Ayah, jangan bicara seperti itu!"

Cao Cao tertawa lemah. "Bahkan sang Hero of Chaos tidak bisa mengelabui kematian. Sungguh menyedihkan."

"Ayah, aku mohon, jangan berkata demikian! Waktumu masih panjang, aku yakin itu..."

"Zong...jika aku mati nanti...aku ingin...kau...yang menggantikanku..."

Cao Zong terkejut bukan main. Apa yang baru saja ia dengar itu nyata? Atau mungkin Cao Cao sedang dilanda sakit yang sangat sehingga ucapannya jadi kacau seperti itu? Memberikan takhta kepada dirinya, seorang anak angkat yang dulunya mengabdi kepada musuh mereka?

"Ayah, tolong jangan bercanda disaat seperti ini. Ini menyangkut masa depan orang banyak, bukan hanya ayah atau aku saja. Ayah tidak bisa memilihku. Apa kata para rakyat nanti bila Ayah memberikan Wei kepadaku? Pi adalah orang yang tepat untuk menjadi penerus Ayah."

Cao Cao menatap Cao Zong dengan wajah kecewa. "Jika memang itu pilihanmu... Tolong kau jaga baik-baik Pi, dan juga Wei. Aku, mengandalkanmu."

Cao Zong mengangguk. Kemudian Cao Cao menyuruhnya untuk pergi mencari Hua Tao karena ia merasa kepalanya seperti mau terbelah dua.