Disclaimer : Original Chara Belong to KOEI.
"Kak, aku lapar..." Rengek Cao Fan ketika baru terbangun dari tidur.
Cao Zong memperhatikan seluruh sudut pasar dari gudang beras yang sudah tidak terpakai lagi. Bukan hanya mereka berdua yang tidur di sana, banyak para tuna wisma yang tidur di sini. Walaupun pasukan patroli sering mengusir mereka, hal itu tidak berhasil.
"Tunggu di sini. Aku akan mencari roti untukmu," Cao Zong melepaskan selimutnya dan memakaikannya kepada Cao Fan agar adik kecilnya tidak kedinginan.
"Jangan tinggalkan aku sendiri!" Cao Fan menahan kakaknya. Tangan kecilnya memegang erat pergelangan Cao Zong.
Sang kakak kebingungan. Tempat ini memang berbahaya, terutama untuk anak kecil yang sendirian, apalagi anak perempuan. Tapi bila Cao Zong mengajak Cao Fan untuk mencari makan, dia takut adiknya akan tertangkap karena dia tidak bisa berlari secepat kakaknya. Dan bila Cao Fan tertangkap, nasibnya akan sama saja bila ia tetap di tempat ini dan menunggu Zong kembali. "Baiklah, aku akan mengajakmu. Tapi kau harus menunggu jauh dariku, agar kau bisa lari duluan bila aku tertangkap."
"Tidak! Aku tidak mau terpisah darimu." Genggaman Fan makin erat, dan dia sekeras mungkin menahan dirinya untuk tidak menangis.
Cao Zong menghela nafas. "Baiklah, ayo berdiri. Lipat selimutnya. Kau bisa membawanya kan?"
Cao Fan tersenyum, lalu mengangguk. Dibantu kakaknya, selimut usang dan bolong itu sudah terlipat. Dan mereka berdua berlajan keluar.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Di dekat kedai makan yang dipenuhi oleh pria-pria berwajah mengerikan ada toko roti yang baru dibuka. Pemiliknya merupakan sahabat dari prefect terdahulu di Chang Sha. Namun beliau sangat korup, sehingga posisinya sekarang diganti oleh Sun Jian, yang dikenal sebagai Tiger of Jiang Dong. Jadi sekarang toko ini merupakan targetempuk dari para pencuri, dari yang mencuri hanya untuk bertahan hidup, hingga mereka yang ingin memperkaya diri.
Cao Zong sudah beberapa hari ini memperhatikan toko roti itu, berusaha mempelajari penjaga-penjaganya, kapan saat mereka lengah, kapan saat toko sangat ramai. Dan sekarang waktunya untuk beraksi.
Sambil menggandeng adiknya, Cao Zong mempertajam semua panca indera miliknya, dan berusaha untuk tetap tenang. Toko sudah memasuki jam ramai sekarang. Kelebihan Cao Zong adalah tubuh kecilnya tertutup oleh pengunjung yang kebanyakan bertubuh tambun, kerugiannya adalah Cao Zong belum cukup tinggi untuk bisa meraih roti yang dijajakan. Jadi dia harus membuat kekacauan di dalam toko, sangat kacau sampai-sampai roti akan berjatuhan ke lantai.
"Fan, berikan aku salah satu selimut." Kata Cao Zong sembari membimbing adiknya ke sudut toko roti.
Sebelum Cao Fan bertanya, dia memperhatikan kakaknya, dia membawa sebuah kayu yang sudah dilumiri menggunakan minyak. Dan melihat ada sebuah tungku yang berfungsi untuk memanggang roti, kemudian beralih ke tempat roti diletakkan, dan berakhir di pintu masuk yang berukuran agak kecil, mengingat banyaknya pengunjung yang bertubuh besar, toko ini hanya memiliki satu pintu, tidak ada pintu khusus karyawan.
"Aku mengerti apa yang ingin kakak lakukan, tapi bagaimana kita bisa kabur dari sini? Pintu pasti akan dipenuhi oleh para pengunjung yang ingin menyelamatkan diri."
Cao Zong tersenyum, kemudian mengelus kepala Cao Fan. "Kau memang pintar, adikku. Kita akan kabur, dari sana," ditunjuknya sebuah lubang yang cukup untuk anak kecil melewatinya. "Dua hari yang lalu aku mendapat info kalau toko ini dulunya tempat para penjahat menyembunyikan anak kecil yang akan mereka jual. Jadi, beberapa dari mereka yang mencoba untuk kabur berusaha menjebol dinding tempat ini. Sebetulnya dinding ini dari awal memang sudah rapuh, jadi tidak terlalu sulit untuk mereka menjebolnya."
"Kau sudah mengamati semuanya, kak." Puji Cao Fan sebelum memberikan selimut yang biasa ia pakai kepada kakaknya.
Dengan susah payah Cao Zong menyobek sebagian dari selimut itu, dan mengembalikan sisanya kepada Fan. Kemudian dia melemparnya ke sudut tempat diletakkannya sebuah guci berukuran besar. Disaat para pekerja sedang sibuk melayani pembeli, Zong mendekatkan kayu yang ia bawa ke tungku, dengan cepat api langsung menjalar ke kayu. Dengan satu lemparan, dia berhasil mendaratkan kayu tepat di atas selimut. Api mulai menghanguskan selimut tersebut.
"Kebakaran, ada kebakaran!" Teriak salah satu pengunjung.
Seketika itu juga pengunjung mulai panik, mereka berdesak-desakan untuk keluar dari toko. Dan secara tidak sengaja menjatuhkan beberapa roti, baik yang sudah mereka beli, atau yang masih belum terjual.
Cao Fan membentangkan selimut yang tinggal setengah itu untuk menjadi wadah roti, sementara Cao Zong sudah mulai mengambil roti yang berjatuhan. Setelah dirasa roti yang mereka ambil sudah cukup, Cao Zong menyuruh adiknya untuk keluar terlebih dahulu. Mereka berdua tertawa bahagia melihat roti yang berhasil diambil. Itu artinya mereka tidak akan kelaparan selama seminggu ini.
"Harus aku akui, kalau idemu sangat cemerlang, hany saja agak berbahaya. Bukan begitu, Co Zong?" Suara seorang anak kecil terdengar dari belakang.
Dengan cepat Cao Zong memutar tubuhnya dan melindungi adiknya. "Kau, siapa?"
"Namaku Sun Ce, anak dari Sun Jian." Jawab anak laki-laki yang sama.
"Aku Sun Quan, anak kedua dari Sun Jian," Sun Quan yang berdiri dibelakang Sun Ce tersenyum.
"Namaku Sun Shang Xiang, tapi kau boleh memanggilku Shang Xiang," seorang gadis kecil yang berdiri di antara Sun Ce dan satu anak laki-laki yang belum memperkenalkan dirinya. "Salam kenal, Zong, dan tentunya juga kepadamu, Cao Fan."
"Kalian! Bagaimana kalian tahu namaku dan adikku?!" Cao Zong bertanya was-was.
"Bukan hanya kau saja yang pandai mengamati sesuatu dan mengumpulkan informasi," Ce menatap anak laki-laki yang berambut panjang. "Kenalkan, dia adalah..."
"Namaku Zhou You," dia memperkenalkan diri. "Apa kau tidak menyadariku? Dua minggu ini aku terus mengikutimu."
"Ya, aku sering merasakan sebuah kehadiran. Tapi waktu itu aku tidak berpikir akan seperti ini..." Cao Zong menggeleng. "Lalu, apa yang kalian inginkan?"
Sun Ce mengulurkan tangannya. "Ayo ikut dengan kami. Bersama, kita akan membantu ayahku."
"Aku tidak peduli! Dia ayahmu, bukan ayahku! Apa peduliku!" Teriak Cao Zong sambil memeluk Cao Fan.
"Memang. Tapi kami bisa menawarkan sebuah rumah. Kau boleh tinggal bersama kami, dan setelah kau cukup dewasa, kau bebas memilih apakah kau ingin mengabdi kepada ayahku atau pergi."
"Mencurigakan. Kenapa kalian begitu baik kepada kami? Apa yang kalian inginkan dari kami?"
"Kami hanya ingin menolongmu, itu saja. Apa ada yang salah? Kami sudah cukup lama memperhatikanmu. Kau memang pencuri, tapi kau mencuri hanya demi bertahan hidup. Aku bahkan tahu, berapa jumlah buah yang kau curi selama seminggu ini."
Cao Zong mengeritkan kening. "Apa kau ingin aku bekerja untuk membayar semua makanan yang aku curi?"
"Jangan konyol!" Kata Shang Xiang yang sedari tadi berdiam diri. "Kami ingin menolongmu, hanya karena kami memang ingin menolongmu! Apa itu salah? Apa kau tidak kasihan dengan adikmu? Setiap malam harus tidur di jalan?! Kakak macam apa kau ini!?"
"Shang Xiang..." Sun Quan menepuk pundak adiknya dengan lembut.
"Apa kau... ingin sebuah rumah, Fan?" Tanya Cao Zong pelan.
"Ya, kak. Tapi aku ingin kau juga berada di rumah itu. Aku tidak keberatan bila tiap malam harus tidur di jalan, selama aku bersamamu, aku yakin aku akan baik-baik saja."
Cao Zong tersenyum sedih, kemudian memeluk adiknya. "Maafkan kakak, karena tidak bisa memberikan yang terbaik untukmu."
"Kakak bodoh," Cao Fan balas memeluk Cao Zong. "Kau, sungguh menyebalkan dan bodoh!"
"Sun Ce, aku terima tawaranmu. Tapi seperti yang kau katakan tadi, baik aku dan adikku, bebas memilih untuk pergi atau mengabdi kepada ayahmu bila kami sudah dewasa nanti." Cao Zong menatap Sun Ce dengan tajam.
"Ya, tentu saja. Aku pasti akan memegang ucapanku."
"Selamat datang di keluarga Sun, Cao Zong, Cao Fan," ucap Shang Xiang.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Lord Cao Zong!" Suara Hua Tao menyadarkan Cao Zong dari lamunannya.
"Ah, maaf. Ada apa, dokter?"
Hua Tao menghela nafas. "Sudah banyak perwira Wei yang mengeluhkan kebiasaan melamun anda. Anda harus menguranginya, Lord Cao Zong."
"Aku rasa aku berhak untuk melamun sekarang, Hua Tao."
Hua Tao menghela nafas. "Memang. Kematian ayah anda memang menyakitkan, namun bukan berarti anda harus bersedih terus."
Sudah seminggu semenjak kematian Cao Cao. Para perwira Wei masih berkabung, bahkan musuh-musuh Wei tidak menyerang dan memanfaatkan kondisi ini. Dan sekarang, Cao Pi adalah pemimpin mereka.
"Anda tahu, anda bisa..."
"Aku tidak mau membahasnya lagi, Hua Tao." Cao Zong berdiri dari bangku yang terbuat dari batu tersebut. "Hanya Cao Pi yang berhak untuk memimpin Wei, bukan aku. Harus berapa kali aku mengatakannya kepada anda?"
Hua Tao menghela nafas. "Saya mengerti akan hal itu, namun..."
"Aku jadi penasaran, dokter," Cao Zong mendekati Hua Tao. "Kenapa anda begitu memikirkan masalah ini? Anda hanyalah seorang dokter, bukan penasihat kerajaan."
"Ya, saya memang seorang dokter. Dokter yang peduli dengan siapa yang menjadi pemimpin di negara tempat ia tinggal. Sebab dia tidak mau memiliki pemimpin yang haus darah dan kekuasaan."
"Dan anda pikir kalau saya bukan orang seperti itu?"
"Saya sudah hidup di dunia ini lebih lama dari anda, Lord Cao Zong. Anda mungkin pandai, namun anda masih kurang pengalaman. Baik yang anda alami sendiri atau dari cerita orang lain." Hua Tao tersenyum puas.
"Paling tidak Pi melakukan yang terbaik untuk kita semua."
"Oh, dengan memaksa Sang Kaisar untuk turun dar tahta dan menggantikan posisinya?" Hua Tao meninggikan nada bicaranya. "Saya heran, itu terbaik untuk siapa? Anda, Pi, atau Wei?"
Cao Zong kembali duduk di tempat semula, dan menyesali kegagalan untuk menghentikan Cao Pi ketika ia berniat untuk menggantikan posisi Sang Kaisar.
"Dinasti Han sudah hancur dari hari dimana Zhang Jiao melakukan pemberontakan! Bahkan mungkin sebelum itu. Dinasti Han dipimpin oleh para pejabat korup, dia sudah mati bahkan sebelum kita menyadarinya! Dan apakah perlu aku ingatkan, kalau kau bukan anggota keluarga Cao? Mungkin kau memiliki nama keluarga yang sama, namun tidak berarti kau bagian dari kami!" Itulah alasan yang digunakan Cao Pi untuk melawan Cao Zong.
"Maafkan saya bila saya terlalu lancang, namun rasanya, Wei sudah mulai kehilangan simpati." Hua Tao berbisik. "Lord Cao Cao tidak pernah memaksa Kaisar untuk turun dan menggantikannya, sebab ia tahu, bahwa di luar sana masih banyak orang yang menganggap bahwa Dinasti Han masih ada, hanya saja tidak sejaya dulu. Lord Cao Cao memang ingin menyatukan seluruh daratan China, dan dia cukup sadar, cara yang paling mudah untuk melakukannya adalah dengan menggunakan nama Kaisar."
Cao Zong tidak berkata apa-apa selama memandangi wajah Hua Tao yang mulai basah karena keringat. Udara siang ini memang sangat panas dan terik.
Apakah ini artinya, ucapan orang itu akan terbukti...?
