Huaaa, senangny ada yang baca fic ini ,. Makasih untuk review-ny, saia jadi semangat lagi untuk ngelanjutin fic ini.

shouta-warrior : Maaf kalau AT-ny membingungkan. Soalny sempat ada flashback yang waktu mau saia bikin feel-ny hilang, jadi tak mundurin satu chap. Eh mulai kesini jadi tambah ngaco flashback-ny, wkwkw

mary: Cao Pi entah kenapa emang lebih cocok jadi chara jahat (loh?). Soalny dy punya aura yang cocok untuk itu, sama seperti ayahny. Dan untuk keluarga Cao yang cewe, saia kurang tau apa asliny ada atau engga. Chara Cao cewe di sini itu OC punya saia ^^;;...

Karakter original sepenuhny milik KOEI.


"Ayah, apa maksudmu?!" Sun Shang Xiang melangkah masuk ke ruang utama kastil Chang Sha. "Kau tahu aku sangat ingin pergi ke..."

"Maaf, Shang Xiang," Sun Jian menghentikan protes anaknya. "Tapi aku tidak mengizinkanmu untuk keluar malam ini, meskipun kau sangat ingin pergi ke festival itu."

"Aku bisa menjaga diri! Kapan kau akan percaya kepada anakmu sendiri?!" Teriak Shang Xiang dengan lantang. Tidak mendapat reaksi apa-apa dari ayahnya, ia langsung pergi dari ruang utama.

"Dia tidak mengerti, kondisi kota sekarang sedang tidak aman," bisik Sun Jian disela desahan nafasnya.

"Kalau begitu, kenapa anda tidak menjelaskannya kepada Putri Shang Xiang? Aku yakin dia pasti bisa mengerti." Ucap Cao Zong yang duduk disebelah Huang Gai.

"Shang Xiang pasti akan tetap pergi walau dia sudah tahu hal itu berbahaya. Dia ingin membuktikan kepada orang lain, kalau dia kuat seperti kakaknya. Tapi dia salah, tidak ada yang perlu dibuktikan, sebab dalam nadinya mengalir darah keluarga Sun. Itu merupakan bukti yang kuat."

"Tapi terkadang, seseorang memang perlu membuktikan dirinya sendiri, Yang Mulai. Bukan karena dia ingin diakui oleh orang lain, tapi karena dia ingin mengetahui kekuatannya sendiri."

Sun Jian menatap Cao Zong kecil yang sedang memberi hormat karena merasa ucapannya terlalu lancang. "Aku rasa kau ada benarnya, tapi tetap, aku tidak ingin putriku terluka."

"Jika ayahnya sendiri tidak percaya dengan anaknya, bagaimana anda mengharapkan kalau anak anda bisa menjadi sehebat anda?!" Seru Cao Fan yang sedari tadi berdiam diri. Tidak lama kemudian dia keluar dari ruangan tersebut, membuat semuanya bingung.

Cao Zong setelah meminta maaf segera menyusul adiknya.

Sun Jian menghela nafas. "Dan selama ini aku berpikir kalau memerintah sebuah pasukan sudah sulit, ternyata ada yang lebih sulit lagi, menjadi seorang ayah bagi dua gadis remaja yang sedang menuju kedewasaan."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Bulan sedang penuh malam ini, dia tampak indah dilangit malam. Sekarang sudah masuk ke musim gugur, makin malam cuacanya semakin dingin.

Kastil Chang Sha terlihat sepi, hanya ada beberapa pasukan patroli terlihat. Kebun belakang seperti biasa, tidak terjaga. Nampak seseorang berdiri di dekat jendela kamar, dengan perlahan dia membuka jendelanya, lalu loncat ke bawah tanpa alat bantu apa pun. Sebuah tepuk tangan terdengar.

"Kau memang hebat, Shang Xiang. Bisa turun dari lantai dua tanpa bantuan alat apa pun," puji orang yang tadi bertepuk tangan.

Shang Xiang memutar tubuhnya dan melihat sosok yang sedang bersembunyi dalam kegelapan. "Tentu saja aku hebat! Apa mau mu, Zong? Apa kau akan memaksaku untuk kembali ke kamar?"

"Tidak, meski itu adalah ide awalnya," Cao Zong berjalan mendekati cahaya. "Tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian. Oleh sebab itu, aku akan menemanimu malam ini. Tidak apa-apa kan?"

"Mau bagaimana lagi. Tapi jangan menggangguku nanti!"

"Aku kira kau mau ke festival? Untuk apa aku mengganggumu?"

"Sudah, ayo cepat!" Shang Xiang berjalan meninggalkan Cao Zong.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Festival malam ini sangat meriah, sebagaimana seharusnya sebuah festival. Tidak ada yang menyadari kehadiran Shang Xiang dan Cao Zong diantara lautan manusia itu, maka Cao Zong merasa kalau semuanya akan baik-baik saja, dan mereka bisa kembali ke kastil sebelum hari bertambah gelap.

"Aku tidak mengerti kenapa ayah melarangku untuk pergi ke festival ini." Gumam Shang Xiang sambil memakan kue berbentuk bola yang baru saja ia beli.

"Dibalik kemeriahan festival ini, bersembunyi kejahatan yang selalu siap untuk menerkam mangsanya. Karena itu beliau melarangmu ke sini malam-malam."

"Bagaimana cara kau dan Fan bisa selamat selama ini?" Shang Xiang melirik Cao Zong.

"Kami bersembunyi," Czo Zong menunduk. "hanya itu satu-satunya cara untuk bisa selamat. Sebab aku belum kuat. Aku bahkan tidak sanggup melindungi diri sendiri, bagaimana nasib adikku nanti?"

"Fan sangat beruntung memiliki sebaga seorang kakak." Puj Shang Xiang.

Yang dipuji hanya bisa tersenyum.

Ketika mereka berdua melewati sebuah gang kecil dan gelap, Shang Xiang mendengar sebuah suara erangan kesakitan, berlanjut dengan suara sebuah benda menghantam dinding.

"Apa itu?"

Cao Zong langsung berdiri di depan Shang Xiang. "Mundur."

Suara Langkah kaki semakin mendekat, jumlahnya lebih dari dua. Kira-kira ada enam, ah sepuluh! Itu artinya ada lima orang.

"Heee, apa ini? Pasangan yang sudah bosan hidup?" Orang pertama yang keluar dari gang menatap Cao Zong dan Shang Xiang dengan tatapan merendahkan. Tubuhnya tidak begitu besar, tapi tidak kecil juga.

"Hei, gadisnya lumayan cantik! Bagaimana kalau kita bawa pulang!" Seru sosok kedua yang bertubuh lebih kecil dari yang pertama.

"Lalu pacarnya?" Sosok ketiga muncul, tubuhnya kira-kira sama dengan Cao Zong, hanya saja dia lebih kurus dan tidak begitu berotot. "Masa mau kita bawa pulang juga?"

"BUNUH dia, tentu saja! Apa lagi jawabannya!" Perintah sosok keempat. Tubuhnya sangat pendek, dan begitu tambun. Sampai-sampai dia kesulitan untuk bernafas.

Dan orang terakhir keluar. Tubuhnya tinggi besar, dan lebih berotot daripada Cao Zong. Diwajahnya ada luka gores dari pelipis mata hingga ke bibirnya. "Tapi jangan lupa, ambil semua uang yang dia miliki. Dan kita akan membuat gadis itu untuk mencari uang untuk kita."

"Cih, dalam mimpi kalian!" Shang Xiang langsung berlari.

"Shang Xiang, jangan!"

Satu pukulan mendarat di pipi pria pertama, ditambah sebuah tendangan memutar. Pria kedua terkena hantaman didagu dari bawah, dengan sekali pukul dia langsung tumbang. Shang Xiang menunduk untuk menghindari serangan pria ketiga, lalu menyikut perutnya hingga ia terpental jauh. Untuk pria keempat, Shang Xiang segera berlari ke belakangnya, kemudian menotok syarafnya, seketika itu juga dia pingsan.

Hanya dalam hitungan menit empat pria sudah tumbang, Shang Xiang berdiri dalam diam sambil terus mengatur nafasnya yang masih kacau karena kelelahan.

"Wah, wah! Untuk seorang perempuan, kau sangat hebat!" Puji pria terakhir yang masih berdiri. "Aku tertarik kepadamu. Bagaimana, apa kau mau menjadi pacarku? Dengan kekuatan kita berdua, kita bisa mengalahkan siapa pun yang menghalangi kita!"

"Dikalahkan oleh seorang gadis kecil, yang benar saja..." Pria pertama dan ketiga berusaha bangkit. "Tidak terimaaaa!"

"Kalian mau mati yah?" Shang Xiang mempersiapkan kuda-kuda.

Melihat pria pertama yang mengambil sebilah pisau dari balik bajunya membuat Cao Zong beraksi. Dengan satu hentakan ke tanah dia sudah loncat ke atas, lalu melakukan tendangan berputar untuk menyerang pria pertama. Shang Xiang berusaha menghindari semua serangan bertubi-tubi dari pria ketiga, dengan kordinasi yang baik, Shang Xiang dan Cao Zong menghantam pria itu bersamaan, kaki Shang Xiang mendarat diperutnya sementara tinju Cao Zong dipipi pria itu.

"Kalian berdua sangat hebat!" Pria kelima bertepuk tangan dengan meriah. "Belum pernah ada yang berhasil mengalahkan mereka berempat! Waow, kalian jago! Tapi..." Dia melemaskan semua otot tubuhnya. "Bersiap untuk kalah."

"Maaf, tapi itu kata-kata ku!" Shang Xiang berlari dengan kecepatan penuh, kemudian dia menggunakan tembok sebagai pijakan untuk meloncat dan menendang kepala pria itu. Tapi tidak terjadi apa-apa, Shang Xiang yakin kalau dia sudah memindahkan seluruh berat tubuhnya ke kaki sebelumnya. "Ke, kenapa..."

Dia tertawa. "Apakah ini serangan terbaikmu? Au, geli," dengan satu tangan dia menepis kaki Shang Xiang, membuat gadis berambut pendek itu terpelanting.

"Kau!" Sekarang giliran Cao Zong yang menyerang. Semua tinju dan tendangan tidak berarti bagi pria itu. Semua bagian tubuh sudah hampir terkena serangan, tapi dia masih berdiri tegap. Bahkan dia belum sempat menyerang. Dalam keputus asaan, Cao Zong memejamkan matanya. "Maaf, tapi benar-benar tidak punya cara lain." Lalu ia menendang selangkangan pria itu.

Ia menjerit kesakitan hingga terjatuh sambil memegang selangkangannya. Dengan cepat Cao Zong berdiri lalu memapah Shang Xiang keluar dari gang sebelum mereka ditemukan pasukan patroli.

Setelah cukup jauh Cao Zong melepaskan rangkulannya, membiarkan Shang Xiang bersandar di kayu jembatan berwarna merah itu. Semenit kemudian Shang Xiang tertawa.

"Sehebat apa pun seorang pria, dia tetap punya kelemahan!"

Cao Zong ikut tertawa. "Tapi sungguh, itu cara yang tidak begitu terhormat untuk menang. Mau bagaimana lagi, aku tidak tahu cara mengalahkannya selain begitu."

Shang Xiang berhenti tertawa, kemudian berjalan menuju ke tengah jembatan diikuti oleh Cao Zong.

"Kau tadi sangat hebat, Shang Xiang. Berhasil mengalahkan empat pria hanya dalam semenit!" Puji Cao Zong.

"Kau mau tahu, kenapa aku bisa sehebat itu?"

"Karena kau memang hebat."

Shang Xiang berhenti berjalan lalu menatap Cao Zong. "Karena kau ada di sana. Bila kau ada di dekatku, aku merasa aku bisa melakukan apa pun, tidak takut terhadap apa pun." Pipi Shang Xiang memerah. "Terima kasih."

"Eh, ah...ummm..." Cao Zong hanya bisa menggaruk-garuk pipi saking gugupnya, matanya tidak berani melihat sosok Shang Xiang yang semakin mendekat. Hingga tanpa disadarinya, wajah mereka berdua sudah sangat dekat.

Baru kali ini Cao Zong melihat wajah Shang Xiang dalam jarak sepuluh senti, dagunya yang lonjong, matanya yang bersahaja, hidungnya yang mancung, dan...bibirnya yang tipis. Tanpa disadari, Cao Zong sudah mengecup bbir tersebut dengan lembut.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Suara indah permainan sebuah flute membuyarkan lamunan Cao Zong.

"Bagaimana permainanku, semakin membaik bukan, Zong?" Tanya seorang wanita yang duduk dihadapan Cao Zong.

Setengah sadar Cao Zong menyentuh bibirnya, masih hangat. Seolah apa yang terjadi barusan bukan hanya sekedar lamunan belaka.

"Hei, kau tidak sedang membayangkan yang aneh-aneh, bukan?!" Hardik wanita itu.

"Ah, maafkan saya, Lady Zhen. Permainan flute anda sangat indah tentu saja." Puji Cao Zong.

Lady Zhen tersenyum. "Aku percaya jika kau yang mengatakan. Dipuji oleh Zhuge Liang dan mendiang Lord Cao Cao sebagai salah satu pria dengan keahlian bermusik yang sangat baik."

"Mereka berdua, terlalu berlebihan," Cao Zong memberi hormat.

"Atau kau yang terlalu merendahkan diri?" Lady Zhen menatap ke arah danau, "Rui, jangan bermain terlalu jauh."

Sudah genap dua bulan sekarang semenjak kematian Cao Cao dan sebulan semenjak Cao Pi melengserkan Kaisar, Wei semakin sibuk membangun kekuatan untuk memenuhi target mereka di bawah pemimpin baru. Mengalahkan Shu dan Wu dalam waktu bersamaan. Beberapa orang yakin kalau hal itu akan sia-sia, seorang Cao Cao saja tidak mampu mengalahkan salah satu diantara mereka, bagaimana dengan Cao Pi? Mereka yang berani mengatakan hal itu langsung dihukum oleh Kaisar, tapi semua sia-sia. Penilaian itu sudah melekat dibenak banyak orang, terlebih lagi dengan aksi ekstrem yang dilakukan Cao Pi untuk menutup mulut mereka yang menyebarkan pemikiran itu.

Belakangan Lady Zhen lebih sering terlihat ditemani oleh Cao Zong dibandingkan menemani suaminya. Tapi tentunya hal ini terjadi bukan karena sebuah perasaan atau apa pun itu, tetapi kesibukan Cao Pi. Hanya saja bagi beberapa orang yang tidak mengetahui hal itu, menyebarkan gosip tidak menyenangkan di sekitar kastil, dengan hati-hati Cao Zong bertanya. "Maafkan kelancangan saya, tapi ada sesuatu yang ingin saya tanyakan."

"Dan apa itu?"

"Apa anda, baik-baik saja?" Nada suara Cao Zong dibuat serendah mungkin, sehingga hanya Lady Zhen yang bisa mendengarnya. "Pi memang sibuk mempersiapkan pasukan, namun bukan berarti dia harus melupakan permaisurinya dan..."

"Aku ini, Cao Zong, adalah istri dari seorang Kaisar. Tidak boleh terbakar cemburu kepada seorang selir hanya karena sang Kaisar lebih suka menghabiskan waktu bersamanya," Lady Zhen menatap Cao Zong dengan wajah serius. "Dari hari aku menjadi istri Cao Pi, aku sudah mengerti akan hal ini, dan memahami tugasku. Atau apakah kau tidak suka menemaniku? Jika memang begitu..." Lady Zhen berdiri.

"Tunggu, tolong maafkan kelancangan saya!" Cao Zong ikut berdiri dan tanpa disadari ia menggenggam pergelangan tangan Lady Zhen. Dengan panik ia segera melepaskannya. "Maafkan saya!"

Zhen Ji menatap lurus tepat ke manik-manik mata Cao Zong, sementara yang ditatap hanya bisa memalingkan wajahnya yang semakin memerah. Lady Zhen terkekeh. "Aku baru tahu kalau kau pemalu, Zong. Ah, seandainya aku adalah istrimu, mungkin aku sudah menciummu sekarang."

"Lady Zhen!" Seru Cao Zong dengan suara panik.

"Tenang, aku hanya bercanda." Lady Zhen tertawa. "Tapi untuk bagian aku ingin menciummu, itu tidak bercanda. Kau pria yang baik, Zong. Sungguh sangat disayangkan kau tidak lahir dalam lingkaran keluarga Cao. Sebab sekarang, keluarga Cao sedang kekurangan seorang pria yang baik hati."

Cao Zong tidak bisa berkata apa-apa.

"Rui, waktunya untuk belajar memanah, ayo kita pergi," Lady Zhen memanggil anaknya. "Terima kasih karena sudah mau meluangkan waktumu untuk menemaniku, Cao Zong. Sampai jumpa."

Setelah Zhen Ji dan Cao Rui pergi dari halaman belakang kastil Lou Yang, Cao Zong terduduk lemas di bangku yang sedari tadi ia duduki. Hatinya masih berdebar dengan kencang. Sama seperti saat ia bersama dengan Shang Xiang.


From the author's desk : Semoga deskripsi action saia gak membingungkan T^T...