Semua karakter original adalah milik KOEI sepenuhny
"Yang paling penting adalah keluarga," kata Sun Jian. Hari ini ia mengajak keluarga dan beberapa perwira Wu untuk pergi memancing di sebuah sungai. Beberapa anaknya tengah bermain di sungai, sementara Cao Zong tengah mengipas-ngipas api berada di dekat Sun Jian yang duduk di atas sebuah batu besar.
Cao Zong melayangkan pandangannya ke istri Sun Jian yang ikut bermain di sungai. "Anda berdua, pasangan yang sangat bahagia dan serasi."
Sun Jian tersenyum. "Terima kasih untuk pujianmu, Zong. Jika kau besar nanti, ingat baik-baik, keluarga adalah yang terpenting dari segalanya. Apalah arti kekuasaan dan kekuatan jika kau tidak punya pasangan untuk diajak berbagi? Keluarga untuk kau lindungi? Semua, akan terasa hampa."
"Ya, saya akan mengingat hal itu."
"Tapi kalau kau, aku yakin, keluargamu akan sangat bahagia dan makmur." Sun Jian menepuk punggung Cao Zong berkali-kali. "Yang menjadi pertanyaan adalah, siapa wanita beruntung yang akan menjadi istirmu?"
Sejurus kemudian pipi Cao Zong bersemu merah, tawa Sun Jian pecah melihat pipi anak angkatnya memeraha seperti semangka.
"Zong, aku dapat ikan besar!" Teriak Shang Xiang sembari memamerkan ikan berukuran besar yang berhasil ia tangkap.
Sun Jian menatap anak perempuannya, lalu beralih ke Cao Zong. "Nampaknya aku tahu siapa wanita beruntung itu."
"Lo, Lord Sun Jian!" Teriak Cao Zong kaget. Biasanya Cao Zong memanggil Sun Jian dengan sebutan ayah, jika tidak, itu artinya dia sedang sangat terkejut atau marah.
Sun Jian menepuk pundak Cao Zong sekali lagi. "Tidak apa-apa. Aku merasa aman jika mengetahui bahwa Shang Xiang akan menikah dengan pria sepertimu, Zong. Aku yakin kalian akan bahagia." Tatapan Sun Jian lurus ke depan, menatap anaknya yang masih sibuk mencari ikan. "Aku berharap, bisa melihat pernikahan kalian..."
"Kalian sedang membicarakan apa?" Tanya Shang Xiang yang entah dari kapan sudah berdiri di hadapan mereka berdua.
"Ah, tadi Zong..."
"TIDAK!" Dengan cepat Cao Zong memotong kalimat Sun Jian. "Tidak ada apa-apa. Mana ikanmu, biar aku bakar."
Sun Jian tersenyum geli, kemudian meninggalkan Cao Zong berdua dengan anak perempuannya.
"Apa yang kau bicarakan dengan ayah?" Bisik Shang Xiang.
Cao Zong menggeleng berkali-kali dengan cepat. "Tidak, bukan apa-apa."
"Apa dia membicarakan masalah waktu kita kabur ke festival itu lagi?"
"Tidak, beliau sudah tidak pernah membicarakan hal itu lagi."
Sun Shang Xiang bernafas lega. "Syukur lah, aku kira dia masih marah."
Rasanya tidak mungkin Sun Jian bisa marah terlalu lama dengan anak-anaknya. Lagi pula, Shang Xiang dan Cao Zong sudah menerima hukuman mereka, dan mereka sudah menyesali perbuatannya. Jadi, untuk apa diperpanjang lagi?
"Zong, usiamu sudah hampir 15..." Shang Xiang berhenti bicara, menatap Cao Zong yang sibuk membalik-balik ikan. "Apa kau akan pergi?"
Yang ditanya jadi teringat dengan perjanjiannya dengan Sun Ce dulu. Jika dia dan adiknya sudah berusia 15 tahun, mereka bebas untuk memilih apakah mereka akan tetap tinggal di sini atau pergi. Cao Fan sudah memantapkan hatinya untuk pergi dan mengabdi kepada Liu Bei. Sebetulnya alasan piknik hari ini adalah untuk membujuk Cao Fan agar tetap di Wu (ini ide Ce tentunya.), tapi nampaknya bujukan ini tidak akan berguna. Sedangkan sang kakak masih belum memilih jalan hidupnya.
"Aku, aku belum tahu..."
"Apa kau akan pergi dengan Fan?"
Cao Zong menatap adiknya yang duduk di atas dahan pohon yang berdiri kokoh di pinggir sungai. "Aku benar-benar tidak tahu... Aku juga tidak mengerti kenapa Fan mau pergi dari sini. Apa itu artinya dia tidak kerasan bersama yang lain?"
Shang Xiang tertawa. "Harusnya kau bertanya seperti itu ke adikmu, bukan ke aku. Tapi, jika kau memang ingin pergi, tidak apa," ditatapnya wajah Cao Zong lekat-lekat. "hanya saja, aku berharap, kita tidak akan pernah berjumpa sebagai musuh di sebuah pertempuran nanti."
"Ya, aku harap juga begitu..."
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Kau tetap mau pergi dari Wu, Fan?" Tanya Cao Zong setelah mereka kembali ke kastil.
"Ya, aku mau pergi." Jawab Cao Fan tanpa menatap kakaknya. "Apa kakak tidak mau pergi?"
"Untuk apa kau pergi, Fan? Apa kau tidak suka berada dalam keluarga Sun?" Cao Zong balik bertanya.
"Aku suka, kak. Tolong, jangan berkata seolah aku tidak tahu terima kasih kepada keluarga Sun!" Cao Fan meninggikan suaranya. "Diluar sana, ada orang yang ingin menghancurkan keluarga Sun. Dan seseorang harus ada yang menghentikan mereka."
"Kau bisa melakukan bersama dengan Wu! Untuk apa kau pergi mengabdi kepada Liu Bei segala?!"
Cao Fan menggeleng, kemudian menggenggam kedua tangan kakaknya. "Kedamaian, hanya Lord Liu Bei yang bisa mewujudkannya. Sementara Wu, mereka yang bisa menjaga perdamaian ini. Apa kau tidak bisa mengerti hal ini, kak?"
"Aku tidak mengerti logikamu, Fan!" Cao Zong melepaskan tangannya dari tangan adiknya. "Terserah kau kalau kau ingin pergi. Aku akan tetap di Wu. Semoga saja, kita tidak akan bertemu sebagai musuh nanti."
"Maaf, jika aku mengecewakanmu." Cao Fan berkata lirih.
"Tidak, kau tidak mengecewakanku, tapi kau menghancurkan hatiku. Dan juga hati satu-satunya keluarga yang kita miliki." Cao Zong keluar dari kamar adiknya. "Aku kira yang paling penting untukmu adalah keluarga, Fan!"
"Justru karena itu, aku harus keluar dari Wu. Agar aku bisa melindunginya dari luar."
Tidak ada jawaban apa-apa dari kakaknya.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Tiupan angin yang tiba-tiba membuat lamunan Cao Zong buyar. Dirinya masih menunggu Lady Zhen di kebun belakang istana. Biasanya saat matahari sudah mulai meninggi wanita yang selalu membawa flute itu sudah muncul dengan senyum sumringahnya dan meminta Cao Zong untuk mendengarkan permainannya sambil menemani anaknya bermain di taman sebelum memulai pelajaran memanahnya. Tapi dia belum nampak juga, padahal sekarang matahari sudah berdiri tegak di atas langit.
Apa jangan-jangan Cao Pi marah kepada istirnya karena rutinitas ini? Cao Zong mulai panik sendiri, takut Lady Zhen harus menanggung akibatnya sendirian, sementara dirinya duduk manis di kebun. Selang beberapa menit, belum ada sosok Zhen Ji dimana-mana, akhirnya Cao Zong memutuskan untuk pergi dan mencari wanita itu.
Langkahnya terhenti ketika sosk Li Dan datang menghampirinya dengan nafas tersengal-sengal. "Master Cao Zong! Saya sudah berkeliling kemana-mana untuk mencari anda!"
"Ada apa?"
"Lady Zhen! Dia...dia bunuh diri di kamarnya!"
Jantung Cao Zong seperti berhenti detik itu juga ketika mendengar pernyataan dari mulut Li Dan. Dengan cepat dia berlari ke kamar Zhen Ji yang terletak di lantai dua. Kerumunan orang terlihat di depan pintu masuknya, nafas Cao Zong tersengal-sengal, keringat membuat sekujur tubuhnya basah kuyup. Padahal dia sudah terbiasa berlari ke sana kemari dengan jarak yang lebih jauh dari jarak ini, tapi kenapa sekarang dia bisa berkeringat begitu banyak?
"Minggir!" Teriak Cao Zong. Teriakannya berhasil membuat banyak orang menyingkir dari depan pintu masuk.
Dengan perasaan gundah gulana Cao Zong berjalan masuk, langkahnya terasa berat, seolah dia sedang membawa beban di pundaknya. Tulang-tulang di tubuhnya seolah remuk, tubuhnya langsung lesu, matanya memanas, hatinya seperti disayat sebilah pisau, ditusuk, dan dihantam dengan sebuah capalut ketika melihat sosok wanita yang dibalut gaun tidur berwarna biru tua itu tergeletak di kasur dan bersimbah darah, sebuah pedang tertelak di sampingnya, penuh dengan darah. Cao Zong yang sudah berdiri di dekat kasur Zhen Ji langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan bertumpu di atas lulutnya.
"Zhen... Kau, bercanda kan...?" Tangan gemetar Cao Zong menggoyang-goyangkan tubuh Zhen Ji. "Aku mohon, bangun... Aku, aku berjanji akan mendengarkan permainan flute-mu setiap saat. Aku...aku tidak akan melamun lagi bila sedang bersamamu... Aku tidak...aku tidak akan menanyakan hal yang aneh-aneh lagi... Karena itu, Zhen...aku mohon, bangun... Demi Rui... Anakmu..." Cao Zong mengecup punggung tangan Zhne Ji bertubi-tubi, tapi tetap tidak ada reaksi. Wajah Zhen Ji terlihat begitu cantik dan sangat damai.
Cao Rui yang juga berada di dalam kamar ibunya hanya bisa berdiri dan menangis tertahan, berusaha keras agar suara tangisnya tidak menjadi-jadi. Kedua tangannya terkepal di samping. Ingusnya meleleh.
"Ada apa ini?" Suara Cao Pi terdengar. Ia sudah berdiri di belakang sosok Cao Zong. Dengan gerakan tangan ia menyuruh agar semua orang bubar, setelah tidak ada orang selain dirinya dan selir yang belakangan ini sering terlihat menempel dengan Cao Pi, dia baru bicara lagi. "Oh, Zhen bunuh diri..."
Darah Cao Zong langsung bergejolak begitu mendengar komentar datar dari suami wanita yang sudah tidak bernyawa itu. "Kau! Bisa-bisanya berkata seperti itu!" Cao Zong mencengkram pundak Cao Pi. "Kau suaminya!"
"Ya, tapi belakangan ini dia sudah sangat menyebalkan. Dia sering mengeluh ini itu. Aku kira dengan menghabiskan waktu bersamamu, dia bisa berhenti mengeluh. Ternyata tidak. Aku menyuruhnya untuk bunuh diri, tapi aku tidak menyangka jika dia akan melakukannya." Cao Pi mengucapkan hal itu tanpa beban apa pun.
"KAU! KURANG AJAAAAR!" Cao Zong hendak meninju wajah Kaisar Wei, tetapi sebuah tangan kecil menarik ujung jubahnya.
"Jangan...hentikan...paman Zong..." Kata Cao Rui disela tangisnya.
Dengan berat hati Cao Zong menurunkan tinjunya, lalu melepaskan tangannya dari pundak Cao Pi. "Kau, sungguh keterlaluan! Tega-teganya kau menyuruh istrimu sendiri, untuk bunuh diri! Apa masalahmu!"
"Saya rasa ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar, Lord Cao Zong." Sima Yi menghentikan pertengkaran saudara ini. "Apa perlu saya ingatkan, jika akan melakukan sesuatu yang mengancam Yang Mulia, anda bisa dihukum. Meski anda adalah anggota keluarga Cao sekali pun."
"Sudah, tidak apa-apa." Ucap Cao Pi. "Sima Yi, tolong urus segala keperluan untuk pemakaman Zhen." Lanjutnya dengan suara dingin.
"Baik Yang Mulia." Sima Yi memberi hormat. Setelah Cao Pi pergi, ia pun keluar dari kamar Zhen Ji.
Cao Zong bersimpuh, memeluk Cao Rui dengan erat. "Kau tidak apa-apa kan?"
"Ya, aku rasa..."
"Paman mohon, jika kau sudah dewasa nanti, jangan seperti ayahmu! Cintai istrimu, cintai wanita yang kau pilih untuk menjadi permaisurimu dengan sepenuh hati. Jaga dia selalu!" Cao Zong melepaskan pelukannya, menatap Cao Rui tepat ke manik matanya. "Berjanji kepada paman! Kau harus menjadi pria yang lebih baik dari ayahmu."
"Iya, paman. Aku janji..."
Cao Zong kembali memeluk Cao Rui dengan erat. Bila tadinya hanya Cao Zong yang memeluk Cao Rui dengan erat, sekarang anak itu sudah balik memeluk Cao Zong.
"Aku, aku tidak tahu harus berbuat apa, paman... Aku sangat kesal... Aku..aku rindu ibu..." Tangis Cao Rui akhirnya pecah, ia terisak-isak.
"Kau harus kuat, Rui. Demi ibumu...demi paman..." Cao Zong merapihkan rambut keponakannya. "Berjanji, kau harus kuat mulai dari sekarang, dan harus menjadi pria yang lebih baik dari ayahmu dan paman. Mengerti?"
Cao Rui mengangguk sambil sesenggukan.
Upacara pemakaman Zhen Ji bisa dibilang mewah, tentu saja, dia permaisuri. Jika dia tidak mendapatkan upacara yang layak, pasti Cao Zong akan mengamuk. Dia berdiri di sebelah Cao Rui sambil menggenggam tangan anak kecil itu erat-erat. Tidak akan ada lagi suara permainan flute indah yang biasanya menenami Cao Zong melewati harinya, tidak ada lagi sesosok wanita yang tertawa bersamanya, tidak ada lagi istri seorang kaisar yang meminta Cao Zong untuk menemani sang permaisuri menunggu matahari terbenam. Hari-harinya akan berbeda mulai sekarang, sama seperti ketika ia kehilang Cao Cao yang selalu mengajaknya berburu di akhir pekan.
Semua sudah berbeda, tetapi bumi terus berputar. Kekacauan tidak berhenti hanya karena seorang kaisar kehilang permaisurinya, atau seorang anak kehilangan ibunya. Hidup terus berlanjut, meski ada yang berbeda dari hari sebelumnya.
Saia dapet ide untuk bikin cerita ini dari fic dengan judul Dignity karya Fragments of Light (makasih banyaaaak) yang mengisahkan sosok Zhen Ji ketika Cao Pi menyuruhnya untuk bunuh diri. Hiks, entah kenapa saia jadi sebel sama Cao Pi T^T, kok dy tega yah nyuruh istriny bunuh diri?
