Terima kasih atas review dari para pembaca ^^
You make my day!
.
Arvisha : Terima kasih masukannya, Arv, ga nyadar ternyata kebikin dua versi nama gitu. Hehe... Typo di chapter sebelumnya sudah kuedit. Ke depannya aku mau konsisten pakai 'Kohza', sebagaimana tulisan nama si karakter ini di komik versi Indonesia ;)
Nanoki : Oooh.. mungkin karena kami rada mirip itu ya, makanya aku jadi suka banget sama Vivi, Nan. Mudah2an dapet suami yg seperti Kohza juga. #eaaa...
AR-021 : Reaallyyy? Kena ya romance-nya? Aku bacanya sampe malu2 sendiri loh Sha. Hehehe... Masukannya buat bikin pengenalan sifat karakter utama bagus banget, ntar tak edit chappie sebelum ini. Kalo gaya bahasanya ke-Sumatera2-an maap deh.. Saya kan orang Sumatera :D. Kalo mau baca versi Ingrisnya gampang kok, tinggal copy-paste ke google translator (tadi baru nyoba). Lumayan cakeplah hasilnya, hihihi..
.
Selanjutnya, akan ada perubahan sudut pandang di chapter ini, yaitu dari Vivi di chapter sebelumnya, ke Kohza. Mari kita lihat apa yang terjadi sebelumnya...
Disclaimer: One Piece bukan punya saya tapi punya Eichiro Oda,,!
Chapter 2
"Awal Masalah"
.
.
Beberapa jam sebelumnya, Kohza berkumpul dengan empat orang teman dekatnya di dalam Clock Tower, menara jam raksasa yang berdiri gagah di sebelah timur Alubarna. Tepat dibalik posisi lingkaran jam besar itu terdapat satu ruangan yang pernah dijadikan markas rahasia Klan Suna-Suna pimpinan Kohza saat kecil. Sekarang tempat itu kadang-kadang masih digunakan oleh Kohza dan teman-teman masa kecilnya untuk mengadakan pertemuan penting.
"Ini track record-nya".
Sebuah map berisikan berkas riwayat jual-beli yang dilakukan oleh seseorang dilempar ke hadapan Kohza dan beberapa temannya. Mereka sedang duduk membentuk lingkaran di lantai dengan penerangan seadanya. Kohza mengambil salah satu dari lembaran berkas itu dan mengamatinya dengan cermat.
"Bagus, Erik", Kohza mendongak dan tersenyum menatap teman di hadapannya, "Urusan mendapatkan informasi rahasia di pasar gelap memang kau yang paling ahli".
Erik, pemuda berambut gondrong berwarna salem yang baru saja dipuji oleh Kohza tertawa bangga sambil memencet hidungnya, "Kau tahu kan kau bisa mengandalkanku!", serunya dengan wajah yang berseri-seri.
"Berarti ada kemungkinan Maser, bandit ini, akan melakukan transaksi gelap dengan memperdagangkan komoditas langka Arabasta!", ujar Kebi, salah seorang teman Kohza. Kebi adalah seorang pemuda yang agak kurus berambut hitam panjang dan dikuncir. Dia mengenakan goggles besar di kepalanya. Dialah sahabat laki-laki terdekat Kohza.
"Ya, bisa jadi". Kohza berpikir sejenak, "Dari data ini bisa kita simpulkan bahwa Maser memang cukup terkenal di kalangan pedagang gelap. Dia mencuri barang langka di suatu daerah lalu memperjualbelikannya di pasar gelap. Bisa jadi dia juga akan melakukan hal yang sama di musim perdagangan di Alubarna saat ini".
"Barang langka..." Erik berpikir sambil menggaruk-garuk jenggot tipisnya, lalu terdiam. Dia menatap Kohza, "Apa kau memikirkan apa yang kupikirkan, Leader?"
Mereka berlima saling berpandangan dengan muka yang menjadi lebih tegang, lalu berseru hampir berbarengan, "Dance Powder!"
"Oh tidak, jangan sampai bubuk itu jatuh ke tangan yang salah. Kita tidak tahu apa tujuan penggunanya memakainya. Meskipun bubuk itu dimiliki istana, tapi Baginda Raja tidak pernah mempergunakannya.", ucap Okame, satu-satunya wanita yang ada di sana, cemas. "Jangan sampai tragedi dua tahun lalu terulang lagi di kerajaan ini, atau di kerajaan lain".
Para lelaki di sana mengangguk. Mereka sependapat dengan Okame. Dance Powder adalah bubuk dari perak yang dapat digunakan untuk membuat hujan buatan di suatu daerah. Meskipun kegunaannya sangat bagus bagi daerah yang kekurangan air, tetapi berbahaya karena berdampak pada menurunnya kelembapan udara pada daerah di sekitarnya. Bubuk ini dimanfaatkan secara diam-diam oleh Crocodile selama tiga tahun untuk mengadu domba rakyat dan pihak istana Arabasta sehingga pecahlah perang saudara yang memakan banyak korban jiwa dua tahun yang lalu.
"Apa yang harus kita lakukan, Kohza? Hal ini masih jadi dugaan bagi kita, tapi jika benar akan terjadi, haruskah kita laporkan pada Igaram secepatnya?", tanya Kebi. Igaram adalah pemimpin pertahanan Arabasta.
Kohza berpikir sejenak, "Akan kucoba mendiskusikan ini dengan Chaka dulu. Setidaknya ada kepala keamanan Arabasta yang sudah mengetahui ini dan bisa waspada. Kalau langsung kuberitahukan ke Igaram, sebagai atasan Chaka, aku rasa masalah ini akan jadi sangat besar. Sebaiknya kita tidak membuat panik rakyat dan para pedagang yang sedang menantikan Pekan Raya Alubarna."
Kebi mengangguk-angguk setuju. Chaka adalah salah satu dari dua kepala keamanan Kerajaan Arabasta yang dibawahi oleh Igaram. Selain dengan Putri Vivi, tokoh berpengaruh di istana yang paling dekat dengan Kohza adalah Chaka. Chakalah yang melatih Kohza bertarung dan menggunakan pedang saat dia masih kecil.
"Kalau begitu akan kucoba menemuinya malam ini. Dan satu hal lagi," Kohza menatap keempat teman akrabnya ini satu per satu. "Saat ini banyak pendatang dari kerajaan tetangga yang memenuhi Alubarna. Aku yakin si bandit Maser tidak akan datang sendiri, tetapi membawa orang-orangnya." Kohza melanjutkan, "Kita tidak tahu yang mana orang-orang Maser di antara sekian banyak pendatang. Jadi sebaiknya kita menyebar ke beberapa titik untuk mengenali orang-orang asing yang mencurigakan."
"Kebi, Okame, kalian pegang wilayah selatan ibukota. Pintu gerbang utama Alubarna ada di lokasi ini. Pendatang baru pasti banyak yang mencari penginapan di wilayah selatan."
Kedua kakak beradik ini menyahut, "Siap, Leader!"
"Erik, kau di wilayah timur."
"Roger!"
"Farfara, kau di daerah tengah."
Farfara, satu-satunya orang yang tidak bersuara dari tadi, mengangguk.
"Dan aku akan mengawasi wilayah sebelah barat." Kohza membungkukkan punggungnya. "Tempat terbaik untuk mencari informasi adalah di kedai-kedai atau cafe yang sering dikunjungi orang asing. Mintalah tolong kepada teman kita yang lain untuk menambah bala bantuan."
Keempat sahabat Kohza setuju. Mereka kemudian membubarkan diri dan bersiap untuk melakukan misi rahasia ini.
.
.
Itulah yang membuat Kohza ada di salah satu kedai di wilayah tepi barat ibukota Alubarna. Setelah mencurigai dua orang pemuda yang dia ketahui bernama Braso dan Raso di kedai itu, dia berniat membuntuti mereka. Tetapi di saat bersamaan ternyata Vivi melewati kedai tua itu hanya berdua dengan Carue saat sudah mendekati tengah malam. Kohza yang merasakan munculnya niat buruk dari Braso dan Raso terhadap sang putri sahabat masa kecilnya itu akhirnya mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk mengantarkan Vivi pulang ke istana.
"Hei, Leader", Kohza melirik ke arah Vivi. "Apa kau sering ke kedai itu malam hari begini?", tanya si putri.
"Tidak", Kohza terus berjalan. "Kebetulan saja ke sana."
"Hmm... Bukankah itu kedai yang lumayan sepi... Dan suka didatangi oleh orang asing?"
"Benar. Tadi aku habis menyelesaikan tugas di daerah sekitar sana, makanya aku mampir di kedai itu".
"Kau sendiri", Kohza mendelik ke arah Vivi, "Bisa tidak kalau keluar istana itu tahu waktu? Kalau terjadi sesuatu denganmu seluruh kerajaan akan gempar!", ucapnya sewot.
Vivi mengernyit kaget dan menarik tangannya dari lengan baju Kohza, "I, iya...", dia menghela nafas. "Aku juga menyesal pulang selarut ini..."
"Bagus kalau begitu, Tuan Putri", Kohza mendengus. Dia lalu menarik tangan Vivi dan kini dia yang menggenggamnya dengan erat. "Kalau Igaram melihat kita, pasti aku yang akan dituduhnya sudah mengajakmu pergi hingga larut malam"
Koza terus memandang ke depan sehingga tidak melihat pipi Vivi memerah. Tapi dia mendengar tawa kecil Vivi.
"Igaram tidak sejahat itu kok, dia 'kan memang pencemas"
Mereka lalu melanjutkan perjalanan tanpa berkata-kata. Keduanya saling menikmati keheningan yang ada di antara mereka. Hanya mendengarkan langkah kaki mereka berdua, serta langkah kaki Carue di belakang.
Saat hening itulah, Kohza mendengar ada suara gesekan semak-semak tidak jauh dari mereka, dari sebelah kiri belakang Vivi . Kohza berhenti berjalan dan menoleh ke arah semak yang ia curigai mengeluarkan bunyi tadi.
"Ada apa?", tanya Vivi berbalik melihat Kohza, lalu memalingkan kepalanya ke arah yang dilihat Kohza.
"KWAK!" Carue berseru lalu berlari cepat ke arah semak yang dimaksud. "Carue!", panggil Vivi. Tampaknya Carue memiliki kecurigaan yang sama dengan Kohza. Dia mengepak-kepakkan kedua sayapnya berusaha menakut-nakuti siapa pun yang sedang bersembunyi di semak setinggi pinggang manusia itu.
"Sial-bebeknya mengganggu!"
"Ssstt! Ayo!"
Terdengar omelan orang-orang yang tak dikenal, dan suara berisik dari gesekan daun-daun di semak-semak. Tak lama tampak punggung dua orang yang berlari sekuat tenaga menjauh dari semak di dekat Carue.
"KWAK! KWAK!" Carue berteriak kesal.
Kohza berlari berusaha mengejar kedua orang itu. Mengabaikan panggilan cemas Vivi di belakangnya. Tetapi ternyata lari kedua orang itu begitu cepat. Dari penerangan yang ada Kohza dapat melihat bahwa salah satu orang yang tadinya bersembunyi di semak-semak itu memiliki rambut hitam panjang yang diikat. Kemudian Kohza melihat pantulan sinar diantara semak-semak itu. Dia berjalan mendekat, berjongkok, lalu memungut benda yang memantulkan cahaya tersebut. Benda itu adalah sebuah botol kaca pendek dengan logo minuman yang dia lihat beberapa waktu lalu di kedai.
"Hmh... Kalian berdua rupanya...", gumam Kohza pelan.
Kohza merasakan bahunya disentuh lalu dicengkeram. Dia menoleh dan menemukan bahwa Vivilah pemilik tangan itu. Mata birunya menunjukkan perasaan cemas, panik, dan sedikit ketakutan.
"Apa itu? Mereka... Mereka siapa? Apa yang kau pungut?", tanyanya tidak tentu arah.
Kohza memandang Vivi sejenak. Dia lalu berdiri dan menunjukkan botol minuman keras di tangannya.
"Ini, botol minuman yang dijual di kedai tadi.", Vivi mengamati botol kaca di tangan Kohza itu."Tampaknya ada yang berniat tidak baik padamu setelah melihatmu berjalan sendirian di kedai tadi, Vivi..."
Vivi ngeri membayangkan apa yang bisa terjadi padanya kalau tidak ada Carue... Dan Kohza.
"Kau tahu siapa mereka? ...Kau.. Jangan-jangan kau mengawasi mereka di kedai tadi, Kohza?", tebak Vivi dengan jitu.
Kohza meletakkan sebelah tangannya di bahu Vivi. "Kita masih tidak tahu apa tujuan mereka. Apakah tadi itu tindakan mendadak karena mereka melihat ada kesempatan... Atau..." Kohza terdiam sejenak, tampak enggan melanjutkan ucapannya "...karena mereka sudah punya rencana untuk mengincarmu". Kohza merutuk di dalam hati karena kata-katanya itu membuat wajah Vivi semakin cemas dan takut.
"Ayo kuantar kau pulang. Aku sekalian mau membahas ini pada Chaka.", Kohza membalikkan badan Vivi dan mendorongnya untuk melanjutkan perjalanan ke istana. Vivi menurut saja, tetapi masih bertanya-tanya di dalam hati. Kedua tangannya dia dekapkan di depan dada. Carue berjalan pelan menyusul keduanya.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju istana yang telah tampak tidak jauh dari sana dengan pikirannya masing-masing.
