=Juliet is My Romeo=

Summary : Sasuke, leader boy band yang mulai meredup di Konoha harus menyamar sebagai seorang perempuan dan tinggal di asrama putri demi kelangsungan karier boybandnya. SasuSaku.

Warnings : OOC, AU

Disclaimer : Masashi Kishimoto



Chapter 3



"Pen....hhmmmmmppppp... mmmppp... mmmmppp...hhhhh..."

Sakura berontak saat tangan itu menutup mulutnya dan mengunci tubuhnya dari belakang. "Hhmmmmmppppp... mmmppp...hhhhh..." Sakura mengerahkan seluruh tenaganya, tapi sia-sa. Tangan itu semakin kuat mencengkram tubuhmya. "Hhmmmmmppppp... mmmppp...hhhhh..." Sakura mneginjak kaki Sasuke.

"Ssssshhhh..." desis Sasuke kesakitan. Cengkraman Sasuke pun mengendur. Sakura segera mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri. Tapi secepat kilat tangan itu kembali membungkam mulutnya dan meraih tubuh Sakura, membawa tubuh Sakura kembali ke dekapannya. Dan kejadian itu terjadi begitu cepat, namun menimbulkan efek yang begitu lama.

Siiiiiiiiinnnnng...

Keduanya terdiam. Mematung. Membeku. Dengan posisi yang masih sama. Tangan kiri Sasuke membekap mulut Sakura, sedangkan tangan kanannya (tidak sengaja) menempel di dada kanan Sakura.

Deg deg deg deg...

Detak jantung mereka terdengar di tengah kesunyian malam. Mereka bisa saling mendengar suara detak jantung masing-masing.

"Aww!!!" Sasuke melepas Sakura saat Sakura yang sudah sadar(?) menyikut perutnya dari depan.

"Mesum!!!" Sakura berbalik dan mendorong tubuh Sasuke saat mereka berhadapan. Akan tetapi sekali lagi Sasuke meraih tubuh Sakura dan mendekapnya.

"Diam, bodoh!" perintah Sasuke.

"Lepas!!" Sakura meronta.

"Diam! Kalau kita ketahuan dalam keadaan seperti ini, kau tahu akibatnya?" Sasuke menggertak.

Seketika Sakura terdiam. 'Benar juga apa yang dipikirkan maling sialan itu,' pikirnya. 'Aku bisa dikeluarkan dari sekolah kalau ketahuan sedang berduaan dengan laki-laki mesum ini. Apalagi di dalam gudang ini. Di tengah malam sepeti ini. Dalam pose seperti... eh?'

"Lepas, mesum!!!" teriak Sakura marah, menyadari saat ini dirinya masih berada dalam dekapan Sasuke.

"Aku bilang di-am, bodoh," Sasuke berbisik lirih di telinga Sakura. Membuat sekujur tubuh gadis itu merinding.

"Tapi lepaskan aku dulu," desis Sakura.

"Oh?" Sasuke mengangkat kedua tangannya, tapi tetap berada di posisi semula.

"Minggir!" Sakura mendorong tubuh Sasuke. Sasuke yang kaget refleks mencari pegangan. Sasuke kembali meraih tubuh Sakura. Namun kali ini, karena tidak ada keseimbangan tubuh, Sasuke terjatuh. Rasa sakit tidak hanya dirasakan di bagian belakang tubuhnya, tapi juga tubuh bagian depannya karena hempasan tubuh Sakura yang ikut jatuh menindihnya. Satu lagi bagian tubuh Sasuke yang terasa perih yang menyebabkan sekujur tubuhnya merasakan sensasi aneh. Bibir Sasuke.

-

-

-

-

-

Sakura tidak tahu apa yang terjadi. Yang diketahuinya sekarang adalah bahwa tubuhnya telah menindih maling mesum yang tadi didorongnya. Dan bibirnya menempel pada bibir maling mesum itu.

Sejenak Sakura dapat merasakan perasaan aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya saat bibirnya bertemu dengan bibir lembut itu. Begitu pula kehangatan dari tubuh yang mendekapnya.

Deg deg deg deg deg deg...

Jantung Sakura berpacu dengan sangat cepat. 'Sebenarnya aku ini kenapa? Maling sialan ini siapa? Kenapa hanya menyentuh bibirnya saja aku... ng? Bibir?'

"Gyaaaaaaaa...." Sakura bangkit. Kemudian menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, sadar teriakannya bisa membuat orang curiga. Selain itu dia juga menyesali apa yang tadi telah terjadi. Ciuman pertamanya telah direbut maling mesum yang belum pernah ditemuinya.

-

-

-

-

-

Sasuke perlahan bangkit setelah Sakura yang tadi menindihnya menjauh darinya. Dengan rintihan tertahan karena sakit di tubuhnya, Sasuke duduk bersandar pada tembok gudang. Sekejap dilihatnya Sakura sedang duduk bersimpuh tidak jauh darinya. Kedua tangannya menutup mulutnya.

Sasuke sendiri sebenarnya merasa kaget dengan kejadian tadi. Walaupun tidak disengaja, tapi kejadian tadi adalah yang pertama baginya. Memang dia seorang artis, tapi dia tidak seperti Sai yang selalu berganti pacar tiap minggu.

Wajahnya panas mengingat apa yang tadi dirasakannya. Bibir lembut itu. Rasanya manis. Saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Sakura entah mengapa saat itu Sasuke berharap waktu berhenti. Apa Sai merasakan hal yang sama saat berciuman dengan pacar-pacarnya? Apa Naruto juga merasakannya saat dia mencium sepupu Neji, Hinata yang pendiam itu? Atau hanya karena ini yang pertama?

Sekali lagi Sasuke melirik Sakura. Gadis itu masih bersimpuh dengan kedua tangan di mulutnya. 'Apa dia shock? Apa ini juga yang pertama baginya? Tidak-tidak. Ini kecelakaan. Ini tidak bisa dihitung,' batin Sasuke.

"Hei!" Sasuke memanggil Sakura.

"Ng?" gadis itu menoleh.

"Yang tadi itu...." Sasuke merasa wajahnya panas. "Yang tadi itu hanya kecelakaan. Jadi..."

"Ya. Kau benar!" Sakura berdiri. "Yang tadi itu hanya kecelakaan. Tidak masuk hitungan. Aku akan melupakannya."

"Bagus kalau begitu!" Sasuke menyetujui. Tapi entah kenapa ada rasa sesak di hatinya saat mendengar jawaban Sakura.

"Sekarang aku mau kembali ke kamarku. Kau jangan pernah kembali ke sini lagi dan mengulang perbuatanmu atau aku akan melaporkanmu, maling." Sakura berjalan ke arah pintu.

"Aku bukan maling!" Sasuke membela diri. "Eh? Apa tadi kau bilang? Kembali ke kamar? Kau tidak dengar tadi penjaga mengunci pintu gudang ini?"

"Kau pkir aku bodoh? Aku punya kuncinya. Aku kan ketua asrama!" sesaat Sakura terdiam. "Eh?" Sakura terperanjat. "Maling siaaaaaallll!!!" maki Sakura.

"Apa lagi? Mana kuncinya?"

"Jatuh waktu kau membekapku," jawab Sakura ketus.

"Jadi?"

"Kita di sini sampai pagi. Sampai petugas gudang datang dan membuka gudang ini."

-

-

-

-

-

Sementara itu di Sabaku Mansion Gaara yang kecapekan merebahkan diri di kasur empuknya. Saat ini jam 2 pagi dan Gaara baru saja menyelesaikan shooting video klip terbarunya.

Gaara merasa lelah hidup seperti ini. Walau kiprahnya di dunia entertainment masih terbilang baru, tapi jadwal manggungnya sangat padat. Sampai-sampai Gaara tidak punya waktu untuk istirahat. Manager sekaligus kakaknya, Kankuro, juga selalu menerima semua job yang ditawarkan padanya. "Jangan lewatkan kesempatan!" katanya.

Di saat seperti ini hanya satu yang Gaara inginkan. Seseorang yang bisa dijadikannya sandaran, tempatnya berkeluh kesah, dan penghibur sedih hatinya. Ingin rasanya Gaara memiliki seorang pacar. Sesosok gadis anggun, yang membuat lelahnya lenyap hanya dengan melihat senyum gadis itu. Sesosok gadis yang bisa membuat hatinya terikat. Sayang, sosok itu belum pernah ditemuinya sampai sekarang.

Hingga saat ini Gaara belum pernah merasakan jatuh cinta. Banyak wanita cantik di sekelilingya. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang sanggup membuat hatinya berdesir. Belum ada satu pun dari mereka yang membuat hatinya terikat. Belum. Belum pernah sama sekali.

Tok tok tok...

"Masuk!" perintah Gaara begitu mendengar pintu kamarnya diketuk.

"Ada tawaran bagus untukmu, Gaara." Kankuro masuk membawa sebuah novel tebal berjudul Julliet is My Romeo.

'Hhhh... lagi-lagi,' batin Gaara kesal. "Apa lagi kali ini?" tanya Gaara pada Kankuro.

"Sebuah film yang akan diproduksi berdasarkan novel ini," Kankuro memberikan novel yang dibawanya pada Gaara.

"Jelaskan!" Gaara bangkit dan duduk di ranjangnya.

"Toko utama film ini adalah Ueda. Seorang mata-mata sekaligus pemain kabuki. Dia mendapat tugas memata-matai seorang bangsawan kaya. Demi tugasnya dia harus menyamar menjadi seorang pelayan di rumah bangsawan itu. Tapi pada akhirnya Ueda malah jatuh hati pada putri tunggal si bangsawan."

"Jangan khawatir... aku pasti akan mendapat peran itu."

"Aku tidak berpikir begitu," ucap Kankuro serius. "Ueda di film ini harus menyamar sebagai pelayan wanita yang melayani sang putri. Jadi nantinya kau akan berakting sebagai Ueda yang menjadi perempuan. Bagaimana menurutmu?"

"Menarik. Peran yang menantang. Tapi mungkin akan sulit bagiku saat harus akting mejadi pelayan wanita. Kau tahu kan? Aku tidak punya pengalaman sedikitpun tentang wanita."

"Tenang. Semua sudah aku siapkan. Yayasan yang dikelola Kak Temari menjadi sponsor utama sebuah asrama putri di Konoha. Kau bisa datang berkunjung ke sana beberapa kali. Dengan kemampuan pengamatanmu itu, aku yakin kau bisa dengan mudah mempelajari gerak-gerik wanita hanya dalam tiga atau empat kali kunjungan."

"Baiklah. Akan kucoba. Kapan aku harus ke sana?"

"Pagi ini. Saat penghuni asrama berangkat ke sekolah. Kau harus melihatnya"

-

-

-

-

-

Pukul lima pagi. Fajar mulai menyingsing. Cahaya bulan telah berganti cahaya matahari. Langkah-langkah kaki mulai terdengar mendekat ke arah gudang. Sasuke yang tertidur mulai terbangun. Perlahan Sasuke membuka matanya yanga terasa berat. Rasanya tadi malam adalah malam terpanjang dalam hidupnya. 'Hah... gara-gara ketua asrama bodoh itu,' batin Sasuke. 'Ng? Dimana gadis itu sekarang?'

Sasuke membuka matanya lebar-lebar, mencari sosok berambut pink yang menjadi sumber kesialannya. Betapa terkejutnya Sasuke saat mendapati gadis yang dicarinya berada dalam pelukannya. Seketika pikirannya melayang mengingat kembali apa yang sudah terjadi tadi malam.

Sasuke dan Sakura duduk berjauhan. Masing-masing bersandar pada dinding gudang yang lembab. "Dingin..." ucap Sakura tiba-tiba.

"Hn. Kau ke sini saja. Di sini lebih hangat."

"Tidak mau. Kau kan maling mesum. Kau pasti mau ambil kesempatan."

"Mesum? Hhhh... Bukankah tadi itu ke-ti-dak-se-nga-ja-an? Dan harus berapa kali kukatakan? Aku bukan maling."

"Lalu kenapa kau masuk asrama ini? Mengendap-endap, berusaha membuaka jendela, dan akhirnya membekapku di sini?"

"Bukan urusanmu."

"Selama tidak ada alasan jelas, aku tetap menganggapmu maling."

"Teruslah mengoceh dan kau akan mati kedinginan. Berbahagialah bisa menjadi penunggu gudang ini."

"Diam! Jangan sebut hal itu!" Sakura yang takut pada hantu segera mendekat pada Sasuke.

"Oh...kau takut hantu ya?"

"Aku bilang diam!!!"

Sasuke tersenyum mengingat kejadian tadi malam. Ketua asrama yang tidur nyenyak di pelukannya ini ternyata orang yang takut hantu. "Aku tahu kelemahanmu sekarang, bodoh!" Sasuke menyeringai.

Sasuke mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke gudang. Perlahan Sasuke melepas pelukannya. Tangan Sakura yang awalnya menempel pada dada Sasuke kini diletakkan di perut Sakura. Setelah 'terbebas' sepenuhnya dari tubuh Sakura, Sasuke berdiri dan mengambil sebuah kursi yang kemudian diletakannya di dekat tubuh Sakura agar tubuh Sakura tidak terlihat kalau nanti ada orang yang datang. Dia sendiri kini bersembunyi di balik tumpukan meja.

Cekreeeek...

Pintu dibuka. Sasuke bisa melihat seorang lelaki mengambil peralatan olah raga. "Hari ini voli," ucap laki-laki itu. Tak lama laki-laki itu keluar sambil membawa net serta bola voli. Namun karena kedua tangannya sibuk membawa barang-barang itu, dia membiarkan pintu gudang terbuka.

Sasuke menunggu sebentar. Memastikan orang tadi sudah menjauh dari gudang. Setelah yakin, Sasuke keluar dari gudang. Sasuke memandang berkeling. Matanya sibuk mencari sesuatu. "Dapat!" ucapnya senang. Sasuke menunduk dan mengambil kumpulan kunci yang disatukan dalam lingkaran besar. "Ini akan berguna," ucapnya sambil mengantongi kunci-kunci itu.

-

-

-

-

-

Sakura berjalan gontai menuju kamarnya. Capek. Hanya itu yang dia rasakan. Dalam hati Sakura mengutuki maling mesum sialan yang telah merebut ciuman pertamanya dan seenak udelnya meninggalkan Sakura yang tertidur di gudang sendirian.

Sakura membuka kamar. Ranjangnya masih berantakan. Sementara ranjang di sebelahnya sudah tertata rapi. "Gawat! Yuri sudah bangun. Aku harus mencari alasan."

Saat Sakura sibuk memikirkan alasan yang tepat, pintu kamar mandi dibuka. Munculah Yuri dengan seragamnya sambil menenteng tas. Mungkin tas yang berisi peralatan mandi. Yang membuat Sakura merasa aneh adalah scraft yang melingkar di lehernya.

"Kau sudah bangun Yuri."

"Ya. Dari mana saja kau?" suaranya sangat halus.

"Ng... tadi.. aku... aku... ng... patroli. Ya. Patroli pagi. Hanya ingin mengawasi keadaan asrama," jawab Sakura. Tidak sepenuhnya bohong.

"Oh.. kau rajin. Aku bangun jam empat kau sudah tidak ada." Yuri tersenyum. Senyum yang aneh menurut Sakura. Seperti...

"Ah, iya. Aku tidak bisa tidur, jadi..." Sakura harus mengubah topik pembicaraan kalau tidak mau ketahuan. "Oh iya, Yuri. Kenapa kau pakai scraft?"

"Oh... ada luka di leherku. Jadi kalau tidak memakai kaos yang bisa menutupi leherku, aku memakai scraft."

"Oh... maaf..."

"Tidak apa. Kau tidak mandi? Sekarang sudah jam tujuh." Yuri menunjuk jam dinding."

"Gyaaaaaaaaaaaaaa.... Yuri tunggu aku!!!!" Sakura panik.

-

-

-

-

-

Gaara memarkir mobilnya di tempat yang menurutnya strategis. Beberapa meter dari pintu gerbang Sekolah Putri Konoha. Sekarang sudah jam tujuh dan Gaara hanya memandang murid-murid yang berdatangan masuk ke gerbang sekolah.

"Hhhhhh..." Gaara mendesah bosan. 'Hanya begitu ya rutinitas gadis-gadis ini?' pikirnya. Diliriknya Kankuro yang duduk di sebelahnya. Sibuk menjawab telepon dari para produser.

"Tidak ada yang menarik. Jadi perempuan itu, tinggal memakai baju perempuan dan bertingkah laku seperti mereka saja kan?" tanya Gaara pada Kankuro.

"Kau harus bisa mengerti perasaan mereka. Itu yang penting." Kankuro mematikan ponselnya. "Kau harus mendapatkan feel itu."

-

-

-

-

-

"Ayo Yuri!!! Cepat!!!" Sakura menarik tangan Yuri.

Sasuke menggerutu. Kenapa dia harus ikut terlambat gara-gara gadis pink bodoh itu? Dengan wajah kesal dan langkah yang ogah-ogahan Sasuke berjalan. Tangannya ditarik oleh Sakura.

'Sudah merebut ciuman pertamaku. Sekarang seenak JIDATnya menarik tanganku,' pikir Sasuke kesal. Saat itu juga entah kenapa wajahnya menjadi merah. 'Sial. Aku kan sudah memutuskan tidak menghitungnya dan tidak akan pernah memikirkannya lagi.'

Saat melewati sebuah mobil Mercedes merah yang terparkir tidak jauh dari pintu gerbang, Sasuke merasakan sesuatu yang aneh. Perasaannya tidak enak. Seketika Sasuke menoleh ke arah mobil itu. 'Seperti kenal mobil ini,' pikirnya.

"Yuri!!! Ayo cepat!!! Kita telat!!!"

"Iya. Sakura."

-

-

-

-

-

Gaara tengah memandang hampa ke jalan yang kosong. Bel sekolah telah berbunyi beberapa saat yang lalu. Kankuro sudah siap menyalakan mesin mobil saat Gaara mendengar suara itu.

"Ayo Yuri!!! Cepat!!!" seorang gadis berambut pink sebahu menarik seorang gadis berambut hitam panjang sepunggung. Saat itu juga rasanya ada yang berkecambuk dalam dada Gaara. Belum pernah Gaara merasakan perasaan ini sebelumnya. Rasanya gadis itu telah mengikatnya. Membawanya dalam suatu gejolak yang penuh dengan sensasi dasyat. Gaara memegang dadanya. Jantungnya berdegup sangat cepat. Darahnya berdesir saat melihat gadis itu. Perasaan ini... apakah mungkin?

"Yuri!!! Ayo cepat!!! Kita telat!!!"

"Iya. Sakura."

Gaara tersenyum. "Sepertinya aku belum mendapat feel itu. Bolehkah aku sering-sering ke tampat ini agar bisa mendapatkan'nya'?" tanyanya pada Kankuro.

"Tentu. Aku akan mengurusnya. Yang penting kau bisa mendapatkan peran itu."

"Bagus. Karena aku sudah memutuskan untuk mendapatkan'nya'." Gaara tersenyum penuh arti. Sedangkan pandangannya tertuju pada kedua gadis itu.

-

-

-

to be continued...



Ao : yang pendek kan fictnya. Bukan authornya. Bweeee!!!

Riscle-coe : Hehehe... iya. Saya memang jarang update. Xd.

Naru-mania : pertanyaan Naru-chan sudah terjawab di chap ini (sebagian) xd.

Dark Mangetsu-Kasumi. Ayui Bobomiya. Hikari 'Sakura' Sakuragi.

Green YupiCandy Chan. Black Card. Ao (ggggrrrrrhhhh....).

UchiHAruno Sasusaku. Riscle-coe. Princess Mikaia. Intan SasuSaku.

Sora Chand. Uchiha Evans. Boba Biru Tua. Naru-mania. Haruchi Nigiyama. pick-a-doo. Akabara Hikari. shyoanytha lawliet.

Terima kasih sudah berkenan mereview..

*bow*