Juliet is My Romeo
Summary : Sasuke, leader boy band terkenal di Konoha harus menyamar sebagai seorang perempuan dan tinggal di asrama putri demi tuntutan peran. SasuSaku.
Warnings : OOC, AU
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Chapter 4
Sasuke memasuki kelas barunya. Semerbak aroma parfum yang khas bercampur menjadi satu di dalamnya. Kelas ini nampak begitu terang. Sinar matahari leluasa memasuki ruangan ini melalui jendela-jendela yang sengaja dibuka selebar mungkin. Angin yang semilir sesekali berhembus perlahan membelai para gadis, penghuninya. Di dinding belakang kelas nampak papan tulis besar yang penuh dengan tempelan jadwal-jadwal, susunan pengurus kelas, pengumuman-pengumuman, beberapa artikel dari majalah atau koran, foto-foto dan hiasan-hiasan yang mempercantik papan tulis itu. Selebihnya sama dengan kebanyakan ruang kelas yang lain. Deretan meja dan kursi murid, papan tulis besar yang bertabur debu kapur di dinding depan, meja guru dengan vas beserta bunganya, dan penghuni kelas yang berasyik masyik dengan kegiatan yang dilakoninya.
Seorang gadis berambut pirang panjang memandang Sakura yang baru saja datang dan berdiri terengah-engah di samping Sasuke. Gadis itu tersenyum simpul kemudian bertanya, "Tumben jam segini kau baru datang, Sakura?"
"Ah, iya. Hah hah. Aku bangun kesiangan, Ino. Hah hah," jawab Sakura masih dengan nafas terengah.
"Hei, siapa gadis cantik ini?" celetuk seorang gadis oriental dengan dua cepol di kepalanya.
"Ini Yuri, Tenten. Teman baru kita," Sakura menjawab.
"Wah, cantik sekali kau Yuri," Tenten berjalan menghampiri Sasuke. "Kita berteman ya, Yuri," Tenten mengulurkan tangannya dan tersenyum dengan begitu manis.
"Hei, hei! Nanti saja kenalannya." Belum sempat Sasuke membalas uluran tangan Tenten, lengkingan suara seorang wanita terdengar dari belakang Sasuke dan Sakura. Sontak, Sasuke menoleh. Seorang guru wanita muda berambut hitam pendek dengan kaca mata mungil membingkai mata indahnya berdiri di depan pintu kelas. Tangan kirinya membawa beberapa buku dan map berisi kertas-kertas sementara tangan kanannya menenteng tas hitam yang senada dengan setelan rok dan blazernya.
"Miss Shizune ini kenapa tepat waktu sekali sih?" gumam Tenten yang beranjak menuju tempat duduknya.
"Memang seharusnya begitu kan?" wanita serba hitam itu kini melangkah memasuki kelas. Sakura menarik tangan Sasuke dan membawanya menuju tempat duduk yang ada di deretan paling belakang kelas. Sasuke segera duduk di sana. Sementara Sakura menuju tempat duduk di pojok belakang kelas, dekat jendela yang ada di samping tempat duduk Sasuke.
"Baiklah," Miss Shizune berdiri di samping meja guru. Kakinya disilangkan dan satu tangannya bertumpu pada meja. "Sebelum kita mulai pelajaran bahasa Inggris hari ini, kita beri kesempatan murid baru di kelas kita ini untuk memperkenalkan diri."
Seluruh isi kelas bersorak sorai dan melempar pandangan ke arah Sasuke. Sasuke benci hal ini. Suasana ini benar-benar berbeda dengan apa yang biasa dihadapinya, dielu-elukan di atas panggung. Saat dia di atas panggung semua gadis menjerit histeris melihat wajah tampannya dan mendengar suaranya yang indah. Sekarang? Semua gadis memandanginya dan berbisik betapa cantiknya dia. Beberapa bahkan mendengus iri melihatnya. 'Perempuan memang mengesalkan,' Sasuke memutar bola matanya. Mau tidak mau dia harus ke depan kelas dan memperkenalkan diri. Perlahan dengan langkah yang sengaja dipelankan, sengaja dianggunkan, Sasuke menapaki lantai kelas yang keras itu. Sasuke merasa waktu berputar begitu lamban. Benar-benar terasa begitu lama hingga dia berhenti di depan kelas dan memutar badan membelakangi papan tulis yang gagah menempel di depan kelas. "Selamat pagi. Saya Yuri. Senang bertemu dengan kalian. Semoga kita bisa berteman baik." Sasuke menambahkan senyum termanisnya sebagai sentuhan akhir. Dan benar saja, gadis-gadis di depannya ini meraung riuh menyuarakan namanya. 'Perempuan. Menjengkelkan,' batin Sasuke.
-.,-
Perjuangan itu tidak ada yang tidak berat. Sama seperti yang dilakukan oleh Sasuke kali ini. Demi anggota East lainnya, Sasuke harus melewati hari-hari membosankan di sekolah putri ini. Bayangkan saja, Sasuke harus mengulang pelajaran yang sudah tiga tahun dipelajarinya. Sasuke yang berstatus sebagai mahasiswa ini sudah hafal, fasih dan tahu betul pelajaran yang sedari tadi dijelaskan guru-guru di depan kelas seharian ini.
Siksaan lain bagi Sasuke adalah mendekam dalam kelas yang penuh aroma bermacam-macam parfum tajam bercampur aroma keringat yang samar. Oh, Tuhan. Bagi Sasuke, aroma kamar Naruto yang berantakan itu sekarang jauh lebih menyenangkan daripada ini. Ditambah suara teriakan, lengkingan dan celotehan gadis-gadis dalam masa puber yang bahkan Sasuke sendiri tidak tahu apa isi pembicaraan mereka.
Setiap penderitaan pasti akan berakhir. Begitu pun dengan penderitaan Sasuke. Bel tanda pulang sekolah telah berdering. Sasuke menghela nafas lega. Diliriknya sesosok gadis di sampingnya, Sakura. Gadis itu tengah berkemas-kemas. Senyum cerah memancar dari bibir mungilnya. Bibir yang merah dengan lapisan lipglos tipis berwarna pink. Bibir itu terlihat begitu lembut dan... Olalala! Sasuke pernah merasakan kelembutannya. Sedetik kemudian, Sasuke menelan ludah. Detik berikutnya dia menggelengkan kepalanya. 'Apa yang kau pikirkan, Sasuke?' pikir Sasuke memperingatkan dirinya sendiri.
"Hei, Yuri. Apa kau mau melihat-lihat sekolah kita dulu?" Sakura yang telah selesai berkemas menoleh ke arah Sasuke sembari tersenyum lembut.
"Hn. Ide bagus," gumamnya pelan. Tidak sadar dirinya berbicara sebagai Sasuke.
"Apa, Yuri? Aku tidak bisa mendengarmu." Jelas saja. Gadis-gadis di kelas itu kembali riuh setelah guru terakhir yang mengajar hari ini melangkah keluar kelas.
"Tentu saja, Sakura." Sasuke mengatur suaranya. Kembali berperan sebagai Yuri. "Kalau tidak merepotkanmu," imbuhnya dengan senyum menyunging di bibir.
"Tentu saja tidak."
Keduanya pun berjalan melewati koridor demi koridor, kelas demi kelas, ruangan demi ruangan. Semua kelas nampak sama dari luar. Hanya papan nama di atas pintu yang membedakan satu dengan yang lainnya. Ruang-ruang lain pun tidak jauh berbeda. Hanya ruang musik yang berada sedikit jauh dari bagunan utama sekolah yang nampak sedikit berbeda. Entah mengapa ruangan itu tempak begitu mengagumkan bahkan dari luar. Dengan lukisan not-not balok dan tuts-tuts piano menghiasi dinding.
"Hei, kenapa ruang musik ini terlihat berbeda?" tanya Sasuke ketika melewati ruangan itu.
"Ini...hmm..." Sakura terlihat gusar. "Nanti saja aku jelaskan." Sakura pun menarik tangan Sasuke dan berjalan cepat menuju gerbang sekolah.
'Mencurigakan,' batin Sasuke melihat tingkah teman sekamar barunya ini. Meskipun melihat keganjilan dari gadis yang masih menggenggam tangannya itu, Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu. Mungkin saja gadis pink itu punya alasan. Dan Sasuke menduga alasan itu~
"Tempat itu berhantu, Yuri." Sakura berbisik di telinga Sasuke ketika telah sampai di depan pintu gerbang sekolahnya.
Bravo! Tebakan Sasuke tidak meleset. Kelemahan Sakura adalah ketakutannya pada hantu. Sasuke menyungingkan senyum kecilnya demi mendengar penjelasan Sakura.
Genggaman tangan Sakura pada Sasuke semakin erat. Bibir Sakura semakin mendekat ke telinga Sasuke. "Kau jangan bilang siapa-siapa. Pihak sekolah sengaja menghias ruangan itu agar tidak terlihat menyeramkan." Sakura menghela nafas. Hembusan nafasnya yang terasa hangat itu menerpa tengkuk Sasuke, membuat Sasuke bergidik dibuatnya. "Semacam kamuflase," imbuh Sakura.
"Bagaimana kau tahu?" Sasuke bertanya dengan volume normal, masih dengan suara ala Yuri.
"Penjaga sekolah yang memberi tahuku. Menurutnya, di ruang itu pernah ada seorang siswi yang bunuh diri."
"Penjaga sekolah?" Sasuke menyergitkan dahi.
"Iya." Sakura mengangguk yakin. "Dan kau tahu? Di asrama kita juga ada bangunan yang sama."
"Benarkah?"
"Ya. Ada di bagian belakang asrama." Lagi-lagi Sakura menghela nafas. "Sudahlah Yuri, kita kembali ke asrama saja yuk." Sakura kembali menarik tangan Sasuke. Sasuke memutar bola matanya, merasa heran mengapa sang gadis tidak pernah membiarkan tangan Sasuke lepas dari gengamannya. Sasuke memandangi jari-jari mungil yang menggenggam tangannya itu. Lentik, kuat namun terlihat rapuh. Rapuh. Hmm... Mungkin seharusnya Sasuke yang menggenggam tangan itu, untuk melindungi jari-jari rapuh itu.
'Tidak-tidak!' Sasuke menggelengkan kepala. 'Genggangaman tangan ini bukan apa-apa. Dia hanya lawan mainku saja dalam sandiwara ini. Aku Yuri, dia Sakura. Saat ini kami teman sekamar dan tidak lebih dari itu,' batin Sasuke menyakinkan diri. 'Saat ini...'
-.,-
Naruto, Sai dan Neji berada di ruang latihan. Dinding ruangan itu dipenuhi dengan cermin sehingga terlihat begitu luas. Hanya satu sisi dinding yang tidak ditutupi cermin, hanya tulisan 'EAST' yang besar menghiasinya. Sai duduk bersandar pada dinding tersebut memeluk gitar akustik yang sengaja dibawanya. Jari-jari tangannya leluasa membelai senar-senar gitar. Musik beralunan lembut mengema di ruangan itu. Neji duduk bersila di lantai, dekat dengan Neji. Tangan kanannya menopang dagu, sementara tangan kirinya mengetuk-ngetuk lantai seirama musik yang dimainkan Sai. Di depannya terdapat secarik kertas dengan coretan-coretan not-not balok menghiasinya, berdampingan dengan sebuah pensil kayu yang tergelak begitu anggun. Naruto duduk berjauhan menghadap ke salah satu dinding yang dilapisi cermin, menatap pantulan wajahnya sendiri. Naruto tersenyum mengagumi masterpiece karya Ilahi yang begitu mempesona itu. Ya, wajahnya sendiri. Naruto memang sedikit, hmm... mungkin lebih banyak dari sedikit, narsis.
Teyot teyot teblung~~ Lalalaaaa~
Jreeeeeeeeeng!
Suara senar-senar gitar yang disuarakan secara acak dengan luapan kemarahan membahana di ruangan itu.
"Sudah berapa kali aku bilang? Matikan ponselmu saat aku sedang membuat lagu!" Sai meletakkan gitar kesayangannya.
"Apa kau tidak punya ringtone yang lebih bagus dari teyot teblung itu, Naruto?" Neji melotot marah.
Naruto yang menjadi sumber keangkaramurkaan Sai dan Neji malah duduk mematung memandangi layar ponselnya. Matanya dikerjap-kerjapkan. Merasa belum puas, Naruto mengucek-ucek matanya.
Melihat tingkah Naruto yang ganjil, Neji dan Sai saling pandang. Tanpa aba-aba keduanya beranjak mendekati Naruto, menundukkan badan agar bisa melihat layar ponsel Naruto. Terlihat jelas nama Sasuke di layar atas ponsel pintar itu. Mata Sai dan Neji perlahan turun ke bawah demi melihat pesan yang membuat Naruto terpaku.
'SOS! Datang ke asramaku malam ini. Hanya Naruto yang masuk.'
-.,-
Sasuke berbaring di kasur barunya yang keras. Di telinganya terpasang headphone berukuran besar yang tersambung dengan i-pod di genggamannya. Kakinya disilangkan dan bergoyang-goyang seirama dengan musik yang didengarkannya. Salah satu lagu cinta ciptaan Sai yang East nyanyikan mengema di telinga Sasuke. 'Hah~ lagu ini membosankan. Heran saja banyak yang suka lagu ini,' keluhnya dalam hati. Tanpa perlu melihat i-pod dalam genggamannya, Sasuke mengganti lagu cinta itu dengan lagu berikutnya yang ada di playlist. Kali ini lagu dengan irama beat up bernuansa pemberontakan diri. Ya, ini salah satu lagu East ciptaannya. Sai spesialis lagu cinta dan Sasuke lebih suka menciptakan lagu bertema pencarian jati diri, pemberontakan diri dan kritik.
Pintu kamar 111 terbuka. Seorang gadis berdendang kecil memasuki kamar itu. Sang gadis melirik Sasuke yang berbaring di kasur. 'Kau tidak mandi, Yuri?' tanyanya lembut pada Sasuke.
Sasuke masih bisa mendengar suara lembut gadis di hadapannya itu meski irama lagunya berderap-derap kencang di telinganya. 'Sudah,' jawabnya singkat.
"Baiklah, kalau begitu sekarang giliranku." Sakura bergegas mengambil peralatan mandi dan baju ganti, kemudian dengan langkah riang memasuki kamar mandi kecil yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur Sasuke.
Sasuke memutar bola matanya. Sikap teman sekamarnya ini benar-benar berbeda padanya ketika dia menjadi dirinya sendiri dan ketika dirinya menjadi Yuri. Di depan Yuri, Sakura begitu lembut, ramah, riang, bersahabat dan selalu bersikap seolah-olah dialah pelindung Yuri. Di sisi lain, Sakura pernah menyebutkan tidak menyukai East, terutama leadernya. Siapa lagi kalau bukan Sasuke, dirinya sendiri? Belum lagi kejadian tadi malam. Sakura begitu galak padanya, berteriak dan menyebutnya maling. Kalau dipikir-pikir, sekarang ini Sasuke punya tiga identitas di mata Sakura. Yuri, teman sekamar yang disukainya. Sasuke, leader boy band yang tidak disukainya. Dan seorang penyusup yang dibencinya. Benci. Hmm... mungkin memang seperti itu, mengingat Sasuke telah mencuri ciumannya.
"Fyuu~" Sasuke menghela nafas. Lagi-lagi kelembutan bibir itu kembali menguasai pikirannya. Entah sihir apa yang telah membuat Sasuke menjadi seperti ini. Belum pernah sekali pun dia merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Bahkan ketika Naruto bercerita mengenai ciuman pertamanya dengan Hinata, Sasuke hanya memutar bola mata. Begitu juga ketika Sai menceritakan detil petualangan cintanya dengan berbagai macam gadis yang mendekat padanya.
Sasuke beranjak dari tempat tidurnya. Rasa gerah menyelimutinya ketika teringat cerita-cerita Sai dengan para gadisnya. Sasuke melangkah menuju jendela kamar yang berada di atara tempat tidurnya dan tempat tidur Sakura. Dibukanya perlahan jendela itu hingga semilir angin malam menghampirinya. Sejuk. Cukup menyejukan hatinya dan membuatnya berpikir jernih. "Sai tidak akan pernah kuijinkan bertemu dengan Sakura. Terlalu berbahaya," gumamnya.
"Kau kepanasan, Yuri?" suara ceria Sakura mengagetkan Sasuke yang masih berdiri di depan jendela.
"Ya." Sasuke menoleh ke arah si empunya suara ceria itu. Sebuah keputusan yang segera disesali Sasuke. Bagaimana tidak? Berdiri di depan pintu kamar mandi, Sakura yang hanya menggunakan tank top warna pink dan hot pants jeansnya. Dua tangannya menggosok-gosokan handuk berwarna senada dengan tank topnya pada rambutnya yang masih basah. Aroma wangi shampo yang khas menggelitik hidung Sasuke. 'Sial!' batin Sasuke mengutuki keputusannya untuk menoleh pada Sakura. Perlahan, dengan senatural mungkin, Sasuke kembali menatap ke luar jendela. Memandang ke hamparan rerumputan hijau yang hanya disinari cahaya bulan.
"Sebaiknya jangan kau buka jendela kamar kita kalau malam hari." Sakura melangkah perlahan menuju ke arah tempat tidurnya. "Belakangan ini ada penyusup." Sakura duduk menyilangkan kaki di atas tempat tidurnya. Aroma shampo semakin tajam mengelitik hidung Sasuke. "Terlalu berbahaya," sambung Sakura.
"Jangan khawatir. Aku bisa karate," Sasuke menjawab asal, masih memandang ke luar jendela.
"Benarkah?" Sakura terdengar antusias. "Wah, aku tidak menyangka. Kau begitu feminin dan cantik. Aku pikir kau ini malah seorang model, melihat postur tubuhnya yang begitu tinggi ini."
"Ayah dan ibuku tinggi." Lagi-lagi Sasuke berimprovisasi.
"Beruntung sekali kau ini, Yuri."
"Begitulah." Sasuke beranjak menuju tempat tidurnya. Hanya ingin menyamarkan aroma shampo Sakura yang mengelitik itu.
"Kau sudah mau tidur ya, Yuri?"
"Ya." Sebenarnya tidak. Tapi mungkin itu ide yang bagus untuk Sasuke. Dari pada tersiksa dengan keberadaan gadis pink yang sedari tadi mengganggu mentalnya ini.
"Kau benar-benar tidak menutup jendela."
"Tidak akan ada apa-apa," Sasuke meyakinkan.
"Tapi penyusup itu begitu mesum. Aku takut..." Sakura tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Mesum? Bagaimana kau tahu?" Sasuke memutar bola matanya. Demi apapun, dia bukan sosok mesum. Belum pernah dia menjamah apapun dari siapapun. Kecuali...
"Karena maling itu sudah menc..." Sakura segera menutup mulutnya.
Oh! Baiklah. Tidak perlu diteruskan lagi kalimat itu. Sasuke sudah bisa menebaknya. Dan tebakannya ini sukses membuat kedua pipinya bersemu merah. Sasuke melirik Sakura, hanya ingin memastikan reaksi gadis itu. Semburat merah menghiasi pipi putihnya yang halus itu.
"Tidak perlu khawatir."
"Baiklah, aku percaya padamu." Semburat merah di pipi Sakura sudah memudar. "Tapi kau harus janji padaku untuk menghajar orang itu kalau kau bertemu dengannya."
"Kalau bertemu orang itu~" janji Sasuke.
-.,-
Jam di i-phone Sasuke menunjukkan pukul 11.23 malam. Sasuke melirik gadis yang terlelap di atas tempat tidur di sampingnya. Gadis itu terlihat begitu nyenyak dengan guling di pelukannya. Sasuke bangkit dari tempat tidurnya dengan perlahan, berusaha meminimalisir suara. Hal pertama yang dilakukannya begitu dapat berdiri bebas di samping tempat tidur adalah memastikan bahwa Sakura benar-benar tertidur lelap. Digoyang-goyangkan tangan Sasuke di atas kedua mata Sakura yang terpejam. Tidak ada reaksi. Aman.
Sasuke segera menuju lemari pakaiannya. Mengambil celana jeans dan kaos polo favoritnya. Dengan cekatan, Sasuke mengganti pakaian perempuan yang sedari tadi dikenakannya dengan pakaian yang baru diambilnya itu. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Dan Sasuke merasa lebih nyaman dengan jeans dan kaosnya ini.
Begitu selesai dengan pakaiannya, Sasuke melakukan ritual. Melepas wig. Menata guling dan wig sedemikian rupa, kemudian menyelimuti guling itu dengan selimut tebalnya. Sempurna. Guling itu sekarang terlihat seperti Sasuke yang tidur meringkuk di bawah selimut.
Selesai dengan ritual barunya, Sasuke membuka laci meja belajarnya yang terletak di antara lemari dan tempat tidur dari sisi menyamping. Dengan sangat hati-hati, Sasuke mengambil segerombol kunci yang berada di dalamnya. Ya. Kunci yang dipungutnya di dekat pintu gudang. Kunci-kunci duplikat seluruh pintu yang ada di asrama ini. Sasuke tersenyum puas begitu mendapatkannya. Kembali Sasuke melangkahkan kakinya tanpa bersuara. Kali ini menuju ke jendela kamar. Begitu sampai di depan jendela kamar Sasuke segera melompat. Dengan sekali gerakan, Sasuke sudah berada di luar jendela.
Sasuke melihat layar i-phonenya. Membuka layanan pesan, menulis pesan dan menekan tombol send dengan senyum mengembang di bibirnya. "Dengan begini semua akan terasa lebih mudah," gumam Sasuke percaya diri.
-.,-
Sasuke tengah duduk di kursi taman yang senyap. Lampu-lampu taman telah dimatikan, hanya beberapa lampu kecil yang menyala, menemani cahaya bulan menyinari sekelilingnya. Udara dingin membelai tubuh Sasuke yang hanya mengenakan celana jeans dan kaos polo favoritnya.
Derap langkah terdengar dari kejauhan. Langkah yang santai. Langkah yang tidak asing di telinga Sasuke. Sasuke tersenyum mendengar suara langkah itu.
"Woi!" Voila! Naruto datang dengan senyum lebarnya yang khas.
"Sendiri?"
"Mereka di luar. Mengurus penjaga. Seperti perintahmu. Hanya aku yang masuk." Naruto duduk di samping Sasuke. "Jadi bagaimana aku menolongmu?"
Sasuke menyerahkan kunci-kunci yang tadi dikantonginya. "Duplikat kunci-kunci ini. Secepatnya."
"Hanya ini?"
"Dan selidiki rumor ruang musik yang berhantu di asrama."
"Haha... Kau takut hantu Sasuke?"
"Mana mungkin." Sasuke melotot. "Aku hanya memastikan."
"Tidak-tidak. Hantu atau apapun sejenisnya tidak ada di sini. Nenekku lebih menakutkan dari hantu. Tidak ada yang berani padanya."
Sasuke mengangguk. "Dan kirim gitarku ke asrama ini. Pastikan gitarku masuk ke ruang musik."
"Lalu?"
"Buat rumor kalau gitar ini gitar kutukan."
"Kau licik, Sasuke." Naruto terkekeh. "Ada lagi?"
"Cukup."
"Hei, Sasuke. Bagaimana rasanya tinggal di asrama perempuan? Apa kau sudah mengalami kemajuan?"
Kemajuan? Entahlah. Tapi sampai detik ini tidak ada yang curiga padanya. Bahkan Sakura, teman sekamarnya. Malahan Sakura begitu bersahabat dengannya. Sakura begitu baik padanya. Sakura... ' Hentikan, Sasuke! Jangan mulai lagi!' batin Sasuke memperingatkan dirinya.
Melihat tingkah ganjil Sasuke, Naruto merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tingkah ini tidak asing baginya. Seakan de javu. Naruto pernah mengalaminya. Tapi kapan?
"Jangan khawatir!" Sasuke membuyarkan lamunan Naruto.
"Baiklah. Aku urus ini semua. Kau kembali saja ke kamarmu."
"Hn." Sasuke bangkit dari duduknya. "Sampai jumpa!" Sasuke meninggalkan Naruto sendirian di taman asrama yang sunyi itu.
Sasuke melangkahkan kakinya dengan mantab menyusuri jalan setapak yang gelap menuju kembali ke kamarnya. Untung saja para penjaga asrama sudah diurus Sai dan Neji di luar sana. Sasuke membayangkan tingkah konyol apa yang dilakukan kedua rekannya itu utuk mengecoh penjaga. Mungkinkah mengajak mereka bertanding catur seperti saat mereka mengecoh penjaga asrama East dulu? Entahlah. Bisa jadi. Mengingat Neji begitu mahir memainkan catur.
Entah karena perasaan Sasuke yang senang atau karena tidak ada penjaga yang membuatnya tenang, tanpa Sasuke sadari dirinya telah sampai di dekat jendela kamarnya yang terbuka. Tanpa pikir panjang, Sasuke segera memanjat jendela itu dan melompat ke dalam kamar. Buk! Lompatan Sasuke ke dalam kamarnya menimbulkan suara yang cukup keras. Sasuke berdiri mematung di tempatnya. Entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak. Sasuke segera menoleh ke arah tempat tidur Sakura. Berharap teman sekamarnya ini tidak terusik suara lompatannya.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sakura terduduk di atas ranjang dengan guling masih dalam pelukannya. Dengan mata yang setengah terpejam, Sakura memandang ke sekeliling. Dan~
"Kau lagi?!" mata Sakura terbelalak.
:)to be continued(:
