Juliet is My Romeo
Summary : Sasuke, leader boy band terkenal di Konoha harus menyamar sebagai seorang perempuan dan tinggal di asrama putri demi tuntutan peran. SasuSaku.
Warnings : OOC, AU
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Chapter 5
Malam bertabur bintang. Gaara berdiri di balkon kamarnya. Badannya menyandar pada dinding, dua tangannya bersedekap. Wajahnya mendongkak, memandang pancaran bintang-bintang di langit. Sesekali Gaara tersenyum. Entah mengapa bintang-bintang yang bersinar di langit itu mengingatkan Gaara pada mata seorang gadis yang ditemuinya di sebuah sekolah putri. Dan herannya semenjak pertemuan itu, tidak sedetikpun bayangan sang gadis berpindah dari otaknya.
Gadis berambut hitam panjang. Dengan tubuhnya yang indah dan menjulang tinggi. Gadis itu bahkan lebih tinggi dari teman-temannya yang lain. Apakah dia seorang model? Hmm... mungkin saja. Gadis itu nampak begitu fashionable dengan scraf biru yang menghiasi lehernya. Yuri. Gaara ingat betul ketika salah seorang murid memanggil nama sang gadis. Yuri.
Gaara menghela nafas. Sudah lama rasanya Gaara ingin merasakan perasaan seperti ini. Jatuh cinta. Sudah lama Gaara merasa iri pada para pencipta lagu-lagu yang dibawakannya. Bagaimana mereka bisa membuat nada yang begitu indah dengan lirik yang cantik? Cinta jawab mereka. Dan Gaara hanya bisa mengutuki hatinya yang belum pernah sekalipun merasakan perasaan itu.
Nyatanya jatuh cinta itu memang indah. Semua hal yang bisa ditangkap indranya kini menjadi lebih bermakna. Tidak pernah sebelumnya Gaara merasa bintang-bintang di langit itu begitu indah. Tidak pernah sebelumnya Gaara merasa aroma udara malam begitu menyegarkan. Tidak pernah sebelumnya Gaara merasa daun-daun yang saling bersinggungan begitu lembut mengalunkan alunan nada, menenangkan jiwa. Tidak pernah sebelumnya Gaara merasa angin malam begitu lembut membelainya.
Gaara menghela nafas. Yuri. Hanya gadis itu yang bisa membuat Gaara merasakan semua itu. Yuri. Gaara tersenyum. "Kau pembuka pintu jiwaku."
-.,-
Sasuke berdiri terpaku. Sakura yang terduduk di atas ranjang dengan guling masih dalam pelukan membelalakkan mata melihatnya berdiri di depan jendela. Angin dari luar jendela menerpa rambut pendek hitam Sasuke.
"Kau lagi?!" Sakura melempar guling di pelukannya ke arah Sasuke. Refleks, Sasuke menangkapnya. Jantung Sasuke berdesir. Bukan karena takut ketahuan atau apa. Wangi aroma tubuh Sakura menyeruak dari guling yang kini di dekapnya. "Mesum!" Kali ini Sakura melempar bantal. Dan kali ini Sasuke yang tidak berkonsentrasi tidak bisa menghindar. Gulingl yang dilempar Sakura sukses mengenai kepala Sasuke.
Sakura beranjak dari tempat tidurnya. Mata Sakura tertuju pada seseorang yang terbaring meringkuk dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Yuri. Dengan bantuan teman sekamarnya ini Sakura berharap bisa menangkap laki-laki penyusup yang kini berdiri di hadapannya.
Sasuke memperhartikan gerak-gerik Sakura. Ketika mata Sakura tertuju pada susunan bantal dan guling yang ditutupi selimut di atas ranjangnya, Sasuke seakan tahu langkah apa yang akan diambil Sakura. Benar saja. Sakura berjalan cepat menuju ranjangnya. Akan tetapi, tangan Sasuke lebih cepat bergerak. Hanya dengan sekali gerakan, tubuh Sakura yang berjalan melewatinya itu sudah ada dalam rengkuhannya. Sasuke telah menarik tangan gadis itu dan merengkuhnya dari belakang. Tangan Sasuke melingkari pinggang Sakura. Mengunci tangan Sakura dalam posisi memeluknya dari belakang.
"Lepas!" Sakura meronta. Berusaha menarik-narik tangannya agar terlepas dari genggaman Sasuke.
"Diamlah! Aku tidak akan menyakitimu." Sasuke mencoba menenangkan Sakura dengan suara aslinya.
"Tidak! Kau penipu! Kau pencuri!" Sakura kembali berontak. Kini kaki Sakura ikut berperan, menghentak-hentak mencoba menginjak kaki Sasuke. Sayang, Sasuke selalu sigap menghindar. "Yuri! Yuuu...hmm.." Sasuke membekap mulut Sakura dengan satu tangannya ketika gadis itu meneriakan nama Yuri. Fatal, gerakan Sasuke ini melemahkan kunciannya pada tangan Sakura. Sakura tanpa pikir panjang menyodokkan sikunya pada perut Sasuke.
"Akh!" Sasuke mengerang kesakitan. Refleks, Sasuke melepas tubuh Sakura. Kesempatan ini pun tidak disia-siakan Sakura, Sakura segera menjauh dari Sasuke. Kembali mencoba menuju ranjang Yuri. Berusaha membangunkan teman sekamarnya itu.
"Sial!" umpat Sasuke. Sasuke tidak mau dan tidak bisa menyerah. Sasuke melangkahkan kakinya, berusaha menangkap kembali Sakura. Tangan Sasuke terulur siap menangkap tangan Sakura, namun Sakura menghempaskan tangan Sasuke. Sasuke pun mempercepat langkahnya. Berlari kecil mendahului Sakura. Begitu tepat berada di depan Sakura, Sasuke berbalik dan menghentikan langkah Sakura. Kembali Sasuke menarik tangan Sakura. Sakura pun lagi-lagi menghempas tangan Sasuke. "Apa sih maumu?!" teriak Sakura kesal. Tidak ada cara lain! Sasuke sekali lagi meraih tangan Sakura, merengkuh tubuhnya dan mendekapnya. Kali ini lebih bertenaga dari sebelumnya. Tidak hanya itu, Sasuke kini mengangkat tubuh Sakura dan dalam sekali hentakan tubuh Sakura sudah menopang pada bahu kiri Sasuke.
"Lepas!" Sakura kembali meronta. Memukul-mukulkan tangannya pada punggung Sasuke dan menjejak-jejakan kakinya pada perut Sasuke. Sasuke mulai geram. Tangan kirinya menangkap kedua tangan Sakura. Tangan kanannya membelunggu dua kaki indah Sakura. Kini Sakura tidak bisa berbuat apa-apa selain berteriak. "Yuri!"
Sasuke segera melangkah. Kembali menuju jendela yang kini masih terbuka. Sasuke mempercepat langkahnya. Gadis yang tengah dipanggulnya masih saja memberi perlawanan. Benar-benar merepotkan.
Begitu sampai di ambang jendela, Sasuke segera melompat melewatinya. Tentu saja Sasuke tidak melalaikan keselamatan Sakura. Sasuke berusaha sedemikian rupa sehingga tubuh Sakura tidak terkena kusen jendela. Sasuke tidak mau menyakiti gadis pink itu.
"Lepas!" Sakura kembali meronta ketika kaki Sasuke sudah menapaki tanah. Suara Sakura terdengar begitu keras di halaman belakang asrama itu.
"Diamlah!" Sasuke perlahan menurunkan tubuh Sakura ke tanah. Begitu kaki Sakura menapaki tanah, gadis pink itu melangkah menjauh dari Sasuke. Rupanya gerakan kecil itu terlihat oleh Sasuke. Kembali diraihnya tubuh gadis itu ke dalam rengkuhannya. "Sudah kubilang. Kooperatiflah."
"Apa sih maumu?" Sakura mendorong tubuh Sasuke yang kini memeluknya.
"Aku hanya ingin kau diam."
"Tidak! Tidak akan kubiarkan kau!" Sakura masih bersikeras melepas pelukan Sasuke. "Keselamatan teman-temanku adalah tanggung jawabku."
"Dan aku tidak berniat mengganggu kalian."
"Lalu apa?"
"Ini tidak ada hubungannya denganmu." Sasuke meraih pergelangan tangan Sakura.
"Kau benar-benar mencurigakan." Sakura menatap mata Sasuke. "Aku tidak percaya padamu."
"Aku tidak memerlukan kepercayaanmu. Kau cukup membiarkanku."
"Tidak bisa!" Sakura mengertak. "Tolooooong!" Sakura berteriak.
"Diam!" Sasuke mengeratkan genggamannya pada pergelangan tangan Sakura.
"Tidak!" Sakura menyeringai. Dari kejauhan mulai terdengar suara derap langkah kaki. 'Pasti para penjaga,' batin Sakura senang. "Toloong!" Sakura kembali berteriak.
"Sial!" Sasuke mengumpat kesal. Sungguh, gadis ini benar-benar keras kepala.
"Kau akan habis!" Sakura tersenyum mengejek Sasuke. "Too..hmmmp!" Sakura tidak bisa menyelesaikan teriakannya. Sasuke sudah kehilangan kesabaran. Bibir Sakura yang sedari tadi mengeluarkan teriakan-teriakan itu telah dikunci rapat-rapat oleh Sasuke. Hanya mengunci. Ya, hanya mengunci. Tidak ada maksud lain. Sasuke hanya ingin membuat bibir itu terbungkam. Dan hanya bibirnya yang bisa mengunci bibir Sakura. Tangan dan kaki Sasuke sibuk mengunci anggota tubuh Sakura yang lain.
Sakura tersentak. Ini ciuman keduanya. Dilakukan oleh orang yang sama. Sakura benar-benar merasa sial. Ciumannya, bibirnya yang begitu berharga diambil paksa oleh seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Seorang maling. Seorang penyusup yang mesum. Seorang kriminal. "Hmmmp... hmppp...!" Sakura meronta. Memukul-mukul tubuh Sasuke dengan satu tangannya yang bebas.
Hanya mengunci. Itu niat awal Sasuke. Tapi entah dari mana datangnya bisikan setan itu. Otak Sasuke mulai kacau. Hati Sasuke mulai bergetar. Dan tubuh Sasuke mulai bergejolak. Bibir gadis itu begitu lembut. Mengundang Sasuke untuk menggerakkan bibirnya. 'Oh, baiklah. Aku menyerah. Sudah terlanjur basah, sekalian saja,' batin Sasuke. Dan setelah keputusan itu dibuat, maka eksekusi segera dilaksanakan. Dan begitulah. Yang terjadi, terjadilah. Sasuke menutup matanya dan mulai menggerakan bibirnya menikmati bibir lembut gadis dalam dekapannya itu.
Mata Sakura terbelalak ketika Sasuke mulai menutup mata dan menggerakkan bibir lembutnya. Hei! Sakura kembali meronta. Kembali memukul-mukul tubuh Sasuke. Bahkan lebih keras dari sebelumnya. Namun semua usahanya seakan sia-sia. Tubuh kokoh yang mendekapnya itu benar-benar tidak bergeming.
Sakura mulai kelelahan dengan usahanya. Gadis itu mulai putus asa. Pukulan-pukulannya melemah. Pertahananya mulai melemah. Dan entah mengapa hatinya pun mulai ikut melemah. Bibir laki-laki yang tengah menyapu bibirnya dengan lembut itu telah membuat tubuhnya bergetar. Seakan bibir laki-laki itu menghantarkan aliran listrik yang kini mulai menjalari tubuhnya. Dan entah bagaimana bibir Sakura mulai begerak pelan mengimbangi bibir laki-laki itu.
Tubuh Sasuke seakan melayang ketika bibir lembut gadis dalam dekapannya itu mulai bergerak pelan. Sasuke yang terlalu senang mempererat dekapannya pada tubuh sang gadis. Sapuan bibirnya pun bergerak lebih intens. Tangan Sasuke yang semula menggenggam erat tangan Sakura kini telah berpindah ke dagu sang gadis. Memposisikan wajah sang gadis agar pas dengan wajahnya. Sasuke semakin menikmati momen ini.
Sakura mulai terengah. Sapuan laki-laki asing ini sudah tidak bisa diimbanginya lagi. Hal ini membuatnya kesulitan untuk bernafas. Ditambah dekapan sang lelaki pada tubuhnya. Rasanya Sakura benar-benar harus melepas kan bibir laki-laki ini. Sakura benar-benar membutuhkan oksigen kali ini.
Sakura mencoba. Tapi apa daya, Sasuke terlalu asik dengan kegiatannya. Bahkan ketika Sakura mulai memukul-mukul tubuh Sasuke pun, Sasuke tetap mengacuhkan gerakan tangannya. Sasuke hanya kembali menggenggam pergelangan tangannya. Sakura benar-benar sudah di ambang batas. Kepalanya mulai terasa pusing. Badannya mulai melemas. Dan... kesadarannya pun mulai menghilang.
-.,-
"Tolooong!"
Naruto yang tengah duduk di taman asrama mendengar teriakan itu. Langsung saja cucu pemilik sekolah itu mendatangi arah suara. Naruto merasa bertanggung jawab atas keamanan penghuni sekolah neneknya ini.
"Tolooooong!"
Suara itu kembali terdengar. Naruto mempercepat langkahnya. Khawatir sesuatu terjadi pada seseorang yang tengah berteriak itu.
"Tooo..."
Suara teriakan itu terputus. Naruto semakin khawatir. Naruto berlari ke arah suara. Rupanya di sekitar halaman belakang asrama. Tanpa berlama-lama lagi Naruto berlari ke arah halaman belakang asrama.
Naruto mencari-cari sumber suara itu di tengah gelapnya malam. Dan hei! Naruto tersentak. Seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang gadis tengah didekap seorang lelaki. Gadis itu meronta, berusaha melawan. Hampir saja Naruto menghampiri mereka, bermaksud menolong sang gadis. Namun Naruto mengurungkan niatnya ketika sang gadis mulai melembut dan menyambut ciuman sang pria.
Naruto berjalan pelan. Mengubah posisinya. Duduk di rerumputan dan kembali memperhatikan pasangan itu. Entah kenapa Naruto engan beranjak dari pasangan itu. Pasangan itu semakin intens. 'Hei! Bagaimana si lelaki bisa masuk ke dalam asrama ini?' pikir Naruto kebingungan. Setahu Naruto, neneknya begitu berhati-hati. Mungkin hanya dirinya dan Sasuke yang bisa melewati mengelabuhi penjaga. 'Sasuke?!' Naruto terbelalak. Tentu saja! Naruto menajamkan pandangannya. Memandang si lelaki yang tengah antusias mencium pasangannya. Dan demi apapun juga. Naruto berani bersumpah. Laki-laki itu benar-benar Sasuke. Leadernya.
Naruto mencubit pipinya sendiri. Memastikan apa yang dilihatnya adalah kenyataan. Dan ya, Naruto bisa merasakan sakit di pipinya. Jadi ini memang kenyataan. Tapi bagaimana bisa seorang Sasuke, laki-laki kaku yang selalu acuh pada setiap perempuan melakukan ini? Hah~ sepertinya memang benar Sasuke telah jatuh cinta padanya. Jadi ini. De javu yang sempat dirasakannya ketika melihat ekspresi Sasuke di taman. Itu persis seperti apa yang pernah dirasakannya ketika jatuh cinta pada Hinata. Naruto tersenyum dan kembali memperhatikan kelakuan sang leader.
-.,-
"Sudah, Sasuke. Hentikan. Gadis itu bisa mati lemas!"
Sasuke tersentak mendengar suara yang sudah tidak asing di telinganya itu. Perlahan Sasuke melepas bibir Sakura dan mencari sumber suara. Benar saja. Naruto tengah duduk bersila di atas rerumputan. Kedua tangannya menopang dagu. Bibirnya melengkung, memperlihatkan senyum penuh arti.
"Lihat! Gadismu sudah lemas!" Naruto mengacungkan tangannya, menunjuk tubuh Sakura. "Sepertinya dia pingsan."
Wajah Sasuke kembali menatap wajah Sakura. Benar saja. Tubuh Sakura benar-benar lemas. Matanya terpejam. Wajahnya begitu pucat. Nadinya berdenyut kencang. Sasuke mulai panik. Diraihnya tubuh sang gadis. Sasuke membopong sang gadis.
"Kau terlalu agresif, Sasuke." Naruto berjalan mendekati Sasuke. "Butuh bantuan mengendongnya?" Naruto menawarkan diri.
"Tidak."
"Haha. Benar-benar posesif." Naruto menertawai sang leader.
"Diamlah, Naruto! Lebih baik kau bukakan kamarku."
-.,-
Sasuke membaringkan tubuh Sakura di atas kasurnya dengan hati-hati. Menyelimuti gadis itu dengan selimut tebalnya. Kemudian merapikan rambut yang berserabutan menutupi wajah ayunya. Wajah Sasuke terlihat begitu khawatir memandangi wajah gadis yang terbaring lemah itu. Naruto hanya memandangi tingkah Sasuke dari tempat tidur baru leadernya itu.
"Jadi kalian sekamar?"
"Hn."
"Beruntung sekali kau." Naruto menyilangkan kaki. "Sekamar dengan pacarmu." Naruto tertawa cekikan penuh arti.
"Dia bukan pacarku."
"Tapi adegan tadi tidak menunjukannya, Sasuke."
"Diam!"
"Hei, ayolah! Kita ini manusia biasa. Aku juga pernah melakukannya." Naruto kembali cekikan. "Walau tidak seantusias kau tadi."
"Diam, Naruto!" wajah Sasuke memerah.
"Hei, aku penasaran. Kenapa kau begitu antusias, Sasuke?"
"Bukan urusanmu!"
"Ah, kau ini tidak asik." Naruto mengambil bantal Sasuke dan memeluknya. "Padahal aku selalu mengira kau ini gay. Tidak tertarik wanita manapun."
"Aku bukan gay!" Sasuke masih memandang wajah Sakura.
"Ya. Aku tahu." Naruto tertawa. "Kau sudah membuktikannya." Naruto melemparkan bantal ke arah Sasuke.
"Berhenti mengolok-olok, Naruto!" Sasuke menoleh ke arah Naruto.
"Aku tidak mengolok-olok. Aku ini memujimu."
"Sudah. Pergi sana!"
"Haha... baiklah. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Naruto berjalan ke arah jendela. "Selamat bersenang-senang, Sasuke!" Naruto melompat dari jendela.
"Hei!" Sasuke memanggil Naruto.
"Apa?"
"Jangan kau ceritakan pada yang lain." Wajah Sasuke kembali merah.
Naruto tersenyum. "Tidak janji!"
-.,-
Jari-jari Gaara menari di atas tuts-tuts piano. Alunan musik newage mengalun lembut dari piano berwarna putih susu itu. Pikirannya masih tertuju pada gadis yang telah membuatnya jatuh hati. Yuri. Ah, andai saja gadis itu duduk di sampingnya. Mendengarkan setiap nada yang memang kini tengah dimainkan Gaara untuknya. Andai saja...
"Untuk apa kau berandai-andai, Gaara?" tanya Gaara pada dirinya sendiri. "Ya, lebih baik aku realisasikan saja."
Gaara mengambil ponsel pintar di kantong bajunya. Jarinya lembut menari membentuk sebuah pola di atas layar ponselnya. Begitu kunci ponselnya terbuka, Gaara segera mencari nomor sang kakak, Kankuro.
"Ada apa kau menelponku malam-malam begini?" Suara Kankuro terdengar mengantuk.
"Aku mau mengadakan konser kecil."
"Konser? Apa maksudmu?"
"Atur konser kecil di sekolah putri itu. Segera!" Gaara memerintah.
"Tapi..., Gaara..."
"Ingat! Se. Ce. Pat. Nya!" jelas Gaara penuh penekanan. Gaara pun menekan tombol merah di layar ponselnya. "Tunggu aku, Yuri."
to be continued
Terima kasih kepada teman-teman yang telah memberi dukungan dan semangat pada saya. Berkat kalian, saya memutuskan untuk melanjutkan fic yang sudah saya tulis. Saya juga memutuskan menghakhiri apa yang sudah saya mulai. Semoga saya bisa mewujudkannya.
Juga jangan khawatir saya tidak akan mengupdate fic ini dan Pribumi. Saya pasti mengupdatenya. Saya tidak akan membiarkan fic-fic saya terbengalai lagi. Akan tetapi saya rasa saya tidak bisa sering-sering mengupdatenya. Mohon teman-teman sedikit bersabar
Tetap berharap dan bermimpi!
Salam,
Ji.
