Kim Jaejoong yang ditunangkan dengan dua orang dengan kepribadian berbeda. Shim Changmin yang periang dan serampangan, dan Jung Yunho yang sedikit sadis namun memiliki sisi lain yang tak diketahui semua orang. Siapakah yang akan dipilih oleh Jaejoong? Changmin yang memeriahkan harinya, atau Yunho yang penuh dengan kejutan?
.
.
Terinspirasi dari karya Wataru Mizukami dengan judul yang sama
.
Let's Get Married!
.
.
Pair: YunJaeMin
.
Warning: YAOI/ BOY X BOY/ BL, typo (s), OOC
.
Happy Reading
.
"Jae-hyung kajja!"
"Jae kajja..."
Terlihatlah pemandangan dua orang namja yang biasanya memang berada di sekeliling Jaejoong. Namun kali ini ada yang berbeda, di mana dua namja itu memakai seragam yang sama dengan Jaejoong. Ya, mereka bersekolah di sekolah yang sama dengan Jaejoong—pada akhirnya.
"Ya! abeoji kenapa senyum-senyum begitu..." protes Jaejoong karena sang abeoji yang tengah berdiri di sebelahnya ini tersenyum sumringah.
"Aniya! Abeoji tidak menyangka kalian akan begini dekat dalam waktu secepat ini..." ucap sang abeoji tanpa kehilangan senyum di wajahnya. Jaejoong mendengus kecil.
"Huh abeoji pikir gara-gara siapa mereka jadi begini..." lirih Jaejoong—takut terdengar oleh sang abeoji.
"Hm—apa?"
"Aniya, abeoji aku berangkat sekolah dulu, annyeonghaseyo." Jaejoong melambai kecil pada sang abeoji—dan eommonim yang baru saja bergabung, sebelum pada akhirnya masuk ke dalam mobil.
"Chagi.. apa tidak apa-apa?" ucap Nyonya Kim tepat setelah mobil tersebut meninggalkan mereka.
"Hmm? Wae?"
"Tentang Jaejoong... bagaimana jika ia justru mencintai keduanya?"
"Tidak akan chagi... mungkin kelihatannya sekarang seperti itu, namun ini hanya masalah waktu..."
Nyonya Kim menatap sendu pada suaminya, sebelum mengangguk lemah. Sekali lagi mereka memperhatikan kendaraan yang sudah semakin jauh tersebut lalu berbalik untuk melanjutkan aktivitas mereka.
.
.
Jaejoong menghela nafas panjang, terlebih lagi saat seonsaengnim yang mengajar kelasnya datang. Seperti yang ia duga, sang seonsaengnim membawa seorang murid dengan seragam yang masih rapi dan baru—menandakan ia adalah murid baru.
"Annyeonghaseyo..." sapa namja paruh baya itu tegas pada seisi kelas dan segera disambut dengan sapaan semangat. Apalagi para yeoja yang kini malah sibuk berbisik-bisik ria.
"Hari ini kita kedatangan murid baru. Silahkan kenalkan dirimu..." ucap seonsaengnim berbalik ke arah murid tersebut. Sang murid mengangguk dan menatap seisi kelas dengan penuh kharisma. Meski di mata Jaejoong namja tersebut lebih terlihat tebar pesona.
"Annyeong, Jung Yunho imnida."
Hening...
Masih hening...
"Ah, aku tunangan Jaejoong. Kim Jaejoong. Bangapseumnida."
Hening...
Masih hening...
"MWOOOOOO?!"
Seisi kelas sontak mengarahkan pandangannya pada Jaejoong. Namja itu hanya bisa menundukkan kepalanya menahan rasa malu sekaligus terkejut atas perkenalan frontal dari Yunho ini. Tak terkecuali seonsaengnim yang memasang tampang cengo.
"Nde, aku adalah tunangannya, karena itu... jika salah satu dari kalian mengganggunya—"
Sepasang mata musang itu menatap nyalang pada seisi kelas sebelum melanjutkan perkataannya,
"—kalian akan berurusan langsung denganku!"
Glup. Tak ada yang main-main pada sorot mata itu. Membuat nyali seisi kelas menciut seketika. Para namja yang biasanya menggoda Jaejoong, ataupun para yeoja yang biasanya berusaha mendekatinya, kini harus berpikir dua kali sebelum melakukannya.
"E-eh Yunho-ssi silahkan duduk di bangkumu." Ucap seonsaengnim ragu-ragu.
Yunho mengangguk, sebelum melangkahkan kakinya ke sebuah bangku kosong tepat di pojok ruangan—atau bisa dibilang di samping Jaejoong.
"Itu tempat duduk Hyunjoong." Bisik Jaejoong pada Yunho yang baru saja mendudukkan dirinya.
"Mwo? Nugu?"
"Kim Hyunjoong. Dia mengambil izin hari ini."
"Mulai sekarang ini adalah tempat dudukku!"
"Mwo? Mengapa kau seenaknya sekali sih?"
"Terserah padaku, dong. Kau tak suka, heh?"
Mata musang itu menatap tajam pada doe eyesnya—meski bibirnya mengerucut imut. Tak berapa lama Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan.
"Bagus, sekarang mari kita belajar." Ucap Yunho sambil mengeluarkan buku-buku dan alat tulis yang diperlukan.
.
.
Changmin mengerucutkan bibirnya—tak peduli sudah berapa suap nasi masuk ke dalamnya, oleh Jaejoong pula. Ia masih tidak menerima keputusan bahwa dirinya dua tahun di bawah Yunho dan Jaejoong, membuatnya harus duduk manis di bangku kelas satu tanpa ada acara bermain-main dengan Jaejoong. Ia terbiasa melihat Jaejoong di dalam rumah dan bermain dengannya, kini ia sudah satu sekolah dengannya dan mereka sulit untuk bertemu kecuali saat jam istirahat. Bahkan Yunho punya lebih banyak peluang untuk mendapatkan hati Jaejoong. Satu hal lagi yang disesalkan Changmin.
"Changmin-ah, sudah jangan cemberut begitu. Buka mulutmu aaa—"
Changmin memelas menatap Jaejoong, akan tetapi masih menerima nasi yang disuapkan kepadanya. Jaejoong tertawa kecil, baginya namja ini lucu sekali. Dulu waktu pertama kali mereka bertemu, ia ketus sekali, dan sekarang lihatlah betapa manjanya ia.
"Lagipula aku tak melakukan apa pun pada Jae, sepanjang pelajaran aku selalu fokus dan ia tidur nyenyak."
Changmin mengangkat wajahnya pada pemilik suara bass yang baru saja menginterupsi dunianya dengan Jaejoong—Jung Yunho.
"Tsk— kalau kau fokus kenapa kau tahu ia sedang tertidur?" sinis Changmin.
"Mwo? Aku hanya tertidur saat pelajaran matematika saja! Karena aku memang tak suka berhitung." sanggah Jaejoong tak terima atas kata-kata Yunho.
"Ya, dan kau tidur nyenyak sekali, pantat rata."
"Mwo?! Dasar tukang tebar pesona!"
"Mwo? Apa katamu?"
"Jung Yunho tukang tebar pesona!"
"Ya! Siapa yang tebar pesona hah!"
Changmin yang memperhatikan mereka berdua jadi semakin bad mood. Perlahan ditariknya lengan Jaejoong dan membuka mulutnya—isyarat agar Jaejoong menyuapinya makanan kembali. Jaejoong menurut, ia memilih tak memperdulikan Yunho yang tengah mendengus kesal dan kembali menyuapi Changmin dengan bekal yang ia buat.
Kalian penasaran mengapa Jaejoong bisa dengan santainya menyuapi Changmin padahal ia sedang berada di lingkungan sekolah? Bukankah Jaejoong itu pemalu, heh? Sebenarnya mereka menghabiskan waktu istirahat di atap sekolah^^
"Kau suka kemari ya, hyung? Udara di sini sangat sejuk." Ucap Changmin lagi, kali ini ia memberanikan diri menaruh kepalanya pada paha Jaejoong—membuat empunya menoleh pada Yunho secara refleks. Yunho hanya melirik sebentar lalu melanjutkan acara minum kopi kalengnya kembali.
Entah mengapa Jaejoong sedikit kecewa, ia ingin setidaknya Yunho merasa cemburu pada Changmin, meski mereka baru saja bertengkar. Ia tidak merasa berdebar saat berdekatan dengan Changmin, sejauh ini ia hanya menganggap Changmin seperti adiknya sendiri. Lalu, apa perasaannya pada Yunho berbeda?
(Lol kalau author bayangin mereka malah kayak bapak-ibu-anak)
"Aku suka kemari kalau sedang ingin membolos saja. Biasanya aku bersama Hyunjoong dan Tabi."
Changmin mengernyitkan alisnya saat mendengar dua nama yang asing di telinganya.
"Nuguya, hyung?"
"Mereka sahabatku, Hyunjoong dan Tabi alias Seunghyun. Mereka juga satu klub denganku, klub musik."
Changmin menatap Jaejoong lama—membuat Jaejoong sedikit gugup. Mungkin sesaat yang lalu ia menganggap Changmin adiknya, akan tetapi... mana ada adik yang menatapnya dengan pandangan seperti ini?
"Jaejoong-ah..." perlahan suara Changmin memecah keheningan diantara mereka. Yunho melirik sedikit pada mereka berdua.
"Hyung!" koreksi Jaejoong. Changmin menghela nafas kecil,
"Jaejoong-hyung... berjanjilah untuk tidak dekat dengan namja selain aku dan Yunho-hyung nde?"
"M-mwo?"
Jaejoong merasakan gugup apalagi saat perlahan Changmin menarik tubuhnya sendiri hingga wajah mereka kian dekat. Sebelum Changmin benar-benar mendekatkan wajah mereka...
PLETAK!
"Aisssh appo hyung!" kesal Changmin pada Yunho yang melemparinya kaleng bekas minumannya.
"Y-Yun?" Jaejoong menatap hati-hati pada Yunho yang tengah mengeluarkan aura setan dari dalam dirinya.
"Bersainglah secara sehat, Shim Changmin. Tsk."
Yunho berdiri dan segera beranjak dari atap—meninggalkan mereka berdua. Jaejoong menatap tak mengerti pada Yunho, sesaat ia merasa Yunho cemburu akan tetapi mengapa ia justru pergi meninggalkan mereka?
.
.
Changmin serius pada Jaejoong, Yunho tahu hal itu. Demi Jaejoong, Changmin rela memutuskan kekasihnya dan menjadi seorang gay. Tapi bagaimana dengan dirinya?
Sebelum perjodohan ini, ia adalah murid yang populer di sekolahnya. Ia pintar, kaya, tampan, dan mempunyai sifat yang ramah pada semua orang. Akan tetapi ia tidak bisa menemukan wanita idealnya, meski sudah banyak yeoja mendekatinya, bahkan menjadi pacarnya. Ia tak bisa menyukai setidaknya seorang wanita pun. Apakah mungkin ia gay? Oh ayolah, ia juga tidak tertarik pada namja.
Akan tetapi saat bersama Jaejoong, Yunho merasakan apa yang tidak ia rasakan dengan kekasih-kekasihnya sebelumnya. Ia membuang image namja populernya, dan bersikap apa adanya di depan Jaejoong. Ia merasakan jantungnya berdebar saat bersama namja itu. Namun ia tidak yakin, apakah ini cinta? Lalu, apakah ia sekarang seorang gay?
"Yunho-ah, apa kau mendengarkan appa?"
Yunho mengangkat wajahnya, ia dapat melihat sang appa—atau Tuan Jung tengah menghela nafas panjang.
"W-waeyo appa?" tanya Yunho tak mengerti.
"Tadi kan kau kesini untuk menanyakan tentang Changmin, dan appa baru menjelaskan."
Yunho mengangguk kecil—memberi isyarat pada sang appa untuk mengulang kembali kata-katanya. Akan tetapi sang appa malah menatap Yunho lama—membuat Yunho bingung.
"Waeyo appa? Ada yang aneh di wajahku?"
"Anniya... appa senang saat kau memutuskan untuk serius pada perjodohan ini. Namun sekarang yang appa heran, kalau kau bertunangan dengan Jaejoong seharusnya kau menanyakan tentangnya bukan? Tetapi kenapa kau malah bertanya-tanya tentang Changmin? Jangan bilang kau justru jatuh cinta padanya, Yunho-ah."
Ucapan appanya membuat mata Yunho membulat seketika. Dengan manusia evil itu? Tentu saja ia tak mau.
"Anni! Aku tak suka padanya appa." Ucap Yunho tegas.
"Lalu... apa yang kausuka itu Kim Jaejoong?"
Deg. Lama Yunho berpikir untuk menjawab pertanyaan dari sang appa. Namun, sang appa sudah tersenyum terlebih dahulu saat mengetahui perubahan raut wajah putra semata wayangnya ini.
"Sudahlah, appa sudah tahu jawabannya..."
Wajah Yunho memerah seketika. Apa ia begitu mudah ditebak?
"Dan sekarang appa akan memberitahumu sesuatu tentang Shim Changmin..."
.
.
"Yunho, dari mana saja kau?"
Namja berambut almond itu mendekati seseorang yang baru saja tiba dengan keadaan basah kuyup. Yah, ini sudah malam dan di luar hujan deras sementara Yunho baru saja pulang. Wajar saja Jaejoong mencemaskan namja satu ini.
"Anni, aku bertemu appa. Minggir, aku mau mandi."
Yunho berjalan melewati Jaejoong begitu saja—membuat Jaejoong mengerucutkan bibirnya kesal. Changmin yang sedang tiduran di sofa—menemani Jaejoong menunggu Yunho—kini mendudukkan dirinya dan menatap tajam ke arah Yunho yang lewat.
"Jae-hyung menunggumu seharian. Ia cemas." Ucap Changmin dengan nada sinis yang sangat kentara.
Oh ayolah... mana bisa Jung Yunho setega itu? Yah, meski ia memang dikenal sadis.
Maka berbaliklah Yunho dan berjalan mendekati namja berambut almond tersebut. Poninya yang basah ia naikkan sehingga mengekspos dahinya yang putih. Entah mengapa Jaejoong berdebar melihatnya, apalagi mereka sudah semakin dekat...
Puk.
Eh?
"Gomawo sudah mengkhawatirkanku, pantat rata."
Jaejoong memproses pelan apa yang sedang terjadi. Jung yunho menepuk-nepuk kepalanya lembut—membuat rona merah menjalar pada pipinya. Akan tetapi—pantat rata lagi?!
"YA!"
Yunho segera berlari kecil menghindari pukulan Jaejoong. Sejenak ia melirik ke arah Changmin yang tengah menatap penuh dengan kecemburuan pada mereka berdua. Entah mengapa tersirat sedikit rasa senang pada diri Jung Yunho saat melihatnya. Hmm?
"Shim Changmin... pewaris tunggal Shim corp. Rumornya, appanya adalah mantan yakuza. Meskipun tak kelihatan karena Changmin merupakan anak yang periang, sebenarnya ia biasa hidup dalam lingkungan yang keras. Sehari-hari yang ia pikirkan adalah bagaimana bisa menjadi semakin kuat dan lebih kuat untuk melindungi dirinya sendiri dan mungkin orang yang membutuhkan perlindungannya. Dalam konteks ini, kekasihnya. Namun, karena keadaan sang appa yang memburuk, latihan Changmin justru menjadi semakin jarang. Untuk penjagaan pun mereka lebih memilih bodyguard, entahlah..."
"Eomma-nya?"
"Shim Minjae seorang single parent. Sejak Changmin masih kecil, ia harus merawat sendiri putranya itu. Eommanya pergi meninggalkan mereka, karena ia bukanlah yeoja dari keluarga terpandang. Ia merasa tak pantas bersanding dengan Minjae."
Yunho memperhatikan lagi raut wajah Changmin sebelum melesat ke dalam kamar mandi. Benarkah apa yang dikatakan oleh appanya itu? Ia tidak yakin.
.
.
TBC
Huweee lagi-lagi updatenya lama banget T.T mianhae readers *sobs* jadi takut mau janjiin readers update ASAP kalau gini jadinya ;A;
Author lagi galau nih, nilai UAS author malah makin turun dari nilai UTS kemarin, padahal author udah belajar loh TT^TT *nangis di pelukan Minnie*
Tapi, author berjuang banget buat part ini, yaitu mengulas tentang Changmin... mungkin next chap tentang Yunho... hehehehe tunggu aja ya readers ^^
Gamsahamnida bagi yang udah review author seneng banget T^T *bow* tapi author belum sempet bales, sekalian di chap berikutnya ya :") keep review nde? Gamsahamnida ^^
Sign,
Shikshin97
