Kim Jaejoong yang ditunangkan dengan dua orang dengan kepribadian berbeda. Shim Changmin yang periang dan serampangan, dan Jung Yunho yang sedikit sadis namun memiliki sisi lain yang tak diketahui semua orang. Siapakah yang akan dipilih oleh Jaejoong? Changmin yang memeriahkan harinya, atau Yunho yang penuh dengan kejutan?

.

.

Terinspirasi dari karya Wataru Mizukami dengan judul yang sama

.

Let's Get Married!

.

.

Pair: YunJaeMin

.

Warning: YAOI/ BOY X BOY/ BL, typo (s), OOC

.

Happy Reading

.

"Jae-hyung, sebaiknya kau mandi dulu... apa kau masih capek?"

Jaejoong mengangguk malu-malu ke arah Changmin. Tentu saja, bagaimana bisa tidak malu jika saat ini Changmin sedang melepas kaos yang ia pakai. Apalagi sekarang mereka sedang berada di sebuah kamar hotel. Catat, hotel!

'Aku tak tahu apa yang akan ia lakukan padaku...' gumam Jaejoong was-was. Mau tak mau keringat dingin mengalir juga dari dahi dan pelipisnya.

Changmin memperhatikan Jaejoong yang kini duduk tegang di tempat tidur dengan wajah menunduk, meski begitu rona merah terlihat jelas pada wajahnya, bahkan sampai ke daun telinganya. Diam-diam Changmin tersenyum, apa Jaejoong sedang gugup karenanya?

"Tenang saja, hyung. Aku tak akan melakukan apa-apa kok." Ucap Changmin kemudian, membuat Jaejoong mengangkat wajahnya.

"J-jinjja?" tanya Jaejoong takut-takut. Ia bahkan tak bisa menghentikan matanya yang terus mencuri-curi pandang ke arah abs Changmin yang lumayan terbentuk, meski ia juga mempunyainya(?)

"Nde, sekarang mandilah, lalu kita pergi ke suatu tempat. Mumpung Perancis masih pagi."

Jaejoong melihat ke arah jam dinding yang ada di ruangan hotel tersebut. Pukul 10:00. Bagaimana bisa? Ah, Jaejoong melupakan satu fakta bahwa waktu Korea lebih cepat delapan jam dari Perancis. Pantas saja matahari bersinar cerah selama perjalanan mereka dari bandara menuju hotel.

"Mandilah, hyung, perjalanan selama sebelas setengah jam pasti melelahkan bagimu. Yah meski kau tidur enak-enak saja sih di pesawat."

Jaejoong mengerucutkan bibirnya kesal. Bagaimana mungkin dia tidur enak jika di sebelahnya ada seorang yang terus memperhatikannya, tak melepaskan pandangan darinya barang sedetik pun. Mungkin hanya saat orang itu makan saja.

"Nde, arasseo aku mandi duluan. Jangan mengintip!" teriak Jaejoong dan segera menghambur ke kamar mandi. Changmin yang melihat hal tersebut hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak lupa senyuman terkembang di wajahnya.

Changmin berjalan mendekati pakaian dan jaketnya yang ia lemparkan sembarangan ke sofa saat ia berganti pakaian tadi. Dengan santai ia mengambil i-phone miliknya dari saku jaket.

7 messages from Jung Yunho. 39 missed calls from Jung Yunho.

Changmin tersenyum kecil lalu kembali memasukkan i-phone miliknya ke saku jaket. Setidaknya untuk sementara waktu, dirinya dan Jaejoong bebas berdua. Untuk sementara? Yah, siapa yang tahu bukan...

.

.

Jaejoong menganga melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini. Sungai Seine. Yah, mengapa Jaejoong bengong melihat sebuah sungai? Karena saat ini dirinya telah menginjakkan kakinya di sebuah pulau. Tepatnya salah satu pulau alami yang ada di sungai tersebut. Île de la Cité. Dan tak jauh dari tempatnya berdiri, sebuah bangnan kathedral megah bergaya gothic kokoh berdiri. Ya, tak lain tak bukan bangunan tersebut adalah Notre Dame yang begitu terkenal di Perancis.

Meski Jaejoong putra dari pengusaha kaya raya, ia jarang sekali berlibur ke luar negeri. Ia hanya pernah beberapa kali ke Jepang, itulah rekor berlibur terjauhnya. Namun kali ini, dengan namja yang bahkan baru dikenalnya sebulan terakhir, ia berlibur ke Perancis, tepatnya ke kota Paris. Terdengar romantis memang, tapi entah mengapa ia merasa ada yang kurang. Seharusnya ada seseorang lagi yang ada di sini. Tanpa sadar, Jaejoong menghela nafasnya panjang, menarik perhatian seseorang yang berdiri di sebelahnya.

"Kau bosan? Kupikir kau akan senang."

Jaejoong mendongak untuk dapat menatap namja tinggi tersebut. Ia tersenyum dan menggeleng pelan,

"Anniya... aku hanya penasaran saja, bangunan apa itu?"

Jaejoong menunjuk lurus ke arah Notre Dame, membuat Changmin mau tak mau tersenyum juga. Yah, sebelum akhirnya tawanya lepas.

"Kau tak tahu, hyung? Itu kan terkenal sekali di Perancis." Ejek Changmin—membuat Jaejoong mengerucutkan lagi bibirnya.

"Ya! Aku tak sejenius kau, Changmin-ah." Ucap Jaejoong dengan nada menyindir, namun Changmin masih terus tertawa.

"Itu kathedral, hyung, namanya Notre Dame. Mau masuk?"

"Memangnya boleh masuk?"

Changmin tersenyum kecil lalu mengangguk untuk pertanyaan innocent Jae-hyung nya ini.

"Kalau begitu, kajja!"

.

.

Yunho side—

"Namja bernama Shim Changmin?"

Yunho menunjukkan ketidaksabaran dengan sedikit menghentak-hentakkan kakinya. Tangannya ia lipat di dada, terdengar sedikit deru nafas yang tidak teratur akibat 'olahraga dadakan' sejak pagi tadi. Pikirannya melayang entah kemana, mungkin menyusul Changmin dan Jaejoong ke Paris? Entahlah, siapa tahu. Dan suara sang officer yeoja membawa Yunho kembali dari lamunannya.

"Nama Shim Changmin ada pada penerbangan ke Paris pagi ini, tuan."

Yunho mengangguk-anggukkan kepalanya tak sabar. Namun, sang officer malah menatap Yunho. Ah, hanya itu saja kah penjelasannya?

"Apa ada penerbangan lagi ke Paris?" ucap Yunho kemudian.

"Tunggu sebentar tuan, saya cek dulu."

Yunho kembali menghentak-hentakkan kakinya. Jam menunjukkan pukul 12:00. Dia sudah terlambat lima setengah jam, dihitung sejak berangkatnya pesawat Jaejoong dan Changmin. Ia jadi menyalahkan dirinya sendiri mengapa ia tak bangun sama sekali saat Jaejoong dibawa Changmin pergi.

"Tuan, penerbangan setelah ini jam tiga sore, bagaimana—"

"Aisssh lama sekali! Aku pakai pesawat jet pribadiku saja."

Yunho mengeluarkan i-phonenya dan moodnya segera memburuk kembali karena Changmin tidak membalas pesannya sama sekali, sedangkan handphone Jaejoong tidak bisa dihubungi. Awas saja jika mereka bertemu nanti.

"Yeoboseyo, nde adjhussi ini aku Yunho. Apa pesawat jet milik appa menganggur? Oke kalau begitu aku akan menunggu. Tak lebih dari tiga puluh menit, selengkapnya akan kuberitahu nanti."

Yunho menutup teleponnya dan bergegas menuju waiting room. Meninggalkan sang officer dan beberapa orang yang ada di sekitarnya melongo karena perbuatannya barusan.

.

.

Jaejoong & Changmin side—

Jaejoong sedang berpose dengan sangat cute saat Changmin menekan shutter kameranya dengan antusias. Untuk sehari dalam hidup Changmin, ia begitu bersemangat memotret sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang.

Diantara keramaian dan hilir mudik para turis, Jaejoong terlihat paling menawan dalam pandangan Changmin. Bahkan hanya dengan menggunakan sweater putih dan celana skinny jeans warna cokelat, Jaejoong terlihat bersinar. Apa begini rasanya namja yang sedang jatuh cinta? Seingatnya, dengan mantan-mantannya terdahulu, Changmin tidak memikirkan hal ini dengan begitu dalam. Asal kekasihnya terlihat stylish, Changmin tak akan berpikir dua kali untuk menggandengnya. Akan tetapi saat ini, Jaejoong yang bahkan hanya asal memakai baju yang ia bawa, mengapa bisa terlihat begitu indah di mata Changmin?

"Changmin-ah, ayo kita masuk!"

"Ke dalam? Oke."

Changmin menyusul di belakang Jaejoong. diam-diam ia melirik ke arah kedua tangan Jaejoong yang berayun-ayun ringan. Ingin rasanya ia meraih tangan tersebut lalu menggenggamnya. Maka dengan sangat berhati-hati tangan kanan Changmin mendekati tangan kiri Jaejoong (author bingung bahasanya -_-v)

Grep

Jaejoong menoleh karena merasakan dengan jelas sebuah tangan menggenggam erat tangannya. Yang ia temukan hanyalah Changmin dengan wajah memerah, namun berusaha tetap menghadap ke depan, tidak menoleh sedikit pun ke arah Jaejoong.

"Ng—Changmin-ah tanganmu... eee."

Jaejoong sedikit gugup mengatakannya. Bagaimana pun ada rasa tidak enak kepada Changmin.

"B-biarkan saja, hyung fokus saja pada Notre Dame."

Seketika wajah Jaejoong memerah. Masuk ke dalam sana dengan tangan bergandengan begini, tentu saja ia malu. Namun Changmin seorang yang keras kepala, Jaejoong sangat mengetahui hal itu. Apa boleh buat, Kim Jaejoong...

.

.

"Woaaaah!"

Jaejoong mengedarkan pandangannya ke sekeliling, bahkan sampai ke langit-langit. Sekilas memang terlihat seperti kathedral biasa, akan tetapi entah mengapa arsitektur bangunan ini membuat Jaejoong terpesona setengah mati. Buru-buru ia menarik kamera yang bergelantungan di leher Changmin dan memotret hal sedetail apa pun yang dapat ia temukan, tanpa melepaskan kamera tersebut dari leher Changmin. Dan tentu saja, tangan kiri Jaejoong masih digenggam erat oleh Changmin. Mesra? Itulah yang Changmin inginkan.

"E-Eh Changmin-ah?"

Changmin menoleh ke arah Jaejoong dan tersenyum manis. Kadang Jaejoong merasa hari ini Changmin tidak seperti biasanya, tanpa evil smile sama sekal, malah senyumana malaikat yang terus ia berikan pada Jaejoong. Salah makan apa namja ini?

"Maukah kau melepaskan tanganku? Aku ingin berfoto." Ucap Jaejoong jujur—membuat Changmin mengubah ekspresinya menjadi cemberut. Tapi kemudian sebuah ide terlintas di otak jeniusnya.

"Hyung, masa dari tadi kau terus yang berfoto, aku kan juga ingin..."

"Jadi kau ingin aku foto?"

"Bukan begitu~ bagaimana kalau—ah excuse me?"

Jaejoong membulatkan matanya saat Changmin menyapa salah seorang turis dari segerombolan turis yeoja yang juga ada di sana. Dilihat-lihat sepertinya turis-turis tersebut orang Asia, akan tetapi entah berasal dari negara mana. Karena Changmin mendekat ke arah mereka, mau tak mau Jaejoong tertarik juga oleh tangan Changmin.

"Yes?" turis tersebut tampak sumringah saat Changmin menghampirinya. Wajar saja, siapa yang tidak sumringah ketika seorang namja jangkung dengan wajah tampan mendekat.

"Can you help me? I want to take a photo with him but i can't take it myself."

Tak lupa cengiran lebar dari Changmin menghiasi wajah tampannya. Turis tersebut tak berpikir dua kali lalu mengangguk semangat.

"Are you two dating here?" tanya salah seorang temannya. Tanpa menunggu respon dari Jaejoong, Changmin mengangguk cepat. Changmin segera memberikan kameranya kepada turis tersebut.

"Wow it's so great, enjoy your holiday then."

Jpret.

Changmin dan Jaejoong kembali menghampiri turis tersebut dan melihat hasil foto mereka. Tampak serasi, memang. Wajar saja jika mereka berdua dikira berpacaran.

"Thank you."

"You're welcome."

Jaejoong dan Changmin segera beranjak keluar kathedral. Wajah Jaejoong sedikit memerah karena perkataan turis tadi, dan tentu saja hal itu tertangkap radar evil Shim Changmin yang beristirahat beberapa waktu ini. Setelah sampai di luar, tak ayal manusia evil itu segera menggoda Jaejoong.

"Kita begitu cocok sampai dikira berpacaran, hyung. Bagaimana yaa?"

Jaejoong langsung blushing begitu mendengar godaan Changmin—membuat Changmin tertawa tanpa bisa ditahan lagi. Jaejoong tak menjawab pertanyaan jahil Changmin dan justru menarik tangannya—dengan maksud segera meninggalkan tempat tersebut.

Mengerti akan isyarat Jaejoong, Changmin mengangguk. Dengan tangan keduanya masih bergandengan satu sama lain, mereka bergegas pergi ke suatu tempat, tentu saja Changmin yang mengemudikan langkah mereka.

.

.

Yunho side—

"Terlambat tiga puluh detik." Ucap namja bermata musang itu dingin.

"Jeoseonghamnida tuan muda Yunho, tadi jalanan macet sekali."

Namja paruh baya itu tampak begitu tunduk dan sopan pada namja yang bahkan seumuran dengan anak bungsunya. Tentu saja, karena jabatan taruhannya.

"Itu tak penting, sudah kau siapkan pilot, co-pilot dan pramugari-pramugari untuk keberangkatanku?"

"Sudah, tuan muda."

"Appa sudah mengizinkan?"

"Beliau menunggu telepon dari tuan muda."

Yunho mendecih kesal lalu segera mendial nomor telepon yang sebenarnya sudah di luar kepalanya tersebut.

"Yeoboseyo? Appa?"

"YEOBOSEYO KEPALAMU! KENAPA TIBA-TIBA KAU MEMINTA IZIN MEMAKAI PESAWAT? SEKOLAH BELUM BENAR SAJA SUDAH SEENAKNYA SENDIRI! KAU ITU SUDAH KELAS TIGA SMA bla bla bla—"

Yunho menjauhkan i-phonenya—yang sekarang lebih mirip kotak suara sumbang— dari telinganya. Kalau mendengarkan ocehan appanya, setahun juga tak akan selesai. Dengan cepat ia mengatakan tujuan sesungguhnya, sebelum appanya ikut menghambat perjalanannya.

"Appa, ini tentang Jaejoong." ucap Yunho singkat, namun dapat membuat suara ocehan di seberang sana menghilang—berganti menjadi suara helaan nafas kecil.

"Apa maksudmu menyangkut Jaejoong?" ucap appanya mencoba tenang.

"Aku bermaksud menyusul Jaejoong dan Changmin ke Paris. Ini demi masa depan perjodohan ini juga, appa! Apa appa mau anakmu yang tampan mempesona seperti appanya ini kalah dari Changmin?" narsis Yunho sekaligus menjilat-_-

"Ah kau benar, kau tidak boleh kalah Yunho-ah..." ucap appanya manggut-manggut meski tentu saja Yunho tak bisa melihatnya.

"Meski appa tidak tahu situasi yang sebenarnya terjadi, appa izinkan kau memakai pesawat tersebut, asalkan setelah kau kembali nanti kau cerita pada appamu ini ya."

"Nde appa, annyeong."

Trek. Pandangan namja itu berubah. Dengan cepat ia bergegas menuju gerbang keberangkatan diikuti beberapa bodyguard, adjhussi kepercayaan appanya, dan staff-staff yang mungkin berguna(?)

'Shim Changmin, kita lihat saja nanti...'

.

.

To Be Continued


Review's replied:

Je-Yoo menantu Yunjae: annyeong Je Yoo-ssi ^^ gomawo sudah tertarik dgn ff abal ini :) kkkkk mungkin karena Changminnie tertindas di ff ini(?) *plak* gomawo sudah review :)

Aku suka ff: wkwk sudah pasti itu xD mwo? bikin anak bertiga? O/O gomawo sudah review :)

YuyaLoveSungmin: kkkk ciyeeee(?) jinjja? Ah senang kalau begitu ^^ aaa gomawo semangatnyaa~~ ini udah update :3 gomawo sudah review :)

Jung Jae YJ: hehe ne udah update xD kkkk YunJae bukan ya author juga bingung(?) *plak* karena Changmin milik author~~yaudah jadi YunJae aja deh *plak* duh takut sama muka horornya(/.\) kkkk gomawo sudah review :)

Adette: kkkk ne dia kan fundanshi sejati lol xD gomawo sudah review :)

Kim Kwangwook: anniya, gwaenchana ^^ tapi... Junsu kan sudah sama Chun, mending Changmin sama author aja :3 kkkk gomawo semangatnyaa~ gomawo sudah review :)

Forte orange: sekarang mulai lemot lagi updatenya mian (/.\) kkkkk gomawo sudah review :)

NaraYuuki: hehe gwaenchana kok Yuuki-ssi ^^ wkwk ngakak baca reviewnya xD mweee author diancam (/.\) *ngumpet di ketiak Changmin* wkwk panggil aja tiff :D nama asli author tiff :) gomawo sudah review :)

Riana: gwaenchana Riana-ssi :) wkwk yunjaeshipper sejati deh xD *plak* sudah dilanjut ^^ gomawo sudah review :)

NicKyun: wkwk sudah dilanjut ini ^^ gomawo sudah review :)

Shin Je Seok: ah unnie berarti aku manggilnya ^^ cheonma :) ini segini panjang enggak...(?) *plak* gomawo semangatnya unn ^^ gomawo sudah review :)

Trililililili: wkwk mian sebenernya cerita udah selesei kemarin2 tapi gara gara author sibuk main.. *plak* jadi kayak gini deh aaaa mian T^T ne sudah lanjut ^^ gomawo sudah review :)

Sungdong137: Yun mau nyusul belahan jiwanya ^^ *plak* ne sudah lanjut ^^ gomawo sudah review :)

Henrylau: habis emaknya juga menggoda iman gitu sih(?) *plak* gomawo buat semangatnyaa~ ini udah update ^^ gomawo sudah review :)

Nashya: wkwk ne chingu kayaknya bakal jadi YunJae (?) *mikir keras* *ditabok Yunho* kalau bertiga... kasihan dong cinta dibagi-bagi(?) *plak* gomawo sudah review :)

YunJae: wkwk sudah pasti Yun semangat kan ada author xD *plak* *maruk* gomawo sudah review :)

.

.

Mian karena lagi, lagi, dan lagi author gagal update asap... ini baru aja paketan... itu pun nanti siang udah abis... hhhhh *bersandar di bahu Changmin* *digolok* author terharu banget sama review dari pembaca semuanyaa.. author jadi semangat buat ngelanjutin ff abal ini ^^ jeongmal gamsahamnida reader-ssi *hug atu atu*

Oh ya, meskipun telat sehari... tapi author dengan tulus mau ngucapin "HAPPY 9th ANNIVERSARY OUR DONG BANG SHIN KI" ^^

semoga oppadeul makin sukses... buat JYJ juga terus berkarya biar author bisa terus nggebet namja2 ganteng itu *-* /plak/

ALWAYS KEEP THE FAITH! ^^

nah ... berkenan untuk review? ^^

Sign,

Shikshin97