DISCLAIMER: Death Note- eh, I mean, Kuroshitsuji belongs to one and only mangaka, Yana Toboso-sensei...
Which means I'm glad if she gives me Ciel (~oWo)~
AN: And as I promised, I present chapter two of Fate Deceiving Game. And oh, just to remind you, this scene is when Ciel is 11 to 12, so he hasn't met Grell or William or Viscount Druitt or more. So this is about past, but since it's an AU, who cares? I kinda canon-ed it anyway.. Alrighto, happy reading!
"...jadi begitu," butler itu mengangguk seraya melanjutkan, "anda tertarik pada kasus itu karena merasa anda adalah orang yang diincar?"
Aku menggeleng kuat. "Aku tidak merasa─"
"Anda merasa anda diincar. Maksud saya, dari ciri-ciri semua orang itu─"
"Berhenti menyelaku, Sebastian. Aku hanya tertarik. Titik."
Sebastian akhirnya mengangguk. "Baiklah, maafkan ketidaksopanan saya. Namun, dilihat dari urutan kejadian dan gerak-gerik pelaku, tampaknya pelakunya adalah orang yang sama."
Aku mengetuk-ngetukkan cincin jari tengahku di meja kayu di depanku tidak sabar. "Tepat. Tetapi, apakah itu benar-benar orang yang sama atau sekelompok orang yang bekerjasama, itu belum diketahui. Sebaiknya, kita mengumpulkan informasi sebanyak yang bisa kita dapatkan."
"Kalau begitu, pertama-tama kita harus melihat apakah para korban masih hidup atau tidak," butler itu tampak berpikir sesaat, "dengan begitu, saya akan menghubungi Undertaker. Jika di dunia depan mereka menghilang tanpa jejak, ada kemungkinan di dunia belakang mereka sudah terbunuh."
"Hal itu sudah kupertimbangkan. Yang menjadi permasalahan adalah, apa motif penculik ini? Kenapa hanya anak-anak dengan ciri-ciri ini? Jelas bukan karena uang. Kalau hanya uang, penculik itu tidak perlu repot-repot berkeliling ke lembaga-lembaga asuhan, mereka hanya perlu membunuh orang yang berada di dunia belakang, sehingga tidak menimbulkan keributan seperti ini. Atau pelaku benar mencariku─maksudku, orang yang berciri-ciri sama denganku karena suatu alasan?"
"Entahlah, namun yang pasti─" suara Sebastian disela oleh ketukan yang terdengar di pintu.
"Ciel, boleh aku masuk?" tanya suara familier di luar ruangan.
"Masuk saja, Madam."
Wanita berambut merah itu masuk ke dalam ruangan, mengenakan gaun malam putihnya yang terbuat dari sutra. Kalau boleh jujur, sedikit aneh melihat Madam Red tanpa gaun merahnya yang menyolok. Wanita itu terlihat beberapa tahun lebih muda, dan terlihat lebih rapuh tanpa dandanan merah yang serba menor itu. Aku memiringkan kepala. "Elizabeth dimana?"
"Tidur. Jam 11 malam memang sudah lewat waktu tidur anak-anak seumuran kalian, Ciel. Belum tidur? Bukankah besok kita akan pergi piknik?" tanya wanita yang merupakan adik almarhum ibuku itu.
"Hmmm... kurasa aku tidak bisa ikut besok. Aku sibuk," aku beralasan. Madam Red terbelalak tidak percaya.
"Eeeehh? Kenapa? Padahal Lizzie, aku dan adik ayahmu itu akan datang juga lho!"
Sebastian memutuskan untuk angkat bicara. "Madame, sangat disayangkan namun ternyata Tuan Muda memiliki urusan penting yang harus diselesaikan secepatnya," ia membela.
"Kalian 'kan bisa melakukan itu tanpa aku," tambahku menyetujui Sebastian.
"Justru kita membuatnya untukmu!"
Aku hanya mengangkat bahu tidak peduli, mataku tidak beralih dari data-data korban yang berada disusun atas meja. Aku membetulkan posisi dudukku.
"Memangnya, apa yang spesial besok?"
Wanita itu membuka mulutnya namun menutupnya kembali. Ia terdiam sesaat sebelum menghela napas dan menggeser jatuh tumpukan kertas di atas meja kerjaku itu. Aku terbelalak panik, namun tersenyum dalam hati. Di belakangku aku dapat merasa Sebastian sangat frustasi karena harus merapikan tumpukan itu sesuai urutannya lagi.
"Datanya─!"
"Ayolah bocah supersibuk, kita main catur. Kalau aku menang, kau harus menunda pekerjaanmu itu sampai lusa. Kalau kau menang, kau boleh melakukan apapun yang kau mau, asalkan kau kembali sebelum jam enam sore," tantangnya seraya menaruh papan catur di atas meja. Aku cemberut.
"Taruhan itu merugikan pihakku," tuturku kesal.
Madam Red mengangkat alis. "Jadi, kau tidak berani melawanku?"
Aku tersenyum sinis.
"Bibi lupa kalau aku tidak pernah kalah dari bibi dalam permainan catur," aku mendapati jari-jariku mulai menyusun bidak-bidak pada tempatnya, "Aku ambil yang hitam."
Ia tersenyum ketika melihatku terpancing olehnya. Heh. Sama sekali tidak seperti itu. Aku hanya tidak ingin meladeni rengekannya terlalu lama.
Dan benar saja, dalam 3 menit 42 detik aku melakukan langkah terakhirku dan mendeklarasikan, "Skakmat. Aku menang, untuk ke 21 kalinya."
Madam Red membuat paras yang terlihat ingin menangis dan membalikkan meja kerjaku, tapi tentu saja, ia tidak melakukan keduanya. Ia hanya mengumpat singkat, umpatan yang cukup kasar untuk membuat Sebastian maju untuk menutup telingaku. Ketika ia memutuskan sudah cukup aman untuk membukanya, aku berdeham dan berkata, "Well, aku menang. Tepati janji bibi."
Perempuan berambut merah itu mendelik kesal padaku dan menggeram, "Baiklah!"
Sesaat, tidak ada satupun dari kami yang bicara. Sebastian merapikan kembali data-data yang baru saja dijatuhkan oleh bibiku, aku merapikan kembali chess set-ku, dan Madam Red yang hanya menatapku dengan tatapan menerawang.
"Apakah ada sesuatu di wajahku?" tanyaku seusai aku memasukkan bidak-bidak catur itu ke tempatnya semula.
Ia hanya menggeleng. "Yah, tidak sih. Hanya... kau benar-benar terlihat seperti ayahmu di saat-saat seperti ini."
Tentu saja. Aku kan anaknya. Memangnya dia pikir aku mirip siapa, suaminya?
...
Berhubung suami Madam Red sendiri sudah meninggal, pernyataan itu cukup patut dipertanyakan.
Ia membaca ekspresiku dan menambahkan, "Ma, maksudku bukan seperti itu! Aku membicarakan sifat kalian berdua. Kalian sama-sama tidak mau kalah, ahli di bidang-bidang seperti ini, kepercayaan diri tinggi, semacam itu. Aku juga tidak pernah menang darinya."
Aku hanya menjawabnya dengan 'Oh' singkat.
"Hmm... kalau begitu aku permisi dulu. Selamat malam, Ciel," ia beranjak dan membuka pintu, namun ia berhenti sesaat. "Ng, Ciel?"
"Hn?"
"...kau akan kembali jam enam sore, kan?"
Aku tersenyum kecil dan mengangguk. "Tentu saja. Selamat malam, Bibi Angelina."
Perjalanan menuju tempat Undertaker tidak pernah menjadi pengalaman yang paling menyenangkan. Sungguh.
Pertama, aku harus meninggalkan mansionku yang nyaman dan naik kereta kuda menuju East End. Setelah sampai, karena jalanannya terlalu sempit aku harus berjalan kaki menuju tempatnya, melewati gang-gang menjijikkan berisi anak-anak yang sibuk meminta-minta, laki-laki kurus dengan tatapan mengancam, dan wanita-wanita yang berbisik-bisik setiap kali aku dan Sebastian lewat. Kalau aku lewat sendirian, jelas sekali aku akan dirampok dan dicincang sampai mati untuk memberi makan anak-anak mereka yang menyedihkan itu. East End memang bukan tempat jalan-jalan ideal untuk kalangan atas, oh tidak.
Singkatnya, East End adalah tempat dimana sampah masyarakat berakhir menyedihkan.
Setelah melewati gang-gang gelap berbau busuk itu, akhirnya aku dan Sebastian sampai ke tempat yang sedari tadi kami cari-cari. Sebuah toko bergaya kuno yang serba abu-abu, dengan plakat batu besar yang diletakkan asal-asalan di bagian atas muka toko, bertuliskan 'Undertaker.'
Sebastian mengangguk kepadaku dan mengulurkan tangan untuk mengetuk pintu, yang segera menembus pintu itu. Aku terbelalak sebelum aku menyadari sesuatu. Pintu itu terbuat dari kain.
...tentu saja.
Kuharap pria menyebalkan itu cepat mati.
-atau tidak.
Akan sulit mengkonfirmasi korban yang mati tanpa dirinya. Amat disayangkan. Well, apa boleh buat.
"Undertaker? Kami ingin menanyakan sesuatu pada anda," aku akhirnya berinisiatif untuk memanggil. Tidak ada jawaban.
Seperti biasa, tempat Undertaker ini berantakan. Peti-peti mati bertebaran di lantai. Bau orang mati menguar di udara. Kain-kain kafan berwarna putih digulung di pojok ruangan, menumpuk dan berdebu tanpa diperhatikan. Ruangan ini hanya diterangi lilin remang-remang, yang menambah kesan mengerikan tempat ini. Tiba-tiba, terdengar suara pintu berderit. Sebuah peti mati terbuka dengan sendirinya.
Bagaimana ya? Aku sudah terbiasa dengan ini, yang membuat tidak mengajak Madam Red yang penakut itu hal yang tepat.
Sesosok pria berambut perak melangkah keluar dari peti mati tersebut. Poninya yang panjang menutupi kedua matanya, membuat orang bertanya-tanya seperti apa mata Undertaker itu. Kulitnya sepucat mayat, satu-satunya yang membuat ia terlihat hidup adalah bibirnya yang selalu membentuk senyuman. Sebuah luka jahitan melintang dari pipi kiri ke pipi kanannya, sebuah luka yang selalu membuatku penasaran. Tapi tentu saja, karena masalah etika, aku tak dapat menanyakan hal tersebut. Ia selalu mengenakan kostumnya yang biasa, baju hitam panjang yang menyembunyikan nyaris keseluruhan tubuhnya kecuali kedua tangan kurusnya yang pucat dan berkuku panjang. Aku bertaruh, jika dewa kematian benar-benar ada, ia pasti terlihat seperti itu.
Kecuali dewa kematian ternyata adalah seorang pria nyetrik feminim yang terobsesi dengan laki-laki lain, tentu saja.
"Aaaaahh~? Ternyata Earl kita tersayang... Ada urusan apa bertemu dengan saya?" tanyanya.
Aku berdeham sesaat sebelum menjawab, "Well, Undertaker, lama tidak berjumpa. Cukup basa-basinya. Sekarang ini aku membutuhkan informasi tentang─"
"Tunggu tunggu, biar kutebak," selanya sok tahu. Aku mendesah. Apa orang-orang tidak lagi tahu yang namanya sopan santun? Tapi aku memutuskan untuk tutup mulut.
"Tentang anak-anak di berita itu, bukan~? Ya, ya, saya mengerti maksud anda. Earl, earl," ia mendecakkan lidah, "siapa yang dendam padamu sampai mencarimu seperti itu?" Mendengar itu, aku berjengit sesaat, namun kemudian berusaha untuk menutupinya.
"Siapa saja yang dendam padaku itu bukan urusanmu, Undertaker. Beritahu saja," aku memberi kode pada Sebastian yang sejak tadi berada di sampingku, "apa kau pernah bertemu klien-klien seperti ini," Sebastian merogoh sakunya dan menunjukkan foto-foto korban pembunuhan itu di depan pria eksentrik itu.
Undertaker menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. "Wah, wah, jangan terburu-buru Earl... sebelum itu, saya ingin minta bayarannya... Seperti biasa~" ia terkekeh. Suaranya yang berat dan aneh itu terdengar janggal jika ia tertawa.
Aku mendesah. Tawa bodohnya dan omong kosongnya... Aku mengangguk pada Sebastian. Sebastian balas mengangguk dan tersenyum simpul.
"Serahkan pada saya. Namun sebelum itu, saya memohon kepada anda untuk keluar sejenak." Aku menggerutu namun menurut. Perlahan namun pasti, aku mengetuk-ngetukkan tongkat jalan seraya melangkah keluar.
Sesampainya di luar, aku mendengar suara-suara sayup dari dalam, yang aku yakin adalah suara Sebastian. Sayangnya, aku tidak dapat mendengar apa yang mereka berdua bicarakan. Sedikit penasaran sih, tapi apa boleh buat. Aku bersandar ke dinding suram luar toko. Dan menunggu. Menunggu. Menunggu.
Tiba-tiba, sebuah suara mengagetkanku.
"Ah! Akhirnya ketemu juga!"
Aku sontak berbalik, menghadap dua sosok. Yang seorang itu tampak tidak asing. Aku melihat...
...aku...
...
*Normal POV*
Gelegar tawa menggetarkan seisi toko. Si pria berambut putih itu tidak dapat berhenti tertawa, terus menerus menggumamkan kata 'Polandia' dan 'air mancur' di sela tawanya. Sang butler berbaju hitam membungkuk dalam dan berbalik menghadap pintu keluar toko.
"Tuan muda, anda dapat masuk ke dalam."
Butler itu menunggu, namun tuannya tidak kunjung masuk ke dalam. Butler iblis itu mengerutkan kening. Dengan inisiatifnya sendiri, ia melangkah ke muka toko, berharap dapat menemukan earl muda itu. Namun, tampak tidak ada tanda-tanda kehadiran anak lelaki yang hari itu menginjak umurnya yang kedua belas. Yang sang butler temukan di depan toko tersebut hanyalah tongkat jalan yang tadinya digunakan sang master. Tongkat itu tampak tidak bergeming, seakan sudah sedari tadi berada di sana. Namun, yang menarik perhatian Sebastian adalah setangkai bunga mawar putih yang diletakkan oleh seseorang di ujung tongkat itu. Undertaker, yang ikut penasaran pun menyusulnya. Ia menatap tongkat jalan itu lalu terkekeh.
"Wah wah, butler... Tampaknya kau terlambat... Bagaimana nasib Earl sekarang ya~?" Pria misterius itu berbalik menghadap Sebastian, yang ekspresinya tidak terduga olehnya. Butler itu tersenyum lebar, senyum yang tidak diisi dengan kebahagiaan, namun perasaan lain. Perasaan yang jauh lebih gelap, perasaan yang Undertaker pun tidak cukup berani untuk ketahui.
"Butler?"
Pria berambut hitam legam itu tampak tersadar kemudian menatap Undertaker tersebut dengan senyum yang tanpa ekspresi.
"Sebaiknya kita buru-buru. Saya sudah berjanji untuk membawa pulang Tuan Muda sebelum jam 6."
.
.
.
"Promises were like laws; smart men knew when to break both."
- C.J. Hill, Slayers-
.
.
.
AN: And that's how it's done. The end.
I'm just kidding. I've promised that I'll make 4 chapters or so, right? Oh, the quote above? Well, who knows? *grins*
And things are growing even more curious... If you want me to continue, review! (Lame excuses, I know...) And just for your information, the next chapter will be a full flashback, so brace yourselves, peoples.
See ya on the next chappie! *waves*
