FT Island Fan Fiction

Queen Of My Heart (Sequel)

©MikiHyo

.

.

Cast : Song Seunghyun, Han Chaehyun, Other Cast

Genre : Romance, Angst

Rated : T

.

.

Sequel

.

.

Chaehyun POV

2 bulan berlalu sejak hari itu. Hari yang mungkin telah menjadi hari perpisahanku dengan Seunghyun yang sebenarnya. Banyak korban yang berjatuhan setelah serangan itu. Namun banyak juga korban yang nasibnya tidak diketahui dengan jelas.

Termaksuk Seunghyun…

Ledakan Bom waktu itu, entah kenapa menyisakan luka yang mendalam dihatiku. Hatiku sakit tiap kali aku teringat akan suara menggelegar yang menyeramkan itu. Serasa ada sesuatu yang diambil paksa dari tubuhku.

Seung… aku pasti mengharapkan kau selamat, tapi…

Berharap tanpa hasil seperti ini lama-kelamaan menyiksa batinku juga...

Aku bahkan tidak bisa lagi mengharapkan ada keajaiban yang mau mengabulkan doaku. Aku berharap dan berdoa seperti ini pun apakah kau tahu? Aku menangis seperti apapun juga apa kau menyadarinya?

Apa kau masih ada didunia ini Seung? Atau kau sudah mendapat tempat yang damai?

Kalau memang kenyataan tidak sesuai dengan harapanku, maka itu justru akan menyiksamu kan… Kau pasti tidak ingin melihatku seperti itu terus…

Aku tahu, karena kau selalu memarahiku kalau aku menangis karena Umma. Kau selalu bilang Umma akan sedih kalau aku terus menangisinya. Karena itu aku harus tegar demi Umma

Apakah kau sudah berada ditempat yang sama dengan Umma? Kalau ditanya apa yang kuharapkan atas pertanyaanku, tentu saja aku ingin kau ada disisiku, bersamaku selamanya.

Tapi bagaimana kalau memang kenyataan pahit yang datang… walaupun sakit, aku harus menerimanya kan…

Seung…

"Chae, kau pucat sekali"ucap Yujin sambil membelai pipiku lembut. Sentuhan ini.. sentuhan dipipi ini entah kenapa selalu mengingatkanku dengan sentuhanmu malam itu.

"Gwenchana…"jawabku pelan.

"Tidak Chae, wajahmu pucat sekali. Sebaiknya kau pulang dan istirahat dirumah!"ujar Yujin yang masih mencemaskan keadaanku.

"Tidak bisa, pasienku banyak"

"Ya~ bagaimana bisa kau merawat pasien kalau wajahmu saja sama pucatnya dengan pasien-pasienmu"jelas Yujin.

"Gwenchana Yu… aku hanya kurang tidur"aku pun memijat-mijat pelan dahiku untuk mengurangi sedikit rasa penat ini.

"Chae… aku tidak mau terjadi apa-apa padamu. Tolong dengarkan nasihatku kali ini, pulang dan istirahatlah. Biar aku yang mengurus semuanya.."pinta Yujin sekali lagi.

Aku pun diam dan menatap wajahnya sejenak. Bisa kulihat raut wajah cemasnya yang juga sedang menatapku dalam.

"Ehm… mungkin aku memang harus istirahat. Maaf aku sudah merepotkanmu"ucapku sambil menghela nafas panjang.

"Gwenchana yo Chae, sudah tugasku juga untuk merawat pasien. Biar aku yang menggantikanmu. Baiklah, aku akan menghubungi Chaeyoung supaya dia menjemputmu"Yujin pun segera mengambil Handphone miliknya dan bersiap-siap untuk menghubungi Chaeyoung.

Namun dengan segera kutahan tangannya.

"Tidak usah, aku mau pulang sendiri"

"Tapi Chae-"

"Aku tidak mau istirahat dirumah Yu. Aku ingin menghilangkan penat dengan pergi kesuatu tempat saja"

"Kau mau kemana?"

"Pantai…"

.

.

Kurasakan deru ombak yang terdengar damai. Suasana tenang seperti ini kurasa terus direkam oleh otakku agar bisa mengurangi bebannya. Atau lebih tepatnya beban pikiranku.

Aku sudah memutuskan untuk kembali dan menetap di Korea. Kutinggalkan pekerjaanku di Jepang dan kembali kesini. Aku tidak mau lagi meninggalkan tempat yang dipenuhi banyak kenanganku bersama Seung ini.

"Aah.."kurasakan perih ditelapak kakiku saat aku menginjak sesuatu. Ternyata batu karang yang kuinjak telah merobek sedikit kulit ari telapak kakiku.

"Berdarah… aah, aku tidak membawa antiseptik.."aku pun hanya bisa menyapu darah yang mengalir dengan jari-jariku. Air laut yang asin semakin membuat perih luka ini.

"Kau tidak apa-apa?"tanya seseorang dari arah belakang.

"Ne, Gwencha-…"lidahku kelu begitu aku menoleh dan bertatapan dengan orang itu. Rasanya syaraf mataku mati seketika saat kedua bola mataku membulat sempurna. Detak jantung ini serasa berhenti saat kulihat dengan jelas siapa sosok yang berdiri dihadapanku sekarang.

"Cerobohmu tidak berubah ya.. waktu itu kau tersandung puing, sekarang kau tergesek karang. Aigoo, lihat kakimu sampai berdarah seperti ini"laki-laki itu segera saja mengelap darahku dengan sapu tangan kuning yang ia bawa. Sapu tangan yang sangat kukenal karena benda itu pernah menjadi milikku.

HUP.

Tiba-tiba saja ia menggendongku ala Bride Style dan membawaku menuju kursi yang terletak dipinggir pesisir. Ia pun mendudukkanku dikursi ini.

"Perih kan kalau terkena air laut. Jadi lebih baik aku bersihkan lukamu disini"senyumnya.

Aku tak tahan lagi. Ini semua…

"S-Seung…"ucapku bergetar.

"Ne?"sahutnya cepat sambil tersenyum kearahku.

DEG.

Apa ini mimpi lagi? Hari masih sore, tidak mungkin aku bermimpi.

Perlahan kuangkat kedua tanganku dan berusaha untuk menyentuhnya. Dan aku pun sudah berhasil memeggang kedua pipi chubby-nya sekarang.

Butir air mataku jatuh seketika saat kurasakan suhu tubuhnya yang hangat. Suhu tubuh dari manusia yang masih hidup. Ini artinya aku tidak sedang bermimpi kan?

"Kenapa menangis…?"ia mengusap air mataku dengan jarinya. "Kau merindukanku ya?"

GREP.

"Seung… Seunghyun… ini benar kau kan…"tangisku pun pecah saat kupeluk tubuhnya dengan erat.

"Ne, Chae.. ini aku.."kurasakan ia mengusap-usap punggung dan rambutku dengan lembut. Berusaha menenangkanku karena inilah cara yang biasa ia gunakan untuk membuatku tenang dan berhenti menangis.

"Seung.. hiks.. aku tidak bermimpi kan..? kau masih hidup…"

"Apa kau tidak merasakan sentuhanku? Tentu saja aku masih hidup Chae.."Seunghyun pun melepaskan pelukanku dengan perlahan. "Lihat? Aku ada dihadapanmu sekarang"

"Seungh…."aku kembali menangis saat indra pendengarku benar-benar mengenali suaranya sekarang.

"Maafkan aku… aku baru bisa menemuimu. Maafkan aku juga yang tidak bilang apa-apa saat pergi dan kembali kesini…"

"Hiks… Seung…"aku tak memperdulikan apapun ucapannya. Yang aku inginkan hanya dia.

"Aku selamat Chae. Aku selamat dari perang itu, mungkin Tuhan masih memberiku kesempatan untuk bertemu dan hidup kembali bersamamu…"

"Tadi aku pergi ke Rumah Sakit setelah diberi tahu alamatnya oleh Sehyun, kemudian sampai disana, temanmu Yujin mengatakan padaku kalau kau ada disini"

Aku masih berusaha menengangkan diriku. Kucoba untuk menahan isak tangis ini agar aku bisa mendengar apa yang sedang ia katakan.

"Nah Chae... aku ingin kau mendengar permintaanku…"ia kembali menatapku lembut dengan diiringi senyum manisnya.

"Menikahlah denganku"

DEG.

"S-Seung…?"

"Menikahlah denganku Chae… aku tidak mau kehilanganmu lagi. Aku tidak akan tenang kalau harus mati tanpa sempat memilikimu…"

"Seung… benarkah kata-katamu…"

Ia pun mencium punggung tanganku dengan lembut.

"Aku sangat mencintaimu Chae"

Aku terdiam sejenak memikirkan semua kata-katanya.

"Hhheem"

"Kenapa kau malah tertawa Chae?"tanya Seunghyun sambil menatapku bingung saat melihatku terkekeh pelan.

"Benarkah kau mencintaiku? Sudah lama kita tidak bertemu dan hanya satu malam melewatkan waktu bersama… apa cintamu masih bertahan?"tanyaku dengan senyum meledek.

"Tentu saja Chae. Kenapa kau menanyakannya?"ia semakin menatapku bingung.

"Benarkah kau hanya mencintaiku? Bagaimana kalau nanti kau akan membagi cintamu untuk orang lain?"tanyaku lagi.

Seunghyun pun mengerutkan dahi dan semakin menatapku heran.

"Siapa Chae? Aku hanya mencintaimu, sampai kapanpun hanya kau yang ada dipikiranku. Karena kau lah yang sudah jadi Ratu Hatiku.."

Aku berusaha menahan tawa saat mendengar kata-kata gombalnya. Aku tahu dia sedang serius, namun dia memang tidak bisa menjelaskan kata-katanya dengan baik dan malah terdengar lucu seperti ini

"Ratu hatimu eoh? Bagaimana kalau kau punya Ratu Hati yang lain?"aku masih terkekeh geli.

"Kau ini sedang bicara apa sih Chae?! Jangan membuatku bingung!"Seunghyun terlihat mulai jengah dengan semua godaanku.

Aku pun menggenggam sebelah tangannya dan ia hanya diam menatapku. Kugerakan tangan itu perlahan dan kini menyentuh perutku.

"Apa kau merasakannya?"tanyaku lembut.

Seunghyun masih terdiam, sepertinya ia masih mencerna kata-kataku.

"C-Chae… jangan-jangan ini…"

Aku pun mengangguk pelan dan tersenyum.

GREP.

Tiba-tiba saja Seunghyun langsung memelukku dengan erat.

"Benarkah itu…? Aku benar-benar bahagia Chae"ucapnya dengan penuh nada ceria.

"Usianya 2 bulan Seung, karena malam itu"sahutku dengan senyum.

Seunghyun pun mulai merenggangkan pelukannya dan kini wajahnya hanya berjarak beberapa inch dari wajahku. Kami saling menatap cukup lama sampai akhirnya Seunghyun memajukan wajahnya semakin mendekatiku.

"Mmmmpth…"dan bibir kami pun kini saling bertautan. Seung menahan erat kedua pipiku seakan ia tidak mau melepaskan ciuman ini. Aku pun hanya bisa pasrah dan mengabulkan permintaanya karena aku pun juga merasa sangat bahagia sekarang.

Kehidupan cinta kami akan berlanjut setelah ini. Tuhan, terima kasih karena kau telah mendengarkan doaku. Akhirnya… Seung kembali kepadaku…

Mulai sekarang aku pun akan belajar untuk mencintai setiap impiannya.

~So here we stand in our secret place,
The sound of the crowd is so far away,
You take my hand, and it fees like home,
We both understand, it where we belong

As I found my way back to your arms again
But until that day, you know you are
The King of my heart~

.

.

FIN

.

.

A/N : Tamat! Ini adalah tamat yang sebenarnya! Bagaimana? Apa Readers ikut bahagia dengan kebahagiaan SeungChae? Hehehe. Sekali lagi maaf karena sudah membuat galau dipart sebelumnya, tapi sekarang aku harap Readers semakin suka dengan cerita ini.

Thanks A Lot For Your Support All! Big Hug For You!

Special thanks ejinki : hehe mianhae bikin galau, tapi aku udah bikinin sequelnya toh, dengan akhir yang bahagia tentunya. Gomawo udah baca dan review, *bow