Kotoba wa Iranai

(No Words are needed)

© Cannabis G

a YunjaeYun Ho x Jae Joong's fanfiction

Don't like, don't read! Don't review and just go back!

..

Genre : Romance, school life, and boys love aka boyxboy.

Rated : T

..

"…" speaks.

'…' minds.

.

WARNING!

Membaca dapat menyebabkan kebosanan, serangan kantuk, terpengaruh virus dan gangguan pada syaraf otak dan janin *?*

Sekian dan terima kasih.

Upacara penyambutan sekolah.

Sungguh, sembilan tahun ia sekolah dan selama itu pula ia membenci tiga kata diatas. Untuk apa melakukan upacara yang berisikan oleh kata-kata yang selalu sama setiap tahunnya. Jung Yunho, memandang jengah pada seorang murid laki-laki yang tergagap diatas panggung didepan sana, murid laki-laki dengan rambut yang disisir rapi kesamping dengan kacamata tebal yang hampir menutupi wajah murid itu. Ia mendengus pelan, benar-benar, ternyata masih ada saja yang berpenampilan seperti itu dijaman sekarang. Sebuah kekehan yang berasal dari kursi disebelahnya mengalihkan perhatiannya dari pemuda culun didepan sana.

"Jangan katakan kalau kau menjadi gila karena dilempar botol oleh perempuan yang kau kencani tadi malam, hei, jidat lebar." Ejeknya malas.

"Sebuah botol tidak akan bisa membuatku menjadi gila," Yoochun mengibaskan tangannya didepan wajah lalu menunjuk kearah panggung, "aku hanya menertawakan dia. Coba lihat, masa masih ada orang yang berpenampilan seperti itu dijaman sekarang? Aku yakin didalam hatimu kau setuju denganku."

"Kau benar, dan taruhan, pasti disekolah asalnya penuh dengan anak-anak seperti dia."

"Itu pasti," Yoochun mencibir pada Yunho saat sahabatnya itu mengatakan hal yang tidak perlu dikatakan lagi. "Ah, tadi aku mendengar sebuah berita yang lumayan menarik dari anak perempuan yang kutemui didekat pintu masuk tadi. Kau tahu一?"

Belum selesai Yoochun menyelesaikan kalimatnya, sang sahabat langsung memotongnya sambil menunjukkan raut tak bersalah yang kental akan ejekan, "aku tidak tahu."

Yoochun menepuk dahinya, tidak seharusnya ia mengatakan dua kata itu karena pada akhirnya pasti ia akan terkena keisengan seorang Jung Yunho. Ia melirik sengit pada sahabatnya, "mana mungkin kau akan tahu kalau kau memotong perkataanku, brengsek!" umpatnya kasar membuat Yunho tertawa penuh kemenangan karena kembali berhasil membuat ia kesal. "Kudengar tahun ini ada dua orang yang mendapatkan nilai sempurna, harusnya salah satu dari mereka yang mewakili kita, bukan si culun peringkat dua ketinggalan jaman didepan sana~" ia mengendikkan bahu kearah kursi yang terlihat sedikit terpisah dengan jejeran kursi murid baru yang mereka tempati.

Yunho mengarahkan pandangannya kearah kendikan bahu Yoochun dan mendapati dua orang murid laki-laki yang duduk didua buah kursi yang sedikit terpisah, mereka terlihat cuek dan terlihat menyibukkan diri masing-masing. Salah satu dari mereka, mempunyai rambut ikal sewarna madu dan terlihat menunduk kebawah一kearah tangannya yang memegang sebuah PSP berwarna hitam legam. Disebelahnya duduk murid lainnya yang mengenakan hoodie berwarna putih dengan sablonan seekor naga dibelakangnya, ia terlihat mengunyah sebuah permen karet dan meniupnya一membuat balon sebesar mungkin yang ia bisa, sementara kedua tangannya sibuk membuka bungkus permen karet yang baru. Yunho menatap kebawah dan mendapati banyak bungkus permen karet dibawah kaki murid ber-hoodie naga itu. Ia mengerenyit dan menoleh pada Yoochun yang kini terlihat asyik memandangi seorang murid perempuan yang duduk didepannya, "mereka tidak terlihat seperti murid yang mendapatkan 600 poin."

Yoochun mengangkat bahunya, "kau ini lupa ya? Sebuah peribahasa mengatakan 'Don't judge a book by the cover', dijaman seperti ini apa pun bisa terjadi. Tapi yah, aku tidak peduli itu, aku hanya akan peduli jika populasi wanita cantik nan seksi di dunia ini berkurang." Ia memajukan tubuhnya kedepan dan menepuk bahu murid perempuan yang sedari tadi ia perhatikan setelah murid itu menoleh kebelakang, Yoochun mengeluarkan senyuman juga kata-kata andalannya, "hei! Ini hanya perasaanku saja atau kita pernah bertemu sebelumnya, manis?"

Yunho mendecak, sahabatnya itu mulai lagi. Ia sudah bersama dengan Yoochun semenjak mereka di Taman Kanak-Kanak dan dari seluruh tahun yang mereka jalani bersama, hanya satu sifat itu yang tidak bisa dihilangkan, bahkan menjadi bertambah parah. Yoochun dengan ke-playboy-annya. Masih membekas diingatannya seolah-olah itu baru terjadi kemarin sore, saat Yoochun menggoda guru TK mereka dan mengejar-ngejar guru itu dan tidak lupa dengan sejuta kata-kata yang harusnya tidak diketahui oleh anak yang berumur lima tahun membuat sang guru menangis, merasa gagal sebagai seorang guru dalam menjaga kepolosan salah seorang muridnya *?*. Yunho sangat yakin, yakin seyakin-yakinnya, itu semua pasti karena sinetron-sinetron yang selalu bibi Park tonton setiap sore harinya dengan Yoochun yang duduk dipangkuan dan sebuah lollipop dikedua tangan mungilnya. Yunho menggelengkan kepalanya dan kembali menatap kearah panggung, sedetik kemudian ia terbelalak saat melihat sosok yang kini telah berdiri menggantikan sosok si culun diatas sana.

"Jihyun Noona," gumamnya pelan.

"一selamat pagi dan selamat datang untuk kalian para murid baru di Shinwa. Mohon kerjasama kalian untuk beberapa tahun kedepan. Jika ada diantara kalian ada yang mengalami kesulitan, silahkan datang ke berkonsultasi ke Ruangan Osis. Saya Jung Jihyun (*) dan juga para anggota lainnya akan berusaha membantu kalian. Sekian dan terimakasih."

..

YunJae YunJae YunJae YunJae YunJae

..

Yunho berdiri bersandar pada dinding didekat pintu keluar aula, ia terlihat mengetuk-ngetukkan jarinya kedinding dibelakangnya. Tidak lama kemudian keluarlah empat orang murid dari pintu yang berada disebelah Yunho, dua murid perempuan dan dua murid laki-laki. Yunho segera berdiri tegak dan menghampiri salah seorang dari mereka, setelah jaraknya dengan murid perempuan yang menjadi alasan kenapa ia berdiri diam didekat pintu aula cukup dekat, ia menepuk pelan bahu murid itu. "Jihyun Noona," panggilnya.

Jung Jihyun segera menoleh begitu ia merasakan tepukan dibahu kirinya juga sebuah suara yang memanggil namanya, matanya sedikit terbelalak begitu mengetahui siapa yang menegurnya. "Yunho-yaaaaaahhhh~" Jihyun menerjang memeluk Yunho, membuat pemuda yang tingginya hampir sama dengan dirinya itu sedikit terdorong kebelakang.

Semburat tipis berwarna merah muda merambati kedua pipi Yunho yang cukup berisi, ia mengangkat kedua tangannya yang tadinya terdiam menggantung dikedua sisi tubuhnya, berniat membalas pelukan Jihyun. Sayangnya, Jihyun telah melepaskan pelukannya dan beralih menepuk-nepuk puncak kepala Yunho一membuat pemuda itu menampilkan sikap tidak suka karena diperlakukan seperti anak-anak.

"Noona kira kau ikut pindah dengan Paman dan Bibi ke Jepang, rupa-rupanya kau malah muncul di Shinwa dan menjadi adik tingkat Noona, eh?," celoteh Jihyun. Ia menoleh kebelakang dan menyuruh ketiga temannya untuk menunggunya sebentar.

'Mana mungkin aku pergi dan merusak rencanaku untuk masuk kesini dan bertemu dengan Noona,' batin Yunho, ia menyingkirkan tangan Jihyun yang berada dipuncak kepalanya, "Noona mengusirku?"

"Eh, memangnya Noona bilang begitu?" bukannya menjawab, Jihyun malah balik bertanya. "Lalu, kau tinggal sendirian di rumahmu?" ia kembali bertanya.

Yunho menggeleng, "tidak. Pak tua sialan itu menyuruhku tinggal dengan anak dari temannya semasa kuliah dulu. Berdua, di apartemen kawasan timur," ia memilih menjawab pertanyaan kedua Jihyun dan mengacuhkan yang pertama.

"Siapa? Siapa? Siapa namanya? Tampan 'kah?" layaknya remaja putri pada umumnya, sepupu dari pihak Ayahnya itu bertanya dengan antusias dan ia tidak suka itu.

"Dari pada tampan, lebih pantas disebut cantik. Namanya Kim Jaejoong," Jihyun membisu begitu mendengar nama yang disebutkan oleh Yunho. Lima detik kemudian sebuah seringai jenaka terlukis dibibir mungilnya. Yunho yang hendak bertanya mengurungkan niatnya karena mendengar Yoochun yang meneriakkan namanya, ia berbalik dan menemukan Yoochun yang kini terlihat menumpukkan kedua tangan diatas luutnya.

"Ada apa一hei! Kenapa kau menarikku!" protesnya karena sahabat berjidat lebarnya itu menarik paksa lengannya.

Yoochun berbalik dan menatap sebal Yunho, "kau tidak mendengar apa yang dikatakan guru tadi? Kita disuruh melihat papan pengumuman untuk melihat pembagian kelas dan setelahnya segera pergi ke kelas dimana nama kita tercantum! Dan untuk empat tahun terakhir ini kita sekelas lagi, awas saja kalau kau mengambil perhatian semua murid perempuan di kelas nanti seperti sebelum-sebelumnya!" ia segera mengambil nafas sedalam-dalamnya setelah mengatakan kalimat diatas dalam satu tarikan nafas. Yunho memutar bola matanya bosan, jangan salahkan ketampanannya yang selalu menarik perhatian perempuan, salahkan saja Ayahnya yang menurunkan semua gen yang ia punya pada dirinya.

"Ternyata Yoochun yang dulu cengeng sekali itu sudah pergi entah kemana," Jihyun yang tadinya hanya memperhatikan memmbuka suaranya, berhasil membuat Yoochun memperhatikannya.

"Jihyun Noona!" kaget Yoochun, ia mendekati Jihyun lalu meraih tangan kanan Jihyun, "maaf sebelumnya karena Park Yoochun ini sama sekali tidak menyadari keberadaan Noona sedari tadi. Noona tahu? Noona terlalu bersinar sampai-sampai luput dari pandangan mataku,' gombalnya dan mengecup tangan Jihyun.

Yunho menatap jengkel pada sang sahabat dan dengan tidak berprikemanusiaan ia menyikut perut Yoochun keras一membuat sang empu meringis kesakitan dan bersiap melemparkan cacian pada dirinya yang untungnya urung karena mereka mendengar suara bel yang Jihyun katakan sebagai bel tanda masuk kelas. Keduanya pun langsung berpamitan pada sang Noona dan tiga orang dibelakangnya yang ternyata masih berada disitu, lalu setelahnya segera pergi menuju kelas mereka untuk setahun kedepan dengan saling adu pelototan dan menjegal satu sama lain. Membuat Jihyun tertawa terhibur oleh sikap keduanya yang tidak pernah berubah dan mungkin tidak akan berubah. Jihyun berbalik dan berjalan menghampiri ketiga sahabatnya di osis yang sabar menungguinya sedari tadi.

"Jadi itu sepupu kecilmu yang pernah kau ceritakan pada kami?" pemuda yang menjadi wakilnya itu bertanya dan dibalas dengan anggukan. "Melihat sikapnya saat kau menerjang memeluknya tadi, aku berani bertaruh bahwa ia menyukaimu. Dan mungkin itu yang menjadi alasan utama dia tidak ikut pindah ke Jepang bersama dengan orangtuanya."

Jihyun tertawa, "sebenarnya telingamu terbuat dari apa sampai-sampai kau bisa mendengar percakapan kami dengan jarak yang lumayan jauh itu?" tanyanya mengejek, ia membuka pintu ruangan osis dan masuk kedalamnya, "dan untuk soal dia menyukaiku, ia salah paham. Sejujurnya yang disukainya itu bukan aku, melainkan Roh salju ber-syal merah. Seandainya insiden itu tidak terjadi, aku yakin dia tidak akan merepotkanku dengan selalu mencari perhatian dariku, ha-aah~"

"Roh salju ber-syal merah? Insiden? Aku tidak mengerti," sang sekretaris bergumam sementara tangannya tetap mengerjakan laporan osis yang harus diserahkan kepada kepala sekolah mereka.

Jihyun mengangkat bahunya dan lebih memilih merogoh sakunya lalu mengeluarkan telepon genggam miliknya. Mencari sebuah nomor dijajaran kontak yang ia miliki dan meneleponnya. Perlu beberapa detik hingga orang diseberang sana mengangkat panggilannya, "halo? Oppa! Kenapa kau tidak mengatakan apa pun tentang si rubah cilik yang bersamamu sekarang!?"

..

YunJae YunJae YunJae YunJae YunJae

..

Peluh menetes dikedua pelipisnya, matanya yang berwarna hitam sekelam malam menatap nyalang pada lantai dibawahnya一seolah-olah jika ia berpaling sedetik saja dirinya akan langsung ditelan oleh makhluk yang berada dibawah sana. Rambutnya yang biasa tersisir rapi kini berantakan, bola matanya bergerak gelisah. Kim Jaejoong, kembali merutuki dirinya. Gigitannya pada kuku-kuku jari kanannya semakin menjadi-jadi, ia bergerak-gerak gelisah.

Oh, ayolah, Kim Jaejoong! Mereka pasti akan menertawaimu jika melihat keadaanmu sekarang! Takut pada makhluk menjijikkan yang masuk dalam golongan insekta, berwarna cokelat dengan cara berjalan seperti orang mabuk! Ia bahkan tidak takut saat dikelilingi tiga berandalan 一hari itu ia sedang berjalan-jalan bersama Jundu, sahabatnya一 yang berusaha menggoda mereka dan mengirim ketiga berandalan itu ke rumah sakit milik Ayahnya dengan beberapa tulang yang retak. Lagi pula, jika mengingat bagaimana kelakuannya saat masih dibangku sekolah. Ia benar-benar terlihat konyol saat ini, berada diatas meja yang biasa ia gunakan untuk memasak, ketakutan oleh serangga yang harusnya hanya ditakuti oleh perempuan. Ketakutan oleh seekor kecoak. Kecoak, kecoak! Garis bawahi itu.

"Kenapa… kenapa dari sekian banyaknya Negara didunia ini, juga dapur di dunia ini. Kenapa makhluk menjijikkan yang hidup diseluruh dunia kecuali di kutub itu bisa muncul di dapurku! Aku tidak ingat tidak membersihkan dapur, uuhh," gerutu Jaejoong. Entah sudah berapa kali ia mengucapkan gerutuan itu.

"Aku pulang!" Terdengar suara dari asal pintu terbuka, detik kemudian Yunho muncul dari arah pintu depan, "lho, Hyung? Apa yang kau lakukan diatas meja?"

..

YunJae YunJae YunJae YunJae YunJae

..

Yunho mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk yang ketiga kalinya. Sudah tiga menit ia berdiri mematung didepan pintu apartemennya dan Jaejoong dan untuk satu menitnya, ia selalu mengambil nafas dalam-dalam. Tangannya memegang gagang pintu apartemen itu 一ia sudah memutar kunci apartemen tiga menit yang lalu一 dan membukanya. Ia melangkah masuk kedalam dan melepaskan sepatu yang ia pakai setelah sebelumnya mengunci pintu apartemen kembali. Yunho menelan ludah sebelum berujar, "aku pulang!"

'Euh, tetap saja rasanya aneh mengucapkan ini,' batinnya.

"Lho, Hyung?" apa yang kau lakukan diatas meja?" tanyanya saat melihat sosok Jaejoong duduk diatas meja yang biasa digunakan pemuda itu untuk memasak. Dan betapa kagetnya ia saat Jaejoong menoleh kearahnya dengan wajah memelas dengan peluh yang menetes dan rambut berantakan, "woaaaa, kau kenapa, Hyung?" ia kembali bertanya dan menghampiri Jaejoong.

Jaejoong mencengkram kemeja seragam Yunho dan menatap pemuda itu dengan pandangan berkaca-kaca, "Yu-Yunnie…"

"Ya?" Yunho menggenggam tangan Jaejoong yang mencengkram seragamnya.

"Tolong aku," ucap Jaejoong lagi.

"Apa? Apa yang bisa kulakukan?"

Jaejoong melirik kebawah dan histeris begitu melihat seekor kecoak yang kini tepat dibawah meja dapurnya, "singkirkan… singkirkan makhluk menjijikkan itu," gumamnya pelan penuh kengerian.

Yunho yang hanya mendengar gumaman samar dari pemuda dihadapannya ini memajukan tubuhnya, ia memegang kedua bahu Jaejoong, "singkirkan? Aku harus menyingkir kan apa, Hyung?" tanyanya yang sayangnya tidak diindahkan oleh pemuda cantik yang kini semakin merapat pada dirinya dengan pandangan lurus kebawah.

"Gyaaaa, dia datang. Dia datang!" Jaejoong berteriak histeris lalu memeluk tubuh Yunho yang berada dalam jangkauannya dengan tiba-tiba.

Yunho sedikit banyak terdorong kebelakang karenanya, dengan sigap ia memeluk pinggang Jaejoong dan menumpukkan beratnya pada si pemuda yang masih memeluknya一mencoba menyeimbangkan posisinya agar tidak jatuh terjungkal kebelakang. Jaejoong yang kini rasa paranoid-nya mencapai maksimal malah menganggap kedua tangan Yunho yang memeluk dan mengelus pinggangnya itu adalah kecoak yang telah berhasil naik keatas meja dan kini berada dipinggangnya. Dengan sekuat tenaga ia kembali mengeratkan pelukannya yang tadinya sudah longgar pada leher Yunho yang tidak siap menahan berat badan Jaejoong dan ia pun一

Brak Bruuukk!

一jatuh terjungkal kebelakang dengan indahnya. Indah disini mengacu pada tubuh Jaejoong yang jatuh menimpa tubuh Yunho, dengan kedua tangannya melingkar dileher si pelajar dan juga, Jaejoong yang menyurukkan wajahnya diantara bahu dan leher milik Yunho. Indah bukan?

Padahal sebenarnya penyebab adegan indah itu, si kecoa yang dimaksud, masih berada dibawah一sepertinya ia urung memanjat ketempat Jaejoong berada karena takut mengganggu adegan lovey-dovey kedua pemuda itu. Dan ia segera berlari pergi entah kemana setelah dirinya hampir tertindih, oh! Atau jangan-jangan ia berlari karena masih ingin melindungi otak innocent-nya dari adegan tindih-menindih Yunho dan Jaejoong? Uwaa, saudara-saudara, si kecoak ternyata YunJae shipper!

[ Mana mungkiiiinnnnn! ]

Tunggu dulu, memangnya kecoak punya otak?

[ Sudahlah, balik kecerita! ]

Yunho meringis pelan saat kapas yang sudah dibasahi oleh alkohol itu menyentuh lukanya, benar, luka, saat jatuh tadi lengannya bersenggolan dengan kursi kayu yang berada disana. "Aku tidak percaya," ucapnya sambil memperhatikan Jaejoong yang membersihkan lukanya dengan telaten.

"Apanya?" Tanya Jaejoong dan masih berkonsentrasi pada luka lecet yang disebabkannya.

"Demi Tuhan, itu hanya seekor kecoak, Hyung." Ujar Yunho, "tidak seharusnya kau takut dengan makhluk yang bahkan ukurannya tidak sebesar telapak tangan."

Jaejoong memajukan bibirnya saat mendengar apa yang diucapkan Yunho, "yeah, demi Tuhan. Itu hanya seekor kecoak yang tidak sebesar telapak tangan." Ia mengulang kalimat Yunho sambil menekan kapas berbalut alkohol itu pada luka Yunho kuat-kuat, juga mencengkram pergelangan tangan Yunho yang dipegangnya sedari tadi.

"Adudududuh, sakit, Hyung," ringisan keras keluar dari sela bibir berbentuk hati itu.

Jaejoong menjauhkan kapas itu dari luka Yunho dan melonggarkan cengkramannya yang kini meninggalkan jejak biru pada pergelangan tangan sang pemuda yang lebih muda empat tahun darinya itu. Ia mendecih, "kalau saja insiden itu tidak terjadi, kau pasti tidak akan berkata begitu padaku karena kau tahu benar apa penyebabnya. Dan juga tidak melupakan kenangan yang kita buat selama tiga hari itu," gumamnya lirih sampai-sampai Yunho yang duduk dihadapannya tidak bisa mendengar apa isi gumamannya.

Jaejoong menutup kotak P3K itu setelah yakin luka Yunho bersih, oh, dia tidak akan menutup luka itu karena semakin sering ia terkena udara maka semakin cepat pula pulihnya dan luka itu tidak akan berbekas. Itu lah yang ia lakukan selama ini jika ia terluka, lihatlah tubuhnya mulus dari yang namanya bekas luka. Pemuda cantik itu menunduk kearah luka Yunho, "sakit, sakit pergilah...," bisiknya lalu mencium lengan Yunho yang terluka.

Deg

Jantung Yunho berdesir hangat saat Jaejoong mencium lukanya dan mengucapkan kalimat itu. Ia merasa pernah mengalami ini dulu, dulu sekali, jauh dimasa lampau. Tetapi saat ia mencoba untuk mengingatnya, kepalanya langsung berdenyut sakit.

Seolah tersadar apa yang telah ia lakukan, Jaejoong segera melepaskan lengan Yunho dan dengan gugup berkata, "ma-maaf, aku sulit menghentikan kebiasaan yang satu ini." Ia berdiri dari sofa dan meletakkan kotak P3K-nya ditempat semula lalu setelahnya berbalik menghadap Yunho yang masih duduk diatas sofa, "tidak ada makan malam hari ini," katanya yang langsung menuai erangan protes dari pemuda bermarga Jung itu. "Kenapa? Tentu saja karena aku tidak mau berada disatu ruangan dengan makhluk menjijikkan itu," jawab Jaejoong seolah mengerti apa yang ingin Yunho ucapkan padanya.

"Hyung, itu hanya seekor kecoak," ucap Yunho frustasi. Masa hanya karena seekor kecoak ia tidak mendapatkan makan malam hari ini? Yang benar saja! "Tidak seharusnya kau takut dengan kecoak, Hyung."

"Katakan sekali lagi, dan remote televisi ini akan dengan senang hati mencium bibirmu." Ancam Jaejoong yang kini tengah memainkan benda yang dimaksud ditangan kanannya. Yunho menghela nafas, padahal ia sengaja menolak ajakan Yoochun makan dikedai langganan mereka karena ia ingin memakan masakan Jaejoong yang sangat terasa pas dilidahnya. Ia menyangga dahinya dengan tangan kanannya saat mendengar perutnya menyanyikan sebuah simfoni yang memekakkan telinga.

[ To be Continued ]

..

A/N : Mungkin kalian akan bosan membaca ff saya, karena, sungguh, saya kalau bikin ff alurnya lambatnya ga ketulungan. Err, soalnya kalau cepat-cepat saya merasa feel-nya ga dapat. Kalau keberatan dengan cara penulisan saya, kamu boleh kok ninggalin ff ini :)

Nah, untuk chapter depan, mungkin update-nya sedkit lama karena belum ada huruf yang diketik barang satu pun hahahahaha *duaaaak*

...

* Jung Jihyun atau Jun Jihyun. Saya rasa tanpa dijelaskan pun Anda tahu siapa dia. Yeah, Jung Yunho mengidolakan perempuan yang bermain di Sassy Girl sebagai Chunhyang ini, sampai-sampai membuat Kim Jaejoong mengatakan bahwa ia ingin memainkan peran seperti Chunhyang. Man, he is jealous!

...

...

YuyaLoveSungmin : Err, yg login saya balasnya lewat PM :) Iya, bakalan sering kok si naga muncul.. Eh, kenapa ga cium? Karena saya ga nyuruh kali ya *dicakarberuang*

Balesan review non login :

Ryu : Unik? Jelek kok.. Makasih ya :)

trililililili : Kecoa itu pembawa berkah lho *nunjuk paragraf atas* iya, udah update nih :D

shipper : Hm, gitu ya? Mungkin karena belum dijelasin apa-apa soal sekolahnya? Menurut saya pas.. kalau masalah umur jauh sih, di Vamps lebih jauh *promosi* wkwkwk xD

Himawari Ezuki :

GD : Ah, eh? Bahasa kerennya itu bagi-bagiin hasil kerajinan gue, tapi pake duit *kibas poni* terus bahasa ga kerennya itu gue jadi pedagang kaki lima *injekinauthor* Eh! Motor Seunghyunnie itu keren kali! Alap-alap apenye! *glare*

Author : Iyah, itu kekuatan sebenarnya dari sebuah ranjang! Yeah, come on. Go gay, go gayy~~~

karinaps : Yaelah, masa sih tega nendang saya yang unyu ini *puppyeyes* Bukannya ga mau, diotak saya udah ada alurnya, bahkan sampe omake. Masalahnya itu, saya ga mood ngetik *duaaak* ah, ya, ini juga ff lama.. Cuma baru di-post disini wkwkwk xD

jung jaema : Maklum, uke pan G4HOL nya mesti sama uke-uke rempong *lirik twittUmma*

Hibiki Kurenai : Iyah, kamu juga ketawanya ga berhenti xD Maklum, jiwa uke-nya susah ditutupin wkwkwkwk

jennychan : Iya, udah kenal. Soalnya Umma latihan mulu depan kaca pagi-pagi wkwkwkwk

LawRuuLiet : Syukur deh suka, ane demen yg gayanya slengekan *?* kaya GD gitu, bahkan doi berani sama JYP wkwkwk xD Iyah, pangeran kecil yg nyelamatin Umma dari serangan kecoak raksasa *dikateUltra-man* wohohoho, nanti bakalan saya jelasin pelan-pelan xD

Makasih juga buat yang login, favorite, follow, alert dan lain-lainnya.

Oh! Silent reader-saaaaan~ I LOP YU!

Special thanks :

NaraYuuki/Qhia503/YuyaLoveSungmin/desi2121/diitactorlove/maria8/YukimaruNara/Couphie/shimasisah/BooFishy/kyu501lover/hatakehanahungry/irengiovanny/SparKSomniA0321

...

...

Juni 2012, Cannabis G.

Always Keep The Faith !