Tittle : We Are Roommate!

Pairing :KyuHyun & SungMin

Rate :T

Genre : Humor, Romance and Fluff (may be) *aturan rada angst, tapi gk mau saya tulis, krn nantinya ff ini aneh/smirk*

Summary : Kita adalah roommate, benar 'kan? Tentu saja! (abaikan summary yang aneh itu ==a)

Warning : Yaoi, BL, Gaje, Typos, Aneh, Gk nyambung. Don't Like Don't Read. No Copas walau gaje =.= part ini panjang! kalau bosan, TUTUP AJA! :D

A/N : Dilarang galau saat membaca FF ini! Karena tak ada unsur kegalauan di dalamnya. Setelah membaca pesan yang tersirat(?) di dalam FF ini saya berharap para kalian—yang bersangkutan— tidak lagi menyalahkan satu diantaranya, baik Sungmin, Kyuhyun ataupun Yesung. Bego banget ada KMS yang menyalahkan Kyuhyun atas hal ini. Sejujurnya pada saat mendengar kabar itu, saya juga sedih atau tepatnya shock. Jelas aja donk kaget! Tapi tidak terlarut dalam kesedihan yang tak berujung(?) apalagi saya langsung memutuskan segera berbagi kesedihan dengan seseorang dgn sms, dan setelahnya atau karena Dia FF ini bisa dibuat, gyakakakaka. "Beb, Saranghae~~" lempar cinta sama orang jelek itu :p

.

Happy Reading~~

.

Bagian. 2

.

Sungmin tampak lelah. Ia berjalan gontai setelah pulang dari siaran Sukira bersama sang patner DJ—Kim Ryeowook. Bagaimana tidak? Sebelum berangkat ke gedung KBS, dirinya harus disibukan dengan berberes barang-barangnya. Walau bagaimana pun orang-orang mengatakan tubuhnya tampak terlihat sehat –bukan berarti harus gendut- namun, yang namanya manusia jika keadaan tubuh terus dipaksa beraktifitas tanpa memikirkan kemampuan tubuh, maka tak jarang akan berakibat jatuh sakit.

Sungmin terus memaksa menggerakan kakinya untuk segera mencapai pintu dorm mereka. Ia mendapati bagian bahu dan pinggangnya sedikit agak pegal. Sesaat Sungmin merasa menyesal karena memiliki bagian belakang –ehem, bokong— yang lumayan besar, dan berakibat dengan pergerakkannya yang sedikit melambat. Di saat seperti ini ingin rasanya ia melepasnya sejenak, kemudian disaat tertentu –ketika Kyuhyun memuji kepadatan benda tersebut— baru ia akan memasangnya kembali.

Sungmin menghela napas, dan menunduk sejenak. "Kau harus diet, Sungmin-ah." Gumamnya, kemudian mengangkat kepalanya menatap lurus ke lorong yang sepi di depannya.

Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, dengan hoodie yang menutupi sampai kepala, Sungmin melangkah dengan pelan ke tempat tujuan.

Sesampainya di depan pintu, segera Sungmin menekan beberapa digit angka, dan kemudian melangkah masuk ke dalamnya. Ruangan itu tampak sepi dan gelap, yang menandakan penghuni lainnya sudah pada terlelap.

Termasuk…

Langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu kamarnya—ah! Yang sekarang menjadi kamar dongsaengnya. Ia memandang lama pintu kayu yang bertuliskan 'KyuMin Line' pada bagian depan pintu tersebut.

Tanpa sadar tangannya terulur pada kenop pintu, sebagian dari tubuh Sungmin memberontak untuk masuk ke dalam atau sekedar melihat orang yang berada di balik pintu tersebut.

"Apa Kyunie sudah tidur?" Sungmin menempelkan telinganya pada pintu kayu itu, memastikan bahwa sang kekasih sudah memejamkan mata tanpa harus berkutat pada benda-benda bernama PSP atau sejenisnya.

Akan tetapi Sungmin sedikit meringis saat indra pendengarnya tak menangkap suara apapun dari dalam, dia sendiri lupa bahwa kamar 'khusus' tersebut dirancang sedemikan rupa oleh Kyuhyun dan tentu saja dirinya sendiri. Tujuannya, agar makhluk bernama Eunhyuk ataupun para member lain, tidak leluasa mencuri dengar suara-suara yang tertangkap dari dalam. Dan malah sebaliknya, suara sekecil apapun bisa dapat terdengar dari kamar tersebut.

Hingga akhirnya Sungmin melepas pegangan tangannya pada kenop pintu, dan berjalan lemas ke kamarnya. Tanpa tahu sang magnae sedang berharap bahwa pintu akan terbuka dengan Sungmin yang tersenyum ke arahnya.

Semuanya pupus setelah namja cantik itu membuka pintu kamarnya, bahkan Sungmin mendapati dirinya tersenyum miris melihat keadaan gelap yang ia dapat pada kamar barunya.

"Kau pasti bisa Sungmin." Dengan tersenyum yang dipaksakan Sungmin menyemangati dirinya sendiri.

Saat ini yang paling penting bagi Sungmin adalah tidur, dan mengistirahatkan otaknya dari segala macam urusan dan masalah yang cukup pelik. Sungmin sendiri berharap dengan cepat Ia memejamkan mata, maka isi kepalanya yang mengkhawatirkan sang Dongsaeng tidur pada tepat waktu akan sedikit berkurang.

Sungmin sendiri yakin dengan perkataan Kyuhyun, bahwa dongsaeng sekaligus kekasihnya adalah orang yang begitu konsisten dengan apa yang diucapkannya. Kyuhyun sudah berjanji akan bersikap dewasa, dan Sungmin hanya tinggal membuktikannya saja. Semua akan berjalan dengan baik, atau Sungmin sendiri malah merasa berbeda dengan kebiasaan yang telah tercipta selama bertahun-tahun.

Sesaat setelah pemuda penyuka labu itu akan segera bersiap untuk menuju dunia mimpinya, namun kemudian dirinya merasa ada yang kurang. Sungmin kembali membuka matanya yang sempat terpejam, dan beranjak mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. Kedua foxynya memperhatikan satu-persatu tubuhnya, mulai dari kaki bahkan sampai ujung rambut. Dan… tak ada masalah dengan itu semua. Ia sudah menyikat gigi, mencuci muka, dan memakai piama yang cukup nyaman di malam yang dingin ini. Namun Sungmin masih merasa ada yang kurang.

Kemudian Sungmin mengigit bibirnya kuat, saat baru menyadari seorang Cho Kyuhyun lah yang sedang ia pikirkan sekarang. Sungmin memantapkan hatinya bahwa keputusan yang ia buat baik untuk bersama. Namun detik kemudian dirinya merasa ragu setelah telinganya mendengar suara seperti pintu diketuk.

"Apa itu Kyuhyun?!" tanpa sadar Sungmin menautkan kedua jemarinya dan sedikit meremas untuk mengurangi degupan jantungnya yang entah mengapa berdetak tidak sesuai aturan.

Sedikit ragu, akhirnya Ia memilih untuk bertanya, "Siapa?"

Namun tak ada jawaban sehingga Sungmin segera memutuskan untuk melihat saat sebuah ketukan—ah! Maksudnya, sebuah dentuman yang agak keras seperti suara ketika Kyuhyun jatuh dari tempat tidur—saat Sungmin menggeser tubuhnya karena kesempitan.

Dan Sungmin begitu terkejut mendapati pelaku –perusak tidur nyenyaknya- sedang berdiri di hadapannya.

Sungmin dapat merasakan sesuatu di balik rongga dadanya seperti ingin melompat keluar ketika tanpa sadar mengucapkan nama Kyuhyun dengan jelas. "Kyuhyun?!" serunya dengan bola mata membulat.

Tapi setelahnya, Sungmin dengan cepat merubah nada suaranya agar tidak terlihat gugup. Dan ketika bola matanya mendapati jidat Kyuhyun yang memerah, ia tak tahan untuk tidak bertanya. Karena biar bagaimana pun, Sungmin sangat mencintai dan menyanyangi kekasihnya yang evil itu, sedikit tidaknya sikap melindungi orang yang tercinta akan timbul sesuai naluri.

Beberapa saat setelah itu, percakapan canggung pun tak bisa dielakkan, hingga akhirnya sang Magnae Evil dari Super Junior itu mendaratkan beberapa kecupan 'Selamat Malam' di bagian tertentu pada wajah manis Sungmin, dan juga satu jilatan lembut di pipi kanannya. Kemudian berjalan dengan santai, meninggalkan seorang Lee Sungmin dengan wajah memerah, tubuh membeku dan juga jantung yang berdegup keras.

Pemuda manis itu terdiam cukup lama di depan pintu, sebelum kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman manis dan kemudian menutup pintu kamarnya dengan sangat pelan. Sungmin melangkahkan kakinya ke tempat tidur, dengan senyuman yang masih terukir indah dari bibir yang tak kalah indah dari bunga sakura. Bahkan saat memejamkan mata, senyum itu masih bertahan.

Keadaan ini tak jauh berbeda dengan sang pelaku 'pencuri' kecupan. Bahkan lebih parah! Apakah ada yang bisa membayangkan seorang Cho Kyuhyun tersenyum seperti orang gila, dengan wajah yang memerah sempurna? Mungkin itu hal biasa jika disebabkan oleh orang yang bernama Lee Sungmin. Tapi siapa menyangka bahwa Kyuhyun akan tertidur dengan wajah yang tertutupi dengan bantal. Tak takut kehabisan napas 'kah?

Dan… sebelum Sungmin benar-benar memejamkan matanya, ia berharap dan berdoa bahwa keputusan yang ia ambil adalah hal baik untuk bersama. Sungmin tanpa sadar terkekeh saat memikirkan beberapa hal yang ingin ia katakan di Sukira besok. Baik Sungmin maupun Kyuhyun sendiri, mereka tahu dan sangat menghargai sekelompok orang yang mengatasnamakan dirinya 'KyuMin Shipper'.

..

.

Pagi Hari—hari pertama.

Lee Sungmin. Pemuda manis dengan senyuman yang dapat mengumpulkan semut dalam hitungan detik itu, kini tampak berkedip untuk menyesuaikan kilau cahaya matahari yang beradu dengan iris kecoklatannya yang terlalu mempesona.

Sungmin tidak menyangka bahwa dirinya bisa melewati satu malam tanpa Kyuhyun yang selalu mendekapnya. Sebenarnya hal ini sering terjadi ketika kekasihnya yang tak kalah jauh mempesona dari dirinya, sedang berada di luar negeri –melakukan aktifitas berbeda bersama KRY. Namun lain cerita jika pada saat ini mereka masih satu lantai bersama dan tidak saling mendekap ketika pagi membuka mata.

Hei… siapa sangka mereka dapat melaluinya? Tapi apakah keadaan ini akan terus bertahan?! Entahlah…

Sungmin segera beranjak dari tempat tidur saat dilihatnya angka jam detik—yang bertengger di meja kecil di samping tempat tidurnya—tepat mencetak angka 08.00. Dan itu artinya… Sungmin kesiangan bangun!

"Omonaa… aku kesiangan!" dengan panik kedua kaki putihnya berlari menuju kamar mandi yang tak terlalu besar tersebut.

Dengan berdandan seadanya, ia segera keluar dari kamar dan berniat untuk membangunkan Kyuhyun, dan terlebih membantu sang koki SUJU untuk menyiapkan sarapan pagi untuk para member.

Sungmin mengetuk pintu kamar Kyuhyun dengan kuat, ia harus segera membangunkan Kyuhyun. Sedikit terkejut karena pintu langsung terbuka saat ia menyentuhnya. Sungmin memandang dengan dahi berkerut ketika kedua foxy-nya tak mendapati Kyuhyun berada di dalam.

"Apa Kyuhyun sudah bangun?" tanyanya pada diri sendiri. Dia terdiam sebentar, dan berucap, "baguslah…" seolah tak peduli. Namun bibirnya memanyun tak senang.

"Lebih baik aku ke kamar Eunhyuk saja, mungkin saja dia juga belum bangun." Katanya berujar riang. Sungmin hanya merasa aneh jika tidak melakukan hal ini.

Dan kembali bibir sewarna sakura itu mengerucut minta dicium. Hanya saja kali ini pipi bulatnya juga mengembung saat tak lagi menemukan pemandangan yang ia harapkan.

Kosong… tak berpenghuni!

"Berarti hanya aku yang bangun kesiangan?!" pipi putih itu semakin mengembung seperti balon. "Apa karena malam tadi Kyuhyun menciumku, sehingga—hya! Apa yang kau pikirkan Sungmin-ah?!" Sungmin memekik sembari menggeleng panik dengan menangkupkan kedua tangan di pipi mulusnya.

"Oh tidak! Sebaiknya aku cepat ke lantai 12." Setelahnya pemuda manis itu sedikit berlari ke tempat tujuan.

...

~We Are Roommate~

Sungmin berjalan canggung ke arah meja dapur yang sudah dipenuhi oleh para member. Awalnya tak ada yang menyadari kedatangan Sungmin, sampai pemuda manis itu menarik salah satu kursi kosong di sebelah sang magnae sehingga menimbulkan bunyi yang membuat semua orang menatap heran padanya, terkecuali Kyuhyun yang sudah mengetahui lewat udara(?) hanya bersikap santai dan seolah berpura tak tahu.

"Sungmin-ah, tumben sekali kau bangun kesiangan?" Kangin—hyung yang semakin tampan dengan rambut blonde-nya itu lebih dulu bertanya mewakili member yang lain. Well… karena memang tak biasanya seorang Lee Sungmin terlambat bangun, terkecuali ada hal yang mengganggu pikiran namja manis tersebut.

Dan sebelum Sungmin dapat menjawab, pertanyaan atau lebih ke pernyataan lain keluar dari mulut sang machine dancer, "Apa kau bisa tidur nyenyak tanpa Kyuhyun?!" ujar Eunhyuk dengan santai dan mengabaikan seseorang yang menatap kagum ke arahnya.

"Eunhyuk tampak semakin indah…" lirih orang itu yang ternyata Donghae. Namun sayang, dan untungnya tak ada yang mendengar gumaman namja ikan yang bersifat kekanakan tersebut.

Untuk saat ini, pertanyaan atau pun pernyataan yang menyangkut pindah kamar begitu sangat sensitive untuk di bahas, dan terlebih—kedua—orang yang bersangkutan sedang bersama. Biar bagaimana pun, sebelum sang Leader bertugas di kemiliteran, namja berkepribadian menarik itu sudah berpesan kepada semua member untuk saling menjaga satu sama lain selama dirinya tidak bersama dengan Super Junior.

Dan masalah pisah kamarnya Kyuhyun dan Sungmin, secara tak langsung para member juga ikut berperan demi kebaikan bersama. Tapi apakah ada yang mengira keputusan tersebut akan berlaku bila di dalam dorm? Dengan jelas para member sangat mengetahui bahwa seorang Cho Kyuhyun meski sudah dikatakan cukup dewasa di usia 25 tahunnya, tapi sang magnae tetaplah magnae yang akan bersifat manja sewaktu-waktu, terlebih dengan seorang Lee Sungmin—sang roommate yang selama hampir 6 tahun lebih mengatur segala jenis kebutuhannya. Ukh… seperti seorang istri, eoh?

Sungmin tampak melirik Kyuhyun dari balik bulu matanya. Ia ingin menjawab, tapi apa yang harus ia katakan? Kenyataannya, seusai Kyuhyun memberi kecupan di seluruh wajahnya dan mengucapkan selamat malam, barulah ia bisa tertidur dengan nyenyak. Kalau tidak, pagi ini mungkin Sungmin sudah mendapati lingkaran hitam di bagian bawah matanya.

"Humm—itu…" Sungmin sedikit ragu karena bingung harus mengatakan apa, dan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, sang magnae yang duduk di sebelahnya lebih dulu menyela.

"Aku sudah selesai makan!" potong Kyuhyun sembari mengambil tissue dan mengelap pelan sudut bibirnya. Seketika semua mata teralih padanya, "Eunhyuk hyung, siang ini aku tidak ada jadwal. Aku akan menghabiskan waktu di kamar saja sebelum sorenya kita harus latihan untuk dance 'Break Down' dan malamnya aku harus mengisi acara Radio Star." Kyuhyun segera berdiri dari kursi meja makan tersebut, kemudian dia menolehkan kepalanya pada Ryeowook. "Aku sudah menghabiskan sarapanku, Wookie hyung. Seperti biasa masakanmu enak." Katanya.

Setelah itu, Kyuhyun segera kembali ke kamarnya saat sebelumnya membungkukkan badan pada hyungdeul. Dan semua member tanpa terkecuali Sungmin sontak terkejut dengan perubahan sikap uri magnae mereka. Donghae yang tadinya masih terjerat dalam pesona merahnya bibir Eunhyuk—karena terhias saos dari pasta masakan Wookie, langsung bergumam takjub.

"Apa yang dilakukan Sungminnie hyung, sehingga Uri Magnae berubah seperti itu," Kata Donghae berkedip tak yakin.

"Pagi ini dia juga tampak berbeda. Dia bagun lebih dulu tanpa harus dibangunkan. Dan lihat… dia juga menghabiskan sarapannya dengan baik." Ujar Wookie menimpali.

Baik Kangin, Shindong maupun Eunhyuk membenarkan apa yang dikatakan eternal magnae mereka itu. Sedikit tak yakin atas perubahan sikap Evil Magnae mereka.

"Sungmin hyung, apa yang kau katakan pada magnae itu sehingga dia bisa berubah begitu?" Eunhyuk bertanya dengan tatapan mengintimidasi. Dirinya hanya merasa curiga. Biar bagaimana pun Eunhyuk cukup tahu dengan sifat Sungmin.

Sungmin tampak mengigit bibir bawahnya sebelum menjawab, "Aku hanya mencoba meminta pengertiannya agar dia bisa bersikap dewasa. Dan aku pikir dia sudah melakukannya barusan." Kata Sungmin dengan nada yang cukup datar.

"Apa kau sendiri tidak apa-apa, Sungmin-ah?" tanya Shindong.

"Gwaenchana, Shindong hyung."

Kangin yang saat itu tengah memperhatikan raut wajah Sungmin berubah murung, mencoba bersuara, "Kau sendiri tampak ragu Sungmin-ah. Kalau kau belum terbiasa kami juga akan memakluminya, dan—"

"Bukankah ini adalah keputusan yang terbaik. Aku akan berusaha membiasakan diri, ah—mianhae, Kangin hyung. Bukan maksudku untuk bersikap tidak sopan." Potong Sungmin segera. Ia sendiri jadi merasa tak enak pada hyung yang paling disayangnya itu. Dirinya hanya tak mau dibuat menyesal atas keputusannya. Kata mereka ini adalah keputusan terbaik, namun kalau ceritanya seperti ini, rasanya seperti mempersulit dirinya sendiri.

Kangin menghela napas maklum. Ia begitu menyanyangi Sungmin dan juga Kyuhyun tentunya. Setidaknya sebagai seorang hyung, dia hanya menginginkan adik-adiknya bahagia, "Tidak masalah…" katanya tersenyum.

"Lebih baik kita lanjutkan sarapannya. Pasta Wookie hari ini benar-benar enak, Slurppp—" Ujar Shindong mencoba mencairkan suasana. Ia menggulung pasta dengan sumpit dan menyeruput benda itu dengan nikmat, membuat Donghae menatap kesal ke arahnya.

"Ya, Shindong hyung! Makanlah yang benar…" kata Donghae.

"Kenapa? Ini 'kan enak," balas Shindong tak mau kalah, dan sekali lagi menyeruput makanan yang terbuat dari terigu tersebut.

Perlahan suasana yang tadinya sempat kaku, kini sudah mencair akibat tingkah kekanakan Donghae yang memaksa ingin makan sepiring berdua dengan Eunhyuk. Ah, mereka itu…?!

..

.

Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Sungmin segera kembali ke kamar. Sama halnya dengan Kyuhyun sendiri, ia tak mempunya jadwal khusus terkecuali sore nanti latihan menari dan malamnya berlanjut untuk siaran Bora Sukira.

Biasanya disaat seperti ini Sungmin akan menghabiskan waktunya di kamar—berdua bersama Kyuhyun. Tapi apa yang harus dilakukannya ketika saat ini mereka berdua terpisah oleh tembok dinding kamar?

Sedikit bosan, Sungmin akhirnya hanya berguling-guling di atas tempat tidurnya. Bingung harus melakukan apa?

Sementara itu, di balik dinding—kamar Kyuhyun.

.

"Hyaa… apa yang kau lakukan, Cho? Itu bukan sama sekali gayamu. Oh… Tuhan, itu bukan Cho Kyuhyun! Aku tidak akan bisa dan tak akan pernah mengabaikan Sungmin hyung seperti tadi. Sungmin hyuunggg~ aku merindukanmu… bogoshipoyo, hyung-ah~" dan rupanya Uri Magnae sedang merutuki kelakuan—sok dewasanya—beberapa saat lalu.

Subuh hari Kyuhyun sudah bangun untuk berpikir dengan apa yang akan ia lakukan. Kemudian Kyuhyun sendiri sudah melakukannya, dan itu sedikit membuatnya menyesal. Sesungguhnya ia juga tak mampu melakukan hal tersebut ataupun berpura sok kuat. Kyuhyun hanyalah seorang Kyuhyun yang terbiasa diberi perhatian oleh orang yang bernama Lee Sungmin.

Bisa apa dia tanpa seorang Lee Sungmin? Kyuhyun sendiri sudah berusaha pelan-pelan—untuk terbiasa—tanpa Sungmin. Nyantanya ia tak mampu, karena selama ini jarak pandang Kyuhyun hanya ada seorang Lee Sungmin. Entah sejak kapan itu berlaku, Kyuhyun sendiri tak tahu!

"Andwae! Aku tidak bisa berpura-pura sok tegar seperti ini." Kyuhyun mendudukkan dirinya di tempat tidur dan memandang kosong ke arah dinding, seolah sedang memandang Sungmin-nya di balik sana.

Semenjak Kyuhyun memutuskan untuk lebih dulu menyelesaikan sarapannya tadi, Ia langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, dan dengan kesal mengacak seluruh tempat tidur yang susah payah ia rapikan. Kyuhyun berpikir bersikap dewasa bukan berarti diukur dari umur, terkadang orang yang cukup umur bisa bertindak seperti anak kecil.

"Lee Sungmin!" Kyuhyun menyerukan nama itu dengan lantang, tatapannya begitu mengerikan, dan sepertinya otak jeniusnya itu sedang bekerja untuk memikirkan sesuatu agar dia bisa melakukan kontak dengan hyung-nya itu. Sejujurnya Kyuhyun benar-benar merindukan Sungmin. Ia merindukan bau tubuh dan juga bokong padat Sungmin yang selalu ia tepuk jika ingin menyanyikan namja manis tersebut ketika ingin tidur.

"Aku akan membuatmu kesal, sehingga kau menyesal dengan keputusanmu, Sungminnie..." Kata Kyuhyun dengan gaya evil smirk kebanggannya.

Kyuhyun melayangkan pandangannya pada isi kamarnya, kali saja ada bahan untuk memulai aksinya. Dan Kyuhyun tak bisa menahan sudut bibirnya untuk terkembang, saat obsidiannya menemukan setumpuk bulu hitam yang keriting.

Iiihh... apa itu?

Buru-buru Kyuhyun mengangkat benda tersebut, dan berlari ke arah pintu untuk menuju kamar target –kamar Sungmin.

Tok... tok!

Kyuhyun mengetuk pintu kamar Sungmin dengan berdebar. Kali ini rasanya seperti ingin bertemu anak gadis orang, meski Kyuhyun sendiri sangat tahu bahwa hyungnya itu bukan seorang gadis. Tapi satu hal yang sangat Kyuhyun tahu, bahwa wajah manis seorang Lee Sungmin mengalahi kecantikan gadis manapun.

"Sungmin hyung, buka pintunya!"

.

Deg!

Sungmin yang tadinya merasa bosan dan lebih memilih bereksperimen dengan dirinya, sontak terkejut dan menoleh cepat ke asal suara, "Apa itu suara Kyuhyun? Kenapa aku jadi berdebar?!" Sungmin meletakan salah satu tangannya tepat di dada. Dan... tampaknya namja penyuka labu itu memang mengharapkan kedatangan Kyuhyun di kamarnya.

Hei... apa kalian berpikir kedua orang ini seperti pasangan baru menikah? Berdebar-debar dengan alasan tak jelas. Padahal sebelumnya, baik Kyuhyun maupun Sungmin sendiri merasa canggung karena mereka sudah berpisah kamar, tapi siapa sangka malah semakin menumbuhkan benih-benih cinta yang tak terduga.

"Sungmin hyung, apa kau tidak mendengar. Ayo buka pintunya!" teriak Kyuhyun lagi.

"I-iya sebentar," disadari Sungmin atau tidak, tangannya bergerak membenahi sedikit rambut dan pakaian yang ia kenakan. Well... seperti seorang istri menyambut kepulangan Suami!

Sungmin segera melangkahkan kakinya menuju pintu, dan berkedip lucu saat foxy-nya mendapati Kyuhyun berdiri membelakangi dirinya.

"Ada apa, Kyu?" tanya Sungmin.

"Eh..." Kyuhyun segera berbalik, dan masuk tanpa disuruh. Sungmin yang melihatnya hanya bisa mendengus dengan bibir mengerucut imut. "Anakmu ingin bertemu," kata Kyuhyun.

"Mwo? Anak siapa?! Tapi aku belum menikah, Kyu."

"Lalu ini apa?" Kyuhyun menyerahkan setumpuk bulu hitam yang keriting itu tepat di depan wajah Sungmin.

"Gyaaa... Cacao oppa merindukanmu, Chagia~~" Sungmin berseru riang, dan dengan cepat menyambar setumpuk bulu hitam yang keriting itu dari tangan Kyuhyun. Oh, ya Tuhan... ternyata setumpuk bulu hitam keriting itu adalah Cacao—anak Sungmin.

Tunggu! Apakah ada yang sempat berpikir lain? O.o

Kyuhyun yang melihat pemandangan itu hanya bisa tersenyum sinis. Rasanya Kyuhyun ingin merubah dirinya jadi bentuk apapun demi mendapatkan pelukan atau ciuman dari Sungmin. Mungkin tak hanya Kyuhyun, para penggila 'labu manis' atau pun juga author stress yang menulis cerita ini rela merubah dirinya jadi sabun mandi—di kamar mandi Sungmiin—hanya untuk menikmati kemulusan kulit namja bergigi kelinci tersebut. Cuma mimpi, lewatkan!

"Oppa?!" Gumam Kyuhyun terdengar meremehkan. Tapi Kyuhyun tidak menyangka bahwa hyungnya yang manis itu mendengar.

"Apa kau mengatakan sesuatu, Kyu?"

"Eh? Memangnya aku barusan mengatakan apa, hyung?!" kata Kyuhyun berpura tak tahu. Namun Kyuhyun yang merasa nyawanya sedang terancam dengan tatapan hyungnya—yang seperti ingin mendaratkan kaki mulusnya di pipi pucatnya- mencoba tersenyum lucu.

Dengan menggendong setumpuk bulu keriting tadi, Sungmin pun perlahan mendekat kepada Kyuhyun, "Kau sepertinya tidak menyukai Cacao yang memanggil Oppa padaku, Kyu." kata Sungmin dengan nada yang cukup sinis. Dan Kyuhyun bukannya takut, Oh... melainkan memejamkan mata untuk menikmati bau tubuh Sungmin yang begitu dirindukannya.

Namun detik kemudian Kyuhyun segera tersadar dan dengan cepat mengendalikan dirinya. Kyuhyun berpikir untuk saat ini bukan dirinya yang akan terjerat oleh Sungmin, tapi sebaliknya. Kyuhyun membuka mata dan menyeringai begitu mempesona, ia menatap tampilan Sungmin dari rambut hingga kaki.

"Ke-kenapa kau melihatku seperti itu?" Sungmin berujar gugup. Keberaniannya seketika lenyap hanya dengan satu tarikan di sudut bibir sang magnae.

Kyuhyun mendekatkan dirinya ke wajah Sungmin dan berbisik lirih di bibir plum tersebut. Membuat Sungmin tanpa sadar memejamkan matanya, "Kau lebih pantas dipanggil eomma, Sungmin-ah..." kata Kyuhyun.

Mata Sungmin membulat begitu sadar dengan apa yang dikatakan Kyuhyun barusan, "Ya! Apa maksudmu dengan eomma, Kyu. Cacao memang seharusnya memanggil Oppa padaku!" bentaknya tak suka.

Kyuhyun mencibir melihat penampilan Sungmin, dengan gemas ia menarik pipi bulat tersebut menggunakan kedua tangannya, "Oh, Yeah? Sungmin Oppa yang Cute~~"

"Gyaaa... appoyo~~ sa-sakit... lepaskan, Kyunie~"

"Sungmin Oppa yang cute, Cacao lebih pantas memanggilmu dengan sebutan eomma."

"Shireo!" bantah Sungmin, Cacao segera terlepas saat kedua tangannya berusaha melepaskan tangan Kyuhyun dari pipinya.

Namun Kyuhyun semakin menarik gemas kedua pipi putih Sungmin yang begitu kenyal, "Dengan poni yang dikucir seperti itu, dan juga sendal kelinci berbulu yang kau kenakan, apa Cacao masih pantas memanggil mu Oppa, Min-ah?!" kata Kyuhyun, kemudian memindahkan sebelah tangannya ke rambut Sungmin dan menariknya dengan gemas.

"Ya! Jangan ditarik seperti itu, Kyunie babo~. Huwaaa~~ nanti rusak..." Sungmin berteriak mencak-mencak mengikuti tarikan di kepalanya.

"Hahaha... ini sangat menyenangkan, hyung. Cacao anak Appa, Sungmin eomma-mu ini cantik sekali bukan?! Muahahaha..."

"Gyaaa... jangan bicara sembarangan, Cho. Awas kau..." Sungmin yang tak senang dengan perkataan Kyuhyun, terus memberontak dan melompat seperti kelinci agar evil magnae itu segera menyingkirkan tangan jahilnya dari rambut indah berkilau miliknya.

Sungmin masih berusaha melepaskan diri dari seorang iblis bernama Cho Kyuhyun, tapi Kyuhyun sendiri begitu menikmati kegitan yang ia lakukan. Kyuhyun bahkan tak segan mengeluarkan kekehan bak setan dari leluhurnya, begitu berhasil membuat Sungmin-nya merasa kesal. Sebenarnya Kyuhyun cukup kewalahan dengan pergerakan Sungmin –yang terus melompat— sehingga Kyuhyun harus berusaha mengeluarkan tenaga ekstra agar tumpuan kakinya bisa melawan pergerakan Sungmin. Akan tetapi usaha Kyuhyun berakhir sia-sia saat sebelah kaki Sungmin tanpa sengaja menyalip di antara kaki jenjangnya sehingga Kyuhyun harus merelakan dirinya jatuh menimpah Sungmin.

Empuk!

Dan untungnya mereka berdua jatuh di atas tempat tidur, karena sebelumnya mereka berdiri tak jauh dari tempat tidur Sungmin.

Double-double empuknya!

"Aw..." tapi Sungmin tidak merasa empuk sedikitpun melainkan meringis kesakitan karena tulang Kyuhyun yang beradu dengan tubuhnya.

"Aw... singkirkan tubuhmu, Kyu. Aku kesulitan bergerak," pinta Sungmin. Tapi Kyuhyun menolak dan semakin menekan tubuhnya pada Sungmin. Tak hanya itu, kini hidung nakal Kyuhyun malah dengan tidak sopannya bergesek dengan kulit leher putih tersebut.

Kyuhyun menyeringai saat tanpa sadar ringisan Sungmin berubah seperti erangan tertahan.

"Me-menyingkir dari atas tubuhku, Kyu..." Sungmin memohon lagi, tapi sebagian hati Sungmin malah menyerukan agar Kyuhyun tetap pada posisinya. Disadari Sungmin atau tidak, kepalanya memiring ke kanan guna memberi akses lebih untuk Kyuhyun.

Menyadari Sungmin-nya hampir—sudah—terperangkap, Kyuhyun buru-buru mengangkat wajahnya dan segera beranjak dari tubuh Sungmin, membuat namja bergigi kelinci itu membulatkan mata dengan mulutnya terbuka membentuk huruf O besar.

Kyuhyun sudah tak tahan ingin tertawa, tapi detik berikutnya pemuda berkulit pucat itu segera merubah ekspresi stoicnya –kembali. Kemudian Kyuhyun berdesis pelan sebelum menarik sudut bibirnya satu sisi, "Sepertinya kau mengharapkan sesuatu dariku, hyung." Kata Kyuhyun.

Sungmin berkedip, dan dengan cepat merubah raut wajahnya –yang pasti terlihat konyol- kemudian beranjak dari tempat tidur dan berdiri di hadapan Kyuhyun, "Ya! Aku tidak begitu." Protes Sungmin menampik. Namun rona merah yang menghiasi wajahnya sudah menjawab lebih dulu.

Haha... Kyuhyun semakin bahagia saja. Melihat beribu ekspresi yang ditunjukkan hyungnya itu adalah kepuasan tersendiri baginya. Kyuhyun sempat berpikir bahwa keputusan untuk berpisah kamar bukanlah hal buruk, dan malah memicu otak jeniusnya untuk mencari cara agar dirinya tetap melakukan kontak dengan Sungmin-nya, meski sekalipun kemungkinannya sangat kecil.

Kyuhyun hanya tersenyum melihat wajah Sungmin yang tampak kesal. Dan namja manis itu semakin kesal saat melihat pria yang berada di depannya kini menarik sudut bibirnya semakin melebar.

"Aish... sebaiknya kau keluar dari kamarku, Kyu. Kau menyebalkan!" Sungmin menutup wajah Kyuhyun dengan telapak tangannya. Entah kenapa wajah yang selalu dikaguminnya –ketika Kyuhyun berada di sisinya dan menyanyikan lagu pengantar tidur— menjadi sangat menyebalkan. Rasanya Sungmin ingin menghilangkan senyuman aneh itu dengan menggosokkan bokong Cacao ke wajah Kyuhyun.

"Ya! Apa yang kau lakukan, Sungmin. Aku ke sini sebenarnya ada hal lain..." Kyuhyun segera menepis jemari Sungmin dari wajahnya dan berjalan menuju lemari. "Aku kehilangan kaus putih bergaris merah, apa kau melihatnya, Min?" tanya Kyuhyun mulai mencari.

"Aku tidak tahu, Kyu. Kenapa kau bertanya padaku—hya! Apa yang kau lakukan dengan lemariku. Kenapa kau mengacak-acak lemariku!"

Sebenarnya Kyuhyun tak ada niat untuk mencari kaus yang ia maksud. Sekali lagi! Kyuhyun hanya ingin membuat Sungmin-nya kesal, setidaknya dengan mengganggu hyungnya, dia tidak harus mati bosan berada di dalam kamar seorang diri.

Kyuhyun bahkan tak menduga akan menemukan cara lain untuk bisa membuat Sungmin-nya semakin kesal saat, ketika obsidiannya menemukan hal lain di lemari tersebut. Anehnya, kerutan ataupun lipatan kulit di sekitar wajah manis hyung-nya tidak pernah muncul meski seberapa banyak Kyuhyun membuatnya marah.

"Hyung, kenapa dasi ini ada padamu? Bukankah ini punyaku?" tanya Kyuhyun menyodorkan dasi berbentuk bunga dengan bahan satin berwarna hitam.

"Jangan sembarangan berbicara, ini punyaku, Kyu. Apa kau lupa, kalau kita mempunyai dasi yang serupa."

"Eh, benarkah?" kata Kyuhyun berpura tak ingat. Padahal belum lama mereka memakai dasi yang sama di acara penghargaan music bergengsi.

"Tentu saja! Dan apa kau lupa kalau sebagian barang kita itu sama semua, karena kita adalah roommate." Sungmin berseru senang tak menyadari Kyuhyun memandangnya dengan ekpresi yang sulit ditebak.

Suasana seketika hening saat Sungmin tak sedikitpun mendengar tanggapan ataupun respon dari orang yang berada di depannya kini. Sungmin tampak menahan napas ketika baru menyadari perkataannya barusan. Kenyataan mereka bukanlah teman sekamar lagi.

"Tidak masalah..." Ujar Kyuhyun tiba-tiba. Mengabaikan tatapan sedih Sungmin yang tertuju ke arahnya, dan kembali melanjutkan kalimatnya, "...aku akan terbiasa nanti. Aku sudah berjanji untuk bersikap dewasa dan tidak lagi bergantung padamu. Tadi aku kemari sebenarnya hanya ingin mencari kaus yang aku katakan itu. Berhubung selama ini kau lah yang mengurus segala keperluanku, jadi... ketika aku tak menemukan barang yang aku cari, maka buru-buru aku datang ke sini. Aku berpikir mungkin selama ini karena kita tak hanya berbagi kamar, tapi juga berbagi lemari, baju dan berbelanja benda-benda yang sama sehingga barang-barang yang kita punya itu sama semua." Kyuhyun diam sejenak untuk memperhatikan ekspresi hyungnya, namun Sungmin hanya terdiam mendengarkan.

"Aku juga masih ingat, saat kau mengatakan milikku adalah milikmu, dan milikmu adalah milikku. Maka dari itu terkadang aku tak segan untuk memakai barang-barangmu. Lagian dengan begitu aku merasa kau selalu ada bersamaku meski saat kita tidak dalam schedule yang sama, jadi aku pikir baju yang aku cari itu mungkin terbawa olehmu, hyung." Kata Kyuhyun melanjutkan.

Kyuhyun tak menyadari—ah! Tepatnya ia menyadari dan memang senngaja menjelaskan itu semua. Tadi maksud Kyuhyun bukan seperti ini, awalnya dia hanya ingin membuat hyungnya kesal. Tapi dirinya juga tak menyangka bahwa hyungnya –tanpa maksud- akan menyinggung hal sensitive itu.

"Ya, kau benar..." ujar Sungmin menanggapi, perkataannya terdengar ambigu.

Dahi Kyuhyun berkerut mendengarnya, namun Ia memilih mengabaikannya, "Baiklah... kalau kaus itu juga tak ditemukan, aku pikir tak masalah. Aku akan menggunakan yang lain saja. Mianhae kalau aku telah menganggu waktumu, Hyung." Dengan itu Kyuhyun segera pamit saat dilihatnya Sungmin hanya terdiam termenung, atau tepatnya sedang merenung.

Sesaat setelah Kyuhyun pergi dari kamarnya, Sungmin segera membuang napas dengan keras. Dirinya sendiri tak yakin, apakah ia mampu untuk tidak mengurus Kyuhyun ataupun memberi perhatian lebih padanya, meningat selama ini keduanya saling membutuhkan satu sama lain.

...

..

.

Malam Kedua.

Kini Sungmin –tentunya bersama patner DJ- Ryeowook sudah berada di studio KBS untuk siaran Sukira. Setelah sore sebelumnya, mereka yang terdiri dari Sub Grup SUJU M melakukan latihan dance untuk single album ke 2 mereka yang akan segera rilis.

Untuk beberapa hari ke depan para member Super Junior tidaklah terlalu disibukan dengan schedule yang membludak, paling tidak hanya memenuhi undangan sebagai bintang tamu atau juga sebagian dari mereka yang sibuk menyiapkan beberapa kegiatan untuk merilis album pada sub grup tertentu.

Setelahnya mereka bisa beristirahat. Tapi untuk yang mempunyai jadwal siaran seperti MinWook dan sama halnya dengan Kyuhyun, harus tetap beraktifitas dan bertindak profesional meski tubuh mereka juga membutuhkan istirahat lebih.

Kyuhyun—sang roommate. Yeah! Roommate, karena Sungmin berpikir meski mereka berpisah kamar, tapi tidak bisa dipungkiri atau tidak ada yang bisa menebak, khususnya melihat, bahwa nantinya—dirinya sendiri ataupun Kyuhyun—memutuskan untuk tetap tidur di satu ranjang yang sama meski berbeda kamar. Bukankah itu sangat menarik?

Dan Sungmin tak bisa menahan senyumnya saat pikiran itu terlintas begitu saja.

.

Di tempat lain. Saat Sungmin tengah melakukan siaran Bora Sukira, maka Kyuhyun di gedung MBC juga sedang melakukan rekaman Radio Star. Tidak ada yang menduga, di sela-sela pekerjaannya, saat kamera sedang take off Kyuhyun mencari kesempatan untuk berlari ke belakang studio demi membuka ponsel dan melakukan browsing, yang tentu saja mengecek kekasihnya dari jarak jauh. Kegiatan seperti ini sudah sering ia lakukan ketika sedang tidak bersama, Kyuhyun hanya tak ingin melewatkan hal kecil dari apa yang tengah dilakukan oleh orang yang sangat dicintainya itu.

Dan Kyuhyun tak bisa menahan senyum saat membaca update-an dari Sukira tentang pembicaraan dari dua makhluk imut yang bernaung di Grup Boy Band yang sama dengan dirinya. Yeah... Duo DJ MinWook. Kyuhyun bahkan tak bisa lagi menahan suara tawa yang begitu saja keluar saat kedua bola matanya yang hitam membaca perkataan Sungmin yang tercetak dalam tulisan hangul.

Sukira [Update-030113]

Min : Saat musik diputar tadi, aku mengatakan: "Jika aku menikah, aku selalu ingin memiliki kamar sendiri karena bisa melahirkan rasa misterius. Aku pikir dengan melakukannya, perasan berdebar kami berdua tidak akan hilang."

Begitulah tulisan yang Kyuhyun baca di touch screen yang kini ia pegang.

'Menikah?'

"Jadi begitu..." Gumam Kyuhyun yang terdengar seperti bisikan, "jadi kita sudah menikah ya, hyung? Hahaha... kau lucu sekali. Mungkin aku akan setuju dengan apa yang kau katakan ini, karena sebenarnya aku juga merasakan hal sama. Berdiri dengan jantung berdebar saat ingin mengetuk pintu kamarmu..."

Setelahnya Kyuhyun kembali ke studio dengan wajah yang lebih ceria. Ia jadi tak sabar untuk segera pulang dan memeluk kekasihnya yang manis itu. Kyuhyun tersenyum aneh saat mendapati dirinya jadi lebih semangat setelah mengetahui keadaan Sungmin dan juga melihat wajah manis itu meski lewat penjelajahan melalui internet.

...

~We Are Roommate~

...

Sungmin sudah kembali dari Sukira sekitar setengah jam yang lalu. Bahkan dirinya sudah bersiap dengan piama merah muda yang ia kenakan, pertanda sebentar lagi ia akan mencapai dunia mimpi.

Namun Sungmin merasa gelisah saat tahu bahwa kekasihnya belum pulang dari rutinitasnya. Sungmin menghembuskan napasnya ketika mendapati dirinya begitu merindukan Kyuhyun.

"Aku tidak bisa tidur," sesaat Sungmin berguling-guling di atas tempat tidur sebelum berhenti, dan mendudukkan dirinya sembari berpikir, "tepatnya aku tidak bisa tidur sebelum— ah, atau aku ke sana saja untuk memeluk bantalnya sebentar?" wajah manisnya terlihat gelisah dan bingung.

Perlahan Sungmin melangkahkan kakinya keluar kamar menuju kamar di sebelahnya, kamar Kyuhyun. Ia tersenyum saat tahu bahwa pintu tersebut tak terkunci, kemudian Sungmin melangkah masuk ke dalamnya menuju tempat tidur yang biasa ia tempati bersama Kyuhyun.

Tangannya terulur mengambil bantal Kyuhyun, Sungmin mengelusnya sebentar sebelum memeluk dan menghirup bau sampo Kyuhyun yang tertempel di sana. Matanya terpejam ketika membayangkan Kyuhyun yang memeluknya dengan hangat, tanpa tahu sang pemilik kamar –yang sekarang- sedang memperhatikannya dalam diam. Sepertinya Sungmin lupa menutup pintunya, sehingga ketika Kyuhyun sudah berada di kamar itu, Sungmin sama sekali tak mendengar suara pintu terbuka.

"Min..."

Dan Sungmin tak menyadari saat pemilik suara bass tersebut sudah berada di depan wajahnya.

"Sungmin!"

Sungmin bahkan tersenyum aneh, saat suara yang begitu dirindukannya terdengar begitu nyata. Dirinya baru tersadar saat sesuatu yang lunak membasahi permukaan bibirnya.

Deg!

Sungmin membukan mata, dan Jantungnya seperti ingin terbang saat iris kecoklatannya menatap lekat orang yang ada di hadapannya kini, "Kau sedang apa, hyung?" Kyuhyun bertanya dengan satu sudut bibirnya tertarik.

Sungmin berkedip gugup. Apa yang harus ia katakan saat dengan jelas tertangkap basah seperti ini? Sembari berpikir, namja manis itu melirik ke sekitar untuk mencari alasan. Namun tatapan lembut yang terus dilayangkan oleh orang yang berada di depannya itu semakin membuatnya gugup dan ingin segera berlari. Astaga! Bahkan Sungmin lebih memilih berat badannya naik berkilo-kilo dari pada ditatap selembut itu oleh Kyuhyun.

'Arrrghhhh... aku malu. Sebenarnya aku sangat merindukanmu, Kyu!'

Oh, tidak! Haruskan ia berteriak seperti itu? Sungmin dengan cepat menggeleng agar bayangan itu segera pergi dari pikirannya.

"Min, ada apa denganmu?" Kyuhyun kembali bertanya saat dilihatnya Sungmin hanya terdiam sembari menggeleng.

"Eh?"

"Apa yang sedang kau lakukan di kamar ini, hyung? Apa kau ingin tidur di sini?" tanya Kyuhyuh lagi.

Sebenarnya Kyuhyun ingin segera memeluk namja kebingungan di depannya ini, dan kemudian membenamkan wajah manis itu ke dada bidangnya guna menyembunyikan rona merah yang terlihat jelas di kedua sisi pipinya. Tapi Kyuhyun harus menahan diri, sebab dia berpikir, biar orang keras kepala di depannya itu yang diluan menyerah.

"Aku... aku... hanya ingin mencari sesuatu di sini," dan hanya itulah alasan yang bisa Sungmin katakan.

"Oh~" Kyuhyun mengangguk. "Kalau begitu aku tinggal ke kamar mandi dulu, setelahnya kalau barang yang kau cari sudah ditemukan, kau bisa keluar karena aku ingin beristirahat." Kyuhyun berkata dingin dan segera beranjak ke kamar mandi, meninggalkan Sungmin dengan bibir yang memanyun.

"Aish..." Sungmin mengacak rambutnya frustasi. Dilirikannya pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat, "Aku itu mencarimu, Kyunie pabo!" ringisnya.

Sungmin berdiri dengan gelisah, seraya mengigit kuku jarinya untuk memikirkan cara—atau setidaknya ia bisa tidur nyenyak malam ini. Tapi namja keras kepala itu terlalu gengsi mengutarakan maksudnya. Dan waktu berpikirnya habis ketika pintu kamar mandi Kyuhyun kembali terbuka, pertanda namja berkulit pucat itu sudah selesai melakukan rutinitasnya sebelum tidur.

"Sungmin hyung!" panggil Kyuhyun membuyarkan lamunan namja berbokong besar tersebut.

"Huh?"

Kyuhyun berjalan mendekat dengan handuk kecil yang tersampir di lehernya, "Apa barang yang kau cari sudah ditemukan?" tanyanya sembari mengusap pelan bagian rambutnya yang basah.

"Humm... belum ketemu, aku lupa menyimpannya di mana," kata Sungmin.

"Oh, begitu." Kyuhyun bergumam, dan melangkah menjauhi Sungmin menuju lemari besar untuk mengganti pakaiannya. Sebelumnya Kyuhyun mengenakan pakaikan yang sama, karena ia hanya memutuskan untuk mencuci muka saja. Sembari mengganti bajunya dengan piama berwarna biru, Kyuhyun kembali bertanya, "memangnya barang yang seperti apa yang sedang kau cari?"

Sungmin membulatkan matanya saat dilihatnya Kyuhyun menurunkan celana, sehingga kakinya yang panjang dan dipenuhi bulu itu terlihat jelas, dan... yeah! Darah dengan cepat menumpuk di kedua sisi pipi bulatnya.

"Se-sebenarnya..." boah... bahkan Sungmin tak menyangka bahwa Kyuhyun akan mengganti pakaian dalam didepan mata polosnya(?). Meski membelakangi tubuhnya, tapi... hei! Bokong Kyuhyun terlihat jelas olehnya.

Oh, ya Tuhan...

Sungmin segera berpaling. Kyuhyun sudah selesai menukar pakaian dalamnya dan kini tengah memakai seragam tidur tersebut. Ia berbalik saat tak mendengar Sungmin melanjutkan kalimatnya.

"Sebenarnya apa?"

"Yak!" Sungmin terlonjak ketika suara itu terdengar tepat di belakang telinganya.

"Aku bertanya sebenarnya apa? Kenapa kau tidak melanjutkan perkataanmu, Min. Siapa tahu aku bisa membantu menemukan barang yang tengah kau cari." Kyuhyun tersenyum melihat perubahan wajah Sungmin. Warna merah itu semakin pekat.

Sungmin menunduk. Dia berpikir mungkin jantungnya benar-benar rusak, tak seharusnya organ penting di dalam tubuhnya itu berdetak tak terkendali seperti sekarang ini. Seharusnya Ia sudah biasa melihat pemandangan seperti 'tadi', akan tetapi...

Arrrggghhh...

Dan Sungmin memutuskan untuk jujur sebelum mengangkat wajahnya dan menatap dalam ke obsidian hitam yang selalu membuatnya hanyut, "sebenarnya aku ingin tidur di sini, Kyu." gumam Sungmin kembali tertunduk malu.

Kyuhyun tersenyum mendengarnya. Well... usahanya tak sia-sia, bukan?

"Oh, silahkan!" nada bicara Kyuhyun terdengar santai, sehingga Sungmin sedikit ragu dan malu dengan apa yang barusan ia katakan. "Kenapa?" Kyuhyun bertanya sesaat melihat keraguan yang terpancar jelas di wajah manis hyung.

Kemudian ia tersenyum dan kembali berucap , "Tidak masalah, hyung. Bukankah kau sendiri pernah mengatakan siapapun diantara kita jika datang ke salah satu kamar dan ingin tidur bersama, maka tak akan ada masalah dengan itu semua. Kau bisa tidur disini sekarang, besok jika aku ingin, maka aku bisa datang ke kamarmu, karena kita adalah roommate!"

Kyuhyun tersenyum senang setelah menyelesaikan kalimatnya.

Seperti de javu, Sungmin pun berkedip. Tanpa sadar ia tersenyum dengan sangat manis, "Jinjja?" katanya.

"Tentu saja. Kajja... kita tidur, aku sudah lelah..." Kyuhyun membawa tubuh Sungmin ke tempat tidur, dan bersama mereka naik ke atasnya.

Sungmin menyamankan posisinya agar lebih merapat pada tubuh kekasihnya –yang seolah mencari kehangatan. Bibir Kyuhyun terkembang lebar melihat tingkah manis hyungnya. Rasanya saat ini Kyuhyun ingin memamerkan pada para KyuMin shipper yang terlanjur sedih atas berita pisah kamarnya mereka.

'Bwahahaha... ini terlalu membahagiakan. Mereka pasti tidak menyangka, bahwa ternyata pisah kamar bukan berarti gelar –nae roommatteu- harus hilang begitu saja. Ini mengejutkan! Apakah kalian memikirkannya?!' Kyuhyun bersorak di dalam hati membayangkan wajah jelek 'mereka' ketika bersedih. *berarti saya juga jelek, karena sempat sedih#plak -_-*

Kyuhyun terus tersenyum membayangkan bahwa hari-harinya akan seperti pasangan baru menikah—tepatnya seperti apa yang dibayangkan oleh Sungmin-nya.

Tapi rupanya Sungmin tengah menatap Kyuhyun dengan intens, sehingga membuat Kyuhyun tersadar dan menundukkan wajahnya untuk melihat ke dalam orbs magic yang selalu berhasil menarik Kyuhyun masuk ke dalamnya. Akan tetapi tatapan bola mata yang begitu mempesona itu seperti mengandung arti.

"Ada apa, hyung?" tanya Kyuhyun sedikit mengabaikan euphoria yang ia rasakan sendiri.

"Aku merindukanmu, Kyu." tanpa disangka-sangka Sungmin mengucapkannya dengan jelas, membuat Kyuhyun harus megalihkan pandangannya pada bibir Sungmin yang terbuka.

"Aku juga merindukanmu, Min. Sekarang tidurlah, kau pasti lelah mengurusi kamar barumu itu." balas Kyuhyun sembari menarik tubuh Sungmin agar lebih mendekat padanya, sesuai naluri kini sebelah tangan Kyuhyun sudah menempel nyaman di bokong padat Sungmin.

Sungmin hanya terdiam, dengan bola mata yang terus mengerjap di ceruk leher jenjang kekasihnya.

Beberapa saat keheningan tercipta, tapi tak satupun diantara mereka yang memejamkan mata. Hingga Kyuhyun kembali menundukkan wajahnya karena merasa geli dengan pergerakan bulu mata Sungmin yang menggelitik lehernya.

"Kenapa belum tidur?" tanyanya.

Sungmin mendongak balas menatap Kyuhyun, tapi Ia hanya diam dan terus menatap Kyuhyun dengan polos, "A-ada apa, Min?" Kyuhyun tak bisa menutupi suaranya yang terdengar gugup karenanya.

Tatapan Sungmin itu... tatapannya benar-benar membuat jantung Kyuhyun ingin terbang ke awang-awang. Sungmin seperti mengharapkan sesuatu darinya.

"Aku tidak bisa tidur sebelum mendapat ciuman darimu," lirih Sungmin dengan raut wajahnya yang polos.

"A-apa?"

"Cium aku, Kyu~"

"E-eh, baiklah..." Kyuhyun segera mendekatkan wajahnya pada Sungmin, sedikit tersenyum geli sebelum mendaratkan bibir seksinya di kedua bola mata kelinci hyungnya.

"Sekarang tidurlah..."

Namun Sungmin tak menuruti, dan terus memandang Kyuhyun. Tapi kali ini tatapannya terlihat kesal, ia tahu bahwa Kyuhyun sedang menggodanya. "Apa kau tidak ingin menciumku—di sini?" Sungmin mengarahkan jari telunjuknya di bibir.

Segala pertahan Kyuhyun hancur seketika karena ulah polos hyungnya. Segera ia menarik tubuh mungil Sungmin, dan memposisikannya di bawah tubuh tingginya, "kau membuat aku gila, Sungmin." Sebaris kalimat aneh itu mengawali ciuman panjang antara Kyuhyun dan Sungmin.

Kedunya begitu larut. Lidah Kyuhyun terus menyapu seluruh permukaan bibir lembut hyungnya. Menjilat dan mengulum bagian atas dan bawah bibir sewarna sakura tersebut sebelum, menggigit kecil dan langsung melesakkan lidahnya ketika disambut dengan manis oleh lidah Sungmin yang lebih dulu keluar untuk menyapa lidah Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum menyeringai manakala Sungmin mengerang tanpa sadar, sedikit menggoda kekasihnya yang keras kepala tersebut, Kyuhyun pun menghisap kuat lidah Sungmin, sehingga pemuda manis tersebut tersedak karena salivanya yang tak bisa tertelan.

"Ngg~ uhuk..." wajah Sungmin memerah menahan napas, tapi Kyuhyun terus menghisap benda lunak tersebut, layaknya tengah menghisap permen rasa Sungmin(?).

Ketika Sungmin berniat mendorong badan kyuhyun dengan kaki terlatihnya, Kyuhyun segera melepas lidah Sungmin dari mulutnya. Ia terkekeh bak setan melihat wajah Sungmin yang memerah sempurna.

"Isshh... kau hampir saja membunuhku, Kyuhyun-ah." Dadanya naik turun untuk mengisi pasokan udara yang hampir habis.

Kyuhyun hanya mengedikan bahu tak peduli, baginya itu adalah hukuman untuk Sungmin. Ia menggeser tubuhnya ke sisi Sungmin dan kembali mambawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.

"Aku sangat... sangat... merindukanmu, Min~" bisik Kyuhyun.

Sungmin tersenyum, "Aku bahkan lebih merindukanmu, makanya aku tadi datang ke mari."

"Apa kau bisa tidur dengan nyenyak di kamar barumu, Min?"

"Aku pikir tadinya begitu. Tetapi sesaat aku ingin memejamkan mata, wajahmu selalu terbayang olehku, Kyu."

"Kenapa kau jadi seperti tukang gombal begini?!"

"Yak! Aku tidak sedang menggombal," Sungmin memukul dada Kyuhyun dengan kesal. Dia hanya mengatakan apa yang ia rasakan sebenarnya.

"Aku senang mendengar pembicaraanmu di Sukira tadi, dan kau benar, hyung. Kita seperti baru menikah," Sungmin mengangguk malu di dada Kyuhyun.

Sesaat keduanya terdiam dengan segala pikiran di kepala mereka. Senyum manis tak pernah lepas dari bibir tebal Kyuhyun seusai ciuma panjang yang baru mereka lakukan, bahkan kalau boleh jujur Kyuhyun ingin tersenyum terus manakala menemukan Sungmin—saat tadi—berada di kamar –seperti biasanya.

"Kita akan terus seperti ini 'kan, hyung?"

"Hmm... karena kita adalah roommate!"

Boah... betapa senang Kyuhyun mendengarnya, kemudian dia bertanya lagi. "Lalu bagaimana dengan hyungdeul?" tanyanya terdengar ragu.

"Biarkan saja!" jawab Sungmin dengan cepat, membuat Kyuhyun terkejut mendengarnya.

"Hah?"

"Sudahlah, biarkan saja mereka. Toh Teukie hyung sedang tidak ada di sini." Ucapan Sungmin sangat bertolak belakang dengan perkataannya beberapa hari yang lalu. Sungmin pun kembali melanjutkan, "Aku rasa Teukie hyung terlalu khawatir, aku bisa menjaga dirimu, dan tentunya kau juga bisa menjaga diriku. Kita saling menjaga satu sama lain, tanpa harus berpisah kamar dalam hal sesungguhnya. Aku hanya tak terbiasa dengan hal-hal baru yang sangat tidak menyenangkan seperti itu," Sungmin mendesah lega setelah berhasil mengungkapkan apa yang ia rasa.

Kyuhyun tersenyum haru mendengarnya, hal inilah yang paling ia harapkan dari hyungnya. Seorang lee Sungmin yang menganggap dirinya ada sebagai kekasih yang bisa berbagi keluh kesah, dan bukannya seorang kekasih yang hanya bisa merepotkan Sungmin-nya. Terlepas dari itu, Kyuhyun sudah memikirkan hal ini terlebih dahulu.

"Aku bahagia mendengarnya," Kyuhyun menanggapi. "Lagian hyungdeul tak akan tahu jika kita terus tidur bersama, dan kalau seandainya ikan teri kurus itu memberitahukannya pada yang lain, maka ketika pagi, aku akan menghidangkannya sebuah ikan goreng berotot pada dirinya. Bwahahaha..." Kyuhyun mencoba bercanda dengan kata-katanya, dan ia tertawa sendiri membayangkan jika hal yang dikatakannya terjadi. ==a

"Ya~ kau benar, Kyu. Dan kita selamanya adalah roommate!"

"Yeah! Kita adalah roommate."

Mereka saling bertatap, sebelum tersenyum dan berteriak , "We Are Roommate!" secara bersamaan, dan tertawa setelahnya.

"Kita adalah roommate? Benarkan?!" kata Kyuhyun.

"Tentu saja, karena Kyuhyun dan Sungmin adalah roommate."

Keduanya terus saja berteriak, tanpa perlu menanggapi setumpuk bulu hitam yang keriting berkedip melihat satu diantaranya mencium bibir tuannya berkali-kali.

"Sekarang peluk aku yang erat, hyung!"

"Baiklah..."

"Lingkarkan kakimu di pinggangku juga."

"Aku mengerti."

"Rapatkan pinggangmu, aku ingin memegang bokong mu yang seksi itu..."

"Aish... iya~ iya~"

"Hehehe..."

"Sungmin hyung~~"

"Ne,"

"Saranghae, naega jeongmal nareul saranghamnida..."

"Nado, Kyunie-ya. Nado saranghaeo~~"

"Aku, sangat! Sangat! Sangaaattt merindukanmuuu..." Kyuhyun memeluk Sungmin-nya dengan erat, takut kalau saja Cacao menarik pelukannya mereka sehingga terlepas. O.o

"Aku juga sangat, sangat, sangat merindukan Kyunie~" Sungmin bergeser lebih menyamankan kepalanya di dada Kyuhyun.

"Jaljayo, Sungmin-ah~"

Sungmin tersenyum dengan mata yang terpejam, tak perlu menjawab. Ia hanya menarik pinggang Kyuhyun menggunakan kakinya, pertanda dia akan tidur sangat nyenyak malam ini.

Hingga malam semakin larut, dan keduanya tertidur dengan sudut bibirnya yang terus tertarik sepanjang malam. Selamat malam dunia... Kyuhyun dan Sungmin akan tetap sekamar sampai batas waktu yang malas mereka tebak. Terlebih yang paling penting adalah kenyamanan tanpa sebuah kepaksaan yang malah membuat satu diantaranya ataupun yang lainnya merasa tersiksa.

.

THE END.

Jangan lupa reviewlagi ya~ FF ini membuat saya stress! Maaf kalau tulisan dan bahasanya aneh T_T.

Terimakasih untuk semua reader yang menyempatkan diri untuk REVIEW! Maaf yah, saya gk bisa balas atu2...

tapi semua koment kalian saya baca loh~

dan itu sangat membuat saya senang!

jangan lagi ada yang galau tetang KyuMin pisah kamar, karena walaupun mereka berpisah kamar, tapi sangat memungkinkan mareka akan tidur bersama di kamar yang berbeda setiap harinya.. Boahh.. menyenangkan bukan? kkkk~

Ok! semangat semuanya :XD