Title : Second Chance
Author : Yukishima
Genre : drama, romance, angst
Rating : M
Chapter : 7
Fandom : Super Junior, GS
Pairing : Kyumin, Haemin
Disclaimer : Mereka bukan punya gw, tapi cerita milik gw
Warning : GS, mature content, buat yang dibawah umur dilarang baca ^^, Naughty Kyu, Jablay Sungmin *plaaak
Note Author : Ini remake dari fic lama gw dengan judul yang sama tapi fandom aja yang diubah dengan beberapa perubahan isi cerita untuk menyesuaikan karakter. Berhubung tadinya fic straight jadi gw buat aja GS. No bashing. Kritik, saran, protes boleh tapi dengan sopan karena ini hanya fic bukan kenyataan...^^ Keep smile and peace ^_^
=0=
"Jadi, aku sebenarnya sakit apa Bummie?," tanya Sungmin setelah diperiksa oleh Kibum sahabatnya yang kebetulan berprofesi sebagai dokter ini.
"Tekanan darahmu rendah Minnie eonni , hanya 110/70. Itulah mengapa kau merasa pusing dan lemas, Kibum menjelaskan kondisi Sungmin. "Apa kau masih sering merasa mual dan muntah di pagi hari?"
"Iya. Sudah hampir sebulan ini aku selalu merasa mual dan muntah di pagi hari apalagi jika mencium aroma yang tajam atau setelah makan. Aku hanya bisa makan buah-buahan dan yang asam-asam. Kepalaku sering terasa pusing dan berat. Tubuhku sering terasa lemas."
Kibum mendengarkan setiap penjelasan Sungmin. Setelah selesai, ia lalu membuka hasil laboratorium dari Sungmin beberapa hari yang lalu. Nafasnya tertahan dan matanya terpaku beberapa waktu pada selembar kertas putih di tangannya. Ia lalu menatap Sungmin. "Apa kau sudah mendapatkan menstruasi bulan ini?," ekspresi Kibum tampak serius.
Sungmin mengerutkan dahi mencoba mengingat-ingat siklus bulanannya itu. "Be-belum," suara Sungmin terdengar gugup ketika menjawab. "La-lalu..apa hasil lab-nya? Aku sakit apa Bummie?," Sungmin semakin penasaran saja. Ia benar-benar takut jika apa yang terlintas di otaknya menjadi kenyataan.
" Minnie eonni.. Kau hamil," perkataan Kibum itu begitu mengejutkan Sungmin.
"Be-benarkah? Hasil lab-nya tidak salah kan?," Suara Sungmin terdengar bergetar kali ini. Ia masih tidak percaya dan berusaha mengingkari.
"Jika tidak percaya, kau bisa melakukan tes lagi untuk memastikan. Tapi kupastikan bahwa hasil lab ini tidak salah. Dan berdasarkan tanggal terakhir kali kau mendapatkan menstruasi yang tertulis disini, maka usia kandunganmu memasuki minggu ke-4. Hingga 3 bulan pertama kau harus menjaga kandunganmu karena ini masa rawan," nasihat Kibum. Sementara Sungmin yang berada di hadapannya itu masih terpaku di tempat duduknya. Wajahnya memucat dan tubuhnya gemetar. Kibum seperti dapat mengerti apa yang kini dirasakan oleh sahabatnya Sungmin. Secara analogi bisa diketahui, Donghae baru saja pulang dari Amerika belum genap satu bulan. Bagaimana mungkin Sungmin mengandung bahkan usia kehamilannya telah memasuki minggu ke-4. "Bicarakanlah dengan Donghae oppa," Kibum berkata lembut sambil memegang sebelah tangan Sungmin yang berada di atas meja.
Sungmin hanya tersenyum tipis. Terlihat sekali bahwa ia memaksakan diri untuk tersenyum. "Aku pulang dulu Bummie. Terimakasih," pamit Sungmin.
"Apa perlu kuantar pulang?," tawar Kibum yang merasa cemas dengan keadaan Sungmin.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Lagipula kau masih banyak pasien bukan?," tolak Sungmin halus.
Positif.
Begitu hasil yang tertulis pada hasil tes dari dokter yang baru saja diterima Sungmin. Bayi itu telah bersemayam di rahimnya selama 4 minggu. Seketika itu juga wajahnya memucat dan tubuhnya gemetar. Walaupun telah bersuami tapi ia tahu bahwa ini bukanlah anak Donghae karena selama ini dirinya selalu menolak ketika Donghae bermaksud menyentuhnya dengan berbagai alasan. Sebuah kesalahan sekali telah dilakukannya. Ia kembali teringat sesuatu. Beberapa waktu yang lalu ia membiarkan Kyuhyun menyentuhnya tanpa alat pengaman, dan sekarang telah membuahkan hasilnya.
Berbagai macam hak berkecamuk di pikirannya. Bagaimana jika suaminya tahu? Apa reaksi Donghae dengan kenyataan pahit yang harus diterimanya. Donghae pasti akan sangat kecewa karena istrinya telah melukainya terlampau dalam. Tapi Sungmin tak mungkin menggugurkannya karena ia tak ingin membunuh anaknya sendiri. Anak itu tak bersalah dan tak mengerti apapun. Ia juga tak ingin Kyuhyun tahu. Pemuda itu tak akan peduli dan tidak mungkin bertanggungjawab karena Kyuhyun seorang yang bebas dan tidak mau terikat oleh siapapun. Ia juga bisa membayangkan bagaimana reaksi Yesung dan Ryewook jika adik kesayangan mereka meniduri bahkan menghamili sepupunya yang telah bersuami. Dengan langkah gontai gadis itu meninggalkan Rumah Sakit sambil masih menggenggam hasil tes. Ia melangkah tanpa peduli kemana kedua kaki itu membawa dirinya.
=0=
Akhirnya Sungmin berhasil menenangkan diri dan membulatkan tekad untuk mengatakan hal ini pada suaminya. Walaupun ia tahu konsekuensi yang harus dihadapi, tapi Sungmin akan menerimanya. Bagaimanapun cepat atau lambat Donghae akan mengetahuinya karena Sungmin tak mungkin menyembunyikan kehamilannya dari sang suami. Dengan langkah berat, Sungmin pun memasuki apartemennya. Ia tak peduli dengan kucing kesayangannya Tsuki yang terus mengeong dan mengekorinya seakan ia sangat merindukan majikannya itu.
"Minnie, kau kemana saja? Aku mencemaskanmu karena sedari tadi kutelefon tapi ponselmu tidak aktif," Suara Donghae suaminya terdengar khawatir. Ia lalu meraih tubuh Sungmin kedalam pelukannya.
"Maaf," ucap Sungmin pelan. Dadanya terasa sesak disaat Donghae memeluknya seperti ini. Ia semakin merasa bersalah. "Aku tadi ke rumah sakit," Sungmin akhirnya berani berbicara lagi.
"Kau sakit apa Minnie-ah? Kenapa tidak mengatakannya padaku?," Donghae melepaskan pelukannya dan menatap cemas wajah Sungmin yang terlihat pucat.
"A-aku tidak sakit. Kau bacalah ini," tangan Sungmin gemetar ketika menyerahkan amplop yang terdapat hasil lab di dalamnya pada Donghae. Wajah suaminya itu penuh tanda tanya ketika menerimanya. Segera Donghae membukanya dan membaca apa yang tertulis di dalamnya. Seketika itu juga raut muka Donghae menegang. Ia meremas kertas itu hingga tak berbentuk.
"Siapa laki-laki itu?," tanya Donghae dengan wajah yang masih menahan amarah ketika membaca hasil lab yang menyatakan bahwa istrinya itu hamil. Ia tentu akan sangat bahagia jika janin yang dikandung Sungmin adalah benihnya. Tapi Donghae tahu bahwa itu bukan anaknya karena semenjak kepulangannya dari Amerika, dirinya belum menyentuh Sungmin lagi karena istrinya itu selalu menolak. Tangannya mengepal erat. Ada semburat kekecewaan terukir jelas di wajah tampan itu.
"Dia... Kau tidak perlu tahu," Sungmin berkata dengan suara pelan karena merasa bersalah. Wajahnya tertunduk lesu.
"Apa maksudmu aku tidak perlu tahu? Aku harus tahu siapa laki-laki yang berani menyentuh tubuh istriku dan menanam benih terlarangnya karena dia harus bertanggungjawab! Kau tahu artinya istri? Itu berarti hanya aku yang boleh menyentuhmu karena aku suamimu," kata Donghae dengan nada tinggi meskipun masih berusaha menahan emosi.
"Itu bukan salahnya. Semua ini salahku. Aku mohon, biarlah aku yang bertanggungjawab semuanya. Kau...kau boleh menceraikanku karena aku tak pantas lagi berada disisimu," ucap Sungmin dengan nada tercekat. Ia kemudian bersimpuh di bawah Donghae sambil menahan airmata yang akan keluar.
"Cerai? Kau pikir semudah itu? Aku tak akan menceraikanmu walau kau memohon-mohon. Kau akan tetap disisiku tapi terserah bagaimana aku memperlakukanmu. Itu hukuman untukmu seumur hidup! Aku meninggalkanmu bukan untuk bersenang-senang, tapi ini semua untuk masa depan kita. Dan apa yang kau lakukan disini? Kau balas kesetiaanku dengan pengkhianatan! Sekarang katakan siapa laki-laki itu?," Donghae menatap tajam istrinya sambil mengguncang keras kedua bahunya.
"Tidak... Terserah kau boleh mengatakan apa saja padaku, tapi aku tidak akan mengatakannya," Sungmin menggelengkan kepala berkali-kali disela isaknya. Ia benar-benar merasa ketakutan. Selama bersama Donghae, belum pernah ia melihat Donghae semarah ini. Tapi Sungmin pun menyadari bahwa ini adalah kesalahannya.
"Apa dia begitu hebat memuaskan nafsumu sehingga kau mau mengorbankan diri untuk melindunginya? Ck, aku tak menyangka bahwa aku telah menikahi seorang pelacur," kata-kata kasar Donghae itu sungguh menusuk hati Sungmin.
"Itu karena kau meninggalkanku. Kau selalu berbuat egois. Selalu mendapatkan keinginanmu tanpa mempedulikan perasaanku. Aku selalu berusaha mengerti dirimu karena aku mencintaimu, tapi saat terjadi sesuatu kau menghakimiku tanpa ampun. Aku memang bersalah. Tapi itu semua karena sekian lama bersamamu, aku hanya menelan kekecewaan karena kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Apa kau pernah peduli pada pendapatku? Apa kau pernah menanyakan bagaimana perasaanku? Bahkan hari ulangtahunku pun kau lupa. Heh..kau benar! Aku memang pelacur. Dan dia mampu memberikan apa yang tidak pernah kau berikan! Sekarang puas mendengarnya?," suara Sungmin bergetar saat mengatakannya. Ia memberanikan diri menatap Donghae.
"Oh...sekarang kau menyalahkanku. Pintar sekali mencari alasan," Donghae memegang dagu Sungmin sambil menyeringai. "Jadi dia lebih hebat dariku eoh? Baiklah, kalau kau tidak puas denganku...akan kuberikan yang kau inginkan!," Donghae menarik paksa tubuh Sungmin yang masih bersimpuh di bawahnya dan melemparkan tubuh itu ke atas ranjang lalu menciumnya dengan kasar.
"Hae-ah..apa yang...emmphh," Ucapan Sungmin terhenti oleh ciuman kasar Donghae bahkan bibirnya berdarah dan terasa perih karena Donghae menggigitnya. Donghae seperti kehilangan akal sehat. Ia melucuti paksa pakaian istrinya bahkan merobeknya.
"Ja-jangan...Hae... sadarlah!," Sungmin berusaha meronta dan menggigit bibir Donghae agar laki-laki itu melepaskannya.
Plaak.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi gadis itu hingga terasa panas dan meninggalkan bekas kemerahan.
"Diam dan jangan banyak bicara! Kau pantas mendapatkannya!," teriak Donghae sambil mengusap darah di sudut bibirnya karena gigitan Sungmin. Mata Donghae kini berkilat-kilat. Harga dirinya sebagai suami benar-benar direndahkan karena perbuatan Sungmin.
"Jangan..aku mohon.. Aku..sedang mengandung," Sungmin mulai berurai air mata. Tubuhnya bergetar karena ketakutan.
"Aku tak peduli karena itu bukan anakku. Itu anak harammu dengan laki-laki bangsat itu!"
Pikiran Donghae telah terasuki amarah dan kecemburuan yang membuatnya lepas kendali. Ia kemudian melepaskan pakaiannya sendiri dan mengikat kedua lengan Sungmin agar tidak memberontak serta membekap mulut gadis itu dengan pakaiannya agar tidak berteriak. Tanpa persiapan, Donghae menyetubuhi paksa istrinya dan memuaskan diri sendiri dengan kasar bahkan meninggalkan bekas-bekas kebiruan di sekujur tubuh Sungmin. Laki-laki itu tak peduli dengan rintihan perempuan yang telah dinikahinya tersebut, bahkan ketika Sungmin telah kehilangan kesadaran karena tak sanggup menahan rasa sakitnya. Cairan berwarna merah keluar dari bagian bawah tubuhnya membasahi ranjang.
"Sungmin...," Donghae tertegun dengan pemandangan yang dilihatnya. "Minnie...Minnie-ah..!," Donghae mengguncang keras tubuh yang telah tak berdaya itu namun tak berguna.
"Apa yang telah kulakukan?"
Donghae mulai panik. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin mulai mengucur deras di pelipisnya. Segera diambilnya ponsel dan menghubungi seseorang.
"Halo.. Kibum-ah! Ini aku Donghae. Tolong... Sungmin.. Dia pingsan...," ucap Donghae panik.
=0=
Donghae menunggu dengan cemas di depan ruang tunggu UGD sementara dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawa istrinya. Ia menyatukan kedua tangannya dan meremas kencang hingga berwarna pucat. Perasaan cemas dan menyesal menyelubungi hatinya. Ia terlalu mencintai istrinya hingga menyakitinya karena terbakar kecemburuan. Tak lama kemudian pintu ruang UGD dibuka. Seorang dokter perempuan keluar dari sana dan menghampiri Donghae.
"Donghae oppa," sapanya lembut pada Donghae sambi menepuk pelan bahunya.
"Kibum-ah... Bagaimana keadaannya?," Donghae bertanya tidak sabar.
"Dia baik-baik saja. Hanya mengalami trauma. Untunglah janinnya bisa diselamatkan. Mungkin dia perlu beristirahat selama beberapa hari untuk memulihkan kondisi tubuhnya," Kibum berusaha menenangkan Donghae.
"Benarkah? Syukurlah. Terimakasih Kibum-ah," Donghae tersenyum lemah.
"Itu sudah menjadi tugasku. Kau boleh menjenguknya. Aku tinggal dulu karena masih ada yang harus kukerjakan," Kibum balas tersenyum sambil meninggalkan Donghae.
Donghae segera beranjak dari tempat duduk dan menuju kamar tempat istrinya berada. Dengan ragu ia membuka pintu tersebut dan melangkah masuk. Dilihatnya tubuh Sungmin yang tergolek di ranjang berwarna putih. Laki-laki itu kemudian mendekatinya dan duduk di samping ranjang. Wajah manis istrinya itu kini tak menyunggingkan senyuman yang selalu dirindukannya. Bahkan sepasang pipi chubby yang biasanya merona kini tampak pucat.
"Maaf," ucap Donghae dengan tertahan sambil meraih tangan istrinya lalu meletakkan di pipinya.
=0=
"Hari ini kau boleh pulang. Aku akan mengemasi pakaian," Donghae tersenyum pada istrinya. Namun gadis itu tak bergeming dan mengunci rapat mulutnya. Pandangannya tetap terfokus keluar jendela.
Donghae hanya menghela nafas panjang dengan sikap istrinya tersebut. Ia tak menyalahkan Sungmin karena dirinya telah bertindak brutal pada gadis itu. Dengan sigap Donghae pun mengemasi barang ke dalam koper kecil.
"Ayo kita pulang," Donghae bermaksud mengendong tubuh itu namun Sungmin memberontak dengan sentuhan tersebut. "Maaf, aku hanya bermaksud membantumu. Aku berjanji tidak akan menyakitimu," kata Donghae sambil mengusap lembut kepala istrinya.
Sungmin nampak sedikit tenang. Donghae kemudian mengangkat tubuhnya dan meletakkan diatas kursi roda lalu mendorong keluar Rumah Sakit. Sesampainya di mobil, Donghae membimbingnya pelan masuk ke dalam mobil. Setelah itu ia mengendarainya menuju apartemen mereka. Sungmin tetap membisu dan tak mau menatapnya.
"Kita sudah sampai," kata Donghae setelah sampai di bangunan kompleks apartemen.
Donghae kemudian menggendong tubuh istrinya dan membawa ke apartemen mereka. Wajah Sungmin memucat dan gadis itu berusaha memberontak ketika Donghae bermaksud meletakkannya diatas ranjang mereka. Kenangan buruk perlakuan Donghae terbayang dengan jelas di pelupuk mata gadis tersebut. Donghae menyadarinya dan segera membawa istrinya keluar dar kamar menuju kamar lain di sebelah kamarnya.
"Sebaiknya kau tidur disini saja,"ujar Donghae sambil meletakkan pelan tubuh Sungmin.
"Panggil aku jika butuh sesuatu," Donghae mengusap lembut pipinya lalu melangkah keluar. "haaah..," keluh Donghae pelan setelah menutup pintu kamar.
=0=
Donghae meneguk pelan gelas martini keduanya sambil menunggu seseorang. Bar itu sepi pengunjung. Mungkin karena diluar sedang hujan. Ia memandangi gelas yang masih tersisa separuh tersebut sambil mengetuk-ngetuknya pelan.
"Donghae oppa," sapa seorang gadis cantik berambut hitam panjang padanya.
"Hai Kibum-ah...," balas Donghae sambil mempersilakannya duduk.
"Maaf aku terlambat. Hari ini pasienku banyak," ujar gadis itu sambil meletakkan tubuhnya di kursi sebelah Donghae.
"Tidak apa-apa. Kau mau minum apa?," tanya Donghae.
"Tidak, terimakasih. Aku tidak minum alkohol karena harus menyetir," tolaknya halus.
"Baiklah," Donghae meneguk sisa minuman di gelasnya lagi. "Kau tidak mengajak teman priamu?," tanya Donghae berbasa-basi.
"Hahaha..kau ini bercanda Donghae oppa. Tahu sendiri aku tidak punya teman pria," gadis itu tertawa renyah.
"Benarkah? Kau gadis yang baik dan cantik. Pasti banyak laki-laki yang menyukaimu," Donghae tersenyum tipis. "Kudengar kau dijodohkan dengan seorang pria tampan bernama Choi Siwon," canda Donghae.
"Terimakasih atas pujianmu. Memang benar kalau aku dijodohkan dengan orang yang kau sebutkan tadi. Tapi kami baru tahap perkenalan saja, dan belum menjadi kekasih. Dan sepertinya kita kesini tidak untuk membahas diriku bukan?," tukas Kibum lembut.
"Heh..," Donghae mendengus pelan.
"Apa istrimu baik-baik saja?," tanya Kibum saat membaca ekspresi wajah Donghae yang berubah muram.
"Kau sahabatnya. Pasti dia telah bercerita padamu," Donghae memandang tajam Kibum.
Gadis itu terdiam beberapa saat dengan tetap memandang pada Donghae .
"Donghae oppa... Minnie eonni bahkan tidak menceritakan apapun padaku padahal aku ini sahabatnya. Meskipun begitu, aku tahu apa yang terjadi di antara kalian," Kibum diam sejenak.
"Kau tahu, dia mengkhianatiku. Aku ini suaminya, bukan sekedar kekasihnya. Bagaimana mungkin di saat aku tak ada di sisinya dengan mudahnya ia bercinta dengan laki-laki lain bahkan mengandung benihnya. Ia bahkan bersikukuh tidak mau mengatakan siapa laki-laki itu," wajah Donghae mulai menegang. Ia kemudian menenggak lagi minuman beralkohol yang ada di depannya. " Sebagai laki-laki dan suami, haga diriku merasa direndahkan. Karena itu aku lepas kendali dan menyakitinya,"lanjut Donghae lagi.
"Mungkin dia merasa kesepian. Tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar oppa. Apa kau pernah menanyakan bagaimana perasaannya? Apa kau pernah memperhatikannya walau itu hanya hal-hal yang sederhana? Kau tahu, hati perempuan itu sangat halus. Dia akan mudah tersentuh dengan kebaikan dan mudah tersakiti dengan sesuatu yang mengecewakan," ujar Kibum.
"Apa aku begitu mengecewakannya? Apa aku begitu egois? Kenapa dia tak mengatakannya padaku?," Donghae menatap Kibum mencari jawaban.
"Karena mungkin kau tak pernah mendengarnya," jawab Kibum dengan tenang.
"Tapi itu tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk dia mengkhianatiku. Selama di Amerika, tidak sedikit godaan yang datang. Bagaimanapun aku ini laki-laki dewasa dan normal. Bohong jika aku mengatakan tidak membutuhkan sentuhan wanita. Tapi aku selalu mengingat istriku. Aku merasa bersalah karena telah meninggalkannya sendirian dan akan semakin salah jika aku mengkhianatinya. Lebih baik aku menyentuh diriku sendiri daripada membiarkan perempuan lain yang melakukannya selain istriku. Tapi ternyata Sungmin berpikiran lain dariku." Donghae menyeka airmata yang mengalir dari kedua matanya.
"Oppa... Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Tapi setiap orang juga berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya. Kau berhak mendapatkannya, begitu pula dengan Minnie eonni," kata Kibum tanpa ragu. "Aku harap kau segera memutuskan apa yang harus kau lakukan untukmu dan untuk Minnie eonni. Bagaimanapun kau masih suaminya bukan?," Kibum berusaha menenangkan Donghae.
Tak lama kemudian ponsel gadis itu berbunyi, dan ia segera mengangkatnya.
"Maaf aku tak bisa lama-lama disini. Ada panggilan lagi dari Rumah Sakit. Sampai jumpa!," kata Kibum setelah mengakhiri pembicaraan dari ponsel.
Kibum beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Donghae melangkah keluar bar.
"Donghae-ah...,"gumam Kibum pelan sambil mengusap airmata yang mengalir perlahan dari sudut matanya. Kibum benar-benar pintar menyembunyikan perasaan sakit yang ia simpan sendiri selama bertahun-tahun dengan sikap dinginnya. Benar. Ia telah mencintai Donghae sejak lama bahkan sebelum Donghae menjalin hubungan dengan Sungmin.
=o=
Berhari-hari semenjak kepulangan dari rumah sakit, Sungmin masih tak mau berbicara dan menjauhi Donghae. Namun Donghae tak menyerah dan terus mendekati istrinya pelan-pelan. Sungmin mulai beraktivitas seperti biasa dan mulai masuk kerja lagi. Walaupun karena kegigihan Donghae akhirnya Sungmin mulai meresponnya, tetapi hubungan mereka menjadi kaku tidak seharmonis dulu sebelum Donghae pergi ke Amerika.
Donghae telah memikirkan banyak hal. Ia mencari apa saja kekurangan dan kesalahannya yang membuat Sungmin mengkhianatinya. Walaupun egonya sebagai laki-laki merasa tersakiti, tapi ia berusaha mengesampingkannya. Ia pun bersalah pada Sungmin. Seharusnya dirinya mau mendengarkan Sungmin, memperhatikannya. Seharusnya pula Donghae membawanya ikut ke Amerika, tidak meninggalkannya sendiri di Korea dengan segala ketidakpastian.
Malam ini, Donghae duduk sendiri di bangku sebuah taman kota. Ia telah menghubungi Sungmin dan berjanji bertemu dengan istrinya itu di taman. Matanya menatap kosong dedaunan yang beterbangan tertiup angin musim gugur sambil mengingat kembali saat-saat indah bersama seseorang yang dicintainya. Disitulah tempat pertamakali dirinya bertemu dengan istrinya. meskipun kadang kekanakan dan sedikit galak, tapi Donghae adalah seorang yang selalu ceria, bersemangat dan tak pernah menyerah. Karena itulah Donghae jatuh cinta padanya.
"Donghae-ah," seseorang memanggil pelan namanya. "Hae, kau sudah datang," Donghae menoleh kearah sumber suara. "Maaf terlambat. Tadi banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan di kantor," sosok Sungmin yang ditunggunya itu kemudian duduk di samping Donghae.
Selama beberapa waktu keduanya hanya terdiam.
"Ayo kita pindah ke Amerika," Donghae membuka percakapan.
"Maksudmu?," Sungmin menatap penuh tanda tanya Donghae.
"Aku mendapat tawaran lagi di firma hukum tempatku bekerja kemarin sebagai lawyer tetap. Jadi, kita berdua pindah kesana untuk mencari suasana baru," Donghae menatap lurus kearah Sungmin.
"Jangan bercanda!," ujar Sungmin tak percaya.
"Siapa yang bercanda. aku serius."
"kau tahu kan itu tak mungkin dengan keadaanku seperti ini," Sungmin memalingkan muka.
"Mari kita mulai dari awal lagi. Aku...aku minta maaf dengan semua yang pernah kulakukan padamu...," kata Donghae serius. Ia berusaha mengambil hati istrinya lagi.
"Lalu bayi ini?," tanya Sungmin.
"Kita belum bercerai"
"Sepertinya begitu..."
"Aku memang tidak akan menceraikanmu." ujar Donghae dengan tegas.
"Apa maksudmu?," Sungmin menoleh kearah Donghae.
"Dia akan menjadi anakku dan memakai namaku," ujar Donghae tanpa ragu.
"Heehh... Kau sudah gila! Bukankah kau bilang tak peduli karena ini adalah anak haramku dengan laki-laki lain?," Sungmin tertawa mengejek.
"Mungkin, tapi aku serius. Maafkan aku dan berilah kesempatan padaku sekali lagi untuk memperbaiki semuanya dan aku pun akan memberimu kesempatan sekali lagi untuk kembali mencintaiku," Donghae memohon pada Sungmin.
Sungmin hanya terdiam. Ia merasa bingung harus bersikap bagaimana.
"Donghae-ah...aku tak pantas kau maafkan. Jika berada disampingmu, aku akan selalu merasa bersalah," ujar Sungmin menyesal.
"Apa kau tak bisa memaafkanku? Kenapa kau juga tak mencoba memaafkan dirimu sendiri? Padahal aku mencoba untuk memaafkanmu," raut muka Donghae meredup.
"Entahlah, aku tak bisa. Lagipula, setiap kali kau sentuh, aku akan teringat kembali apa yang pernah kau lakukan padaku. Kita tak bisa lagi seperti dulu Donghae. Maafkan aku," Sungmin tak berani menatap wajah Donghae. Kembali rasa bersalah meliputi hatinya.
Donghae kemudian menghela nafas panjang dengan pengakuan Sungmin.
"Aku akan memberimu waktu untuk memikirkannya lagi," Donghae tersenyum tipis pada istrinya.
=0=
Kyuhyun merasa kesal karena lagi-lagi Sungmin sulit untuk dihubungi dan menolak bertemu. Ia tahu bahwa Donghae suami Sungmin telah pulang dari Amerika karena itu Kyuhyun tidak mungkin datang ke apartemen gadis itu seperti yang biasa dilakukannya. Walaupun begitu, setidaknya Sungmin mengangkat telefonnya atau membalas pesan darinya. Kyuhyun paling benci jika diacuhkan seperti ini. Dengan kasar dilemparkannya ponsel itu ke atas ranjang.
"Kyu, kau ada didalam?," suara ketukan pintu kamar membuat Kyuhyun menoleh. "Kyu, ka suah tidur?," lagi-lagi ketukan itu terdengar. Kyuhyun sebenarnya malas untuk membukakan pintu, tapi karena ketukan dan panggilan itu tak berhenti akhirnya ia beranjak juga dari meja belajarnya.
"Noona," ucap Kyuhun pelan ketika mendapati sosok mungil kakak iparnya itu berdiri di depan pintu kamarnya.
"Maaf Kyu, apa aku mengganggu tidurmu?," tanya Ryeowook.
"Aku belum tidur noona," Kyuhyun tersenyum tipis.
"Ehm, apa aku bisa minta tolong padamu?," Ryeowook nampak ragu mengatakannya.
"Apa noona?"
"Adikku Victoria yang ikut orangtuaku yang ada di Canada. Dia akan datang ke Korea sore ini jam 5. Bisakah kau menjemputnya ke bandara karena aku harus menyiapkan makan malam?"
"Baiklah noona, aku akan menjemputnya," Kyuhyun menyanggupi permintaan Ryeowook.
"Terimakasih, Kyu. Kalau begitu, aku pergi belanja dulu," Ryeowook pun berlalu dari hadapan Kyuhyun.
"Kenapa tetap tidak bisa?," ketika Ryeowook telah pergi, Kyuhyun mengambil lagi ponselnya dan mencoba menghubungi Sungmin. Tapi sekali lagi, nomor yang dituju itu tidak aktif. Ia pun lalu mencari nomor lain dan menghubunginya. "Halo, Changminnie. Nanti malam temani aku bersenang-senang. Hmm..sampai jumpa nanti malam," Kyuhyun lalu memutuskan sambungan telefon dan bersiap-siap untuk menjemput adik Ryeowook.
=o=
Sudah satu minggu ini Victoria tinggal di rumah Yesung dan Ryeowook. Ia merasa bosan tinggal di Canada dan memutuskan ikut kakaknya, melanjutkan sekolahhya di Seoul. Sifat Victoria hampir sama dengan Ryeowook, selalu ceria dan mudah bergaul dengan siapa saja. Tapi hanya satu orang yang tidak bisa didekatinya walaupun ia telah berusaha seramah mungkin padanya. Orang itu tak lain adalah adik ipar Ryeowook yang bernama Kyuhyun. Dari pertamakali bertemu, Victoria langsung tertarik pada Kyuhyun karena wajahnya yang menurut Victoria sangat tampan. Ia belum pernah bertemu dengan orang yang setampan Kyuhyun. Yang membuat kekaguman Victoria bertambah adalah kepintaran Kyuhyun. Di dunia ini banyak laki-laki tampan, tapi yang berwajah tampan sekaligus pintar itu jarang ditemui.
Malam ini entah mengapa tenggorokannya terasa haus sekali. Gadis itu pun segera menuju ke dapur untuk mencari air minum. Dibukanya kulkas lalu diambilnya sebotol air dingin. Terasa segar sekali ketika air dingin itu membasahi kerongkongannya.
"Oppa, kau baru pulang?," ketika akan kembali ke kamarnya, Victoria mendapati Kyuhyun yang berjalan sempoyongan. Penampilan pemuda itu tampak kacau dan kusut. "K-kau mabuk?," Victoria terkejut karena mencium bau alkohol dari tubuh Kyuhyun.
"jangan ganggu aku!," tepis Kyuhyun ketika Victoria bermaksud membantunya berjalan.
"Aku hanya bermaksud membantumu, oppa."
"Sudah kubilang jangan ganggu aku!," teriak Kyuhyun yang membuat Victoria merasa takut.
"Kenapa ribut-ribut?," rupanya teriakan Kyuhyun tadi telah membangunkan Ryeowook.
"Eonni. Kyuhyun oppa...," Victoria mengarahkan pandangannya dari Ryeowook berganti ke Kyuhyun yang jatuh terduduk di lantai.
"Apa yang terjadi denganmu Kyu?," Ryeowook langsung menghampiri Kyuhyun dan berlutut di sampingnya dengan susah payah karena perutnya yang mulai membesar. "K-kau..kau mabuk Kyu?," mata Ryeowook melebar mendapati adik iparnya pulang dalam keadaan mabuk. "Vic, tolong bantu aku memapahnya ke kamar!," pinta Ryeowook pada adiknya karena tak mungkin membantu Kyuhyun sendirian dalam kondisi hamil seperti ini. Dengan dibantu Victoria, Ryeowook pun membawa Kyuhyun ke kamarnya. "Vic, Tolong ambilkan air hangat dan kain lap."
"Baik eonni," Victoria langsung menuju ke luar kamar dan tak lama kemudian membawa apa yang diminta Ryeowook.
Dengan lembut Ryeowook menyeka wajah dan leher Kyuhyun yang telah dibasahi air hangat. "Kyu, sebenarnya ada apa denganmu?," tatap Ryeowook dengan prihatin. Selama ini yang ia tahu Kyuhyun adalah anak yang baik. Karena itu, Ryeowook sangat terkejut ketika mendapati adik Yesung itu pulang dalam keadaan mabuk. Bukan hanya bau alkohol bercampur parfum wanita yang ia cium dari tubuh Kyuhyun. Ryeowookjuga melihat ada bekas noda lipstik di pakaian si adik ipar itu. Entah bagaimana reaksi Yesung jika tahu adik kesayangannya begini. Untung saja Yesung masih dinas ke luar kota. "Vic, tolong jangan kau beritahu hal ini pada Yesung oppa," pinta Ryeowook pada adiknya yang dibalas dengan anggukan oleh Victoria.
=o=
Cinta memang tak selalu seindah yang dibayangkan karena ini bukanlah drama cinta di televisi, ini adalah kehiduan nyata. Dalam cinta bukan hanya ada kesenangan saja tapi akan ada ujian, tergantung bagaimana masing-masing menghadapinya. Begitu pula yang dihadapi Sungmin. Mungkin dirinya masih menyayangi Donghae. Ia juga merasa bersalah pada suaminya itu. Tapi disisi lain dirinya tak dapat melupakan apa yang pernah dilakukan Donghae ketika memaksanya bersetubuh dan menyakitinya. Walaupun ia sadar itu semua karena kesalahan yang diperbuatnya dengan mengkhianati Donghae, tapi entah mengapa Sungmin selalu merasa ketakutan bila berada didekat suaminya.
Ingin rasanya dirinya melupakan semuanya dan memulai lagi dari awal memupuk cinta mereka agar kembali seperti dulu. Tapi gadis itu tak dapat menghilangkan traumanya begitu saja. Entah mengapa juga, di dalam hatinya telah tumbuh rasa yang berbeda pada Kyuhyun. Bukan hanya sekedar perasaan untuk memuaskan hasrat saja, tapi lebih dari itu. Tapi ia belum yakin benar dengan perasaannya karena bagaimanapun tak pantas dirinya bersama dengan Kyuhyun. Pemuda itu usianya terpaut 6 tahun di bawahnya, lagipula Kyuhyun tak mencintainya.
Kata cinta itu tak pernah sekalipun terucap dari bibir Kyuhyun. Meskipun Kyuhyun memperlakukannya lembut dan selalu memenuhi keinginannya, tapi Sungmin merasa hal itu karena mereka saling membutuhkan saja. Jika Kyuhyun telah bosan padanya, mungkin pemuda itu pasti akan meninggalkannya karena Kyuhyun tak pernah mau terikat dengan satu orang. Gadis itu juga tahu, selain dengannya Kyuhyun juga pernah bersama dengan perempuan lain. Karena itu, dirinya harus mengambil keputusan sekarang juga.
Sungmin mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.
"Halo, Kyuhyun bisakah kita bertemu? Sebentar saja. Baiklah, aku akan kesana," Sungmin kemudian memutus sambungan dan beranjak dari taman tersebut.
=0=
"Yeobo, bukankah itu mobil Kyuhyun?," Ryeowook menunjuk pada mobil sedan sport berwarna biru metalic yang berada di seberang jalan.
"Mobil seperti itu banyak yang punya bukan?," ujar Yesung dengan santai di belakang kemudinya.
"Tapi aku hafal mobil Kyuhyun. Kenapa malam-malam begini dia pergi? Harusnya kan sudah ada di rumah," Ryeowook berusaha meyakinkan Yesung.
"Benarkah? Jangan terlalu curiga. Sudah ku bilang mungkin saja itu mobil orang lain," Yesung berusaha menenangkan istrinya sambil mengusap kepalanya.
"Semenjak kuliah Kyuhyun sering pulang malam bahkan beberapa hari dia tidak pulang. Maaf jika aku baru mengatakannya padamu."
"Mungkin saja dia mengerjakan tugas kuliahnya"
"Tapi aku sering mencium bau alkohol dan parfum perempuan. Maaf aku mencurigai adikmu. Aku hanya mencemaskannya. Bagaimana kalau kita mengikuti mobil itu?," Ryeowook sedikit memaksa.
"Dia sudah besar. Sekali waktu pasti butuh hiburan. Tapi baiklah jika itu maumu," Yesung pun memutar arah mobilnya dan mengikuti mobil yang menurut Ryeowook milik Kyuhyun.
Beberapa waktu kemudian mereka sampai di sebuah kawasan hiburan di Itaewon.
"Oppa..kenapa kita kesini?," tanya Ryeowook dengan bingung.
"Bukankah kau memintaku untuk mengikuti mobil itu," Yesung tersenyum melihat reaksi Ryeowook.
"Oh..benar juga"
Mobil sedan biru tersebut berhenti di depan sebuah hotel. Seorang pemuda tampan berkulit pucat dengan rambut sedikit ikal keluar dari dalam mobil.
"Oppa...itu.. Kyuhyun kan?," Ryeowook menunjuk pada pemuda itu. Wajahnya tak percaya saat menyaksikan Kyuhyun kemudian masuk ke dalam hotel tersebut.
"Kyuhyun...," Yesung melebarkan mata saat melihatnya.
"Dia mau apa kesana?," tanya Ryeowook berusaha mencari jawaban lain yang berbeda dengan di pikirannya.
"Kita tunggu saja disini," kata Yesung berusaha menghibur Ryeowook meskipun pikirannya pun tak kalah kalut.
Mereka berdua menunggu Kyuhyun di seberang hotel.
"Kenapa lama sekali? Ayo kita ke dalam," ajak Ryeowook tak sabar.
Gadis itu kemudian keluar dari mobil dan menuju ke dalam hotel di seberang jalan. Tak peduli dengan teriakan Yesung yang memanggilnya. Akhirnya Yesung segera mengikutinya.
"Maaf, bisa kau beritahu pemuda tinggi berambut agak ikal cokelat dan berwajah tampan yang beberapa menit lalu masuk kesini dia di kamar berapa?," tanya Ryeowook pada resepsionis.
"Maaf nyonya, kami tak bisa memberitahukannya karena itu privacy," jawab si resepsionis yang seorang pemuda berambut merah tersebut dengan sopan.
"Aku mohon. Dia itu adikku...," pinta Ryeowook sekali lagi.
"kami benar-benar minta maaf nyonya, tapi memang tidak bisa. Itu menyalahi aturan."
"Apa kau tidak dengar! Dia itu adikku! Cepat katakan dia di kamar berapa!," Ryeowook mulai tak sabar dan berteriak pada si resepsionis.
"Sabarlah sayang. Ingat kondisimu sedang hamil sekarang...," Yesung memeluk bahunya untuk menenangkan. "Maafkan istriku. Dia sedang cemas saja. Bisa kau tunjukkan kamar adikku?," Yesung tersenyum sambil memberikan beberapa lembar uang pada respesionis tersebut.
"Baiklah, tidak apa-apa. Dia ada di kamar 203. kau lurus saja lorong ini naik ke lantai 2 lalu belok ke kanan," kata resepsionis itu menerangkan.
"Terimakasih," kata Yesung sambil berlalu bersama Ryeowook menuju ke tempat yang telah ditunjukkan.
=0=
"Kenapa malam-malam begini meminta bertemu? Biasanya kan kau selalu menolak karena takut ketahuan suamimu," goda Kyuhyun pada Sungmin sambil menarik tubuh gadis itu mendekat lalu mencium bibirnya.
"Kyu... Aku mohon berpura-puralah kau benar-benar mencintaiku malam ini saja. Bukan hanya sekedar hasrat memuaskan nafsu," Sungmin menatap lurus Kyuhyun setelah mengakhiri ciuman mereka.
"Apa maksudmu?," Kyuhyun menyipitkan mata tak mengerti.
"Jangan banyak bertanya. Lakukan saja permintaanku karena kali ini aku akan membayarmu!," kata Sungmin serius. Gadis itu lalu menyelipkan lembaran uang ke saku celana Kyuhyun.
Kyuhyun tak menjawab. Ia benar-benar bingung dengan sikap aneh Sungmin. Apakah gadis ini sedang ingin mencoba 'permainan' yang berbeda dengannya? Baiklah. Kyuhyun akan mengikuti permainannya. Pemuda itu hanya tersenyum tipis lalu mengecup kening Sungmin. Hanya kecupan yang penuh kelembutan, membuat jantung Sungmin berdetak lebih kencang.
Perlahan ciuman itu beralih ke bibir, tanpa dominasi, hanya saling memberi. Sambil mencium bibir gadis itu, tangan Kyuhyun mengusap lembut belakang kepalanya sementara tangan yang lain menyentuh pelan tubuh Sungmin, menjelajahi tubuhnya yang masih terbalut pakaian tersebut.
Setelah puas menciumnya, Kyuhyun menatap Sungmin dengan lembut sambil melepas pakaian yang dikenakan gadis tersebut satu-persatu hingga tak bersisa sehelai benang pun. Perlahan direbahkannya tubuh tak terbalut pakaian itu ke atas ranjang. Kyuhyun mengusap pelan pipinya lalu mengecup bibirnya sekali lagi sebelum melepaskan pakaian yang masih dikenakan pemuda itu sendiri.
Ketika semua pakaian telah terlepas, Kyuhyun langsung menautkan bibirnya pada bibir Sungmin dan saling bertukar saliva disana. Perlahan bibirnya turun ke leher hingga ke dada, meninggalkan jejak-jejak sentuhannya disana. Sungmin mendesah pelan karena sentuhan tersebut. Oh, Sungmin benar-benar merindukan sentuhan Kyuhyun. Jika dulu ia tidak suka saat Kyuhyun menyentuh dadanya dengan paksa. Kali ini Sungmin ingin Kyuhyun bermain disana lebih lama lagi. Dijambak dan ditekannya kepala Kyuhyun agar tetap bermain-main di kedua gundukan kenyal dadanya. Kyuhyun seolah mengerti maksud Sungmin. Tanpa menyiakan kesempatan. Dilahapnya dengan rakus kedua payudara sintal milik Sungmin secara bergantian. Menjilat, mengulum, dan kadang menggigitinya hingga Sungmin merasa nikmat sekaligus geli.
Setelah lama bermain dengan dada Sungmin, Kyuhyun membelai rambut dan pipinya. Jemarinya perlahan turun ke bagian bawah tubuh Sungmin guna mencari liang surga yang sering dimasukinya itu. Dengan terampil, jemari Kyuhyun mengusap lalu bergerak zig-zag di dalam sana. Ia benar-benar memanjakan milik Sungmin itu dengan jemarinya hingga Sungmin mencapai puncaknya ditandai dengan keluarnya cairan dari bagian intimnya. Ketika merasa cukup membangkitkan hasrat gadis itu. Perlahan Kyuhyun pun memasuki tubuhnya, menyatukan tubuh mereka tanpa pembatas apapun. Sungmin lalu meraih bahu Kyuhyun dan mengaitkan kedua lengannya disana sambil membelai belakang kepala Kyuhyun disela irama gerakan mereka. Ia menikmati setiap detil dan mencoba merekam semua sentuhan lembut Kyuhyun dalam benaknya karena ini adalah untuk yang terakhir kalinya ia akan bertemu dengan pemuda itu.
"Kyuhyun-ah...," desah Sungmin ketika mencapai puncaknya. Butiran keringatnya telah menyatu dengan keringat Kyuhyun.
Kyuhyun mengecup keningnya lalu membenamkan kepalanya di leher gadis itu.
Tok tok tok..
Pintu kamar mereka diketuk pelan dari luar. Kyuhyun tak menghiraukannya karena masih kelelahan. Pintu kamar itu sekali lagi diketuk. Kali ini lebih keras.
"Siapa?," teriak Kyuhyun kesal. Namun tiada jawaban. Kembali pintu itu diketuk dan lebih keras lagi bahkan berkali-kali hingga Kyuhyun gusar. "Tunggulah disini," kata Kyuhyun sambil menyelimuti Sungmin. Pemuda tersebut lalu mengenakan celananya dan menuju pintu untuk melihat siapa orang yang telah mengganggu mereka.
"Kyuhyun!," Yesung-lah yang muncul dibalik pintu disaat Kyuhyun membuka pintu. Kyuhyun merasa terkejut melihat kakaknya.
Wajah laki-laki bermata sipit tersebut tak kalah menyiratkan keterkejutan ketika melihat keadaan Kyuhyun yang tampak kacau apalagi ketika melihat perempuan yang masih berada diatas ranjang dengan hanya memakai selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya.
"Kyuhyun... eonni...," Ryeowook memaksa masuk kamar. Ia membelalakkan mata ketika melihat Sungmin disana. Tubuhnya bergetar hebat karena merasa shock.
Sementara itu Sungmin yang mengetahui siapa yang datang tak bisa lagi menyembunyikan kenyataan. Tindakannya telah diketahui sepupunya. Ia merasa terkejut sekaligus malu. Gadis itu masih terduduk di atas ranjang sambil merapatkan selimutnya sementara wajahnya tertunduk.
"Kyuhyun, cepat pakai bajumu lagi!," perintah Yesung dengan tegas.
"Yesung oppa, Kyuhyun...tunggulah diluar!," pinta Ryeowook setelah Kyuhyun telah berpakaian.
"Ayo kita keluar Kyuhyun!," Yesung lalu menyeret Kyuhyun keluar kamar.
"Sampai kapan kau mau telanjang eonni?," Ryeowook menatap sinis Sungmin yang masih terbalut selimut.
Tanpa banyak kata-kata, Sungmin segera beranjak dari ranjang dan mulai mengenakan pakaiannya. Sementara itu kedua pasang mata Ryeowook menatap tajam Sungmin tanpa mengalihkannya hingga Sungmin telah mengenakan semua pakaiannya.
"Wookie..aku...," Sungmin menghentikan perkataannya. Ia tak sanggup lagi membela diri di depan Ryeowook yang tampak jelas sedang menahan emosi.
"kau bisa menjelaskan apa maksudnya semua ini?," Ryeowook mendekatkan wajahnya sambil tetap menatap tajam sepupunya.
"Maaf...," hanya kalimat itu yang terucap dari bibir Sungmin yang telah kelu.
Plaaak.
Ryeowook menampar pipi Sungmin hingga berwarna kemerahan.
"Teganya berbuat seperti ini! Aku mempercayaimu dan kau... Kau telah merusak semuanya!," bulir-bulir bening mengalir dari kedua mata Ryeowook.
"Aku..menyukainya Wookie-ah!," Sungmin menatap lurus Ryeowook meskipun guratan penyesalan terlihat di wajah itu.
"Sebaiknya kau katakan itu juga pada Donghae oppa," Ryeowook kemudian membalikkan tubuh dan melangkah pergi meninggalkan Sungmin yang masih terpaku sendirian di dalam kamar.
TBC
Gomawo yang dauh review ^^
Maaf jka fic ini tak sesuai harapan pembaca. bagaimanapun ini hanya sekedar fic hasil dari imajinasi penulis saja, jadi ini bukan kenyataan...^^
