Title : Second Chance
Author : Yukishima
Genre : drama, romance, angst
Rating : T

Chapter : 9

Fandom : Super Junior, GS

Guest Stars : Victoria f(x), Jungmo d'trax, Nickhun 2PM (mentioned)
Pairing : Kyumin, Haemin, slight Yewook, Jungmin, Haebum, Khuntoria

Disclaimer : Mereka bukan punya gw, tapi cerita milik gw

Warning : GS, mature content, buat yang dibawah umur tidak disarankan untuk membaca^^
Note Author : Hai...author balik lagi dengan chapter baru. Maaf nunggu lama karena kemarin author banyak kesibukan *sok sibuk * Ini juga disempat-sempatin *jiaah *

Bagi kemarin yang sudah membaca sampai chapt 10 mungkin harus membaca lagi dari chapt 9 karena ada yang berbeda dari sebelumnya. Chapter 9 & 10 sengaja saya perbaiki lagi karena author tidak puas dengan sebelumnya yg alurnya meloncat-loncat & tidak urut. Begitulah kalau nulis buru-buru & sambil ngerjain macem2 ==;

Selama bulan puasa, saya bikin rating yang aman aja supaya puasanya gak terganggu :D

No bash or flame. Don't like, don't read it. Kritik, saran, protes boleh tapi dengan sopan karena ini hanya fic bukan kenyataan...^^ Keep smile and peace ^_^

Gomawo yang udah pada kasih review. Maaf kalo author nggak bisa memenuhi satu2 permintaan readers. Author akan menulis secara proporsional dan realistis. Ambil hal-hal yang baik disini, jangan ditiru kalo yang buruk ^^ Sekali lagi, ini hanya fic, bukan kenyataan meskipun author menulisnya karena terinspirasi beberapa kejadian nyata dibumbui dengan imajinasi author yang gak jelas juga :D

=0=

Gadis cantik bagaikan Snow White dengan kulit seputih salju, rambut sehitam arang, dengan bibir merah merekah itu berdiri di depan sebuah pintu apartemen. Jari-jari lentiknya memasukkan anak kunci ke lubangnya lalu menekan tombol password untuk masuk. Sepertinya ia telah terbiasa datang kesini. Jika sebelumnya dirinya tidak bebas memasuki apartemen tersebut, namun akhir-akhir ini ia bebas melakukannya karena si pemilik telah mengizinkan bahkan memberinya kunci cadangan sehingga ia bisa datang kapanpun.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Perlahan ia memasuki apartemen itu, meletakkan sebuah bungkusan di meja makan lalu mencari-cari sosok seseorang. Ia membuka sebuah kamar. Di dalam sana terlihat seorang laki-laki tampan berwajah polos duduk diatas ranjang dengan pandangan mata terarah keluar jendela. Seekor kucing Persia berbulu putih meringkuk di pangkuannya. Penampilan laki-laki itu tampak kacau. Tubuhnya sedikit lebih kurus dari biasanya dan wajahnya menirus. Dibawah kedua matanya terdapat lingkaran hitam pertanda ia kurang tidur.

"Donghae oppa..," suara lembut itu keluar dari bibir merahnya, membuat laki-laki itu menoleh.

"Kibum-ah..," Donghae berkata dengan nada lemah hampir tak terdengar.

"Apa yang sedang kau lakukan disana? Kau tidak bekerja lagi eoh?," Kibum mendekat kemudian duduk di tepi ranjang.

"Tidak ada," jawab Donghae singkat.

Gadis itu lalu meraih kucing milik Donghae, mendekap dan mengelusnya sayang. Si kucing mengeong lemah seakan merasakan apa yang kini dirasakan oleh tuannya itu. Setelah puas bermain-main dengan kucing tersebut Kibum kemudian memindahkannya ke lantai. Sepasang mata kelam Kibum kemudian menatap lekat sosok sahabatnya itu dengan prihatin. Tak ada lagi keceriaan yang biasa terlihat di wajah polosnya yang kini terlihat kusut tersebut.

"Kau sudah makan? Aku membawakanmu makanan. Apa mau kuambilkan?," tawar Kibum.

"Nanti saja. Aku belum lapar," tolak Donghae.

"Kau belum makan dari kemarin bukan? Walaupun tidak merasa lapar, kau harus tetap makan agar tidak sakit," Kibum tersenyum lembut saat membujuk Donghae. Namun laki-laki itu hanya diam membisu tak menanggapi perkataan Kibum. "Oppa, jangan menyiksa diri seperti ini. Walaupun kau kehilangan Minnie eonni, tapi kau masih memiliki eomma yang selalu tulus menyayangimu, saudara-saudaramu. Kau juga memilikiku, sahabatmu. Selain aku, juga ada teman-temanmu yang lain bukan? Masih banyak hal yang harus kau lakukan selain hanya diam dan terpuruk seperti ini. Aku yakin Minnie eoni juga tak berharap kau begini," butiran bening mulai mengalir dari sepasang mata indah Kibum. Ia benar-benar tak tega jika melihat sahabat serta orang yang dicintainya begitu terpuruk seperti sekarang setelah perceraiannya dengan Sungmin sebulan yang lalu.

"Kibum-ah, kenapa kau menangis?," Donghae menatap sayu kearah Kibum lalu menghapus jejak airmata di pipi gadis itu.

"Tidak apa-apa oppa. Mataku hanya sedikit pedih saja. Mungkin karena tadi terkena debu sewaktu di jalan," dusta Kibum. Gadis ini memaksakan senyum dari bibir merahnya. " Aku ambilkan makan ya.. Walaupun sedikit tidak apa-apa asal kau mau makan," bujuk Kibum lagi. Donghae hanya mengangguk pelan pertanda setuju. "Tunggu sebentar," Kibum tersenyum tipis lalu menuju ke ruang makan untuk mengambilkan Donghae makanan.

"Minnie-ah...," gumam Donghae pelan sesaat setelah Kibum menghilang dibalik pintu. Tanpa terasa kedua pipinya basah oleh airmata.

=o=

Sungmin terdiam menatap deburan ombak yang datang silih berganti menghantam pantai. Gelombang laut yang kadang kecil kemudian berganti besar membawa dan mengembalikan lagi butiran lembut pasirnya. Ia tak mempedulikan sepasang kakinya yang basah dan terkotori oleh air laut yang asin. Bahkan tak mempedulikan rasa dingin yang mulai menjalari tubuhnya. Yang diperhatikannya hanyalah lautan yang terbentang luas dihadapannya. Dulu sebelum menikah, Donghae pernah mengajaknya kesini. Pantai Jindo yang terletak di Mokpo, kampung halaman Donghae. Mereka pernah berjanji akan kembali lagi kesini membawa anak-anak mereka kelak. Perlahan Sungmin mengusap lembut perutnya yang mulai kelihatan menonjol.

"Sayang, lihatlah... Pantainya sangat indah. Kalau kau sudah besar nanti, eomma akan membawamu lagi kesini," Bibir indah perempuan itu mengulas senyum pahit. Janji itu hanyalah tinggal janji karena tak dapat lagi dipenuhi. Sungmin memang kembali lagi kesini, tapi bayi yang sekarang dalam kandungannya itu bukanlah benih dari Lee Donghae melainkan milik orang lain.

Cukup lama Sungmin berdiri disana hingga semburat mentari di ufuk Barat berubah keoranyean pertanda akan mengakhiri tugasnya menyinari bumi di hari ini. Perlahan Sungmin melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu untuk kembali ke rumah yang baru saja ditempatinya dua minggu ini. Sebuah rumah mungil sederhana jauh dari kesan mewah seperti apartemen yang ditempatinya di Seoul namun cukup nyaman baginya.

Butuh waktu sekitar 45 menit dari pantai untuk mencapai rumah Sungmin yang terletak di pinggiran kota Mokpo itu. Tapi sebelum mencapai rumahnya, Sungmin mampir dulu ke sebuah minimarket dekat stasiun kota yang kebetulan dilewatinya untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah mengambil semua yang diperlukannya, Sungmin pun mendorong trolinya menuju kasir untuk menghitung semua belanjaannya.

"Apa lagi yang... Sungmin?," laki-laki muda bertubuh tinggi kurus yang berdiri di belakang meja kasir itu memanggilnya, membuat Sungmin yang sedang sibuk meletakkan belanjaannya di meja kasir kemudian menengadahkan kepala.

"Jungmo oppa?," Sungmin melebarkan mata tak percaya.

"Sungmin, kenapa kau disini?," tanya laki-laki bernama Jungmo itu.

"Ah, iya.. Tolong cepat hitung saja belanjaanku oppa, a-aku sedang buru-buru," pinta Sungmin dengan gugup.

Sungmin tak menyangka akan bertemu dengan Jungmo sepupu dari mantan suaminya Lee Donghae disini. Apalagi ketika Jungmo menatap beberapa barang belanjaannya yaitu susu ibu hamil dan vitamin lalu beralih menatap ke perutnya yang sedikit besar. Pandangan mata laki-laki itu seolah memberi banyak pertanyaan pada Sungmin. Tapi ketika melihat ada beberapa orang yang mengantri di belakang Sungmin, iapun segera menghitung belanjaan perempuan itu. Setelah membayar belanjaannya, Sungmin buru-buru mengambil barang yang telah dibelinya dan berjalan tergesa keluar dari minimarket.

=o=

"Sungmin," perempuan berwajah manis ini tersentak ketika seorang laki-laki yang bertemu dengannya beberapa hari yang lalu di sebuah minimarket kini berdiri tepat didepan rumahnya.

"Jungmo oppa. Lama tidak bertemu," Sungmin tersenyum untuk menutupi kegugupannya karena tiba-tiba saja Jungmo muncul di depan rumahnya.

"Kau tidak mempersilakanku masuk?," tanya Jungmo.

"Ah, iya.. Silakan masuk," ujar Sungmin. "Maaf, tempatnya sederhana."

"Tidak apa-apa," Jungmo kemudian duduk diatas sebuah kursi yang terbuat dari kayu. "Sejak kapan kau disini?"

"Sebulan ini," jawab Sungmin sambil tetap berusaha menghilangkan rasa gugupnya. Bagaimanapun saat ini dirinya belum siap bertemu siapapun apalagi yang masih mempunyai hubungan dengan Donghae. "Kenapa oppa bisa tahu rumahku?"

"Oh.. Ehm, sebenarnya aku mengikutimu setelah kau keluar dari minimarketku," Jungmo mengelus tengkuknya sendiri karena merasa tidak enak hati telah melakukan hal yang mungkin menurut Sungmin tidak pantas.

"Minimarketmu?," Sungmin bertanya lagi.

"Iya. Meskipun hanya sebuah minimarket kecil, tapi sudah dua tahun ini aku memilikinya," senyuman bahagia terulas di bibir Jungmo.

"Selamat oppa," ucap Sungmin tulus.

"Terimakasih," jawab Jungmo. "Ehm, kenapa kau pindah ke Mokpo sendiri? Dimana Donghae? Apa kau juga sudah mengunjungi mertuamu?"

"Oppa... A-aku... Aku sudah bercerai dari Lee Donghae," Sungmin hanya menundukkan wajah tak berani menatap Jungmo.

"A-apa?"

"Itu benar oppa. Aku mohon jangan beritahukan keberadaanku disini pada Donghae oppa termasuk juga orang tuanya" pinta Sungmin memelas.

"Tapi..."

"Aku mohon...," pinta Sungmin lagi.

"Baiklah. Kau bisa mempercayaiku," akhirnya Jungmo menyetujui permintaan Sungmin.

"Terimakasih oppa," ujar Sungmin sambil tersenyum tipis.

"Tidak masalah," balas Jungmo. "Oiya, kenapa kau bercerai dengan Donghae? Bukankah kalian dulu saling mencintai? Kalian juga selalu terlihat mesra. Apa Donghae juga mengetahui kehamilanmu?," tanya Jungmo ketika melihat kembali kandungan Sungmin.

"I-itu..dia sudah tahu aku hamil," jawab Sungmin lirih.

"Tapi kenapa dia malah menceraikanmu? Apa Donghae mendapatkan perempuan lain lalu meninggalkanmu begitu saja bahkan tak peduli dengan istrinya yang sedang mengandung? Ish...dasar anak kurangajar itu!," geram Jungmo.

"Tidak oppa. Lee Donghae bukan laki-laki seperti itu. Dia suami yang setia dan laki-laki yang bertanggungjawab," bibir plum itu bergetar saat mengatakannya.

"Lalu?"

"Akulah yang bersalah karena telah mengkhianatinya. Bayi ini bukan milik Donghae oppa," buliran bening mulai membasahi pipi bulat Sungmin.

"Minnie-ah...," Jungmo berdiri lalu mendekat kearah perempuan itu.

"Oppa, kau juga boleh membenci dan menyalahkanku. Apa yang telah kulakukan ini adalah sebuah kesalahan besar. Sebesar apapun masalahku dengannya, tak seharusnya aku melakukan itu. Aku telah melukainya terlalu dalam. Bahkan seandainya jika dia tak memaafkanku pun akan kuterima. Tapi kenapa dia tetap mau memaafkanku? Itu membuatku semakin merasa berdosa," setelah menahan diri beberapa lama memendam perasaannya sendiri, akhirnya pertahanan itu terlepas. Sungmin kini menangis tersedu-sedu. Jungmo meraih tubuh ringkih Sungmin ke dalam pelukannya.

"Itu karena Donghae sangat mencintaimu. Saat kita mencintai seseorang dengan tulus, selalu ada maaf bagi orang itu walau sebesar apapun kesalahannya," ujar Jungmo bijak. "Lalu, apakah ayah dari bayimu sudah mengetahuinya?," tanya Jungmo setelah melepas pelukannya.

"Aku tak mengatakan keadaanku padanya," Sungmin masih terisak.

"Baiklah, tidak apa-apa. Mungkin kau punya banyak pertimbangan saat memutuskan ini. Yang jelas selama disini, kau bisa mengandalkanku," Jungmo menepuk pelan bahu Sungmin.

"Terimakasih oppa, tapi aku tak mau merepotkanmu."

"Tidak juga. Karena aku belum berkeluarga, tidak ada yang kuurs selain diriku sendiri. Kupikir tidak akan merepotkan kalau bertambah dua orang lagi," gurau Jungmo, yang dibalas dengan senyuman kecil dari Sungmin.

"Boleh kutahu usia kandunganmu?," tanya Jungmo pada Sungmin.

"Baru saja memasuki minggu kelimabelas," jawab Sungmin sambil mengelus pelan perutnya.

"Kau sudah tahu jenis kelaminnya?," tanya Jungmo lagi.

"Kata dokter jenis kelaminnya perempuan."

Jungmo lalu mensejajarkan wajahnya pada perut Sungmin. "Hai gadis kecil! Aku Jungmo ajusshi. Selama kau didalam sana, jadilah anak yang baik dan jangan menyusahkan eomma-mu ok...," Jungmo berdialog dengan makhluk mungil bernyawa yang ada didalam perut Sungmin seolah janin itu bisa mengerti ucapannya. Sungmin hanya terkekeh pelan dengan sikap Jungmo itu.

=o=

Selama beberapa bulan ini Sungmin telah berada di Mokpo. Untuk menghidupi dirinya, Sungmin bekerja membantu Jungmo sebagai karyawan minimarketnya. Ia merasa sangat beruntung dan berhutang budi pada laki-laki itu karena Jungmo sendirilah yang menawari Sungmin untuk bekerja disana. Bahkan Sungmin tidak harus bekerja seperti karyawan yang lain. Jungmo memperlakukannya istimewa, tak membiarkan Sungmin bekerja terlalu lelah karena kondisinya yang sedang mengandung. Karena itu, Sungmin hanya bekerja dari pagi sampai siang atau siang sampai sore. Jungmo tak memperbolehkan Sungmin bekerja sampai malam meskipun Sungmin memaksanya.

Semula Jungmo menawari Sungmin untuk tinggal dirumahnya agar dapat menjaga Sungmin dengan lebih baik apalagi dengan kondisi perutnya yang semakin lama semakin membesar. Namun Sungmin menolaknya. Ia tidak mau merepotkan Jungmo lagi yang telah begitu baik menjaganya bahkan memberi pekerjaan. Ia ingin hidup mandiri. Selain itu, jika tinggal bersama Jungmo, Sungmin khawatir mantan mertuanya akan mengetahui keberadaannya di Mokpo. Karena Sungmin memilih untuk tinggal sendiri, maka Jungmo pun mengalah dengan sering mengunjungi rumahnya.

"Oppa, kau sudah makan malam?," tanya Sungmin ketika malam itu Jungmo datang kerumahnya. "Kebetulan aku mau memasak Bulgogi. Kau makan malam disini saja menemaniku."

"Aku memang belum makan malam. Tapi sebaiknya kita makan diluar saja. Aku khawatir kau akan kelelahan jika harus memasak apalagi dengan usia kandunganmu yang tak lama lagi melahirkan itu," jawab Jungmo yang mengkhawatirkan Sungmin.

"Oppa, aku tidak akan kelelahan. Aku sudah membuat kimchi dan juga mempersiapkan bahan-bahannya, tinggal memasak saja. Kau tunggu saja, sebentar pasti sudah jadi," ujar Sungmin.

"Benarkah tidak apa-apa?," tanya Jungmo.

"Ck, kau tak perlu terlalu mengkhawatirkanku oppa. Dokter bilang juga tidak apa-apa aku sekali-sekali bekerja asal tidak terlalu keras. Dengan bergerak juga membantu memperlancar saat persalinanku nanti. Kau tunggu saja di ruang tengah sambil menonton televisi," Sungmin kemudian mendorong Jungmo menuju ruang tengah dan menyalakan televisi untuknya. Setelah itu ia kembali lagi ke dapur dan mulai memasak.

Selama hampir satu jam Sungmin berkutat di dapur. Tak lama kemudian ia telah selesai memasak.

"Oppa, ayo kita makan. Aku sudah selesai memasak," ajak Sungmin. Jungmo kemudian mengikuti Sungmin ke meja makan.

"Wah, sepertinya sangat lezat," Jungmo tersenyum cerah.

"Cobalah. Ini terbuat dari daging sapi Korea asli," Sungmin menaruh daging Bulgogi bersama kimchi dan bawang putih ke dalam daun selada, melipatnya menjadi bungkusan kecil lalu menyerahkannya pada Jungmo.

"Enak sekali!," seru Jungmo setelah mencicipinya.

"Terimakasih. Kalau begitu makanlah yang banyak..," ujar Sungmin sambil tersenyum tipis.

"Berat badanku bisa bertambah jika kau sering memasakkanku karena semua masakanmu selalu enak," ujar Jungmo sambil makan dengan rakusnya.

"Itu bagus bukan karena kau sekarang lebih kurus daripada dulu," Sungmin tertawa kecil menanggapi gurauan Jungmo. Tiba-tiba rasa mulas mendera perutnya namun Sungmin berusaha mengabaikannya.

"Kau kenapa?," tanya Jungmo ketika melihat wajah Sungmin yang seperti menahan kesakitan.

"Tidak apa-apa," elak Sungmin walaupun semakin lama mulasnya semakin terasa. Rasanya sesuatu yang berada dalam perutnya itu mendesak ingin keluar.

"Sungmin...," Jungmo segera menghentikan makan dan bergegas bangkit mendekati Sungmin ketika wajah perempuan itu mulai memucat dan keringat dingin membanjiri wajah cantiknya.

"Oppa...perutku...sakit..sekali...," keluh Sungmin dengan terbata karena menahan rasa sakit yang luar biasa pada perutnya. Bahkan bagian bawah tubuhnya telah basah karena ketubannya telah pecah.

"Astaga Sungmin, sepertinya ini sudah waktunya!," Jungmo langsung membopong tubuh Sungmin keluar rumah dan membawanya ke rumah sakit menggunakan mobilnya.

Sambil menyetir, sesekali Jungmo melempar pandangan khawatir pada Sungmin yang duduk di jok samping. Sungmin tampak sesekali mendesis menahan sakit sambil memegangi perut besarnya. Untunglah letak rumah sakit tidak terlalu jauh dari rumah Sungmin, sehingga 15 menit kemudian mereka telah sampai disana. Sesampainya di rumah sakit, Jungmo pun membopong lagi tubuh tak berdaya Sungmin dan membawanya ke dalam.

"Tolong, dia akan melahirkan," ujar Jungmo saat tiba di depan resepsionis. Beberapa perawat langsung membawa Sungmin menuju ruang operasi untuk bersalin.

"Maaf Pak, anda tunggu diluar saja," seorang perawat menahan Jungmo didepan pintu ruang operasi.

Sementara itu di dalam ruang operasi Sungmin telah berjuang sekuat tenaga meregang nyawa sambil menahan rasa sakit yang membuatnya di antara hidup dan mati untuk memperjuangkan nyawa tubuh mungil yang sebentar lagi akan hadir di dunia ini. Tak mempedulikan keringat yang telah membanjiri seluruh tubuhnya, tak peduli dengan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya yang serasa dibelah-belah itu. Bahkan cairan merah juga telah keluar dari sana. Yang dipikirkannya sekarang ini adalah tetap bertahan hidup dan bayinya lahir dengan selamat. Ia berusaha untuk tetap terjaga sambil mengambil nafas lalu mengejan berulang-ulang seperti yang diinstruksikan oleh dokter yang membantu persalinan.

"Kyu...," nama itu keluar dari bibir manisnya sebelum terdengar tangis seorang makhluk mungil yang baru saja dilahirkannya, dan kesadarannya mulai menghilang.

=o=

"Ming?," pemuda tampan berambut ikal kecokelatan itu segera menghentikan permainan PSPnya. Pandangan matanya kemudian mengitari sekeliling ruangan itu, mencari-cari sumber suara yang tadi didengarnya.

Ia seperti mendengar suara Sungmin yang memanggilnya meskipun terdengar samar, namun ketika menoleh yang terlihat di sekelilingnya tak ada perempuan itu. Yang ada hanyalah sosok Ryeowook yang sedang menimang buah hatinya dengan sayang.

"Noona, apa kau tadi memanggilku," tanya Kyuhyun. Ia berpikir mungkin dirinya tadi salah dengar. Mungkin saja yang memanggilnya adalah sang kakak ipar.

"Tidak. Kenapa Kyu?," Ryeowook menatap heran Kyuhyun.

"Ah, tidak apa-apa," Kyuhyun menggeleng pelan.

Pandangan mata caramel Kyuhyun masih menatap sosok cantik bertubuh mungil kakak iparnya itu. Sosok manis yang selama bertahun-tahun ini mampu membuat jantungnya berdebar dengan cepat walau hanya mendengar namanya saja. Kyuhyun pernah sangat mencintainya hingga merasakan sakit yang mendalam karena memendam rasa itu dalam hati yang membuat dirinya telah mengacaukan hidupnya sendiri bahkan akhirnya mengacaukan hidup orang lain juga karena jalan pikirannya yang sempit dalam menghadapi patah hati.

Perlahan Kyuhyun menyentuh dada sebelah kirinya. Ia masih merasakan kehangatan saat menatap diam-diam kakak iparnya itu. Namun kini entah mengapa ada sesuatu lain yang hilang di dalam sana. Suara lembut seseorang, wajah cantik sekaigus manis itu, wangi tubuh yang selalu disentuhnya, dan kata-kata galak yang terucap dari bibir indah itu kini tak lagi didengarnya. Kyuhyun merindukan semua yang ada di diri sosok itu. Senyuman pahit kini terukir dari bibirnya. 'Ming, aku merindukanmu?' Kyuhyun berkata dalam hati.

"Vic, kau sudah pulang?," suara Ryeowook mengembalikan Kyuhyun ke dunia nyata.

Kyuhyun melihat sosok adik dari Ryeowook yang bernama Victoria itu melangkah masuk tanpa semangat lalu meletakkan tubuhnya di sebelah Kyuhyun. Gadis itu bahkan tak mempedulikan pertanyaan sang kakak sebelum masuk ke kamarnya untuk menidurkan buah hatinya. Kyuhyun hanya menatap dalam diam pada wajah cantik disampingnya. Victoria yang biasanya bersemangat dan nampak ceria kini wajahnya terlihat kusut.

"Kau kenapa?," tanya Kyuhyun kemudian. Kini dirinya berusaha mengakrabkan diri dengan adik Ryeowook itu.

"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang kesal saja oppa," Victoria memanyunkan bibirnya.

"Apa tadi kau kesulitan dalam mengerjakan soal-soal ujian?," tanya Kyuhyun lagi.

"Soal-soal ujiannya memang sulit, tapi bukan karena itu..," jawab Victoria masih dengan wajah kesal. "Apa aku boleh bercerita padamu?," tanya Victoria dengan sedikit ragu karena ia khawatir akan reaksi Kyuhyun. Meskipun kini Kyuhyun mulai bersikap baik, namun ia juga masih ingat sikap ketus dan sama sekali tidak ramah dari pemuda ini. Ia hanya takut Kyuhyun akan memarahinya lagi.

"Itu...terserah kau saja. Jika mau menceritakan, aku akan mendengarnya," jawaban dari Kyuhyun membuat Victoria sedikit lega.

"Huft...Aku sedang kesal dengan seseorang," Victoria mendengus kesal yang membuat Kyuhyun menaikkan sebelah alis. "Dulu sewaktu sekolah di Canada ada sunbae laki-laki yang menyatakan perasaan padaku, bahkan terus-menerus mengejarku meskipun berkali-kali aku menolaknya. Karena merasa terganggu dengan perilakunya itu, maka aku memutuskan untuk pindah ke Korea. Tapi ternyata laki-laki itu tidak menyerah begitu saja, tadi aku baru saja melihatnya muncul di gerbang sekolah dan terus saja mengekorku kemana saja. Makanya tadi aku tidak bisa langsung pulang karena aku tak ingin dia tahu dimana tempat tinggalku. Oppa,bagaimana ini?," gadis ini merengek bagaikan anak kecil.

"Hahahahaha...jadi ini yang membuatmu kesal?," Kyuhyun tertawa karena sikap konyol Victoria.

"Ya! Oppa! Kenapa kau malahan menertawaiku?," kesal Victoria.

"Aku pikir karena masalah apa. Bukankah itu bagus? Itu tandanya dia benar-benar menyukaimu," Kyuhyun masih berusaha menahan tawa.

"Haish...tapi aku tak menyukainya oppa... Aku jadi seperti punya stalker," protes Victoria.

"Apa dia sangat jelek, bodoh, berpenampilan culun, atau sifatnya buruk sehingga kau tak menyukainya?," tanya Kyuhyun.

"Sebenarnya dia cukup tampan walaupun menurutku lebih tampan dirimu," ucapan Victoria membuat kenarsisan Kyuhyun muncul. Pemuda itu menyeringai mendengar pujian gadis itu. "Ish, oppa...aku tahu apa yang kau pikirkan! Di Canada aku banyak bertemu dengan yang lebih tampan darimu..," cibir Victoria.

"Ah, sudahlah. Aku memang tampan. Tidak perlu protes lagi," ucap Kyuhyun dengan penuh percaya diri yang sukses mendapat tatapan tajam dari Victoria. "Sekarang apa lagi?"

"Dia pintar, kaya, penampilannya keren, banyak disukai gadis-gadis," lanjut Victoria lagi.

"Lalu kenapa kau tidak menyukainya? Bukankah dia tipe laki-laki sempurna?," ujar Kyuhyun dengan wajah serius.

"Memang...selain namanya yang aneh dan sulit diucapkan itu, tidak ada kekurangan dalam dirinya. Tapi aku tak menyukainya...," Victoria kembali cemberut.

"Memang siapa namanya?"

"Ehm...yang kuingat hanya Nickhun saja. Aku lupa nama lengkapnya karena panjang dan sulit diingat."

"Seperti bukan nama Korea," kata Kyuhyun.

"Dia memang bukan orang Korea tapi keturunan Thailand."

"Oh.. Apa yang membuatmu tak menyukainya?"

"Ini masalah perasaan oppa. Walau dia orang paling tampan atau kaya sedunia pun kalau perasaanku tidak tersentuh,bagaimana aku menerimanya?"

"Hmm..kau benar juga. Tapi kau kan belum pernah mencoba untuk membuka hatimu untuknya. Kenapa sudah bilang tidak mau?"

"Oppa..kenapa kau malah membelanya?," Victoria setengah berteriak karena kesal.

"Ish, berisik sekali!," Kyuhyun menatap galak pada gadis itu. "Bagaimana jika kau lakukan saja yang kukatakan tadi?," saran Kyuhyun.

"Maksudmu?," Victoria menyipitkan sepasang matanya untuk mencari kepastian.

"Kau terima saja dia menjadi kekasihmu. Berilah dia kesempatan. Dengan begitu dia tidak akan mengikutimu terus karena rasa penasarannya terbalas. Selama menjadi kekasihnya, kau bisa mencari tahu apa yang bisa membuatmu menyukainya... Jika sampai beberapa waktu kau tak juga menyukainya, maka katakan dengan baik-baik apa yang kau rasakan," kata Kyuhyun bijak. Bahkan ia sendiri juga merasa heran kenapa kalimat bijak itu bisa meluncur dari bibirnya dengan lancar.

'Oppa... Aku hanya menyukaimu,' kata Victoria dalam hati. Gadis itu hanya bisa menatap sedih kearah Kyuhyun. Sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa laki-laki yang disukainya adalah Kyuhyun, namun mendengar perkataan pemuda itu seolah bagaikan mendengar penolakan secara tidak langsung. Kyuhyun tidak memiliki rasa apapun padanya selain hubungan mereka sebagai saudara ipar. Lagipula tidak mungkin juga bagi mereka berdua untuk menjalin hubungan mengingat apa yang terjadi antara Kyuhyun dan Sungmin saja telah membuat Ryeowook dan Yesung menjadi murka.

"Apa kau tidak suka usulku ini? Kenapa menatapku seperti itu? Kalau tidak mau tidak apa-apa. Aku juga tidak memaksamu," ujar Kyuhyun sambil menepuk pelan pucuk kepala Victoria.

"Tidak apa-apa oppa. Aku pikir usulmu tidak buruk juga," Victoria kemudian memaksakan senyum dari bibirnya.

=o=

"Aku pulang...," seru suara bariton dari seorang laki-laki tampan bermata bulan sabit yang langsung disambut oleh sang istri yang berwajah manis dan bertubuh mungil.

"Yeobo, kau sudah datang?," ia segera menghampiri sang suami sambil menggendong si buah hati. "Hari ini kau tidak lembur?"

"Semua pekerjaan telah kuselesaikan hari ini karena aku ingin segera melihat pemuda kecil ini. Kau memang benar-benar tampan anakku...," tangan laki-laki bernama Yesung itu mencubit sayang pipi gembil si bayi berusia delapan bulan yang berada dalam gendongan istrinya itu.

"Oppa, kau hanya ingin bertemu dengannya saja, tidak denganku?," istrinya yang bernama Ryeowook itu pura-pura cemburu dengan memasang wajah cemberut.

"Ah, ternyata istriku ini cemburu dengan putranya sendiri eoh?," goda Yesung sambil mencolek dagu istrinya. "Tentu saja aku juga merindukanmu sayang," Yesung lalu mencium pipi tirus Ryeowook. "Dan aku juga merindukan jagoan kecil kita karena aku sayang kalian berdua," Yesung hendak mendaratkan ciuman di pipi si bayi namun dicegah oleh istrinya.

"Kau baru dari luar oppa. Tentu saja banyak kuman yang melekat di baju dan tubuhmu. Mandilah dulu supaya tubuhmu bersih baru kau boleh menyentuhnya...," ujar Ryeowook lembut.

"Hmm, kau benar. Aku juga tak ingin anak kita appa, sayang...," Yesung segera melesat ke kamar untuk membersihkan tubuh dan berganti pakaian.

"Vic, bantu aku menyiapkan makan malam...," pinta Ryeowook pada adiknya yang sedang menonton televisi di ruang tengah setelah meletakkan bayinya di kereta bayi.

"Baiklah eonni," Victoria menyanggupi lalu membantu Ryeowook menata peralatan di meja makan sementara Ryeowook sendiri sibuk menghangatkan masakan di dapur.

"Bisa kau panggilkan Kyu untuk makan malam?," pinta Ryeowook lagi pada Victoria.

Adik perempuan dari Ryeowook itu kemudian menuju ke lantai atas tempat kamar Kyuhyun berada. Tak lama kemudian Yesung tampak keluar dari kamar dan telah berganti dengan pakaian casual saja. Ia tak segera menuju meja makan tapi menghampiri bayinya yang berada di dalam kereta bayi. Yesung mengajaknya bercanda dengan membunyikan mainan bayi lalu menggelitikinya, membuat si bayi tertawa-tawa.

"Yeobo, ayo kita makan. Nanti saja bermainnya," seru istrinya.

"Apa Jong In sudah makan?," Yesung kemudian berdiri dan berjalan menuju meja makan.

"Tentu saja. Aku tadi sudah menyuapinya sebelum kau pulang," ujar Ryeowook.

"Baunya sangat harum. Sepertinya enak..," Yesung mengendus-endus bau masakan Ryeowook yang telah tersaji di hadapannya.

"Mana Kyu?," tanya Ryeowook ketika melihat Victoria turun sendirian tanpa Kyuhyun.

"Kyu oppa menyuruh kita makan saja dulu, nanti dia menyusul. Masih ada tugas kuliah yang harus diselesaikannya," kata Victoria.

Ryeowook menghela nafas panjang mendengarnya. Ia tahu Kyuhyun sengaja menghindari kakaknya, Yesung. Semenjak peristiwa hubungan Kyuhyun dengan Sungmin terungkap ditambah dengan insiden Kyuhyun yang tidak sengaja hampir mencelakainya, hubungan pemuda itu dengan Yesung sedikit kaku. Yesung mungkin sudah memaafkan perbuatan adiknya, tapi nampaknya Kyuhyun masih merasa segan pada kakaknya itu.

"Oppa, coba kau ajak Kyuhyun makan. Aku khawatir dia sakit kalau terlambat makan," pinta Ryeowook dengan lembut pada suaminya.

"Kenapa harus aku?," Yesung tampak kaget dengan permintaan sang istri.

"Dia kan adikmu. Siapa tahu kalau kau yang menyuruhnya, Kyuhyun mau menghentikan sebentar kegiatannya dan mau makan bersama kita," kata Ryeowook lagi.

Dengan langkah enggan akhirnya Yesung menuruti permintaan istrinya dan menuju ke kamar Kyuhyun di lantai atas. Sebenarnya dalam hati Yesung juga merasa canggung untuk berbicara berdua dengan adiknya. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena bagaimanapun kesalahan yang Kyuhyun perbuat, dirinya juga mempunyai andil disana. Laki-laki bermata sipit ini merasa takut jika di dalam hatinya Kyuhyun masih mempunyai ganjalan terhadapnya seperti yang selama ini dirasakan adik kesayangannya itu. Sesampainya di depan pintu kamar Kyuhyun, Yesung kemudian mengetuknya pelan. Tak lama kemudian pintu itu tebuka dan muncul sosok Kyuhyun yang nampak terkejut melihat Yesung berdiri di depan kamarnya.

"Ehm.. Ayo kita makan malam," ucap Yesung. Ia menatap Kyuhyun sekilas lalu segera berlalu dari hadapan adiknya.

Kyuhyun terpaku sesaat di depan pintu kamarnya berusaha mencerna perkataan sang kakak tadi. Senyuman tipis terukir dari wajah tampannya. Akhirnya ia pun menyetujui ajakan Yesung, dengan mengekor di belakang kakaknya menuju meja makan. Sementara itu Ryeowook tersenyum puas melihat suaminya berhasil mengajak Kyuhyun untuk makan malam bersama. Walaupun mungkin harus pelan-pelan dan membutuhkan waktu, Ryeowook berharap hubungan kakak-adik ini akan kembali seperti sediakala.

TBC

thanx buat semua yg udah RCL gak bisa saya sebutin satu-persatu tapi saya tetap membaca dan menghargai semua pendapat kalian ^^

mian karena gak puas di chapt 9&10 karena itu saya perbaiki.

chapt selanjutnya ditunggu aja ^^