Title : Second Chance
Author : Yukishima aka Daiichi
Genre : drama, romance, angst
Rating : T (lagi gak mood nulis NC :-P)

Chapter : 12

Fandom : Super Junior, GS
Pairing : Kyumin; Haehyuk, slight Yewook, Hanchul, Jungmin, Yoosu(mentioned)

Guest Stars : Kai EXO, Sehun EXO, Jungmo d'trax, Sunny SNSD, Victoria f(x), Park Yoochun, Kim Junsu (mentioned), Kwangmin&Youngmin Boyfriend (mentioned)

Disclaimer : Mereka bukan punya gw, tapi cerita milik gw

Warning : GS, mature content, buat yang dibawah umur tidak disarankan untuk membaca^^ Tapi saya kira aman untuk chapt ini hehehehe...
Note Author : Author kembali lagi di chapt yg baru. Maaf udah nunggu lama banget karena kesibukan saya *sok sibuk* Mulai chapt 9, isi cerita saya rombak. Sebagai bonus karena nunggu lama, saya update chapt 12 & 13 sekaligus ^^

No bash or flame please. Kritik, saran, protes boleh tapi dengan sopan karena saya tidak ingin terjadi peperangan *halah *

Ini hanya fic bukan kenyataan... Keep smile and peace ^_^

Gomawo yang udah pada kasih review. Maaf kalo author nggak bisa memenuhi satu2 permintaan readers. Author akan menulis secara proporsional dan realistis. Ambil hal-hal yang baik disini, jangan ditiru kalo yang buruk ^^ Sekali lagi, ini hanya fic, bukan kenyataan meskipun author menulisnya karena terinspirasi beberapa kejadian nyata dibumbui dengan imajinasi author yang gak jelas juga :D

=0=

Perpisahan dengan Sungmin dan ditolak cintanya oleh Kibum telah membuat Donghae belajar banyak hal dari semua itu. Ketika berpisah dengan Sungmin, Donghae mendapat pelajaran bahwa cinta saja tak cukup dalam menjalin sebuah hubungan. Donghae telah menyadari bahwa kepribadian Sungmin yang dewasa, lembut dan pengertian telah membuatnya terlena sehingga menganggap bahwa apapun yang dilakukannya Sungmin pasti akan menerima dan mengerti semuanya. Ia telah bersikap egois yang membuat Sungmin merasa lelah dan akhirnya hatinya berpaling. Melupakan bahwa bagaimanapun Sungmin sama seperti wanita lainnya yang butuh dihargai dan diperhatikan oleh pasangan hidupnya. Bukankah dalam pernikahan harus saling memberi dan menerima satu sama lain dengan seimbang tanpa berat sebelah di satu pihak saja?

Dari kisahnya bersama Kibum, Donghae telah mendapat pelajaran bahwa jangan terlarut dengan masa lalu. Hadapi kenyataan pahit dan lanjutkan hidup dengan baik. Ia tak menyadari perasaannya sendiri pada Kibum dan terfokus pada Sungmin saja. Secara tak sadar ia pun telah menyakiti perasaan Kibum selama bertahun-tahun. Donghae merasa telah menjadi laki-laki yang buruk karena tidak peka terhadap perasaan dua orang perempuan yang pernah menjadi seseorang istimewa di hatinya. Jika mencintai seseorang, maka jadilah seseorang yang paling membahagiakan orang yang kita cintai agar ia yakin bahwa hanya dirinyalah yang paling mencintainya dan paling bisa membahagiakannya, bukan orang lain. Menjadi jujur pada diri sendiri dan ungkapkanlah apa yang kita rasakan terhadapnya.

Disini, dari kejauhan Donghae menatap gadis manis yang ia kenal lagi 2 tahun ini sedang berjalan berdua di mall bersama seorang laki-laki tampan walaupun menurut Donghae tentu saja lebih tampan dirinya. Mereka nampak akrab, sesekali berbicara dalam jarak berdekatan dan kadang tertawa-tawa entah karena hal apa. Sungguh Donghae telah menjilat air ludahnya sendiri. Dulu ia berkata tak mungkin akan menyukai bahkan jatuh cinta dengan gadis itu. Dari apapun gadis bernama Eunhyuk tersebut tentu saja berbeda karena menurutnya jauh dari kesan cantik, imut dan seksi seperti Sungmin. Bahkan Sungmin jelas lebih bersikap dewasa. Sedangkan dari Kibum, tentu saja kecantikan Kibum melebihi gadis ini, begitu juga kelembutan dan ketenangan Kibum sama sekali tidak menempel pada sifat Eunhyuk. Apalagi jelas-jelas usia dirinya dan gadis itu jauh berbeda yaitu 10 tahun. Walaupun kini Eunhyuk berusia 18 tahun yang sudah tentu bukan di bawah umur lagi, namun tetap saja ia tak mau dianggap ajusshi mesum yang suka pada daun muda.

Eunhyuk tentu saja berbeda dengan Sungmin maupun Kibum. Ia polos, cengeng, kekanakan mungkin karena usianya yang masih terhitung remaja, keras kepala yang mungkin diturunkan dari sang eomma Heechul, namun juga memiliki hal yang menarik yang membuat perhatian Donghae teralihkan. Bahkan secara perlahan namun pasti, kini sosok remaja itu mulai menunjukkan tanda-tanda fisik perempuan dewasa yang mampu menarik perhatian laki-laki manapun. Meskipun masih ada sisi kepolosan dan kekanakan didalam dirinya. Kepolosannya yang walau kadang membuat Donghae dibuatnya pusing karena harus memberi pengertian, tapi juga membuatnya tersenyum bahkan tertawa sendiri ketika mengingatnya. Benar-benar lucu. Mampu membuat Donghae melupakan semua beban hatinya. Gadis itu selalu ceria sehingga mampu menyalurkan keceriaan pada sekelilingnya. Dia juga sensitif dan mempunyai kelembutan hati. Mudah tersentuh karena orang lain. Kadang kepolosan itu juga membuatnya dimanfaatkan orang lain. Donghae benar-benar tidak habis fikir, karena kadang teman-teman Eunhyuk memanfaatkan kebaikan gadis itu. Setelah mengetahuinya Eunhyuk akan menangis, namun kemudian tersenyum dan mengatakan setidaknya dirinya berguna bagi orang lain.

Sebenarnya apa yang selama ia katakan pada Eunhyuk lain di hati lain di mulut. Memang Eunhyuk berbeda dengan Sungmin dan Kibum namun dalam hati Donghae mengakui bahwa gadis remaja itu sangatlah manis. Wajahnya, senyumnya, dan juga setiap tingkah lakunya. Eunhyuk selalu berada didekatnya, mengikutinya tanpa lelah. Walaupun Donghae bersikap tidak ramah namun gadis remaja itu tidak membalas keketusan sikap Donghae. Ia tetap saja ceria dan tanpa beban. Hal itu tak urung berhasil menyentuh kebekuan hatinya. Mengikis sedikit demi sedikit luka yang pernah tertoreh disana.

Sebenarnya ada alasan Donghae untuk bersikap seperti itu. Ia merasa ada perbedaan antara mereka yang akan sulit untuk disatukan. Perbedaan usia yang jauh, status mereka. Donghae pernah menikah sedangkan Eunhyuk tentu saja belum berpengalaman dalam hal membina hubungan dengan lawan jenis apalagi menikah. Bagaimana penilaian orang pada mereka terutama Eunhyuk? Orangtua Eunhyuk yaitu Hangeng dan Heechul pasti juga ingin putri sulung kesayangan mereka mendapatkan pasangan hidup yang terbaik, bukan laki-laki seperti dirinya. Donghae tak ingin menyakiti orang yang disayanginya sekali lagi, ia juga tak ingin memupuk perasaan lebih dalam agar tak terluka seperti dulu.

Seberapa besar usaha untuk menyingkirkan perasaan di hatinya, namun ternyata tetap sulit untuk menahannya. Kini, ketika melihat Eunhyuk bersama laki-laki lain ada gemuruh panas yang bergejolak di dalam sana. Seharusnya Donghae merasa bahagia karena ia selalu menyuruh Eunhyuk untuk mencari saja kekasih yang seusia dengan dirinya dan kini gadis itu sepertinya telah mendapatkannya. Namun kenapa hatinya berkata lain? Kenapa sekarang tak bisa menerima hal ini?

"Hyukkie-ya..," tegur Donghae ketika telah berada di hadapan Eunhyuk dan teman laki-lakinya.

"Hae oppa? Kenapa kau ada disini?," wajah polos itu tampak terkejut ketika melihat Donghae ditambah dengan raut tegang dari laki-laki tampan tersebut. Bahkan Donghae tak membalas ketika Yoochun menyapanya dengan sopan.

"Apa ada yang melarang? Bukankah disini adalah tempat umum?," kata Donghae dengan ketus.

"I-iya juga..," Eunhyuk tersenyum gugup. Bagaimana pun ia merasa tak enak dengan teman laki-lakinya karena suasana tegang ini serta aura menyeramkan yang menyelimuti Donghae kini.

"Ehem.. Jalan-jalanmu sudah selesai? Kalau sudah ayo kuantar pulang," Donghae menatap tajam Eunhyuk.

"Ehm... Yoochun oppa, ada lagi yang kau butuhkan?," tanya Eunhyuk pada pemuda disampingnya.

"Ah, aku kira sudah selesai. Kau boleh pulang dulu Hyukkie," Yoochun tersenyum lembut pada Eunhyuk.

"Benarkah? Terimakasih oppa," Eunhyuk memamerkan gummy smile-nya.

"Seharusnya aku yang berterimakasih Eunhyukkie," ujar Yoochun sambil menepuk pelan pucuk kepala Eunhyuk.

"Baiklah. Annyeong Yoochun oppa," pamit Eunhyuk karena Donghae telah menautkan jemarinya pada Eunhyuk dan setengah menyeret pergi gadis ini.

"Annyeong Hyukkie-ya," Yoochun melambaikan tangan pada Eunhyuk yang telah menjauh.

"Ya. Hae oppa... Kenapa menarikku begini," Eunhyuk mengerucutkan bibir tanda protes ketika Donghae setengah memaksanya masuk ke dalam mobil.

"Bukankah Heechul noona melarangmu berpacaran? Tapi kenapa kau pergi dengan teman laki-lakimu? Malam hari pula. Apa kau menyembunyikannya dari eomma-mu huh?," tanya Donghae tanpa menoleh karena ia sedang menyetir.

"Siapa yang berpacaran?," ujar Eunhyuk kesal.

"Lalu siapa dia?"

"Yoochun oppa itu kekasih sahabatku Kim Junsu. Karena Junsu akan berulangtahun, Yoochun oppa meminta bantuanku untuk memilih kado dan menyiapkan kejutan untuk Junsu," Eunhyuk menjelaskan pada Donghae. "Aah..beruntungnya Junsu memiliki kekasih seromantis Yoochun oppa," Eunhyuk menghembuskan nafas panjang sambil memandang keluar jendela. Sementara Donghae yang mendengar perkataan Eunhyuk entah kenapa menjadi lega. Ternyata pemuda tadi bukan kekasih Eunhyuk.

"Ya.. Kau pikir aku tidak bisa romantis hah?," entah kenapa Donghae tidak terima jika dibandingkan dengan Yoochun.

"Uhm? Hae oppa..kau kan bukan kekasihku," sahut Eunhyuk dengan polos yang sukses membuat Donghae tertohok karena yang dikatakan Eunhyuk itu benar. "Lagipula kau bilang tidak tertarik padaku. Jadi mana mungkin aku jadi kekasihmu," lirih Eunhyuk.

"Ah..itu... haish...!," Donghae mengacak kesal rambutnya sendiri. Walaupun apa yang dikatakan Eunhyuk itu benar tapi terdengar seperti sindiran baginya.

"Oppa, apa kepalamu gatal? Kau belum keramas ya?," Eunhyuk masih memberi tatapan polos pada Donghae yang mengacak kesal dan menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak gatal. Membuat laki-laki yang terpaut 10 tahun dari Eunhyuk ini semakin berabah pusing. Ia bahkan tidak menjawab pertanyaan gadis itu dan memilih diam.

Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Donghae telah sampai di depan sebuah rumah besar bergaya perpaduan oriental-modern. Donghae membukakan pintu mobil untuk Eunhyuk lalu membimbingnya masuk ke halaman rumah tersebut setelah terlebih dahulu membunyikan bel dan ada seorang maid yang membukakan pintu gerbangnya.

"Appa...," Eunhyuk langsung menghambur ke pelukan seorang laki-laki paruh baya berwajah simpatik yang datang menyambut kedatangan putrinya.

"Putri appa sudah pulang eoh? Apa jalan-jalanmu menyenangkan?," tanya sang appa pada Eunhyuk.

"Menyenangkan appa," Eunhyuk bergelayut manja di lengan Hangeng.

"Apa kau membelikan appa oleh-oleh sayang?"

"Uhm..maaf appa. Aku lupa hehehe.. Tadi aku hanya membelikan mainan baru untuk Youngmin dan Kwangmin," Eunhyuk mengerjapkan sepasang matanya lucu.

"Huft..appa kau lupakan eoh?," Hangeng pura-pura memasang wajah sedih.

"Appa..," gadis itu merengut sedih melihat appa-nya terlihat kecewa.

"Hahaha..appa hanya bercanda eoh. Kamu memang anak appa yang paling manis," Hangeng mencubit sayang hidung Eunghyuk.

"Uh..appa," manja Eunhyuk. "Eomma dimana appa?"

"Sedang menidurkan kedua dongsaengmu," jawab Hangeng. Ia lalu mengalihkan pandangan pada Donghae.

"Annyeong Hangeng gege?," sapa Donghae saat Hangeng menoleh padanya.

"Oh, annyeong Donghae-ah. Kenapa bisa kau yang mengantar pulang Eunhyuk? Bukankah tadi ia pergi bersama temannya?," tanya Hangeng.

"Ah..tadi..."

"Tadi kebetulan kami bertemu appa dan Hae oppa menawarkan mengantarku pulang," potong Eunhyuk sebelum Donghae menjawab pertanyaan Hangeng.

"Oh...," Hangeng mengangguk mengerti. "Kau sudah mempersiapkan diri untuk keberangkatanmu ke Beijing Hyukkie-ya?"

"Su-sudah appa," jawab Eunhyuk gugup. Ia melirik kearah Donghae yang terlihat jelas terpancar keterkejutan di wajahnya.

"Beijing?," Donghae memberanikan diri menyela.

"Benar. Hyukkie akan melanjutkan kuliah di Beijing. Dua minggu lagi dia akan berangkat kesana," ujar Hangeng.

"Beijing?," rasa terkejut Donghae semakin berlipat ketika mendengar jawaban dari Hangeng appa dari Eunhyuk.

Laki-laki tampan ini lalu mengalihkan pandangan pada Eunhyuk. Mencoba mencari pertanyaan kenapa gadis itu tak mengatakan hal ini padanya padahal ia Eunhyuk sering menemuinya. Tapi gadis manis itu hanya tertunduk saja. Donghae menghembuskan nafas dengan berat. Ia sadar Eunhyuk tak sepenuhnya salah karena apa haknya menuntut keterusterangan gadis ini karena ia tak mempunyai hubungan apapun dengan putri sulung Hangeng tersebut. Mereka bukan pasangan kekasih dan selama ini Donghae bahkan tak pernah bersikap manis pada Eunhyuk. Apakah akhirnya ia harus patah hati lagi? Sungguh Donghae tak bisa membayangkan harus mengalaminya lagi bahkan sebelum mengungkapkan apa yang ia rasakan diam-diam selama ini pada gadis remaja yang telah berhasil mencuri hatinya tersebut. Donghae tak ingin lagi membiarkan cintanya pergi begitu saja dan melewatkan kesempatan untuk meraih kebahagiaan sekali lagi.

=o=

Selama beberapa hari Donghae memikirkan tentang perasaannya juga kepergian Eunhyuk nanti. Semula Donghae ingin menyerah saja dan membiarkan Eunhyuk pergi dan mendoakan semoga kelak mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Donghae merasa tidak pantas bersanding di sisi Eunhyuk yang masih belia ditambah dengan status dirinya yang pernah menikah. Apa yang akan dikatakan oleh Hangeng dan Heechul jika tahu ia berani mencintai putri kesayangan mereka bahkan bermaksud memilikinya sebagai pendamping hidup. Donghae seperti bukan menjadi dirinya sendiri ketika menyerah sebelum berperang. Kenapa hanya karena pernah gagal lantas menjadikannya seorang pengecut yang takut tersakiti?

Tapi ketika Donghae memikirkan hal lain. Bagaimana dirinya kelak jika harus hidup lagi tanpa memperjuangkan cintanya seperti yang sudah-sudah? Pasti kali ini akan lebih menyesal berkali lipat jika tidak mencobanya. Apapun hasilnya, ia harus menghadapi orang tua Eunhyuk untuk memperjuangkan cintanya sampai akhir. Dan disinilah sekarang Donghae berada. Berhadapan dengan Hangeng dan Heechul dengan detak jantung yang melebihi normal karena merasakan kegugupan yang hebat.

"Ehem..sebenarnya apa yang mau kau katakan pada kami Hae-ah? Dari tadi kami sudah menunggu lama dan kau tidak juga mengataka apapun," Heechul memulai pembicaraan karena telah 15 menit waktu berlalu tapi laki-laki tampan bernama Donghae itu tetap tak bergeming dari posisi duduknya dengan raut wajah tegang dan pucat.

"Chullie...," tegur Hangeng pada istrinya khawatir sikap Heechul malahan menakuti Donghae.

"Ehm, tidak apa-apa gege. Noona benar. Maaf membuat kalian menunggu," akhirnya Donghae berbicara walaupun dengan nada gemetar bagaikan para narapidana yang selama ini ditemuinya ketika di ruang sidang. Kali ini Donghae merasakannya apalagi tatapan galak dari wajah cantik Heechul. Padahal sebagai lawyer, dirinya selalu tak gentar berhadapan dengan jaksa manapun tapi kenapa di hadapan calon mertuanya kini nyalinya bisa menjadi ciut begini?

"Lanjutkan saja Hae-ah..," Hangeng berkata dengan lembut.

"I-iya gege.," Donghae tersenyum kecut. "Sebenarnya, aku akan pergi ke Amerika. Biro hukum yang dulu mengontrakku sebagai associate menawariku menjadi lawyer tetap disana," ia meremas celana panjangnya sendiri untuk meredam kegugupan. "Karena itu, aku ingin mengajak Hyukkie ke Amerika," kalimat itu meluncur dengan lancar dari bibir tipis Donghae.

"Apa?," ucap Hangeng dan Heechul bersamaan.

"Maksudnya, aku ingin menikahi Eunhyuk lalu membawanya ke Amerika. Nanti dia bisa sekalian melanjutkan kuliah disana dan aku yang akan membiayai semuanya," ujar Donghae menjelaskan pada kedua orang tua Eunhyuk tersebut. Ia sedikit bernafas lega karena akhirnya bisa juga mengatakannya walaupun entah nanti bagaimana tanggapan yang diberikan Hangeng dan Heechul padanya.

Kedua orangtua Eunhyuk itu saling melempar pandangan satu sama lain seolah hanya berdialog lewat tatapan mata mereka saja. Membiarkan Donghae menunggu harap-harap cemas dalam waktu cukup lama.

"Kau sadar dengan apa yang baru saja kau ucapkan?," Hangeng akhirnya memulai pembicaraan lagi. Walaupun nada bicaranya lembut namun aura kewibawaan terdengar disana.

"Tentu saja. Aku sadar sepenuhnya gege," Donghae menatap lurus kearah Hangeng. "Aku tahu, ini terdengar tidak tahu diri. Eunhyuk usianya jauh di bawahku. Dia masih belia, masa depannya masih panjang. Sedangkan aku adalah pria matang dalam usia ditambah lagi dengan statusku yang pernah menikah."

"Bagus kalau kau sadar," timpal Heechul dengan nada sinis.

"Chullie...," ujar Hangeng yang membuat Heechul terdiam.

"Aku mengerti kalau kalian menginginkan yang terbaik untuk putri kalian, bukan dengan laki-laki sepertiku. Walaupun begitu. Aku yakin bahwa hanya aku yang akan membahagiakan Hyukkie karena hanya aku laki-laki yang disukainya begitu juga sebaliknya dengan diriku," ujar Donghae dengan yakin.

"Baiklah. Kau boleh menikahinya," jawab Hangeng dengan tegas.

"Apa?," Donghae menatap tak percaya pada Hangeng. Laki-laki paruh baya yang masih terlihat tampan itu tersenyum tulus kepadanya. Lalu berganti mengalihkan pandangannya pada Heechul yang tadi memasang wajah sangar tapi entah kenapa bisa begitu cepat berubah menjadi lembut.

"Apa kau tak dengar jawaban gege tadi eoh? Kau boleh menikahi Hyukkie kami," timpal Heechul yang kini memberinya senyum keibuan.

"Benarkah? Jadi kalian menerimaku?," dada Donghae serasa bergemuruh hebat karena kelegaan yang teramat sangat juga kebahagiaan yang membuncah.

"Kau pikir kami akan sejahat itu menghalangi kebahagiaan putri kesayangan kami?," ucap Heechul walaupun dengan nada galak tapi namun malahan terdengar bagaikan nyanyian merdu di telinga Donghae saking bahagianya.

"Benar Hae-ah. Kami tahu bagaimana perasaan Hyukkie kami padamu. Asalkan dia bahagia, apapun akan kami lakukan untuknya. Aku mempercayakan putri kesayangan kami padamu, karena itu jangan kecewakan kami," sahut Hangeng dengan bijak.

"Tentu saja gege,noona. Aku akan berusaha membahagiakan Hyukkie dengan segala yang bisa kulakukan," senyum sumringah terpampang jelas di wajah tampan Donghae. "Tapi, bukankah kalian mengatakan kalau Hyukkie akan pergi ke Beijing?"

"Kau pikir itu sungguhan eoh? Seharusnya kau berterimakasih pada Bummie karena ini idenya," ujar Heechul masih dengan nada galak. "Hah, adikku yang cantik itu benar-benar menyayangi keponakannya. Walaupun dia jauh berada di Paris tapi masih memikirkan kebahagiaan Eunhyuk."

"Kibum?," tanya Donghae.

"Benar. Dia yang memberikan kami ide untuk membohongimu kalau Hyukkie akan melanjutkan kuliah ke Beijing. Kalau tidak begitu, kau tidak akan mempunyai keberanian untuk megungkapkan perasaanmu. Mana mungkin kami membiarkan putri kesayangan kami begitu menderita menunggu sesuatu yang tidak jelas begitu lama. Seandainya saja kau tidak melamarnya kami berencana akan benar-benar mengirimnya ke Beijing," Hangeng menjelaskan. Wajah tampan itu kini terlihat lega.

"Terimakasih gege, noona," Donghae bahkan langsung beranjakd ari tempat duduknya dan memberi hormat dengan bersujud di hadapan kedua calon mertuanya tersebut.

"Ya.. Hae-ah... Apa yang kau lakukan eoh? Kau membut kami terlihat sangat tua dengan bersujud seperti itu. Cepat bangun!," Heechul yang ingin selalu terlihat cantik dan muda itu tentu saja tidak terima jika dianggap tua oleh Donghae meskipun laki-laki di hadapannya tersebut memang calon mertuanya, tapi bukankah mereka hanya terpaut 8 tahun saja?

"Biarkan aku melakukannya noona. Walaupun kau sudah kuanggap seperti noona-ku sendiri, tapi kau dan gege adalah calon mertuaku," Donghae melanjutkan kegiatan memberi hormatnya tak mempedulikan Heechul yang bersikap canggung dengan rona merah muda di kedua pipi putihnya sementara Hangeng hanya tersenyum berwibawa menanggapinya. Setelah selesai, Donghae lalu kembali ke tempat duduk semula.

"Hae-ah. Kami memang sudah menyetujui pernikahan kalian. Tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi," ujar Hangeng dengan tenang.

"Apa itu gege?," tanya Donghae dengan cemas.

"Kau harus menikahi Hyukkie secepatnya. Terserah kapan saja tapi paling lambat satu bulan dari sekarang. Apa kau sanggup melakukannya?," syarat yang diajukan Hangeng membuat Donghae melotot lebar dan bibirnya terbuka karena terkejut.

"Gege, noona. Kalian memang sudah menyetujuiku menikahi Hyukkie. Tapi bagaimana dengan Hyukkie sendiri? Dia sedang pergi dan kalian mengambil keputusan tanpa persetujuannya. Sekarang kalian mengajukan syarat padaku untuk menikahinya secepat itu," Donghae masih tidak percaya dengan apa yang tadi didengarnya.

"Tidak masalah karena kami juga sudah tahu jawaban Hyukkie. Sekarang tinggal dirimu saja. Apa kau sanggup memenuhi syarat kami. Jika tidak sanggup tidak apa-apa. Kami akan mengirim Hyukkie ke Beijing," walaupun cara bicara Hangeng terkesan lembut namun terdengar penuh intimidasi disana. Ia menatap lurus kearah Donghae.

"Ahahahaha, itu..," Donghae tertawa canggung. "Tentu saja aku tidak keberatan. Tapi karena pernikahan perlu persiapan jadi aku bisa melakukannya satu bulan lagi."

"Bagus. Kau tidak perlu repot-repot melakukannya karena kami yang akan mengurus semuanya. Bukankah begitu Chullie?," Hangeng tersenyum puas lalu menoleh kearah Heechul yang disambut dengan anggukan oleh istrinya. "Berarti kita laksanakan saja minggu depan."

"Apa?"

=o=

Entah mengapa akhir-akhir ini kondisi Jungmo semakin menurun. Sering merasakan pusing yang teramat sangat membuatnya merasa mual dan hampir terjatuh. Tubuhnya pun mulai sering merasa lemas. Bahkan untuk bekerja sedikit saja bisa menimbulkan rasa letih yang teramat hebat seperti habis melakukan pekerjaan berat seharian. Bercak-bercak biru keunguan mulai timbul di tubuhnya pertanda terjadi penggumpalan darah pada pembuluhnya. Kadang cairan tubuh berwarna merah atau darah keluar dari lubang hidungnya jika keletihan itu melanda. Namun Jungmo bertekad untuk tetap bertahan hidup selama mungkin karena mengkhawatirkan Sungmin dan Sunny jika ia pergi secepat itu.

Tak peduli berapa banyak obat-obatan pahit dengan berbagai macam ukuran dan dosis yang harus dikonsumsi untuk menghambat sel-sel kankernya. Tak peduli betapa sakitnya saat jarum tajam suntikan menembus tubuhnya yang mulai mengurus melalui kulit tubuhnya. Tak peduli penderitaan hebat yang dilaluinya setelah menjalani kemoterapi yang membuat rasa pusing semakin melanda bertubi-tubi, rasa mual yang hebat hingga tak dapat lagi merasakan semua makanan yang ditelannya bahkan lebih sering dimuntahkan kembali. Kulit tubuhnya mulai tampak kusam dan kering karena semua cairan kimia yang memasuki tubuhnya. Bahkan kini ada tanda-tanda kerontokan rambut yang mulai ia alamiwalaupun belum terlalu parah tapi nantinya pasti akan seperti itu di bulan-bulan mendatang.

"Oppa..," Sungmin langsung menopang tubuh Jungmo yang terhuyung-huyung hendak jatuh ketika mereka menata barang-barang ke dalam rak pajangan. "Oppa? Apa kau sakit?," Sungmin menatap khawatir wajah Jungmo yang terlihat pucat. Ia membantu Jungmo duduk di atas kursi dekat dengan meja kasir.

"Aku baik-baik saja Sungmin. Mungkin karena kecapekan dan tadi malam aku kurang tidur," dusta Jungmo. Ia belum juga mengatakan pada Sungmin kondisi tubuhnya yang sebenarnya.

"Tapi wajahmu pucat. Tubuhmu juga demam. Ayo kita ke dokter saja," Sungmin sedikit memaksa karena sudah beberapa kali dirinya melihat Jungmo seperti ini.

"Tidak. Aku hanya butuh istirahat saja," tolak Jungmo sambil menahan tangan Sungmin agar tidak pergi.

"Oppa... Bagaimana bisa kau mengatakan tidak apa-apa. Sudah beberapa kali aku melihatmu seperti ini. Kau harus ke dokter dan memeriksakan tubuhmu disana. Jika ada sesuatu terjadi dokter bisa segera mengobatimu. Ayolah.. Kumohon," pinta Sungmin sekali lagi namun hanya disambut gelengan kepala dari Jungmo.

"Min, sudah kukatakan aku baik-baik saja. Aku mau pulang sebentar untuk beristirahat. Tidak apa-apa bukan jika kau kutinggalkan sendiri?," ujar Jungmo.

"Baiklah. Kau kembali dan beristirahat saja oppa. Aku baik-baik saja. Lagipula sebentar lagi shift-ku berakhir," Sungmin tersenyum tipis.

"Terimakasih," kata Jungmo pelan. Ia kemudian berdiri dan melangkah dengan hati-hati keluar dari minimarket.

"Jungmo oppa..," walaupun sosok Jungmo telah menghilang dibalik pintu namun Sungmin tetap menatap kepergiannya dengan cemas.

"Eomma...," sesosok gadis kecil berwajah manis tiba-tiba memeluk kakinya.

"Sunny-ah. Sudah selesai menggambarnya?," Sungmin membungkukkan badan untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan putrinya.

"Lihat eomma!," gadis kecil itu menyerahkan sebuah buku gambar besar pada Sungmin.

"Wah, putri eomma pintar sekali menggambar. Bagus sekali sayang," puji Sungmin sambil membelai lembut kepala Sunny.

"Sonsae menyuruhku menggambar eomma dan appa," ucap Sunny dengan nada cadel khas anak kecil. Pada buku gambar itu terdapat lukisan crayon seorang anak kecil diapit dua orang dewasa. "Ini eomma," Sunny menunjuk gambar perempuan dengan rambut panjang dan memakai rok selutut. " Ini Sunny," ia menunjuk gambar anak perempuan kecil berambut pendek sebahu memakai rok balon. " Tapi eomma, Sunny tidak tahu appa seperti apa. Sunny kan tidak pernah melihat wajahnya jadi Sunny tidak bisa menggambar wajah appa," kata Sunny dengan polos. Gadis kecil ini menunjuk gambar seorang laki-laki yang tidak ada wajahnya.

"Sunny...," Sungmin menatap sendu kepolosan yang ditunjukkan gadis kecilnya yang belum tahu apa-apa ini. Betapa dirinya merasa sangat bersalah karena seberapa besar kasih sayang yang ia berikan pada Sunny, tetap saja tidak akan lengkap karena putrinya tidak pernah mengenal sosok sang appa. Sungguh Sungmin menyesali kesalahannya di masa lalu yang membuat putrinya yang masih kecil harus menanggung penderitaan seperti ini. Bagaimana jika Sunny kelak dewasa? Rasa takut bahwa kelak Sunny akan membencinya mulai merayapi hatinya.

"Eomma," Sunny menarik-narik ujung rok Sungmin.

"Ya sayang?," Sungmin menatap lembut putrinya.

"Bagaimana wajah appa?," tanyanya lagi masih dengan wajah polos.

"Nanti eomma bantu menggambar sayang. Sekarang Sunny bermain dulu di belakang. Eomma mau bekerja," ujar Sungmin dengan memaksakan senyum getirnya. 'Kyu..aku harus bagaimana?,' tanya Sungmin dalam hati yang tentu saja tidak akan menemukan jawaban disana.

=o=

Pemuda tampan berambut ikal itu melangkah masuk dengan penuh semangat. Senyum cerah terkembang dari wajah tampannya. Hari ini adalah ulang tahun keponakannya. Tentu saja ia ingin memberikan sesuatu yang istimewa untuk keponakan tersayangnya itu.

"Kai... Hyung pulang..," suara bass laki-laki itu langsung menggema begitu ia membuka pintu rumah kakaknya yang juga ditempatinya.

Tak lama setelah itu sesosok bocah laki-laki kecil berlarian menuju ke arahnya.

"Kai, jangan berlarian!," lengkingan suara perempuan melarangnya berlari. "Kim Jong In..," serunya lagi. Tetapi dasar anak-anak, tentu saja teguran itu hanya dianggap angin lalu saja olehnya. Perempuan cantik bertubuh mungil itu hanya menggelengkan kepala dengan kebandelan putra pertamanya.

" Kyu ajusshi!," teriak bocah laki-laki itu sambil menghambur ke pelukan si laki-laki dewasa.

"Ho..anak nakal ini sekarang bertambah berat eoh?," godanya pada sang keponakan setelah menurunkan bocah itu dari gendongannya. Ia kemudian berjongkok untuk mensejajarkan dengan tinggi badan sang keponakan.

"Kai kan sudah besar ajusshi," sahut keponakannya dengan suara cadel khas anak kecil.

"Kenapa memanggil ajusshi? Aku sudah meminta memanggilku hyung bukan? Apa aku terlihat setua itu?," Kyuhyun pura-pura sedih dengan memanyunkan bibirnya.

"Appa eomma bilang begitu. Kyu ajusshi bukan hyung-nya Kai tapi ajusshi-nya Kai. Kyu ajusshi juga terlihat lebih tua dari appa," celoteh Kai dengan wajah polosnya yang membuat kerutan di dahi Kyuhyun semakin kentara karena perkataan keponakan kecilnya yang terlalu jujur itu. Sejak kapan keponakannya ini jadi tertular keevilannya?

"Kai tidak sayang hyung eoh?," rengek Kyuhyun pada Kai kecil.

"Kai sayang ajusshi kok," bela Kai.

"Kalau begitu panggil aku hyung," mohon Kyuhyun dengan memelas.

"Kyu ajusshi!," bocah itu tetap pada pendiriannya.

"Kalau begitu, nanti tidak ada kado ulangtahun buat Kai," ancam Kyuhyun yang sebenarnya hanya untuk menggoda keponakannya saja.

"Hiks..ajusshi jahat. Kyu ajusshi tidak sayang Kai," wajah bocah itu mulai merengut dan sepasang matanya telah berkaca-kaca pertanda akan mulai menangis. Kyuhyun yang melihatnya menjadi tidak tega.

"H-Hei..siapa bilang tidak sayang? Baiklah, Kai boleh memanggil ajusshi asal Kai tidak menangis ok...," bujuk Kyuhyun.

"Yee..ajusshi memang paling baik!," senyuman lebar langsung mengembang di bibir bocah kecil itu. "Kyu ajusshi, mana kado buat Kai?."

"Nanti kadonya akan ajusshi berikan. Sekarang ajusshi mau mandi dan ganti baju dulu."

"Janji?," Kai mengulurkan kelingking kanannya.

"Janji," Kyuhyun mengulurkan juga kelingking kanannya lalu mengaitkan dengan kelingking mungil keponakannya.

"Kai..biarkan Kyu ajusshi mandi dulu. Kau juga harus mandi sayang. Sebentar lagi teman-temanmu datang."

"Baik eomma," panggilan dari sang ibu membuatnya menoleh dan langsung berlari meninggalkan Kyuhyun menuju perempuan yang telah melahirkannya itu.

=o=

Kyuhyun meletakkan tubuhnya diatas sebuah bangku panjang yang terletak di taman belakang rumah sang kakak sambil memainkan PSPnya. Ketika tertera tulisan game over di layar PSP itu, ia kemudian mengalihkan pandangannya kearah kemeriahan yang tak jauh dari tempatnya duduk.

Sore itu Yesung dan Ryeowook mengadakan pesta kecil untuk merayakan ulang tahun putra pertama mereka. Halaman belakang pasangan itu kini tampak meriah dengan hiasan balon warna-warni dan dipenuhi tamu-tamu kecil yang usianya hampir sebaya dengan usia Kai yang telah menginjak 5 tahun. Bahkan Victoria nampak sedikit kerepotan membantu sang kakak Ryeowook melayani teman-teman Kai yang tentu saja datang bersama orangtuanya. Kyuhyun sedikit canggung berbaur dengan mereka. Walaupun ia menyayangi keponakannya, tapi Kyuhyun kurang begitu luwes jika harus berhadapan dengan makhluk-makhluk kecil itu. Bukan karena tidak suka, hanya merasa bingung harus bagaimana memperlakukan anak-anak. Satu-satunya yang bisa akrab dengannya hanya sang keponakan.

Wajah tampannya sesekali mengulas senyum ketika melihat tingkah polah lucu dari tamu-tamu kecil keponakannya. Sepasang matanya kemudian terhenti pada sosok perempuan cantik bertubuh mungil yang nampak kesusahan dengan perutnya yang mulai kelihatan sedikit membesar walau belum kentara sekali. Benar. Sang kakak ipar bernama Ryeowook itu kini mengandung anak ketiga buah cintanya dengan Yesung. Beberapa ke depan Kyuhyun akan memiliki keponakan lagi. Dulu, Kyuhyun diam-diam menaruh hati pada Ryeowook selama bertahun-tahun. Hingga kini pun sosok perempuan itu masih memiliki tempat istimewa di hatinya walaupun tentu saja sedikit demi sedikit perasaan itu berubah menjadi rasa sayang adik kepada kakak, tapi Ryeowook tetaplah istimewa. Kelembutan dan kasih sayangnya pada Kyuhyun membuat pemuda tampan itu sedikit demi sedikit ingin merubah dirinya menjadi lebih baik bertanggungjawab. Ryeowook tidak pernah mengungkit kesalahan yang pernah Kyuhyun lakukan, sebaliknya malah memberi dukungan padanya. Ryeowook jugalah yang menjembatani kerenggangan hubungannya dengan Yesung. Kyuhyun tidak menyalahkan kemarahan sang kakak yang tentu saja sangat kecewa dengan perbuatan yang telah ia lakukan bersama Sungmin dulu.

Pemuda tampan itu masih betah menatap lembut sosok Ryeowook yang meskipun sedang hamil muda namun tetap tersenyum cerah pada sang buah hati yang bergelayut manja padanya. Tampaknya Kai sedang merajuk entah karena apa dan Ryeowook berusaha membujuknya.

"Kenapa kau hanya duduk disini?," suara bariton seorang laki-laki membuat Kyuhyun menoleh.

"Hyung," Kyuhyun hanya membalas dengan tersenyum canggung. Yesung duduk disampingnya dengan memangku putra keduanya yang berusia 2 tahun bernama Sehun. Adik dari Kai itu tampak tertidur pulas di pangkuan sang ayah.

Senyum tipis terukir dari bibir Kyuhyun saat menatap keponakan keduanya. Tapi menjadi kaku kembali saat menatap Yesung. Walaupun sudah lama Yesung tidak marah lagi padanya, tapi entah mengapa Kyuhyun masih merasa canggung jika harus berhadapan langsung apalagi hanya berdua saja dengan kakaknya itu. Ia kemudian mengalihkan pandangannya dari Yesung.

"Kau tidak kesana?," tanya Yesung yang kini duduk di sebelah Kyuhyun.

"Tidak, aku disini saja hyung," sahut Kyuhyun dengan nada kaku.

"Apa kau masih takut padaku Kyu?," Yesung menatap tajam Kyuhyun yang membuat sang adik menoleh karena merasa ditatap dengan intens.

"Hyung, aku..."

"Kau tidak perlu bersikap secanggung itu padaku. Lagipula kita ini saudara kandung. Tidak enak jika seperti itu. Aku senang karena sifatmu kini lebih dewasa. Tapi aku juga merindukan Kyuhyun yang manja dan suka menjahiliku," ujar Yesung masih tetap menatap intens Kyuhyun.

"Terimakasih hyung," Kyuhyun memberi senyuman manis pada Yesung.

"Dasar anak nakal," Yesung balas tersenyum sambil mengacak pelan rambut adiknya.

"Hyung, kau merusak tatanan rambutku. Nanti ketampananku bisa berkurang," Kyuhyun berkata dengan nada merajuk seperti anak kecil. Tampaknya Kyuhyun mulai ketularan sikap manja keponakannya.

"Ish, walaupun kau tampan tetap aku yang lebih tampan darimu," Yesung tak kalah menyombongkan diri.

"Apa? Siapa yang bilang begitu? Pasti dia sakit mata saat melihatmu," Kyuhyun tidak terima.

"Ya! Yang kau sebut sakit mata itu kakak iparmu Wookie tahu!," seru Yesung.

"Tentu saja karena dia istrimu makanya dia menganggapmu yang paling tampan. Ck, kasihan sekali Wookie noona yang secantik itu mendapatkan suami berkepala besar sepertimu hyung," Kyuhyun mengeluarkan seringai setannya.

"Dasar adik kurangajar...," Yesung menjewer pelan telinga Kyuhyun.

"Ya, hyung..sakit tahu! Bagaimana jika telingaku ini jadi panjang sebelah? Kau mau ketampanan adikmu ini berkurang? ," protes Kyuhyun sambil mengusap-usap telinganya yang dijewer Yesung.

"Maaf, aku kan hanya menjewermu pelan. Dasar manja," Yesung mengacak kembali rambut Kyuhyun.

"Ish, aku adukan nanti pada Wookie noona," Kyuhyun memanyunkan bibirnya.

"Adukan saja. Sebenarnya kau ini adikku atau Wookie hah? Kenapa kau malahan lebih baik kepadanya daripada denganku," kali ini gantiYesung yang merajuk. Sungguh tidak pantas dilakukan oleh laki-laki dewasa yang telah berputra dua bahkan sebentar lagi menjadi tiga.

"Jangan membuatku merinding dengan tingkah manjamu itu hyung. Ingat, berapa umurmu sekarang? Sebentar lagi anakmu sudah hampir tiga," tegur Kyuhyun dengan teganya.

"Ish, tidak perlu kau ingatkan aku sudah tahu," Yesung menatap galak adiknya yang hanya disambut cengiran khas dari Kyuhyun. "Oiya, bagaimana kuliahmu?"

"Cukup lancar. Tahun depan aku sudah bisa menjadi dokter spesialis penyakit dalam hyung," ujar Kyuhyun.

"Ck, kau memang hebat. Tidak kukira kau bisa menyelesaikan pendidikanmu lebih cepat dari yang lain," puji Yesung pada Kyuhyun.

"Aku memang hebat hyung. Sudah tampan jenius pula. Kemana saja ku selama ini eoh?," bangga Kyuhyun penuh percaya diri.

"Hmm..iya. Aku percaya..," Yesung tersenyum tipis. "Jadilah dokter yang baik karena itu pekerjaan mulia," nasihat Yesung apda adiknya.

"Tentu saja. Ini sudah tugasku hyung," jawab Kyuhyun mantap. Pandangan mata Kyuhyun kembali pada sosok Ryeowook atau lebih tepatnya pada perut kakak iparnya yang belum terlihat besar, sementara pikirannya teralih pada hal yang lain. 'Ming, apa kau baik-baik saja? Sekarang kau ada dimana?,' Kyuhyun bertanya sendiri dalam hatinya. Selama dua tahun ini semenjak Kibum memberitahu tentang Sungmin, diam-diam Kyuhyun juga berusaha mencari informasi tentang Sungmin namun tak satupun petunjuk yang memberitahu tentang sosok itu. Ia telah berusaha memohon pada Kibum untuk memberitahu dimana keberadaan Sungmin, namun Kibum bersikukuh tidak mau memberitahukannya padahal Kyuhyun merasa bahwa hanya Kibum-lah yang tahu dimana Sungmin sekarang.

TBC

Ada yang protes kenapa saya harus memakai nama Park Bom, Victoria dan Sunny karena membacanya jadi gak enak. Ada juga yg bertanya apakah saya penggemar mereka?

Jawabannya adalah, saya bukan fans girlband manapun. Jujur saya kurang suka GB karena saya bukan tipe cewek yg feminim ^^. Tapi saya bukanlah antis manapun. Ok saya tidak suka tapi bukan berarti saya membenci atau ngebash mereka kecuali ada sesuatu yang membuat saya benar2 gak suka misalnya mereka plagiator atau sifat personality-nya yang buruk. Menurut saya gak ada alasan untuk membenci sesuatu yang gak jelas. Lagipula ada juga beberapa lagu dari GB yang saya sukai kok. Yang menjadi fans mereka juga banyak bukan ^^

Kalo saya memakai nama mereka, itu hanya meminjam nama aja untuk mempermudah membayangkan saja gimana sosok orang itu. Bisa saja sih saya ganti pake nama OC.

Hehehehe...pendapat orang memang beda2, tapi begitulah pendapat saya. Maaf kalo ada yg tersinggung. Mumpung masih suasana lebaran, maaf lahir batin ya...^^

Thanx buat readers yg udah setia baca, nunggu& kasih komen. Saya sudah membaca satu2 komen kalian.

Hontou ni arigato gozaimasu..^_^ *deep bow*