"Eh, ke ORB?" pekik Cagalli saat menerima telepon dari Lacus. "Aku kira latihan gabungannya baru selesai seminggu lagi."
"Ya, ternyata banyak pasukan yang masih kelelahan. Maka dari itu, latihan gabungannya festival Matsuri selesai."
Cagalli terdiam sejenak. Jadi itu artinya… Dia juga kembali? "Ah, kalau memang itu keputusanmu, silahkan. ORB akan dengan senang hati menerima kalian sebagai tamu kehormatan."
"Terima kasih Cagalli, sekitar sepuluh menit lagi Eternal dan Archangel akan tiba di ORB. Kau mau menyambut kedatangan kami?" tanya Lacus.
"EH! Sepuluh menit lagi?" Cagalli panik "Tentu aku akan menyambut kedatangan kalian!" Cagalli langsung menutup telepon, dan lari menuju pelabuhan.
"Kenapa kau menyuruhnya untuk menyambut kita?" tanya Mu. Lacus hanya tersenyum.
Akhirnya Eternal dan Archangel tiba di ORB. Beberapa kru terlihat sedikit bingung karena perubahan rencana yang mendadak ini, tapi ada juga yang senang karena mereka tidak harus melewati festival Matsuri di atas kapal, jauh dari rumah dan keluarga.
Cagalli dengan baju dinasnya menunggu hingga semua turun dari kapal "Kira, Lacus!" teriaknya ketika kedua temannya itu turun dari Eternal.
Di belakang mereka ada Shinn dan Lunamaria, juga Meyrin, dan tentu saja Athrun. Raut wajah Athrun terlihat beda. Sedikit lega, tapi ada rasa bersalah tersirat di matanya.
"Kau, apa seorang pemimpin punya waktu untuk menyambut kedatangan kami?" tanya Shinn sedikit sinis. Hubungan Shinn dengan Cagalli memang belum membaik, tapi paling tidak Shinn sudah bisa menerima segalanya, dan tidak lagi menyalahkan pihak ORB atas kejadian yang telah merenggut nyawa keluarganya itu.
"Tentu saja, aku selalu punya waktu untuk kalian," Cagalli tersenyum "Welcome home everyone."
"Ah, maaf Cagalli-sama," si wanita berkata mata membisikkan sesuatu kepada Cagalli. Wajah Cagalli menjadi murung setelah wanita berkaca mata itu selesai berbicara. "Maaf, tadinya aku ingin menemani kalian lebih lama lagi, tapi aku masih ada urusan."
"Selamat bersenang-senang di ORB. Make yourself at home," ucap Cagalli sebelum pergi. Cagalli sempat melirik Athrun yang berdiri di belakang Shinn, berdampingan dengan Meyrin. Tidak ada yang terucap dari bibir keduanya, bahkan tidak ada seuntai senyum yang terbentuk.
Saat mata keduanya bertemu, tanpa disadari satu kalimat terucap dalam hati mereka. Bersamaan…
I'm glad you ok…
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Ketika waktu makan malam tiba, Cagalli hanya sempat menyapa yang lain dikarenakan masih sibuk. Semua terlihat menikmati masakan koki-koki terbaik yang ada di ORB. Semua kecuali Athrun. Pikirannya melayang entah kemana, daging panggang yang ada di atas piringnya sudah dingin tapi belum tersentuh sama sekali.
"Athrun, kau baik-baik saja?" tanya Meyrin dengan risau.
Athrun menatap Meyrin, gadis berkepang itu memiringkan kepalanya, Athrun hanya tersenyum "Sumimasen, tapi aku sedang tidak enak badan," ia bangkit dari kursinya "Aku sudah selesai makannya," ucap Athrun sebelum meninggalkan ruang makan.
"Dia bahkan tidak menyentuh makanannya," gumam Meyrin setelah Athrun pergi.
"Ah, mungkin dia tidak suka daging panggang," ucap Mu sambil mengambil jatah makanan Athrun.
"Mu, yang benar saja!" Murrue memukul punggung tangan Mu "Kau tadi baru mengambil jatah milikku, dan sekarang kau mengambil milik Athrun?"
"Aww, ayolah. Tidak baik menyisakan makanan, iya kan Lacus?" Mu menatap Lacus, meminta dukungannya. Lacus hanya tersenyum. Makan malam terus berlanjut meski tanpa kehadiran Athrun dan Cagalli di antara mereka.
Jarum jam sudah menunjuk angka dua belas, suasana kediaman Athha sudah sepi. Cagalli baru selesai memeriksa berkas-berkas laporan yang ia terima saat makan malam. Ia menarik nafas dalam-dalam, disusul perutnya yang berbunyi karena belum di isi apa-apa semenjak siang tadi.
"Ugh, iya, aku belum makan apa-apa dari siang tadi," Cagalli bergumam sambil mengelus-elus perutnya yang kembali berbunyi.
Cagalli pun memutuskan untuk pergi ke ruang makan. Apa aku harus membangunkan salah satu koki di sini? Ah, jangan. Lebih baik aku makan roti saja. Cagalli terus memikirkan kira-kira apa yang bisa ia santap tengah malam begini.
Langkahnya terhenti ketika melihat langit malam yang dihiasi bintang, pantulan cahaya rembulan pada permukaan laut, tubuhnya pun seperti ditarik untuk melangkah ke balkon. Akhirnya Cagalli sudah berdiri di balkon, menikmati hembusan angin malam dan pemandangan laut di malam hari.
"Kau bisa sakit bila berada di luar pada tengah malam seperti ini," suara seorang pria terdengar dari belakang Cagalli. Ia pun memutar tubuhnya, dan melihat Athrun berdiri di sana, dengan kemeja berwarna putih.
"A.. Athrun...," sapa Cagalli gugup. "Kau, kenapa belum tidur?"
"Aku ingin menikmati keindahan langit malam," jawab Athrun sambil berjalan mendekati Cagalli. Meski kedengarannya romantis, sebetulnya itu hanya sebuah kebohongan. Daritadi Athrun menunggu hingga Cagalli keluar dari ruang kerjanya. Berharap ia bisa bercakap-cakap dengan wanita itu, meski hanya membicarakan langit malam.
Kesunyian menyergap keduanya. Tidak ada kata-kata keluar baik dari Athrun maupun Cagalli. Cagalli yang menyenderkan punggungnya ke balkon akhirnya tidak tahan dengan kesunyian ini, ia pun membuka mulut "Welcome home, Athrun. Aku tahu, memang sedikit terlambat," ia pun menatap Athrun.
"Bukannya kau sudah mengucapkan itu tadi siang?"
Cagalli menggeleng "Rasanya ada yang kurang bila aku belum mengucapkannya langsung kepadamu."
Sadar akan apa yang baru saja terucap, wajah Cagalli langsung memerah dan dengan cepat ia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya dan berusaha menyembunyikan wajahnya dari Athrun.
"Terima kasih, Cagalli," balas Athrun, tersenyum. "Dua minggu lagi akan ada Festival Matsuri."
"Ah iya," Cagalli jadi teringat dengan festival yang selalu diadakan tepat pada pertengahan musim panas itu.
"Kau akan ke sana?"
"Kalau aku tidak sibuk, aku akan menyempatkan waktu untuk pergi ke festival itu," jawab Cagalli tanpa menatap wajah lawan bicaranya. "Ngomong-ngomong, Lacus cerita kepadaku alasan kenapa latihan gabungan ini diundur."
Athrun terkejut, apalagi saat melihat wajah Cagalli yang marah. "Kenapa kau melakukan hal seperti itu, Athrun?"
"Aku melakukan hal itu, ada alasannya," jawab Athrun dengan serius. "Kau."
Jantung Cagalli seperti berhenti sejenak, perasaan aneh mulai bergejolak di dalam hatinya "Ma... Maksudnya?" Tapi, mengapa? Mengapa kau menghancurkan..."
"Bukankah semuanya sudah jelas!" Athrun memotong kalimat Cagalli "Karena aku ingin lebih cepat pulang... Dan melihatmu...," ucapnya dengan wajah memerah.
Bila wajah Athrun sudah memerah, maka wajah Cagalli lebih merah lagi. Ia seperti buah semangka, sangat merah. Dengan bibir bergetar, Cagalli mencoba untuk berkata "Apa pun alasannya, tindakanmu itu salah, Athrun.," wanita berambut orange itu meninggalkan Athrun.
"Apa kau masih mencintaiku?" tanya Athrun disela hembusan angin yang semakin kencang. Cagalli terdiam, ia belum bereaksi apa-apa "Aku hanya ingin mendengar jawabanmu."
Sambil menutup matanya, yang ditanya kembali berjalan. Athrun pun berkata "Kenapa kau tidak bisa jujur kepada diri sendiri, Cagalli? Apakah kau memang tidak mencintaiku lagi?"
"Maaf, aku, aku tidak bisa menjawabnya sekarang," ujar Cagalli yang sempat melirik ke belakang. Ia pun kembali berjalan ke dalam.
Setelah sosok Cagalli tidak terlihat lagi, Athrun meninju dinding balkon dengan tangan kanannya "Kenapa, kenapa kau tidak mau jujur, Cagalli...?"
