"Kau. Aku. Borgol." River Song memamerkan borgolnya. Dengan aneh, wajahnya menunjukkan suka cita. "Haruskah berakhir seperti ini?"

Doctor menggigit bibirnya sejenak. Pikirannya berlari kembali ke abad ke-51 dan River Song memakai mahkota itu, membunuhnya secara instan, sementara ia terpaksa menonton adegan itu dengan tangan terborgol ke suatu pilar. Lalu Bapa Octavian berkata bahwa River membunuh pria yang baik – pria yang sangat, sangat baik, ia ingin tahu siapa.

"Octavian berkata kau membunuh seorang pria."

Wajah River Song mengeras. Senyumnya hilang terlalu cepat. "Ya, aku membunuh seorang pria."

"Pria yang baik," timpal Doctor. Rambutnya disentuh angin seraya ia memandang kedua mata River. Terlalu banyak konflik di dalam bola mata itu.

"Pria yang sangat baik. Pria terbaik yang pernah kukenal."

Oh, betapa inginnya dia menyentuh kulit itu dan merobek semua enigma yang tertempel di dagingnya. Ia ingin menghirup semua masa lalu yang tersimpan baik dalam tulang-tulang arkeologis itu jadi ia dapat menjalaninya tanpa kebingungan lagi. Tapi Profesor River Song tak mau waktu ditulis ulang, agar Ia bisa menonton mereka berlari di tengah ruang dan waktu, berdua saja. Doctor hanya bisa bertanya, "Siapa?"

River hanya tertawa, menambah lapisan teka-teki yang harus ia pecahkan ke dalam dirinya.