yak,kembali lagi dengan saia ^^...errr,maaf saia uda lamaaaa banget engga nge-update fic ini _ _"...lagi bener2 kering ide,kalo dllanjutin ala kadarny,takut OOC dan gaje...jadi yah...
semoga chap ini memuaskan :)
disclaimer:GSD bukan punya saia,sayangny...
"Eh, jadi latihan gabungannya akan diadakan setelah Festifal Matsuri?" Pekik Cagalli.
Lacus tersenyum senang. "Ya, tidak apa-apa kan? Nampaknya juga kita butuh waktu yang cukup lama untuk memperbaiki Zaku yang kemarin rusak."
"Jangan lupa untuk memperbaiki sikap orang yang kemarin juga." Kata Shinn, seperti biasa, sinis. Untunglah Athrun tidak ada di sini. Lunamaria menyikut perut Shinn sambil menatap pria itu dengan marah.
Cagalli dan Meyrin sempat melihat Shinn, tapi hanya helaan nafas panjang yang menjadi reaksi mereka.
"Bagaimana dengan yang lain, apa mereka setuju?" Tanya Cagalli. "Tapi kalau memang itu sudah keputusan kalian, aku setuju-setuju saja."
"Ya, para pilot nampaknya butuh istirahat sejenak," Kata Mu sebelum meneguk kopinya.
"Aku sih setuju-setuju saja." Sahut yang lain.
"Nah, kalau begitu aku akan memberi pengumuman kepada yang lain," Lacus berdiri. "Kau pasti ikut ke festifal itu kan, Cagalli?"
Cagalli tersenyum tipis. "Aku tidak bisa janji, tapi akan aku usahakan untuk ikut."
"Aku harap kau datang, Cagalli. Karena aku sudah membeli sebuah kimono untukmu."
"Eeeeeh?" Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Cagalli saking kagetnya. "A...aku..."
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Dua minggu kemudian...
"Ayo cepat!" Shinn menggerutu.
"Shinn, sabar sedikit!" Omel Lunamaria.
"Habis mereka lelet sekali!" Shinn melipat kedua tangannya.
"Maaf-maaf kami telat," sosok Lacus dan Cagalli keluar dari rumah kediaman Athha.
Lacus mengenakan kimono berwarna pink polos, sementara Cagalli mengenakan kimono berwarna biru laut dengan motif bunga. Athrun tertegun sesaat melihat sosok Cagalli.
"Nah, ayo pergi!" Kata Kira penuh semangat.
"Ayo, Athrun. Jangan bengong saja," ucap Lacus.
Athrun kembali ke alam sadarnya. "Ah ya. Oh ngomong-ngomong, Mu dan Murrue tidak ikut?"
"Tidak, tadi mereka bilang mereka masih ada kerjaan," balas Shinn.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Tempat dirayakannya festival sudah ramai meski kembang apinya belum dimulai.
"Wah, ramainya..." beberapa dari mereka sampai tidak bisa berkata apa-apa saking kagetnya.
"Kalau begitu kita harus hati-hati agar tidak terpisah." Ujar Kira yang sudah menggandeng Lacus.
Shinn langsung menggandeng Lunamaria, tangan Athrun tadinya ingin meraih tangan Cagalli, tapi Lacus sudah menggandengnya duluan. Akhirnya Athrun menggandeng Meyrin.
Semakin jauh mereka berjalan, kerumunan orang semakin sesak, Cagalli baru menyadari kalau tangannya sudah terlepas dari tangan Lacus. "EH?" pekiknya. "Kira, Lacus?" wanita itu pun mulai panik karena berada di tengah kerumunan orang yang tidak ia kenal.
"Cagalli!" Sebuah tangan langsung menggenggam erat pergelangan tangan Cagalli. "Kenapa kau sendirian? Kemana yang lain?"
"Athrun!" Wajah Cagalli sedikit lega begitu melihat pria berambut biru itu sudah berada di dekatnya. "A...aku tidak tahu. Kami terpisah. Kau sendiri? Bukankah tadi kau bersama dengan Meyrin."
Athrun tersenyum malu. "Nampaknya aku juga terpisah dengannya."
"Hah? Lalu bagaimana? Kita harus mencari mereka!" Cagalli mulai panik.
Tadinya Athrun ingin mengiyakan, namun pada akhirnya dia berkata. "Tidak perlu. Mereka sudah besar kan? Aku yakin mereka tidak akan apa-apa."
"Ta...tapi Athrun!"
"Kita sudah jauh-jauh ke festival ini, apakah kau ingin menghabiskan waktumu hanya dengan mencari mereka?"
Cagalli menghela nafas, apa yang dikatakan Athrun ada benarnya juga. "Ya baiklah."
Athrun tersenyum, ia benar-benar merasa lega dan bahagia. Mereka pun mengunjungi beberapa stand yang ada, makan takoyaki, kembang gula, ini itu, mereka benar-benar menikmati festival ini, terutama Cagalli. Dia bisa melupakan rutinitasnya sejenak dan menikmati hidup, Athrun tersenyum lega melihat Cagalli yang ceria. Hanya mereka berdua, di antara orang-orang yang tidak mereka kenal dan mengenal mereka.
Setelah lelah berkeliling, keduanya memutuskan untuk pergi melihat kembang api. Mereka memilih untuk duduk agak jauh dari kerumunan, sebab tadi ada orang yang menyadari keberadaan Cagalli, dan keadaan sempat heboh beberapa saat. Cagalli dan Athrun sampai harus bersembunyi di salah satu stand makanan untuk menghindar dari orang tersebut.
"Mungkin aku harus mengenakan kaca mata hitam lain kali," canda Cagalli di sela tawanya.
"Hei lihat, kembang apinya sudah mulai!" Athrun menunjuk ke langit malam.
Festival Matsuri kali ini bisa dibilang yang paling meriah dibandingkan dengan yang sebelumnya, mungkin itu juga yang menyebabkan meningkatnya jumlah pengunjung festival tahun ini. Kembang apinya memang indah, begitu banyak bentuk dan warna. Namun bagi Athrun, yang indah adalah wajah Cagalli yang diterpa oleh cahaya dari kembang api tersebut.
"Cagalli..."
"Ya?" begitu Cagalli menoleh ke samping, bibir Athrun langsung mengecup lembut bibirnya. Cagalli yang tidak siap hanya bisa terkejut, dan perlahan mulai membalas kecupan tersebut dengan mata tertutup.
"Kenapa, Cagalli?" tanya Athrun setelah melepaskan bibirnya. "Apakah kau masih mencintaiku?"
"Kenapa kau selalu menanyakan hal itu, Athrun?" Cagalli balik bertanya. Wajahnya sekarang merah seperti kepiting rebus. Ia sudah menunduk untuk menyembunyikan wajahnya, tapi Athrun tetap bisa melihatnya. Sebab warna merah itu sudah menjalar hingga ke telinga Cagalli!
"Karena aku ingin kejelasan akan hubungan kita... Dan aku mencintaimu..."
Cagalli terdiam beberapa saat, tanpa disadari oleh Athrun, Cagalli langsung berdiri dan lari darinya. "Cagalli, tunggu!" Athrun pun mengejar Cagalli yang berlari ke arah hutan.
Setelah berlari cukup lama, Cagalli berhenti juga.
"Cagalli, kenapa kau lari?"
"Hentikan!"
"Cagalli... Aku hanya ingin tahu jawabanmu. Apa pun jawabanmu, akan aku terima sepenuh hati. Tapi...jangan berbohong, Cagalli."
"Kalau begitu, untuk apa kau tanyakan lagi, Athrun!" Teriak Cagalli yang berdiri membelakangi Athrun. "Kau sudah tahu kan, apa jawabannya?"
"Kalau begitu kenapa, Cagalli?" Athrun bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.
"Karena kita tidak akan pernah bisa bersama! Kau tahu kan betapa sibuknya aku... Aku..." Cagalli memutar tubuhnya, "aku tidak ingin kau melewatkan waktu hanya untuk menungguku. Kau berhak mendapatkan yang lebih, Athrun."
"Jadi hanya itu alasanmu?" Athrun memijat-mijat keningnya. "I can wait forever if you want. Aku tidak peduli berapa lama aku harus menunggu. Memang pasti akan menyedihkan bila aku harus makan malam sendirian setiap harinya, atau pergi belanja sendirian. Tapi paling tidak, itu lebih baik daripada keadaan yang sekarang, Cagalli. Berdiri dalam ketidak pastian seperti ini, benar-benar membuatku gila..."
"Tapi Meyrin... Aku sudah..." Cagalli tidak melanjutkan kalimatnya. Isak tangisnya semakin keras.
"Meyrin memang menolongku, aku memang telah membuatnya nyaris tewas waktu itu. Tapi bukan berarti aku harus menyerahkan diri dan kau menyerahkanku kepadanya sebagai ucapan terima kasih, bukan...?"
"Aku...aku tidak tahu lagi...," perlahan tubuh Cagalli mulai jatuh. Athrun langsung berlari mendekati Cagalli.
Sekarang tubuh Cagalli sudah berada dalam dekapan Athrun, dipeluknya dengan erat tubuh Cagalli. "Apakah kau tahu Cagalli, ketika aku melihatmu tidak mengenakan cincin dariku? Aku benar-benar sedih, tapi aku berusaha untuk fokus ke masalah yang ada waktu itu. Dan sekarang masalah itu sudah tidak ada. Tidak bisakah kita membicarakan hubungan kita?"
Cagalli tidak mengatakan apa-apa, ia hanya menangis dalam pelukan Athrun.
"Mungkin kau marah, mungkin kau terluka karena sikapku waktu itu. Kau mau kan, memaafkan kesalahanku di masa lalu?" Athrun melepas pelukannya, menatap lurus ke arah Cagalli. "Mengambil keputusan yang telah membuatmu terluka."
Cagalli mengangguk berkali-kali. "Tidak perlu kau tanyakan, Athrun. Aku sudah memaafkanmu dari dulu."
Atrhun tersenyum lega. "Kalau begitu, bisakah kau menjawab pertanyaanku barusan?"
"Tapi Meyrin..."
Athrun meletakkan jari telunjuknya di bibir Cagalli. "Kita akan memikirkan sesuatu untuk masalah itu. Yang terpenting sekarang adalah, apakah kau mencintaiku, Cagalli?"
"Ya...aku mencintaimu, Athrun..." jawab Cagalli. Ia pun tersenyum lebar.
Athrun tersenyum bahagia mendengar jawaban Cagalli. Satu kecupan mendarat di kening Cagalli. "I am... Sincerely yours, Cagalli..."
uhuuuy...akhirny selesai juga...sebetulny ada pic yang telah memberikan inspirasi untuk chap ini,tp berhubung engga bisa dipost disini,dan entah kenapa,kok jadi eror chap ini pas saia post linkny,maka kalo ada yang penasaran sama picny,PM saia aja yah ^^
pic itu udah lamaaaaa banget,saia nemu di google kalo engga salah waktu itu...credits for the pic goes to the creator...sorry,i dont know who _ _"
