fuuuh,akhirny dapet inspirasi untuk ngelanjutin fic ini ^^...maaf karena lama banget baru tak lanjutin,bener-bener ilang feelny ditengah jalan...dan kalau feel ilang,saia gak berani ngelanjutin takut kacau...tapi ummm,ini cerita sedikit M,maaf _ _"

owh well,read and review please...


The Moment

Cahaya matahari pagi menyeruak masuk ke dalam kamar melalui kisi-kisi jendela. Sebuah tangan keluar dari balik selimut, berusaha meraih jam weker yang sudah berdering dari sepuluh menit yang lalu.

"Uh, sudah jam enam pagi." Ia mengacak-acak rambut pirangnya. "Aku ada rapat jam delapan nanti."

"Bukannya seharusnya yang pertama kali terbangun adalah prianya?" sahut seseorang dari balik selimut.

Wanita berambut pirang itu tersenyum, kemudian meletakkan kepalanya di sandaran kasur. "Aku rasa tidak ada peraturan dalam hal itu, Athrun."

"Kalau begitu aku akan membuat peraturannya," Athrun keluar dari balik selimut. "Apa kau tidur nyenyak, Cagalli?"

"Awalnya aku ingin menjawab tidak, karena aku mendengar suara dengkuran yang sangat keras," Cagalli melirik Athrun dengan senyum nakal di bibirnya, "tapi karena yang mengeluarkan dengkuran itu adalah dirimu, aku rasa tidak apa-apa. Tidurku nyenyak, sangat nyenyak malah."

Athrun mengacak-acak rambut Cagalli dengan geram, keduanya tertawa bersamaan. Lalu terdiam, saling memandangi satu sama lain.

"Apa semua ini nyata?" Tanya Cagalli sambil mendekatkan wajahnya ke Athrun.

Athrun mengelus pundak Cagalli yang tidak terbungkus sehelai benangpun, kemudian mengecupnya dengan lembut. "Semua ini nyata, Cagalli. Senyata genggaman tangan ini," Athrun meraih tangan Cagalli, kemudian menggenggamnya seerat mungkin.

"Tapi bagaimana dengan Meyrin, Athrun?"

"Sudah aku katakan kepadamu," Athrun meletakkan jari telunjuknya ke bibir Cagalli. "Aku akan menemukan cara untuk menjelaskan semua ini kepadanya."

"Kau tidak bisa semudah itu menjelaskan hal ini kepadanya!"

"Aku bisa, percayalah kepadaku." Athrun mengecup punggung tangan Cagalli. "Serahkan semuanya kepadaku."

"Baiklah," jawab Cagalli setengah ragu. Mata sayunya menyapu seluruh sudut kamar, berusaha mencoba untuk mengetahui di kamar siapa dia berada sekarang. Untungnya Cagalli berada di kamarnya, tapi hal itu tidak untung untuk Athrun. Sepasang kimono tergeletak di bawah kasur, wajah Cagalli sedikit memerah, kemudian ia menekuk kedua kakinya, lalu memeluk lututnya. Cagalli sempat melirik jam dinding yang terdapat di atas perapian, sudah sepuluh menit berlalu semenjak pertama kali ia membuka kedua matanya.

"Kalau kau tidak cepat bangun dan mandi, kau akan telat menghadiri rapat pagi, Cagalli." Suara Athrun membuyarkan lamunan Cagalli.

Saat Cagalli ingin berdiri, ia menyadari sesuatu. Dengan wajah tersipu ia menatap Athrun. "Tutup matamu, aku mau bangun."

Alis Athrun naik sebelah, "Kau bisa memakai selimut untuk menutupi tubuhmu, kan?"

"Tapi kalau aku melakukan hal itu, aku yang akan melihat tubuhmu!" Pekik Cagalli.

"Oh, jadi kau lebih suka bila aku yang melihat tubuh indahmu?"

"Dasar!" Cagalli melempar sebuah bantal ke arah Athrun, namun serangannya meleset. Dengan cepat Athrun meraih kedua pergelangan tangan Cagalli, mendorongnya ke belakang hingga kepala Cagalli terjatuh dari pinggir tempat tidur. Dari posisi ini, Cagalli bisa melihat dada bidang milik Athrun, dan sebuah kalung berwarna pink menghiasi dada Athrun. Disentuhnya kalung tersebut, dengan lirih Cagalli berkata.

"Kau, masih memakai kalung ini?"

Athrun membelai rambut Cagalli dengan mesra. "Apa aku tidak boleh?"

"Boleh, hanya saja aku..."

Athrun memotong kalimat Cagalli dengan memberi tanda menggunakan telunjuknya agar Cagalli berhenti bicara. Setelah Cagalli terdiam, Athrun mengambil sebuah kotak berukuran kecil yang terletak tidak jauh dari jam weker tadi.

"Mungkin kau harus mengenakan ini lagi," katanya sambil membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah cincin, cincin yang sama yang dulu pernah Athrun berikan sebelum ia pergi.

"Athrun!" Cagalli berkata setengah teriak, mendorong tubuh Athrun ke belakang sehingga ia bisa duduk di kasur. "Cincin ini, bagaimana mungkin bisa ada padamu? Aku kira aku sudah kehilangannya tiga hari yang lalu!" Wajahnya langsung berubah panik dan sedikit ketakutan.

Athrun tersenyum, "Maaf kalau aku membuatmu panik. Tapi waktu itu ketika aku sedang menyelimutimu yang tertidur, aku melihat cincin itu di atas meja. Tadinya aku mau langsung menyimpannya di tempat semula, tapi karena aku tidak tahu di mana tempatnya, dan aku tidak mau membangunkanmu, jadi aku membawanya keluar. Tapi aku lupa memberi tahu kepadamu, baru kemarin aku teringat kembali."

"Apa aku masih layak mengenakan cincin itu?" tanya Cagalli dengan suara parau.

"Tentu saja," Athrun mengambil cincin tersebut. "Hanya kau yang layak dan satu-satunya yang boleh memakai cincin ini," ucap Athrun sambil memasang cincin itu ke jari manis Cagalli. Setelah selesai, ia mengecup cincin tersebut.

"Terima kasih, Athrun," Cagalli mengelus pipi Athrun.

"Aku rasa aku pantas mendapatkan lebih dari ini," kata Athrun pelan.

"Kau! Apa kau habis mabuk semalam?" Tanya Cagalli dengan bingung.

Sebuah ciuman mendarat di bibir Cagalli yang tidak siap menerima serangan tersebut sehingga ia sedikit tersengal-sengal.

Athrun melepaskan ciumannya, lalu tersenyum. "Aku kira tadi kau mengatakan kalau kau ada rapat jam delapan nanti, ini sudah hampir jam tujuh."

"Waaa, aku telat!" Cagalli langsung panik, menarik selimut yang menutupi tubuh mereka berdua dan berusaha untuk melindungi tubuh polosnya. "Jangan ngintip aku mandi!"

"Siapa yang mau?"

Setelah bersembunyi di balik pintu kamar mandi, Cagalli melempar selimut tebal itu, namun lemparannya kurang kuat sehingga hanya sampai di dekat tumpukan kimono. Athrun tertawa pelan, sementara Cagalli langsung membanting pintu.

Sambil menyipitkan matanya, Athrun melihar ke luar jendela, ke arah lautan luas yang masih berwarna merah dengan sedikit sentuhan warna orange.

Aku rela melakukan apa pun, agar saat-saat seperti ini terus berlangsung...

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Athrun sedang merapihkan pakaiannya saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh tepat, Cagalli sedang sibuk memeriksa dokumen yang bertebaran di atas mejanya. Beberapa saat kemudian ia berhenti, kemudian melihat Athrun melalui pantulan kaca berukuran besar yang menempel di lemari bajunya.

"Apa ada yang salah?" Tanya Athrun, tidak beranjak dari tempatnya.

"Tidak. Aku hanya bersyukur kalau di sini ada pakaianmu," Cagalli menggeleng. "Apa jadinya kalau kau keluar mengenakan kimono? Atau yang terparah, menggunakan pakaianku?" Ia terkekeh geli

Athrun memutar tubuhnya, "Ya. Aku rasa aku harus sering menyimpan pakaianku di kamarmu, untuk jaga-jaga bila hal seperti ini terjadi lagi." Athrun menyeringai.

"Tapi bila kita masuk ke ruang makan bersamaan, apa yang harus kita katakan kepada yang lain?" Cagalli kembali menatap kertas yang sudah rapih dan bertumpuk-tumpuk sekarang.

"Kita katakan saja kalau kita bertemu di lorong," Athrun berjalan mendekati Cagalli. "Ayolah Cagalli, jangan mempersulit sesuatu yang mudah."

"Ya, baiklah..."

Athrun tersenyum. "Apa kau sudah selesai dengan berkas-berkasmu?"

"Ya, sudah," jawab Cagalli sembari memasukkan semua kertas itu ke dalam sebuah map file. "Akan lebih baik kalau yang keluar terlebih dahulu adalah kau, Athrun."

"Ok-ok, aku yang keluar duluan." Balas Athrun. Dan ia yang menjadi penutup pintu.

"Nah, gampang kan?" Athrun melihat ke ujung lorong untuk memastikan tidak ada siapa-siapa, nampaknya mereka sedang beruntung.

Sepanjang perjalanan menuju ruang makan, keduanya berusaha bersikap normal. Sebuah suara terdengar dari dalam ruang makan ketika mereka sudah sampai.

"Apa, seseorang berhasil merusak sistem Eternal?" Teriak Shinn tidak percaya.

"Yup, dan butuh waktu yang lama untuk memperbaikinya," balas Mu santai.

Percakapan terhenti sejenak saat Cagalli dan Athrun masuk. Sambil meminta maaf terlambat kedua langsung duduk di kursi masing-masing.

"Semalam kalian kemana?" Tanya Shinn tak acuh.

"Shinn, haruskah kau merusak pagi yang damai ini?" Lunamaria menyikut perut Shinn hingga ia tersedak.

"Aku tidak tahu bagaimana dengan Athrun, tapi setelah aku terpisah dari kalian, aku hanya jalan-jalan sendiri tanpa arah," jawab Cagalli disela tawanya.

Athrun meneguk teh hangatnya, dari balik cangkir ia menjawab. "Aku langsung pulang."

"Tadi kalian sedang membicarakan soal sistem Eternal. Apa ada yang terjadi?" Cagalli mengalihkan pembicaraan tanpa membuat orang berpikir kalau ia melakukannya.

"Ya, nampaknya seorang hacker yang jago berhasil memporak porandakan sistem Eternal," Mu menjawab. "Butuh waktu sekitar tiga minggu hingga kita bisa memperbaikinya."

"Jadi, latihan gabungannya ditunda lagi?" Tanya Cagalli.

"Tidak juga," Andrew menelan potongan daging yang ia kunyah barusan. "Kami sempat berpikir untuk melakukan latihan gabungan, di perairan ORB. Tentunya kami akan mencari tempat yang tidak bisa terjangkau oleh masyarakat umum, dan kami menggunakan peluru cat, bukan yang asli. Bagaimana menurutmu?"

"Selama kalian bisa memastikan kalau tidak akan ada yang terluka, aku setuju." Jawab Cagalli tegas.

"Ya, rasanya lebih baik menggunakan cat daripada yang asli. Takut nanti ada yang mengamuk lagi," celetuk Shinn, yang berhadiah sebuah cubitan di pahanya.

Cagalli melirik ke arah Athrun yang duduk di sampingnya. "Aku harap kau bisa menjelaskan alasanmu."

"Aku kira aku sudah menjelaskannya kepadamu malam itu."

"Itu bukan sebuah penjelasan, Athrun," bisik Cagalli.

Dalam diam Meyrin mengamati mereka berdua mendebatkan sesuatu.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Kau sudah puas kan?" Tanya seorang yang berdiri di bawah terpaan sinar matahari siang. Sementara ada seorang lagi sedang berdiri di dalam garasi mobil.

"Terima kasih, Kira. Kau memang jenius! Kau berhasil menembus sistem pertahanan Eternal!"

"Tapi kau yang membuat program itu, Athrun, aku hanya mengikuti petunjukmu saja."

Athrun berjalan keluar dari kegelapan, ia membuka kaca mata hitamnya. "Semua tidak akan berjalan kalau bukan kau yang melakukannya, Kira."

"Jelaskan lagi kepadaku, Athrun. Kenapa kau melakukan ini?" Kira mendekati Athrun.

"Aku... hanya ingin memperpanjang saat-saat yang bisa aku habiskan bersama Cagalli, itu saja," jawabnya. "Dan aku juga harus membereskan semua masalah ini."

Kira menghela nafas. "Entah apa aku melakukan hal yang benar atau tidak. Aku kira kau bukan tipe orang yang egois, Athrun. Apa aku salah menilai dirimu selama ini?"

"Aku harap tidak. Tapi untuk kali ini, aku harus egois. Demi mendapatkan waktu lebih untuk menatap wanita yang aku cintai, mendengar suaranya, melihat senyumnya, mendengar tawanya...dan mengecup lembut bibirnya..."

"Apa?" Kira terhenyak.

"Tidak, bukan apa-apa," jawab Athrun gelalapan.

Meski agak bingung, Kira tidak melanjutkannya lagi. "Yah, selama tujuanmu baik, dan tidak ada yang terluka, aku akan membantumu."

"Terima kasih, Kira." Athrun tersenyum. "Sayangnya, harus ada yang terluka..."

"Tadi kau bilang apa, Athrun?"

Athrun menggeleng. "Tidak, bukan apa-apa. Hei, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" Ia merangkul pundak Kira.