Akhirny, berhasil melanjutkan fic ini lagi. Setelah lagi-lagi sempat terbengkalai, maaaf _... Terinspirasi dari Episode ketika Athrun pertama kali bertemu dengan Cagalli. Dan entah kenapa, rasa ngerasa agak sedikit maksa dibagian ini... Owh well, RnR please :). Dan mungkin agak bakalan sedikit typo, soalny sekarang kacamata saia lagi rusak, jadi cuma bisa mengandalkan satu mata saja _ _", mohon dimaafkan...
Seluruh karakter original milik Sunrise.
Latihan gabungan sudah selesai, begitu juga dengan perbaikan Eternal. Wajah orang-orang terlihat lelah, tapi juga senang karena akhirnya latihan ini selesai dan tidak ada kesalahan apa pun. Keputusan Lacus untuk menggunakan peluru cat nampaknya sangat tepat. Para teknisi sangat berterima kasih untuk yang satu itu.
Sebagai ucapan terima kasih karena latihan gabungan selesai dan kontribusi semua kru, Lacus mengajak semua untuk ke pantai seharian penuh dan beristirahat sejenak di sana sebelum kembali ke rutinitas mereka. Jadi pagi ini, Lacus mengutarakan idenya setelah selesai sarapan.
"Pantai? Ide bagus! Aku akan bersiap-siap!" Shinn langsung berlari ke kamarnya.
"Ya ampun, Shinn! Yang benar saja," Lunamaria menepuk keningnya.
"Dia selalu bersemangat," Cagalli tersenyum.
Lacus menatap "Bagaimana kalau juga ikut, Cagalli? Tidak apa-apa kan, meninggalkan kegiatanmu hanya untuk sehari saja."
"Lacus," Cagalli menggeleng. "Aku tidak bisa."
"Ayolah, kau perlu istirahat sejenak dari semua rutinitasmu." Lacus menggenggam kedua tangan Cagalli. "Bagaimana kalau semisalnya kau diculik, kau bisa menghilang selama sehari, kan?"
"Lacus, ide macam apa itu?" Cagalli jadi sedikit ngeri. "Sungguh, aku tidak apa-apa bila tidak pergi. Kalian..."
"Athrun, kau mau menculik Cagalli, kan?" Pertanyaan Lacus seketika itu juga membuat ruang makan menjadi sunyi.
"Ap, apa? Menculik Cagalli?" Kedua alis Athrun naik. "Apa maksudmu, Lacus?"
"Ayolah, Kira saja pernah menculik Cagalli." Lacus memeluk tangan Cagalli. "Bagaimana, Athrun? Dia target penculikan yang menantang, bukan?"
"Lacus, kalau ada orang yang mendengarnya, mereka kira kau akan benar-benar menculikku."
"Mungkin aku harus benar-benar melakukannya," Lacus mengedipkan mata kepada Athrun. "Kau mau membantuku, Athrun-Kun?"
"Menculik Cagalli itu sangat mudah kok," ucap Kira yang daritadi sibuk membetulkan Haro. "Atau jangan-jangan, kau tidak bisa menculik Cagalli, Athrun?"
"Tentu saja aku bisa menculiknya!" Balas Athrun dengan nada sewot.
"Uaaa, baiklah!" Teriakan Cagalli membuat ruang makan kembali menjadi sunyi untuk kedua kalinya. "Aku ikut. Jadi tidak ada yang harus diculik atau menculik!"
Lacus tersenyum penuh kemenangan. Sementara Lunamaria dan Meyrin hanya bisa saling pandang satu sama lain.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Aku yakin kalau aku bisa menangkap ikan lebih banyak dari kalian berdua!" Tantang Shinn begitu mereka tiba di pantai.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita adakan lomba?" Lacus berdiri di belakang Shinn. "Siapa yang berhasil menangkap ikan paling banyak, dia yang menang, dan menjadi raja nelayan!"
"Gelar yang aneh," Shinn langsung lemas begitu mendengarnya. "Tidak perlu gelar bodoh macam itu. Kepuasan bila bisa mengalahkan mereka, bagiku sudah cukup!"
"Maaf, tapi kau akan kalah, Shinn." Kata Kira dengan percaya diri. "Ayo Athrun, mana semangatmu?!"
Athrun menatap Kira dan Shinn dengan lesu. "Ada apa dengan mereka berdua? Menjadi bersemangat tanpa sebab."
Meyrin yang berada di dekat Athrun menjawab. "Mungkin karena kita berada di pantai."
"Athrun, ayo cepat!" Kira menarik lengan sahabatnya itu.
Angin laut sangat menyejukkan, walau pun cuaca siang ini agak panas, paling tidak mereka cukup senang dan tidak terlalu kepanasan.
"Pantai, sangat indah..." ucap Cagalli dengan datar. "Kemana yang lain?"
"Cagalli... Kau berjanji untuk ikut ke pantai..." Lacus menatap tumpukan kertas di atas meja. "Kenapa kau membawa semua pekerjaanmu ke sini juga?"
"Maaf, Lacus. Tapi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja..."
"Lihat, Athrun sudah kembali!" Pekik Meyrin senang,
Para wanita langsung melihat ke arah Athrun yang sedang berjalan dari arah laut. Rambut birunya basah, begitu juga seluruh tubuhnya, sinar matahari siang menerpa tubuhnya, menjadi mengkilap.
"Athrun punya tubuh yang bagus yah." Puji Lacus.
Ketiga wanita lainnya terhenyak.
"Lacus!" Entah apa tujuan Cagalli memanggil Lacus dengan nada suara yang aneh.
Dalam diam, Meyrin memperhatikan teman wanitanya. Lacus Clyne, mantan tunangan dari Athrun Zala. Meskipun sekarang dia sudah berpacaran dengan Kira Yamato, tapi tidak menutup kemungkinan kalau dia masih memiliki perasaan kepada Athrun, bukan? Tidak ketinggalan Lunamaria Hawke, kakaknya sendiri. Dulu mereka pernah bersaing untuk memperebutkan Athrun. Hanya saja langkah mereka terhalangi oleh Meer Campble, seorang wanita yang sangat mirip dengan Lacus Clyne, dan berpura-pura menjadi sang Diva. Dan otomatis dia menjadi "tunangan" dari Athrun Zala. Yang terakhir adalah Cagalli Yula Athha, Beberapa sahabat mereka tahu, kalau Athrun memiliki perasaan kepada Cagalli, begitu juga sebaliknya. Dan bahkan dikatakan bahwa mereka pernah memiliki hubungan.
Setelah mengamati tiga wanita cantik dalam balutan bikini itu, Meyrin melihat dirinya sendiri. Siapa dirinya, bagi seorang Athrun Zala? Athrun memang berhutang nyawa kepadanya, dan dia juga nyaris membunuh dirinya ketika mereka berdua kabur dari ZAFT. Tapi selebihnya? Sebagai apa Athrun melihat Meyrin? Teman, atau lebih?
"Kau kalah, Athrun!" Shinn tertawa bahagia.
"Ya, tapi kau kalah dariku, Shinn." Balas Kira sambil nyengir kuda.
Suara mereka membuyarkan lamunan Meyrin, ternyata lomba sudah selesai. Dan Kira adalah pemenangnya. Rasanya Meyrin sudah bisa menduganya.
"Kenapa kau masih bekerja, Cagalli?" Suara Athrun terdengar lembut, dan yang terpenting, ada sebuah perasaan di dalamnya. Setiap kali Athrun bicara kepada Meyrin, memang lembut, tapi tidak ada sebuah perasaan di dalamnya. Terdengar datar, biasa saja. Layaknya ketika kau bicara kepada seorang teman, tidak lebih.
"Besok siang ada rapat, jadi aku memahami isi laporan ini secepatnya.." Ucap Cagalli sambil terus membaca laporan tersebut.
Tiba-tiba angin bertiup dengan kencang, membuat semua kertas Cagalli berterbangan. Dalam kondisi panik, Cagalli berlari untuk mengumpulkannya. Athrun ikut membantunya.
"Tidak, laporanku!" Cagalli mengambil kertas yang melayang, kemudian mengapitnya dengan erat agar tidak tertiup angin lagi.
Sementara Athrun memunguti kertas yang bertebaran di pantai. Nampaknya Cagalli sedang memfokuskan diri untuk mengejar salah satu kertas. "Cagalli, tunggu!"
"Apa kita perlu membantunya?" Tanya Lunamaria.
Lacus tersenyum, "aku rasa tidak perlu."
Karena matanya hanya terus tertuju kepada kertas yang melayang jauh di atas, Cagalli tidak memperhatikan keadaan sekitarnya, dan kemudian tersandung jatuh. "Uaaa!" Semua laporan yang berhasil ia selamatkan, sekarang, sudah basah kuyup.
"Cagalli, kau tidak apa-apa?" Athrun melempar semua kertas yang ia pegang kemudian berlari menuju Cagalli yang sedang terduduk. "Kau tidak apa-apa, kan?" Tanyanya lagi setelah sampai. Ia memegangi kedua pundak Cagalli.
"Ya, aku tidak apa-apa, tapi lap..." Cagalli berhenti bicara karena merasakan sesuatu.
Ada hewan kecil keluar dari rambut Cagalli, berjalan di atas tangan Athrun sebelum akhirnya dia menceburkan diri. Hewan itu ternyata kepiting. Keduanya saling pandang untuk beberapa saat, kemudian tertawa bersamaan. Begitu keras, begitu bebas, seolah tidak ada beban apa-apa.
"Sama seperti waktu pertama kali kita bertemu, yah?"
"Iya, sama seperti dulu." Balas Athrun senang. "Tapi tentunya kali ini, tidak ada kepiting di balik bajumu, kan?"
Pipi Cagalli memerah. "Athrun! Kau menyebalkan!" Lalu ia menyipratkan air ke arah Athrun.
Athrun membalasnya, dan mereka berdua seperti anak kecil yang sedang bermain air.
"Bagaimana laporanmu, Cagalli? Ada yang berhasil diselamatkan?" Tanya Kira setelah Cagalli dan Athrun kembali.
Cagalli tertawa malu sambil menunjukan selembar kertas yang sudah basah dan nyaris tidak terbaca lagi. "Hanya ini yang selamat."
"Lain kali kau harus berhati-hati," Athrun mengambil sebilah pisau dari tasnya untuk membersihkan ikan yang berhasil ia tangkap.
"Eh, pisau itu?" Cagalli mengeritkan kening begitu melihat pisau yang dipegang Athrun.
Athrun menatap Cagalli, lalu pisaunya, kemudian menatap Cagalli lagi. "Kau masih ingat?"
"Tentu saja! Kau nyaris membunuhku menggunakan pisau itu."
"Untungnya kau berteriak, kalau tidak, mungkin aku tidak akan tahu kalau kau perempuan."
Pipi Cagalli memerah, dengan kesal ia melempar kertas yang sebelumnya sudah ia buat menjadi sebuah bola. "Kau menyebalkan!"
Athrun hanya tertawa sambil terus membersihkan ikan yang ia tangkap. Kira dan Shinn juga ikut membantu, sementara para wanita tengah mempersiapkan bumbu dan alat untuk memasak ikan.
Selesai makan, mereka menghabiskan waktu sambil bermain untuk menunggu matahari terbenam. Cagalli akhirnya menyerah dan ikut bermain. Sementara beberapa prajurit yang lainnya sudah mulai banyak yang pulang, begitu juga Mu dan Murrue. Yang tersisa hanya tinggal mereka bertujuh.
"Ayo pulang, kita sudah melihat matahari terbenam, kan?" Tanya Shinn sambil menatap Lacus.
"Iya. Kalau kita terlalu malam, besok kita..."
Lunamaria celingak-celinguk mencari seseorang, setelah yakin kalau orang itu tidak ada, akhirnya dia berkata. "Hei, dimana Meyrin?"
Semuanya langsung menghentikan kegiatan mereka, dan menyadari kalau ada salah satu dari mereka yang hilang.
"Aku akan mencarinya," kata Athrun setelah menutup bagasi mobilnya.
"Bawa ini, hari sudah malam, nanti kau kedinginan," Cagalli menyerahkan kemeja putih yang dipakai Athrun, juga jaket yang ia bawa. "Ini untuk Meyrin."
Athrun mengangguk, kemudian pergi.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Aku, di mana...?" Tanya Meyrin bingung sesaat ia sadar kalau dia sudah jauh dari kelompoknya.
Ingin kembali lagi, hutan belantara menunggunya, akhirnya Meyrin memutuskan untuk terus melangkah ke depan. Dari sana dia mendengar deru ombak, jadi dia berpikir kalau di sana adalah pantai, dan dari sana pasti lebih mudah untuk menemukan temannya.
Hamparan pasir putih menyambutnya, hari sudah gelap sekarang. Untungnya bulan sedang purnama, cahayanya terpantul di permukaan air laut. Meyrin terdiam beberapa saat, mengatami keadaan pantai. Tapi ternyata pantai itu bukan tempat dimana Lacus dan yang lainnya berkumpul, nampaknya Meyrin berada di sisi lain dari pantai tersebut.
"Uhhh, aku tersesat," Meyrin terjatuh diatas kedua lulutnya, "aku benar-benar bodoh. Karena memikirkan dia, aku jadi begini." Meyrin memeluk erat kedua lututnya.
Angin malam semakin dingin, menusuk langsung ke tulangnya. Kemeja warna pink itu tidak sanggup membuat tubuh Meyrin menjadi lebih hangat, yang ada dia tambah kedinginan. Athrun, aku membutuhkanmu...
"Meyrin!" Sebuah suara terdengar dari kejauhan.
Suara itu, aku kenal!
"Meyrin!" Masih suara yang sama, dan semakin dekat.
Dengan perlahan Meyrin berdiri, membersihkan celana pendeknya, kemudian mencari sumber suara. Ternyata dia berasal dari hutan. Langkah kaki sayup-sayup terdengar diantara deru ombak dan hembusan angin, desah nafas Meyrin yang naik turun serta detak jantungnya yang semakin kencang tiap detiknya.
"Syukurlah, aku menemukanmu!" Athrun muncul, wajahnya terlihat lega.
Begitu tahu siapa yang datang, Meyrin kembali terjatuh, Athrun berlari untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
"Kau tidak apa-apa kan, Meyrin?"
"Aku...untukmu...apa...?" Tanya Meyrin dalam bisik.
"Apa?"
"Untuk dirimu, aku ingin, apa?" Meyrin menatap wajah Athrun yang bingung. "Teman, atau kekasih? Atau seseorang yang sangat berarti untukmu? Atau bukan siapa-siapa?"
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu..."
"Sebab aku melihatnya!" Teriak Meyrin sambil mendorong tubuh Athrun ke belakang. Yang didorong kehilangan keseimbangan hingga ia terjatuh ke belakang. "Apa kau lupa, kalau aku pernah menyelamatkan nyawamu?!"
"Kau masih mencintai Cagalli! Kau masih memiliki perasaan terhadapnya. Meskipun dia pernah mengkhianatimu, dan memintaku untuk menjagamu..."
Alis Athrun naik. "Cagalli tidak pernah mengkhianatiku. Jangan pernah kau berkata seperti itu lagi," katanya dengan wajah marah. "Pernikahannya dengan Yuna, itu salahku. Sebab aku lemah, tidak bisa melindunginya sebagai seorang wanita yang aku cintai. Dan ketika dia memintamu untuk menjagaku, itu karena dia tidak bisa melakukannya sendiri..."
Meyrin terdiam.
"Dan ya, aku mencintai Cagalli. Aku masih mencintai dirinya, meskipun dia berusaha menjauh dariku, meskipun dia ingin aku bersamamu, tapi aku tidak bisa melupakannya." Athrun berdiri, kemudian mengambil sebuah pistol dari balik kemejanya. "Aku berhutang nyawa kepadamu, dan untuk itu, aku berterima kasih." Dilemparnya pistol tersebut kearah Meyrin. "Aku yakin, kau tahu cara memakainya, kan?"
"Ap, apa yang kau lakukan...?" Tanya Meyrin dengan nada bergetar karena ketakutan.
"Aku berhutang nyawa kepadamu, karena itu hanya kau yang berhak untuk mengambilnya lagi." Athrun menatap Meyrin dengan wajah kaku dan dingin. "Aku mencintai Cagalli, tapi aku berhutang nyawa kepadamu. Aku tidak bisa meninggalkan Cagalli hanya karena aku berhutang nyawa kepadamu, aku egois. Ya, aku tahu itu. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang bila aku ingin bersama dengan orang yang aku cintai."
"Tapi aku juga mencintaimu!" Teriak Meyrin, matanya berlinang air mata. "Kenapa kau tidak pernah mencoba untuk belajar mencintaiku, Athrun? Aku bisa memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh Cagalli!"
Athrun memincingkan matanya. "Dan apa itu?"
"Waktu, dan kebersamaan! Sebagai seorang presiden ORB, dua hal itu tidak dimiliki oleh Cagalli! Sementara aku bisa memberikannya."
"Aku tahu hal itu, aku sadar," Athrun menghela nafas. "Cagalli tidak punya waktu banyak untuk ia habiskan bersamaku. Oleh karena itu, dulu aku menjadi pengawal pribadinya. Jika kami tidak bisa menghabiskan waktu sebagai sepasang kekasih, paling tidak kami bisa terus bersama, meski sebagai pengawal dan presidennya. Dan aku rela. Aku tidak pernah menuntut dia agar terus bisa bersama denganku, dia memiliki prioritas dan tanggung jawab. Itu adalah resiko yang ada bila kau jatuh cinta dengan seorang presiden."
"Tapi apa kau tidak sadar bagaimana perasaannya? Walau kau sudah berkata seperti itu, seorang wanita selalu ingin melihat pria yang ia cintai untuk bahagia! Bahkan jika itu artinya jika dia harus melepaskannya."
"Maka aku akan mengatakan kepadanya, hal yang bisa membuatku bahagia, adalah dengan selalu berada di sampingnya. Menemaninya, meskipun sebagai seorang pengawal pribadi." Athrun tersenyum. "Dulu aku belum pernah mengatakan hal itu kepada dirinya. Sekarang, aku akan mengatakannya."
Meyrin mengambil pistol yang dilempar oleh Athrun, dengan tangan gemetaran dia mengarahkan pistol tu ke Athrun. "Kalau begitu...aku akan mengambil...sesuatu yang aku selamatkan dulu..."
Athrun tersenyum. "Silahkan. Jika menurutmu, itu adalah yang terbaik..."
Namun diluar dugaan, Meyrin malah mengarahkan pistol ke keningnya, dan menarik pelatuknya.
Sunyi, hanya terdengar deru ombak dan hembusan angin.
"Kenapa..." Tangannya menjadi lemas dan membuat pistolnya terjatuh.
"Aku tahu kalau kau akan melakukan hal itu," Athrun berjalan mendekati Meyrin, ditutupinya tubuh Meyrin menggunakan jaket pemberian Cagalli. "Aku sangat berterima kasih kepadamu karena telah menolongku waktu itu, tapi aku tidak bisa membalas cintamu. Sebab hati ini, sudah menjadi milik Cagalli, jauh sebelum kita berjumpa." Dipeluknya tubuh Meyrin yang bergetar. "Aku yakin, kau bisa menemukan pria yang lebih baik dari diriku."
"Bagaimana jika tidak...?"
Athrun mengecup kening Meyrin dengan lembut. "Kau pasti akan menemukannya."
Dengan terisak-isak, Meyrin berkata. "Paling tidak, aku sudah pernah dikecup oleh seorang Athrun Zala." Candanya sambil menyeka air matanya.
Athrun tertawa pelan, lalu membantu Meyrin untuk berdiri. Sebelumnya dia sudah mengambil pistol miliknya.
"Kenapa kau membawa-bawa pistol kosong?"
"Hanya untuk menakuti berandalan yang lewat," Athrun tersenyum. "Aku dengar di daerah sini agak rawan. Tapi aku tidak boleh melukai masyarakat, oleh karena itu aku hanya membawa pistol kosong."
Meyrin tersenyum geli. "Apa Cagalli membenciku? Karena telah merebutmu darinya?"
"Kau harus bertanya langsung kepadanya. Tapi jika dia membencimu, tidak mungkin kan, dia memintamu untuk menjaga pria yang ia cintai?"
"Betul juga."
Kedua terdiam hingga akhirnya kembali ke tempat Lacus menunggu.
"Meyrin menggenggam tangan Athrun," bisik Lacus kepada Cagalli. Disampingnya berdiri Shinn.
Cagalli tersenyum penuh arti kepada Lacus. "Tidak apa-apa."
"Sungguh? Bisa saja Athrun sudah berpaling darimu." Tanya Shinn.
"Sungguh, tidak apa-apa." Jawab Cagalli sekali lagi.
Sebab, Athrun adalah milikku...
