Eeeeeh, fic ini belum tamat kok ... Hiks, apakah karena saia terlalu lama update jadi dikira udah tamat? Hiks Q_Q
Makasih untuk komen2ny :),dan maaf baru bisa bales sekarang Q_Q
Buat Luci : Sebetulny sih mereka gak tau,dan semoga Kira bisa menjaga mulutny dan gak ngasih tau ke yg lain :p
Buat SuntQ: Sama2 :)... Iy, saia juga kecewa sama endingny GSD...
Buat d3rin : Wuhaaaa,saia jadi teringat sama pic Athrun dan seorang wanita hamil lagi meluk anak kecil...kabar simpang siur yg bilang itu asliny pic Meyrin, terus diedit jadi Cagalli... Saia gak terimaaaaaaaa *nangis ala sinet indo*... Heheheh,tp saia gak bisa janji yah apakah fic ini bakalan sampe ke sana atau engga :D
Selamat membaca...dan bersiap-siap untuk kembali deg-degan :P
Disclaimer : Seluruh karakter Gundam Seed Destiny adalah milik Sunrise, bukan saia!
Meluangkan waktu bersama terkadang menjadi tolok ukur apakah pasangan itu bahagia atau tidak. Well, tidak selalu rasanya. Dan Athrun berusaha membuktikan hal itu, walau pun Cagalli sibuk dengan tugas-tugasnya, dia akan tetap setia. Bahkan Athrun mempunyai rencana untuk kembali menjadi pengawal pribadi Cagalli.
Begitulah, malam ini Athrun menyampaikan niatnya kepada Cagalli di ruang kerjanya.
"Heeeee, kau serius?" Cagalli menatap Athrun tidak percaya.
"Iya. Ada apa memangnya? Apa ada yang salah? Atau kau keberatan?" Athrun balik bertanya.
Cagalli menghela nafas. "Tadinya aku mau memintamu untuk menjadi wakil ORB di ZAFT. Tapi rasanya, aku bisa mencari orang lain untuk itu. Apa kau akan kembali menggunakan nama Alex Dino?"
Athrun tertawa pelan. "Rasanya tidak perlu, toh nanti kau akan memanggilku Athrun seperti waktu itu. Lebih baik tetap menggunakan nama asliku."
"Ma, maaf... Waktu itu aku tidak sengaja..." Pipi Cagalli memerah karena teringat ketika ia memanggil Athrun dengan nama aslinya, bukannya nama samarannya.
"Tidak apa-apa. Kau tidak salah. Mungkin lidahmu sudah terbiasa memanggilku dengan Athrun."
"Ya, namamu kan memang itu..." Cagalli mencibir.
"Kau sudah makan malam?" Athrun mengalihkan pembicaraan.
Cagalli menaikan alis dan memutar bola mata. "Kerjaanku sedang menumpuk. Kalau kau mau makan malam, duluan saja. Bukannya yang lain masih ada?"
Lacus dan kawan-kawan memang belum kembali ke ZAFT, dan seharusnya besok pagi mereka sudah harus berangkat. Tetapi Kira ada urusan sehingga dia dan Lacus baru bisa pulang ke ZAFT dua hari kemudian. Entah bagaimana dengan Shinn, Luna dan Meyrin.
"Aku rasa pekerjaanmu bisa menunggu sebentar kan? Kau bisa sakit kalau makan tidak tepat waktu."
"Athrun, aku baik-baik saja, sungguh."
Athrun tidak menggubris kalimat Cagalli, dengan kesal dia menarik lengan gadis itu, lalu menatapnya tepat ke manik-manik matanya. Sementara yang ditatap langsung salah tingkah dan sedikit kesal. Cukup lama mereka berdiri saling tatap, hingga akhirnya Athrun membuka mulutnya.
"Aku tidak mau melihat orang yang aku cintai sakit hanya karena telat makan."
Pipi Cagalli merona merah, bersamaan dengan Athrun. Lidah Cagalli jadi kelu, tidak tahu harus menjawab apa.
"Uhhh... Athrun, aku benar-benar tidak mengerti kenapa kau jadi begini. Padahal dulu..."
Bukannya menjawab, Athrun malah memeluk Cagalli erat-erat. "Aku, hanya ingin berubah, Cagalli. Dulu, aku berkata bahwa aku akan melindungimu. Dan yah, mungkin aku berhasil. Tapi diwaktu yang bersamaan, aku juga gagal. Aku gagal...melindungi perasaanmu..."
"Athrun..."
"Aku gagal melindungimu. Karena itu, kau dipaksa menikah dengan Yuna. Sementara aku, apa yang aku lakukan? Tidak ada... Aku tidak bisa melakukan apa pun demi menyelamatkan wanita yang aku cintai dari genggaman tangan pria lain. Aku membiarkanmu jatuh ke dalam pelukan pria lain... Pria yang tidak pantas untukmu..."
"Athrun, sudahlah..." Cagalli menelan ludah. "Itu, sudah berlalu..."
"Aku mencintaimu, Cagalli." Athrun melepas pelukannya, menatap Cagalli lekat-lekat. "Dan aku sudah bahagia hanya dengan berada di sampingmu, meski sebagai pengawal pribadi sekalipun. Karena itu aku, aku tidak membutuhkan waktu yang tidak bisa kau berikan kepadaku. Izinkan aku untuk selalu berada disisimu, itu saja..."
Satu kecupan mendarat di pipi Athrun.
"Padahal aku tidak bisa memberikan waktu yang banyak untukmu, lantas kenapa?"
"Karena aku mencintaimu." Athrun tersenyum, membalas kecupan tadi dengan sebuah ciuman di kening Cagalli. "Dan lagipula, kita masih bisa meluangkan waktu sebagai presiden dan pengawal pribadinya, kan?"
"Apa kau tidak apa-apa dengan hal itu?"
"Tentu saja. Selama presidennya adalah dirimu, aku rela. Aku akan melakukan apa pun agar hubungan kita berhasil. Meski aku harus menjadi pengawal pribadimu lagi."
Pipi Cagalli kembali merona, ia menunduk sambil menggenggam tangan Athrun. "Terima kasih, Athrun. Dan maafkan aku, karena tidak bisa memberikan sedikit waktu untukmu..."
Athrun mencubit pipi Cagalli. Sementara yang dicubit hanya bisa protes. "Sudah lama aku ingin mencubit pipimu. Setiap kali aku melihat Kira mencubit pipimu, aku selalu iri." kata Athrun disela tawanya. "Kau tidak perlu minta maaf. Ini bukan salahmu, bukan salah siapa-siapa."
Sekarang giliran Cagalli yang mencubit pipi Athrun dengan gemas. Kemudian menjulurkan lidahnya.
"Nah," Athrun menarik tangan Cagalli. "Sekarang kau harus makan malam, ok?"
"Ya, baiklah..." Cagalli tersenyum bahagia.
"Oh dan, aku sudah bicara dengan Meyrin."
Ucapan Athrun menghentikan langkah kaki Cagalli. "Kau bilang apa kepadanya?"
"Akan lebih baik jika kau bertanya langsung kepadanya," balas Athrun. "Kau tahu kan, pembicaraan antar wanita?"
Cagalli menggeram kesal. Satu sisi dia senang karena Athrun sudah berbicara dengan Meyrin. Disisi lain dia kesal karena itu artinya mereka sudah melukai Meyrin. Akhirnya Cagalli memutuskan untuk bertanya kepada orangnya langsung setelah makan malam nanti.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Tidak ada yang spesial dari acara makan malam kali ini, hanya ada beberapa komentar mengenai betapa mereka akan merindukan ORB dan berkata kapan-kapan mereka akan kembali lagi ke sini. Dan Shinn mengomel kepada Cagalli, menyuruh dia agar menjaga ORB dengan baik-baik. Atau dia akan kembali marah dan tidak mau bicara kepadanya lagi.
Entah apa yang terjadi, tetapi setelah selesai makan malam, semua langsung keluar tanpa berkata apa-apa, meninggalkan Meyrin dengan Cagalli di sana.
Apa dia juga ingin bicara denganku makanya dia tetap di sini? Batin Cagalli.
Meyrin masih menunduk ketika ia mulai bicara. "Ummm... Cagalli-Sama..." Ucapnya sambil meremas-remas jemarinya.
"Ah, tolong, tidak perlu terlalu formal denganku." Cagalli tersenyum, berusaha menghilangkan kecanggungan yang aneh ini. "Apa ada yang ingin kau bicarakan, Meyrin?"
"Umm..." Meyrin tampak ragu-ragu.
Cagalli, yang merasa bahwa topik pembicaraan yang akan diangkat oleh Meyrin sama seperti dirinya, akhirnya mengambil inisiatif untuk mulai bicara terlebih dahulu. "Bolehkah jika aku yang bicara terlebih dahulu?"
Meyrin mengangguk berkali-kali dengan cepat.
Cagalli menghela nafas berkali-kali sebelum ia berdiri dan membungkuk kepada Meyrin. "Terima kasih, karena telah menyelamatkan Athrun waktu itu. Dan aku minta maaf, karena telah menyakiti perasaanmu. Aku tahu kau mencintai Athrun, dan aku..."
"Aku rasa," Meyrin memotong kalimat Cagalli. "aku memang tidak akan pernah bisa menjadi lebih dari seorang sahabat untuk Athrun." Lanjutnya. "Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi dihatinya hanya ada dirimu seorang. Dari dulu, sampai kapan pun juga. Dia, terlalu mencintaimu."
Cagalli mengangkat kepalanya sedikit.
"Dan tolong, Cagalli, tidak perlu membungkuk kepadaku. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang teman." Meyrin tersenyum ketir. "Aku, mungkin lebih baik berhenti mencintai Athrun, dan mencoba untuk mencintai orang lain."
Cagalli tidak sanggup menahan air matanya, Meyrin kaget melihat Cagalli menangis tiba-tiba. Dia pun segera memeluk Cagalli dengan erat.
"Sekarang, giliranku yang meminta bantuan kepadamu."
"Dan, apa itu?"
"Tolong jaga Athrun baik-baik. Kalau bisa, jaga perasaannya. Sesuatu yang tidak bisa aku jaga dari dulu." Bisik Meyrin lirih.
"Tentu saja, tentu saja. Aku pasti akan menjaga dia sebaik-baik mungkin. Terima kasih, Meyrin."
Meyrin menepuk-nepuk punggung Cagalli.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Lunamaria sebetulnya tidak pergi jauh-jauh dari ruang makan, dia bersembunyi dan menguping pembicaraan adiknya dengan pemimpin ORB itu. Setelah Cagalli keluar, ia pun masuk. Melihat sosok adiknya yang terduduk lesu di kursi.
"Kenapa kau menyerah begitu saja?" Tanyanya.
Meyrin tersenyum pasrah. "Aku rasa aku harus mengetahui kapan waktunya untuk mundur. Dari dulu hanya ada Cagalli di hati Athrun. Yaaaah, aku sih tidak tahu bagaimana sebelum mereka berjumpa. Tapi setelah mereka saling cinta, tidak ada kesempatan untuk mendapatkan Athrun. Jadi, lebih baik aku mundur sebelum aku semakin terluka dan melukai mereka."
"Kau serius? Kepalamu sedang tidak terluka atau kau berada dibawah pengaruh obat bius ketika mengambil keputusan itu kan?" Lunamaria ingin memastikan bahwa adiknya baik-baik saja ketika memutuskan untuk berhenti berada disamping Athrun. Memastikan bahwa adiknya benar-benar SADAR akan keputusan yang telah ia ambil.
Meyrin menatap kakaknya dengan tatapan kaget sekaligus kesal. "Tentu saja aku baik-baik saja! Dan aku sadar dengan akibat yang akan aku terima dari keputusan ini. Tidak apa-apa, aku rasa, aku sanggup..."
"Meyrin..."
"Semua orang harus berubah seiring waktu kan? Dan, aku ingin berubah. Langkah awalnya adalah, melepaskan Athrun, yang tidak akan pernah menjadi milikmu seutuhnya. Mungkin aku bisa memiliki tubuhnya, tapi, aku menginginkan cintanya..."
"Oh, Meyrin..." Lunamaria segera memeluk adiknya. "Semua pasti akan baik-baik saja. Dan kau, memang telah mengambil keputusan yang tepat."
Meyrin tersenyum. "Ya, aku tahu..."
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Sambil menghapus air mata dari pelupuknya, Cagalli berjalan menuju ruang kerjanya, hingga sebuah tangan menariknya masuk ke dalam kamar. Kemudian ia mendorog tubuh Cagalli ke pintu, tidak terlalu kencang untungnya.
"Athrun!" Cagalli terpekik kesal. "Apa yang kau lakukan?!"
Si pelaku hanya tersenyum gugup. Sekarang posisi Cagalli sedang diapit antara tubuh Athrun dan pintu kamar pria itu. "Maaf. Tapi ada sekretarismu di ruang kerja, aku tidak bisa menunggumu di sana. Aku ingin bicara denganmu"
"Jadi itu alasanmu menahanku? Athrun, kita bisa bicara setelah aku selesai bekerja!" Omel Cagalli sambil menghentakan kakinya ke lantai berlapis karpet bulu itu.
"Setelah kau selesai bekerja, mungkin kau pasti kelelahan. Dan aku tidak mau membuatmu kekurangan waktu untuk istirahat."
"Apa itu artinya kau lebih suka membuatku kehilangan waktu untuk bekerja?" Tanya Cagalli dengan geram.
"Ok-ok, maaf. Aku salah, aku..."
Cagalli menghela nafas. "Maaf, tapi kau sungguh kekanak-kanakan, Athrun. Aku kira kau mengerti bahwa pekerjaanku..."
"Aku tahu, maaf. Aku..." Athrun menggeleng sedih, kemudian mengecup kening Cagalli. "Kau harus kembali ke ruang kerjamu. Aku akan menunggu hingga kau selesai."
Wajah Athrun terlihat sedikit murung, membuat Cagalli jadi merasa bersalah. Walau sebetulnya yang salah duluan itu Athrun, sebentar, sekarang bukan waktunya untuk saling tunjuk. Athrun sudah mau berubah sekarang, dia sudah mulai mau menunjukan perasaannya (walau hal ini membuat Cagalli jadi bingung karena perubahaan yang sangat drastis), jadi, kenapa dia juga tidak berubah? Jika ingin hubungan mereka berhasil, mereka harus berubah. Tidak bisa melanjutkan hubungan dengan pola seperti dulu. Harus ada perubahan! Maka dari itu, Cagalli sudah memutuskan untuk berubah sekarang! Dia tidak ingin mengecewakan Athrun, juga dirinya sendiri untuk yang kedua kalinya.
Cagalli mengambil Handphonenya, nampaknya dia mengirim e-mail kepada seseorang, Athrun hanya memperhatikannya dengan bingung. Setelah selesai, Cagalli mengunci pintu dibelakangnya. Membuat Athrun tambah bingung. Dan semakin bingung ketika Cagalli melempar Handphonenya ke atas kasur, kemudian melingkarkan tangannya ke leher Athrun.
"Hanya untuk kali ini saja aku meninggalkan pekerjaanku untukmu," bisik Cagalli mesra.
Athrun tersenyum lebar karena ia berhasil menculik Cagalli dari pekerjaannya. Dengan lembut Athrun mencium Cagalli, dan dibalas oleh Cagalli. Perlahan, Athrun mulai menggendong Cagalli dan berjalan ke kasur.
