Sebetulny saia pengen nonton ulang Gundam Seed/Destiny,tapi entah kenapa tiap kali nonton,bukanny ngikutin jalan cerita malah ngedumel2 sendiri ngeliat hubungan Athrun sama Cagalli... Ending ke-2 dari Gundam Seed yang baru lumayan bagus :), mungkin kapan2 aku nonton ulang lagi biar lebih dapet feelny...

Karakter Gundam Seed sepenuhny milik Sunrise


Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela berukuran besar yang sudah terbuka lebar itu, bersamaan dengan tiupan angin pagi yang membawa aroma laut. Seorang pria terlihat masih terlelap di balik selimut berwana putih gading itu. Punggungnya yang tidak tertutup oleh sehelai benang pun terekspos dengan indah karena selimut tersebut tidak berhasil menutupi seluruh bagian belakang tubuhnya dengan sempurna. Tubuhnya masih tengkurap, kedua tangannya menjadi alas kedua untuk kepalanya setelah sebuah bantal.

Dering telepon genggam akhirnya berhasil membangunkan sosok itu. Dengan malas ia menjawab telepon tersebut dengan suara serak.

"Ya, Athrun Zala di sini. Siapa yang menelepon?"

"Athrun... Kau baru bangun tidur?" Suara diseberang sana balik bertanya.

"Kira.." Gumam Athrun sembari berguling ke kanan. "Ya, begitulah. Ada apa?" Ia menatap ke seluruh ruangan, tapi tidak ada sosok Cagalli di sana. Yang tersisa dari wanita itu hanyalah harum tubuhnya yang menempel di selimut dan bantal yang ada di kasur.

"Hari ini aku dan Lacus akan kembali ke ZAFT. Apa kau mau mengantar kami ke..."

Mata Athrun tertuju kepada secarik kertas yang terletak di dekat lampu meja, dengan cepat ia memotong permintaan Kira dan segera mengambil kertas tersebut setelah memutuskan telepon. Ternyata penulis surat itu adalah Cagalli.

Maaf aku tidak membangunkanmu terlebih dulu, kau terlihat sangat nyenyak. Aku tidak mau menganggumu. Hari ini aku ada rapat sampai siang, setelah itu aku harus menghadiri sebuah pertemuan di luar kota. Jadi aku harap kau bisa bangun lebih cepat atau aku akan pergi ke luar kota tanpa pengawal pribadiku!

Sincerely Yours,

Cagalli

P.S : I Love You...

Setelah selesai membaca catatan kecil dari Cagalli, Athrun langsng bangun dan lari menuju kamar mandi. Sekarang jarum panjang sudah berada diangka sembilan.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Jam setengah sebelas, rapat masih berlangsung. Cagalli berusaha meredam emosinya dengan cara menggigit ujung pulpen berwarna hitam. Rapat kali ini membahas sebuah obat untuk penyakit misterius yang menyerang anak kecil.

"Tidak, saya tidak akan mengizinkan anda untuk melakukan eksperiment kepada anak kecil!" Tolak Cagalli. "Hal itu terlalu berbahaya, dan nyawa manusia bukan mainan."

Seorang pria berkaca mata yang merupakan ketua pelaksana pengembangan obat untuk menyembuhkan penyakit itu menatap Cagalli dengan tajam. "Saya akan menggunakan anak kecil yang sudah tidak bisa tertolong lagi, dan tentunya akan seizin orang tua mereka."

Cagalli menggeleng. "Tetap tidak bisa."

"Cagalli-Sama, apakah anda tahu, dengan sikap anda yang seperti ini, sama saja anda membunuh anak-anak yang masih bisa tertolong. Bukan masalah jika kita harus mengorbankan sedikit nyawa untuk menyelamatkan lebih banyak lagi! Itu prinsip kami."

"Bagaimana jika, tidak ada yang dibunuh, dan semuanya selamat?" Cagalli tersenyum.

Pria itu menggeleng. "Hal itu mustahil. Anda dari semua orang, saya rasa mengerti bahwa hal itu tidak mungkin. Apakah anda tidak sadar bahwa sikap anda begitu egois dan kekanak-kanakan? Tolong, bersikap layaknya seorang pemimpin, Cagalli-Sama. Atau ayah anda akan kecewa."

"Dan saya harap anda bisa profesional, tidak mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan." Cagalli balas menatap pria itu tidak kalah tajam. "Rapat selesai sampai di sini. Jika agenda selanjutnya hanya untuk berdebat mengenai boleh atau tidak anda bereksperimen dengan anak kecil, lebih baik kita hentikan disini."

Pria itu mengangkat kedua bahunya. "Mungkin Cagalli-Sama butuh waktu untuk berpikir. Saya akan memberikan anda salinan data mengenai penelitian ini, siapa tahu anda akan berubah pikiran setelah membacanya."

Dengan wajah kesal Cagalli mengambil salinan tersebut kemudian berjalan keluar, sebuah tangan menahan langkahnya.

"Apa-apaan barusan, Cagalli? Kenapa kau bertingkah seperti itu?!"

Yang menahan Cagalli adalah Ledonir Kisaka, ia menatap pria itu dengan kesal. "Memangnya kau mau memberi izin kepada pria itu untuk bereksperimen dengan anak kecil?" "Tapi ini demi penelitian! Apa kau mau membiarkan rakyatmu mati karena pemimpin mereka terlalu keras kepala dan tidak tahu kapan harus menyerah?!" "Selama ini keluarga Atta sudah selalu menyerah. Aku tidak bisa melakukannya lagi..." "Ayahmu menyerah, karena dia tahu bahwa dengan menyerah dia bisa memenangkan perang. Sementara kau, kau hanya memikirkan pertarungan semata!" Kisaka memperkuat cengkraman tangannya. "Jangan main-main, Cagalli. Aku mohon. ORB nyaris hancur ketika ia jatuh ke tangan keluarga Seiran. Apa kau mau melihat ORB hancur, tapi kali ini tanganmu sendiri yang melakukannya?" Cagalli terdiam beberapa saat. Matanya sedikit berkaca-kaca. "Jika aku menerimanya, apa yang akan aku katakan kepada keluarga anak-anak yang akan dijadikan bahan percobaan?" "Katakan kepada mereka, bahwa anaknya akan menyelamatkan ribuan anak lainnya." Cagalli menarik nafas dalam-dalam. "Akan aku pikirkan." "Lebih baik kau cepat, Cagalli. Atau tidak akan ada anak kecil lagi di ORB." "Aku tahu," ucap Cagalli pilu. "Maaf jika aku terlalu kasar kepadamu," Kisaka melepaskan genggaman tangannya. "Tapi aku tidak ingin kau melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Kau kuat, kau bisa berdiri dengan kaki sendiri. Aku percaya dengan keputusanmu, Cagalli."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Mata Cagalli terasa panas, dia ingin menumpahkan air mata yang tertahan diujung sana. Tapi dia tidak bisa melakukannya dihadapan anak buahnya, dan dia butuh seseorang untuk bersandar, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Cagalli-Sama, anda tidak apa-apa?" Tegur seorang pria dari belakang Cagalli.

Begitu Cagalli memutar tubuhnya, dia melihat sosok itu. Athrun mengenakan pakaian yang biasa ia gunakan jika ingin pergi, hanya saja sekarang dia sudah tidak memakai kaca mata lagi. Wajahnya yang tadi bahagia ikut bersedih ketika menyadari wanita dihadapannya kenapa-napa.

"Aku lapar...bisa kita makan?" Cagalli berusaha menahan diri, meski detik ini juga dia sangat ingin loncat ke dalam pelukan Athrun dan menangis di dadanya. Tapi sekarang situasinya tidak semudah itu. Apa yang akan terjadi jika seorang presiden yang masih lajang memeluk seorang pria dengan mudahnya di depan umum?

"Anda mau makan apa? Bagaimana kalau makanan cepat saji? Satu jam lagi anda harus sudah berangkat ke luar kota, bukan?" Athrun menuntun tubuh Cagalli dengan gerakan sewajarnya agar tidak menarik perhatian orang-orang disekitarnya. Dari jauh, Kisaka memperhatikan mereka berdua.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Athrun hanya menatap Cagalli dalam diam, sedangkan yang ditatap tetap tidak bergeming. Dia sibuk memainkan kentang goreng dibandingkan sibuk menghabiskannya. Restoran cepat saji yang terletak tidak jauh dari gedung parlemen siang ini tidak begitu ramai, jadi Athrun bisa sedikit bernafas lega. Dia tidak perlu memikirkan mengenai tatapan aneh yang selalu ia dapatkan jika pergi keluar berdua dengan Cagalli. Sebetulnya dia ingin memeluk Cagalli, membuatnya merasa aman dan nyaman, menjaganya seerat mungkin, mengecup keningnya dengan lembut. Dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Cagalli menghela nafas panjang. "Kita berangkat jam dua belas nanti."

"Cagalli-Sama, apa anda baik-baik saja?" Athrun masih berusaha untuk mengendalikan diri dan memanggil Cagalli dengan panggilan formal.

"Jika kau dihadapkan dengan sebuah pilihan, antara membunuh anak kecil yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi demi menemukan obat untuk mencegah anak lainnya terkena penyakit itu, atau, kau akan memerintahkan seluruh anak buahmu untuk menemukan obat yang bisa digunakan tanpa harus mengorbankan siapa pun, tapi selama proses itu, bisa saja kau membunuh semua anak kecil yang ada di negaramu. Mana yang kau pilih?" Tanya Cagalli dengan air muka serius.

"Itu pilihan yang sulit..."

"Semua...tidak ada yang mudah, Athrun..." Cagalli meminum kopi panas dari cup ukuran sedang. "Aku ingin tahu pendapatmu, sebagai seorang pilot Gundam..."

"Jangan samakan situasi anda dengan situasi saya." Dalam hati Athrun mengutuk dirinya sendiri karena dia bisa dengan mudahnya bercakap-cakap dengan wanita yang ia cintai dengan sepenuh hati seolah-olah tidak ada perasaan apa-apa diantara mereka, selain bahwa mereka adalah presiden dan pengawal pribadinya. "Posisi saya, berada di belakang kokpit Gundam, tidak memiliki pilihan lain. Sebagai seorang prajurit, saya harus melaksanakan perintah yang diberikan oleh atasan, tidak boleh mempertanyakannya. Jika iya, maka anda akan dicap sebagai pembangkang. Tidak boleh memiliki jalan pikiran yang berbeda, atau anda akan dicap sebagai pengkhianat." Athrun menarik nafas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Tapi anda, beda. Anda memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk melakukan hal lain, untuk menyuruh orang melakukan sesuatu. Anda harus menggunakannya, tapi jangan disalah gunakan. Anda harus menjadi pemimpin yang berpihak kepada rakyat."

"Jadi kau setuju dengan 'bunuh sedikit untuk menyelamatkan banyak'?"

"Jika itu yang diinginkan oleh rakyat anda, kenapa tidak?"

"Athrun," Cagalli menatap Athrun tidak percaya. "Kau, bisa berkata seperti itu dengan mudahnya..."

"Bukankah anda menanyakan pendapat saya?" Athrun bertanya. "Terkadang, kita harus berkorban untuk sesuatu. Kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan, harus ada yang dikorbankan. Dan para orang tua, mereka pasti bisa mengerti."

"Tidak semudah itu, Athrun..."

"Memang tidak pernah mudah. Menjadi seorang pemimpin tidak pernah mudah, Cagalli-Sama."

Cagalli menarik nafas. "Ayo habiskan makananmu, sebentar lagi kita sudah harus berangkat." Diambilnya kentang goreng yang berada di piring Athrun.

Athrun tersenyum, ia jadi merasa bersalah. Rasanya dia terlalu keras kepada Cagalli. Tapi apa yang dia katakan itu benar, menurutnya. Tidak ada yang mudah di dunia ini. Sama seperti hubungan mereka, tidak semudah itu...

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Perjalanan menuju ke luar kota tidak begitu lama, hanya satu jam. Selama perjalanan Cagalli tepekur membaca salinan mengenai proyek penelitian obat tersebut, dan dia baru menyadari bahwa 40% dari anak-anak yang terinfeksi penyakit itu adalah para Coordinator.

"Sungguh?" Athrun tidak percaya mendengarnya.

"Ya. Atau laporan ini berbohong, entah yang mana yang benar." Cagalli menggigit bibirnya. "Jika aku menyetujui proyek ini setelah membaca laporan ini, bukannya akan terlihat agak aneh? Nanti mereka malah berpikir kalau aku berubah pikiran karena yang terinfeksi sebagian besar adalah Coordinator."

"Cagalli, kau tidak perlu berpikir seperti itu. Jika kau terus memikirkan apa reaksi orang-orang atas pilihanmu, semua tidak akan selesai. Selalu ada baik dan buruk untuk segala hal. Jadi kau harus memastikan, sebelum memutuskan sesuatu, kau yakin bahwa keputusanmu itu akan memberikan lebih banyak kebaikan dibandingkan buruknya." Paling tidak Athrun tidak perlu menggunakan bahasa formal lagi sekarang, sebab di dalam mobil hanya ada dia dan Cagalli. Oh, dan seorang supir. Tapi ada pembatas antara kursi depan dengan kursi belakang, jadi rasanya si supir tidak akan mendengar percakapan mereka.

Cagalli memijat-mijat keningnya. Athrun akhirnya pindah tempat duduk , ke samping Cagalli. Dengan lembut ia merangkul Cagalli, lalu memijat kening wanita itu. "Kau terlalu tegang."

"Tentu saja aku tegang! Bagaimana mungkin aku tidak tegang?!" Omel Cagalli. Awalnya dia merasa nyaman berada dalam pelukan Athrun, tapi dengan cepat ia mendorong tubuh pria itu menjauh. "Aku takut..."

Athrun mengerutkan kening. "Takut kenapa?"

Wajah Cagalli merona. "Kalau aku tidak bisa menahan diri, dan, dan...lepas kendali..." Ucapannya lebih mirip bisikan.

Pipi Athrun memerah, "Maaf, aku lupa..." Dengan susah payah dia kembali ke tempatnya semula. "Semoga saja nanti aku dapat kamar sendiri. Kalau kita sekamar, mungkin aku tidak menahan diri lebih lama..."

Warna merah menyembur hingga ke ujung telinga Cagalli. "Athrun! Kenapa pikiranmu seperti itu?!"

Athrun menggaruk-garuk pipinya. Dalam hati, Cagalli juga berharap mereka tidak akan sekamar! Bisa celaka tiga belas nanti!

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Kami benar-benar minta maaf, Cagalli-Sama!" Pemilik hotel tempat Cagalli menginap menunduk serendah-rendahnya kepada Cagalli. "Kamar hotel kami sudah penuh semua, kami tidak tahu bahwa pengawal pribadi anda akan ikut juga..."

Cagalli memijat-mijat keningnya. Ucapan pemilik hotel itu terdengar aneh. Maksudnya, apa ada seorang presiden yang akan pergi kemana-mana tanpa ditemani paling tidak satu pengawal pribadi? Tapi Cagalli berusaha untuk bersikap baik dan berkata tidak apa-apa, tetapi dia memesan kasur ekstra untuk Athrun (Yang sesungguhnya, kasur itu tidak akan berguna. Untung saja kasur itu diberikan cuma-cuma oleh pihak hotel, jadi Cagalli tidak harus membayarnya.).

Dan sekarang, Cagalli berdiri disebelah Athrun. Di dalam kamar yang sama, untuk lima hari ke depan. Cagalli menelan ludah berkali-kali, bingung apa dia harus merasa bahagia atau tertekan. "Athrun, aku mohon, jangan melakukan hal-hal yang aneh..."

"Ya, baiklah." Jawab Athrun sedikt kecewa. Habis, mau bagaimana lagi? Mereka bukan sedang bulan madu, Cagalli ada pekerjaan! Jadi Athrun tidak boleh mengacaukannya, dan dia harus memastikan bahwa Cagalli sendiri tidak akan mengacaukannya. Waow, sulit sekali rasanya! Well, memang tidak ada yang pernah mudah bukan, dalam hubungan mereka?