Yosh, update fic! Ummm, ini belum masuk ke M sih, nampakny... Masih T kok ...

Seluruh karakter milik Sunrise...


Hari Pertama

Jam tangan digital milik Athrun sudah menunjukan angka 01.30 ketika ia dan Cagalli tiba di kamar. Terima kasih kepada pihak hotel yang lalai menyiapkan ruangan untuk konferensi pers membuat seluruh jadwal acara jadi kacau. Pihak pemerintah serta wartawan sempat marah waktu mengetahui hal ini, ditambah mereka dibuat menunggu selama satu jam (pihak hotel mengatakan bahwa semuanya akan siap jam setengah delapan, namun sampai jam sembilan persiapan untuk konferensi pers belum siap juga.). Cagalli yang sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi akhirnya memutuskan untuk melakukan konferensi pers dadakan di lobi hotel – yang untungnya sangat besar sehingga tidak begitu mengganggu tamu hotel yang lain.

Dua hembusan nafas menggema di President Suite yang ditempati Athrun dan Cagalli.

"Lebih baik kau tidur sekarang, Cagalli." Athrun mengelus lembut kepala Cagalli.

"Untuk apa? Toh nanti jam tujuh aku harus..."

"Tidur sekarang!" Suara tegas Athrun memotong alasan Cagalli. "Masih ada waktu sekitar lima jam untuk tidur. Kau harus memanfaatkannya sebaik mungkin, Cagalli. Atau kau bisa sakit nanti."

Cagalli kembali menghela nafas. "Iya-iya..." Sebelum ia berganti pakaian, ditatapnya Athrun. "Jangan melakukan hal yang aneh-aneh saat aku tidur nanti!"

Athrun mengendus. "Tenang, aku terlalu lelah untuk melakukan hal yang aneh-aneh kepadamu."

"ATHRUN!" Pekik Cagalli kesal. Sebuah bantal melayang ke arah pria berambut navy blue dan sayangnya tidak mendarat diwajahnya, malah mendarat di lantai.

Hari pertama, tidak terjadi apa-apa. Kata Athrun dalam hati. Masih empat hari lagi, apa aku sanggup?

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Hari Kedua

Cahaya matahari pagi menembus gorden jendela berwarna hitam yang masih tertutup, menerpa sosok tegap yang tertidur di sofa dalam posisi duduk sambil bertopang dagu. Sebuah dering telepon mengejutkannya hingga ia terloncat, dengan cepat ia berlari meraih telepon yang disediakan oleh pihak hotel. "Ya?"

"Ah, apakah Cagalli-Sama sudah bangun?" Tanya suara diseberang sana.

Manik zamrud miliknya segera mencari target yang dimaksud. Orang itu tidak ada di kasur, apa dia sudah bangun? "Ya, Cagalli-Sama sudah bangun."

"Bisa tolong katakan kepada Cagalli-Sama bahwa kami akan segera sarapan pukul tujuh tepat?"

Sekarang bola matanya beralih ke jam tangan digital miliknya, 06.00, masih sejam lagi. "Baik, akan saya sampaikan."

"Terima kasih." Penelepon mengakhiri percakapan.

Athrun meletakan kembali gagang telepon ke tempat semula. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, namun tidak menemukan sosok Cagalli dimana pun. Dengan nyawa yang belum genap pria itu berjalan menuju kamar mandi.

'clerk'

Terdengar bunyi pintu kamar mandi terbuka. Sedetik kemudian mata Athrun yang tadi masih sayu langsung melek 100% ketika melihat sosok berambut pirang tengah mandi dibawah siraman air shower. Shower di kamar mandi hanya menggunakan sebuah kaca bening setinggi badan sebagai pelindunginya.

"Ah." Gumaman itu meluncur dengan cepat dan tanpa disadari oleh orang yang menggumamkannya. Akibatnya sosok yang tengah mandi itu menoleh, wajahnya memerah. Jika bisa, pasti akan ada asap yang keluar dari ubun-ubun kepalanya.

"Kyaaaa!"

'bug!'

"Uwaaaa!"

Itu bunyi apa? Teriakan pertama berasal dari Cagalli, karena dia kaget melihat Athrun berdiri diambang pintu kamar mandi. Refleks, ia melempar sabun yang ia genggam dan mendarat dengan indah diwajah Athrun hingga pria itu berteriak kesakitan bukan hanya karena kena hantaman sabun tapi juga karena terjatuh ke lantai.

"Athrun! Apa-apaan kau?!" Teriak Cagalli yang sudah menutupi tubuhnya dengan handuk dan sudah keluar dari dalam shower dan segera menghampiri Athrun yang masih berbaring di lantai. Ia jongkok disamping Athrun.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu!" Mungkin karena baru bangun makanya Athrun jadi agak marah karena dihantam dengan sabun oleh Cagalli. Ia mengusap-usap hidungnya yang terkena sabun, mencoba merasakan apakah hidungnya baik-baik saja atau tidak.

"Ma, maaf..." Ucap Cagalli lirih dan membuang muka. Ia semakin menyilangkan satu tangannya didepan dadanya. Takut handuk yang hanya mampu menutupi tubuhnya dari dada hingga hum – mungkin sekitar lima senti diatas lutut itu lepas.

Athrun menelan ludah berkali-kali saat menyadari sosok Cagalli sudah berada disebelahnya. Tubuhnya memanas, wajahnya memerah. "Ta, tadi ada telepon yang mengatakan sarapan jam tujuh." Dengan agak linglung Athrun bangun. "A, aku tidak tahu kalau sedang mandi. Maaf," ia keluar dengan wajah menunduk kemudian menutup pintu.

Cagalli terjatuh lemas, kakinya gemetar begitu hebat sampai-sampai ia seperti sudah tidak punya tulang lagi. Ia harap-harap cemas dengan apa yang akan dilakukan oleh Athrun. Ia bersyukur karena Athrun tidak – ehem – menyerangnya dan dia tidak menyerang Athrun. Bersyukur, namun terbesit sedikit rasa kecewa. Tunggu, kecewa?! Cagalli menepuk pipinya berkali-kali lalu bangkit berdiri. Buang jauh-jauh pikiran macam itu, Cagalli! Batinnya.

Sementara disisi lain, setelah keluar dari kamar mandi tubuh Athrun langsung merosot jatuh hingga ia duduk dilantai. Dalam hati ia lega karena berhasil mengendalikan diri dan tidak melakukan apa pun kepada Cagalli – kecuali melihatnya sedang mandi, yang mana itu adalah sebuah kecelakaan kecil.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Pukul 06.50 Cagalli serta Athrun sudah berada di restoran hotel. Para staff terlihat sibuk mengatur tempat duduk untuk beberapa tamu undangan. Athrun menarik sebuah kursi untuk Cagalli.

"Cagalli-Sama, anda terlihat begitu cantik!" Seorang pria paruh baya yang entah datang dari mana tiba-tiba memuji Cagalli.

"Ah, um, terima kasih." Balas Cagalli kikuk. Biasanya dia akan langsung marah jika ada yang memujinya cantik. Aneh, padahal Cagalli memang cantik kan?

"Sangat disayangkan, anda masih melajang," lanjut pria yang sama.

Telinga Athrun langsung panas, dan tubuhnya bergetar. Ia merasa ada sesuatu dalam tubuhnya yang bereaksi atas ucapan pria itu. Namun Athrun masih bersikap biasa, dia tidak boleh hilng kendali. Sedangkan Cagalli, ia merasa sebuah pisau tertancap tepat dihatinya. Ia hanya bisa tertawa gugup untuk membalas kalimat si pria.

"Padahal anda dan Yuna sangat cocok, Cagalli-sama." Lanjut pria yang sama. Ketika mengucapkan kalimat itu, dia sempat melirik kearah Athrun, sambil memberikan seringai menyebalkan.

Athrun mempererat genggaman tangannya dikursi Cagalli.

"Saya tidak mengerti mengapa banyak yang mengatakan hal demikian," sahut Cagalli. "padahal jelas-jelas kami tidak cocok satu sama lain. Dan jika anda bertanya kenapa, rasanya anda tahu, bukan?"

Pria itu tertawa. "Ya-ya. Keluarga mereka sangat ceroboh."

Ceroboh? Hah, mereka lebih dari ceroboh! Mereka itu... Cagalli menghentikan pemikirannya. Tidak, sebenci apa pun dia terhadap keluarga Seiran, dia tidak boleh memunjukan perasaan itu. Saat ia berusaha mencari topik lain untuk dibicarakan, untungnya seorang pelayan sudah datang dan melakukannya. Ia menawarkan kopi atau teh bagi para anggota parlemen. Athrun duduk disebelah kiri Cagalli, sementara pria tadi duduk disebelah kanannya. Dalam hati Cagalli mengutuk siapa pun yang mengatur pembagian kursi untuk sarapan.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Pria menyebalkan!" Teriak Cagalli di dalam mobil yang mengantarkannya ke sebuah pabrik obat.

Athrun hanya bisa menghela nafas panjang. Sesungguhnya dia juga benci pria yang bahkan namanya tidak ia ketahui itu! Tapi mau bagaimana lagi? Jika Athrun bereaksi sedikit saja di dalam tadi, pasti akan timbul berbagai macam reaksi. Dan reaksi-reaksi itu, bisa saja menghancurkan Cagalli. Athrun sudah menghancurkan wanita itu sebelumnya, dia tidak mau melakukannya lagi.

Tidak ada yang terucap sepanjang perjalanan – bahkan hingga langit menjadi gelap, keduanya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Hari ketiga

Hujan turun mengguyur tanpa memberi peringatan apa pun sebelumnya. Langit cerah itu tiba-tiba berubah menjadi gelap bersamaan turunnya air hujan. Cagalli mau tidak mau menggunakan kemejanya sebagai pelindung, Athrun juga melakukan hal yang sama. Mereka memutuskan untuk berjalan kaki untuk kembali ke hotel karena gedung tempat dilaksanakan pertemuan tidak begitu jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam bila berjalan kaki. Mereka berdua berlari di trotoar, menerobos hujan yang semakin lebat.

Sebuah mobil melaju dengan kecepatan kencang, membuat pakaian Cagalli terciprat air. Cagalli berteriak kesal sambil melempar kemeja ke tanah, tapi mobil itu sudah pergi jauh, jadi omelan Cagalli tidak terdengar.

"Bisa-bisanya dia melakukan hal itu kepada presiden ORB!" Bentak Cagalli kesal.

Athrun sweatdrop karena baru kali ini dia melihat Cagalli marah hanya karena masalah kecil seperti ini. "Sudah lah Cagalli, mau bagaimana lagi. Kau masih ada baju yang lain kan?"

"Masih sih, tapi kan..."

"Sudah, sudah," Athrun memberikan kemejanya kepada Cagalli, kemudian dipungutnya kemeja warna ungu milik Cagalli yang sudah berlapis lumpur.

Cagalli mengembalikan kemeja Athrun dan menyambar kemejanya sendiri. Tanpa mengatakan apa-apa, dia kembali berlari. Sementara Athrun hanya tersenyum geli.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Hatchi!" Cagalli bersin untuk kesekian kalinya.

Athrun yang tengah menyeduh teh hangat melirik wanita bermata amber itu. "Nampaknya kau demam. Mungkin karena kehujanan tadi. Apa kau bawa obat?"

Cagalli mencibir. "Ayolah! Aku cuma kehujanan selama sepuluh menit, masa bisa langsung demam?!"

Athrun meletakan teko warna putih, berjalan mendekati Cagalli. Ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Cagalli.

"Ka, kau mau apa?!" Tanya Cagalli panik.

Tanpa menjawab, Athrun menempelkan keningnya ke kening Cagalli untuk mengukur suhu tubuh gadis itu. "Hum, agak panas." Dilepeaskan keningnya. "Wajahmu juga memerah."

Bodoh, wajahku memerah bukan karena demam! "Apa-apaan sih?!" Cagalli menepis lengan Athrun dari bahunya. "Aku baik-baik saja!"

Athrun menghela nafas pasrah. "Terserah kau sajalah..."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Hari Keempat

Cagalli terduduk di ranjang dengan sebuah termometer dimulutnya, wajahnya merah. Athrun duduk disebuah kursi tidak jauh dari ranjang berukuran king size.

"Anda demam, Cagalli-Sama." Kata seorang pria dalam pakaian dokter. "Anda harus istirahat. Anda sudah tidak ada kunjungan kerja bukan, hari ini? Saya sarankan anda beristirahat seharian penuh."

Cagalli menghela nafas panjang. "Baik."

"Ini obatnya," dokter itu menyerahkan secarik kertas kepada Athrun. "tolong jaga Cagalli-Sama. Terkadang dia suka keras kepala."

"Ya, saya mengerti." Athrun mengangguk pelan. "Terima kasih, dok."

Athrun mengantar si dokter keluar dari kamar. Setelah tidak ada siapa-siapa lagi, Athrun menghela nafas panjang. "Aku sudah bilang kan?"

"Aku tahu..." Bisik Cagalli lirih. Wajahnya yang sudah merah karena demam semakin merah karena menahan malu. Tadi pagi ketika ingin mandi, Cagalli kehilangan keseimbangan, dan jatuh pingsan. Begitu ia membuka matanya, Athrun sudah ada disebelahnya dengan wajah panik. Selama mereka bersama, baru kali ini Cagalli melihat wajah khawatir Athrun. Khawatir kepada dirinya.

Athrun duduk disebelah Cagalli yang masih duduk bersandar disandaran kasur. Dibelainya lembut rambut berantakan Cagalli. Wajahnya sudah terlihat agak rileks sekarang. "Kenapa kau tidak mau mendengarkanku kemarin dan langsung minum obat, Cagalli?"

"Kau terlalu berlebihan," ucap Cagalli, "toh aku cuma demam..."

Belum selesai Cagalli bicara, tubuhnya sudah ditarik oleh Athrun kedalam pelukannya. Begitu erat, sangat dekat, sampai-sampai Cagalli bisa mendengar detak jantung Athrun yang semakin cepat. "Jika sesuatu terjadi kepadamu, aku... Aku sudah pernah gagal melindungimu, dan aku tidak mau gagal lagi, Cagalli."

Cagalli mendesah. Ia balik memeluk Athrun. "Iya-iya, maafkan aku."

Sunyi menyergap mereka berdua. Baru kali ini juga Cagalli merasa begitu aman dalam pelukan Athrun, sebab ia tahu bahwa pria yang ia peluk tidak akan pergi kemana-mana lagi, dia akan selalu ada untuknya sekarang. Memang, mereka terpaksa menyakiti seseorang untuk bisa bersama. Namun, jauh dilubuk hati keduanya, mereka sadar, akan lebih banyak orang yang terluka jika mereka tidak bersama.

Satu kecupan mendarat dibibir Cagalli. Diserang tiba-tiba membuat Cagalli kaget.

"Athrun! Apa-apaan?!"

Bukannya menjawab, Athrun malah kembali mencium Cagalli. Karena sedang demam, kekuatan Cagalli untuk melawan berkurang setengah, sehingga ia bahkan tidak sanggup melepaskan tangan Athrun yang mencengkram tangannya.

"Bodoh, apa kau mau tertular demamku?!" Tanya Cagalli ngos-ngosan. Apa karena dia sedang demam, makanya baru dicium dua kali oleh Athrun nafasnya sudah tidak beraturan seperti sekarang?

"Ya, agar kau bisa sembuh lebih cepat." Jawab Athrun dengan wajah tegas. Didorongnya tubuh Cagalli hingga jatuh terlentang dikasur, Athrun berada diatasnya. "Dan ini hukuman karena kau tidak mendengarkanku kemarin."

"Ap, apaan kau..." Kalimat Cagalli terhenti sebab mulut Athrun sudah mengunci mulutnya dengan lembut. Tidak mempunyai tenaga untuk melawan lagi, Cagalli akhirnya pasrah menerima 'hukuman' dari Athrun. Dalam hati ia marah-marah karena dia yang membuat semua ini terjadi, namun disisi lain dia memang menginginkan hal ini untuk terjadi...

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Hari Kelima

Cahaya matahari pagi masuk menerobos gorden jendela. Cagalli sudah bangun daritadi, tengah menyandarkan tubuhnya ke sandaran kasur. Dia kecewa kepada dirinya sendiri atas kejadian kemarin. Ya, seharian kemarin Athrun 'menghukum' dirinya. Cagalli menutupi wajahnya menggunakan sebuah bantal. Wajahnya sudah merah semerah merahnya jika mengingat kejadian kemarin. Tapi yah, terima kasih atas 'hukuman' dari Athrun, demam Cagalli sudah agak mendingan sekarang. Malah Cagalli merasa demam sudah menghilang dari tubuhnya! Ajaib!

Sambil berjinjit, Cagalli keluar dari balik selimut tebal dan berjalan menuju kamar mandi. Belum sampai tangannya ke kenop pintu, sebuah tangan sudah melingkar dipinggangnya.

"Kau mau kemana?" Bisik Athrun mesra tepat ditelinga Cagalli. Membuat tengkuk Cagalli merinding karena desah nafas Athrun menyapu tengkuknya.

"Mandi." Jawab Cagalli singkat.

"Baik, kalau begitu kita mandi bersama!" Seru Athrun. Sebelum Cagalli protes, dia sudah membopong Cagalli dengan bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Syukurlah anda sudah sembuh, Cagalli-Sama!" Ujar salah satu staff hotel.

"Terima kasih," Cagalli membungkuk. "Aku minta maaf karena telah menyusahkan kalian."

"Ah, tidak, tidak sama sekali." Sang manager hotel melambaikan tangan. "Seharusnya kami yang minta maaf karena tidak bisa memberikan pelayanan yang terbaik untuk Cagalli-Sama."

Cagalli tersenyum – dipaksa. Sebab dia masih kesal dengan kesalahan pihak hotel yang menyebabkan dia harus berbagi kamar dengan Athrun selama lima hari.

Setelah sarapan dan basa basi, Cagalli pamit pulang. Athrun yang berdiri dibelakangnya berkata.

"Maaf."

"Untuk apa?"

"Ya, untuk apa yang terjadi. Semuanya..." Athrun menggaruk-garuk pipinya yang memerah. "Aku... aku... terlalu berlebihan yah?"

Cagalli mendelik marah. "Terlalu katamu? Sangat berlebihan, Athrun!"

"Kalau kau tidak suka, kenapa tidak menghentikanku?" Tanya Athrun dengan suara pelan. Takut ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.

Sejurus kemudian, tubuh Cagalli berhenti berjalan. Athrun nyaris menabraknya.

"Kau benar, seharusnya aku menghentikanmu." Ungkap Cagalli. Tapi kenapa aku tidak menghentikannya?! Jangan bilang... Wajah Cagalli memerah.

"Kau kenapa? Masih demam?"

Cagalli memutar tubuhnya, menatap Athrun yang memandanginya dengan terheran-heran, kemudian meninju hidung Athrun hingga berdarah. Beberapa orang yang melihat sempat kaget, bahkan ada yang ingin menahan Athrun karena mereka pikir Athrun adalah pria hidung belang yang macam-macam kepada Cagalli. Bagian macam-macamnya sih benar...

Dalam keadaan bingung dan hidung berdarah, Athrun mengejar Cagalli dan menagih penjelasan atas sikapnya.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Butuh waktu tiga jam untuk kembali ke ibu kota. Cagalli lupa kalau sekarang hari libur, sehingga jalanan macet. Kisaka menyambut kedatangan kedua mempelai – eh salah – kedatangan sang presiden dan pengawal pribadinya. Seperti dugaan Cagalli, hal pertama yang ditanyakan Kisaka adalah kondisi kesehatan Cagalli.

"Aku sudah sembuh, Kisaka. Tenang saja." Kata Cagalli.

"Kau sempat membuat rombongan panik!" Lanjut Kisaka.

"Maaf," Cagalli menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Loh, Athrun, kau kenapa?" Kisaka menyadari kalau sedari tadi Athrun menekan hidungnya menggunakan sapu tangan.

"Cagalli meninjuku hingga hidungku berdarah," jawab Athrun sambil melirik ke Cagalli. Sementara yang dilirik balas menatap dengan tajam.

Kisaka hanya bisa memiringkan kepala, mencoba menebak apa yang terjadi diantara dua sejoli ini. Karena tidak bisa mendapatkan jawaban, Kisaka akhirnya berjalan masuk, memimpin Cagalli dan Athrun.

"Kau tahu, Kisaka? Hotel itu payah! Masa Athrun tidak dapat kamar sendiri! Dia jadi harus sekamar denganku!" Cagalli mengeluarkan uneg-unegnya.

"Oh, itu," Kisaka yang tadinya berjalan di depan Cagalli langsung berhenti. "aku yang menyuruh mereka."

"Eh?" Celetuk Athrun dan Cagalli bersamaan.

"Aku lihat belakangan ini kalian agak menjauh, jadi aku kira kalian ada masalah." Kisaka tersenyum jahil. "Makanya aku sengaja menyatukan kalian dalam satu kamar."

"KISAKA!" Teriak Cagalli nyaring. Wajahnya merah bukan main.

Sedangkan Athrun, hanya diam mematung. Dia bingung, apakah dia harus berterima kasih atau marah kepada Kisaka. Mungkin marah, karena secara tidak langsung Kisaka yang membuat hidungnya berdarah. Tapi ada perasaan senang juga, sebab jka bukan karena Kisaka, Athrun tidak bisa 'menghukum' Cagalli seharian kemarin. Sungguh perasaan yang sulit dicerna!


CloLi : Tidaaaaaaaaak, akhirny Athrun menyerang Cagalli! Wuhahahah. Maaf Athrun, saia membuat dikau sangat agresif kali ini, soalny saia lagi frustasi...

*muncul Athrun* Loh, terus kok saia yang kena imbasnya?!

CloLi : Ya,kalau bukan kamu, siapa lagi?

Athrun : *Timpuk CloLi pake Infinite Justice* Gara-gara situ hidung saia berdarah! Tanggung jawab!

CloLi : *ngibrit naik Eternal*

Athrun : Tunggu woyyyyy!

wkwkwk, gaje...maklum, author lagi stress. Fic ini mungkin akan tamat dalam dua atau tiga chap lagi, soalny saia mulai melupakan plot awalny. Takut ntar ngalor-liindur gak jelas, lebih baik saia akhiri saja. Dan fokus mencari ide untuk fic baru.

Terima kasih buat yang udah mau meluangkan waktu baca fic ini dan juga memberi review. Tanpa kalian, fic ini tidak akan ada *bows*