Belakangan saia berpikir bagaimana ending yang bagus untuk fic ini. Setelah berpikir, satu ending yang tidak ingin saia buat adalah, Cagalli hamil. Saia senang jika mereka bersama, tapi, entah kenapa, kalau membuat fic dengan ending Cagalli hamil, itu bukan ciri khas saia. Sejauh ini, fic saia yang sudah tamat, belum ada yang endingnya si tokoh wanita hamil, ah, saia juga kurang ngerti kenapa. Tapi untuk saia pribadi, hanya melihat pairing yang saia cintai bersatu *bersatu entah dengan pernikahaan, atau jadian*, itu udah membuat saia bahagia. Gak perlu sampai dilihatin punya anak atau gimana. Ini prinsip hidup saia, dan secara gak langsung mempengaruhi penulisan saia.
Jadi untuk para pembaca fic saia, jika kamu berharap untuk saia membuat ending dengan kehamilan si tokoh wanita, maaf, tapi kamu tidak akan mendapatkanny.
Ini chapter special, soalny, yah, saia emang lagi bingung sama ending fic ini, hahahah. Well, enjoy.
Gundam Seed Destiny milik Sunrise.
Blue vs Blue
Seorang wanita berambut pirang menatap manik mata cokelat dihadapannya, tidak bergeming, tidak berkedip. Suasana di dalam ruang baca kediaman Athha siang ini begitu hening, hanya terdengar suara ombak yang pecah dari luar, serta suara burung camar.
"Apa kau yakin, Cagalli? Dia saja tidak bisa memperbaikinya waktu itu. Apa yang membuatmu yakin kalau kau bisa melakukannya? Tanpa bantuan dia, melakukannya sembunyi-sembunyi dari dia?" Suara bariton pria dihadapan Cagalli memecah kesunyian.
"Aku masih punya waktu sebulan, Kira. Aku pasti bisa." Jawab Cagalli yakin.
Pria bernama Kira itu menghembuskan nafas panjang, dia menyerah. Tangannya mendorong sebuah kotak warna putih ke hadapan Cagalli. "Ini barangnya, jaga baik-baik, Cagalli. Ingat, kau hanya punya waktu sebulan. Dan aku tidak bisa membantumu."
Cagalli mengangguk paham. "Tolong rahasiakan ini dari Athrun..."
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Seminggu kemudian...
Athrun menyadari bahwa belakangan ini Cagalli agak sedikit aneh. Dia suka kaget sendiri jika Athrun mendekatinya, atau dia akan berteriak histeris saat sosok Athrun muncul dari balik pintu kamarnya. Athrun merasa kalau Cagalli menyembunyikan sesuatu. Ketika ditanya, wanita itu hanya tertawa berlebihan dan menjawab bahwa itu hanya perasaan Athrun saja. Dia akhirnya membiarkan gelagat aneh Cagalli, selama hal itu tidak membahayakan diri wanita itu, Athrun merasa dia tidak perlu ikut campur dalam urusan Cagalli.
Dua minggu kemudian...
Cagalli semakin menjauhi Athrun, pria itu bingung, apakah dia melakukan kesalahn sampai-sampai Cagalli tidak mau berada dalam satu ruangan dengan Athrun untuk jangka waktu yang panjang? Biasanya, selesai makan, Cagalli setidaknya akan menemani Athrun melakukan kegiatannya selama sepuluh menit, sebelum akhirnya kembali melakukan tugasnya sebagai seorang Representative ORB. Namun sekarang, selesai makan, Cagalli langsung pergi tanpa berbasa-basi dulu kepada pria berambut navy blue itu. Tadinya dia tidak ingin mempermasalahkannya, namun, ketika wanita yang dicintai tidak mau bertatap muka dengannya, tentu saja hal itu membuat hati seperti disayat menggunakan pisau. Athrun akhirnya menyerah, dan dia kembali bertanya. Kali ini, bukan kepada Cagalli, tetapi kepada Lacus. Semoga wanita itu mengetahui sesuatu mengenai kelakuan Cagalli yang aneh belakangan ini.
"Eh, Cagalli begitu?" Lacus balik bertanya.
"Ya, aku rasa, dia menyembunyikan sesuatu. Apa itu, aku tidak tahu." Athrun mendesah kecewa. "Apa kau tahu sesuatu, Lacus?"
Tiba-tiba lawan bicara Athrun di telepon tertawa. "Maaf, Athrun. Tetapi aku tidak bisa mengatakannya."
"La, Lacus! Jadi kau tahu apa yang terjadi dengan Cagalli, 'kan?" Tanya Athrun.
"Ya, aku tahu. Tapi aku sudah janji, dan aku tidak bisa melanggarnya."
"Tapi..."
Hati Lacus luluh juga mendengar suara frustasi mantan tunangannya itu, dia tidak tega. "Baiklah, tapi aku hanya akan memberi petunjuk mengenai perubahan sikap Cagalli itu."
Wajah Athrun sedikit berseri. "Apa itu?"
"Biru, imut."
"HAH?" Mulut Athrun terbuka lebar.
"Maaf, Athrun. Kalau aku berkata lebih dari itu, sama saja artinya aku membocorkan rahasia Cagalli." Terdengar suara telepon ditutup dari seberang. Meninggalkan Athrun yang masih penasaran.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Tiga minggu kemudian...
Puncaknya adalah hari ini. Kepala Athrun dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan yang tidak bisa dia jawab, Cagalli yang semakin menjauh darinya, dan penuh rahasia, serta petunjuk dari Lacus.
Biru, imut.
Suara wanita berambut pink itu terus menggema. Apa artinya? Biru, imut. Apa jangan-jangan, Cagalli menemukan pria berambut biru lain, yang lebih imut dari Athrun?! (Sebentar, apa seorang Athrun Zala cocok untuk disebut imut? Huuuum, cocok-cocok aja sih...). Maka dari itu, dia memutuskan untuk bertanya langsung kepada Cagalli. Jika benar bahwa wanita itu telah menemukan pria berambut biru yang lain, asal Cagalli bahagia bersama pria itu, dia akan rela melepaskan Cagalli. Apa pun yang akan terjadi setelah ia bertanya, Athrun siap menanggung akibatnya. Dia rasa, itu lebih baik, dibandingkan terus-terusan bergumul dengan pertanyan tersebut.
Pria itu berdiri di depan pintu kamar Cagalli. Tadinya dia ingin mengetuk pintu, namun kepalan tangannya terhenti. Dia kesal dengan sikap Cagalli selama tiga minggu ini, membuat Athrun seperti orang gila karena menjauhinya dan menyimpan rahasia darinya. Maka, Athrun memutuskan untuk masuk tanpa permisi. "Cagalli, sebetulnya apa yang terjadi?!"
Cagalli duduk dibelakang meja kerjanya, kedua tangannya menggenggam sebuah kotak berwarna putih dengan hiasan pita berwarna biru. Matanya membelak kaget. "Ath, Athrun! Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu?"
Yang ditanya tidak menjawab, dia melangkah dengan cepat menuju ke belakang meja, merampas kotak putih dari tangan Cagalli, walau wanita itu berteriak. Dengan satu tarikan dia berhasil membuka pita, berlanjut ke kota, dan mata birunya melihat sesuatu di sana.
Biru, imut.
Sebuah mainan berbentuk penguin dengan warna biru dibagian tubuhnya, putih untuk bagian perut, serta kuning untuk warna dasi kupu-kupunya dan juga sebuah benda kecil berbentuk kunci di bagian belakangnya. Dia tertegun sejenak, tangannya bergetar. "I, ini..."
"Mainan pertama yang kau buat, iya 'kan?" Lanjut Cagalli. Dia sudah tidak kesal lagi sekarang, sudah percuma.
Athrun memalingkan wajahnya ke Cagalli. "Kau, kau, darimana kau mendapatkan mainan ini, Cagalli?"
"Kira yang memberikannya kepadaku," ia tersenyum. "Aku sedang memikirkan kado apa yang akan aku berikan untukmu tahun ini. Lalu Kira mengusulkan mainan ini. Sayangnya mainan ini sudah rusak, dia tidak bisa memperbaikinya. Kira bilang, sebelum membuat Tori dan Haro, mainan pinguin ini adalah mainan pertama yang kau buat. Mainan ini tidak pernah sempurna, setiap kali kau berhasil membuatnya berjalan, dia pasti langsung rusak lagi. Kau putus asa, lalu menyimpan mainan ini. Hingga kau melupakannya..."
Mata Athrun berkaca-kaca. Dia ingat, dulu, ibunya sering menemaninya hingga larut malam ketika membuat mainan ini. Mainan yang harus diputar dulu bagian belakangnya agar bisa berjalan. Ayahnya selalu mengatakan bahwa itu penemuan sia-sia, namun ibunya mendukung Athrun. Seiring waktu, Athrun tidak pernah berhasil menyempurnakan mainan ini. Selalu ada yang salah tiap kalinya. Membuat Athrun frustasi, ia pun menyerah. Apalagi setelah kematian ibunya, Athrun tidak mau melihat mainan ini lagi. Hanya akan membuat hatinya terluka... "Bagaimana caranya, dia bisa mendapatkan mainan ini? Aku kira, mainan ini sudah hancur..."
"Kata Kira, terakhir kali kau mencoba untuk memperbaiki mainan ini di rumahnya. Mainan ini tertinggal di sana. Ketika Kira ingin mengembalikannya kepadamu, kalian sudah berpisah. Kira masih menyimpannya hingga sekarang, hanya saja dia sudah lupa."
Athrun memeluk Cagalli dengan erat, sementara wanita yang dipeluk terhenyak kaget. Pipinya memerah. Samar-samar, bisa terdengar suara isak tangis Athrun. Apakah pria ini teringat ibunya, sehingga dia menangis? Apakah Cagalli sudah memilih hadiah yang salah? Padahal dia berniat untuk memberikan kejutan yang menyenangkan, kenapa jadi begini?
"At, Athrun... Maaf, aku..."
"Bodoh, kenapa kau minta maaf?" Kata Athrun disela isak tangisnya. Dilepaskan pelukannya, satu tangannya menyentuh pundak Cagalli. "Aku, sangat berterima kasih kepadamu, Cagalli. Ternyata, kau berhasil menyelesaikan apa yang tidak bisa aku selesaikan."
"Coba dulu kau jalankan, baru berikan pujian kepadaku!" kata Cagalli penuh semangat.
Athrun tertular rasa semangat Cagalli, ia pun mengambil mainan pinguin itu dari dalam kotaknya, lalu menjalankan mainan itu. Wajahnya terlihat bahagia ketika si pinguin berjalan dengan gayanya yang khas menelusuri meja Cagalli. "Kau berhasil Cagalli! Kau hebat!" Penguin itu masih berjalan hingga sepuluh langkah, lalu berhenti. Athrun memang baru bisa membuatnya sampai segitu saja.
Terdengar bunyi alaram dari dalam kamar Cagalli, sementara dari kejauhan terdengar dentang jam menunjukan angka 12. Cagalli tersenyum. "Selamat ulang tahun, Athrun."
Athrun menatap Cagalli sekali lagi, bingung untuk beberapa menit hingga akhirnya dia sadar bahwa hari ini tanggal 29 Oktober, hari ulang tahunnya. Dia tersenyum bahagia, dan memberikan sebuah ciuman mesra untuk wanita dihadapannya. "Terima kasih, Cagalli," ia meletakkan kotak putih itu di atas meja Cagalli, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Cagalli, "kau tahu, awalnya aku kira kau menemukan pria lain dan sering bertemu dengannya secara sembunyi-sembunyi."
Cagalli tertawa terbahak-bahak. Selama ini dia pikir Athrun bukanlah tipe pencemburu. Mungkin dia telah salah menilai? "Bodoh, mana mungkin aku bisa berpaling darimu! Kau suka 'kan, dengan hadiahku?"
Athrun tersenyum penuh arti, dan menjawab dengan sebuah ciuman mesra. Awalnya ciuman itu lembut, makin lama keduanya merasa bahwa tidak cukup hanya menikmati tiap inci bibir pasangan mereka. Mereka ingin lebih. Athrun mengambil inisiatif dengan menggerakan lidahnya masuk ke dalam mulut Cagalli, mengajak lidah wanita dalam balutan seragam militer ORB untuk bernari bersama, yang langsung diterima dengan senang hati.
Athrun melepas ciumannya, mendapat tatapan kesal dari Cagalli. "Aku suka, tapi bagiku, hadiah yang paling terindah yang pernah aku dapat, adalah dirimu, Cagalli."
Pipi Cagalli merona merah. "Me, memangnya kapan aku menjadi hadiah untukmu?!"
Yang ditanya tidak menjawab, dia menggendong tubuh Cagalli dengan bridal style dan meletakannya dengan penuh perasaan di atas kasur ukuran king size tersebut. Dengan tergogopoh Athrun berlari ke arah pintu masuk kamar Cagalli, dan Cagalli berteriak tertahan seperti orang yang dicekik.
"Athrun, kau gila!" Wajahnya mendadak panas dan memerah. "Jadi daritadi pintu itu terbuka?! Bagaimana jika ada yang melihatnya?!"
Kepala Athrun menoleh ke kiri kemudian ke kanan, memastikan bahwa keadaan aman. "Tidak ada orang."
"Tapi kan tetap saja..."
'Krieeeet'.
Terdengar suara pintu kamar tertutup dengan perlahan, suara Cagalli tenggelam bersamaan tertutupnya pintu bercat putih itu.
Yah, emang udah kelewat jauh buanget, tapi happy b'day Athrun-kun. Dan ternyata saia belum sanggup untuk menulis fic dengan rating M, ya, baru keinget, ide mainan penguin ini saia ambil dari sebuah gambar Athrun ngasih mainan itu ke Cagalli. Itu salah satu gambar fav saia.
Dan um, setau saia, Asu di Asu Caga itu pelafalan nama Athrun di Jepang, jadiny Asuran. Saia lupa2 inget, kalo salah, tolong dikasih tau yah :).
Ngomong-ngomong, apa pembaca punya saran untuk fic Gundam saia yang berikutny? Saia mau ngambil setting AU, tapi belum tau AU apa yang pas. Sebetulnya udah punya bayangan sih, ada 3 AU. Tapi saia mau tau pendapat kalian.
