From the author's desk : Cihuuuy, akhirny update jugaaaa *nari-nari kegirangan*. Sebetulny ide untuk chap ini buat one-shot baru, tapi karena rasany lebih cocok digunakan sebagai chap penutup fic ini, jadi saia ambil deh. Terima kasih banyak untuk para pembaca yang telah meluangkan waktuny untuk membaca fic ini dan mendukung saia. Ini adalah chapter terakhir dari Sincerely Yours, semoga memuaskan.

Gundam Seed/Destiny miliki Sunrise


Tidak ada yang berbeda pagi ini, Cagalli bangun jam lima untuk bersiap-siap memimpin sebuah negara. Memastikan perdamaian yang telah dicapai tidak dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Semua terlihat sangat normal dan biasa, hingga dia melihat wajah pria berambut navy blue yang setia berdiri di belakangnya, menjaganya dari segala mara bahaya. Dia yang selalu terencana, dia yang selalu ada untuk dirinya. Apa yang telah dia berikan kepada si pria sebagai balasannya? Cinta? Iya, dia mencintainya. Tapi tugasnya sebagai Orb Representative membuatnya harus memilih, cinta atau kewajiban. Dia telah memilih dulu, kewajiban. Dia rela melepaskan pria yang ia cintai demi melaksanakan kewajibannya. Namun pria itu kembali ke sisinya, tersenyum ramah, dan mengenakan seragam militer Orb sekali lagi.

Hatinya terluka setiap kali pria itu tersenyum, setiap kali pria itu mengkhawatirkan dirinya, setiap kali mengatakan bahwa dia akan selalu mencintainya. Dan setiap kali bibir mereka bertemu. Apa yang bisa diberikan kepada pria ini sebagai balasannya? Tentunya dia tidak bisa bertanya langsung seperti itu bukan?

Tanpa disadari malam pun tiba, tapi baru lewat tengah malam Cagalli menyadarinya. Dia sudah terbiasa kerja sampai larut begini, bahkan sampai tidak tidur. Terkadang dia penasaran bagaimana ayahnya bisa membagi waktu ketika beliau masih hidup... Kelopak mata Cagalli basah karena air mata, bukan karena tangis, tapi karena matanya sudah kelelahan memeriksa tumpukan dokumen yang rasanya akan berubah menjadi gunung esok pagi. Atau lebih tepatnya tiga jam kemudian, mengingat ini sudah jam tiga pagi.

Setelah merengganggkan kedua tangannya ke atas dan menggosok-gosok mata menggunakan kedua tanganya, dia berjalan keluar. Keadaan sunyi senyap langsung menyambutnya, tidak terdengar hembusan angin, yang ada hanya suara deru ombak. Ya, sedari tadi nampaknya suara itulah satu-satunya teman Cagalli melewati malam. Dia rasa tidak ada orang di ruang baca, tapi nampaknya dia salah. Seorang pria tengah tertidur dalam posisi duduk bertopang dagu. Jantung Cagalli berdetak lebih cepat.

Aneh, padahal dia sudah sering melihat pria ini, tetapi kenapa setiap kali ia melihat wajahnya, jantung Cagalli selalu lepas kendali? Dan seburat warna merah selalu keluar dari pipinya jika pria itu sudah memberikan perhatiannya. Cinta kah yang bertanggung jawab untuk semua ini? Apakah cinta mampu mengalahkan kewajibannya sebagai presiden? Apakah presiden tidak boleh menikmati susah senangnya orang jatuh hati? Atau, apakah dia yang tidak siap dengan semua ini?

Cagalli berjalan dengan perlahan mendekati pria berambut navy blue yang masih tertidur dan berjongkok di depan kurisnya, ada sebuah buku di atas paha pria itu. Cagalli menatap wajah tidurnya yang damai. Tidak akan pernah bosan dilihat, dan selalu memberikan sebuah perasaan damai, ketika melihat orang yang kita cintai tengah tertidur lelap di dekat kita. Di dalam dekapan kita, tidak ada yang bisa melukainya. Kecuali kita sendiri. Dan Cagalli melakukan itu, dan pria ini juga melakukannya. Mereka saling melindungi, tetapi juga saling melukai. Tidak peduli siapa yang memberikan luka paling dalam, semua terasa sama saja.

Tidak, Cagalli tahu, bahwa dia yang paling melukai Athrun... Dia mendorong pria itu keluar dari hidupnya dengan alasan pekerjaan. Tapi pria itu kembali, dan masuk ke dalam kehidupan Cagalli untuk yang kedua kalinya. Cagalli selalu mendorong pria itu keluar, tapi dia selalu ada di sana untuk Cagalli. Ya, mereka sering memilik pendapat yang berbeda, tapi pria ini selalu menemukan jalan tengahnya. Apa yang membuat pria ini kembali kepadanya? Apakah dia masih merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan di masa lalu?

Dengan tangan gemetar Cagalli menyentuh pipi pria tersebut. Dingin. Sudah berapa lama dia tertidur di sini? Kenapa dia tidak tidur di kamarnya?

"Athrun..." bibir Cagalli bergetar saat menyebut nama pria dihadapannya.

Yang dipanggil membuka kelopak matanya dengan perlahan. Warna hijau zamrud beradu dengan hazel. Pria itu tersenyum, menyentuh lengan Cagalli yang berada di pipinya. "Apa pekerjaanmu sudah selesai, Cagalli?"

"Iya." Cagalli mengangguk. "Sejak kapan kau di sini? Dan untuk apa? Aku sudah mengatakan bahwa kau boleh tidur lebih awal, 'kan?"

"Aku mau minta maaf."

"Hah?" Cagalli memiringkan kepalanya. Tidak paham apa yang membuat Athrun meminta maaf kepadanya. Apa karena kejadian sebulan silam? Ketika mereka pergi ke luar kota untuk lima hari? Rasanya sudah tidak penting lagi. Toh tinju di wajah Athrun rasanya sudah cukup untuk menghukum pria ini.

"Aku hanya ingin minta maaf..."

Jari telunjuk Cagalli menyentuh bibir Athrun. "Hentikan. Jangan dilanjutkan. Seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu, atas apa yang terjadi di masa lalu..." Cagalli berusaha menahan tangisnya, tapi tidak sanggup. Bulir air mata menetes. "Aku, aku tidak bisa... Aku, selalu mendorongmu keluar dari hidupku. Aku... Maafkan aku, Athrun..." suaranya bergetar.

Mulut Athrun terbuka lebar, begitu juga matanya yang tadinya masih mengantuk. Dengan senyum khasnya Athrun menatap Cagalli dengan lembut, menyeka air mata menggunakan jari telunjuknya, dan mengecup kening Cagalli. "Kau tidak perlu minta maaf, Cagalli. Aku, aku bisa memahaminya..."

Cagalli menggeleng. "Tidak, aku. Aku yang salah..."

Athrun menarik Cagalli ke dalam pelukannya. "Tidak peduli siapa yang salah. Semua sudah berakhir, Cagalli. Aku ada di sini untukmu, selalu. Aku hanya ingin selalu bersamamu, di sisimu, melindungimu, mencintaimu..."

Cagalli masih terisak-isak. Dengan mata sembab ditatapnya manik mata Athrun. "Tapi aku tidak bisa selalu ada untukmu..."

"Dan aku tidak pernah ambil pusing dengan hal itu. Ini adalah resiko jika kau menjalin hubungan dengan seorang pemimpin negara. Hei, sudah, ayolah," Athrun mencubit pipi Cagalli. "Kenapa kau tiba-tiba murung seperti ini? Terlalu banyak kerja?"

"Entah, aku juga tidak mengerti." kata Cagalli pelan.

"Bagaimana kalau kita makan... Huuum, ini makan pagi atau malam yah disebutnya?" Athrun mengerutkan kening seolah-oleh tengah memikirkan sebuah masalah yang pelik.

Cagalli tertawa pelan. "Terima kasih, Athrun."

"Hum? Untuk apa?"

"Untuk semuanya. Dan karena telah kembali ke dalam kehidupanku." Cagalli mengecup pipi Athrun dengan cepat.

"Apa hanya sebuah kecupan di pipi saja?" tanya Athrun tepat di telinga Cagalli.

"Hah?" sekarang giliran Cagalli yang bingung. "Memangnya kau mau apa lagi?"

Sebuah seringai muncul di wajah Athrun. "Aku mau lebih..."

Wajah Cagalli memerah. Belum sempat Cagalli membalas, Athrun sudah menciumnya. Bibir yang sama, ciuman yang sama. Tetapi kenapa yang ini rasanya berbeda? Apa yang membuatnya berbeda? Apakah karena mereka sudah saling mengungkapkan isi hati masing-masing? Athrun melepaskan ciumannya, menyatukan kening mereka.

"Terima kasih, Cagalli."

"Untuk apa?"

"Untuk cinta dan kepercayaan yang kau berikan kepadaku..."

Terima kasih, karena kau selalu mencintaiku...


Dan saia tidak bosan untuk mengucapkan terima kasih kepada para pembaca. Terima kasih buat dukunganny, tanpa kalian fic ini tidak akan pernah selesai. Juga terima kasih kepada David Archuleta, si pemilik suara indah dan wajah imut yang telah menemani saia untuk menulis chapter ini, laguny yang berjudul Don't Run Away bagus banget!

Ya, saia merasa kalau ending fic ini kurang mengena, tapi seperti yang pernah saia katakan sebelumny, seharusny fic ini sudah tamat setelah Athrun berbicara ke Meyrin. Tapi saia malah bikin chap baru lagi. Jadi tolong maafkan kekurangan fic ini.

See you in the next fic *yang sebetulny udah on-going* #dihajar