FAMILY ?
.
.
Main Cast :
Cho Kyuhyun as Choi Kyuhyun
Park Jung Soo / Leeteuk
Lee Donghae
Choi Siwon
Another Cast : Find in this story
.
.
Summarry :
Ketika kau tak pernah merasakan kehangatan dan kebahagian dalam keluarga mu sendiri. Meninggalkan semua nya dan mencari kehangatan keluarga lain nya yang mampu mengerti dan menerima mu apa ada nya. Keluarga yang akan memperhatikan dan bersama mu setiap saat.
.
.
† TeukHaeKyu †
Cuaca yang cukup cerah menyelimuti kota Tokyo, Jepang ini. Tak ada sedikit pun yang menghalangi sang matahari untuk menyinari semua yang ada di kota padat tersebut. Orang-orang semakin bersemangat untuk menjalani aktivitasnya masing-masing. Jalanan pun lebih padat oleh para penduduk yang akan bekerja. Gedung-gedung pencakar langit pun sudah terisi oleh pekerja yang telah memulai pekerjaan nya.
Seorang namja dengan jaket dan tas ransel di punggungnya berdiri sembari memperhatikan sebuah gedung yang sangat tinggi di hadapan nya. Ia memandang gedung itu dengan raut wajah datar dan tak dapat di tebak.
Setelah beberapa saat hanya terdiam di depan gedung, namja itu menghela nafas dan mulai melangkahkan kaki nya gedung tersebut.
Choi's Corp
Namja itu kembali terdiam di depan meja receptionis. Ia membisu sembari memperhatikan papan nama yang di ukir begitu indah sebagai penunjuk nama dari gedung tersebut.
"Selamat datang di Choi's Corp. Ada yang bisa kami bantu, tuan?"
Siwon yang segera tersadar dari lamunan nya saat seorang yeoja dengan pakaian formal di meja receptionis itu menyapa nya dengan sopan. Siwon berusaha mencerna maksud dari ucapan menggunakan bahasa Jepang itu sesaat.
"A-ano.. Saya ingin bertemu dengan Tuan dan Nyonya Choi" ucapnya formal. Ia mengeratkan genggaman nya pada tali ransel nya untuk mengurangi rasa gugup.
Yeoja tersebut sedikit mengerutkan dahi nya mendengar pernyataan Siwon. Ia memperhatikan Siwon dari atas hingga bawah dengan seksama. Hanya seorang namja yang belum bisa di bilang dewasa. Sungguh meragukan.
"Apa Anda sudah memiliki janji dengan mereka, tuan?" tanya yeoja itu lagi.
"Aku—aku tidak punya. Tapi aku harus menemui mereka sekarang!" ucap Siwon mantap tapi langsung di sambut dengan gelengan kepala dari sang yeoja.
"Maafkan saya tuan. Presdir begitu sibuk saat ini. Anda harus membuat jadwal terlebih dahulu untuk menemui nya" ucap yeoja itu membuat Siwon geram.
"Tapi aku harus bertemu dengan mereka sekarang juga!"pekik Siwon kesal. Sang yeoja sedikit terkejut dengan pekikan Siwon yang menggema di hall perusahaan itu. Orang-orang yang berjalan di sekitar mereka pun menoleh dengan tatapan risih.
"Tolong jangan membuat keributan di sini, adik kecil" tegur wanita itu masih dengan kesabaran.
"Aku bukan anak kecil dan sekarang beri tahu aku dimana ruangan Presdir!" titah Siwon melupakan etiket sopan itu mulai geram dengan tingkah Siwon.
"Sebaiknya kau pergi sekarang juga sebelum saya penggil keamanan untuk membawa mu keluar" ucap wanita itu tajam.
"Kau akan menyesal berbicara tidak sopan pada ku, ahjumma!" tantang Siwon dengan bahasa korea nya yang sedikit kasar tak peduli wanita itu mengerti atau tidak.
Wanita tersebut mengepalkan tangan nya, pandangan nya mulai mencari ke sekitar hall dan seakan meminta bantuan pada security yang sedaritadi memperhatikan kedua nya. Siwon menyadari security tersebut telah melangkah menghampiri nya. Ia pun mulai memutar otak nya mencari cara untuk lolos.
Ting!
Pandangan Siwon terfokus pada lift yang baru saja terbuka. Beberapa orang keluar dari dalam lift tersebut. Tanpa pikir panjang, Siwon langsung berlari menuju lift yang masih terbuka itu, menulikan telinga nya dari teriakan wanita receptionis yang memanggilnya.
"Hei! Siapa pun tolong hentikan anak itu!"
Siwon mengukir senyum kemenangan saat pintu lift sudah tertutup sebelum 2 orang security masuk ke dalam nya. Ia menghela nafas lalu menyenderkan tubuhnya di dinding lift. Sekarang ia harus kemana? Ia tahu dimana ruangan orang tua nya dan ia yakin security itu masih mengejarnya.
Terpancar rasa lelah dan sedih di kedua obsidian mata nya yang jernih itu. Ia hanya memperhatikan layar tombol di lift yang sekarang telah menunjukan lantai 7. Siwon sedikit berwaspada saat pintu lift itu terbuka namun ia menghela nafas lega saat hanya seorang namja paruh baya yang masuk ke dalam lift dengan tumpukan banyak file. Laki-laki itu melirik kearah Siwon sambil mengerutkan dahi nya namun tetap memberi senyuman menyapa.
"Ah a-ano…" panggil Siwon yang sedikit bingung harus mengatakan apa. Bahasa Jepang nya tidak terlalu lancar dan kosakata nya sangat minim.
"Ye? Ada apa?" Siwon terkaget saat laki-laki itu membalas panggilan nya dengan bahasa korea. Siwon melebarkan senyuman nya.
"Anda orang korea?" tanya Siwon setidaknya untuk basa-basi. Laki-laki itu tersenyum lalu mengangguk.
"Begini.. Bisa anda beritahu saya dimana ruangan Presdir saat ini?" tanya Siwon dengan sopan.
"Ah! Kau ingin menemui Presdir?" tanya laki-laki itu. Siwon langsung mengangguk mantap.
"Ruangan Presdir ada di lantai paling atas, lantai 20. Tapi setahu saya, saat ini Presdir tengah menghadiri rapat dewan direksi di lantai 18" jelas nya.
"Benarkah? Kamsahamnida Ahjussi"
Siwon membungkukan tubuhnya berulang kali sebelum namja itu keluar dari lift di lantai 15.
"Aku tak punya waktu untuk menunggu!" Siwon langsung menekan angka 18 di layar dan lift tersebut kembali naik keatas untuk mengantarkan dirinya.
Ting
Pintu lift terbuka. Sebuah lorong dengan kaca di kanan dan kiri menanti Siwon untuk di lewati. Sebuah pintu besar berwarna coklat aboni terpampang kokoh di ujung lorong tersebut. Siwon melangkahkan kakinya keluar dari lift.
"Hey Kau!"
Sebuah pekikan yang cukup keras membuat Siwon terkejut. Ia menoleh dan membulatkan matanya saat melihat 2 orang security yang tadi mengejarnya sudah berdiri tak jauh dari tempatnya sembari menunjuk dirinya.
"Gawat!" gumam Siwon. Ia mengambil ancang –ancang untuk pergi dan tepat saat kedua security itu berlari menghampiri nya, Ia langsung berlari untuk kabur dari penangkapan.
"Huuaaa!"
"Jangan kabur!"
Siwon terus berlari sambil memegang erat tali ransel nya di sepanjang lorong tersebut. Ini hanya lorong kosong dan lurus. Tak ada orang lain di sekitar mereka dan itu sedikit menjadi keuntungan bagi Siwon.
"Mau lari kemana lagi eum?"
"Lepas! Lepas!"
Siwon memberontak saat seorang security bertubuh kekar menangkapnya dari belakang. Siwon menggerakan badan nya untuk meloloskan diri.
"Akh!"
Security itu mengerang sakit saat Siwon menginjak kaki nya dengan sangat keras. Tak membuang waktu Siwon langsung meloloskan diri dan berlari. Hanya tinggal beberap meter lagi dari pintu tersebut. Ia terkaget saat security yang lain nya sudah berada di samping diri nya dan bersiap untuk menangkap.
"Andwee!"
Siwon langsung melompat kearah pintu agar bisa membuka pintu besar tersebut, begitu pula dengan security yang ikut melompat untuk menangkap Siwon.
Cklek
BRUUK
"Aw—Appo!"
"Tertangkap kau bocah!"
Siwon meringis kesakitan saat tubuhnya jatuh tersungkur dengan security yang sudah berada di atas punggungnya untuk menahan tubuhnya.
"Ada apa ini?"
Sebuah suara menginterupsi kegiatan keduanya. Sontak security tersebut dan Siwon mendongakan kepala nya dan Ah! ternyata mereka tidak sadar sudah berada di ruangan rapat. Sepertinya Siwon berhasil membuka pintu tersebut dan akhirnya terjatuh di ambang pintu. Beberapa pasang mata memandang kedua nya dengan tatapan aneh dan terganggu.
Security tersebut langsung bangkit berdiri dan segera menarik tangan Siwon agar namja itu ikut berdiri.
"Appa.. Umma…" gumam Siwon saat mendapati kedua orang tua nya tengah duduk di kursi besar di ujung meja. Security yang mendengar gumaman itu langsung melotot horror. Tuan dan Nyonya Choi pun membulatkan mata nya tidak percaya. Ruangan menjadi hening. Beberapa orang yang menjadi anggota direksi di Choi's Group hanya saling tatap tidak mengerti.
Melihat kehadiran Siwon, Nyonya Choi langsung bangkit dari kursinya dan hendak menghampiri Siwon. Walaupun terkejut namun ia juga sangat senang melihat Siwon di hadapan nya. Beberapa hari ini, pikiran nya selalu melayang memikirkan anak sulung nya itu.
"Siwonni—"
"APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI CHOI SIWON?"
Nyonya Choi langsung terdiam di tempat saat mendengar pekikan marah dari Tuan Choi. Semua yang ada di ruangan itu juga terlonjak kaget. Entah apa yang di pikirkan Tuan Choi sehingga ia justru marah dengan kehadiran anak sulungnya yang meninggalkan rumah beberapa hari yang lalu.
Raut wajah Siwon berubah mengeras. Ia mengepalkan tangan nya untuk menahan emosi yang sudah ingin melonjak keluar. Ia menatap tajam Tuan Choi yang tengah menatapnya antara marah dan malu.
"Aku—Aku harus berbicara sesuatu dengan kalian" ucapnya tegas.
Tuan Choi menghela nafas saat semua dewan direksi menatap nya meminta penjelasan. Ini adalah sebuah rapat direksi yang sangat penting bagi kelangsungan proyek yang bisa menyelamatkan perusahaan nya.
"Aku mohon, kita harus bicara sekarang A-Appa! Ini juga ada hubungan nya dengan Kyuhyun" lanjut Siwon lagi.
"Saat ini kami sedang rapat, kita bicara nanti saja. Sekarang kau keluar terlebih dahulu" ucap Tuan Choi dengan nada lebih pelan dan tegas.
"Tidak bisa! Kyu—"
"Choi Siwon!" desis sang Appa sambil menatap tajam Siwon.
"TAPI KYUHYUN MENGHILANG!" teriak Siwon kesal. Mata nya terasa sangat panas saat ini. Selalu seperti ini. Ia akan selalu berada dalam pertengkaran mulut jika menghadapi sang Appa.
"MWO?!"
Nyonya Choi langsung menutup mulutnya setelah terkaget dengan ucapan Siwon. Ia menatap Siwon tidak percaya. Mendengar itu, Tuan Choi pun terdiam. Suasana menjadi hening.
"Sepertinya anda memiliki urusan lain dengan keluarga Choi Sajangnim. Sebaiknya rapat ini kita hentikan saja. Dan tolong lain kali bersikaplah lebih professional dan jangan mencampurkan urusan perusahaan dengan urusan keluarga" ucap seorang namja yang duduk di dekat Tuan Choi.
Setelah mengucapkan hal itu, ia bangkit dari kursinya dan beranjak pergi di ikuti dengan dewan direksi lain nya. Terdengar gumaman dan desahan kecewa dari para direksi. Melihat semua nya mulai meninggalkan ruang rapat, sekretaris pribadi Presdir tersebut berusaha mencegah namun usahanya sia-sia.
Keadaan hening kembali terjadi setelah ruangan itu kosong. Hanya ada keluarga Choi, Sekretaris utama dan security yang terdiam di pintu sedaritadi.
"Apa yang kau katakan tadi?" desis tuan Choi yang masih tak percaya dengan apa yang di tangkap oleh pendengarannya.
Siwon terdiam. Ia hanya menundukan kepala nya berusaha menghindari tatapan tajam dari sang Appa. Nyonya Choi mulai menatap tuan Choi dengan tatapan menegur. Tuan Choi pun menghela nafas lalu menghusap wajahnya dengan kasar.
"Semua nya gagal! Aish!" geram tuan Choi.
Nyonya Choi mulai melangkah menghampiri Siwon masih tanpa suara. Pipi nya sudah di basahi oleh air mata. Hati Siwon berdesir saat melihat sang umma seperti itu. Sudah lama ia tak melihat umma cantik nya itu menangis.
Grep
Siwon merasa tubuhnya melemas merasakan pelukan dan elusan lembut dari tangan umma nya tersebut.
"Bogoshippoyo Siwonnie. Kenapa kau bisa kemari? Umma benar-benar mencemaskan mu beberapa hari ini" gumam nyonya Choi yang di balas dengan anggukan kecil dari Siwon.
.
.
"Hae! Ambil bolanya!"
"Ya! Ya! Oper kemari!"
"Kita serang bagian kiri"
"Kyu, masukan bola nya!"
Prriitt
"GOOLLLL~!"
Lima orang anak laki-laki langsung melompat gembira dan segera memeluk rekan nya satu sama lain atas keberhasilan yang mereka raih. Senyuman lebar menghiasi wajah mereka karena mereka berhasil memenangkan pertandingan yang sudah berjalan sejak beberapa saat lalu.
"Kyu! Kau hebat!"
Donghae merangkul Kyuhyun lalu mengacak rambut Kyuhyun senang. Ya, Kyuhyun lah yang telah memasukan bola penentu kemenangan mereka.
"Itu berkat operan yang tepat dari mu, hyung" balas Kyuhyun sambil menyengir lebar. Baru kali ini ia merasakan bermain bola bersama anak-anak lain nya dan ia sungguh senang saat ini. Mereka pun tertawa bersama 3 orang teman Donghae lain nya yang memang menjadi satu tim mereka.
Seperti rencana, Kyuhyun sudah menunggu Donghae di depan gerbang sekolah sebelum waktu belajar berakhir dan setelah bel berbunyi ia langsung berhambur mencari Donghae. Setelah bertemu, Donghae langsung mengenalkan Kyuhyun pada teman-teman tim bola nya dan akhirnya mereka bermain futsal bersama.
"Kita harus bermain lagi lain kali, Kyu" ucap seorang namja yang berwajah manis pada Kyuhyun yang langsung dibalas dengan anggukan semangat dari Kyuhyun.
"Benar kan apa kata ku, Hyukie. Kyunnie bisa mencetak angka untuk kita" ucap Donghae bangga karena sebelumnya ia sangat yakin jika dongsaeng nya itu bisa memasukan bola.
"Kalau kau sekolah di sini pasti kami akan merekrut mu menjadi anggota futsal Kyu" ucap Yunho, salah satu anak futsal juga.
Kyuhyun hanya tersenyum tersipu malu dengan pujian dari mereka semua. Langit sudah mulai memerah menandakan hari sudah sore. Mereka pun menyudahi untuk menghentikan permainan itu. Anak-anak futsal itu pun mulai meninggalkan tempat tersebut untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Kyu, tunggu di sini sebentar ne? Aku mau ke ruang praktek dulu, ada buku yang tertinggal" ucap Donghae dengan raut sedikit panic.
"Ne hyung, aku tunggu di sini"
Donghae langsung berhambur kembali ke gedung sekolahnya karena memang berada di lapangan futsal outdoor di halaman depan sekolah. Kyuhyun pun mendudukan diri nya di sebuah bangku panjang yang di gunakan sebagai bangku penonton. Senyuman tak terlepas dari wajahnya karena mood nya hari ini memang sangat bagus. Ia mengedarkan pandangan nya ke sekitar.
Sekolah ini tidak sebesar, seluas dan semegah sekolah nya namun entah mengapa ia sudah merasa nyaman dengan sekolah ini. Ada sebuah keinginan untuk bersekolah di tempat ini.
Tuk..
Kyuhyun menundukan kepala nya saat sesuatu menyentuh sepatu nya. Ia mengernyit bingung tapi tangan nya tetap terjulur mengambil sebuah bola kecil berwarna putih tergeletak di samping sepatu nya. Ia memperhatikan bola tersebut selama beberapa saat sembari memutar-mutarnya.
"Hey! Bisa kembali kan bola ku?"
Sebuah suara menginterupsi kegiatan Kyuhyun. Ia menoleh dan menemukan seorang dengan pakaian baseball sudah berdiri di sampingnya sambil mengulurkan tangan nya ke arah Kyuhyun.
"Kau?"
Kyuhyun sedikit tersentak saat melihat anak laki-laki tersebut. Masih sangat jelas di ingatan jika orang di hadapanya sekarang lah yang menolong dirinya kemarin. Sama seperti Kyuhyun, anak laki-laki itu juga sedikit terkejut namun ia mulai menyengir lebar.
"Ah! Kau kan anak bodoh yang di pukuli kemarin" ucap anak itu dengan santai nya.
"Jadi benar kau yang kemarin?" gumam Kyuhyun dengan nada bertanya. Anak laki-laki itu mengangguk lalu menyengir kembali.
"Bagaimana kau bisa berada di sini? Apa kau sekolah di sini?" tanya anak itu pada Kyuhyun.
"Ani, aku sedang menunggu hyung ku" jawab Kyuhyun sambil menggelengkan kepala nya.
"Kau sendiri?" tanya Kyuhyun balik setidak nya untuk basa basi.
"Aku sekolah di sini" jawab nya santai. Kyuhyun mengangguk mengerti.
"Ah! Untuk yang kemarin, terima kasih. Jika tidak ada kau pasti aku tidak bisa mengambil barang-barang ku lagi" ucap Kyuhyun tulus.
"Sudahlah tidak perlu di pikirkan. Aku hanya lewat saja" balas nya lagi.
Tak ada lagi yang membuka pembicaraan setelah itu dan kecangungan terjadi menyelimuti keduanya.
"Eum, jadi bola ku?"
Anak itu menunjuk bola yang masih berada di dalam genggaman tangan Kyuhyun.
"Ah, mianhae. Ini. Oh iya, Kyuhyun imnida"
Kyuhyun menyebutkan nama nya sembari mengembalikan bola itu pada pemiliknya. Anak itu mengangguk lalu tersenyum tipis.
"Changmin imnida" ucap anak itu membalas perkenalan Kyuhyun.
"Oke, aku harus kembali ke tim baseball sekarang. Aku duluan. Jangan sampai di pukuli oleh preman lagi ne? Haha"
Kyuhyun mendengus sebal mendengar ucapan terakhir Changmin yang lebih mirip dengan ejekan tersebut. Ia mengangguk sekali dan Changmin pun segera berlari menjauhi tempat Kyuhyun berdiri.
"Sepertinya sekolah ini benar-benar menyenangkan" gumam Kyuhyun pelan.
"Benarkah? Aku juga berpikir seperti itu haha"
Kyuhyun membalikan badan nya dan Donghae sudah berdiri di belakang nya sambil memberikan cengiran khas miliknya.
"Sejak kapan kau di sana, hyung?" tanya Kyuhyun penuh selidik.
"Baru saja hehe kajja kita pulang sekarang"
Donghae langsung menggandeng tangan Kyuhyun dan setengah menarik dongsaeng nya itu untuk keluar dari perkarangan sekolah.
"Hyung! Kau berjanji akan ke game center dulu bukan?" protes Kyuhyun yang mendapat helaan nafas dari Donghae.
"Ku kira kau melupakan nya hehe" Donghae kembali menyengir tanpa dosa. Kyuhyun hanya menggembungkan pipi nya kesal.
"Ne, ne, kita ke game center dulu" ucap Donghae yang langsung merubah raut wajah Kyuhyun menjadi ceriah.
"Kajja! Ppalli-wa hyung!"
Sekarang gentian Kyuhyun yang langsung menarik tangan Donghae dengan penuh semangat. Donghae pun harus rela berlari untuk mengikuti langkah Kyuhyun padahal ia sudah lelah karena bermain futsal.
.
.
† TeukHaeKyu †
Langit yang sejak pagi cerah saat ini berubah total Awan hitam menyelimuti dan rintik hujan mulai turun membasahi setiap wilayah yang ada di bawahnya. Seorang namja paruh baya tengah duduk di single sofa nya menghadap ke jendela besar di depan nya seakan memperhatikan suasana padat Tokyo yang terguyur hujan sore ini. Ia seakan tak bergeming di tempat nya, sepertinya rintik hujan itu sangat menarik untuknya.
Clek
Namja itu melirik kearah pintu saat merasakan ada yang membuka pintu tersebut. Hanya sesaat dan akhirnya ia kembali menatap rintik hujan di luar sana.
"Anak itu sudah tidur?" tanya namja itu pada yeoja yang baru saja duduk di sebelahnya.
"Ne, Siwonnie terlihat sangat lelah. Dia tertidur dengan sangat lelap" ucap yeoja yang berstatus sebagai nyonya besar Choi.
Hening…
Keheningan terjadi di ruangan tersebut. Tak ada yang berniat membuka pembicaraan lebih jauh lagi. Mereka terdiam satu sama lain sembari memperhatikan kemuraman langit yang terlihat sendu tersebut sama seperti hati kedua nya saat ini.
.
FLASHBACK
Setelah kejadian yang terjadi di Choi's Corp, Tuan dan nyonya Choi memutuskan untuk membatalkan semua jadwal mereka hari ini. Mereka kembali ke apartemen mewah mereka yang berada di pusat kota Tokyo. Tentu saja bersama Siwon yang mengikuti. Siwon sedikit bernafas lega saat tahu kedua orang tua nya mau membatalkan semua jadwal dan mau mendengarkan kata-kata nya.
"Sekarang apa yang ingin kau katakan? Kau sudah menghancurkan rapat direksi dan membuat semua jadwal di cancel. Aku akan benar-benar marah jika kau hanya membuang waktu kami untuk sesuatu yang tidak penting" ucap tuan Choi dengan nada sangat tegas.
Siwon sedikit bergidik ngeri melihat Appa nya dengan tatapan dan nada bicara seperti itu. Tapi, perasaan kesal nya bisa menutupi rasa takut nya saat ini. Ia mengepalkan tangan nya berusaha mengumpulkan keberanian.
"Wonnie, tadi kau bilang Kyuhyun kenapa? Dia baik-baik saja kan chagi-ya? Dan kemana saja kau beberapa hari ini?" tanya nyonya Choi yang tidak sabar dengan sikap diam Siwon.
Siwon tersenyum miris mendengar ucapan kedua orang tua nya.
"Waeyo? Apa kau baik-baik saja, Siwonnie?" tanya sang umma lagi.
Siwon menggelengkan kepala nya. Ia menatap nanar kedua orang tua yang tengah duduk di hadapan nya. Sosok yang ia rindukan namun sosok yang juga melukai hati nya dengan rasa kekecewaan yang besar.
"Apa aku terlihat baik-baik saja, umma?" ucap Siwon yang mulai membuka suara nya. Umma Choi sedikit mengerutkan dahi nya. Ia memperhatikan wajah anak sulung nya itu dengan seksama.
"Apa kalian tak mengkhawatirkan aku saat aku memutuskan pergi dari rumah sehingga kalian justru mementingkan urusan di Jepang?" tanya Siwon yang lebih mirip pernyataan tersebut.
"Wonnie, bukan seperti itu chagi-ya. Ada keadaan genting yang terjadi di sini dan kami harus turun tangan langsung untuk menangani nya. Niat awal nya kami akan kembali kemarin tapi—"
"Aku tak menanyakan itu, umma. Aku hanya bertanya, apa kalian tak mengkhawatirkan aku padahal aku pergi dari rumah?" ulang Siwon lagi. Sang umma langsung menggelengkan kepala.
"Tentu saja kami sangat mengkhawatirkan mu" jawab nyonya Choi cepat.
"Lalu, kenapa kalian tak mencari keberadaan ku?" tanya Siwon lagi.
"Kami selalu mencari mu, won. Kami sudah meminta bantuan dari semua orang kepercayaan untuk membantu mencari selagi kami di Jepang" jawab sang umma yang membuat Siwon tertawa meremehkan.
"Apa yang kau tertawakan?" desis tuan Choi.
"Apa aku bukan anak kandung kalian?" tanya Siwon dengan nada tajam.
Tuan dan nyonya Choi sontak membulatkan mata nya tak percaya dengan apa yang di katakan oleh anaknya tersebut.
"Apa yang kau katakan hah?!" teriak tuan Choi penuh amarah, bagaimana bisa anak kandungnya berbicara seperti itu?
"Kalau aku anak kalian, kenapa bukan kalian yang mencari ku saat aku pergi? Kenapa kalian tak menghalangi ku? Apa perusahaan itu lebih penting daripada aku dan Kyuhyun?"
Siwon mulai terbawa emosi. Ia mulai mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang memang sudah berputar di kepala nya.
"Siwonnie, kami—"
"Apa? Jika kalian menyayangi aku dan Kyunnie, kenapa kalian selalu meninggalkan kami sendiri? Kenapa kalian tak pernah menemani kami? Bahkan kalian tak pernah menanyakan kabar kami secara langsung! Apa benar aku dan Kyunnie anak kalian hah?! Itu meragukan ku" ucap Siwon panjang lebar dengan nada tinggi tak mempedulikan nafasnya yang memburu.
"Choi Siwon, jaga bicara mu!" balas tuan Choi dengan nada marah. Disampingnya, umma Choi sudah terisak tangis mendengar semua ucapan Siwon.
TES
Tuan Choi kembali ingin berucap tapi niat nya terhenti saat melihat air mata sudah meluncur indah dari sudut mata anak sulungnya. Ya, Siwon tak bisa membendung air mata nya lagi, ia hanya terdiam membiarkan air itu untuk keluar. Ia tak melepaskan tatapan nya dari sang Appa.
"Aku—aku merindukan kalian" ucap Siwon dengan nada lirih yang lebih mirip dengan gumaman kecil.
Umma Choi semakin terisak tangis melihat itu semua. Ia merasa bersalah. Begitu pula dengan Appa Choi yang hanya membatu mendengar ucapan Siwon.
"Kemana Appa yang dulu menemani ku saat aku ingin bermain? Kemana Umma yang selalu tersenyum dan memeluk ku setiap saat? Appa, umma. Aku dan Kyunnie membutuhkan kalian. Kami hanya ingin kalian tidak terlalu sibuk dengan urusan perusahaan dan tinggallah bersama kami di rumah. Hanya itu, apa kami berlebihan?" tanya Siwon di sertai isakan kecil.
"Bisakah kalian tidak terlalu sibuk untuk kami? Sejak kecil Kyu sering menangis di kamar karena tak ada umma yang menemani nya. Ia selalu bertanya padaku kapan kita bisa piknik sekeluarga seperti teman-teman nya yang lain. Apa kalian tahu itu?"
"Siwon, kami tahu itu. Tapi kalian harus mengerti, kami bekerja keras untuk masa depan kalian!" ucap tuan Choi dengan nada pelan dan berusaha meyakinkan.
"Tapi kami tak menginginkan nya. Masa depan itu masih panjang Appa, kami tak memerlukan semua kesibukan itu sekarang. Kami hanya ingin kalian menemani dan berlaku lah selayaknya orang tua lain nya" ucap Siwon sambil menggelengkan kepala nya.
"Appa hanya tidak ingin kalian mengalami kesulitan seperti Appa dulu, Appa berusaha keras untuk menyenangkan kalian, won" ucap Appa Choi.
"Kami justru merasa sulit dan sedih saat ini Appa. Kami hanya anak kecil yang tak mengerti urusan masa depan. Kami ingin kalian menyempatkan waktu untuk bersama kami. Aku tahu ini egois, tapi—"
Isakan Siwon semakin keras. Ia tak mampu melanjutkan kata-kata nya. Ia hanya menatap kedua orang tua nya dengan tatapan nanar. Ia mengepalkan tanganya sebagai penguat diri.
"Wonnie…"
Umma Kim pun bangkit dari sofa nya saat Siwon terdiam tak mengeluarkan suara nya lagi. Ia menghampiri Siwon dan langsung memeluk anak sulung nya dengan sangat erat.
"Mianhae, mianhae chagi-ya" gumam umma Choi terus menerus sambil merengkuh Siwon dalam pelukan nya.
Pelukan hangat, pelukan yang sangat di rindukan oleh Siwon. Tak menunggu lama, Siwon pun mengeluarkan semua kesesakan dalam hati nya, ia menangis dengan sangat keras tak mempedulikan apa pun. Ia mempererat pelukan nya pada sang umma.
Tuan Choi hanya menatap nanar dan terduduk lemas di sofa nya. Kepala nya terasa berdenyut kencang dan dada terasa begitu sesak. Entah untuk alasan apa.
Selama beberapa saat, suasana apartemen itu hening. Hanya ada isakan kecil yang terdengar. Ketiga orang yang menempati ruangan itu masih setia dengan kegiatan nya masing-masing.
"Uljima ne, uljima. Umma di sini chagi" ucap sang umma lembut sambil mengelus punggung Siwon berulang kali. Siwon sudah tak menangis sekencang sebelumnya namun isakan masih keluar dari bibir nya. Ia hanya menganggukan kepala nya.
Setelah Siwon lebih tenang, umma Choi melepaskan pelukan nya lalu menghapus jejak air mata yang masih membasahi pipi Siwon. Ia tersenyum miris melihat anak sulung nya itu masih sesenggukan dan mata yang sembab.
"Gwenchanayo?" tanya sang umma khawatir. Siwon hanya mengangguk mengiyakan. Siwon sedikit melirik kearah Appa nya yang hanya terdiam namun ia bisa melihat raut sendu di wajah tegas Appa nya.
Situasi canggung mulai terasa di ruangan tersebut. Siwon memutuskan untuk berdiam diri dan menundukan kepala nya. Tenaga nya seakan menghilang setelah menangis dan sekarang ia merasa mengantuk. Tuan dan Nyonya Choi ikut terdiam sambil memperhatikan tingkah anak laki-laki nya itu.
Namun tiba-tiba nyonya Choi teringat akan sesuatu, ia menelan ludah nya dengan sulit. Ia sudah mengetahui bagaimana perasaan anaknya selama ini namun masih ada satu hal yang menjadi pertanyaan besar sejak dari perusahaan.
"Siwonnie.." panggil nyonya Choi. Siwon sedikit mendongak untuk menatap wajah umma nya.
"Kyu—Kyuhyun, apa yang ingin kau katakan tentang Kyuhyun? Dia baik-baik saja bukan?" tanya umma Choi sangat khawatir.
Tanpa sadar Siwon langsung memukul dahi nya sendiri dan meringis. Ia baru teringat akan itu. Sungguh bodohnya kau Choi Siwon!
Siwon menganggukan kepala nya namun hal itu justru membuat kedua orang tuanya mengernyit bingung. Siwon menatap kedua orang tuanya lekat-lekat.
"Jadi kalian tidak sama sekali tidak mengetahui nya?" tanya Siwon tidak habis pikir. Bukan kah Han ahjussi bilang sudah menitipkan pesan untuk kedua orang tua nya tapi kenapa mereka seperti tak mengetahui apa pun.
"Tentang apa?" tanya tuan Choi yang akhirnya membuka suaranya setelah terdiam cukup lama.
"Kyunnie—dia menghilang" ucap Siwon cukup pelan sambil menunduk dalam.
Perlu beberapa detik bagi kedua orang tua nya untuk mencerna setiap kata yang terucap bibir Siwon. Raut wajah mereka mulai berubah kaget dan tidak percaya.
"Kau pasti bercanda kan Siwon-ah?" tanya Tuan Choi yang lebih mirip dengan pernyataan. Siwon menggelengkan kepalanya.
"Ba-bagaimana bisa—Kyu.. hiks" Umma Choi kembali menumpahkan bulir air mata nya dan membasahi pipi nya. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Han ahjussi katakan, ia menghilang saat sore di hari yang sama saat aku meninggalkan rumah. Mereka sudah mencari Kyunnie kemana-mana namun masih belum mendapatkan jejak pasti. Han ahjussi juga sudah menghubungi kalian berulang kali tapi—"
Siwon menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan kata-katanya kembali.
"Tak ada satu pun dari kalian yang bisa di hubungi. Kalian terlalu sibuk dan Han ahjussi juga sudah menyampaikan salam pada sekretaris kalian tapi entah mengapa kalian belum mengetahui hal seperti ini"
Siwon menyudahi kalimat nya. Ia melihat wajah kedua orang tuanya yang terlihat shock dan berbagai perasaan lain yang bercampur aduk.
"Tidak mungkin. Kyunnie masih terlalu kecil, bagaimana jika dia terluka? Kita harus pulang sekarang yeobo" ucap nyonya Choi yang sudah panik. Tuan Choi yang masih shock hanya terdiam di sofa nya.
"Sekretaris Jung.. dia tak mengatakan apa pun tentang ini. Kami memang terlalu sibuk bahkan sejak kemarin kami hanya tertidur beberapa jam" gumam tuan Choi entah pada dirinya sendiri atau ingin memberitahu Siwon.
"Karena itulah aku memutuskan untuk kemari agar setidaknya aku bisa memaksa kalian untuk kembali ke Korea apa pun yang terjadi" ucap Siwon lagi. Ia sedikit terkejut saat tangan nya di genggam oleh sang umma.
"Umma…"
"Jika kami mengetahui nya, kami pasti langsung kembali wonnie. Mianhae, jeongmal mianhae" ucap nyonya Choi tulus. Siwon sedikit menarik sudut bibirnya mendengar hal itu.
"Jadi kita akan kembali ke Korea sekarang?" tanya Siwon penuh harap. Ia juga sangat mengkhawatirkan keadaan dongsaengnya itu. Umma Choi langsung menganggukan kepalanya. Dan kedua nya langsung menatap Tuan Choi yang masih terdiam tak bersuara.
"Yeobo…" panggil nyonya Choi.
"Siwonnie, kau istirahat lah dulu. Kita akan kembali esok hari" ucap tuan Choi sambil menatap Siwon.
Siwon hendak ingin meluncurkan protesan nya namun melihat tatapan memohon dari Appa nya membuat nya terdiam dan menganggukan kepala nya.
Flashback OFF
.
"Aku gagal menjadi Appa yang baik untuk mereka"
Suara berat itu memecah keheningan di ruangan tersebut dan juga membuyarkan lamunan nyonya Choi. Ia menatap suami nya dengan tatapan bingung.
"Aku—Appa yang jahat dan tidak berguna" ucap tuan Choi lagi.
"Yeobo…" gumam Nyonya Choi yang mulai menggenggam tangan suami nya memberikan ketenangan. Walaupun wajah tuan Choi terlihat datar dan tanpa ekspresi, ia tahu bahwa suami nya itu sangat khawatir saat ini.
"Alasan aku fokus pada perusahaan ini, semua nya karena aku tak ingin mereka merasakan bahkan melakukan kesalahan yang pernah ku buat dahulu. Ini juga menjadi janji terakhir ku pada Appa untuk menjaga Choi group. Tapi aku gagal. Aku justru membuat mereka menderita" ucap tuan Choi frustasi. Ia memegangi kepala nya yang terasa berdenyut. Kenangan beberapa tahun yang lalu dan janji nya pada Appa nya terlintas begitu saja.
"Tenanglah yeobo. Aku mengerti maksudmu. Kita berdua salah. Tapi kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki nya. Lupakan semua kenangan pahit mu itu, arraso?" ucap Nyonya Choi seraya merengkuh tubuh suami nya dalam pelukan untuk menenangkan.
"Ne, sekarang aku akan kembali ke perusahaan. Aku akan mengurus semua nya sehingga kita bisa kembali ke Korea esok pagi"
"Aku?"
"Kau temani Siwon di sini. Aku sudah tahu harus melakukan apa" ucap tuan Choi. Nyonya Choi pun mengangguk mengerti.
Setelahnya ia segera pergi meninggalkan Apartemen tersebut. Nyonya Choi menghela nafas berat. Ia kembali menatap langit yang masih terlihat suram.
"Semoga kau baik-baik saja, Kyunnie chagi"
.
.
.
† TeukHaeKyu †
Sebuah kedai jjajangmyeon terlihat cukup ramai sore ini. Meja-meja sudah di penuhi oleh para pengunjung yang tengah menikmati jjajangmyeon dengan tenang. Pelayan pun terlihat sibuk mencatat pesanan dan melayani setiap yang di butuhkan oleh pengunjung.
"Ahjussi, jangmyeon satu lagi untuk meja 3" ucap seorang namja yang baru kembali ke dapur sembari menempelkan note di papan list pesanan.
"Teuki, tolong kau catat pesanan meja 5 ya, aku harus ke kamar mandi" ucap seorang namja yang lebih tua beberapa tahun dari nya. Tanpa menunggu jawaban dari Leeteuk, namja itu langsung pergi.
Leeteuk menghela nafasnya, rasa lelah sudah menyelimuti tubuh nya saat ini. Sejak kemarin ia memang merasa kurang sehat namun ini adalah kewajiban nya dan tak mungkin di tinggalkan.
Inilah tempat kerja dari seorang Leeteuk. Sebuah kedai jjajangmyeon yang cukup besar dan terkenal di sekitar kawasan Sinchon. Ia adalah pekerja paling muda di tempat ini. Sebenarnya ia belum di izinkan untuk bekerja namun karena ia memohon akhirnya Shin ahjussi—pemilik kedai—itu mengizinkan nya. Leeteuk hanya akan mencatat pesanan dari setiap pelanggan dan mengantarkan pesanan tersebut. Pekerjaan yang cukup mudah namun sangat melelahkan mengingat ia harus berjalan kesana kemari untuk memenuhi permintaan pengunjung.
"Selamat datang. Apa yang ingin anda pesan, tuan?" sapa Leeteuk sopan pada kedua namja paruh baya yang seperti nya baru pulang kerja tersebut.
Leeteuk menatap kedua namja itu bergantian. Tangan nya sudah siap mencatat pesanan di note kecil miliknya. Seorang namja tengah melihat menu-menu jjajangmyeon dalam daftar menu dan seorang lagi sepertinya tengah asyik membaca Koran.
"Aku ikut pesananmu saja" ucap namja yang tengah membaca koran itu. Mendengar hal tersebut, Leeteuk pun menatap namja yang sedang berpikir untuk memesan apa. Karena cukup lama menentukan pesanan, Leeteuk mulai mengedarkan pandangan nya ke sekitar.
Leeteuk mengerutkan dahinya saat melihat sesuatu yang menarik dari koran yang di baca namja di hadapan nya. Ia memincingkan mata nya berusaha melihat dan membaca apa yang tertulis dalam Koran tersebut.
"Hei.."
Leeteuk sedikit terkejut saat seseorang menarik kemeja nya. Ia pun menatap namja yang memegang buku menu dengan tatapan bingung.
"Aku ingin memesan" ucap namja itu lagi saat melihat kebingungan di wajah Leeteuk.
"Eh—Ah! Jeosonghamnida. Apa yang ingin anda pesan, tuan?" Leeteuk membungkukan badan nya sekali untuk meminta maaf dan akhirnya ia mulai menuliskan semua yang di pesan oleh namja tersebut.
Setelah semua nya tercatat, Leeteuk mengulangi untuk memastikan. Ia pun memberi salam untuk pergi namun ia melirik ke namja yang sudah menyelesaikan membaca Koran dan meletakan Koran itu di meja begitu saja.
"Ah, maaf tuan. Apa saya boleh meminjam koran anda sebentar? Ada yang ingin saya pastikan" ucap Leeteuk dengan sopan.
"Ah, ini? Silahkan. Ambil saja, saya tak memerlukan nya lagi" ucap namja itu.
"Benarkah? Kamsahamnida"
Leeteuk membungkukan badan nya beberapa kali dan langsung melesat ke dapur dengan pesanan dan koran yang ada di tangan nya.
"Ahjussi, pesanan meja lima aku tempel di sini!" ucap Leeteuk dan segera ia langsung ke belakang —ruang ganti karyawan—
Leeteuk mendudukan diri nya di kursi panjang. Tangan nya dengan lincah langsung membuka Koran lembar demi lembar mencari informasi yang ia lihat tadi.
Tangan nya sudah berhenti membolak balik lembaran koran. Sekarang tatapan nya fokus pada satu halaman yang menampilkan sebuah berita. Mata nya membulat dan mulutnya terbuka tidak percaya dengan berita yang ia baca saat ini.
Cklek
"Teuki, ternyata kau di sini. Aku mencari mu"
Leeteuk mendongakan kepala nya dan mengalihkan tatapan ke ambang pintu. Seorang namja paruh baya sudah berdiri di sana.
"Ah, mianhae ahjussi" ucap Leeteuk sambil tersenyum terpaksa membuat Shin Ahjussi mengerutkan dahinya.
"Ada apa? Apa kau sakit?" tanya nya pada Leeteuk.
"Ah, aniya. Aku hanya—" Leeteuk tidak melanjutkan kata-katanya. Ia menundukan kepala nya.
"Sudahlah. Kau pulang saja, kau memang terlihat lelah Teuki. Ahjussi tidak mau kau sakit" ucap Shin Ahjussi.
"Benarkah? Aku memang harus pulang sekarang juga, ahjussi" jujur Leeteuk. Shin Ahjussi tersenyum lalu mengangguk.
"Gomawo ahjussi, gomawo. Aku janji akan menukar hari ini dengan hari lainnya" ucap Leeteuk sambil tersenyum lebar.
"Haha, jangan sungkan Teuki, kau sudah seperti anak ku sendiri" ucap Shin Ahjussi sambil menepuk pundak Leeteuk.
Setelah itu, Shin Ahjussi meninggalkan Leeteuk yang langsung mengganti seragam kerja dengan seragam sekolah nya kembali. Tanpa buang waktu, ia langsung pergi tanpa lupa membawa koran yang tadi di bacanya. Ia langsung berlari menembus keramaian jalan Sinchon.
.
.
† TeukHaeKyu †
Langit sudah berubah menjadi gelap dengan beberapa bintang terlihat berkilap menghiasi gelap nya malam ini. Sang rembulan pun ikut serta menerangi semua yang ada di permukaan. Angin malam yang sejuk berhembus menerpa apa pun yang di lewati nya.
Suara tawa riang terdengar dari 2 anak laki-laki yang berjalan berdampingan. Mereka saling berbincang dan terkadang tertawa, memecah keheningan yang terjadi sepanjang jalan yang mereka lewati.
Setelah beberapa saat berjalan mereka pun masuk ke dalam perkarangan kecil yang menjadi perkarangan rumah nya. Mereka terdiam di depan rumah seraya memperhatikan keadaan rumah. Lampu rumah sudah menyala.
"Kenapa lampu nya sudah menyala hyung?" tanya Kyuhyun pada Donghae yang terlihat masa bodo dan lebih tertarik pada PSP baru berwarna putih di tangan nya.
"Mungkin Teuki hyung sudah pulang" jawab Donghae reflek. Namun ia terdiam mencerna ucapan nya sendiri. Ia mulai memandang Kyuhyun yang juga menatap nya.
"Apa kita telat pulang?" tanya Kyuhyun sambil menyengir canggung.
"Gawat!"
Donghae dan Kyuhyun langsung berlari masuk ke dalam rumah nya.
Brak!
Pintu terbuka dengan begitu keras oleh kedua anak laki-laki itu. Mereka terdiam di tempat saat melihat hyung tertua mereka sudah duduk di sofa sambil melipat kedua tangan nya di depan dada.
"Kyu, ini belum jam 7 kan?" bisik Donghae pada Kyuhyun yang berada di samping nya.
"Ani hyung, ini masih jam setengah 7" jawab Kyuhyun dengan bisikan juga.
Donghae dan Kyuhyun langsung menghampiri Leeteuk yang menatap mereka dengan tatapan datar.
"H-hyung" sapa Donghae sambil setengah menyengir.
"Kenapa kau sudah pulang hyung?" tanya Kyuhyun sambil menggaruk kepala belakang nya.
Leeteuk mengulas senyuman tipis di wajah manis nya, Ia menatap Donghae dan Kyuhyun bergantian.
"Aku pulang lebih cepat. Kalian terlihat sangat senang malam ini" ucap Leeteuk lembut membuat Donghae dan Kyuhyun bernafas lega.
"Aku kira kami terlambat. Ah—"
Donghae langsung berlari dan mendudukan diri nya di samping Leeteuk. Ia segera mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku celana nya.
"Hyung lihat! Kyunnie memberikan ku PSP ini!" ucap Donghae penuh semangat.
Leeteuk memperhatikan Donghae dan PSP putih yang di pegang dongsaeng nya itu secara bergantian. Setelah puas memperhatikan Donghae, Leeteuk mengalihkan tatapan nya pada Kyuhyun yang membuat Kyuhyun menelan ludah nya sulit.
Kyuhyun merutuk Donghae di dalam hati. Sudah berulang kali ia mengingatkan Donghae agar tidak memberitahu perihal PSP yang di beli nya itu pada Leeteuk dan dengan begitu polos hyung nya itu justru bercerita dengan girang.
"Darimana kau mendapatkan PSP itu, Kyu?"
Nah! Itu dia pertanyaan yang tidak ingin ia dengar dari mulut Leeteuk. Kyuhyun berusaha untuk tersenyum walau ada rasa kepanikan dalam hati nya.
"Eum, itu—"
"Dari game center hyung! Kyunnie jago sekali bermain game. Aku saja sampai kaget di buatnya dan Kyunnie bilang PSP ini di berikan game center karena kemenangan Kyuhyun menjadi rekor baru di sana" cerita Donghae memotong ucapan Kyuhyun.
"Benarkah?" tanya Leeteuk memastikan.
Donghae langsung mengangguk penuh semangat. Berbeda dengan Kyuhyun yang menyengir canggung. Membohongi seorang Lee Donghae itu sangat mudah tapi Leeteuk …
Leeteuk pun memutuskan tak bertanya lebih banyak mengenai PSP itu dan membuat Kyuhyun menghela nafas lega, Kyuhyun pun berniat untuk meninggalkan ruangan tersebut. Ia tak ingin Leeteuk bertanya macam-macam lagi.
"Aku mandi dulu ne hyung?" ucap Kyuhyun.
Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun langsung melangkah kan kaki nya. Donghae yang terlihat masih asyik dengan PSP baru nya dan Leeteuk yang memperhatikan Kyuhyun.
"Tunggu, Kyu"
Kyuhyun menoleh dan menatap Leeteuk dengan penuh tanda tanya. Dalam hati ia terus merapalkan agar Leeteuk tidak bertanya macam-macam.
"Aku—aku ingin bertanya sesuatu pada mu" ucap Leeteuk yang sukses membuat Kyuhyun menghela nafas, doa nya tak di jawab. Ia menatap wajah hyung nya itu yang terlihat serius. Apa lagi yang ingin di tanyakan?
"Tanya apa? Ah! Nanti saja ya hyung? Aku benar-benar ingin mandi dulu" ucap Kyuhyun berusaha mengelak.
Dan kembali tanpa menunggu jawaban, Kyuhyun langsung membalikan badan nya dan bersiap mengambil langkah seribu.
"Choi Kyuhyun!"
DEG
Tubuh Kyuhyun membeku saat mendengar suara Leeteuk yang memanggil nama nya lengkap dengan marga yang belum pernah ia sebutkan sebelumnya. Tangan nya yang sudah di knop pintu hanya menggenggam knop itu dengan erat. Mendengar hal itu, Donghae pun menghentikan aktivitas nya dan melirik ke arah Leeteuk sambil mengerutkan dahi.
Dengan perlahan dan begitu enggan, Kyuhyun membalikan badan nya. Ia hendak memastikan bahwa hyung nya itu memang memanggil nya dengan marga 'Choi' atau hanya perasaan nya saja. Namun ia semakin yakin saat melihat Leeteuk yang sudah menatap nya dengan tatapan datar.
PUK
Leeteuk meletakan sebuah koran di atas meja dalam keadaan terbuka. Donghae pun langsung mencondongkan badan nya pada koran tersebut dan membaca sebuah artikel di koran tersebut. Sontak mata Donghae membulat tidak percaya.
"Eh? Ini—"
Donghae langsung menatap Kyuhyun dengan tatapan hal tersebut semakin membuat Kyuhyun takut. Ia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
"Tolong jelaskan pada kami, berita apa ini Choi Kyuhyun!"
.
.
-To be Continued-
Hehehe /nyengir kuda/
Mianhae updet nya lama. Tiba-tiba saya kehilangan ide untuk melanjutkan ff ini hahaha ._.v
Mianhae jika agak aneh di chap ini. Dan Mianhae jika yang nolongin itu si tiang listrik Changminnie /plak/ haha Karena memang dialah yang lebih cocok dengan karakter itu nanti nya (?)
Setelah membaca review kalian. Saya memutuskan untuk membiarkan umur mereka seperti ini saja karena memang akan bingung jika di rubah. Mianhae ya /bow/ Bayangkan saja sesuai dengan imajinasi kalian kkk /slap
Thanks for all readers yang masih setia mengikuti cerita ini ^ ^
Special Thanks for :
Choichahyun, KyuChul, Jmhyewon, kyuqie, choYeonRin , Aisah92, haekyu , Kadera, fishymylove, demikyu , ratnasparkyu, Blackyuline, dew'yellow , Kirei-ka , park jihyun125 , Arum Junnie, FiiAngelself , cacaclouds, Bella, gyu1315, Forte orange , arumfishy , bang3424, Gyurievil, TM , Diana Andiani, Princess Kyunie, Anonymouss, kyuzi, ay, AngeLeeteuk , haekyu, bryanelfishy, Sparkyu.
MIND RIVIEW AGAIN? ^ ^
