Rating: T
Ringkasan: Kalifa merindukan pemandangan ini: Lucci dengan setelan hitamnya. Sudah berapa lama dia tidak melihat laki-laki itu mengenakannya? Dua tahun? Mungkin lebih...
Disclaimer: One Piece bukan punyaku, tapi fic ini punyaku. Biar seabal apapun, jangan diplagiat.
A/N: Mungkin sedikit mengecewakan... aku minta maaf sebelumnya. Abal dan mungkin ada yang typoo, aku nggak tahu. Don't like? Just flare... I am serious.
Pesta Koktail
Kalifa tidak pernah menyadarinya: betapa dia merindukan pemandangan ini, Lucci dengan setelah hitamnya yang rapi lengkap dengan topi dan Hattori di bahu kanannya. Sudah berapa lama dia tidak melihat Lucci seperti ini? Dua tahun? Sepertinya lebih.
Dan meski Lucci tidak bicara sepatah pun. Kalifa cukup senang melihat ketua misinya ini berdandan begitu. Sedikit senyuman lolos dari bibirnya: Lucci pandai berdansa, dan di pesta ini dia bisa menjadi bintang perhatian.
Dia bisa, tapi tidak mau.
Kebiasaan sebagai agen untuk tidak menarik perhatian apapun, siapapun, dan kapanpun. Tapi siapa tahu posisi Iceburg dan ketenarannya sebagai walikota Water 7 dapat mempengaruhi hal ini. Akan sedikit sulit menyembunyikan seorang Lucci jika keadaannya begini.
"Mau berdansa?" Sebuah tawaran dansa lagi. Kalifa memandang rekannya dengan geli, sesuatu yang bisa dia lakukan dengan bebas dalam misi kali ini. Karena Lucci membutuhkannya tetap hidup untuk membayangi Iceburg, jadi setidak suka apapun dia terhadap Kalifa, Lucci tidak bisa dan tidak boleh melukainya.
"Dia tidak berdansa, coo..." Langkah yang salah. Wanita yang menawari Lucci dansa itu malah terlihat lebih tertarik setelah tahu laki-laki di depannya seorang ventriloquist. Dan wanita itu bertanya lebih banyak, sepertinya hanya untuk mendengar suara ventriloquistnya lagi. Kalifa tidak bisa menyalahkan Lucci kalau dia jadi jengkel.
"Sepertinya Lucci sudah mendapat pasangan dansa. Bagaimana denganmu?" Iceburg muncul tiba-tiba. Di tangannya terdapat sebatang anggur merah, sementara Tyranosaurus mencicit dengan bola kecil di kedua tangannya. Sepertinya walikota itu tidak melupakan peliharannya meski dalam suasana apapun. Kalifa memandang bosnya dengan hormat. "Kelihatannya tidak begitu, pak. Lihat bagaimana Lucci mencoba menolaknya."
"Tapi wanita itu seperti karet." Iceburg tersenyum geli. "Kau tidak mencoba menyelamatkannya?"
"Menyelamatkannya? Maksud bapak?" Kalifa bertanya, sedikit curiga melihat senyuman Iceburg yang memang terlihat mencurigakan.
"Kita sudah bersusah payah membawanya ke sini kan? Buat dia menikmati pestanya." Kalifa mengernyitkan dahi, tapi dia sembunyikan dengan mengatur kacamatanya. Sebenarnya bukan 'kita' yang bersusah payah membawa Lucci, tapi 'dirinya'. Dia harus mengantarkan undangan pesta ke bar Blueno, mendengar Paulie meneriakinya untuk yang kesejuta kali, mendapat tatapan mata yang melecehkan dari pengunjung bar (meski ini hanya pendapatnya saja), dan akhirnya harus berdebar-debar ketika menyerahkan undangan itu ke tangan Lucci. Kalifa tidak tahu apa yang mungkin akan dilakukan laki-laki itu, entah akan merobek undangan itu atau menghancurkannya begitu saja.
"Mengapa diam saja, ajak Lucci berdansa atau apa. Sepertinya Lucci sudah siap membunuh gadis itu." Iceburg tertawa, jelas dia hanya memaksudkan kata-katanya sebagai candaan. Tapi ini Lucci, sesuatu yang hanya 'untuk bercanda' ini bisa menjadi serius kalau menyangkut laki-laki itu.
"Tapi saya di sini untuk menemani bapak. Dan sebagai sekretaris yang baik saya akan mendampingi bapak menemui relasi bisnis, bagaimana?" Kalifa masih mencoba menolak. Lagipula memang ini kan, tugasnya sebagai sekretaris?
Iceburg mendengus pelan. Dia memetik satu buah anggur lagi dari tangkainya untuk diberikan pada Tyranosaurus. "Kita tidak perlu melakukan itu. Aku sedang mencoba menikmati pesta tanpa urusan bisnis," Dia mengeluh. "Karena itu aku tidak memerlukanmu. Aku tidak apa-apa sendirian."
"Tapi saya tidak setuju."
"Apapun katamulah, Kalifa." Dia mengusir Kalifa dengan tangannya, mendorongnya untuk melakukan aksi penyelamatan Lucci yang sepertinya sudah mendekati batas kesabarannya.
Kalifa menghela napas. Kalau Iceburg sudah mengusirnya begini...
"Lucci, sudah lama menunggu?" Kalifa menyapa. Dia tersenyum melihat gadis di depannya melihatnya dengan tidak suka.
"Kalifa." Lucci menjawab, dengan Hatori-nya tentu saja. Entah, di wajahnya ada tanda-tanda kelegaan.
"Kau mau berdansa?" Kalifa bertanya, sedikit berspekulasi. Dia tahu Lucci tidak akan mau, tapi untuk melepaskan diri dari gadis cerewet itu...
"Dia mau."
Kalifa memandang Lucci dengan tidak percaya, tapi laki-laki itu benar-benar menariknya menjauh. Menjauh ke kerumunan orang yang sedang berdansa. Tapi mereka tidak berhenti di lantai dansa, Lucci hanya menariknya menjauh. Itu saja, dia ingin terbebas dari gadis cerewet tadi.
"Aku tahu kau tidak benar-benar ingin berdansa."
"Apa?"
Kalifa mengangkat bahu. "Bukan apa-apa." Dia tersenyum, lalu memandang sekitarnya. Dia melihat lumayan banyak orang di aula pesta, beberapa dikenalnya sebagai pejabat pemerintah dan pembesar angkatan laut, selain beberapa kapten dan bawahannya. Awalnya dia mengira pesta ini hanya dihadiri para pebisnis. Sepertinya dia salah.
Tiba-tiba Lucci mendekapnya dengan erat, sementara Hatori terbang ke udara.
"Luc..."
"Kau melihat Iceburg berhubungan dengan siapa saja di pesta?" Lucci berbisik pelan di telinganya. Tentu saja, memangnya apalagi alasan dia melakukan itu kalau bukan untuk bicara begini? Suara musik dan dengung percakapan orang-orang akan menyembunyikan fakta kalau dia bicara. Sebuah teknik yang bagus. Tapi Kalifa harus menenangkan jantungnya sebelum dia menjawab.
"Iceburg bicara dengan beberapa orang. Tapi tidak ada yang mencurigakan. Itu hanya urusan bisnis biasa." Kalifa juga berbisik di telinga Lucci. Lucci memang lebih tinggi darinya, tapi itu tidak masalah karena dia memakai hak tinggi.
Lucci melepaskan dekapannya, dan secepat itu pula Hatori kembali ke bahu tuannya. Kalifa melirik Lucci. Wajahnya masih impasif seperti biasa, wajah poker. Mengapa dia tadi begitu berharap? Rasanya wajahnya memanas seketika. Dia membutuhkan minuman dingin.
Lucci menyetop seorang pelayan bertuxedo dan mengambilkan minuman, menawarinya tanpa kata-kata. Timingnya tepat sekali...
Ini akan menghalanginya dari tawaran dansa siapapun. Termasuk dirinya.
"Terimakasih."
Lucci mengangguk. Dan dia kembali memfokuskan pandangannya pada sesuatu, atau seseorang, well sebenarnya dia mengamati Iceburg yang tidak jauh dengan mereka. Kalifa melihatnya juga: Iceburg sedang berbicara dengan seseorang. Bisa jadi urusan mereka hanya bisnis, tapi...
Lucci membungkuk ke arahnya, melakukan apa yang orang kira adalah ciuman di telinga atau pipi. Tapi tentu saja dia tidak melakukan hal itu. Dia kembali berbisik. "Kembalilah, tapi jangan sampai dia tahu kalau kau ada di dekatnya."
Kalifa tahu ini adalah perintah. Tidak ada gunanya membantah, meski itu berarti dia akan berada jauh dari Lucci sepanjang sisa pesta. Kalifa membalas 'ciuman' Lucci dengan cara serupa. Dia juga berbisik. "Baiklah, tapi aku tidak akan menyelamatkanmu dari gadis manapun lagi."
Kalifa masih memegang gelasnya saat dia meninggalkan Lucci. Dia membaur dengan tamu pesta dan mengambil posisi yang cukup dekat dengan Iceburg untuk mendengar apa yang laki-laki itu bicarakan dengan kenalannya, tapi juga cukup jauh sampai Iceburg tidak akan menyadari keberadaannya. Tapi dia juga masih bisa melihat Lucci dari tempatnya. Laki-laki itu bergerak mendekati seseorang. Seseorang yang juga kenal. Seperti kebalikan dari dirinya yang berambut pirang, orang itu berambut pink panjang dan lurus. Dia masih mengenakan setelan hitam formalnya meskipun di dalam pesta koktail. Kalifa langsung mengenali rokok di bibir gadis itu dan kacamata yang terletak di rambutnya. Bibirnya sedikit mengerucut melihat Lucci membawa gadis itu ke lantai dansa. Sementara dirinya hanya melewati tempat itu.
"Kau kehilangan dia rupanya?" sebuah suara yang lagi-lagi mengagetkannya. Kalifa berdebar sesaat, dia ketahuan. Iceburg memergokinya. Seharusnya laki-laki itu tidak boleh tahu kalau dia ada di dekat sana.
"Bisa dibilang begitu." Kalifa menghirup anggurnya, menelan kekecewaan.
"Bukankah gadis itu angkatan laut? Kurasa aku pernah mendengar namanya sekali."
"Saya juga."
Iceburg memandang sekretarisnya, dan Lucci bergantian. "Dan Lucci itu, nma...dia pedansa yang bagus. Aku tidak tahu itu. Kau tahu?"
"Tidak." Kalifa berbohong.
"Sayang sekali, mungkin membawanya ke pesta bukan ide yang bagus."
"Ya."
Iceburg melirik Kalifa lagi, apa barusan gadis itu benar-benar mengakuinya? Membawa Lucci ke pesta bukanlah ide yang bagus. Dan dia mengatakan 'ya'. Mungkinkah jika gadis itu tahu akan jadi begini akhirnya? Dia menghela napas.
"Kalau begitu kau juga bisa berdansa?"
"Ya...eh. tidak!" Kalifa kaget. "Apa maksud bapak?"
"Kau bisa." Iceburg tersenyum. "Kalau begitu berdansalah denganku." Dia menarik Kalifa ke lantai dansa. Kalifa hanya punya beberapa detik untuk meletakkan gelas minumannya dan mengikuti Iceburg. Dia tahu Lucci akan memandangnya dengan tajam. Tapi bukannya Lucci yang menyuruhnya membayangi Iceburg? Dan sepertinya Iceburg juga tidak sejelek itu berdansa. Kalifa memandang orang lain di sekitarnya. Dia sedang tidak ingin peduli, dan rasa kecewa memang mendorongnya untuk ini, merasa seperti ini. Untuk beberapa saat saja... mungkin, dia ingin menikmatinya.
Abaaaaaallll! Hiks...aku mati ide. Tapi fic ini harus beda dengan fic fluff-ku yang satunya. Jadi aku bingung. Ini juga karena pengaruh otak yang capek. Astaghanaga... mungkin aku bahkan siap untuk flare, jadi yang berniat nge-flare...silahkan saja. Kirimkan flare terbaik kalian, aku akan dengan senang hati menerimanya sebagai ganjaran.
