Rate : T
Summary : Chap3 Update! Sebuah pesta dansa, seorang gadis dari masa lalu Lucci menemukan laki-laki itu di sana, sendirian. Dan dia mengajaknya untuk berdansa, mencoba mengingatkan Lucci tentang masa romantika dulu. slight LuccixKalifa.
Disclaimer : One Piece © Eichiro Oda. Plot is mine, don't take out without credit.
A/N: Udah lama banget sejak aku punya ide buat nerusin fic ini, tapi karena akhir-akhir ini moodku lagi bagus, update jadi lebih lancar Fic ini buat Iceburg Water7 yang sudah mengingatkanku soal masa-masa LuCa lagi. Enjoy the story...
.
.
Girl in Pink
.
Lucci melihat sekumpulan orang marine penting yang datang dengan seragam mereka, kelihatannya itu adalah sebuah cara untuk menarik perhatian gadis-gadis yang datang ke pesta. Sedikit kuno, tapi kalau mereka memiliki jabatan yang tinggi dan wajah yang menarik, mungkin itu akan berhasil. Baginya, jas yang dia kenakan terlihat sudah cukup resmi untuk menandakan posisinya... atau tidak. Karena bukan karena itu dia memakai setelan hitamnya: dia datang karena Iceburg menginginkannya ikut ke pesta yang diadakan pemerintah ini, sebagai media untuk memperluas koneksi yang telah ada, juga untuk memperbaiki koneksi, kalau memang ada yang perlu dilakukan dengan koneksi mereka yang tengah bermasalah. Dan pesta ini bisa menjadi sarana yang baik untuk melihat siapa saja kira-kira orang yang berhubungan dengan Iceburg secara langsung. Pekerjaannya sebagai tukang kayu di Dock 1 menghalanginya untuk memata-matai walikota Water7 itu, karena itulah mereka membutuhkan Kalifa, orang terdekat yang bisa ditempatkan di samping Iceburg dalam konteksnya sebagai seorang sekretaris.
Dan dia baru saja mengirim gadis itu untuk kembali ke posnya, mengamati, dan mencari tahu hal-hal menarik yang mungkin Iceburg coba untuk sembunyikan dalam pesta ini. Agak kejam memang, karena gadis itu baru saja menyelamatkannya dari para gadis 'gurita' yang berkeras untuk mengajaknya berdansa. Tapi bagaimanapun, misi mereka lebih penting dari itu. Mereka bisa berdansa kapan saja, setelah misi ini selesai, di mana saja yang Kalifa inginkan, tentu saja kalau gadis itu bisa membujuknya. Sesuatu yang jarang berhasil terjadi: membujuk Rob Lucci.
Lucci meminum anggur merah di gelasnya, lalu mengamati ruangan pesta lagi, lantai dansa terlihat semakin penuh oleh orang-orang yang berdansa.
"Hei, apa ini yang Hina lihat? Seorang teman lama..." Suara manis seorang perempuan terdengar di antara denting-denting piano yang lembut. Lucci menoleh, melihat seorang gadis berambut merah muda panjang tengah tersenyum padanya. Lucci mengenali gadis itu sebagai salah seorang petinggi marine. Gadis itu tidak mengenakan seragamnya, dia tahu cara berpesta tentu saja, sebaliknya dia mengenakan gaun berwarna ungu muda yang serasi dengan rambutnya. Terlihat sangat cantik.
Lucci tersenyum tipis saat melihat Hina, memastikan gadis itu melihat senyumnya, lalu memandangnya dengan asing.
"Apa kita pernah bertemu? Kurupppo..." Lucci menggunakan Hattori untuk bicara, meskipun itu dengan Hina, orang yang dia kenal sekali sejak mereka masih trainee di pulau CP9, orang yang memberinya burung merpati untuk yang pertama kali.
"Lucu sekali, untuk orang yang mirip dengan teman Hina... kau juga mempunyai hobi yang sama." Hina mengulurkan tangannya untuk menyentuh Hattori, tapi burung itu enggan menyambut tangannya, dia tetap berdiam di bahu Lucci. "Bukan burung yang sama tentu saja." gumamnya, menarik tangannya lagi.
"Hina kehilangan partner dansanya karena ada sekumpulan bajak laut yang menarik perhatian partnernya, kau mau menemani Hina berdansa?"
Satu tawaran dansa lagi.
Lucci tersenyum tipis, lalu mengangguk. Hina juga tersenyum, mengulurkan tangannya lagi, yang kemudian disambut oleh Lucci. Mereka berdua berjalan menuju lantai dansa, sementara Hattori terbang entah ke mana. Sepertinya burung itu tahu kalau Lucci tidak akan membutuhkannya untuk bicara, setidaknya dalam dansa mereka, saat tidak ada orang yang akan memperhatikan orang lain kecuali pasangan dansanya. Fakta kalau Lucci akan menggerakkan bibirnya untuk bicara bukanlah sesuatu yang akan tertangkap oleh siapapun. Karena mereka tidak mengenalnya, meski Lucci bisa menyebutkan nama setiap petinggi marine yang ada di sana.
"Sebuah misi?" bisik Hina di telinga Lucci sementara mereka berdansa perlahan di antara pasangan-pasangan lain. Lucci menjawab dengan sebuah anggukan singkat.
"Dengan gadis pirang itu?" tanya Kalifa lagi.
"Kau melihatnya."
"Tentu saja. Gadis itu mencoba mengajak Lucci berdansa tadi, dan gagal." Lucci memperhatikan nada bicara Hina. Hina memang angkuh, dan dia punya semacam persaingan dengan Kalifa, sejak mereka kecil, sejak mereka masih sebagai trainee.
"Kau tidak berubah." bisik Lucci.
"Tidak sopan, Hina berubah lebih banyak, dia sekarang bertambah cantik, semakin kuat, dan punya banyak bawahan di marine." Hina memandang Lucci dengan tidak setuju. Dia mendekatkan bibirnya di telinga Lucci dan berbisik lagi, "Dan, Lucci... Lucci berubah menjadi seperti yang Hina pikirkan, lebih tampan, dan gentleman. Pasti ada banyak gadis marine yang membicarakan Lucci di belakang."
Lucci membentuk senyum-seringainya yang khas. Aneh mendengar Hina mengatakan kata gentleman sebagai deskripsinya. Dia tidak pernah melakukan apapun yang mungkin membuat orang menyebutnya seperti itu. Dan untuk gadis-gadis yang membicarakannya di belakang, tentu saja lebih banyak laki-laki yang melakukannya, itupun karena mereka membicarakan reputasinya yang sangat 'tidak biasa' menyeramkan.
"Aku akan menganggapnya pujian, terimakasih."
"Karena itu memang pujian." Hina tersenyum, "Dan sebaiknya Lucci memuji Hina juga, karena seperti yang Lucci lihat, gagal menjadi seorang CP9 bukan menjadi akhir Hina. Hina membuat banyak orang iri." katanya lagi dengan puas.
"Pujian apa yang kau inginkan?"
Hina memandang Lucci dengan tidak setuju. "Lucci tidak bisa memikirkan pujian seperti apa untuk Hina? Hina tersinggung. Kau memang jarang memuji."
"Karena jarang ada yang layak untuk dipuji." Lucci menambahkan, membuat Hina mengernyitkan dahinya.
"Kalau begitu apa Lucci memuji gadis pirang itu juga? Yang sekarang sedang berdansa di sana?"
Gadis pirang yang berdansa? Kalifa? Berdansa?
Lucci memutar Hina untuk bisa melihat hal yang gadis itu lihat, dari nada bicaranya gadis itu seperti baru saja mengetahui sesuatu. Dan benar saja, dia melihat gadis yang lain. Seorang gadis pirang dengan gaun hitam cantik. Gadis itu tengah berdansa dengan walikota. Lucci menyipitkan matanya, tidak senang.
Ketahuan dan gagal, sayang sekali...
"Hina kecewa. Tapi untungnya Hina mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari gadis pirang itu. Gadis pirang di sana pasti sangat berharap untuk berada di tempat Hina sekarang. Berada dalam pelukan Rob Lucci." Hina tersenyum dan memandang Lucci, mendekatkan jarak mereka berdua. Lucci menegang selama sedetik, mengalihkan langkah Hina menjadi sebuah pelukan. "Apa yang kau lakukan?" bisiknya.
Hina mengerutkan dahinya sepintas, tapi kemudian mengembangkan senyuman lagi. "Hina hanya ingin tahu apakah Lucci berubah pikiran tentang Hina setelah sekian lama ini, apakah Lucci akan kembali pada Hina setelah Lucci melepaskannya."
"Kita tidak pernah bersama."
"Seperti itulah Lucci melepaskan Hina." Gadis itu menggeleng. "Lucci lebih menyukai gadis pirang."
"Aku tidak mengatakannya begitu."
"Benar, Lucci tidak mengatakannya, tapi mata Lucci yang bicara." Hina tersenyum dan melepaskan pelukan Lucci, dia melihat laki-laki itu sebentar dan mencium singkat pipinya. "Satu lagi hal di mana Hina kalah dari gadis pirang itu. Aku yakinkan ini adalah yang terakhir"
Hina tersenyum. "Anggap itu ciuman perpisahan. Kali ini Hina yang akan melepaskan Lucci. Dan Lucci akan memohon Hina untuk kembali." Dia membuat gerakan yang anggun dengan rambutnya, lalu berbalik pergi, meninggalkan Lucci di lantai dansa. Lucci melihat marine itu menjauh dan tersenyum tipis, tidak lama, Hattori kembali mengepakkan sayapnya untuk kembali ke bahu Lucci. Saat itu Lucci melihat sesuatu yang lain. Seorang gadis berambut pirang dengan gaun hitam cantik tengah berdiri sendirian di lantai dansa, memandang ke arahnya dengan intens. Gadis itu, Kalifa.
.
.
Hina-Kalifa-Lucci pernah ketemu di pulau CP9 sewaktu masih kecil? O.o itu trivial yang aku karang kok. Soalnya pas aku liat gambarnya Oda buat Hina yang masih anak-anak yang lagi main-main sama burung-burung, kalau bukan ayam sih -_-; aku jadi kepikiran untuk membuat fic soal relasi mereka. Lagipula Hina itu mirip sama Kalifa lho...
Apakah fic ini kependekan? Aku bingung mau nambahin lagi gimana? Sudut pandangnya Kalifa? Bukannya udah di chap sebelumnya? Ini salah satu fic yang bakal aku hidupkan lagi di FOPI, buat yang suka Z/R, LuCa, LawMon, MiPero, ZoPero, atau pair lain yang melibatkan orang-orang ini, sumonggo ditunggu fic-fic selanjutnya
Review, please?
