Terimakasih buat reviewnya Dandeliona96 dan Rin :D
Selamat membaca chapter 2 :)
Rose Weasley's POV
Scorpius masih menyebalkan. Dia masih tak mau bicara denganku jika tidak ada hal yang penting. Untuk ukuran lupa membelikan permen, hal ini sangat menyebalkan. Memangnya dia tak bisa hidup tanpa permen ketimbang memaafkan sahabatnya? Sepertinya kata Dad memang benar. Anak-anak Slytherin memang menyebalkan dan bau, kecuali Al tentu saja. Bagaimana mungkin aku mengatakan sepupuku sendiri bau meskipun dia terkadang juga menyebalkan. Seperti sekarang pun dia sedang bertingkah menyebalkan, entah kenapa sikapnya menjadi 11-12 dengan si bau Scorpius.
Aku rasa Scorpius juga tak tahu apa yang terjadi dengan Al karena aku melihat dia sendiri jumpalitan menangani sepupuku itu. Well, kalau boleh berspekulasi, sepertinya Al sedang patah hati. Dan pelakunya adalah si pirang Zabini.
Jadwal pertamaku hari ini adalah berada di kelas ramuan bersama anak-anak Slytherin. Aku menghela napas. Kelas ramuan yang biasanya sangat menarik sepertinya akan menjadi sangat tidak menarik untuk saat ini. Saat aku memasuki kelas, mataku langsung tertuju pada Scorpius yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Al yang sedang menguap. Aku mendengus, kemudian cepat-cepat duduk di samping Kate Drabble, teman satu asramaku.
"Hai, Rose," sapa Kate dengan senyum cemerlangnya yang seperti biasa.
Aku hanya tersenyum seadanya sambil melirik Scorpius yang mejanya berada di samping mejaku. Anak itu benar-benar! Selalu saja membuang muka saat aku melihat kearahnya. Dasar!
"Rose...". Suara kate terdengar ragu.
Pandanganku langsung mengarah pada Kate. Sepertinya aku ketahuan sedang melirik Scorpius. "Ada apa, Kate?"
"Apa kau menyukai Scorpius?" Kate manatapku. Wajahnya serius. Matanya langsung mengarah kepadaku yang sedang terpaku saat mendengar pertanyaan konyol itu. Kenapa aku harus terpaku?
Aku? Menyukai Scorpius? Sepertinya Kate terlalu jauh berspekulasi. Scorpius adalah sahabatku. Kami adalah sahabat. Mana mungkin sahabat saling menyukai, kan?
Aku mencoba tertawa tapi aku sendiri merasa bahwa tawaku terdengar sumbang."Yang benar saja Kate." Kupelankan suaraku saat mengatakan, "Bagaimana aku bisa menyukainya? Dia seorang Malfoy dan kami, well, bersahabat. Kau tahu sendiri kan."
"Benarkah?" Sepertinya Kate masih ragu. Tapi, untuk apa dia mengetahui apakah aku suka Scorpius atau tidak? Apakah dia, ehm, menyukai Scorp?
Aku hanya mengangguk dengan senyum yang aku rasa bisa membuatnya berhenti membicarakan Scorpius.
"Well, aku percaya padamu." Aku tak perlu mendapat kepercayaan darimu tentang Scorpius dan berhentilah bicara tentangnya!
Kate mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menyodorkannya padaku. "Tolong berikan ini pada Scorpius, Rose. Aku mohon."
Surat! Yang sedang aku pegang adalah surat! Surat. Surat. Surat. Surat berbau wangi dengan gambar 'love' di sampulnya. Dan surat ini untuk Scorpius Malfoy yang bau itu. Demi Jenggot Merlin, kenapa aku histeris seperti ini?
Scorpius Malfoy's POV
Aku keluar dari ruangan kepala sekolah. Tanganku benar-benar pegal setelah harus menulis kalimat 'Aku tidak akan mengulangi perbuatan yang tidak sopan saat makan malam dan akan bersikap santun' sebanyak 100 kali. Kenapa semua orang senang sekali memberiku detensi. Sepertinya aku memang memerlukan obat anti pegal. Dan...aku juga perlu obat-entah apa-saat melihat pertunjukkan seperti yang sekarang ada di depanku.
Dari belokan di depanku muncul si Brengsek Westday yang menggandeng tangan Rose yang wajahnya sudah seperti tomat. Merah! Kenapa wajahnya harus memerah seperti itu saat bersama si Brengsek Westday! Aku gerah. Benar-benar gerah. Sepertinya wajahku juga berubah menjadi warna tomat! Aku akan pura-pura tak melihat mereka berdua. Tapi kenapa aku harus bersikap seperti ini? Kenapa aku tiba-tiba gerah padahal sekarang bukan musim panas? Kenapa aku selalu merasa marah pada Rose? Aku benar-benar butuh obat!
Rose Weasley's POV
"Rose, bukankah kamu berteman dengan Malfoy?" tanya Alex saat kami berdua sedang menikmati makan malam di meja Gryffindor.
Sepertinya Alex benar-benar sedang mencoba mendekatiku. Bukannya aku geer, tapi sejak kemarin Alex selalu makan di sampingku. Aku benar-benar akan melayang kalau setiap hari selalu makan di sampingnya. Tapi pertanyaannya barusan membuat selera makanku berkurang. Ya, benaar, Scorpius Malfoy adalah temanku, sahabatku. Dan kami sedang perang dingin hanya gara-gara permen! Aku tak mungkin mengatakan hal itu di depan Alex sehingga aku hanya mengangguk sambil menyantap steak ayam di depanku.
"Tapi kenapa kalian sepertinya terlihat 'tidak bersahabat' akhir-akhir ini?"
Aku menunda menyuapkan sepotong steak ke mulutku dan melirik ke meja Slytherin. Scorpius sedang tekun menikmati semangkuk sup di hadapannya. Sebentar, sup? Sejak kapan Scorp memakan sup di meja makan?
"Kami baik-baik saja."
"Oh, benarkah? aku jarang melihat kalian bersama akhir-akhir ini," ucap Alex.
"Apakah aku selalu terlihat bersama-sama dengan dia sebelumnya?" Aku balik bertanya tanpa minat.
"Ya, dan aku rasa kalian sangat dekat saat itu," kata Alex dengan suara seperti percampuran antara kesal, sedih dan cemburu.
"Aku dan dia tak sedekat seperti yang kamu bayangkan, Alex." Aku manatapnya yang sedang memotong-motong sosis di piringnya.
Alex menatapku,"Benarkah? Tapi apa kau tahu apa yang aku bayangkan?"
Well, aku terjebak. Ya, memangnya aku tahu apa yang dibayangkannya? Aku tak bisa legilimens dan kalau aku bisa, aku tak mungkin melakukannya pada seseorang yang aku suka kan?
Alex tertawa melihat ekspresiku yang sepertinya kacau. "Jangan dipikirkan, Rose. Tapi, kalau boleh tahu, kenapa kalian 'tidak bersahabat' saat ini?"
Aku mendengus. Alex terlihat bingung.
"Aku bukan mendengus padamu, sungguh," ucapku cepat-cepat.
"Aku tahu."
"Scorpius sedang sangat menyebalkan." Ada jeda sejenak sebelum aku melanjutkan,"Kau tahu, dia belum mau bicara padaku sejak kunjungan ke Hogsmeade terakhir kita. Siapa suruh dia berkeliaran di koridor pukul 12 malam. Dan siapa yang disalahkan kalo dia tertangkap prefek. Dia benar-benar menjengkelkan. Kenapa dia malah marah padaku hanya gara-gara sesuatu yang tidak penting. Kenapa dia melampiaskan kemarahannya padaku." Aku menghela napas. Memandang Scorpius,lalu memandang Alex di sebelahku. Ya tuhan, aku terlalu banyak bicara.
"Apa aku terlalu banyak bicara?"
Alex menggeleng lalu tertawa
"Aku lebih suka kalau kamu banyak bicara Rose. Aku menyukaimu karena kamu terlihat lebih cantik saat bicara."
Menyukaiku? Aku bengong. Apa Alex baru saja mengatakan kalau dia suka padaku? Apa tadi Alex sedang membuat sebuah pengakuan? Apa ini artinya kita bisa jadian?
"Rose," panggil Alex dengan suara yang melembut. Aku tak ingin tempat penembakan di lakukan di aula besar saat makan malam! Tidak terlihat romantis sama sekali. Tidak ada bulan, tidak ada bintang. Bahkan tidak ada angin sepoi-sepoi.
"Ya?" Aku tak tahu harus bicara apa. Banyak yang ingin aku katakan, tapi yang keluar hanya kata 'ya?'
"Boleh aku tanya sesuatu?" Wajah Alex terlihat serius
Aku hanya mengangguk. Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
"Ehm, aku hanya penasaran dan ingin memastikan saja," Alex berhenti sejenak sebelum mengatakan," Apa kau menyukai Malfoy?"
Tiba-tiba aku merasa jatuh dari menara Gryffindor. Kenapa orang-orang selalu menanyakan hal ini padaku? Apa aku terlihat seperti menyukai Malfoy? Scorpius Malfoy? Apa aku terlihat seperti salah satu groupiesnya?
"Scorpius?"
Alex mengangguk, menunggu jawaban, wajahnya terlihat tegang. Aku harus memberikan jawaban apa pada Alex? Kulirik meja Slytherin. Scorpius sedang memandangku! Aku yakin dia baru saja memandangku sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya.
"Aku tak mungkin menyukai Scorpius." Itu adalah satu-satunya kalimat yang aku tahu sampai saat ini. Aku tak mungkin menyukai Scorpius kan? Dia sahabatku! Dan dia juga tak akan pernah mungkin menyukaiku.
"Syukurlah," wajah tegang milik Alex langsung hilang. Aku tersenyum padanya. Senyum yang entah terlihat seperti apa.
Aku tak mungkin menyukai Scorpius kan?
Scorpius Malfoy's POV
Al masih bersikap aneh. Yang dikerjakannya hanya duduk termangu, murung, dan menghela napas setiap 10 menit sekali. Aku benar-benar bosan dengan tingkah lakunya yang seperti akan mati besok. Dia selalu menghindari ruang rekreasi asrama dan lebih memilih mengungsi di perpustakaan. Sangat tidak Al sekali. Meskipun yang dikerjakannya di perpustakaan hanya termangu memandang satu halaman selama lebih dari setengah jam. Prediksiku sepertinya benar, Al sedang patah hati. Dan kalau dia sedang patah hati, tersangka utama yang harus disalahkan adalah Alisa. Alisa Zabini. Siswa kelas enam Slytherin.
Perpustakaan, jam makan siang.
Tebakanku benar. Al sedang memandangi buku di hadapannya saat aku datang. Ekspresinya masih tetap sama sejak beberapa hari lalu. Bukan sedih, bukan bahagia, bahkan bukan ekspresi datar. Aku kesal. Kenapa semua sahabatku bertingkah sangat menyebalkan? Terlebih sepupunya si Weasley. Dia semakin dekat saja dengan si Brengsek Westday itu.
"Hai, mate," sapaku sambil menarik kursi disebelahnya, lalu duduk. "Apa kau tidak punya kegiatan lain selain memandangi buku di depanmu?"
Al hanya melirik sekilas ke arahku kemudian melanjutkan kegiatannya tadi. Sama sekali tak tertarik dengan pertanyaanku.
"Well, kau tahu. Akhir-akhir ini kau sangat menyebalkan, seperti sepupumu itu." kataku sinis.
"Berhentilah menggangguku Scorp," jawab Al malas tanpa sekalipun melirik ke arahku. Dia benar-benar membuat kesabaranku habis! Patah hati bukan berarti hidupmu berhenti kan?
"Aku tahu tentang kau dan Zabini," ucapku memprovokasi. Al tak bergeming, sama sekali tak tersulut.
"Bukan berarti hidupmu berakhir kalau kau dan dia putus kan?" Akhirnya aku mengetahui penyebab kesuraman seorang Albus Potter meskipun harus berjuang untuk mendapatkan informasi itu. Alisa Zabini adalah orang yang sangat susah. Dia tipe anak yang tak ingin mengumbar kehidupan pribadinya.
Al masih diam. Tapi aku tahu jika dia mendengarkanku. "Masih banyak perempuan yang mengantri untukmu, Al. Zabini bukan perempuan satu-satunya."
Al langsung menatapku. Wajahnya mengeras. Dan aku tahu jika dia kesal pada ucapanku.
"Kau akan tahu kalau kau merasakannya, Malfoy!" ucap Al sinis. Dia mendorong kursinya kebelakang dan langsung meninggalkanku. Merasakannya? Aku sudah putus 5 kali-kalau aku tak salah hitung-dengan perempuan, dan aku merasa baik-baik saja. Buktinya aku masih hidup sampai sekarang. Aku tak pernah seperti mayat hidup berjalan yang kerjaannya hanya memandangi buku dengan pandangan kosong seperti dia! Apa yang membuat Al jadi seperti ini? Kenapa dia jadi melow sekali? Ah, benar-benar.
Aku beranjak dari tempat duduk. Sebaiknya aku menyusul Al sebelum dia bertambah menyebalkan kepadaku. Tapi aku tidak akan mengucapkan kata 'maaf' untuk ucapanku tadi. Aku benar tentang hal itu. Al hanya perlu menemukan perempuan lain diantara banyak gadis-gadis Hogwarts yang mengantri untuknya. Sebagai sahabat, aku harus menasehatinya.
Sayangnya, baru melangkahkan kaki beberapa langkah, aku harus menghentikan langkahku lagi. Bagaimana tidak? Aku melihat Rose bersama si Brengsek Westday sedang memperhatikan sesuatu di buku-yang dipegang si Brengsek Westday-sambil tertawa-tawa pelan di samping salah satu rak buku. Aku ingin marah. Benar-benar ingin marah. Tapi apa yang harus aku lakukan?
Rose Weasley's POV
Aku terkejut dan aku yakin Alex juga mengalami hal yang sama. Scorpius tiba-tiba sudah berdiri di depan kami dengan muka datar saat kami sedang menertawakan salah satu tokoh di komik yang dibawa Alex dari rumahnya. Ya, Alex punya komik dan dia sangat menyukainya. Alex adalah seorang darah campuran, ibunya seorang muggle. Dia tahu banyak hal tentang dunia muggle dan kami selalu cocok saat ngobrol tentang kehidupan para muggle. Tidak seperti laki-laki di depanku saat ini. Scorpius Malfoy.
"Aku ingin bicara denganmu, Weasley," kata Scorpius dengan menekankan kata terakhir.
Aku mendelik padanya. Jadi dia masih marah padaku? Oke, aku tak akan ambil pusing.
"Silakan bicara, Malfoy," jawabku dengan tekanan pada kata terakhir.
"Aku rasa hanya ada kita berdua saja cukup, Weasley." Scorpius melirik Alex yang ada di sampingku. Aku melihat Alex mengangkat bahu. Aku tahu dia pasti terganggu dengan Scorpius.
"Baiklah. Aku akan menemuimu lagi nanti, Rose," ucap Alex
Aku mengangguk dan tersenyum, kemudian Alex meninggalkan kami berdua.
"Apa?" tanyaku ketus setelah Alex pergi.
"Aku tak suka melihatmu dengan Westday."
"Aku tak perlu tahu apakah kau menyukainya atau tidak untuk dekat dengannya kan, Malfoy?"
"Jelas kau perlu tahu, Weasley," jawab Scorpius tak sabar.
Buat apa aku tahu dia suka atau tidak dengan Alex. Aku tak perlu pendapatnya kan? Aku mengencani Alex-Aku sudah jadian dengannya-karena aku suka dengannya, bukan karena telah ada persetujuan dari Scorpius. Dia hanya sahabatku kan?
"Aku rasa aku tak butuh pendapatmu, Malfoy." kataku ketus.
"Benarkah? Bukankah kamu selalu meminta pendapatku tentang banyak hal?" Scorpius memandang ke bawah,"Bahkan sepatu yang kamu pakai saat ini pun kamu beli setelah mendengar pendapatku."
Wajah Scorpius yang sok benar-benar membuatku sebal. Memangnya aku seperti itu?
"Well, mulai sekarang aku tak akan meminta pendapatmu, Mr malfoy." Aku berhenti sejenak. Memikirkan kata yang tepat untuk membuatnya bungkam." Aku akan minta pendapat Alex karena dia adalah pacarku."
Scorpius Malfoy's POV
Entahlah. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi denganku. Saat Rose mengatakan bahwa Alex adalah pacarnya, jantungku seperti melewatkan satu detakan. Lalu aku merasa ada sebuah lubang yang muncul entah dimana yang membuat aku merasa ngilu. Seperti ada seseorang yang menancapkan pisau dan mencabutnya lagi tepat di dadaku. Dan aku membayangkan si Brengsek Westday lah pelakunya.
