Maaf updatenya lama dan cerita di chapter ini sedikit. Selamat Membaca J

Scorpius Malfoy's POV

Aku belum bicara pada Al. Setelah keluar dari perpustakaan aku malah menuju ke kamar asramaku dan langsung ambruk. Bahkan aku membolos kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Disini aku memikirkan banyak hal, terutama tentang Aku dan Rose.

Rose tak pernah dekat dengan laki-laki lain di Hogwarts selain aku dan Al sebelumnya. Dia selalu ada disekitarku, sering menguntitku kemana-mana, mengolok-olok jika aku menemukan perempuan yang bisa aku kencani, dan tertawa-tawa hanya bersama kami berdua. Rose selalu meminta ditemani ke Honeydukes jika ada kunjungan ke Hogsmeade lalu merayuku agar membelikannya permen segala rasa, selalu melihat latihan dan pertandingan quidditchku, membantuku mengerjakan tugas, selalu tersenyum paling ceria jika aku putus dengan mantan-mantanku sambil berkata 'Kau terlalu baik untuknya, Scorp'.

Tapi apa yang terjadi sekarang? Dia mengabaikanku dan tertawa bersama si Brengsek Westday! Bahkan mereka pacaran! Apa yang terjadi? Kenapa mereka berdua bisa pacaran? Rose hanya pernah mengatakan bahwa dia menyukai perilaku si Brengsek Westday satu kali saat kami kelas enam. Dan dia tak pernah mengatakan apa-apa lagi padaku tentang hal itu.

Aku menghela napas dan memandangi kanopi bagian atas tempat tidurku. Aku tidak rela si Brengsek westday menggandeng tangan Rose kemana pun mereka pergi saat mereka berjalan berdua. Aku tak terima jika dia berani mencium Rose! Aku langsung beranjak dari tempat tidurku. Tak berani membayangkan kemungkinan itu akan terjadi. Tapi mereka pacaran. Bagaimana mungkin mereka tidak akan berciuman! Arrrrrrggghhh!

Aula besar, makan malam.

Aku berjalan dengan malas menuju meja Slytherin. Al sedang asik memakan sosis sambil membaca sesuatu di selembar kertas. Aku duduk di sebelahnya dan langsung meraih sepiring steak daging pedas.

"Hai, Scorp," sapa Al saat menyadari keberadaanku. Nada suaranya terdengar tidak semenyebalkan sebelumnya.

Aku hanya bergumam karena mulutku penuh dengan steak daging.

"Kenapa kau membolos kelas? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Al sepertinya menatapku. Tapi aku mengabaikannya dan sibuk memotong-motong steak di piringku.

Al belum menyerah sebelum mendengar suaraku. "Aku mencarimu kemana-mana setelah kelas selesai. Tapi kau tak ada dimana-mana. Apa kau meminjam jubah gaibku? Well, aku meninggalkannya di lemariku."

Ah, dasar anak ini. Kalau dia murung seharian, aku bahkan tak bisa mengganggunya. Tapi kalau aku yang murung, dia akan terus mengganggu. Hei, memangnya aku sedang murung?

"Sepertinya kau sedang ada masalah mate?" tanya Al

Aku diam saja

"Well, mungkin ini bisa menjadi obat untuk sikapmu itu." Al menyodorkan selembar kertas ke depan mukaku. "Bacalah."

Aku mendongakkan kepala dan menatap selembar kertas di depanku dengan tak minat. Terpaksa supaya Al tutup mulut.

Dear Scorpius. Dear?

Aku selalu menatapmu di ruang kelas, di aula besar saat makan malam, di lapangan quidditch, juga di salah satu meja di Broomstick saat kunjungan ke Hogsmeade. Aku suka bagaimana caramu tersenyum dan tertawa.

Tulisan apa ini? Aku menatap Al yang sepertinya sedang menahan tawa.

"Teruskan Scorp. Bahkan pembuka suratnya pun belum selesai." Al tertawa.

"Surat? Siapa yang mengirim surat ini?" tanyaku sambil merebut lembaran kertas itu dari tangan Al. Tak ada pengirim.

"Pengirimnya ada di lembaran ini, Scorp." Al mengibar-ngibarkan selembar kertas sambil terus tertawa meledek.

"Berikan padaku Albus Potter! Dan tutup mulutmu!" Aku berhasil merebut lembaran kertas itu dan langsung melihat bagian bawah surat tanpa membaca tulisa-tulisan diatasnya. Kate Drabble?

"Ya ampun, Scorp. Lembaran-lembaran ini bisa sangat menghibur. Lihat, ada empat lembar berisi sanjungan untukmu."

Di meja teronggok empat lembaran surat yang jelas sudah dibaca Al. Apa-apaan ini? Surat konyol ini untukku? Yang benar saja! Aku tak pernah menerima surat seperi ini, dan sungguh, surat ini menggelikan meskipun aku baru membaca 2 kalimat.

"Burung hantu siapa yang mengirimnya?" Tanyaku pada Al sambil membereskan lembaran surat dan memasukkannya ke dalam jubahku.

"Rose yang memberikannya padaku."

Rose? Aku langsung melirik meja Gryffindor dan dengan mudah menemukan rambut merah milik Rose. Rose sedang sibuk dengan makanan di piringnya sambil sesekali membicarakan sesuatu dengan si Brengsek Westday yang berada di sebelahnya.

"Siapa Kate Drabble? kenapa Rose yang mmberikannya? Dan kenapa Rose malah memberikannya padamu?" tanyaku tak sabar pada Al.

"Kau tak tahu Kate Drabble? Ya ampun, Scorp. Kita sekelas dengannya di kelas Ramuan dan Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Dia teman sekamar Rose." Al mengitarkan pandangannya ke meja Griffindor." Nah, itu dia anaknya."

Aku mengikuti arah pandangan Al dan menemukan seorang gadis berambut hitam panjang yang sedang berbicara dengan teman di sebelahnya.

"Dia lumayan juga, kan?" tanya Al sambil menatapku.

"Aku tak tertarik," jawabku malas.

" bahkan lebih cantik daripada si Helena itu."

"Aku tak berhentilah menggangguku, Al. sepertinya kau lebih baik bersikap menyebalkan seperti sebelumnya," ucapku kesal.

"Well, aku sudah memutuskan untuk keluar dari masa berkabungku, Scorp." Ada jeda sebentar."Meskipun kata-katamu di perpustakaan tadi tidak menyentuh. Aku rasa ada benarnya juga. Thanks, mate." Al menepuk pundakku.

"Jadi kau ingin mencari wanita baru? Aku merelakan Drabble untukmu, Al."

"Hei, kau terlalu kejam. Drabble menyukaimu!"

"Aku tak tertarik," sahutku malas." Kau boleh mengencaninya jika kau mau."

"Aku akan kembali pada Zabini, Scorp," kata Al kalem.

Aku menatap Al dengan pandangan tak percaya. Kembali pada Zabini? Apa harga diri Al sudah lenyap?

"Well, aku tak perlu tahu pendapatmu. Yang jelas aku akan membuat Zabini kembali padaku."

Rose Weasley's POV

Scorpius membolos kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Bagaimana dia bisa sukses jadi auror kalau kerjaannya membolos kelas ini? Ah, Dad pasti akan langsung mendepaknya dari kesatuan auror. Scorpius memang suka sekali bertindak seenaknya, lebih-lebih padaku. Sudah sekitar 2 minggu kami tak saling bicara. Bukankah ini waktu yang sangat lama untuk mendiamkan sahabat? Apa salahnya jika aku lupa mmbelikannya permen? Well, aku memang salah karena aku lupa. Tapi ini adalah permen, bukan sesuatu yang penting seperti tongkat sihir. Sifat kekanak-kanakannya memang tak pernah berubah sejak dulu. Tapi herannya, banyak sekali perempuan yang mengantri untuknya.

Aku sering mendengar nama Scorpius dibicarakan dimana-mana dengan nada kagum dan tertarik. Dan dulu aku juga pernah mendengar nama Scorpius berdengung di kamar asramaku. Meski suaranya pelan, tapi aku tetap mendengarnya. Ya, well, aku sudah tahu siapa pengagum Scorpius di dalam kamarku. Kate Drabble. Kate Drabble berasal dari keluarga penyihir berdarah murni. Salah satu keluarga yang masih eksis mempertahankan tradisi darah murni mereka. Aku dengar seluruh keluarga mereka berdarah murni. Bayangkan saja! Di masa sekarang bagaimana mungkin mempertahankan tradisi konyol seperti itu. Yahh, memang tak ada yang tak mungkin di dunia. Dan sepertinya Kate akan menjadikan Scorpius sebagai suami idaman berdarah murni yang paling cocok untuknya.

Tapi aku rasa mereka tak cocok. Sama sekali tak cocok. Aku sangat menyesal telah memberikan surat itu pada Al dan menyuruhnya untuk memberikannya pada Scorpius. Aku tahu Scorpius sudah membacanya kemarin saat makan malam di aula besar. Aku sungguh menyesal. Entah kenapa. Mungkin karena aku tak mau teman sekamarku sendiri menjadi pacar sahabatku. Aku akan merasa terganggu jika hal itu terjadi. Karena itulah, aku harus memberitahu Scorpius tentang hal ini. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya. Mungkin saat makan di aula besar? Tapi Alex selalu ingin makan bersamaku. Atau saat kelas ramuan besok? Masa aku membicarakan hal seperti ini di kelas? Lagipula ada Kate. Ah, mungkin setelah kelas selesai. Aku akan menariknya sebelum berjalan menjauh dari kelas. Well, rencanaku cukup matang.

Kelas Ramuan

Kelas ramuan hampir selesai. Proffesor Slughron sedang memberikan pengarahan mengenai ujian bagi kelas tujuh yang sebentar lagi akan berlangsung. Kira-kira 5 bulan lagi.

"Baiklah, aku rasa pertemuan kita hari ini cukup sampai disini." Professor mempersilakan kami meninggalkan kelas.

Aku sudah beranjak dari kursi dan akan menghampiri Scorpius yang sedang sibuk merapikan bukunya ketika suara Professor Slughron memanggil namaku.

"Ya, Professor?" jawabku menatap Professor Slughron.

"Saya ingin membicarakan sesuatu denganmu Ms. Weasley. Kemarilah," ucap Professor Slughron serius

"Baik, Professor." Aku melirik ke arah Scorpius yang ternyata sudah hampir keluar kelas. Biasanya dia akan bertanya padaku apa yang terjadi. Sekarang dia bahkan tidak memperdulikanku lagi.

Aku menghampiri Professor Slughron. "Ada apa Professor?"

Professor Slughron memandangku dengan pandangan cemas. "Apa kamu baik-baik saja Ms. Weasley? Saya lihat Anda tidak terlalu bersemangat hari ini. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"

"Saya baik-baik saja Proffesor."

"Benarkah tak ada apa-apa?" Proffesor masih mencoba memastikan. Aku mengangguk meyakinkan orang tua di depanku. Kau tahu, dia memang sangat perhatian padaku. Semua orang di Hogwarts mengatakan bahwa aku adalah anak emasnya. Bahkan Albus tidak terlalu diperlakukan seperti ini. Padahal Mom pernah berkata bahwa Uncle Harry dulu adalah anak emas Proffesor Slughron.

"Baiklah, Ms. Weasley. Kau boleh meninggalkan kelas." Proffesor tersenyum." Hati-hati di koridor, pveyes sedang tak baik akhir-akhir ini."

"Terimakasih Proffesor." Aku tersenyum sebentar dan langsung meninggalkan kelas. Ah, Scorpius pasti sudah berada di aula besar. Kesempatanku berbicara dengannya hilang.

"Mendapat masalah Weasley?" Aku berhenti dan melihat Scorpius yang sedang bersandar di tembok luar kelas.

"Well, aku rasa kau juga sedang tak baik-baik saja." Scorpius berjalan mendekat ke arahku.

"Berhenti memanggilku Weasley, Scorpius!" Aku membentaknya! Aku sudah tak tahan dengan tingkah konyolnya.

Scorpius memandangku."Oke, Rose."

Aku menghela napas, mengeluarkan sebungkus permen segala rasa dari dalam tas, lalu mengulurkannya pada Scorpius. "Ini permen pesananmu."

Aku melihat Scorpius mengerutkan keningnya. Tapi dia tetap mengambil bungkusan itu dan aku seperti melihat sebuah senyuman. Senyuman yang sangat tipis. Aku tahu dia suka dan mungkin akan segera memaafkanku.

"Bagaimana bisa kau mendapatkan permen-permen ini? Jangan-jangan kau menyelinap ke Hogsmeade? Seharusnya kau mengajak aku dan Al, Rose." Scorpius tertawa.

Aku tersenyum. Scorpius memaafkanku! Ternyata masalah ini memang benar-benar terjadi karena permen sialan itu." Sekarang aku tak mungkin melakukan itu, Scorp."

"Lalu?"

"Aku meminta Alex untuk membelikannya. Well, dia ada sedikit urusan di Hogmeade kemarin."

Hening. Tak ada jawaban. Wajah Scorpius langsung berubah datar. Apa lagi yang salah? Ah, abaikan saja. Dia selalu seperti ini. Moody.

"Well, Scorp. Tentang surat yang kemarin itu, yang aku berikan pada Al dan menyuruhnya memberikannya padamu. Apa kau sudah menerimanya? Tanyaku basa-basi sekaligus untuk mencairkan suasana.

"Ya aku sudah menerimanya, dan aku..."

"Aku harap kau tak mempedulikan surat itu Scorp," potongku sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.

Dahi Scorpius terlihat mengkerut. Mungkin bingung dengan kata-kataku barusan.

"Abaikan saja surat itu dan anggap kamu tak pernah membacanya."

"Well, kenapa?"

"Aku tak suka jika kau menjadikan Kate pacarmu."

"Memangnya kenapa kalau aku menjadikan Kate pacarku?" Scorpius diam sejenak. Sepertinya memikirkan kata-kataku tadi." Aku rasa tak ada masalah. Dia cantik, darah murni, lumayan pintar, dan aku suka gadis dengan rambut hitam panjang."

"Scorp, dengarkan aku." Aku yakin suaraku terdengar seperti memelas."Kalian berdua tak cocok."

"Tak cocok?" Scorpius mendengus

Aku diam saja. Aku mencoba meyakinkan Scorpius dengan tatapan mataku.

"Aku akan mengabaikan Drabble kalau kau menjauhi Westday," ucap Scorpius datar. Suaranya terdengar seperti menantang di telingaku.

Menjauhi Alex? Yang benar saja! Alex adalah pacarku, bagaimana mungkin aku menjauhi pacarku sendiri.

"Alex adalah pacarku, Scorp. AKu tak mungkin menjauhinya."

"Well, kalau begitu. Aku akan menjadikan Drabble sebagai pacarku juga," kata Scorpius santai.

"Tapi, Scorp. Aku tak suka kau bersama Kate." Aku masih berusaha meyakinkan Scorpius.

"Aku sangat tak menyukai Westday, Rose." Suara Scorpius terdengar sangat dingin.

Aku menatapnya tak percaya. Kenapa dia tak mau mendengarkanku?

"Pilihannya hanya itu, Rose sayang." Scorpius tersenyum padaku. Aku tahu, senyum itu adalah senyum yang biasa ia tampilkan saat ingin menantangku berbuat sesuatu.

"Terserah padamu, Scorpius Malfoy!" Aku mendelik padanya dan segera melangkahkan kakiku untuk menjauh darinya. Sebaiknya aku pergi makan saja.

"Sebentar lagi kau akan mendapat kabarnya, Rosie," kata Scorpius dengan suara keras yang menyebalkan.

Scorpius Malfoy's POV

Sebenarnya aku tak pernah berpikir menjadikan Drabble sebagai pacarku. Tapi, apa boleh buat? Sepertinya menjadikan Drabble pacarku adalah satu-satunya jalan untuk membuat Rose meninggalkan Westday. Mungkin aku terlalu kejam. Tapi aku adalah seorang Malfoy dan Slytherin. Aku akan melakukan apa saja agar kemauanku terpenuhi.

Suatu hari nanti, aku akan minta maaf pada Drabble karena telah memanfaatkannya. Aku janji.

Rose Weasley's POV

Kate menggandeng lengan Scorpius saat masuk ke aula besar ketika sarapan pagi. Mereka sudah pacaran sejak semalam. Aku mendengar bagaimana histerisnya Kate saat memasuki kamar dan memelukku dengan sangat erat sambil mengucapkan kata 'terima kasih' berkali-kali. Mungkin dia menganggapku telah memuluskan jalannya menjadi pacar Scorpius, padahal kenyataannya adalah sebaliknya.

Aku mengabaikan kedatangan mereka berdua dan lebih memilih memakan ayam yang sekarang ada di hadapanku. Aku sendirian. Alex belum datang. Sepertinya dia belum bangun karena dia harus patroli keliling Hogwarts tadi malam.

Aku mendengus. Pagiku diawali dengan hal-hal yang tidak menyenangkan.

"Masih terlalu pagi untuk mendengus, Rose."

Aku mendongak dan mendapati Scorpius sudah ada di sampingku. Senyumnya yang menyebalkan seperti tadi malam masih terukir di wajahnya. Sedangkan Kate yang berada di sebelahnya tersenyum manis padaku.

"Pagi yang indah, Rose," sapanya sambil tersenyum sumringah

Aku hanya tersenyum seadanya dan langsung mengalihkan pandanganku ke arah ayam goreng dipiringku yang belum habis. Aku butuh banyak ayam goreng untuk dimakan pagi ini! Mengapa mereka memilih duduk di sampingku? Banyak sekali tempat duduk yang masih kosong di meja Gryffindor. Atau lebih baik mereka makan di meja Slytherin saja.

"Scorpius, kau ingin makan apa pagi ini?" Suara Kate yang terdengar sangat lembut mengawali pertunjukkan di sampingku.

"Aku akan makan apa saja yang kauberikan, dear."

Dear? Scorpius memanggil Kate 'dear'? Aku tak pernah mendengar Scorpius memanggil pacar-pacar sebelumnya dengan sebutan 'dear'.

"Kalau begitu kau makan roti dengan sup jagung saja. Baik untuk sarapan pagi, dear."

Oh My God! Bisakah mereka tak menampilkan kemesraan yang memuakkan di meja makan? Apa mereka tak tahu kalau sikap mereka bisa membuat orang kehilangan nafsu makan? Dan jelas sekali kalau salah satu orang itu adalah aku! Aku sudah tak bisa merasakan daging ayam enak di lidahku. Rasanya sudah hambar. Aku tak merasakan lagi garam atau merica yang beberapa saat lalu kurasakan. Bagaimana bisa aku memakan daging ayam hambar? Aku meletakkan daging ayam goreng yang baru satu gigitan dan meraih susu coklat hangat di depanku.

"Aku duluan ya." Aku beranjak dari tempat duduk dan mencoba tersenyum seramah mungkin. Tapi aku yakin kalau aku gagal.

Scorpius melihat piringku yang masih setengah, mengerutkan kening, dan menatapku." Makanan di piringmu masih banyak, Rose."

"Aku sudah kenyang. Lagipula aku ada janji pagi ini. Bye."

"Sepertinya nafsu makanmu hilang? Well, ingat apa yang aku ucapkan kemarin sore, Rose," ucap Scorpius santai.

Aku mendelik pada Scorpius. Anak ini memang menyebalkan. Terserah dia saja! Bukan urusanku kalau dia berpacaran dengan Kate.

Scorpius Malfoy's POV

Berpura-pura menyukai seseorang ternyata memang sulit. Semuanya menjadi aneh dan membingungkan. Bagaimana mungkin aku memanggil Drabble dengan sebutan 'dear'. Perutku selalu bergejolak tak jelas saat mengucapkan kata itu. Ada sensasi percampuran antara geli dan aneh. Aku bahkan tak pernah memanggil pacar-pacarku sebelumnya dengan sebutan itu. Terus terang, aku bukan tipe pria yang romantis. Dan aku merasa gerah jika aku terus begini. Aku tak menyukai atau tertarik dengan Drabble, sungguh. Biasanya aku akan mengencani seseorang yang aku sukai, meskipun pada akhirnya aku akan merasa bosan dengan mereka.

Sepertinya aku memang jahat. Sebagai pria aku tak seharusnya seperti ini. Tapi apa daya, aku harus membuat Rose meninggalkan Westday. Secepatnya!

Albus POtter's POV

Rose dan Scorpius. Mereka berdua seperti sedang berkompetisi untuk saling mempertahankan argumen masing-masing. Hal ini sebenarnya sudah sering terjadi. Akan sulit menentukan siapa yang akan menang karena mereka berdua sangat keras kepala dengan apa yang ada di otak mereka.

Sebenarnya Scorpius dan Rose adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Rose selalu mengikuti kemana pun Scorpius pergi dan sebaliknya Scorpius selalu mengawasi kemana pun Rose pergi. Mereka berdua sama-sama saling membutuhkan. Ah, aku saja sering merasa tersisihkan sebagai sepupu dan sahabat. Sayangnya, banyak sekali perbedaan diantara mereka seperti dua sisi mata uang yang bertolak belakang. Mereka selalu berdebat tentang hal-hal yang sebenarnya tak perlu diperdebatkan. Misalnya seperti sekarang, aku tahu Scorpius tak suka dengan Westday karena dia pacar Rose. Sedangkan Rose sepertinya tak terlalu menyukai teman sekamarnya si Drabble karena dia pacar Scorpius. Kenapa aku tahu semua itu? Well, aku selalu bersama meraka sejak menginjakkan kaki di Hogwarts. Aku adalah orang yang sangat peka dan tentu saja tak bodoh. Sebagai orang yang paling dekat dengan mereka, aku tak kesulitan untuk mengetahui apa yang terjadi.

Aku akan memberitahukan sebuah rahasia tentang mereka berdua yang sepertinya hanya aku yang menyadari hal ini sejak dulu-diantara kami bertiga. Rose tak pernah menyukai perempuan yang pernah menjadi pacar Scorpius dan perempuan-perempuan yang didekati atau mendekati Scorpius. Begitu juga Scorpius, dia tak pernah menyukai laki-laki yang mencoba mendekati Rose. Dia tak pernah memberikan sedikitpun kesempatan laki-laki lain untuk sekedar dekat dengan Rose. Tak heran jika Rose baru mendapat pacar pertamanya di tahun ketujuh. Aku dan sepupu-sepupuku yang lain bahkan tak terlalu mempermasalahkan siapa yang dekat dengan Rose. Tapi Scorpius ini yang selalu mempermasalahkan mereka.

Mereka sangat keras kepala bahkan pada diri mereka sendiri. Bagaimana mereka bisa menyadari apa yang terjadi pada mereka? Kali ini aku juga akan membiarkan mereka menemukan sendiri apa sebenarnya 'masalah' yang mereka hadapi. Ah, lebih baik bersantai sambil menonton apa yang akan terjadi. Itu lebih seru. Sungguh! Aku sudah menontonnya berkali-kali. Sayangnya mereka berdua tak pernah berhasil memecahkan 'masalah' yang mereka hadapi. Menyebalkan dan menggemaskan memang, tapi itulah mereka. Selalu berusaha untuk keras kepala pada diri mereka sendiri.

Aku akan menonton mereka sambil berusaha mendapatkan Alisa kembali!