It's undeniable that we should be together
You're stuck with me
You're tied to me forever
I'd made you belonged to me
No words, just one word,
MINE!

.

.

.

.

.

Queen is King's © Jenny Kim

Super Junior © God, SMEnt, ELFs, Their Parents and of course Themselves

Rated: T semi M

Warning(s): Always Boys Love, MPREG, OOCness, Typo, etcetera-etcetera~

.

.

.

.

.

"Tidak mungkin!" gumam Ryeowook syok. Ia menatap cermin besar setinggi tubuhnya dihadapannya, lalu memutar tubuhnya menghadap kanan. Ia terpaku melihat perutnya dari arah samping. Pinggangnya yang ramping seperti pinggang wanita kini terlihat tebal, perutnya yang rata kini tampak gemuk tepat di bagian bawah pusarnya.

'Bruk!'

Ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur dengan kaki menekuk menjuntai ke lantai. Dengan ragu ia menyentuh perut bawahnya yang membuncit. Keras... Ia dapat merasakan 'sesuatu' yang menggumpal di sana. Janin...

Ryeowook menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Perlahan matanya memanas dan terasa perih. Bibirnya bergetar. Airmatanya jatuh. Buru-buru ia membekap mulutnya dengan tangan kanannya sebelum isakannya terdengar.

Tangan kirinya meremas kuat perutnya. Membiarkan rasa sakit menghantam perutnya. Menjalar ke sekujur tubuhnya.

Jadi dia benar-benar hamil? Jadi ini bukan mimpi buruk semata? Bagaimana mungkin... sekalipun dia hamil, perubahan fisiknya tidak akan secepat ini. Demi Tuhan, ini baru 3 hari!

Bagaimana dengan seminggu? Mungkin perutnya sudah meledak sebelum hari itu tiba.

Apa yang harus ia lakukan pada anak itu? Itu anak Yesung! Itu bukan anak Jongwoon, suaminya! Apa yang harus diperbuatnya?

Apa dia harus menggugurkannya sebelum perutnya makin membesar? Tapi... dia tidak sekeji itu. Dia tidak sanggup. Atau merawatnya bersama Jongwoon?

Dan membuat Jongwoon tersakiti lagi karena harus selalu mengingat 'pengkhianatan' Ryeowook setiap hari lewat wajah anak itu? Kau gila, Kim Ryeowook!

Jongwoon memang baik, namun bukan berarti dia boleh untuk disakiti terus!

Pilihan terakhir... Memberikan bayi itu pada Yesung. Sanggupkah Ryeowook? Bayi itu... bayinya juga, 'kan?

.

.

.

.

.

Jongwoon memejamkan matanya. Membiarkan angin terik menerpa wajah halusnya. Menggoyangkan sekelompok pohon bambu dihadapannya.

"Appa.." panggilnya pelan.

Seekor reptil berbisa jenis ular dengan warna coklat kemerahan yang melingkar nyaman di salah satu pohon bambu tersebut menggerakkan matanya. Irisnya berwarna emas dengan pupil hitam legam. Ular itu diam, tidak mendesis atau melakukan gerakan apapun. Tetap tenang dan balik menatap sang putra.

"Istriku hamil, Appa.. Appa mau memberiku selamat?" tanya Jongwoon tersenyum getir. "Appa akan segera menjadi Harabeoji.."

"Tapi kau tidak menjadi Appa," ucap ular itu.

Jongwoon tersenyum miris. "Dia anak yang dikandung istriku.."

"...dengan kakakmu," sambung Youngwoon, ular itu.

"Ya, dengan King... bukan denganku.." lirih Jongwoon. "Umma menyuruhku mengalah, Appa.."

"Lalu?"

Jongwoon mengepalkan tangannya. Mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menggeram. "Kenapa harus selalu aku yang mengalah? Kenapa King selalu mendapatkan apa yang diinginkannya? Kenapa aku tidak berhak bahagia, Appa? Kenapa... kenapa Umma tidak adil...?"

"Apa kau tahu kenapa Umma-mu memperlakukan King dengan berbeda?" tanya Youngwoon.

Jongwoon berdecih. "Lebih menyayanginya daripada aku maksud Appa? Tidak, waeyo? Ada yang kalian sembunyikan?"

"Umma-mu pernah menikah sebelum bertemu denganku, Jongwoon-ah," ucap Youngwoon tenang. Jongwoon terperanjat. "Dan King serta dirimu bukanlah anak pertama yang dilahirkannya."

"Mwoya? Ma-maksud Appa, kami punya..."

"Seorang kakak," potong Youngwoon datar. "Namanya Lee Donghae."

Untuk sesaat, Jongwoon kehilangan keseimbangannya, namun ia kembali tegak berdiri. "Dimana dia?"

"Banpo-dong."

'Deg!'Makam? Jadi Donghae sudah meninggal?

"Ba-bagaimana.."

"Ayah Donghae bukanlah suami yang baik. Demi bisa menikah lagi, ia mencoba meracuni Jungsoo, namun Donghae mengetahui niat busuk ayahnya. Ia meminum jus berisi racun itu untuk melindungi ibunya."

Jongwoon terdiam. Donghae orang yang baik. Dia membuat ibunya memiliki umur yang lebih panjang sehingga Jongwoon dan King juga para saudara mereka bisa lahir dari rahim namja cantik itu.

"Lalu apa hubungannya dengan King?"

"Donghae itu... bermata emas."

'Deg!'Jongwoon menekan dadanya yang terasa sakit. Jelas sudah... "Tapi ini tidak adil, Appa! King bukan Donghae!"

"Sayangnya, Umma-mu tidak memiliki pikiran yang sama denganmu, Jongwoon-ah."

.

.

.

.

.

"King, aku ingin bicara." Jongwoon mendudukkan dirinya di kursi yang berada tepat di samping ranjang Yesung.

"Matahari masih tinggi," ucap Yesung tanpa membuka matanya.

"Aku tidak peduli kau nocturnal yang selalu berhibernasi di siang hari atau apapun. Aku ingin bicara dan kau harus mendengarkanku!"

Yesung membuka mata sipitnya dan melirik Jongwoon sebelah mata. "Kau bisa bicara juga? Kupikir kau cuma bisa main garam dan beling."

Jongwoon mendengus keras. "Masih untung aku belum mengulitimu."

"Berterimakasihlah karena aku belum mematukmu sampai sekarang."

"Kenapa tidak kau lakukan?" tantang Jongwoon.

"Karena kau adikku."

Kehangatan menjalar di dada Jongwoon, namun segera ditepisnya rasa itu jauh-jauh. "Kau masih ingat aku adikmu? Lalu kenapa kau merebut istri adikmu?" balasnya telak.

Yesung membuang muka, "Terserah."

Jongwoon menghela napasnya beberapa kali. "Aku ingin kita membuat kesepakatan." Yesung tampak tak berminat. "Tentang Ryeowook."

Dan pemuda bermata mutiara hitam itu hanya dapat mendengus sebal saat kakaknya berubah antusias setelah mendengar nama istrinya.

.

.

.

.

.

Angin bertiup kencang. Membuat ilalang saling bergesekan satu sama lain. Ryeowook merentangkan kedua tangannya. Menikmati angin panas yang bisa saja menghitamkan wajah putihnya.

Ia berdiri di tengah padang ilalang setinggi pinggangnya. Menatap rumah megah suaminya yang cukup jauh dari tempatnya berada sekarang. Rumah itu tampak sedikit buram karena pantulan cahaya matahari yang terik.

Pemuda manis itu mulai berjalan. Menembus ilalang tanpa tujuan pasti. Ia hanya ingin melepas penat barang sejenak. Melupakan masalah-masalah tak masuk akal yang menimpanya sejak 3 hari yang lalu, sejak ia menikahi pria tampan bermarga Kim itu. Kim Jongwoon.

"Sssshhhh..."

Langkah kakinya terhenti. Ryeowook meneguk ludahnya tanpa berani mengeluarkan sepatah katapun. 'Itu hanya halusinasi, Kim Ryeowook,'pikirnya menenangkan.

Ia melangkahkan kakinya lagi, namun suara desisan kembali terdengar. Semakin jelas. Dan sepertinya... lebih dari satu...

Ryeowook mengatur napasnya yang tak beraturan. Setelah cukup tenang, ia memutar tubuhnya. Mencari tahu pemilik desisan tersebut.

Dan wajahnya berubah warna menjadi kertas putih seketika saat melihat puluhan ekor ular berkepala segitiga berada di depannya. Viper...

Entah halusinasi atau bukan, Ryeowook seolah melihat ular dengan berbagai warna mencolok itu menyeringai iblis kearahnya.

Ular-ular itu menjulurkan lidahnya. Memperlihatkan lidah panjang bercabang dua. Reptil yang memiliki racun mematikan setaraf dengan kobra itu meliuk-liukkan tubuh panjangnya, mendekat pada Ryeowook. Mereka akan menyantapnya beramai-ramai!

"Ani! Jangan mendekat! Jangan!" seru Ryeowook ketakutan. Ia segera berlari sekencang yang ia bisa. Berharap lepas dari ke-28 ular itu.

Sang surya berada pada posisi tertingginya. Membuat udara terasa sangat terik seolah di neraka. Keringat membanjiri wajah Ryeowook. Napasnya terengah-engah. Matanya berkunang-kunang karena suhu yang sangat panas.

Ryeowook menangis tersedu-sedu sambil berusaha untuk tetap berlari. Apa ia akan mati? Apakah ada orang yang akan menolongnya?

Apa Jongwoon akan datang? Apa... apa Yesung akan menyelamatkannya lagi?

"Ukhhh..." Ryeowook memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa nyeri. Ia memelankan larinya, lalu berhenti di sebuah pohon besar. Punggungnya menempel di pohon dan perlahan tubuhnya melorot jatuh.

Kakinya menekuk di depan dada dan terbuka lebar. Napasnya menderu. Ular-ular itu makin mendekat kearahnya. "Urrrghh... Jhanghhh...anhh..." Tangan kanannya terangkat di atas kepala dan mencakar pohon sedangkan tangan kirinya meremas perutnya yang semakin perih. "Nghhhh...ahh... sakitthh...ukkhhhh..."

Seekor ular mendekatinya, dan Ryeowook tak dapat berbuat apapun. Ia hanya dapat merintih sakit merasakan perutnya.

'Pluk!'

Seekor tikus putih jatuh dari atas pohon tepat di kepala ular itu. Membuat dagu ular itu terantuk tanah dengan cukup keras. "Khahhh...!"

Ular lain mendekat dan langsung membelit tikus itu sebelum kabur. Meremukkan tulang-tulangnya dengan kuat, lalu menelannya bulat-bulat.

Sebuah kekehan terdengar dari atas pohon. "Jangan iseng pada kakak iparmu, Saga! Atau lain kali akan ada batu yang menggencet kepala kodokmu itu!"

Ular yang dipanggil Saga itu mengangkat kepalanya yang sebelumnya terantuk tanah. Ia menatap tajam sosok bermata emas yang berdiri tegap di salah satu dahan pohon tertinggi. "Ssshhh... ssshh..."

"Aku hanya terlambat 2 hari, Saga. Itu bukan alasan yang tepat untuk mengeroyok Ratu-ku! Kalian lihat? Perutnya jadi kram, bagaimana kalau keponakan kalian kenapa-napa?"

"Ssshhh...sshhh...sss...!" semua ular mendesis seperti pendemo.

"Tenanglah adik-adikku, kalian tidak sabaran sekali!" gerutu Yesung jengah. Ia membuka kurungan persegi yang terbuat dari pintalan kawat, lalu melemparkan tikus-tikus di dalamnya ke arah kumpulan ular-ular itu. Viper-viper buas itu langsung memangsa makanan mereka.

'Hup!'

Namja berambut hitam lurus itu melompat dengan mudah dari ketinggian yang melebihi batas normal lompatan manusia. Ia berjongkok di samping kanan Ryeowook dan membelai pipinya. "Hai, Queen.."

Tangan Ryeowook yang mencakar pohon beralih memegang erat tangan Yesung. "Sha...khiitth..."

Yesung melepaskan tangan Ryeowook dengan lembut. Ia juga menjauhkan tangan Ryeowook yang meremas perutnya. Dibelainya dengan lembut perut namja cantik itu dan sesekali menekan gumpalan di sana. "Ssshh... Tidak apa-apa, sayang. Ahjussi-ahjussi kalian yang jelek itu sedang iseng. Jangan sakiti Umma-mu!"

Semua ular langsung mendesis mendengar Yesung mengejek mereka.

Yesung menyikut pohon tanpa mengalihkan perhatiannya dari Ryeowook. Pohon itu bergetar hebat. Menjatuhkan burung-burung bersayap patah yang telah disiapkan oleh pemuda tampan itu. Semua ular langsung menyerbu makanan penutup mereka.

Lebih baik menyumpal mulut mereka daripada harus mendengar desisan mereka yang berisik.

Satu per satu ular pergi setelah menghabiskan santapan mereka. Saga mendekati kakaknya dan membelit kakinya.

Yesung membelai kepala Saga. "Ne, Saga... Cheonmaneyo~ jaga adik-adikmu, arachi?"

"Ssshh..."

"Anak pintar!"

Yesung kembali menatap Ryeowook setelah Saga pergi. Namja cantik itu sudah tak sepucat tadi, raut kesakitannya juga sudah memudar. Tinggal napasnya yang masih terengah-engah.

"Kau tidak apa-apa?"

Ryeowook terkesiap. Ia seperti merasakan de javu seperti 7 tahun yang lalu. "N-ne.." Ia membelai perutnya. "Sudah tidak sakit lagi, kamsahamnida..."

Yesung mengangkat bahunya cuek. "Baguslah." Ia ikut menyandarkan punggungnya di pohon setelah sebelumnya mengeluarkan sebuah susu kotak dari sakunya dan menyedotnya.

"Se-sebaiknya aku pulang." Ryeowook buru-buru berdiri, namun Yesung mencekal tangannya, menariknya sampai terjatuh dengan wajah membentur dada Yesung.

Ryeowook meneguk ludahnya berhadapan dengan dada Yesung yang bidang dan sedikit berkeringat. Tangannya terasa kaku merasakan detak jantung Yesung. Harum pohon pinus menyergap penciumannya.

Yesung mengangkat dagu Ryeowook. Mempertemukan dua pasang mata mereka. Memenjarakan mata coklat karamel Ryeowook pada kilau emasnya yang penuh ambisi dan intimidasi.

"Temani aku sebagai ucapan terimakasih karena telah menolongmu! Ini sebuah keharusan, Kim Ryeowook!"

"Ne..." jawab Ryeowook tanpa bisa menolak. Ia sudah masuk dalam kungkungan emas yang membutakan matanya. Ia terikat pada keposesifan dalam setiap tutur katanya. Ia pasrah dalam paksaannya. Ia terjerat pada tatapan intimidasi itu.

Ryeowook terlanjur jatuh pada setiap sisi 'tidak baik' yang dimiliki oleh Yesung.

.

.

.

.

.

"Kim Ryeowook..."

Yesung meletakkan tangannya di pinggang Ryeowook. Mendekatkan wajahnya dan menatap Ryeowook tajam tanpa membiarkannya sedikitpun menoleh.

"Kau... mencintaiku, 'kan?" tebak Yesung.

"Kau... pasti mencintaiku!" Ia menggesek-gesekkan hidung mancung mereka.

"Kau... tidak mungkin tidak mencintaiku!"

Ryeowook menatap pria itu dengan pandangan sayu. Mata emasnya yang tajam, wajahnya yang tampan, hidungnya yang mancung, bibir tipis pucatnya yang terus bergerak, mendesahkan kata-kata cinta dengan suara yang indah dan mengintimidasi... Semua yang dimiliki pria itu membuatnya terlena. Meleleh dan kehilangan dunia yang dipijaknya.

"Ne... aku mencintaimu!" Ryeowook menarik tengkuk Yesung dengan spontan. Mencoba menyambar bibir tipis yang menggodanya untuk mencicipinya itu. Ia sangat menginginkannya! Namun tiba-tiba Yesung menaruh jari telunjuknya di bibirnya.

"Jangan terburu-buru, Queen~" ucapnya. 'Aku masih ingin melihat hatinya mati secara perlahan,'sambungnya dalam hati.

"Katakan siapa orang yang kau cintai!"

"Kau!"

"Siapa?"

"King!"

"Si-a-pa?"

Ryeowook mengerang frustasi. Ia sudah tidak tahan! "Arrrgggghh...! KAU, KING! KIM YESUNG!"

Yesung menyeringai iblis. "Kau memanggilku, Queen?"

"Eum... aku ingin...!" rengek Ryeowook. Ia menggigit bibir bawahnya. Ia ingin bibir itu! Ia ingin merasakannya!

"Ucapkan secara lengkap!" suruh Yesung.

"Aku mencintai Kim Yesung—EUMMPPHH...!"

Dan Ryeowook tak perlu lagi menunggu untuk mendapat pagutan beringas dari Yesung.

.

.

.

.

.

'Pluk!'

Boneka jerapah di tangan pria bermata black pearl itu terjatuh ke tanah. Seluruh sendinya lumpuh. Syarafnya putus. Airmatanya jatuh tanpa bisa dibendung. Dari kejauhan, ia dapat melihat sang kakak yang menyeringai menang kearahnya seraya melucuti baju istrinya.

"Kesepakatan apa?"

"Jika dalam seminggu kau berhasil membuat Ryeowook mengatakan bahwa dia mencintaimu, aku akan memberikannya padamu. Tapi jika tidak, jangan ganggu kami lagi!"

"Ini berat sebelah. Bilang saja kau mau menyerah, apa yang kau inginkan sebenarnya, huh?"

"Jangan cerewet! Cukup katakan ya atau tidak!"

"Cih, akan kubuktikan padamu, aku tidak butuh 7 hari untuk menundukkannya. Dia mencintaiku, detik ini juga aku bisa membuatnya menyatakan cinta padaku!"

Jongwoon tertawa pedih. "Tujuh tahun ini aku tidak berarti apa-apa untukmu, ne, Caramel?" Ia berbalik dan melangkah pergi. 'Terimakasih untuk kata cinta kemarin, itu cukup menghiburku... walau hanya dusta belaka..'

.

.

.

.

.

Tanpa kita sadari, waktu berjalan begitu cepat. Matahari telah beranjak. Bulan telah menampakkan cahaya pucatnya. Lampu-lampu di sepanjang jalan telah dinyalakan agar cahaya temaram berubah terang.

"Ukhh... pelan-pelan!" rintih Ryeowook. Ia berjalan terseok-seok dipapah oleh Yesung.

Yesung membelai lembut pinggul Ryeowook. "Apa sesakit itu?" tanyanya.

Ryeowook menatap Yesung sebal. "Tentu saja!"

"Tapi tadi kau mendesah terus kok," kilah Yesung.

'Blush!'

Ryeowook cepat-cepat memalingkan wajahnya. "Me-mesum!"

Yesung mendekatkan wajahnya, dengan sengaja memperhatikan wajah Ryeowook dengan seksama. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringaian. "Kenapa wajahmu merah begitu? Mau lagi?"

'Cklek!'

Pintu terbuka sebelum Ryeowook sempat membalas ucapan Yesung. Mereka menoleh dan Ryeowook tercekat seketika. "J-jongwoonnie Hyung.."

Secara perlahan Ryeowook menurunkan tangannya yang dipapah Yesung dan menjauhkan tangan Yesung yang berada di pinggangnya, namun Yesung malah memeluk pinggangnya lebih erat.

"Ye-yesung Hyung!" tekan Ryeowook berusaha melepaskan diri.

Yesung tak mempedulikan Ryeowook. Ia beradu tatapan dengan Jongwoon. "Kau sudah melihatnya sendiri, 'kan? Queen is King's! M-I-N-E! Jadi, siapkan surat perceraian kalian secepatnya!" tandas Yesung.

"Yesung Hyung!" bentak Ryeowook.

Jongwoon menahan tangan Ryeowook. "Gwaenchana, Caramel.." ucapnya pelan. Namun Ryeowook sangat tahu bahwa Jongwoon tidak baik-baik saja. Dan itu karenanya.

Ryeowook tertunduk. Ia malu pada Jongwoon. Ia istri tak tahu diri. Ia menyakiti hati pria baik hati yang mencintainya selama 7 tahun. Ia berselingkuh dengan kakak suaminya sendiri.

Airmata menggenang di mata Ryeowook. Ia terisak pelan. Apa dia pantas masih mendapatkan kelembutan Jongwoon? Apa airmatanya bisa menghapus sayatan menganga di hati Jongwoon? Ia tak tahu diri! Ia murahan! Dia berbuat jahat, dan mengeluarkan airmata untuk mendapat ampunan. Dia menjijikkan!

"Hiks... Mianhae. Jongwoonnie Hyung... aku... aku... hiks... maaf... kau seharusnya membenciku... kau... hiks... aku bukan orang baik, Hyung... Aku jahat! Aku kejam! Hiks..."

"Ya! Aku kan sudah bilang tidak apa-apa! Kenapa kau menangis?" gerutu Jongwoon. Ia menangkup pipi Ryeowook dan mengecup sudut matanya. "Aku tidak mungkin membencimu, Caramel. Aku terlalu mencintaimu untuk melakukan itu. Kau orang baik. Jika tidak, aku tidak mungkin mencintaimu." Ia mengacak-acak surai madu Ryeowook dengan gemas. "Aku senang kok bisa menjadikanmu istriku, mempertahankanmu sesulit apapun, walau cuma 3 hari," candanya sambil tertawa hambar. Kau tidak berbakat jadi aktor, Kim Jongwoon!

"Hyung-ah.." Ryeowook menghambur ke pelukan Jongwoon. Bagaimana mungkin ada pria sebaik ini? Yang bersedia sakit berkali-kali hanya untuk melihat senyum di bibir pujaan hatinya? Yang melepaskan istrinya demi kebahagiaan istrinya itu walau dia sendiri harus menelan pil pahit. Dia lebih dari sekedar malaikat!

Jongwoon beralih pada Yesung. Mempertemukan warna gelap dan terang dari mata mereka. Bertatapan bagai melihat cermin.

Yesung diam. Menatap mata adiknya yang menyiratkan luka mendalam. Sifat posesifnya yang tidak suka Ryeowook disentuh apalagi dipeluk oleh orang lain menguar entah kemana.

"Kau menang, Yesung Hyung.." lirih Jongwoon kemudian melepaskan pelukan Ryeowook dan berlalu pergi.

'Deg!'

Yesung tertegun. Matanya bergerak mengikuti kemana perginya sang adik hingga tak nampak lagi. Ia mendengus sebal dan memukul-mukul dada kirinya.

'Aku benci jadi kembaranmu, Jongwoon-ah.'

'Aku benci...'

'... karena saat aku bahagia, aku malah harus merasakan juga rasa sakit yang kau rasakan.'

'Aku muak dengan hubungan batin antar saudara kembar seperti ini.'

Seperti ia yang tadi siang pertama kali mengucapkan bahwa Jongwoon adalah adiknya, malam ini adalah pertama kali Jongwoon memanggilnya dengan sebutan kakak.

Dan itu bagai hujan deras di musim kemarau.

Menyejukkan...

'Sialan kau, Kim Jongwoon!'

"Hyung, gwaenchana?" Ryeowook mendongak dan menggenggam tangan mungil Yesung.

"Hn." Yesung mengangkat wajahnya tinggi-tinggi. Menahan laju air bening yang merangkak keluar dari matanya.

'Ck, aku pasti kelilipan!'

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.