Ini untuk kasih sayang Umma yang ingin kudapatkan. Dan untuk kebahagiaan Caramel yang tidak ada padaku.

.

.

.

.

.

Queen is King's © Jenny Kim

Super Junior © God, SMEnt, ELFs, Their Parents and of course Themselves

Rated: T semi M

Warning(s): Always Boys Love, MPREG, OOCness, Typo, etcetera-etcetera~

.

.

.

.

.

Seretan kaki terdengar dalam keheningan malam. Seorang pria cantik berlesung pipi menyeret kakinya demi bisa berjalan. Tangannya merambati dinding yang dingin sedangkan tangan kirinya memegang pinggulnya yang nyeri.

"Kanginnie.." panggilnya mencari sang suami. Ia baru saja terbangun dari tidurnya yang lelah setelah berjuang melahirkan bayi-bayinya, namun suaminya telah menghilang.

Ia menengok langit tanpa bintang lewat jendela. Angin berhembus kencang menusuk tulangnya. Ia bergidik dan cepat-cepat menutup jendela serta menarik kasar tirai putihnya. Sepertinya hujan akan datang, pikirnya.

Mata hazelnya tak sengaja menemukan keranjang kecil di atas meja ruang TV. Bukankah itu keranjang tempat Kangin menaruh bayi-bayinya? Leeteuk berjalan mendekati itu meski lemas. Sebelumnya ia menengok kamarnya, memastikan Jongwoon—bayi yang dipilihnya menjadi manusia—tidak terbangun.

Ia berdiri di depan keranjang itu dengan raut bimbang. Apa ia harus membuka penutup kain di keranjang itu?

Dengan ragu ia menjulurkan tangannya. Menarik kain yang menutupi keranjang tersebut. Ia hampir terlonjak membayangkan akan melihat 28 ekor ular ganas yang dilahirkannya lagi, namun yang didapatinya hanyalah satu. Seekor bayi viper mungil berwarna hijau kebiruan. Dimana 27 ular yg lain? Kenapa tinggal satu?

Ular itu mengangkat kepalanya dan sepertiga bagian tubuhnya. Membentuk huruf S dengan sikap siaga. Lidah bercabangnya terjulur, mencari tahu tempat 'musuh' berada. Namun mata emasnya justru memancarkan segudang duka. Seakan ular itu telah dewasa dan mengerti tentang kekecewaan.

Leeteuk tercekat. Mata emas... Ia yakin ia tak pernah melihat ular itu saat Kangin menyuruhnya memilih. 29 ular yang dilihatnya memiliki warna mata hitam. Jadi dia melahirkan 30 ular? Itu artinya... Kangin membohonginya...

Tapi kenapa...?

"J-jungsoo.." Youngwoon—atau yang lebih sering dipanggil Kangin oleh 'istri'nya—tergagap saat menemukan 'istri'nya berdiri di depan keranjang yang dicarinya. Pria setengah ular itu baru saja melepaskan anak-anaknya yang lain untuk hidup bebas di hutan, namun ia tidak menyangka jika masih tertinggal satu. Yang tertua... yang seharusnya ia buang paling awal.

Leeteuk menatap tajam Kangin dengan matanya yang berkaca-kaca. "Kau... menipuku, Kangin-ah?"

"Akan kujelaskan, Jungsoo—"

"KAU MENYEMBUNYIKANNYA DARIKU?!" tuding Leeteuk kalap. Hatinya terluka. Kangin membohonginya. Padahal ia sudah sangat lama menantikan bayi yang memiliki mata emas. Sama seperti Donghae-nya...

"Kau tahu aku ingin anak bermata emas seperti Donghae! Tapi kau menipuku! Kau bilang aku tidak melahirkan satupun bayi bermata emas! Tapi ini apa?!"

"Kau sudah memilih Jongwoon, Jungsoo.."

"Aku tidak mungkin memilihnya jika kau tidak menyembunyikan bayi ini! Kau yang menyuruhku memilih Jongwoon!"

"Kau bilang apapun pilihanku kau akan menerimanya."

"Karena aku tidak menemukan bayi yang kutemukan! Aku terlanjur kecewa, Kangin-ah!"

Kangin menghela napas. "Berhentilah hidup dalam masa lalu, Jungsoo. Donghae sudah meninggal."

Leeteuk membuang muka, enggan mendengar. "Kau tahu seberapa besar aku mencintainya."

"Kau pikir mencintai remaja 16 tahun itu bagus? Kau kira mencintai anak kandungmu sendiri dan menjalin hubungan terlarang dengannya itu benar?!"

Hati Leeteuk semakin sakit mendengar hinaan Kangin. Ia menangis tersedu-sedu. "Kau tidak mengerti... Cinta tak bisa memilih.."

Kangin membuang napasnya sekali lagi. Ia menyesal telah mengucapkan kata-kata kasar yang melukai hati pujaannya, namun ia juga terluka. Ia mencintai Leeteuk, namun Leeteuk mencintai masa lalunya. "Aku mencintaimu, Jungsoo-ah.."

"Kau tahu alasanku mau menikah denganmu," balas Leeteuk dingin.

"Karena mata ini?" Kangin menunjuk kedua bola matanya. Iris emas dengan pupil hitam. Ia tersenyum pahit. "Apa kau tidak takut akan jatuh cinta pada anak kandungmu lagi jika punya anak bermata emas sekali lagi?"

"Itu tidak akan terjadi!" jawab Leeteuk tegas.

"Apa kau tidak takut akan terlalu memanjakannya sehingga dia menjadi anak yang egois dan serakah?"

"Aku tidak akan membiarkannya!"

"Kau tahu, Jungsoo? Aku merasakan sisi 'hitam' dalam dirinya. Dia buas. Dia tidak baik. Dia mempunyai sifat iblis. Dia ditakdirkan menjadi seekor ular. Buas dan rakus!"

Leeteuk menutup telinganya yang panas mendengar hujatan Kangin. "Aku tidak peduli! Aku tidak peduli! AKU TIDAK PEDULI! AKU INGIN DIA YANG JADI MANUSIA! AKU MENGINGINKANNYA!"

JDUUUAAARRR! Amukan petir membelah langit. Semua jendela kaca pecah. Leeteuk menekan jantungnya yang berpacu cepat karena kaget. Tirai putihnya diterbangkan angin. Hujan turun dengan sangat deras dalam waktu sekejap.

Suara tangisan bayi terdengar. Leeteuk sadar bahwa Jongwoon pasti terbangun karena kaget. Namun ada suara tangisan bayi lain yang masuk ke gendang telinganya.

Ia menoleh cepat pada bayi ularnya yang bermata emas. Ular itu hilang, berganti dengan bayi mungil yang sangat manis. Ada beberapa sisik hijau dan biru di kulitnya. Perubahannya belum sempurna, harus menunggu beberapa hari sampai sisa-sisa sisik itu benar-benar lenyap dari kulit putihnya.

Leeteuk tersenyum dalam tangisannya. Ia mengangkat tubuh polos bayi itu dalam gendongannya dan menciuminya. Menimang-nimangnya agar tidak menangis. Ia menggenggam tangan bayi itu dan menempelkan pipi kirinya di dahi si mata emas.

"Ssshh... Tenang, aegya.. Umma di sini~"

"Kau puas sekarang?" tanya Kangin tersulut emosi. "Hanya ada satu yang bisa menjadi manusia, Jungsoo. Sisanya seharusnya menjadi ular. Namun kau menjadikan bocah itu sebagai siluman. Lebih keji dari ular itu sendiri. Selamat, kau menciptakan iblis di dalam rumah ini!"

Leeteuk sedikit terkejut mengetahui bayi yang diinginkannya tidak menjadi manusia dan justru menjadi siluman. Namun ia tak peduli, asal dia punya anak bermata emas!

"Aku tidak akan membiarkannya! Aku akan mendidiknya menjadi anak yang baik! Dia akan menjadi anak yang bisa kita banggakan."

Kangin mencibir, "Kau mau mengenalkannya pada dunia? Silahkan! Dan saat dia kembali pada wujud aslinya, para manusia itu akan membunuhnya. Mencabik-cabik tubuhnya dengan pisau yang tajam dan melemparkannya ke atas panggangan. Dia akan tinggal nama, Jungsoo!"

"Itu tidak akan terjadi selama aku masih hidup! Aku akan menjaganya!"

"Kau pikir kau bisa? Anak pertamamu mati karena racun buatan mantan suamimu, Jongwoon yang menangis saja tidak kau hiraukan, sudah kukatakan kau akan memanjakan bayi itu sehingga sifat iblisnya makin menjadi-jadi, Jungsoo-ah. Kau tidak pernah becus menjaga anakmu!"

"Cukup! Kau keterlaluan, Kim Youngwoon!" geram Leeteuk.

"Terserah! Satu lagi yang perlu kau ingat, aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai anakku! Anakku hanya Jongwoon seorang!" ujar Kangin final. Ia terpaksa melakukan ini. Emosinya terlanjur berantakan. Ia yakin Jungsoo-nya akan memperlakukan bayi mata emas itu dengan berbeda. Ia yakin Jungsoo-nya tidak akan bersikap adil.

Kangin berbalik. Ia pergi meninggalkan rumah megah itu. Hari ini... Hari dimana bayinya terlahir ke dunia... adalah hari terakhir ia tinggal bersama 'istri' tercintanya.

'Yang paling kutakutkan bukan sifat iblisnya, Jungsoo. Kenapa kau tidak pernah sadar jika aku cemburu? Kau akan semakin tak bisa melupakan Donghae dan tak mungkin bisa mencintaiku jika ada bayi bermata emas itu. Kau hanya akan mencintai Donghae selalu. Tidak ada tempat untukku...'

Leeteuk mendekap bayinya lebih erat. "Gwaenchana... gwaenchana... Umma akan memberimu kasih sayang yang cukup... jadi kau tidak akan kekurangan kasih sayang walau Appa tidak menyayangimu, aegya.."

Dan Leeteuk benar-benar menepati janjinya. Dia menyayangi bayi bermata emas itu dengan sangat cukup. Terlalu cukup sampai menjadi berlebihan. Hingga ia lupa pada putranya yang lain. Kangin memang menyayangi Jongwoon dan tidak menganggap Yesung ada. Namun bukankah kasih sayang seorang ayah tak sebanding dengan kasih sayang seorang ibu?

Leeteuk untuk Yesung dan Kangin untuk Jongwoon. Kau pikir itu seimbang, Jungsoo? Kangin seorang pria yang keras dan dingin, tidak lembut dan penuh kehangatan sepertimu. Pernahkah kau berpikir bahwa ada putramu yang lain yang kekurangan kasih sayang?

0o0o0o0o0o

"Jongwoon." Yesung memasuki kamar adiknya yang kini hanya dihuni oleh Jongwoon sendiri karena Ryeowook telah resmi pindah ke kamar Yesung sejak tadi malam.

Pemuda bermata emas itu menghela napas memergoki adiknya yang sedang memandangi foto pernikahannya. Jongwoon buru-buru memasukkan fotonya ke dalam laci saat mendengar suara Yesung.

"Aku ingat, kau ular, jadi tidak punya tangan untuk mengetuk pintu. Tapi kau masih bisa menggunakan kepala besarmu itu untuk mengetuk pintu, 'kan?" ucap Jongwoon pedas.

"Ukuran kepala kita sama, kalau kau ingin aku mengingatkanmu," sahut Yesung enteng.

Yesung mendekati adiknya. Duduk di tepi ranjang di belakang Jongwoon. Tangan kirinya melingkar di pinggang Jongwoon. Mendekapnya.

'Cup!'

Pemuda bermata emas itu mengecup bahu kanan Jongwoon. "Mianhae, nae dongsaeng."

Jantung Jongwoon berdebar keras. Ia bisa merasakan rasa bersalah kakaknya. Salahkan ikatan batin mereka yang begitu kuat. Ck, ia benci punya kembaran.

"Seorang King yang Maha Mulia mengucapkan maaf? Ini pertama kali dalam hidupmu, lho," cibir Jongwoon. Ego tetap segalanya, heh?

Yesung berdecak. "Ayolah! Kau sudah memberikan Queen untukku, permintaan maaf hanya untuk formalitas saja."

Jongwoon menyikut tulang rusuk Yesung. Membuat sang kakak mengerang. "Sialan kau, ular jelek!"

Yesung terkekeh meski sedikit nyeri. "Viper adalah jenis ular tertampan, Jongwoon-ah. Dimana kau akan mendapatkan ular dengan warna seeksotis kami?"

"Itu warna norak!"

"Kau tidak punya jiwa seni, ya?"

"Norak! Perpaduan warna kontras begitu!" ejek Jongwoon.

Yesung tetap tidak marah. Mood-nya sedang baik karena bercinta semalaman dengan Ryeowook. "Masih banyak wanita maupun pria cantik di luar sana, Jongwoon-ah! Atau kau ingin jadi uke-ku, Jongwoonnie Chagiya? My Sunshine?"

Jongwoon menarik tangan Yesung, lalu membanting pria bermata emas itu ke lantai. "Aku SEME, babo!" serunya kesal. "Dan jangan pernah memanggilku dengan panggilan menjijikkan itu lagi!"

Yesung tertawa terpingkal-pingkal sambil memeluk perutnya. Sepertinya ia tidak merasa sakit setelah dibanting sekeras itu. "Kau cukup manis jika dilihat dari Namsan Tower, Sweety Honey~"

"Ya! Kau cari mati, huh?!" geram Jongwoon murka. Namun Yesung langsung menekel kakinya sampai ikut terjatuh di sisi siluman gila itu.

Yesung melilit leher Jongwoon dengan tangan kanannya, berpura-pura mencekiknya. "Kau yang akan mati, babo!"

Dan gelak tawa mereka mengisi kamar luas itu di pagi yang cerah ini.

0o0o0o0o0o

Yesung menepuk-nepuk dadanya karena lelah tertawa sedangkan Jongwoon mengipasi wajahnya yang memerah karena terlalu banyak tertawa. "Ya! Apa seperti ini hubungan kakak adik di dunia manusia?" tanya Yesung.

Jongwoon mengangkat bahunya. "Sepertinya. Temanku Jessica dan adiknya Krystal selalu akur. Hoobae-ku Youngmin dan kembarannya identiknya, Kwangmin, juga cukup baik."

"Ini tidak buruk. Ayo sering-sering melakukannya!" ajak Yesung semangat.

"Tidak mau!" tolak Jongwoon mentah-mentah. "Tubuhku bisa remuk kalau kau membantingku lagi."

"Kau yang membantingku lebih dulu!" ucap Yesung membela diri.

"Siapa suruh kau memintaku jadi uke-mu? Tahu begini, aku tidak akan memberikan Caramel padamu! Kau tukang selingkuh!" tuding Jongwoon.

"Eits! Kau sudah memberikannya, tidak bisa diminta kembali!" Yesung mencubit pipi Jongwoon sampai merah. "Ya! Kau begitu mencintainya, heh?"

Jongwoon tersenyum kecut. Ia mendudukkan dirinya dan memeluk kakinya di depan dada. "Sudah 7 tahun, menurutmu bagaimana?" sahutnya getir.

Yesung ikut bangun dan menaruh kepala Jongwoon di bahunya. "Mungkin rasa yang kumiliki tidak sebesar cintamu. Namun dia hanya boleh jadi milikku!"

Jongwoon hanya tersenyum maklum. Ia mengacak-acak rambut lurus Yesung sampai berantakan. "Dasar siluman! Egois dan serakah," dengusnya.

"Itulah aku~"

'Harusnya aku sedih kan, King? Cintaku lebih besar, tapi dia malah jadi milikmu.'

'Ck, aku benci jadi saudara kembarmu, King, karena aku harus merasakan kebahagiaanmu disaat aku seharusnya bersedih.'

'Aku benci... Aku benci jadi saudara kembarmu. Karena sefatal apapun kesalahanmu padaku, aku tetap tidak bisa membencimu.'

0o0o0o0o0o

Leeteuk baru saja ingin mengetuk pintu kamar Jongwoon saat tiba-tiba Yesung muncul dari dalam dengan wajah cerahnya yang berubah suram.

Namja cantik itu tercenung, namun kembali mematri senyuman malaikatnya. "Sungie, Umma baru saja mau mencarimu di sini, kenapa kau tidak tidur? Ini masih sangat pagi, kau hanya terjaga saat malam, 'kan?" ucapnya lembut seraya membelai rambut hitam Yesung yang berantakan.

'Plaaaak!'

Yesung menepis kasar tangan Leeteuk. Membuat namja cantik itu menganga kaget. "Bersikaplah adil mulai sekarang! Jongwoon juga anakmu," ujarnya dingin kemudian berlalu pergi.

Leeteuk menatap tangannya dengan mata berkaca-kaca. Yesung menepis tangannya, Yesung bersikap dingin padanya, bahkan Yesung tidak memanggilnya Umma tadi..

'Tes'

'Tes'

'Tes'

"S-sungiehh... Ke-kenapa...?"

0o0o0o0o0o

Yesung masuk ke dalam kamarnya sambil membawa nampan berisi sepiring nasi goreng kimchi dan segelas susu vanila. Ia meletakkan nampan di tangannya ke meja nakas, lalu masuk ke dalam selimut dan memeluk pinggang calon 'istri'nya dari belakang.

Pria tampan itu tertegus merasakan tangan Ryeowook yang basah dan bergetar diatas perutnya. Ia menyelipkan tangan kirinya melingkari dada Ryeowook dan menariknya mendekat. "Queen.."

"Hiks..."

"QUEEN!" Yesung melebarkan matanya mendengar Ryeowook terisak. Ada apa? Apa Ryeowook terluka?

Secepat kilat ia memutar tubuh Ryeowook dan beralih berlutut di kedua sisi pinggang namja manis itu. "Kau kenapa?" tanyanya cemas melihat jejak airmata Ryeowook. Ia menyeka airmata itu dengan ibu jarinya.

"Ye-yesung Hyung.." Ryeowook menggenggam jemari Yesung yang ada di pipinya. "Aku... aku kenapa?"

"Apanya yang kenapa, Queen?" desak Yesung gusar.

Ryeowook menurunkan tangan Yesung ke perutnya. "Pe-perutku membesar... Hiks..."

"Astaga Queen!" Yesung mengerang antara lega dan kesal. Ia membanting tubuhnya ke samping Ryeowook. "Kau membuatku cemas, kau tau?" Ia menarik kepala Ryeowook dan menidurkannya di dada bidangnya. Dikecupnya lembut surai coklat madunya yang harum. "Kau sedang hamil, itu wajar."

"Tapi ini baru empat hari!" sergah Ryeowook dengan wajah keruh.

"Dan itu bukan anak manusia, Queen! Aku bukan manusia!" Yesung berdecak dan menghela napas. "Jika kau mengandung anak Jongwoon, tidak akan secepat ini."

Ryeowook meremas kuat baju Yesung tepat di bagian dadanya. "Hyung, aku ti-tidak menyesal mengandung a-anakmu. Ak-aku hanya takut.. Hiks... ini terlalu aneh.."

"Tidak akan terjadi apa-apa. Hanya prosesnya saja yang lebih cepat."

Ryeowook menelan ludah pahit. "Berapa minggu?"

"Sembilan hari."

"MWO?!"

0o0o0o0o0o

Seorang pemuda cantik berjalan di bandara seraya menggendong seekor anjing coklat mungil jenis cihuahua. Rambut blonde-nya bergerak setiap ia berjalan. Wajah putih pucatnya memerah akibat teriknya cuaca. Terbukti dari kaos V-neck abu-abunya yang sedikit basah oleh keringat. Bibirnya yang kelewat merah melengkungkan senyuman. Memperlihatkan gummy smile yang sangat menawan.

"King, aku pulang!"

0o0o0o0o0o

"Aku memberikan Wookie pada King, Umma."

'Deg!'

Leeteuk tercekat mendengar penuturan putra bungsunya. "Tapi Jongwoonnie—"

Aku menuruti permintaan Umma," Jongwoon menyela. "Jadi bisakah... bisakah sekarang Umma menyayangiku? Lihat aku, Umma! Anak Umma bukan hanya King."

Leeteuk seolah tertampar. Butiran air bening menetes dari matanya. Putranya berkorban sedemikian besar untuk sesuatu yang sebenarnya adalah haknya. Dia ingin mendapatkan keadilan dari Leeteuk. Dia melepaskan seseorang yang dicintainya selama tujuh tahun hanya untuk Leeteuk.

Leeteuk membekap mulutnya untuk meredam tangisannya. 'Mianhae... mianhae, Jongwoonnie..'

Jongwoon tertawa sumbang dan menarik Leeteuk ke dalam dekapannya. "Seharusnya Umma yang memelukku! Kan aku yang patah hati," kekehnya seceria mungkin.

Senyumnya memudar digantikan tangisan dalam diam. Tangannya secara teratur mengusap punggung sempit ibunya. "Aku sangat mencintainya, Umma... Teramat sangat begitu besar mencintainya..."

"Hiks... kenapa berbuat sampai sejauh ini, Jongwoonnie..?"

"Ini untuk kasih sayang Umma yang ingin kudapatkan. Dan untuk kebahagiaan Caramel yang tidak ada padaku."

0o0o0o0o0o

"Bintangnya banyak!" seru Ryeowook takjub. Ia, Yesung, Jongwoon dan Leeteuk tengah mengadakan pesta barbeque kecil-kecilan di halaman rumah. Namja manis itu menunduk dan mengusap perutnya yang agak membesar. "Baby suka, 'kan?"

Yesung memutar bola matanya malas. Ia duduk diam di kursinya dan meminum sodanya. "Cuma bintang, tidak penting."

Ryeowook mengerucutkan bibirnya.

Jongwoon menyumpal mulut kakaknya dengan irisan daging sapi mentah. "Tutup mulutmu!" Dengan tanpa rasa bersalah membuat kakaknya tersedak, ia melengos pergi ke tempat Ryeowook berdiri. Pemuda bermata mutiara hitam itu melepaskan jaketnya dan memakaikannya di badan Ryeowook.

"E-eh? Jongwoonnie Hyung?" Ryeowook jadi salah tingkah.

Jongwoon memperlihatkan senyum menawannya seraya menangkup pipi tirus Ryeowook, menggosoknya pelan. "Pipimu sudah sangat dingin, dipakai ya, biar tidak sakit!"

"Ya! Menjauhlah, atau meja ini akan sampai ke kepalamu!"

"Coba saja kalau kau berani!" tantang Jongwoon.

"Sudahlah, jangan bertengkar terus!" lerai Leeteuk yang sedang memanggang dagingnya.

"UMMA MEMBELANYA?!" Yesung dan Jongwoon saling menuding penuh kebencian.

"APA KAU IKUT-IKUT?!" teriak keduanya lagi.

"HENTIKAN!" Tenor melengking Ryeowook membuat adu deathglare si kembar terpaksa berhenti. "LIHAT, BINTANGNYA JADI PADA KABUR KARENA KALIAN BERTERIAK!"

"Bintangnya masih di sana, Caramel."

"Kau juga berteriak, Queen."

Ryeowook membuang muka dengan wajah merona. "Berisik!"

Jongwoon hanya terkekeh dan mendekati ibunya.

Leeteuk mencubit pipi Jongwoon dan menyuapkan daging panggang pertamanya yang telah matang. "Kalian sangat manis!"

Jongwoon melingkarkan tangannya di pinggang Leeteuk dan mengecup pipinya. "Aku bersedia sering-sering begini kalau Umma suka."

"Dasar penjilat!" cibir Yesung. "Umma, kau melupakanku! Kau selalu memberikan daging pertama untukku!"

Leeteuk tersenyum karena sifat manja putra sulungnya telah kembali. "Umma terlanjur menaburkan garam ke dagingnya, Sungie."

"Umma tidak pernah lupa sebelumnya."

"Memangnya kenapa kalau daging pertamanya untuk Woonnie? Bukankah Umma harus adil? Kau selalu dapat daging pertama kan sebelumnya. Woonnie juga anak Umma, Sungie."

'Jleb!'

Tepat sasaran. Leeteuk mengembalikan ucapan Yesung dengan sangat mudah. Mood Yesung berubah down seketika. Ia melempar piring daging mentahnya dan berjalan meninggalkan tempat itu.

Jongwoon tercengang. Antara senang dengan ucapan Leeteuk dan kekesalan Yesung yang tumben tidak menyebabkan luka atau tonjokan.

"Umma, saranghaeyo!"

Leeteuk tersenyum dan mengacak rambut Jongwoon. "Nado~"

0o0o0o0o0o

Ryeowook membuntuti Yesung yang berjalan keluar rumah dengan tampang sebal. Ia memutuskan mengikuti ayah dari bayi dalam perutnya itu saat melihat Yesung 'marah'.

Ia berhenti ketika melihat Yesung yang berhenti dengan tubuh menegang.

"Princess..."

Ryeowook mengerutkan keningnya mendengar Yesung menyebut nama—lebih tepatnya julukan—seseorang. Ia menemukan seorang pemuda yang sangat cantik sekaligus manis berada beberapa meter di depan Yesung.

Pemuda itu menggendong seekor anjing coklat kecil dan menyeret koper besarnya.

Semuanya berjalan begitu cepat. Ryeowook tak dapat berpaling saat pemuda kurus itu menurunkan anjingnya, membuang kopernya dan berlari ke arah Yesung. Ia menyurukkan kepalanya di leher Yesung. Lalu mereka berciuman... di bibir...

"King, aku pulang!"

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Wew... siapa tuh? Pasti tau, si gummy smile itu lho~ XD

Ini crack n' official pairing lho. Silahkan ditebak kopel2nya, kkk~

SiChul, YeWook, YeTeuk, YeHyuk, JongWook, JongTeuk, JongHyuk, KangTeuk n' HaeTeuk(udah mati).

JongTeuk atau JongHyuk?
JJ aja! JongwoonxJenny
#dihajarmasa

Yesung's Concubine

Jenny Kim