Aku gelisah dengan serpihan masa lalumu.
.
.
.
.
.
Queen is King's © Jenny Kim
Super Junior © God, SMEnt, ELFs, Their Parents and of course Themselves
Rated: T semi M
Warning(s): Always Boys Love, MPREG, OOCness, Typo, etcetera-etcetera~
.
.
.
.
.
Yesung memasukkan kedua tangannya ke saku celananya sambil menendangi kerikil kecil di sepanjang langkahnya. Dalam hati ia merutuk, apa-apaan ibunya itu? Dia memang memintanya untuk adil, tapi tidak harus secepat ini, 'kan? Keadilan harusnya diberikan secara bertahap, jadi dia yang biasa dinomorsatukan bisa beradaptasi. Bukan seperti ini! Dia jadi merasa dianaktirikan.
Dan Ryeowook? Apaan-apaan Queen-nya itu? Bertingkah malu-malu pada Jongwoon, memerah, sok menggemaskan, manja—oke stop! Ryeowook memang seperti itu, tapi hanya boleh begitu padanya! Bukan Jongwoon!
Apa Ryeowook tertarik lagi pada Jongwoon? Hey, dia jutaan kali lebih tampan dari adik kembarnya itu!
Yeah, walau pada kenyataannya mereka punya wajah yang sama.
'Deg!'
Kakinya secara refleks berhenti melangkah dengan tubuh menegang. Indera penciumannya yang tajam mencium bau yang sangat dikenalnya. Perpaduan stroberi segar dengan anggur sampanye. Begitu harum dan... memabukkan...
Pusat dari segala fantasi gilanya.
"Princess..."
Panggilan itu terucap lagi dari bibirnya setelah sekian tahun berlalu. Panggilan khas yang dikhususkannya untuk si pria cantik bertubuh kurus yang menempati daerah terdalam di relung kalbunya. Dia begitu cantik, rambut blonde yang menutupi mata coklat gelapnya, warna rambut yang membuat kulitnya semakin terlihat pucat, seperti salju pertama di malam natal. Bibirnya yang kelewat merah bagaikan tinta darah, begitu kontras dengan wajah putihnya, rahang tegasnya yang selalu mengundang Yesung untuk menandainya, punggung sempitnya, pinggang rampingnya, kaki jenjangnya...
...sempurna.
Bagaimana mungkin Sang Waktu memahatnya seindah itu?!
Dan yang paling membuat Yesung bertekuk lutut... aroma tubuhnya yang memabukkan...
Bagaimana Yesung bisa lepas dari segala kesempurnaan yang menjerat manik emasnya?
Pria setengah ular itu mengangkat wajahnya, yang langsung bertumbuk dengan manik coklat gelap yang memancarkan rasa cinta tanpa batas untuknya. Jantungnya berdegup keras, membuat seluruh pasokan oksigennya tunggang langgang meninggalkannya. Tak dapat terbayangkan bagaimana rindu itu menikam hatinya secepat petir menyambar.
Pria pucat itu berada di depannya, berlari kepadanya, memeluk lehernya sedemikian erat. Seolah ada benang kasat mata yang menjahit kelopak mata Yesung hingga menutup rapat. Menikmati wangi segar nan memabukkan yang semakin kentara dalam jarak sedekat ini.
Dan segalanya berubah tanpa jarak ketika pria pucat itu memagut bibirnya. Meneguk setiap tetes salivanya tanpa jijik.
Bagaimana Yesung dapat menolak kenikmatan yang memabukkan ini? Dia benar-benar tak berdaya.
Tautan bibir mereka terlepas kemudian. Membuat Yesung harus mengakui bahwa ia kecewa kehilangan rasa manis dari tinta darah itu.
"King, aku pulang!"
Suara merdunya mengetuk kelopak matanya, membukanya sehingga Yesung yakin bahwa ini nyata. Prianya telah kembali! "Princess.."
Princess tertawa lepas. Ia menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri di depan wajah cantiknya. Membuat Yesung seolah tersihir hingga ikut menarik sudut-sudut bibirnya.
"Aku bukan Princess lagi, King. Aku Queen! Kau berjanji aku akan jadi Ratu-mu setelah aku kembali!"
Senyum Yesung memudar seketika. Queen... Citrus... RYEOWOOK!
'Deg!'
Yesung menciumnya. Bau citrus itu...
Secepat kilat pria itu memutar tubuhnya ke belakang, lalu ia menemukan ibu dari bayinya berlinangan airmata, dan berlari meninggalkannya.
Yesung mencoba mengejar Ryeowook, namun Princess menggenggam kuat tangannya. "King, ada apa?"
Dengan begitu menyesal ia menatap Princess, melepas perlahan jemari lentik yang bertaut dengan jemarinya. "Maaf, Princess... Aku sudah punya Queen yang lain. Ak—aku..."
Pria pucat itu tertohok, ia terdiam, hatinya bagai dihunus pedang seketika kalimat itu terujar.
"T-tapi, King... Aku sudah sembuh...! Aku berusaha keras untuk sembuh demi bisa kembali dan menjadi Ratu-mu! A-aku... Kalau kau pergi, aku bagaimana..? Bagaimana dengan YeEun kita?"
Princess menjatuhkan bulir-bulir airmatanya. Ia terduduk lemas sembari membekap mulutnya. Menangis sejadi-jadinya.
"Aku... aku sudah membunuhnya, King. Kau janji akan menungguku... Kau janji untuk memberiku YeEun yang baru... Kau janji aku akan jadi Queen, King... Kau berjanji banyak padaku...! Hiks... Aku ingin YeEun kita...! Aku ingin kau mengembalikannya! Aku... aku menyesal telah membunuhnya, King!"
"Tidak Princess, Eunhyukkie..." Yesung berlutut dan menenggelamkan kepala pria bernama Eunhyuk itu di dadanya. "Aku yang membunuh putri kita. Aku, Princess... aku..."
0o0o0o0o0o
Jongwoon mengusap kepala Ryeowook yang telah tertidur dengan mata bengkak karena terlalu banyak menangis. Sesekali ia dapat melihat Ryeowook yang sesenggukan dalam tidurnya.
"Sebenarnya ada apa, Woonnie? Kenapa Wookie menangis sejak pulang tadi? Dia darimana? Dimana Sungie?" tanya Leeteuk beruntun.
Jongwoon memeluk pinggang Leeteuk yang berdiri disampingnya yang tengah duduk di tepi ranjang. "Eunhyuk kembali, Umma."
Leeteuk tersentak, "A-apa?"
"Caramel bilang dia melihat pria kurus berwajah pucat dengar rambut blonde mencium King," jelas Jongwoon.
"M-mencium?" kaget Leeteuk. "Pria dengan ciri-ciri seperti itu ada banyak, Woonnie, mungkin saja dia bukan—"
"King memanggilnya Princess," potong Jongwoon.
Leeteuk menghela napas gusar. "Lalu bagaimana dengan Wookie jika Hyukkie pulang?"
0o0o0o0o0o
Yesung membuka pintu rumahnya dengan gerakan sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara. Tubuhnya agak terlonjak saat bertemu pandang dengan Jongwoon dan Leeteuk yang—sepertinya—menunggunya pulang.
Eunhyuk bersembunyi dibalik tubuh Yesung dan mencengkeram erat punggungnya.
Leeteuk berdiri dan tersenyum canggung. "Sungie sudah pulang? Emh... Apa kabar, Hyukkie? Senang melihatmu kembali," ucap pria berlesung pipi yang tak pernah menua itu.
"B-baik, Umma," jawab Eunhyuk.
"Kau bukan kekasih King lagi, kau tidak perlu memanggil Umma kami dengan sebutan Umma lagi!" ujar Jongwoon dingin tanpa menoleh.
"Jongwoon!" sentak Yesung.
Jongwoon melirik kembarannya dengan sinis. "Apa? Kau tidak suka? Itu kenyataannya, 'kan?"
"Tutup mulutmu atau aku akan benar-benar memukulmu!"
"Kita sudah sering saling menghajar, King. Kau pikir aku takut?" Jongwoon beranjak bangun dan mendekati kakaknya.
Yesung mendengus. "Aku sedang malas berdebat denganmu. Ayo Princess, kuantar kau ke kamarmu!" ucapnya sambil menggenggam tangan Eunhyuk.
Jongwoon tertawa sinis. "Princess? Kau masih memanggilnya begitu padahal kau sudah punya Queen di dalam sana!?" ujarnya menunjuk salah satu pintu kamar, kamar Yesung. "Aku memberikannya padamu bukan untuk kauduakan, King!"
"Aku tidak menduakannya!" sergah Yesung. Ia menarik tangan Eunhyuk, berjalan cepat melewati Jongwoon dan meninggalkan ruang tamu.
"Namun kau juga tidak mengatakan bahwa dia satu-satunya, King!" ucap Jongwoon telak yang mampu membuat Yesung terdiam dan menghentikan langkahnya. "Aku akan mengambilnya, King! Aku bersumpah jika kau menyia-nyiakannya, aku akan mengambilnya. Dan tidak ada kata aku mengalah lagi untuk kedua kalinya."
"...terserah kau," ujar Yesung setelah lama terdiam kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
"Aku... aku sudah merelakan separuh nyawaku untukmu, Hyung. Kenapa kau tidak menghargainya..?" lirih Jongwoon yang kini menatap Yesung dengan sendu.
0o0o0o0o0o
"Tidurlah." Yesung menyelimuti tubuh kurus Eunhyuk kemudian mengangkat anjing kecil milik Eunhyuk dan memindahkannya ke kasur anjing yang telah disediakannya tidak jauh dari ranjang. "Kau masih memilikinya," ucapnya sambil menggelitik leher anjing cihuahua itu.
"Choco adalah anjing pemberianmu sebagai pengganti Rang Minki yang kau telan, bagaimana mungkin aku tidak menjaganya dengan baik? Itu hadiah pertamamu di pertemuan pertama kita," ucap Eunhyuk mengenang masa lalu.
"Hn. Tidurlah, kau pasti lelah."
"Eum.."
Eunhyuk merogoh isi kopernya dan mengeluarkan sebuah botol obat. Yesung merebutnya dengan gesit dan membaca keterangan yang tertera di botol itu.
"Diazepam? Ini sedatif, apa yang kau lakukan?!" Yesung menggeram emosi.
Gummy smile Eunhyuk tercipta. Ia tidak terkejut jika Yesung tahu mengenai jenis-jenis obat. Siluman sepertinya sangatlah jenius. "Aku tidak bisa tidur tanpa meminumnya."
"Obat tidur menyebabkan ketergantungan! Kau akan menerima akibatnya jika berani meminumnya lagi," ancam Yesung. Ia membuang seluruh pil itu ke tempat sampah beserta botolnya.
Eunhyuk mengerucutkan bibirnya. "Kau jahat! Bagaimana caraku tidur sekarang?!"
"Dulu kau tidak butuh obat tidur."
Eunhyuk terdiam untuk beberapa saat sambil menunduk. "Karena... dulu ada seseorang yang selalu bernyanyi untukku sebelum aku tidur dan menemaniku sepanjang malam."
"Nan eeje jogeumssheek keudael eejeoganabwayo
kakkeum ootgeedo haneun keol ponee
jogeum teo jeenamyeon keudael mannage twedo
pangaool keot katayo.."
Eunhyuk mendongak cepat dengan mata membelalak kaget. Yesung mendorongnya lembut sampai tertidur di ranjangnya kemudian menyusul tidur di sisinya. Keduanya saling berhadapan, berpandangan.
"Nan keureon maeume keudae naege namaeettneun
sajeeneul hanjangssheek tweejeogyeopodaga
hoksheena keudaeneun ddo nawa tallaseo
ajeek-kkajee honjaman heemdeureo halkkabwa," lantun Yesung.
Pria berambut hitam malam itu merapikan poni putih di mata Princess-nya. "Hooo~ nal keuman eejeoyo, keudael ponaen motnan nae kee-eoge haengbokajee motamyeon andwaeyo keudaekkajee.."
Air bening menetes dari sepasang manik brownies Eunhyuk. "Ani.. berhenti menyanyi!"
"Hooo~ nal keuman eejeoyo, nan wae eeje kkamake eejeunchae hangbokage jal jeenael keudaega keokjeongdwejyo... ajeekdo.."
"Cukup! Hiks... aku mohon cukup, King..." Eunhyuk memeluk leher Yesung erat. Wajah basahnya menyeruak di perpotongan leher jenjang pria tampan itu. "Kau boleh... kau boleh berubah, kau boleh mencintai orang lain! Tapi jangan paksa aku untuk berubah! Jangan paksa aku untuk melupakanmu!"
Eunhyuk menangkup wajah Yesung dan menatap mata emasnya. "Aku sudah jatuh terlalu dalam, King. Jangan suruh aku untuk keluar! Biarkan aku terkubur sekalian!"
"Kenapa kau terus begini, Princess? Aku sudah punya orang lain! Cukup lupakan aku!"
Eunhyuk menggeleng kuat. "Bagaimanapun... aku tetap mencintaimu."
"Princess.."
"Tidak peduli sampai kapanpun, hatiku akan selalu sama. Aku mencintaimu. Seterusnya aku akan tetap mencin—MMPPHH..~!"
'Nal keuman ddeonayo
keudae eejenae mame eereoke nameunchaero
heem deulge ajee malgo...
ddeonayo...'
[Leave me now! My love, while we still feel love for each other, leave! So that it won't be any harder for us]
0o0o0o0o0o
Jongwoon terhenyak mendapati Ryeowook tengah duduk di pembatas balkon seraya menatap bintang dengan matanya yang masih bengkak. Perlahan ia menghampirinya dan menyentuh lembut bahu pria manis itu.
"Caramel."
Ryeowook menoleh dan tersenyum masam. "Hai.."
"Apa yang kau lakukan disini? Tadi kau sudah tidur, 'kan?"
"Memandang bintang," jawab Ryeowook singkat. Ia mengelus perutnya dengan gerakan memutar. "Aku mendengarnya bernyanyi. Suaranya sangat indah. Aku tak pernah mendengarnya bernyanyi sebelumnya. Karena dia tak pernah bernyanyi untukku.."
Jongwoon hanya tersenyum simpul menanggapinya. Ia berlalu meninggalkan Ryeowook. Membuat pria manis itu menautkan alisnya bingung karena sikapnya.
Beberapa saat kemudian pria bermata black pearl itu kembali dengan sebuah gitar berwarna coklat karamel di tangannya.
Ryeowook tertawa melihatnya, mengingat warna matanya yang sama dengan warna gitar Jongwoon.
'Jreng~'
Jongwoon memetik gitarnya sambil menyunggingkan senyum termenawannya. "Bersedia bernyanyi denganku, Gula-gula?"
Ryeowook tak dapat menahan tawanya saat Jongwoon memanggilnya gula-gula. "Yes, I do!"
'Deg!'
Rasa ngilu teramat sangat membentur jantung Jongwoon. Senyumnya berubah getir. Ia benci kalimat itu. Karena ia jadi ingat jawaban Ryeowook saat ia memintanya untuk jadi 'istri'nya. Kau seharusnya menolak untuk jadi 'istri'nya waktu itu, Kim Ryeowook.
"Hyung-ah?" Ryeowook melambaikan tangannya di depan wajah Jongwoon.
"Eh? Ah, iya! Ayo bernyanyi!" Jongwoon tersenyum lagi, dengan topeng cerianya. Lalu ia duduk di atas pembatas balkon, di sisi kiri Ryeowook.
Pria berambut hitam ikal itu mulai memetik gitarnya. "Eojeneun byeori jeotdane naui gasemi meneojeone...
Byeoreun geujeo byeoril ppuniya modudeul naege malhajjiman..."
Ryeowook mendengarkan suara indah Jongwoon sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung dengan polos.
"Oneultto byeori jindane areumdaun naui byeol hana... Byeori jimyeon haneltto seulpeo ireoke biman naerineum geoja~" Jongwoon menyenggol lengan Ryeowook dengan sikunya. Meminta Ryeowook agar ikut menyanyi juga.
Ryeowook terkikik geli dan mulai bernyanyi, "Naui gaseumsoge jeojeooneun geudae geuriummani ibamdo jeo bedoeeo nareul tto ulligo.."
Jongwoon menatap Ryeowook tanpa berkedip. Tak habis pikir mengapa Tuhan menciptakan pria di depannya dengan fisik begitu cantik dan tenor yang begitu indah.
"Areumdawotteon uri yenireul ssaenggakae bomyeon naui aetaneun sarang doraol geot gateunde..," lantun si mutiara hitam.
"Naui kkumeon sarajeogago seulpeummani gipeoganeunde.."
"Naui byeoreun sarajigo eodummani jiteoganeunde.."
Mata mereka kembali bertemu. Saling menyunggingkan senyum dalam artian masing-masing, lalu menyanyikan bait selanjutnya bersama-sama.
Maniknya sama sekali tak bisa lepas dari Ryeowook yang kini beralih menatap bintang. "Eodummani jiteoganeunde.." bisiknya menutup lagu.
[Jika aku berpikir tentang masa lalu kita yang indah, cinta posesifku mungkin akan kembali. Mimpiku lesap, kesedihanku semakin dalam. Bintangku menghilang, hanya gelap yang tertangkap di mataku.]
"Kim Ryeowook, apa kau senang?"
Ryeowook menoleh dengan lugu, kemudian tersenyum dan mengangguk mantap. "Ne, aku senang, Hyungie!"
Jongwoon ikut tersenyum. Aku mencintai sesuatu yang menenangkan hatiku, seperti melihat senyum manismu.
Saat kau sedih atau terluka, datanglah padaku! Berikan semua sakitmu. Kau hanya boleh bahagia, dan aku akan menanggung semua lukamu.
0o0o0o0o0o
Embun pagi membasahi dedaunan di taman istana megah keluarga Kim. Jongwoon duduk di sebuah kursi kayu panjang yang telah tersedia disana seraya mengelus sayap seekor burung dara putih.
"Luka, bagaimana harimu?" sapanya, lalu mencium daerah mata burung dara bernama Luka itu. "Sayapmu sudah sembuh, kau sudah bisa bebas sekarang." Ia menangkup tubuh Luka dan mengangkatnya tinggi, kemudian melepaskannya. Burung itupun langsung terbang dengan semangat menuju langit biru. Meninggalkan Jongwoon yang tersenyum lembut.
"Jangan sampai terluka lagi, Luka! Jagalah dirimu baik-baik. Selamat tinggal~"
Pria berambut agak keriting itu menoleh saat merasakan cerminnya duduk disampingnya. "Selamat pagi, King."
"Hn."
Jongwoon mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Yesung, kemudian mengendusnya dengan keras. "Kau bau sperma. Berapa kali kau bercinta dengan Princess-mu tadi malam?" tanyanya menyindir.
Yesung mengatupkan giginya rapat-rapat dan memalingkan wajahnya. Kelopak matanya berkedip cepat, menandakan bahwa ia sedang berusaha keras menahan laju air yang ingin membobol pertahanannya.
"Kau... bisa mengambil Ryeowook," bisik Yesung serak.
Jongwoon terdiam sesaat. Memandang kembarannya yang masih betah untuk tidak membalas tatapannya. "Jadi... kau sudah menentukan pilihanmu?"
"Justru karena aku tidak bisa memilih."
Jongwoon membelalakkan matanya. "Kim Yesung!"
"Aku siluman, Woon!" tukas Yesung frustasi. "Aku... aku serakah, aku binatang, aku egois... Aku tidak bisa menolak sifat itu! Aku—"
"Jika kau merasa hina, jika kau merasa tidak pantas untuk Ryeowook, buat dirimu agar bisa sejajar bersanding dengannya," sela Jongwoon datar.
Yesung menoleh cepat, menatap Jongwoon tak percaya. "Jongwoon.."
Jongwoon menunduk dalam. Matanya tertuju pada kedua tangannya yang saling meremas satu sama lain. "Aku... aku memang sangat mencintainya, King.."
'Tes'
'Tes'
Dijilatnya bibirnya yang terasa kering kemudian menatap Yesung. "Tapi aku juga menyayangimu."
"Jongwoon.." Yesung mendekap adiknya yang menangis dengan erat. Hatinya bergetar melihat mata merah Jongwoon.
"Aku... aku menyayangi kalian berdua...hh... Kalau aku mengambilnya, kau pasti akan sedih... Aku...hhh...aku tidak bisa melihatmu sedih sebesar apapun dosamu..hh.."
Yesung mendekap adiknya lebih erat. Diusapnya punggungnya yang bergetar seraya mengecup surai ikal Jongwoon. "Kau, jangan sebaik ini, Dongsaeng..!"
"A-aku tidak bisa, Hyung... Jangan suruh aku...hh... Jika kau ingin aku membalasmu, hh...cuci otakku! Buat aku lupa bahwa kau saudaraku..hh... Hyung-ah, aku benar-benar tidak bisa.."
0o0o0o0o0o
Ryeowook tengah berjalan-jalan disekitar rumah Kim bersaudara. Ia menghela napas. Semalam Yesung tidak kembali ke kamar mereka. Ia yakin akan hal itu karena ia menunggunya semalaman. Namun Yesung tetap tidak datang, digantikan oleh suara desahan dari sebuah kamar yang tidak ingin ia ketahui. Ia benar-benar tidak ingin menebak apa yang dilakukan oleh Yesung dengan pria berambut blonde itu.
Langkahnya berhenti mendadak saat melihat rambut blonde milik pria pucat yang kemarin dilihatnya berciuman dengan Yesung. Ia memundurkan langkahnya dan berbalik dengan cepat. Ia tidak mau bertemu dengan orang itu. Sangat-sangat tidak ingin.
"Hey~.."
Terlambat. Orang itu terlanjur melihatnya. Ia berhenti, namun enggan menoleh. Telinganya mendengar derap langkah menuju ke arahnya.
"Hai," sapa pria cantik itu pada Ryeowook setelah sampai dihadapannya. Anjing coklat berbaju merah dalam pelukannya menatap Ryeowook dengan mata bulatnya yang polos.
Ryeowook mencoba tersenyum, "H-hai.."
Pria cantik itu menatap perut buncit Ryeowook yang tersembunyi dalam kaos besarnya. Tatapan yang begitu pedih. Penyatuan antara iri, rindu dan kecewa.
Ryeowook memeluk perutnya dengan tangan kirinya sebagai tanda perlindungan. Si rambut blonde tertawa akan tingkah pemuda manis itu.
"Kau Queen-nya King, ya?" tanya pria pucat itu. Ryeowook mengangguk samar. Pria itu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, aku Lee Hyukjae. Kau bisa memanggilku Eunhyuk atau Hyukkie Hyung," ucapnya manis.
Ryeowook menautkan alisnya. Orang ini tidak mengajaknya bermusuhan? Dengan ragu ia membalas uluran tangan Eunhyuk. "Kim Ryeowook."
Pria itu kembali tersenyum memamerkan gusinya. Begitu cantik. Ryeowook tak terkejut jika Yesung bisa jatuh hati padanya. Dia sangat-sangat cantik, melebihi kecantikan Ryeowook.
Eunhyuk mengacak surai coklat madu Ryeowook. "Baiklah, salam kenal, Dongsaeng. Mau jalan denganku?"
0o0o0o0o0o
Angin pagi menerpa wajah Ryeowook, mengacak tatanan rambut lembutnya. Ia menatap langit yang sepertinya tidak bersahabat. Udara yang biasanya sangat panas berubah menjadi dingin. Ia duduk di atas rerumputan hijau yang tertata rapi dengan Choco—anjing milik Eunhyuk—dipangkuannya.
Pandangannya beralih pada Eunhyuk yang sedang asyik memetik bunga krisan berwarna kuning cerah yang sedang bermekaran. "Aku tidak pernah tahu ada taman bunga krisan di sekitar sini," ucapnya.
"Aku menanamnya bersama King beberapa tahun yang lalu," kata Eunhyuk.
"Pria sepertinya menanam bunga? Sulit dipercaya."
Eunhyuk tertawa, "Aku yang menanamnya, King yang memastikan tidak akan ada hama tikus yang akan menghancurkan bunga-bungaku." Ia memisahkan separuh bunga yang dipetiknya dan menyulapnya menjadi sebuket bunga krisan sedangkan sisanya dibiarkan menjadi helaian tangkai-tangkai. "Aku tidak menyangka bunga-bunga ini masih terawat setelah aku pergi."
Eunhyuk mendekati Ryeowook dan membantunya berdiri.
"Untuk apa bunga sebanyak itu?" tanya Ryeowook sambil membersihkan celananya yang sedikit kotor.
Eunhyuk membiarkan Choco turun dari gendongan Ryeowook dan berputar-putar di kakinya. "Kau akan tahu nanti. Ayo!" ajaknya sembari menggandeng Ryeowook. Choco berjalan dengan manis disisinya.
Ryeowook tiba-tiba menghentikan langkahnya, "Apa kau tidak membenciku, Hyukkie Hyung?"
Eunhyuk mengerjap bingung. "Apa karena kita mencintai orang yang sama, kita harus saling membenci?"
"Itu yang wajar terjadi."
Eunhyuk terkikik geli, "Percayalah, Queenie, aku tidak akan mengambil King darimu. Aku hanya menagih janjinya, dan setelah ia membayar lunas seluruh janjinya, aku akan pergi," tegasnya.
"Tapi dia lebih pantas denganmu. Aku orang ketiga diantara kalian."
Eunhyuk merangkul Ryeowook dan mengajaknya kembali berjalan. "Kau tahu kenapa King memanggilku Princess?" tanyanya. Ryeowook menggeleng lugu. "Karena dia sudah punya Queen saat bertemu denganku. Kau lebih dulu hadir dihidupnya sebelum aku, Saengie."
Pria cantik berambut blonde itu mengusap pipi Ryeowook, "Kau mengerti sekarang? Akulah orang ketiga dalam hubungan kalian."
0o0o0o0o0o
Butir air dari langit jatuh ke pipi Ryeowook. Namun ia tetap enggan meninggalkan tempatnya berdiri sekarang. Tangannya terangkat guna menutupi kepala Choco dari rintik hujan yang mulai jatuh.
Matanya sibuk memperhatikan Eunhyuk yang menaruh tangkai demi tangkai bunga krisan di tanah luas di belakang rumah keluarga Kim ini. Beberapa letak tanah ia beri bunga, layaknya kumpulan makam tanpa nisan yang ia hapal letaknya.
Setelah itu, jika Ryeowook tidak salah hitung, Eunhyuk menaruh bunga paling banyak—sebuket krisan yang telah dirangkainya—di tanah yang ke-20. Tanah yang paling berbeda, karena tanah itu berupa gundukan.
"Apa yang kau lakukan, Hyungie?"
Eunhyuk tersenyum tipis, "Memberi bunga di makam anak-anakku. Anakku dan King."
Ryeowook tercekat. Eunhyuk berlutut dan menepuk pelan gundukan tanah di depannya. "Dan ini si bungsu yang kupilih, YeEun kami."
"A-apa yang—"
"King membunuhnya."
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Eunhyuk tidak memiliki hubungan apapun dengan Donghae. Ingat, YeWoon lahir setelah kematian Donghae (yang sudah berusia 16 th saat meninggal). Dan Eunhyuk lahir beberapa tahun setelah YeWoon lahir. Terakhir, Eunhyuk manusia biasa^^
Lagu pertama: Gummy - Nal Geuman Ijuhyo yang dinyanyikan oleh Super Junior K.R.Y - Forget Me Now.
Lagu kedua: Super Junior (LT, KI, SM, RW, YS) - Falling Star [permainan gitar Sungmin sangat bagus disini.]
Yesung's Concubine
Jenny Kim
