"Goodbye my first love. I know now that I must let you go. Despite the hurt, the anger, the sadness, the confusion, the longing still there. I can and will let this love go. I have no regrets. I loved you with everything inside of me."—Princess.
.
.
.
.
.
Queen is King's © Jenny Kim
Super Junior © God, SMEnt, ELFs, Their Parents and of course Themselves
Rated: T semi M
Warning(s): Always Boys Love, MPREG, OOCness, Typo, etcetera-etcetera~
.
.
.
.
.
"KIM RYEOWOOK!"
Derasnya hujan tak menyurutkan niat pria berambut blonde itu. Kaki jenjangnya mengayun lebar, berlari kencang dibawah guyuran air suci Tuhan demi mengejar pria manis di depannya. Ia harus mendapatkannya. Ia harus meluruskan semuanya.
'Grab'
Dapat!
"Demi Tuhan, dengarkan aku dulu, Kim Ryeowook!" seru Eunhyuk penuh amarah.
Ryeowook menggeliatkan tangannya yang dicengkeram erat oleh Eunhyuk, namun percuma saja, Eunhyuk menggunakan seluruh tenaganya. "Apa lagi? Dia jahat! Dia membunuh darah dagingnya sendiri! Dia bisa membunuh bayiku juga!"
"Sejak awal kau tahu bahwa dia 'jahat', Wookie," desah Eunhyuk.
"Tapi sejak awal aku tidak tahu bahwa dia pembunuh! Pembunuh bayinya sendiri! Bayi itu... tidak tahu apa-apa... Dia tidak berdosa.."
"Kau juga tidak tahu apa-apa, Wookie!" sergah Eunhyuk. "Percaya padaku! King tidak akan membunuh bayi kalian!"
"Bagaimana aku bisa percaya? Dia membunuh bayi kalian!" tukas Ryeowook.
Eunhyuk melepaskan tangan Ryeowook dan menunduk dalam. "Karena aku sakit, Wookie. Aku tidak sehat sepertimu."
Ryeowook tercengang. Ia menatap Eunhyuk penuh tanda tanya.
Eunhyuk kembali menggapai tangan Ryeowook, kemudian meletakkannya di dada kirinya. Ryeowook bergetar merasakan denyut tak beraturan di dalam dada Eunhyuk.
"Aku sakit, Wookie. Jantung koroner... kelas III.."
'Deg!'
Ryeowook menarik tangannya dengan cepat dengan wajah menegang. "H-huh?"
"Eum.." Eunhyuk mengangguk pelan. "Penderita jantung koroner kelas III tidak boleh hamil. Akan sangat berbahaya dampaknya. Aku bisa.. mati.."
Pria pucat itu menghapus air hujan bercampur airmata di wajahnya. Namun hujan dan airmata yang baru kembali membasahinya.
"Kupikir saat itu tidak akan apa-apa. Aku tak akan menyesal jika mati untuk bayi kami. Aku menyembunyikan semuanya dari King. Aku menghindarinya selama aku hamil. Lima hari... aku sudah berhasil lebih dari setengah masa kehamilanku. Aku sudah menyiapkan nama untuk putri kecil kami, YeEun. Aku tinggal menunggu empat hari lagi, untuk kelahiran bayi kami dan kematianku."
"Namun King akhirnya tahu. Dia datang tiba-tiba ke apartemenku untuk mengantarkan obatku, dan dia melihat obat lamaku yang masih utuh. Dia marah besar karena khawatir."
"Lalu dia mencariku. Dengan mudahnya menemukanku. Dalam keadaan yang paling tidak dia inginkan.."
_Flashback On_
"...Princess.."
Langit cerah seolah berubah menjadi batuan raksasa dan menimbun tubuh Yesung. Setelah lima hari, ia akhirnya bisa bertemu lagi dengan Princess-nya. Dengan perut yang membuncit dari balik dress ibu hamilnya. Jadi ini alasan Eunhyuk menghindarinya? Karena dia hamil..
"K-King.." Eunhyuk secara refleks melangkahkan kakinya ke belakang sampai menabrak dinding. Ia memeluk perut besarnya dengan erat. Takut jika Yesung melakukan sesuatu pada bayi dalam perutnya.
"Apa yang ...kau lakukan?" lirih Yesung syok. Kekasihnya hamil... anaknya...
Tapi itu tidak boleh! Princess-nya tidak boleh hamil!
Eunhyuk mengatupkan kedua tangannya, memohon pada pria cinta pertamanya. "Aku mohon, King... biarkan aku mengandungnya... tinggal empat hari lagi, biarkan putri kita lahir! Dia mimpiku, King. YeEun kita.."
Botol kaca berisi obat dalam genggaman Yesung terpecah seketika karena ia terlalu kuat menggenggamnya. Suara nyaringnya membuat Eunhyuk terpekik kaget dan menutup telinganya.
"Aku... tidak bisa.." ujar Yesung tercekat. Tak dihiraukannya pecahan kaca yang masuk kedalam telapak tangannya hingga meneteskan darah di lantai. Membuat jejak darah saat ia melangkah ke arah Eunhyuk.
Airmata Eunhyuk semakin deras mengalir. "Jangan King... jebal... jangan... hiks.."
"Aku tidak bisa..." Tangan kiri Yesung yang berlumuran darah menghapus airmata di pipi Eunhyuk. Menggantikan warna bening dengan pekatnya darah.
'BUGH!'
"AAHHKKHH!"
Mata Eunhyuk membesar ke ukuran maksimal. Tubuhnya menelungkup dengan dagu di atas bahu Yesung. Matanya berembun, lalu menjatuhkan butir airmata baru. "K-Kinghh.."
'BUGH!'
"HA—AAAGGHH!"
"Aku tidak bisa... melihatmu mati.."
Eunhyuk dapat merasakan cairan kental yang mengalir dari paha ke tungkainya. "Ye...Eun.."
'BUGH!'
"ARRRGGGHHH!"
"Mianhae, Princess.."
Dan ia merasakan segalanya mengabur lalu gelap menghapus cahaya dimatanya.
0o0o0o0o0o
Ketika mata brownies-nya terbuka, yang ditemukannya adalah ia terbaring di ranjang rumah sakit dengan perut yang telah rata.
Jongwoon duduk disisinya sambil mengusap rambut putih lusuhnya. Airmata Eunhyuk jatuh seketika. Bayi yang mati-matian dipertahankannya mati tanpa sempat melihat dunia.
"Hyukkie, gwaenchana?"
"Ba-bayiku.."
Jongwoon menelan ludah pahit. "King telah mengeluarkan semuanya sebelum membawamu kemari. Dia menguburnya di belakang rumah kami."
Eunhyuk memalingkan wajahnya dan menggigit keras bibirnya. "King... bagaimana?"
"Dia sekarat."
Eunhyuk memutar kepalanya dengan cepat. "Jongwoon Hyung—"
"Dia membayar beberapa orang bandit untuk memukulinya sampai sekarat. Sekarang Umma sedang mengobatinya."
Jongwoon mengeluarkan sepucuk surat dan selembar tiket pesawat tujuan California serta sebuah paspor dari dalam saku mantelnya dan memberikannya pada Eunhyuk. "Ini darinya."
Eunhyuk menerimanya dan langsung membuka surat dari Yesung.
'Pergilah! Kau harus sembuh. Atau setidaknya, jantung koronermu harus turun ke kelas II. Dan saat itu tiba, aku tidak akan melarangmu untuk hamil. Aku akan memberimu YeEun yang baru. Kembalilah, jika kau sembuh, kau tidak akan menjadi Princess-ku lagi. Bukankah kau ingin jadi Queen? Aku akan mengabulkannya. Aku akan menunggumu dan selalu mencintaimu dari sini. Maafkan aku, Princess..'
_Flashback Off_
Eunhyuk tersenyum meski sakit. Ia menaruh kedua tangannya diatas kepala Ryeowook, memayunginya dengan telapak tangan putihnya. "Kau sehat, Wookie. Tidak perlu khawatir pada kelangsungan hidup bayi-bayimu. Mereka akan hidup, percayalah padaku!"
"Hyungie.." Ryeowook memeluk Eunhyuk erat. Ia tak menyangka masa lalu Eunhyuk begitu berat. Dan ia tetap mencintai Yesung walau Yesung telah membunuh anak yang dipertahankan mati-matian olehnya. Walau Yesung mengingkari janjinya dan meninggalkannya, cintanya tak memudar apalagi berkurang sedikitpun.
Bagaimana mungkin Eunhyuk bisa mencintai sedalam itu?
0o0o0o0o0o
"KALIAN KEMANA SAJA?! Aku hampir gila mencari kalian!" murka Yesung ketika Eunhyuk dan Ryeowook kembali ke rumah dalam keadaan basah kuyup. Sisik hijau dan birunya memenuhi setengah bagian wajah dan leher sebelah kanannya. Lidah ularnya yang bercabang dua seringkali keluar dan mendesis.
Ryeowook berjengit takut dan bersembunyi dibalik tubuh Eunhyuk. Biar bagaimanapun ia tak pernah melihat Yesung dalam wujud ularnya.
Eunhyuk menepuk-nepuk kepala Ryeowook yang ada dibelakangnya. "Gwaenchana, Wookie. King hanya terlalu panik sampai tidak bisa mengontrol perubahannya." Pria cantik itu mendekat pada Yesung dan mengecup bibirnya. "Kami hanya main hujan-hujanan di sekitar sini, kok."
Eunhyuk menjilati sisik di wajah Yesung. Secara perlahan sisik itu menghilang tergantikan oleh kulit mulus wajah Yesung.
Yesung memejamkan matanya dan menetralkan emosinya. Tubuhnya kembali ke wujud manusia sempurna. "Jangan ulangi lagi!"
"Arra.. arra~" Eunhyuk mencubit gemas pipi Yesung dan membersihkan salivanya.
Ryeowook memalingkan wajahnya. Jantungnya seperti diremas kuat, namun ia berusaha bersikap biasa.
Eunhyuk teringat pada Ryeowook dan segera menjauh dari Yesung. Ia merangkul Ryeowook dan mengecup pipinya. "Wookie, mianhae ne?"
"G-gwaenchana, Hyung. Aku bi-biasa saja, kok.."
Eunhyuk mencolek hidung Ryeowook dan mencibir, "Dasar pembohong! Ayo ganti baju! Akan kubuatkan coklat panas."
"Ne~"
Kedua pria cantik itupun berjalan meninggalkan Yesung yang tercengang melihat keakraban mereka.
0o0o0o0o0o
"Kau sedang apa?"
Yesung baru saja keluar dari kamarnya setelah menidurkan Ryeowook yang kemudian memergoki Eunhyuk tengah mengacak-acak isi kulkas.
Eunhyuk menyengir polos. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Stroberi."
"Malam-malam begini? Kau seperti orang ngidam saja."
Eunhyuk tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Yesung. "Err.. Tidak ada stroberi."
Yesung menyandarkan sebelah tubuhnya ke dinding sembari melipat tangannya di depan dada. "Kau sudah menghabiskan persediaan stroberi untuk satu minggu di rumah ini."
"Tapi aku ingin stroberi~"
Yesung menegakkan tubuhnya menyadari Eunhyuk yang merengek. Apa dia sadar kalau dia habis merengek?
"Princess, kemarilah!" Yesung mengulurkan tangannya.
"Huh?" Eunhyuk mengerutkan keningnya, namun tetap menyambut tangan Yesung.
Yesung menarik pinggang Eunhyuk hingga menempel padanya. "Kau benar-benar ingin stroberi?"
"Hu'um~" Eunhyuk memanyunkan bibirnya imut dengan mata memelas.
Yesung menyentuh bibir Eunhyuk dan mengusapnya dengan jarinya. Eunhyuk semakin... cantik..
Tidak... Tidak... Tidak...! Yesung menggelengkan kepalanya—berusaha fokus. Eunhyuk dari dulu memang cantik dan manis. Namun sekarang, kadar manisnya seolah melebihi dosis. Terlalu banyak. Terlalu samar untuk menemukan batas.
Eunhyuk menyatukan alisnya melihat Yesung yang tiba-tiba menggelengkan kepalanya tanpa sebab. "King?"
"H-huh?" sahut Yesung kaget.
"Aku mau stroberi~" rengek Eunhyuk.
"Eumh.. arra.. ikut aku!"
Yesung membawa Eunhyuk ke lantai atas. Sesampainya disana, Yesung membuka pintu dan menyalakan lampu. Eunhyuk menganga tak percaya mendapati ruangan yang seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Ruangan itu begitu luas dengan puluhan tanaman stroberi dalam pot kecil yang tersusun rapi memanjang. Seperti kebun di dalam rumah kaca.
"Aku tidak pernah melihat tempat seperti ini sebelumnya," ungkap Eunhyuk takjub.
"Aku membuatnya setelah kau pergi." Yesung mengambil gunting dan sebuah ember kecil berwarna kuning untuk tempat stroberi.
Eunhyuk berdecak kagum. "Musim di tempat ini tidak sesuai dengan stroberi! Kenapa bisa sesubur ini?"
Yesung mengacak rambut Eunhyuk dengan gemas. "Ini jaman modern, Sayang. Banyak alat canggih yang berguna untuk menyesuaikan suhu ruangan sesuai kebutuhan! Otakmu masih pandir seperti biasanya, eoh?"
Eunhyuk menggembungkan pipinya, "Kau menyebalkan! Aku membencimu!" ketusnya. Dengan kesal direbutnya gunting dan ember di tangan Yesung kemudian memetik stroberi yang tengah ranum di ruang kaca tersebut.
Yesung hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan memperhatikan Eunhyuk dari kejauhan. Lama kelamaan kekesalan Eunhyuk memudar dengan sendirinya karena banyaknya stroberi yang ia dapat. Yesung jadi tersenyum sendiri melihatnya.
"King, sudah~" seru Eunhyuk ceria sambil berlari menghampiri Yesung dengan seember penuh stroberi.
Yesung merapikan rambut blonde Eunhyuk yang berantakan karena lari-lari. "Cuci dulu, baru dimakan."
"Eum!" Eunhyuk mengangguk. Ia menghampiri wastafel yang memang disediakan di pojok ruangan dan mencuci bersih stroberi hasil petikannya.
Yesung duduk di satu-satunya kursi yang ada di sana—menghadap langit malam. Bintang berkedip mengitari sang bulan.
Tangannya merengkuh tubuh ramping Eunhyuk dan memangkunya di paha kirinya. Ia menghapus noda merah di sudut bibir Eunhyuk. "Jangan dihabiskan! Itu terlalu banyak, kau bisa sakit perut."
"Iya-iya~" sahut Eunhyuk sambil memasukkan stroberi keenambelasnya. "Kau makin mirip Jongwoon Hyung kalau seperti ini."
Yesung mendengus, "Aku sejuta kali lebih tampan darinya."
Eunhyuk memutar bola matanya. "Wajah kalian tidak ada bedanya!" tukasnya. Ia menyandarkan punggungnya di dada Yesung dan menatap langit luas. "Bulannya pucat, cantik."
"Sepertimu."
Eunhyuk mencium bibir Yesung dengan gemas. "Dasar gombal!"
Yesung hanya tersenyum kecil. Queen-nya suka bintang dan Princess-nya suka bulan. Mungkin dia adalah langitnya.
"King."
"Hn?"
"Besok aku akan kembali ke California."
Yesung tersentak kaget. Ia mematung dengan pandangan kosong. Princess-nya akan pergi? Lagi? Secepat ini?
"Kenapa?"
Hawa dingin membuat Eunhyuk merapatkan tubuhnya di dada Yesung. "Aku tidak punya alasan untuk tinggal lebih lama. Pria yang jadi tujuanku sudah punya orang lain."
Yesung seolah tertampar. Ia tersenyum kecut dan memalingkan wajahnya. "Hn. Akan kuantar besok."
"Kau tidak mau mencegahku, King?"
"Huh?"
Eunhyuk terkekeh pelan. "Jangan mencegahku, King! Begini lebih baik." Ia menangkup wajah Yesung dan mempertemukan mata mereka. Emas dan brownies. "Aku mencintaimu, King," desahnya kemudian melumat bibir Yesung.
'Untukmu, untuk anak kita dan demi Ryeowook, aku.. harus pergi..'
Eunhyuk memperdalam ciumannya, 'I truly wished from the bottom of my heart that morning would never come.'
0o0o0o0o0o
Yesung benci matahari terbit. Ia membenci pagi hari. Nocturnal sepertinya jarang menyambut fajar—karena dia 'hidup' di malam hari—jadi dia tidak peduli pada pagi, siang dan sore. Namun dia tidak terlalu membenci senja. Bagaimanapun, senja adalah tanda bahwa matahari akan tenggelam. Dan Yesung sangat suka saat matahari benar-benar tenggelam.
Tapi kali ini rasa benci Yesung pada matahari terbit benar-benar mencapai batas tertingginya. Mengapa pagi harus ada? Mengapa Tuhan harus menciptakan pagi?
Setidaknya, untuk hari ini saja... jangan ada pagi..!
"King, pesawatku sudah akan berangkat."
Yesung menatap Eunhyuk lama. "Hm.." gumamnya. Ia menangkup pipi pucat Eunhyuk lalu mengecup dahinya penuh perasaan. "Aku mencin—"
"Ssstt..!" Eunhyuk buru-buru menaruh jari telunjuknya di bibir putih Yesung. "Aku bisa tidak jadi pergi, nih!" ujarnya sambil memanyunkan bibirnya.
Yesung tersenyum masam. "Aku mengerti." Ia membuka telapak tangan Eunhyuk dan menaruh sebuah alat perekam suara di sana. "Jangan macam-macam!"
Eunhyuk tertawa meski matanya memanas dan terasa perih. King merekam lagu yang dinyanyikannya sendiri untuk Eunhyuk. Agar Eunhyuk bisa tidur tanpa obat tidur.
"Terimakasih. Aku janji, aku tidak akan minum obat tidur lagi!"
"Jangan berjanji apapun!"
"Aku bukan kau yang suka ingkar janji! Aku selalu menepati janjiku, tahu!?" kata Eunhyuk pasti.
"Hn."
Eunhyuk terkekeh pelan. Ia menaruh jemari lentiknya di pipi Yesung, lalu memagut bibir putihnya. Yesung menarik pinggangnya erat dan memperdalam ciuman mereka.
Keduanya berhenti saat Eunhyuk kehabisan napas dan mencengkeram erat dadanya. "Hahh...hah...ah..Kinghh!"
Yesung menghapus saliva yang tercecer di sudut bibir dan dagu Eunhyuk. Setelah ini dia tidak akan bisa merasakan bibir merah darah itu lagi. Tidak bisa menelan rasa stroberi di dalamnya lagi.
Pria berbibir putih itu menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Eunhyuk. Dia tidak bisa menghirup parfum strawberry bercampur champagne memabukkan ini lagi.
Ia mengangkat wajahnya saat Eunhyuk menarik kepalanya. Setelah ini ia tidak akan bisa menyelipkan jemarinya di rambut blonde itu lagi. Tidak akan bisa menjamah kulit pucat itu lagi. Juga tidak akan menemukan gummy smile itu lagi.
"Jangan... jangan pernah kembali! Jangan mengabari apapun padaku!" ucap Yesung dengan suara tercekat.
Eunhyuk tahu, King-nya tidak ingin goyah lagi. Dia harus bisa menjadikan Ryeowook satu-satunya dihatinya. Jika dia kembali, sekali saja, Yesung akan benar-benar jatuh. "Aku... aku janji," balasnya berusaha tegar. Ia memagut bibir Yesung sekali lagi. "Terimakasih untuk melunasi seluruh janjimu."
Yesung terpaku. Melunasi? Bahkan dia mengingkari semuanya.
Eunhyuk memperlihatkan gummy smile-nya. "Kau... aku yakin kau pernah menungguku, meski setelah Ryeowook datang, kau tidak menungguku lagi, setidaknya kau pernah melakukannya. Dan aku sudah menjadi Ratu-mu dalam dua malam. Aku sudah merasakan jadi Queen-mu, tidak perlu selamanya, aku sudah puas."
"Aku dapatkan semua janjimu, jadi apa lagi yang kuinginkan?" kata Eunhyuk.
'Tes'
'Tes'
"Sampai jum—ah, tidak.. tidak b-boleh berjumpa la—gih.. Selamat tinggal, King.. hiks... selamat tinggal.."
Eunhyuk berbalik dengan cepat. Melangkah meninggalkan Yesung yang mematung. "Hiks..." Ia membekap mulutnya dan membiarkan airmatanya meleleh tanpa henti.
"Bagaimana dengan YeEun?"
'Deg!'
Kaki Eunhyuk seolah kaku. Ia tak bisa bergerak. Ia mencengkeram baju tepat di bagian perutnya. "Anggap saja aku sudah mendapatkannya atau lupakan saja janji yang itu," jawabnya tanpa berbalik. Ia memaksa kakinya untuk bergerak, cepat, sangat cepat.
'Aku memang sudah mendapatkannya, King,'batin Eunhyuk pilu.
Besok, perubahannya pasti terlihat walau sedikit. Dia tidak ingin Yesung tahu. Dia tidak ingin Yesung menduakan Ryeowook lebih lama dari ini. Jadi dia harus mempercepat kepergiannya.
Bagaimanapun, Queen hanya boleh satu.
Princess bukanlah pendamping yang tepat untuk King.
Ratu milik Raja. Dan Raja ditakdirkan untuk Ratu.
Choco menjilati tangan Eunhyuk, seakan tahu perasaan sakit majikannya. Eunhyuk mengusap pipi Choco dan tersenyum dalam tangisannya. "Tidak apa-apa, Choco. Aku baik-baik saja." Ia menempelkan kaki mungil Choco di perutnya. "Choco, bantu aku menjaga YeEun, ne?"
0o0o0o0o0o
Pintu berdaun dua itu mendapat dorongan dari tangan kecil Ryeowook hingga terbuka. Ryeowook menghirup napas dalam-dalam dengan semangat, seolah oksigen di kediaman Kim berbeda jauh dari oksigen di luaran sana.
"Hyukkie Hyung, aku pulaaaaaaanggg~" teriaknya nyaring. Ia berlari ke kamar Eunhyuk dengan riang.
"Wookie, jangan lari-lari!" gusar Leeteuk. "Aish! Anak itu makin lama makin hiperaktif!" gerutunya jengkel.
Jongwoon memijit bahu Leeteuk yang tegang. "Mungkin bawaan bayi, Umma," sahutnya asal.
Leeteuk menghempaskan tubuhnya di sofa dan menaruh belanjaannya. "Yesungie yang ayahnya saja tidak hiperaktif!"
"Tapi kadang setan itu hiperaktif, Umma," ucap Jongwoon.
"Tapi kakakmu—huh, dia memang setan!" Leeteuk mendengus kesal.
"Jangan ngamuk terus, Umma. Nanti keriput, lho!" goda Jongwoon.
Leeteuk mendelik galak. "Umma tidak pernah menua sejak..." Wajahnya berubah sendu, "..sejak menikah dengan Appa-mu," lirihnya.
Jongwoon tersenyum tak rela. "Err... Berarti Caramel akan imut selamanya. Ahahaha~ iya kan, Umma?" tawanya garing.
"Hmm.."
"HYUUUUNGGGG!"
Jongwoon hampir terlonjak dari duduk saat suara tenor Ryeowook yang melengking mengagetkannya. "Astaga! Kenapa kau teriak-teriak, Chag—Caramel!?" Jongwoon menepuk gemas bibirnya karena salah memanggil.
"Aish...jinjja! Jangan lari, Wookie! Kau sedang hamil, tidak bisakah kau menurut sedikit saja?" Leeteuk memegang tangan Ryeowook yang berlari panik padanya.
Ryeowook menunduk takut. "Hiks... mianhae, Umma.."
"J-jangan menangis.." panik Leeteuk. Ia menatap Jongwoon dengan pandangan memohon pertolongan.
"Tidak apa-apa, Caramel. Umma hanya khawatir padamu," ucap Jongwoon lembut. Ia mendudukkan Ryeowook di pangkuannya. Diangkatnya dagu Ryeowook dan menghapus airmatanya. "Waeyo? Kenapa kau teriak-teriak?"
"Hiks... Hyukkie Hyung... Hyukkie Hyung tidak ada... Choco juga tidak ada.. hiks... dan barang-barangnya juga tidak ada.." isak Ryeowook.
Jongwoon dan Leeteuk saling berpandangan. "Tidak ada?"
0o0o0o0o0o
"Yesung Hyung.."
Ryeowook bergegas ke halaman belakang untuk mencari Eunhyuk, namun yang ditemukannya justru Yesung yang sedang berdiri di depan makam YeEun.
Bunga krisan kuning yang ditaruh Yesung di makam YeEun terseret oleh angin. Pemuda itu mengangkat kepalanya dan memutarnya ke belakang. "Dia sudah pergi."
Hati Ryeowook bagai tersayat. Entah karena Eunhyuk yang pergi tanpa pamit padanya atau cemburu karena Yesung menatapnya sendu. Yesung sedih karena Eunhyuk pergi, apa ia tidak boleh cemburu?
Ryeowook melangkahkan kakinya mendekati Yesung. Ditariknya tangan Yesung kemudian melingkarkannya di punggung sempitnya. Ia menenggelamkan wajah Yesung di dadanya. "Kau pasti sedih."
"Aku.. tidak sedih.." ucap Yesung tercekat.
Ryeowook mengusap punggung Yesung naik turun. "Sesekali, kau harus jujur pada perasaanmu, Hyung."
"..."
Ryeowook menghela napas karena Yesung tak menjawab apapun. Pria setengah siluman itu benar-benar keras kepala. "Kenapa tidak menahannya?"
"Dia melarangku untuk mencegahnya pergi."
Hati Ryeowook mencelos. "Jadi kalau dia tidak melarangmu, kau akan mencegahnya?"
"..."
Lagi-lagi Yesung tak menjawab. Membuat Ryeowook mengartikan kebisuannya sebagai jawaban 'ya'. Tak tahukah kau, Kim Yesung? Tidak hanya kau yang sakit di sini!
"Kejar dia!" Ryeowook memerintah. Dia tidak bisa menahan Yesung kalau Yesung-nya sendiri tidak mau, 'kan? Dia tidak boleh memaksakan perasaannya.
"..."
"Hei, jangan diam saja! Cepat sana pergi!" Ryeowook mendorong bahu Yesung, namun tubuh Yesung bagai patung batu, tidak berpindah sedikitpun apalagi melepaskan pelukan mereka.
"Kau tidak ingin pergi karena dia melarangmu?"
"Mungkin.." jawab Yesung pelan. Petir seolah menyambar tubuh ringkih Ryeowook. Jadi Yesung tidak punya perasaan apapun padanya? Yesung tetap tinggal hanya karena permintaan Eunhyuk.
Setetes air jatuh dari mata karamel Ryeowook. Dia tidak mau dikasihani. Dia hanya ingin Yesung tinggal karena mencintainya.
Ryeowook mendorong keras dada Yesung sampai pria tampan terhuyung ke belakang. Cepat-cepat Ryeowook berbalik dan berlari pergi.
"Aku mencintai Eunhyuk, sungguh..."
Seruan Yesung membuat Ryeowook menghentikan langkahnya. Napasnya tak beraturan dengan airmata yang semakin deras.
"...tapi aku lebih mencintaimu."
Ryeowook mengangkat wajahnya dengan mata membulat. Pemuda itu berbalik, menatap mata emas Yesung.
Dan dia menemukan sumpah kesungguhan mutlak tak tergugat di sana.
Yesung tersenyum tipis. "Itulah alasan terbesarku tetap berdiri di sini."
Ryeowook terisak makin keras. Namun bukan karena sedih. Ini kebahagiaan. Kebahagiaan yang paling besar yang pernah di dapatnya. Sesaknya sirna. Ia berlari pada Yesung yang merentangkan kedua tangannya, lalu membenturkan tubuhnya di dada Yesung.
Ini... pernyataan cinta yang pertama dari Yesung.
Akhirnya Yesung mengatakannya. Mengatakan cinta untuknya!
Tidak peduli berapa orang yang dicintai oleh Yesung, asal Ryeowook termasuk di dalamnya, ia sudah merasa cukup.
0o0o0o0o0o
Ryeowook mengintip langit jingga dari lipatan-lipatan tirai di sisinya. "Sudah senja."
Yesung menarik Ryeowook sampai terjatuh lagi di dadanya lalu mengusap tangan Ryeowook dengan air. "Makanya cepat selesaikan mandimu."
Ryeowook mengerucutkan bibirnya meski tetap menempelkan punggungnya lebih erat pada dada Yesung. "Memang siapa yang membuat mandiku tidak selesai-selesai?" sindirnya.
"Aku tidak dengar."
"Huh!"
Keduanya tengah berada di dalam bathtub di sisi dinding putih yang diatasnya terdapat jendela dengan tirai lipat dari plastik yang berguna untuk menyelipkan sinar-sinar matahari. Yesung memeluk perut buncit Ryeowook dan mengusapnya.
"Queen."
"Hm~" Ryeowook memainkan busa sabun yang melimpah di telapak tangannya, lalu meniupnya. "Booff~"
Yesung mencubit gemas bibir Ryeowook yang mengerucut saat meniup busa. "Kau mau ku'makan' lagi, eoh?"
"Jangan!" halau Ryeowook. "Bokongku masih sakit!"
"Hn." Yesung menundukkan wajahnya di tengkuk Ryeowook. "Queen."
"Apa~"
"Aku meniduri Princess. Dua kali."
Ryeowook menghela napas. Baru juga sebentar dia merasa bahagia. Kenapa Yesung mesti membahas hal itu lagi? "Aku tahu. Aku punya telinga untuk mendengar desahan kalian."
"...maafkan aku."
"Bernyanyilah untukku!"
Alis Yesung menyatu, namun ia tetap menuruti permintaan—perintah, sebenarnya—Ryeowook.
Because I'm blind, I only see you
Because my heart is frozen, I hug you
When my trembling lips touch your ears
I say the words I dreamed of since I met you
I love you..
I want to live only by your side
Because I only want you
Because I'm blind with love, I only see you
Because my heart has melted, only tears fall
When my trembling lips touch your lips
I will hold you forever in my arms and say,...
Yesung memeluk tubuh Ryeowook dan memalingkan wajah pemuda manis itu ke belakang, lalu menempelkan bibir mereka.
...I love you..
"Apa kau memaafkanku, Ma Queen?" tanya Yesung. Ia menyeka airmata Ryeowook.
"Apa...hiks... apa aku punya alasan untuk..hiks... menjawab tidak..hiks..?"
Yesung tersenyum tipis. "Tidak, kau tidak punya satupun alasan. Tidak akan ada!"
Ryeowook memukul dada Yesung dengan kepalan tangan mungilnya. "Dasar! Suka seenaknya sendiri!" Ia kembali menghadap ke depan, memunggungi Yesung. "Apa semua siluman bermulut manis?"
"Bukannya kau sering merasakan mulutku? Manis, 'kan? Mau lagi?"
Ryeowook menggeram kesal dengan wajah memerah. "Ukh! Bukan itu!"
"Lalu?"
"Aish! Terserah! Kau menyebalkan!"
"Tapi kau mencintaiku~"
"Ukh!"
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Arrrgggghhh~~~ finally bisa publish juga, di tanggal yang nyentrik pula XD
Mianhae, Readers. Saia sibuk ujian, doain nilainya bagus ya! *Amiiiinnnn~*
Ada yang Tanya dimana SiChul? Saia munculin di ending aja ya~
Hyukkie udah pergi, Jongwoon ga jadi sama Hyukkie. Sama siapa dong si Jongwoon?
Jadi duda kembang*?* selamanya aja ya!
Chapter depan rating naik, ne? *grin*
12.12.12
Yesung's Concubine
Jenny Kim
